puan
siapa? pada derap-derap langkah lutut penuh luka darah sekarat, jiwanya mati suri raganya ditertawai bumi puan! penuh sial penuh kesal dihantui sesal.

siapa? pada derap-derap langkah lutut penuh luka darah sekarat, jiwanya mati suri raganya ditertawai bumi puan! penuh sial penuh kesal dihantui sesal.
pada kata seandainya bulan dan temaram kian gelisah merogoh sedih dalam sukma begitu dalamnya
barangkali Tuhan yang menelisik kisah dua dekade lamanya, sesal juga derita singgah batu nisan dan lengkung tanah kubur, kembali menjadi muasal resah,
pada kata seandainya keluh kesah beserta tangisnya mengadu sedemikian sakitnya hingga lukamu hanya menjadi kenang, kalau saja kubentangkan sayap tanpa bimbang barangkali, kenangmu seindah senyum pada hari terakhirmu itu seandainya.
satu dekade sebelum hari ini,
dia menemukan bulan yang penuh luka juga bersimbah darah,
belum sempat dia bertanya, si bulan menangis begitu sedihnya,
“aku hampir dibunuh oleh seseorang“ ucap si bulan,
“saat aku mengadu pada bintang-bintangku, mereka malah menambah lukaku dengan makian yang tidak terkira buruknya“
“iya, aku tahu kau berpikir seharusnya lukaku segera diobati, namun begitulah, tak satupun bintang yang hendak menolongku“
tangis bulan berhenti, rupanya sinar bulan telah padam,
sedemikian nyata kisah bulan yang ditemuinya,
hingga lamunannya menghasilkan tetes air mata,
“maaf, seharusnya aku sadar lebih cepat dan bersinar selamanya agar tak ada lagi bulan yang padam sebab luka sepertimu”
‘dia’ kini bangkit dari kursinya lantas membuka jendela seraya menjerit dalam hati
‘semesta, kau akan kalah kali ini’
I’m jealous of those who can function like a normal human being. They don’t have anxiety holding them back from everything, they don’t struggle to get out of bed or have to put on an act that everything is fine when its not. They don’t struggle to hold friendships and relationships… they don’t feel sad for no fucking reason everyday. Those that can hold jobs and work towards their dreams, the ones who have self esteem and see the beauty in themselves. Those that know what its like to feel safe and secure, not insecure and fearful of it all.
sampai di pertengahan tahun,
banyak hal terjadi begitu saja, kedukaan dan keriangan berdampingan tanpa rasa nurani. dibalik duka masih ada duka yang lebih dalam, dibalik suka masih ada senang yang teramat riang. pertanyan-pertanyaan di kepala belum usai terjawab, datang pertanyaan-pertanyaan lain dengan penantian jawaban yang teramat mendesak. berita di linimasa kian aneh, kabar kematian hingga kabar kejahatan terus saja menjadi headline dengan huruf-huruf besar.
hingga kini, seperti itulah rencana Tuhan terjadi. lantas, apa Tuhan benar menikmatinya?
dan, iya. memang benar manusia sumber masalah, perasaan-perasaan itu sama sekali tidak dizinkannya untuk disentuh. ada yang ingin pergi tapi ragu, ada juga yang ingin menetap tapi juga ragu.
barangkali menutup episode tentangmu, menjadi episode terbaik pada kisah yang dibuat Tuhan.
Pada hari dimana siaran kematian menghantui pintu-pintu rumah, si kucing jalanan kian takut, takut seolah nama nona manis yang baik itu akan disebut pada siaran kematian,
Saat sore menjelang si kucing jalanan tidak lupa untuk mendatangi jendela kamar nona manis, lantas jendela dibuka lalu ia mendapat makanan dari nona terkasihnya itu, setiap hari, di tiap-tiap senja menampakkan diri,
Hingga tibalah satu masa, hari dimana nona manis tak lagi membukakan jendela kamarnya, si kucing jalanan ketakutan, takut melewatkan siaran kematian,
Dilihatnya jendela nona manis yang tertutup rapat, "dimanakah ia ? mati kah ia ? atau barangkali harinya sedang tak baik ?"
Si kucing terus menerus bimbang, berbulan-bulan, hingga tahun berganti, hingga siaran kematian tak lagi menghantui, pada hampir keputus asaannya berdoalah ia kepada Tuhan,
"Tuhan, sekalipun mati atau hidup, setidaknya Kau tahu betapa murah hati nona manisku, susah ataupun senang mohon berilah ia kehidupan yang paling bahagia"
pada kehidupan selanjutnya,
kiranya bernafas sebagai hewan peliharaan lebih asik ketimbang menjadi majikannya, sebab pada makhluk-makhluk yang menemani manusia itu tidak ditemukan pengkhianatan padanya.
sedangkan, bahkan seluruh semesta pun tahu, bahwa manusia dan pengkhianatan adalah hal yang lumrah.
sialnya menjadi manusia bukan pilihan,
dan di bumi manusia, mereka hanya boleh hidup seperti manusia pada umumnya. sebagian berkata rencana akan selalu indah, sebagian lain kehilangan arah. juga diantara yang kehilangan arah itu, sedikit ataupun bisa jadi tidak sedikit dari mereka mulai bosan dengan hidupnya. lebih buruknya lagi, ada makhluk bodoh yang terjebak dalam isi pikiran sendiri. bahagianya hampir habis, hati hangatnya hampir lenyap. hanya ada satu rasa di hatinya, berupa ketakutan yang menjelma kawan dalam pikiran.
barangkali, makhluk-makhluk Tuhan yang kiranya bodoh itu lebih beruntung nasibnya,
sibuknya tak jauh dari urusan perut, atau bahkan diamnya tak jauh dari ucapan puja kepada Tuhannya,
tidaklah ada pikiran-pikiran cemas mengenai kehidupan beberapa ataupun berpuluh tahun kedepan,
hanya hari ini kenyang lantas ucap syukur,
sedangkan esok biarlah tetap menjadi esok.
Adapun langit-langit bumi, juga kian meratapi sendu duka makhluk-makhluk dibawahnya. Segala kecamuk gelisah yang ditadahkannya kepada langit, hingga menyentuh dinding kalbu semesta.
anak-anak manusia bersedih sendu atas nasib buruknya,
dipikirnya Tuhan yang Maha Baik tidak lagi baik,
hati mereka penuh sesal pada tiap kegagalannya,
sabda langit kian dihiraukan,
padahal masa belum berkehendak,
juga bumi yang masih terus berputar,
sesekali rintik hujan datang menenangkan,
namun sama sekali kedukaan tak hilang,
jauh... teramat jauh di atas atmosfer semesta,
malaikat-malaikat pun tengah meratapi nasib manusia,
"mereka, anak-anak manusia itu hidup dengan begitu banyak duka, memang benar makhluk paling menyedihkan, hidup di tengah persimpangan surga dan neraka, dibekali akal dan pikir namun tak dapat menggunakan sepenuhnya."
Kedukaan bukan melulu perihal kematian, tapi juga kehilangan. Kehilangan sosok, kehilangan waktu, kehilangan rasa, atau segala jenis kehilangan lainnya. Meranah membawa hati serta pikir menuju pada ruang kesedihan. Juga perihal kesedihan, bahwa suatu kesedihan yang paling patut dirayakan yakni patah. Sekali lagi, beberapa tokoh memang tidak selamanya membawa keindahan pada alur sebuah kisah.
Jika aku sudah berhenti menulis tentangmu dalam puisi-puisi, dan mulai menulismu dalam bait cerita-cerita fiksi. Itu tandanya, hatiku sudah patah. Dan aku akan segera melepasmu dalam untaian kata di setiap bait semesta yang kuciptakan pada cerita fiksi.
- Sastrasa
Senin, 6 November 2021
beberapa tokoh memang tidak selamanya berkisah pada keindahan.
Dalam sebuah rumah duka, dua sosok manusia hadir di tengah kerumunan manusia yang lain. Kesedihan dan tangisan menyertai pada setiap sudut ruangan,kecuali dua sosok itu yang hingga kini masih larut dalam pikiran-pikiran mereka.
...
"hari ini satu lagi kematian yang membuat sepertiga bumi bersedih"
"sepertiga bumi yang malang,,,kau tahu apa yg paling menyedihkan dari menghadiri rumah duka ?"
"tangisan ?"
"tidak, bukan itu"
"lalu?"
"kehidupan sesudah peti mati diturunkan,... sebab akan ada suasana yang lain yang tidak pernah hadir sebelumnya, ah juga kau tadi berkata tangisan ? tangisan memang tidak asing bersanding dengan kesedihan, tapi apa kau sadar bahwa kesedihan tak melulu bersanding dengan tangisan?"
"astaga, kurasa kesedihan pada titik itu teramat menyakitkan"
"tidak, tidak hanya menyakitkan tapi juga mematikan... mematikan suka lantas menghidupkan duka abadi yang selamanya hadir menyertai tanpa setitik pun nampak"
...
Hingga kalimat terakhir dua sosok itu, peti mati telah dibawa pergi. Sekali lagi mereka menyaksikan sebuah keberangkatan menuju pengakhiran.