Avatar

Pengembara Asing

@zirizatsu

العفو

– Al-Afuww (The Pardoner)

The One who softly conceals and completely erases shortcomings in a way that neither leaves any trace nor having any acountability whatsoever.
Avatar

Tidak Perlu Terburu-buru

Berdoalah dengan tenang, sebab dunia masih bisa menunggumu sampai kamu selesai berdoa, masalahmu itu butuh untuk diselesaikan, sementara kamu membutuhkan doa untuk menguatkan. Pelan-pelan saja dalam berdoa, ya.
Kamu tahu, bahkan soal menjemput itu jangan pula tergesa-gesa, sebab dari ketergesaan itu kamu sering lupa membawa sesuatu yang penting, atau bisa jadi kamu lupa membawa bekal terbaik untuk perjalanan, itu pula yang barangkali menjadikanmu gagal pada yang sebelumnya. Sesuatu yang sudah menjadi takdirmu, tetap akan jadi milikmu meski kamu datang dengan lambat atau cepat. Yang membedakan hanya soal kesiapan dan perbekalannya saja, karena banyak yang gugur atau putus di tengah jalan karena 2 hal tadi. Tidak semuanya, hanya beberapa.
Benar, hidup ini bukan soal berlomba siapa yang paling banyak uang, jabatan, atau prestasinya. Sebenarnya hidup itu adalah soal menikmati hidupnya sendiri, soal penghambaannya pada pemilik dunia dan pemilik takdir dirinya. Namun, akhirnya semua rusak dan terdegradasi hanya karena sosial media yang menjadi rujukan standar diri, membandingkan dengan kehidupan orang lain dan berandai-andai itu adalah hidupnya.
Pelan-pelan saja dalam berdoa dan meminta, nikmati setiap kata yang keluar dari lisan dan hati. Begitu pula dengan tujuan yang sedang kamu tapaki saat ini, pelan-pelan saja, atur ritme dan napas perjalanan, kembali mengecek persiapan dan perbekalan. Dan pada ujungnya, carilah yang berkah dan penuh kebaikan, ya.

Selamat meneruskan perjalanan. Iya, kamu dan aku.

Salah satu hal favoritku tentang fisiologi manusia adalah cara mata kita berubah ketika kita melihat seseorang yang kita cintai. Pupil kita melebar secara otomatis seperti yang mereka lakukan saat gelap di luar dan mereka mencoba untuk membiarkan lebih banyak cahaya masuk kecuali sekarang cahaya orang favorit mereka. Tepi mata kita sedikit melunak dan terkadang bahkan berair yang juga tidak bisa kita kendalikan. Air mata kebahagiaan. Kita cenderung mengangkat alis kita seolah-olah kita sedang mencoba untuk membuat mata kita lebih besar. Mencoba untuk mendapatkan visi yang lebih baik dan melihat semua detail. Kita cenderung berkedip lebih sedikit dari biasanya hanya untuk membuat momen bertahan sedikit lebih lama. Meski hanya sedetik. Atau ketika kita tersenyum pada seseorang dengan seluruh wajah kita terlibat dan mata kita hanya berkerut dan menciptakan kilau di dalamnya. Dan itu semua terjadi begitu mudah dan sederhana.

Hayami Rukaa | 17 Januari 2022

Jadi, kamu boleh meminta apapun kepada Allaah. Boleh. Sangat boleh. Selama apa yang kamu mintakan adalah sebuah kebaikan. Lalu berupaya lah dengan upaya yang baik pula.

Setelah itu, kembalikan semua apa yang kamu mintakan, apa yang kamu upayakan. Kembalikan kepada Allaah dengan perasaan lillah karenaNya. Agar apa? Agar perasaanmu ringan. Agar tidak lagi lelah dalam melangkah.

Perasaanmu akan kembali teduh sebagaimana keyakinan yang telah kau tanam lekat-lekat dalam dirimu. Allaah akan selalu membantumu. Tidak akan dibiarkan kamu sebagai hambaNya yang telah meminta kepadaNya kembali dengan sebuah kesia-siaan.

Maka setelah ini. Ketika langkah mu begitu payah. Ketika perasaan mu begitu lelah. Berhentilah sejenak. Beritirahatlah. Setelah itu lanjutkan perjalanan mu dengan perasaan Ridha atas setiap takdirNya. Kamu tidak akan dibiarkan olehNya sendiri sayang. Tidak akan. Maka jangan menangis lagi, sudahi sedihmu. Tak apa. Semuanya akan baik-baik saja..

Aku kepada diriku dalam sebuah purnama pucat...

Avatar

دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَلُ مَا تَشَاءُ وَطِبْ نَفْساً إِذَا حَكَمَ القَضَاءُ

وَلا تَجْزَعْ لِحَادِثَةِ اللَّيَالِي فَمَا لِحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ

وَكُنْ رَجُلاً عَلَى الأَهْوَالِ جَلْداً وَشِيمَتُكَ السَّمَاحَةُ وَالوَفَاءُ

وَإِنْ كَثُرَتْ عُيُوبُكَ فِي البَرَايَا وَسَرّكَ أَنْ يَكُونَ لَهَا غِطَاءُ

تَسَتَّرْ بِالسَّخَاءِ فَكُلُّ عَيْبٍ يُغَطِّيهِ كَمَا قِيلَ السَّخَاءُ

وَلا تُرِ لِلأَعَادِي قَطُّ ذُلاً فَإِنَّ شَمَاتَةَ الأَعْدَاءِ بَلاءُ

وَلا تَرْجُ السَّمَاحَةَ مِنْ بَخِيلٍ فَمَا فِي النَّارِ لِلظَّمْآنِ مَاءُ

وَرِزْقُكَ لَيْسَ يُنْقِصُهُ التَأَنِّي وَلَيْسَ يَزِيدُ فِي الرِّزْقِ العَنَاءُ

وَلا حُزْنٌ يَدُومُ وَلا سُرُورٌ وَلا بُؤْسٌ عَلَيْكَ وَلا رَخَاءُ

إِذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوعٍ فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءُ

وَمَنْ نَزَلَتْ بِسَاحَتِهِ المَنَايَا فَلا أَرْضٌ تَقِيهِ وَلا سَمَاءُ

وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ وَلكِنْ إِذَا نَزَلَ القَضَا ضَاقَ الفَضَاءُ

دَعِ الأَيَّامَ تَغْدِرُ كُلَّ حِينٍ فَمَا يُغْنِي عَنِ المَوْتِ الدَّوَاءُ

Disangkakan ditinggalkan itu sudah pedih, rupanya meninggalkan lebih jerih.

Cinta tidak didefinisikan untuk mudah kalah.

Selalu ada jalan mudah untuk berpisah, akan tetapi yang mencintaimu akan berjuang tanpa pernah tahu batas menyerah. Yang mencintaimu akan terus berusaha mencari jalan terbaik di saat hubungan bermasalah. Yang mencintaimu akan terus berpetualang bersamamu bahkan saat kamu kehilangan arah.

Karena cinta tidak didefinisikan untuk kalah. Kecuali kepada takdir yang bukan tandingan kita lagi selain berpasrah.

Avatar

Ruang Tumbuh

Pribadimu hari ini adalah akumulasi dari berbagai ruang bertumbuh yang engkau ikuti di masa lalu. 

Disadari atau tidak, pribadi kita hari ini adalah kumpulan dari aktivitas-aktivitas yang pernah kita lakukan sebelumnya. Kalau kita banyak berkumpul dengan anak-anak kecil, maka kita akan menjadi suka saat bermain dengan anak-anak kecil. Kalau kita suka bersosialisasi, rasanya saat pandemi seperti ini akan terasa kita mungkin bingung sendiri kala semua aktivitas harus digantikan dengan pertemuan virtual. Dan banyak aktivitas-aktivitas yang kita lakukan yang nantinya akan membentuk diri kita sendiri. 

Teman-teman di lingkungan kita selama ini adalah bagian dari perjalanan kita untuk bertumbuh. Maka dari itulah selalu diingatkan bahwa memilih teman, memilih tempat berkembang sudah seharusnya dipertimbangkan karena akan mempengaruhi kepribadian kita . Bahkan musuh kita pun juga bagian dari cara Tuhan menumbuhkan. Jadi, tinggal bagaimana kita bersikap kepadanya, apakah kita  akan jauh lebih bertumbuh, atau malah  justru kita terperosok. 

Namun yang pasti, di ruang itu kita akan menyadari, bahwa ada yang bertumbuh cepat, ada yang lambat. Ada yang penuh antusiasme, ada yang ala kadarnya. Karena di dalam ruang itulah kita akan belajar bagaimana untuk berkompromi. Jika kita menjadi pemimpin di ruang itu, kita akan belajar bagaimana memastikan agar semua yang ada di dalam ruang itu juga dapat bertumbuh. Jika kita menjadi pengikut di ruang itu, kita akan belajar bagaimana mengeratkan genggaman satu sama lain agar dapat berjalan di frekuensi yang sama. 

Sehingga nanti saat masanya kita memulai keluar dari ruang-ruang tumbuh yang pernah kita singgahi, mereka telah siap meneruskan apa yang telah kau tumbuhkan, bahkan hingga tinggi melebihi ekspektasi awal dahulu. Sehingga kita dapat memulai di tempat baru, dan bukan lagi bergabung di ruang tumbuh, tapi menciptakan ruang bertumbuh bagi orang lain yang membutuhkan. 

Sebab kelak, pada akhirnya, setelah banyak ruang yang kau jelajahi, pada akhirnya akan tiba saatnya saat kau merasa sudah waktunya untuk menciptakan ruang bertumbuh yang eksklusif. Yang tak sembarang orang bisa memasukinya. Ruang yang kau ciptakan yang hanya akan diisi oleh dua hati dan dua keluarga yang telah bersepakat. Iya, dia adalah orang yang akan mengisi ruang tumbuhmu untuk menjadi seorang teman. Teman untuk bertumbuh.

Sebab itulah, kita harus selektif untuk memilih ruang-ruang untuk bertumbuh, karena bisa jadi di situlah nanti kita akan menemukan seorang teman. Teman untuk bertumbuh. 

26 Juni 2020, 20.20

Let’s Grow Together! Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Avatar

Luka

Sebagai manusia biasa, kadang-kadang kau terluka. Kau tak tahu cara menyembuhkannya, tak tahu di mana bisa dapat resep untuk mengobatinya. Yang pertama-tama kau tahu dan yakini, ruang sendiri akan sedikit menenangkanmu. Maka kau mencari sudut terjauh yang bisa kau jangkau, lalu bersembunyi di sana. Menyepi dari keramaian.

Di sudut itu, tak ada yang bisa menemukanmu. Tak ada yang bisa mengajak dan diajak bicara. Tak ada yang terganggu oleh jerit-tangismu. Tak ada yang bisa menertawakan air matamu. Ini tempat yang tepat untuk memulihkan diri, batinmu. Waktu seperti mengurangi kecepatan berputarnya, membiarkanmu menikmati kesunyian yang perih itu tanpa perlu terburu-buru. Batas antara siang dan malam mulai kabur. Gelap dan terang melebur. Waktu terus melambat … dan semakin lambat nyaris berhenti. Kamu tersiksa. Tetapi, kamu pura-pura menikmatinya dengan satu keyakinan bahwa di luar sana, di dunia yang sebenarnya, hidup berjalan dengan jauh lebih menyedihkan karena kamu harus jadi ’yang sendiri dalam kerumunan’. Sebatang kaktus di tengah hamparan gurun pasir. Tak ada yang bisa mengerti dirimu. Tak ada yang tahu betapa perihnya luka di tubuhmu. Maka kau memilih sendiri. Dan terus sendiri. Sayangnya, kau lupa. Ketika kau merayakan satu kesedihan, boleh jadi kau sedang melewatkan berbagai momen bahagia. Sayangnya, kau lupa bahwa ketika kau menyendiri, kau juga sebenarnya sedang membuat orang-orang yang mencintaimu merasa sendiri dan terluka. Kau juga barangkali lupa bahwa hidup harus dilanjutkan, arti harus dicari, dan cinta harus terus tumbuh. Maka, kapan pun kau merasa siap, berjanjilah kau akan membawa tubuhmu yang penuh luka itu keluar dari ruang sendirimu, temui mereka yang kau cintai dan mencintaimu. Bicaralah dengan mereka apa adanya, menangis bersama, atau menertawakan apa saja sampai rahangmu pegal.

Kebersamaan barangkali tak kan menyembuhkan lukamu. Tetapi, setidaknya, ia melumpuhkan kesadaranmu atas waktu.

Hingga nantinya, tiba-tiba saja, kau akan tahu bahwa luka-luka di tubuhmu telah tak lagi terasa. Meski, tetap saja, bekasnya ‘kan tetap ada, sebagai pengingat bahwa kau hanyalah manusia biasa.ㅤㅤ 

30 Desember 2018

Avatar

Curiga kepada Takdir

Saat Allah menakdirkan hatimu terluka oleh seseorang, kamu perlu curiga bahwa Allah juga sudah menakdirkan seseorang yang lain untuk membantumu sembuh.

Manakala ia datang, sambutlah dengan gembira. Namun, ketika ia mendekat dan menawarkan diri untuk membalut lukamu, katakan, “Aku akan menyembuhkannya sendiri, dan ini butuh waktu. Setelah aku pulih, aku siap dengan kehidupan baru denganmu.”

Ia sudah berbesar hati bersedia mendatangi kamu yang terluka. Ia berhak atas dirimu yang utuh, yang siap mencintainya dengan sungguh.

~

nurun ala 14/07/20

Avatar
Tidak ada yang salah dalam mengagumi, tidak ada yang salah dari menyukai. Semua akan salah jika kamu mulai membuka hati ketika bukan saatnya, lalu menjadi angan-angan. Kasian untuk keduanya, memikirkan dan mengurung hati padahal bukan saatnya dan belum tentu takdirnya.
Hari ini aku ceritakan soal pertemanan dengan seorang teman, dia sahabat karib semenjak pertama kali aku mengenal daerah yang sekarang aku diami. Yang seharusnya ia menjaga, namun akhirnya runtuh dan akhirnya mengalami apa yang tidak seharusnya dialami, ia terkecewakan oleh perempuan yang akhirnya memilih orang lain.
Ia mengaku salah pada langkah pertama, ia mengaku telah melompati pagar dan masuk tanpa izin kepada pemilik rumah. Aku sebagai temannya sudah memperingatkan sejak awal, tapi begitulah cinta, ia membutakan dan mampu menutup nasehat. Beruntung kini Allah kembalikan ia sebagaimana awalnya, belajar memahami batasan-batasan dan lebih menjaga diri.
Membahagiakan hati, dengan tidak membuatnya terluka. Membahagiakan hati, dengan tidak membuatnya melakukan diluar kapasitasnya. Untukmu, aku, dan kita semuanya semoga Allah berikan hidayah dan petunjuk hidup.

Membahagiakan hati.

@jndmmsyhd

Sincerity Part 6

Kalo kita bacanya qul huwallaahul ahad, jadinya satu kalimat.  Kata huwa menjadi mubtada’
Bentar yach, kita belajar Bahasa Arab yang sederhana dulu, sebentar.
Dalam bahasa Inggris, mubtada’ disebutnya subject of the sentence. Sebuah awalan. Sebuah starting point. Dari kalimat atau sentence-nya.
(more…)

Satu Premis Sederhana

Selalu ada penjelasan untuk setiap perasaan cinta yang datang. Hanya saja fasihnya perkataan tak semuanya mampu mewakilkan.

Kadang mencintai dan dicintai tak selalu harus saling bersahutan. Seperti halnya ombak yang datang ke pinggir pantai tak selalu pulang membawa pasir ke lautan.

Sungguh tak ada orang yang mampu menyangkal bagaimana cinta itu bisa tumbuh dan mekar dalam hatimu. Tak ada pula orang yang bisa menerka sedalam apa perasaanmu.

Tak ada kehilangan yang tak menyisakan pilu. Entah dari mana muasalnya, kehilangan selalu menyakitkan. Bahkan jika itu hanya kehilangan kesempatan. Kesempatan untuk menyatakan dan kesempatan untuk memiliki.

Tapi kamu masih bisa mencintai dengan merelakan. Karena yang patah akan tumbuh, yang hilang akan berganti.

Pada akhirnya, kamu akan sampai pada sebuah premis sederhana: mungkin bukan dia orangnya.

— Taufik Aulia

Avatar

Imām Ibn al-Qayyim (رحمه الله) eloquently states:

كَفَى بِكَ عِزًّا أَنَّكَ للهِ عَبْدٌ ، وَكَفَى بِكَ فَخْراً أَنَّهُ تَعَالَى لَكَ رَبٌّ .

“Sufficient honour for you is that you are Allāh’s servant, and sufficient pride for you is that the Exalted is your Lord.”

[Kitāb ‘l-Fawā'id, 1/50].