ceritachaty.com
Beberapa Sumber Bermanfaat Untuk Memahami Kesetaraan Gender - Cerita Chaty
Dalam rangka Hari Perempuan Internasional (8 Maret sih, tapi ngga apa-apa deh), aku ingin berbagi beberapa sumber pengetahuan atau pandangan tentang kesetaraan gender, perempuan dan/atau feminisme. Beberapa hal yang disoroti di sini juga tentang sexual harassment, dari yang kentara seperti perkosaan (yang erat dengan victim blaming) hingga catcalling yang dianggap lumrah atau bahkan ada yang menganggapnya tindakan keren. Memahami budaya patriarki sangat penting untuk bisa mengerti pentingnya kesetaraan gender. Sumber-sumber yang aku akan sebut ini juga perlu kita tanggapi dengan kritis, dan beberapa platform yang kutulis, baik website maupun lainnya, menyediakan ruang untuk kita bertukar pikiran secara sehat. Buku Feminist Thought;oleh Rosemarie Putnam TongDuh, maaf ya aku tidak punya fotonya. Bisa dicari di situs jual-beli buku, atau download di Google Books.Melalui buku ini, Rosemarie Tong menjelaskan tentang asal mula adanya feminisme, serta bermacam stigma yang dilekatkan pada istilah feminisme. Ia juga menjabarkan macam-macam feminisme global dalam kronologi yang dimulai dari abad 19 (atau 18 ya? Waduh lupa-lupa ingat…).Rosemarie Tong memulai buku ini dengan kisahnya di sebuah acara feminis (kayaknya seminar atau semacamnya, maafkan aku sungguh lupa detilnya…), dimana ada seorang peserta lain mempertanyakan “kefeminisan”-nya karena ia menikah dan memiliki anak. Dari situlah kemudian sepertinya semakin besar keinginannya untuk menuliskan buku tentang feminisme ini.Karena, teman-teman, feminisme itu bukan pejuang yang menyebarkan ajaran perempuan tidak boleh menikah, dan bukan berarti orang yang percaya dengan kesetaraan gender harus membetulkan genteng sendiri, ya. Magdalene IdMagdalene sangat menarik perhatianku, karena ia mengkritisi banyaknya pemberitaan yang menyudutkan perempuan. Yang paling ramai baru-baru ini, soal kasus prostitusi online yang melibatkan beberapa artis. Ungkapan 80 juta dijadikan bahan candaan dimana-mana. Nama yang terpampang di banyak artikel siapa? Nama artisnya, demi untuk sensasi dan klik tentunya, padahal mereka juga korban. Hasssh ramashoook!Laman web Magdalene menyajikan tulisan-tulisan yang mengkritisi budaya patriarki. Kalau kita tidak setuju dengan artikel yang dimuat, kita bisa juga mengirimkan “tulisan balasan” sebagai opini tandingan. Produksi tim Magdalene lainnya bisa diakses lewat akun instagram mereka (klik di sini). Kita bisa mendengar podcast-nya di Spotify atau KBR Prime (search aja “Magdalene’s Mind”). Akun instagram@perempuanpeduliAkun ini banyak menceritakan tentang self-healing dan mengajak kita untuk peduli dengan sesama. Cocok untuk teman-teman suka dengan kalimat-kalimat lembut serta ilustrasi yang keren.@indonesiafeminisNah, kalau akun yang ini sedikit lebih “garang” dibandingkan @perempuanpeduli. Banyak perspektif mengenai kesetaraan gender dan ketidakadilan terhadap kelompok marjinal yang bisa ditangkap dan dikritisi di sini, mungkin karena adminnya ada lebih dari satu, ya.@pikiranlelaki_Akun yang ini agak istimewa, karena dia melihat isu kesetaraan gender dari sudut pandang lelaki gitu. Jadi, feminis itu tidak harus perempuan dan kesetaraan gender itu patut diperjuangkan oleh siapa saja.@unwomenUN Women adalah entitas Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. UN Women memuat video yang bagus sekali tentang sexual harassment di IGTV mereka. TokohAda banyak tokoh gitu yang dari berbagai wawancara dan acara mereka memaparkan tentang kesetaraan gender. Dua yang aku rekomendasikan buat ditonton atau dibaca adalah Mbak Kalis Mardiasih dan Ibu Musdah Mulia (wawancaranya atau opininya, ya, bukan channel pribadi) Laman WebMojok.coIni aku kenapa bisa sampai ke sini ya? Hihi. Sekalipun Mojok dikenal sering memuat artikel yang loetjoe walaupun kadang maksa itu, sering juga ada artikel yang berisi dan bisa kita resapi maknanya. Sebenarnya, semua artikel Mojok bermakna, mylov. Ada yang bilang karena kebanyakan orang Mojok itu orang NU (Nadhlatul Ulama), yang gayanya santai tapi visioner, lihat Gus Dur aja tapi yha. Seperti laman Magdalene, kalau tidak setuju dengan satu tulisan di Mojok, kita juga bisa mengirimkan artikel berisi opini kontra yang tentunya diseleksi dulu oleh tim Mojok, apakah bisa dimuat atau tydaq. Tapi hati-hati, nanti dituduh kafir!!!1!1!Tirto.idSejak pertama kali baca Tirto, aku kagum banget karena artikel mereka beda dengan artikel media online lainnya, yang cenderung clickbait. Tirto biasa melampirkan sumber-sumber yang mendasari muatan artikel serta menggali lebih dalam suatu isu, tanpa kepleset bikin tulisan yang “demi clickbait semata”.Teman-teman pasti mengerti kalau pernah baca Tirto, ya. Hampir semua artikelnya sesuai dengan kode etik jurnalistik. Mereka memilih sumber-sumber yang memang kredibel dan terpercaya, tidak lupa melakukan verifikasi ke sumber lain, sehingga poin “tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi” bisa terpenuhi (kira-kira begitu).Baru-baru ini, mereka membuat kesalahan dengan menyebarkan meme tentang debat cawapres yang rupanya membuat salah tafsir, dan mereka meminta maaf. Aku pikir ini contoh yang baik dimana media online meminta maaf atas kesalahan yang dibuatnya. (Selama ini, aku cuma pernah baca harian Kompas aja yang sering meralat berita mereka yang kurang benar. Kalau online, jarang banget) Videos Masih banyak sumber lain yang bisa kita baca atau tonton atau dengar dan kritisi. Aku sangat tidak menyarankan membaca tentang perempuan dan relasi gender hanya dari satu sudut pandang yang disangkut-pautkan dengan satu interpretasi dari satu agama. Banyak akun yang mengatasnamakan agamaku, Islam, untuk jualan dengan menyebar informasi bahwa perempuan itu layaknya lolipop, ikan asin, atau bahkan kura-kura. Kita perlu selalu ingat bahwa manusia, perempuan maupun laki-laki, adalah subjek, jangan pernah mau kita diobjektifikasi, atau bahkan mengobjektifikasi. Perempuan bukan ikan asin dan laki-laki bukan kucing (kucing tetanggaku aja ada ikan asin cool aja, tuh). Kalau bisa, carilah sebanyak-banyaknya pandangan dalam islam atau agama apapun, yang beragam sampai berlawanan. Aku menyarankan hal yang sama untuk mengkritisi pandangan yang tidak membawa-bawa agama. Agar kita bisa semakin kritis, tidak hanya terhadap isu perempuan maupun interpretasi agama itu sendiri, tapi juga terhadap isu kesetaraan dan ketidakadilan yang “senggolannya” lebih beragam. Dari LGBTQ+, masyarakat adat, pembangunan, relasi kuasa, pendidikan, kebebasan berpendapat, hingga urusan dapur dan rumah tangga. Yha sebenarnya aku juga mulai kritis ketika sudah dewasa ini, sih. Karena aku merasakan keperluan untuk berpikir kritis mendekati pemilu..upsie… Aku, dulu adalah saksi sekaligus korban catcalling yang menganggapnya sesuatu yang biasa, “Ew, boys just being boys,”. Aku, dulu menghakimi teman-teman lelakiku yang kurang “macho” sebagai bukan lelaki sejati. Aku, dulu menghakimi teman perempuanku yang berjilbab kemudian melepas jilbabnya sebagai seorang yang plin-plan dan payah.Aku, dulu menanggapi kasus pelecehan dengan kalimat, “Pakai baju apa?” dan pada suatu titik aku menganggapnya hal normal.Tapi hal seperti ini harus berhenti. Aku berubah dan aku percaya dengan membuka pikiran, kita akan mempertanyakan, mengkritisi banyak hal dan menemukan jawaban yang paling pas dengan logika serta nurani kita. P.S. Beberapa video yang aku sebutkan ada yang berbahasa Inggris. Lumayan bisa buat belajar Bahasa Inggris ya :). Untuk teman-teman yang belum merasa penting berbahasa Inggris, aku betul-betul menyarankan kita semua untuk belajar Bahasa Inggris. Learn English, it’s damn important and you can’t avoid it. It opens up the world to me, and for sure it’ll do the same to you.