mochmarsa.com
Handphoneku Lebih dari Sekedar Dompet dan Pasar
PERKENANKAN saya untuk menceritakan sebuah kisah tentang seorang Jomlo yang telah berkarat enam tahun lamanya, karena selalu mengalami nasib beringis dan tragis soal menjalani kisah romantis. Rekor yang telah dicapainya adalah seringkali gagal dalam memberikan ‘sertifikasi’ kepada gebetan (baca: menjadikan pacar), dan yang tak kalah keren adalah dia juga seringkali terlalu pede, terlalu senang dan bangga berlebihan, serta merasa sok ganteng ketika diajak makan bareng cewek yang baru dikenal, yang ujung-ujungnya dia sendiri yang kena PHP. Siapakah dia???? Dia adalah---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------SAYA SENDIRI :’) Sebagai seorang Single Fighter (bahasa jawa halus dari kata ‘Jomlo’), kehidupan saya tidak bisa lepas dari handphone. Ya walaupun tidak ada yang mengirimkan saya chat, setidaknya agar terlihat ada yang menge-chat, saya pun berkali-kali membuka handphone dengan mengecek pulsa atau bermain goyang shop**ee sambil meratapi nasib diri :’) Dengan handphone, kehidupan Jomlo saya sedikit terobati, saya menjadi (agak merasa) tidak sendiri lagi. Handphone bagi sudah menjadi teman, kerabat, saudara, rekan kerja, soulmate, dan sejenisnya. Walau tak jarang ketika sudah nyaman dengan Handphone, ibu saya selalu meneriaki saya dari dapur-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------“HAPEE TEROSS!!! TELINGANYA NGGAK DENGER IBU TADI NYURUH APA??!!” :’) Terkadang adalah sebuah kewajaran bagi seorang Jomlo menjadi sangat bahagia ketika diucapkan ‘selamat pagi’ oleh kasir minimarket, karena bagi seorang Jomlo, diucapkan ‘selamat pagi’ adalah termasuk dalam “Tujuh Kejadian Aneh dan Langka Bagi Seorang Jomlo” :’) Namun sebenarnya itu tak masalah bagi saya, yang menjadi masalah adalah ketika kasir tersebut selalu memberikan ‘kembalian permen’, atau selalu bilang “500 rupiahnya disumbangkan ya kak?” padahal bagi Jomlo yang missqueen (baca: miskin), 500 rupiah adalah sangatlah berharga untuk tambah-tambah buat beli buku tipis berjudul “Kiat-kiat mendekati seorang cewek” :’) Entah mengapa, entah ini adalah sebuah kutukan atau tidak, namun percaya atau tidak percaya nasib sial dan melas dalam kehidupan percintaan seorang Jomlo, selalu menular kepada kehidupannya secara keseluruhan. Saya pun sering merasakan kutukan tersebut; Kejadian 1: Pernah suatu ketika Ibu saya menyuruh saya untuk membayar tagihan listrik di Loket PLN, nasib sial pun menghampiri diri saya, tidak tanggung-tanggung, dua nasib sial menimpa diri saya dalam satu kejadian “Membayar Tagihan Listrik”. Nasib sial pertama: Dengan senang hati saya bergembira ria sambil bernyanyi menuju kantor PLN. Namun sesampainya di loket, seketika saya langsung murung, pemandangan yang terpampang adalah antrean panjang seperti audisi Dangdut Academy ataupun Indonesian Idol. Terpaksa saya harus menunggu lamaaa, (mengapa kehidupan Jomlo selalu dihiasi dengan ‘menunggu’?). Nasib sial kedua: Setelah lama mengantre dengan penuh perjuangan, dan kesabaran, tibalah giliran saya, saya pun maju ke loket. Sesampainya di depan loket, mbak-mbak loket langsung menutup jendela loket, seakan menolak saya (mengapa kehidupan seorang Jomlo selalu dihiasi dengan penolakan?). Saya terkejut dan sontak bertanya “Mbak, kok ditutup mbak?” mbak-nya menjawab; “Istirahat sampai jam 13.00 mas”. Saya masih saja kebingungan, saya pun melihat jam tangan saya menunjukkan pukul 12.00. Saya masih terus bingung, melihat ke kanan, ke kiri, ke bawah, ke atas. Ternyata diatas kepala saya terpampang tulisan “Buka: 09.00 – 12.00, berlanjut 13.00 – 16.00”. Selama itu saya menunggu, sesabar itu saya menanti, harus berakhir dengan sebuah penolakan :’) Kejadian 2: Karena masih dalam suasana awal bulan, musim membayar tagihan, keesokan harinya saya pun kembali disuruh untuk membayar tagihan, kali ini giliran tagihan air ke kantor PDAM. Sebelum berangkat di mata saya sudah terbayang bayang-bayang antrean panjang seperti audisi KDI, Dangdut Academy, Indonesian Idol di loket PDAM. Sambil membaca ayat kursi dan berdoa agar situasi seperti itu tidak terjadi lagi saya pun berangkat menuju kantor PDAM. Sesampainya disana alhamdulillah masih sepi, antrean masih sedikit. Saya pun cukup lega. Hampir saja lupa, saya ingat sebelum berangkat ibu berpesan; setelah membayar tagihan saya disuruh untuk membeli sarapan di Warung Padang. Ibu saya menyuruh membeli 2 bungkus nasi padang dengan lauk ayam, yang harganya 10.000 per bungkus, sebelum berangkat untuk membayar tagihan saya diberi uang 20.000 rupiah. Ternyata nasib sial kembali menimpa saya, sesampainya di tempat parkir, tukang parkir pun ‘memalak’ saya 2000 rupiah, tidak ada uang lagi di dompet selain uang pemberian Ibu saya sebelum berangkat tadi, otomatis uang 20.000 rupiah terpotong menjadi 18.000 rupiah. Artinya hanya bisa membeli 2 bungkus nasi padang dengan lauk telur 16.000 rupiah. Sontak telinga saya langsung terbayang dan terngiang suara ibu yang akan memarahi saya sesampainya nanti di rumah;--------------------------------------------------------------------------------------------------“MAKANYA JANGAN HAPEE TEROSS, DENGERIN APA YANG IBU SURUH, LAUKNYA AYAM! BUKAN TELUR!” :’) *** Tapi teman-teman, sebenarnya bukan kisah melas kejomloan saya yang ingin saya ceritakan disini, melainkan ada sebuah renungan yang bagi saya yang ingin saya bagikan kepada kalian semua; Pertama, kembalian permen dan keikhlasan menyerahkan 500 rupiah yang menyayat hati, Kedua, antrean panjang yang berakhir penolakan, Ketiga akibat ‘dipalak’ tukang parkir setelah membayar tagihan langsung, saya kena marah oleh Ibu. Keempat ketika Ibu harus menahan lapar menunggu sarapan yang masih on the way dibelikan oleh saya, karena tidak ada lagi yang bisa disuruh selain saya. Sebagai generasi milineal yang hidup di abad ke-21, apakah masih keren membayar secara tunai dengan kembalian permen atau keikhlasan menyumbangkan 500 rupiah karena tidak ada kembalian? Sebagai generasi yang hidup di masa Revolusi Industri 4.0, apakah masih layak mengantre panjang untuk membayar tagihan listrik, apalagi berakhir dengan penolakan? Sebagai generasi yang hidup pada zaman Smartphone dan Internet di genggaman tangan, apakah masih elegan ketika membayar tagihan harus terhantui membayar parkir? Sebagai manusia yang hidup di era disrupsi, apakah pantas membiarkan Ibu menahan lapar, menunggu saya membeli sarapan karena hanya saya yang bisa disuruh? Masa sih selamanya manusia akan disusahkan akan hal-hal tersebut? Masa sih seorang Jomlo harus terus terkutuk dengan kesusahan tersebut? Padahal di Abad ke-21 ini menuntut adanya efisiensi waktu, hemat tenaga dan hemat dalam biaya. Cukup kuat untuk menjadi sebuah renungan bagi kita semua. Setelah bertapa selama 40 hari di Alas Purwo dan berlanjut di Gunung Merapi, saya pun menemukan jawabannya. Semua ternyata bisa teratasi dengan “ #Ecodigi; Ekonomi Digital “. WAWWWWW!!!!! Jadi apa sichhh Ekonomi Digital itu? Bagaimana sichhh cara kerjanya? #Ecodigi: Sebuah Gerakan Nasional Dompet Tipis Seorang Jomlo abad ke-21 seperti saya memang tidak bisa lepas dari handphone. Bagaimana tidak, setiap hal di dunia ini dapat terjangkau hanya dengan sebuah batang persegi yang dilengkapi teknologi internet. Berjuta-juta orang di negeri ini pun mengalami hal yang sama dengan saya, entah apakah mereka juga sering diteriaki “HAPEE TEROSSS!” oleh ibunya, atau justru ibunya yang juga hapean terus. Fenomena jumlah pemakai smartphone dengan internet yang tinggi ini pun menjadikan inovasi teknologi semakin berkembang, lahirlah sesuatu yang disebut dengan Revolusi Industri 4.0 dimana seluruh kegiatan didigitalisasikan termasuk dalam keuangan dan ekonomi. • Gerakan Nasional Non Tunai Salah satu program yang disosialisasikan oleh Bank Indonesia untuk mendukung #Ecodigi adalah gerakan nasional non tunai. Sebuah gerakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi antrean seperti audisi The Voice Indonesia yang pernah saya rasakan saat itu. Dengan gerakan non tunai ini kita bisa membayar tagihan dengan mentransfer uang melalui bank, dengan kartu ATM, Debit, Kredit, maupun uang Elektronik yang tersimpan dalam Chip kartu. Praktis! Tanpa antre! Macam-macam pembayaran non tunai menggunakan Kartu. Sumber: Dokumen Pribadi Belanja di mini market pun tidak lagi terhantui kembalian permen. Dengan membayar secara non tunai, maka pembayaran dilakukan secara pas, tinggal gesek kartu, tinggal tap, atau scan QR-code. Semuanya dapat dilakukan tanpa berinteraksi langsung dengan lembaran uang yang tak jarang penuh dengan kuman. Jadi tangan kita akan tetap higienis, dan Si Jomlo ini pun masih bisa tambah-tambah buat beli buku tipis berjudul “Kiat-kiat mendekati seorang cewek”, karena tidak lagi diminta mengikhlaskan 500 rupiahnya. Penyedia layanan pembayaran elektronik seperti BNI Mobile Banking, TCash, Yap! dan lain sebagainya. Sumber: Dokumen Pribadi Selain menggunakan kartu, tap, atau scan QR-code, Gerakan Nasional Non Tunai pun dapat juga kita lakukan dengan uang elektronik yang tersimpan pada server melalui aplikasi e-commerce, ataupun dompet online pada Smartphone. Jenis gerakan non tunai yang satu ini sangat cocok buat kalian yang sering diteriakin “HAPE TEROSS!!!” oleh ibunya karena terlalu nyaman bila sudah berinteraksi dengan handphone. Dengan hadirnya fasilitas ini, tenaga, bahan bakar, dan panjangnya antrean, teratasi hanya dengan dua buah ibu jari kalian saja. Saya pun menamakan gerakan ini dengan nama lain “Gerakan Nasional Solusi Mager”. Karena bagi kalian yang malas gerak untuk membayar tagihan, membeli pulsa, membeli token listrik, ataupun membeli tiket, cukup dengan dua buah ibu jari, sudah dapat mengganti dua buah kaki kalian untuk berjalan menuju loket pembelian, pembayaran ataupun minimarket. Macam-macam e-commerce seperti Shopee, Bukalapak, Traveloka, Grab, Gojek, dan lain sebagainya. Sumber: Dokumen Pribadi Ada juga yang mengatakan gerakan ini sebagai gerakan Less cash society. Selain kemudahan banyak juga manfaat yang dapat kita semua rasakan. Gerakan Nasional Non Tunai dapat mengontrol laju pertumbuhan uang kartal, menghemat anggaran pencetakan uang kartal, yang pada akhirnya juga dapat mencegah pemalsuan uang. Tanpa harus dimarahin oleh Ibu saya, para pemalsu uang akan kewalahan dengan hadirnya Gerakan Nasional Non Tunai ini. Selain sebagai Gerakan Nasional Solusi Mager, saya juga menamakan gerakan ini dengan nama lain “Gerakan Nasional Dompet Tipis”. Dimana nantinya dompet kita tidak perlu banyak terisi uang tunai, uang kita sudah terkumpul dalam handphone kita sendiri. Dompet hanya berisi kartu identitas dan beberapa uang receh 1000 atau 2000 untuk membeli cilok. Dompet kita pun tidak perlu banyak-banyak terisi struk pembayaran, karena bukti transaksi ketika kita melakukan Gerakan Nasional Non Tunai sudah tersimpan secara elektronik di handphone kita masing-masing. Paperless Banget! Handphone kita pun menjadi lebih dari sekedar dompet! Gerakan Nasional Dompet Tipis. Sumber: Dokumen Pribadi #Ecodigi: Pilar Semangat Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Digital pun bukan hanya terbatas gerakan non tunai saja, bukan hanya sebatas membayar tagihan, membeli pulsa, atau membeli token listrik. Dengan kehadiran Ekonomi Digital ini pun Ibu saya tidak perlu menahan lapar menunggu sarapan yang masih on the way dibelikan oleh saya, karena tidak ada lagi yang bisa disuruh selain saya. Karena apa? karena Ibu dapat memesan sendiri apa yang ingin beliau makan melalui aplikasi e-commerce juga, seperti Go Food, Grab Food ataupun yang lainnya. Bukan hanya memudahkan saya dan Ibu, Ekonomi Digital pun mampu mendongkrak perekonomian negara dengan ikut membantu memberdayakan usaha kecil menengah. Dengan kehadiran Ekonomi Digital UMKM mendapat wadah untuk mengembangkan usahanya, mempromosikan usahanya, serta UMKM akan mendapat jangkauan luas di masyarakat. Seperti apa yang ada di kota domisili saya, Banyuwangi. Di Banyuwangi, pemerintah memiliki trobosan terbaru, memanfaatkan Ekonomi Digital dengan menghadirkan mall khusus Usaha Mikro Kecil Menengah yakni Banyuwangi-Mall.com. Dalam peranannya, Banyuwangi-Mall.com dikelola oleh Rumah Kreatif sebagai pusat operasional pengembangan marketing place. Dengan begitu produk UMKM Banyuwangi dapat menjangkau pasar lokal dan pasar nasional. Banyuwangi-Mall.com yang dapat diakses melalui Handphone. Sumber: Dokumen Pribadi Itu baru di tingkat lokal, di tingkat nasional telah ada Bukalapak, Tokopedia, dan lain-lain sebagai terobosan Ekonomi Digital e-commerce sebagai wahana edukasi agar masyarakat Indonesia berani berwirausaha secara mandiri. Ekonomi Digital pun menjadi pilar semangat pertumbuhan ekonomi bangsa ini. Ibu saya akhirnya menjadi tertarik setelah saya perkenalkan dengan aplikasi e-commerce tersebut, “murah-murah ya le”, keesokan harinya Ibu saya minta untuk dibelikan smartphone agar dapat berbelanja online. Ahamdulillah ini merupakan kabar baik bagi saya, dengan begini akan berkurang teriakan “HAPEE TEROSSS!!!” kepada telinga saya, karena Ibu saya mengetahui alasan mengapa saya hapean terus, karena dengan #Ecodigi Handphone kita pun menjadi lebih dari sekedar pasar! • Gesit, Praktis, Bersaing di era Revolusi Industri 4.0 Cepat, hemat, mudah dan praktis adalah tuntutan pada abad ke-21 ini, dan Ekonomi Digital merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Dengan #Ecodigi semua akan dimudahkan mengenai transparansi anggaran, karena semua tercatat secara otomatis dengan mekanisme pencatatan yang mudah sehingga sulit untuk terjadi penyalahgunaan dan penyelewengan seperti pencucian uang, misalnya. Ekonomi Digital pun secara langsung maupun tidak langsung akan memberantas pungli, karena semua nominal pembayaran akan jelas tertera, kita pun membayar langsung melalui handphone atau kartu, sehingga memutus rantai berokrasi yang berbelit yang rentan terjadi pungutan liar. Dengan adanya Ekonomi Digital, good governance yang kita impikan akan segera terealisasikan. • #Ecodigi: #AmanBertransaksi Memang sih sepintas terdengar mudah, dan praktis, namun Ibu saya sering bertanya “Le, itu kalau kita menyimpan uang secara elektronik di handphone, apa nggak hilang?”, “kalau misal yang Ibu beli, ternyata waktu diterima berbeda dengan gambar gimana?” nah, inilah pertanyaan yang sering menghujam ketika saya mulai mempromosikan #Ecodigi, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang wajib kita jawab. Bahwa di dalam Ekonomi Digital itu sendiri menekankan yang namanya Perlindungan Konsumen, sehingga kita menjadi #amanbertransaksi ketika kita memanfaatkan Ekonomi Digital. Pembayaran dapat dilakukan dengan Tap ataupun Scan QR-code. Sumber: Dokumen Pribadi Perlindungan Konsumen pun telah ada regulasinya, di dalam undang-undang perlindungan konsumen pun kita telah dijamin hak-haknya sebagai konsumen seperti hak atas informasi yang jelas, hak atas mendapatkan kompensasi dan ganti rugi, hingga hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen, serta hak-hak yang lainnya.. Selain dijamin undang-undang kita pun harus waspada secara mandiri terhadap penipuan-penipuan yang terjadi,, bila terjadi kejanggalan dalam bertransaksi secara digital kita dapat curhat kepada contact center BICARA Bank Indonesia. Jadi jangan khawatir, justru dengan menggunakan #Ecodigi kita bakal lebih #amanbertransaksi. #Ecodigi: Memang Kita Banget Namunnnnnnnn…. Walaupun memang Ekonomi Digital nantinya memang tidak bisa terlepas dari kehidupan kita, yang harus diperhatikan adalah Jangan hanya jadi sekedar pemakai, apalagi penonton. Karena terlalu naif jika kita hanya sibuk menjadi penonton dan sibuk berkomentar, tapi Jadilah pemeran utama. Jangan hanya sekedar menjadi konsumen, namun jadilah sebagai produsen, jadilah juga sebagai penggerak wirausaha mandiri. Dengan begitu Ibu kalian akan tambah bangga dengan kalian. #Ecodigi menjadi pelopor kejujuran dalam kegiatan perekonomian. Selain itu ekonomi digital sangat hemat di waktu, dan sangat hemat di ongkos. Ibu saya semakin bangga punya anak yang “update banget” seperti saya, “kamu keren le, kok pinter banget” walaupun kalimat barusan memang saya sadari adalah sebuah ‘gombalan’ dari Ibu saya, karena saya telah berhasil menunjukkan pasar termurah, mudah dijangkau dan penuh diskon hanya dalam satu handphone. Keren bukan? Ya iyalah masak enggak pulak! Ekonomi Digital memang cukup keren, sangat keren, keren kali dan keren paten!!! Ekonomi Digital memang kita banget! Ibu saya sekarang menjadi mudah berbelanja, waktu yang dihabiskan untuk mengantre, macet ketika di jalan menuju ke pasar, dapat lebih dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga, maupun mengajari adik-adik saya yang masih sekolah dasar. Beli kebutuhan rumah tangga bulanan, detergen, sabun, hingga odol sekalipun dapat dibeli secara digital, Tanpa Kartu, Tanpa Uang, Hemat dan Lancar Tanpa Hambatan! • No wallet No worry, Handphoneku Lebih dari Sekedar Dompet dan Pasar! Sekarang saya lebih khawatir ketinggalan handphone dari pada ketinggalan dompet, karena handphone kini menjadi lebih dari sekedar dompet bahkan pasar bagi saya. Kehidupan sulit dalam menghadapi Jomlo semakin mudah teratasi. Kini giliran kalian dan kita semua untuk menyebarkan virus #Ecodigi; Gerakan Nasional Non Tunai, Gerakan Nasional Solusi Mager, Gerakan Nasional Dompet Tipis, maupun Gerakan Nasional No Wallet No worry!. Jadilah duta Ekonomi Digital bagi generasi yang masih awam dengan Ekonomi Digital. Handphoneku Lebih dari Sekedar Dompet dan Pasar. Sumber: Dokumen Pribadi Sebuah harapan besar untuk pemerintah dalam mendukung #Ecodigi, yakni lebih meningkatkan infrastruktur sarana, seperti perluasan dan penyebaran spot-spot pembayaran non tunai. Dan jikalau bisa, nantinya Saya dan Ibu saya beli cilok hanya cukup dengan tap, ataupun scan QR-code dalam membayar. Fuuuhhh!!! Pasti keren tuh nantinya. Tentunya juga harapan besar untuk pemerintah agar lebih meningkatkan aspek perlindungan terhadap konsumen, serta sosialisasi meluas akan Ekonomi Digital itu sendiri. Yang terakhir Ibu saya ingin menyudahi teriakan “HAPEEE TEROSS!” dan menggantinya dengan bersama-sama meneriakkan-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------“EKONOMI DIGITAL ITU KITAAA BANGEEETTTTT!!!!!!!!!” 😊 #Ecodigi #amanbertransaksi