19.
Haru Biru Syawal
Terkadang kita tidak mengerti bagaimana jalan takdir itu bekerja. Yang kita tahu hanyalah; kemanapun kaki kita melangkah, ketika kita ditakdirkan untuk menetap pada suatu rumah, maka kita akan tiba di sana. Sebanyak apapun kerikil yang menyandung kedua kaki, tidak akan ada yang mampu menghalangi kita untuk sampai ke rumah itu.
Akan penulis ceritakan sedikit kisah, ini tentang seorang teman akhwat yang esok hari akan menggenapkan separuh agamanya. Kisahnya bermula sejak 2012 lalu, ketika itu ia masih bekerja di salah satu perusahaan BUMN terbesar. Dia bertemu dengannya pertama kali di sana.
2012 lamaran itu datang kepadanya, Qadarullah takdir belum berpihak kepada mereka. Merekapun menjalani hidup sendiri-sendiri. Ikhwan itu dengan kesibukannya, pun akhwat itu dengan kesibukannya, mereka berjalan pada lintasan edar mereka masing-masing.
Hingga tiba di tahun 2018, bulan syawal. Lamaran itu datang lagi kepada sang akhwat, dari ikhwan yang sama. Senang bercampur bahagia, haru biru hati menyelimuti bulan syawalnya. Qadarullah, lamaran itu kembali tertolak tersebab restu orang tua akhwat. Tahun itu pula menjadi titik awal perubahan drastis sang akhwat, berbenah memantaskan diri di hadapan Allah, memperbaiki kesalahan dan khilaf masa lalunya yang ia bilang "tidak sebaik orang lain". Sementara sang ikhwan adalah seorang yang lurus agamanya, baik akhlaknya, bahkan digandrungi banyak perempuan tetapi semua dilepehkannya begitu saja. Ia terjaga dengan sangat baik.
Di tahun 2019, bulan syawal tahun ke-2. Laraman sang ikhwan datang lagi kepada sang akhwat. Lagi-lagi Qadarullah jalan takdir belum berpihak pada mereka. Lagi dan lagi restu orang tua akhwat menjadi tameng penghalang menggenapnya 2 hati. Tetapi? Apa sang ikhwan menyerah? Tentu tidak. Ia sungguh gigih, sangat gigih dalam memperjuangkan bahtera yang sedari 2012 lalu ia mantapkan dalam hatinya. Ia bertahan dalam penantian dan doa terbaik, dalam upaya-upaya yang ia bisikkan ke bumi dan mengudara ke atas langit sana. Do'a yang mengetuk satu per satu pintu langit, dan mendarat sempurna ke dalam pelukanNya.
Tahun kembali berganti, 2020 bulan syawal tahun ke-3. Di temaram bulan syawal, haru biru kisah perjalanan hati itu bersambut baik. "Ini adalah kali terakhir aku akan mengusahakan menggenap bersamamu, ketika yang hadir adalah penolakan maka dengan ikhlas aku akan melepaskan dirimu" pesan itu masuk di nomor sang akhwat, pesan pertama setelah penolakan di syawal tahun ke-2. Sang ikhwan datang kembali, membawa bekal kesungguhan yang ia perjuangkan 3 syawal berturut-turut.
Sungguh, hati manusia berada di dalam jari-jemari Allah. Bagaimanapun manusia bersikeras menolak jalan takdir, jikalah Allah telah menuliskan demikian maka akan demikian. Bukankah pena telah diangkat dan tinta telah mengering? Apa yang tertulis di Lauh Mahfudz akan datang kepadamu satu per satu. Ditunggu atau tidak ditunggu, diupayakan atau tidak diupayakan. Tetapi sebaik-baik manusia adalah yang senantiasa menyandarkan ikhtiar dan tawakkalnya dalam satu garis edar bersama do'a-do'a terbaik yang dilesatkan dengan panah terbaik menuju ars Allah.
Syawal tahun ke-3, lamaran itu bersambut baik, ikhwan itu diterima dengan baik. Hati orang tua akhwat dibolakkan menerima kesungguhan sang ikhwan. Haru biru syawal tahun ke-3 menjadi begitu manis, semanis teh yang disuguhkan dengan gula yang cukup. Air mata tidak mampu keduanya bendung, sunggu jalan takdir Allah begitu manis. Walau terkadang begitu berat di awal pada akhirnya kita akan paham jika dibalik semua hambatan-hambatan itu, Allah hanya ingin menjadikan kita lebih kuat dan lebih baik sebelum dipertemukan dan diperjalankan pada garis takdir yang lain. Allahu Robbi :''')
بارك الله لكما و بارك عليكما و جمع بينكما في خير
Atas segala sesuatu yang kamu yakini ada kebaikan padanya, perjuangkanlah. Kau tahu, Allah itu Maha Pemalu, Dia sungguh tidak akan memulangkan tangan seorang hamba yang terangkat mengemis kepadaNya dalam keadaan kosong. Pun tidak akan menyia-nyiakan serangkaian ikhtiar yang dilakukan seorang hamba.
Maka adakah nikmat Allah yang patut didustakan?
Dan.. benar kan? Bahwa; selalu ada kebaikan dalam kata tunda, selalu ada kejutan dalam kata tunggu. Selamat menanti sederet kejutan manis dariNya.
26 Syawal 1441H. Kutulis ini dengan air mata haru. Haru biru syawal telah membawakan segenggam berita baik yang menjadi ibroh berharga bagi penulis. Syukron yaa Robbi, Syukron.