wahdahjakarta.com
Belajarlah Bahasa Arab, Karena Ia Bagian dari Agamamu
Hari ini ana kesekian kalinya menasehati anak ana tentang pentingnya belajar Bahasa Arab. Ana kutip sebagian energinya di sini.SubhanaLlah, ketika kita berulang-ulang menyadarkan ummat tentang asingnya Islam di akhir zaman, adakah keterasingan yang lebih dalam daripada seorang Muslim yang membaca Kitab Allah kemudian tidak mengerti maksudnya?Sapaan-sapaan merdu yang dia baca itu: “Yaa Ayuhalladziina Aamanuu ... Yaa Ayuhalladziina Aamanuu ... Yaa Ayuhalladziina Aamanuu ….” Tidak cukupkah panggilan yang berulang-ulang ini mengetuk relung hati kesadarannya?Tidakkah seharusnya dia meninggalkan segala urusannya agar dia mampu memahami pesan dari Kalam Allah yang ditujukan (I mean literally) langsung kepadanya? Berapa harga dunia ini untuk bisa ditukar dengan memahami-hati Kalam Penciptanya tanpa perantara penerjemah dari makhluk-Nya?Anehnya, kondisi ini bisa berlarut-larut pada seorang Muslim hingga usianya jelang masuk kubur. Bisakah kondisi tersebut mendapatkan udzur nanti di Akhirat? WaLlahu A’lam. Yang pasti, setiap individu harus siap dengan jawabannya sendiri.Ibnul Qayyim pernah mengingatkan kondisi pendidikan Al-Qur’an Rasulullah dahulu kepada sahabat-sahabatnya. Seakan beliau hendak mengingatkan tentang salah satu substansi pendidikan Nabawi.Beliau, kata Ibnul Qayyim, memberi effort dan penekanan yang lebih besar kepada pendidikan makna Al-Qur’an daripada rasamnya. Jelas, pintu pertama menuju makna itu adalah artinya. Bandingkan dengan kondisi sebagian kita hari ini, rasamnya ditinggalkan, apalagi maknanya. Jika asingnya Islam di tengah ummatnya berarti asingnya Rasulullah di kalangan ummat, adakah yang lebih asing daripada seorang yang mendengar sabda Rasul, sementara yang dia dengar cuma rangkaian bunyi yang tanpa arti? Tanpa arti baginya, karena ybs awam dari bahasa Rasul yang sungguh lebih cinta kepadanya daripada dirinya sendiri?Bila asingnya Sunnah di tengah ummat berarti jauhnya teks dan konteks Sunnah dari jangkauan ummat, adakah keterasingan yang lebih vulgar daripada komunitas yang “merasa” Ahlus Sunnah, namun literasi Sunnah mereka masih berada pada level paling rendah: memahami arti.Kalau kita menginginkan anak-anak kita menjadi intelektual di masa depan, ulama atau thalibul ‘ilmi, yang mampu melawan “kolonialisme eksistensi” era-digital, coba jawab pertanyaan ini. Adakah ulama yang pernah kita baca atau dengar keagungannya tapi awam bahasa Arab? Bukankah kita yakin tentang luasnya geo-intelek Islam ini karena kita mendengar nama-nama Arab mereka yang mengetuk-ngetuk ujung dunia: al-Qurthubi, al-Bukhari, al-Albani, as-Sindi, al-Mubarakfuri, al-Harrani, an-Naisaburi, asy-Syiradzi, al-Jawi, dst, dst? Layakkah generasi kita berdiri-sanding dengan nama-nama emas itu kalau syarat pertama: bahasa Arab, terbata-bata?Ikhwani fiLlah … setelah Tauhid, Sunnah, Palestina, tarbiyah, … menurut ana, salah satu PR ummat yg terbesar adalah Bahasa Arab. (Abu Sarah)