Untuk Adik yang Sudah Tidak Kecil

Dear Ntiw..

Hai, apa kabar, Adik yang sudah tidak kecil? Saya rasasangat terlambat membalas surat kamu sekarang, mengingat sudah ada seseorang yang sudah bersedia membalasnya. Dia sungguh luang dan baik hati, bukan? Bersedia repot membalas surat kamu ditambah petuah bijak, sementara saya hanya membalas surat kamu lewat 120 karakter huruf. Itu sungguh membuat saya merasa sangat bersalah. Karenanya, walaupun ini sudah lama berlalu, saya rasa sudah selayaknya kamu mendapat balasan dari saya pribadi. Anggap saja Pak Posnya kena banjir di jalan, jadi suratnya terlambat datang. Sekali lagi maaf, baru bisa menulis balasan sekarang.

 Ntiw..

Perihal kesendirian (atau kamu menyebutnya kejomloan)...

Sesungguhnya saya masih merasa bingung. Saya rasa jawaban saya sekarang dan jawaban saya lima tahun lalu akan sangat berbeda. Lima tahun lalu, saya akan bilang alasan yang sama persis dengan kicuan saya di Twitter. “Bukannya saya ngga mau pacaran, yang mau sama saya aja belum ada.”

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sebenarnya saya tidak se-engga-laku itu kok. Engga, Ntiw, bukannya saya semulia itu juga mempertahankan diri untuk selibat berpacaran (oke, selibat terlalu ekstrim. Tapi penggunaan idiom ‘wanita yang hanya akan memberikan seutuhnya kepada suaminya kelak’ rasanya terlalu panjang, jadi saya singkat saja jadi ‘selibat pacaran’. Semoga kamu tidak keberatan), tapi entahlah, rasanya saya terlalu takut memulai sesuatu yang besar seperti “punya pacar”. Ya, buat saya punya pacar adalah hal besar. Punya pacar sama artinya memberikan kepercayaan utuh, penuh, tanpa prasangka, sama seseorang yang sesungguhnya tidak kamu kenal dengan baik. Ketika kelak punya pacar, saya tahu dia akan menjadi sebuah Horcrux. Horcrux keempat. Saya akan menaruh sebagian jiwa saya pada dia. Horcrux pertama, kedua, dan ketiga adalah orang tua dan adik saya. Saya mengenal mereka seumur hidup saya, dan mempercayai mereka sebagai tempat saya menyiimpan sebagian jiwa saya. Kepada mereka, saya tak perlu meminta cinta. Saya tak perlu berusaha menjadi berharga. Saya tahu mereka tak mungkin meninggalkan saya. Mereka adalah tempat hati dan jiwa saya pulang. Dan hal semacam itulah yang saya inginkan dari pacar saya. Dicintai tanpa alasan, dihargai tanpa batasan, tidak pernah ditinggalkan. Saya takut. Saya takut jika saya punya pacar, dia tidak sanggup melakukannya.

Saya tidak takut pada hal buruk, Ntiw. Saya tahu saya bisa mempertahankan diri dari setan di luar saya. Saya tidak takut terjerumus. Saya tahu saya bisa menjaga diri dari setan dalam diri saya sendiri. Satu-satunya yang saya takutkan hanya kecewa, dan patah hati.

Mungkin saya terlalu serius menyikapi hubungan pacaran, mungkin permintaan saya terlalu banyak, mungkin saya terlalu paranoid, mungkin saya banyak perhitungan, mungkin saya adalah orang dengan karakter I am not easy to fall in love, but if I do, I give my all and do my best, mungkin saya memang belum siap.

Dan inilah jawaban saya sekarang, Ntiw. Saya kini sudah terlalu tua. Terlalu lelah dan tertekan untuk membuat kesepakatan menjalin hubungan (bahasa ribet dari pacaran) dengan orang yang tidak tahu betapa kelak akan menjadi seberharga apa mereka buat saya. Terlalu terlambat buat menyesali diri kenapa dulu begitu takut mempercayai orang lain. Terlalu bodoh buat menyadari bahwa ketidakpercayaan diri ini tak membawa saya kemana-mana.

Dan itulah, Ntiw, alasan mengapa saya jomlo dari lahir sampai sekarang. Sesungguhnya alasan itu jauh dari mulia, tak seperti alasan kamu.

  Perihal kekasih hati...

Mas Adri yang baik hatinya, soleh, pinter, kasep, lucu, gaya, deudeuh teuing kabina-bina itu rasanya sudah menjawab apa yang seharusnya saya jawabkan kepada kamu di suratnya. Percayalah, Ntiw. Surat dari Mas Adri juga menohok saya. Walaupun saya tidak takut dengan zombi bernama “Label Jomlo dari Lahir”, tapi terkadang saya merasa tidak cukup baik buat siapapun, sehingga saya terus berubah, berusaha memperbaiki diri niatnya sih, tapi mungkin orang terdekat akan melihatnya sebagai “berusaha menjadi seseorang yang si doi suka”. Karena memang begitulah saya, gebetan saya suka film dan serial, saya nonton film dan serial. Gebetan saya suka baca buku sastra dan sejarah, saya baca buku sastra dan sejarah. Gebetan saya suka brownies, saya belajar bikin brownies. Selama gebetan kamu berhasil mengubah kamu jadi lebih baik, saya rasa tak ada salahnya berubah. Saya tak merasa rugi jadi kecanduan film dan serial, dan jadi tertarik sama sastra dan melek sejarah, dan bisa bikin brownies. Walaupun tak satupun dari gebetan saya itu jadi sama saya, minimal saya jadi lebih baik. Jadi ketika ditanya orang mengapa kamu masih jomlo, kamu bisa jawab dengan jujur, “Saya terlalu baik buat siapapun.” Kamu tak perlu lagi memakai alasan sok filosofis seperti, “Tuhan saya pencemburu.”, misal (ya, itu mah saya sih).

Tapi jangan, Ntiw. Jangan sampai seseorang yang kamu suka mengubah diri kamu yang sekarang. Misal saya nih (terus aja ngambil contoh diri sendiri), gebetan saya sering sarkas dan sinis, saya tetap ceria dan riang gembira. Gebetan saya rada hedonis, saya tetap lebih memilih beli bolu pisang singaparna daripada kroisan cokelat starbak. Gebetan saya suka main kode, saya tetap nggak ngerti maunya dia apa dalam hubungan kami. Begitulah. Seperti kata Mas Adri, biarlah kelak kekasih hatimu tertarik pada Tiwi yang Tiwi seperti kamu adanya sekarang.

 Ntiw...

Apa lagi yang belum saya jawab? Mengapa surat ini jadi panjang sekali ya?

Soal label “ngga punya pacar”, kelak kamu akan mencapai usia saya. Usia dimana kamu terlalu lelah buat peduli apa kata orang lain. Terlalu sadar kamu tak mau lagi memenuhi tuntutan orang lain yang tidak ada habisnya. Terlalu pintar sehingga bisa menertawakan mereka yang membuai diri dengan pamer tiada habisnya tentang kebahagiaan yang mereka punya.

Dan selama kamu menunggu mencapai usia saya, janganlah takut pada label itu. Bahagia tidak harus dengan punya pacar. Tidak memiliki sesuatu yang dimiliki banyak orang bukan berarti kamu tidak kaya. Sendiri bukan berarti kesepian (kadang sih. Tapi bahkan mereka yang berpacaran pun terkadang bertengkar bukan? Sama-sama membuat hati resah saja. Tidak ada bedanya. Manusia ditakdirkan melewati fase suka dan duka).

 Jadi Adik yang sudah tidak kecil lagi...

Berbahagialah.