Avatar

hujan reda, kamu tidak

@taufikaulia

author of sabar dan syukur tanpa tapi | also write on ig: @taufikaulia

Hai Tumblr! Lebaran ini sudah berapa orang yang nanyain kamu kapan nikah?

Ditanya “kapan nikah” gak akan bikin kamu hancur kok. Palingan cuma sebel dikit aja. Kalau kamunya memang belum siap, calonnya belum ada, atau emang belum mau menikah, ya gak usah terlalu diambil hati. Apalagi sampai jadi pikiran. Masih banyak hal-hal lain yang lebih layak menyita pikiranmu selama kamu bisa menjaga hati, pikiran, dan tubuhmu dari hal-hal yang Allah haramkan.

Sebel dikit gak apa-apa, tapi risaukan hal yang memang layak dirisaukan sekarang-sekarang ini. Toh, target dan milestone hidup orang gak selalu sama.

Mungkin, kalau ada yang nanya kamu kapan nikah. Kamu cuma perlu jawab singkat aja, “Doain aja ya, Tante. Saya lagi nyiapin diri dulu nih biar nanti bisa jadi istri/suami yang baik.” Jangan lupa tambahkan senyum simpul. Sudah tu, hidup lanjut lagi.

Bagian tersulit dari kehilangan adalah rindu yang menetap dan harus ditanggung sendirian.

Rindu tak dapat dibagi karena ia ada dalam hati.

Tapi untunglah ada Allah. Kepada Allah rindu ini kita titipkan. Dalam untaian doa-doa dan dalam rangkaian kebaikan yang kita rutinkan.

Semoga kelak nasib baik akan datang pada kita, berkumpul kembali bersama orang yang disayang di tempat terbaik yang pernah Allah ciptakan.

Sampai jumpa kembali.

Zina itu buruk. Perbuatan buruk itu solusinya ya jangan dilakukan, sekalipun tidak merugikan orang lain. Bukan berarti selama sebuah perbuatan buruk tidak merugikan orang lain lalu kita bebas melakukannya sesuka kita.

Kita gak hanya bicara untung rugi, tapi juga benar salah menurut norma pegangan hidup yang kita yakini. Islam itu artinya berserah diri, tunduk, dan patuh. Muslim artinya orang yang tunduk. Tunduk bukan kepada hawa nafsu, tapi kepada Allah.

Materialistis sekali bila kita hanya bicara tentang untung rugi. Kita bukan kaum yang abai dengan Tuhan, keimanan, dan aspek-aspek spiritual lainnya.

Toh, berprinsip bahwa zina itu terlarang justru akan menyelamatkan kita dari petaka-petaka lain yang mengikutinya, seperti hamil di luar nikah dan aborsi.

Jadi, sekalipun zina, katanya, gak merugikan orang lain, kita tetap punya tanggung jawab untuk menjaga diri kita dan orang-orang terdekat kita agar jauh dari zina.

—taufikaulia

Kapan hari aku ngobrol sama suami. Gimana ya kalau kita iri sama capaian orang lain? Pernah nggak dia demikian?

Dijawab gini, kamu irinya kenapa? Coba analisis konteksnya. Misalnya kamu lagi iri sama si A, apa yg di-irikan? Terus analisis di diri kamu, kira-kira apa itu salah satu hal yang pengen kamu raih? Kalau iya, apa yang bisa kamu usahakan?

Orang beda-beda rezekinya, starting point, supporting system, bahkan ya gabisa dinalar kadang itu udah rezekinya dia aja. Mungkin kalau kita mengusahakan hal yang sama, bisa jadi lebih lama mencapainya. Bisa jadi juga ga bakal tercapai karena bukan rezekinya.

Iri jangan sama orangnya, iri sama konteksnya lalu refleksi : udah sesuai sama tujuanmu belum? Kalau nggak sesuai ya terus buat apa gitu di-iri-in? Ya kita kadang cuma "ih enak ya dia blablabla, ih dia kok bisa sih begini. Blablabla" Tanpa tahu usahanya.

Ketika kita iri, coba lihat apa yang kita punya? Ada banyak hal yg bisa kita syukuri, hal yang sudah Allah anugerahkan. Apa yang jadi potensi kita?

Dan terakhir, apa yang bisa kita maksimalkan? Kita nggak bisa kontrol orang lain (kadang dia nyebelin juga, merendah utk meroket, pengen bgt ditanyain soal pencapaiannya) tapi kita bisa kontrol diri kita. Kita bisa kontrol respon kita.

Akuin aja kalau lagi iri, pahami konteks apa yang kita harapkan dari kejadian tsb. Kendalikan diri.. rezeki nggak akan tertukar, ranah kita adalah tawakkal dan ikhtiar 😊

Sedang terus menerus melatih diri melihat orang lain senang dan melihat diri ini juga menyenangkan dengan segala pemberianNya.

Rencana Allah pasti indaaah banget buat masing-masing hambaNya yang berupaya, berserah, dan bersabar🥰 #refleksidiri hehehe

“Lebih baik anakku terluka karena ia berlari lalu terjatuh daripada ia terluka karena ia datang padaku lalu sikap dan perkataanku membuat hatinya patah sampai berkeping-keping.”
—taufikaulia

Luka karena terjatuh bisa jadi pengalaman dan pelajaran, tapi luka karena salah asuh bisa jadi trauma dan preseden buruk bagi perkembangan kepribadian anak di masa depan.

Saat Oji sakit kemarin, saya orang yang paling tega melihatnya menangis dan meronta karena disuntik atau dipasangi infus berkali-kali. Saya sangat mengerti, itu demi kesembuhannya.

Namun tadi siang saat saya sedang bicara di meeting kantor, Oji datang sambil digendong @clarissaintans. Oji ceria sekali, baru dibelikan balon oleh omanya. Dan di depan pintu Oji memanggil-manggil sambil melihat saya, “Babaaaaah, babaaaaaah, babaaaahhh.” Matanya yang bening itu antusias sekali. Oji belum bisa bicara. Mungkin maksudnya, ayaaaah, ayaaahh, lihat nih Oji punya baloooonnn ayo main sama Oji yaaahh. Saat itu saya hanya bisa menjawab dengan kode: iya sebentar ya sayang.

Menyesal sekali rasanya. Ingin saya langsung menghambur saat itu juga kepada Oji.

Setelah menikah dan menjadi orang tua, dunia saya dan Intan berubah drastis. Ada satu makhluk kecil nan lucu yang tiap hari makin pintar yang hidup di tengah-tengah kami. Prioritas-prioritas kami berubah. Tentu kami bahagia dan ini yang kami harapkan. Karenanya kami jadi pembelajar dan ingin lebih banyak belajar lagi setiap harinya. Makhluk pintar ini harus tumbuh jadi sebaik-baik manusia.

Luka pengasuhan adalah luka yang paling kami takuti tertoreh pada diri anak-anak kami. Orang tua kami telah begitu luar biasa membesarkan dan mendidik kami, tapi kami ingin jadi orang tua yang lebih baik lagi.

Ngomong-ngomong soal luka pengasuhan, menurutmu apa saja luka pengasuhan yang mesti kita waspadai sebagai orang tua?

Yang paling mengerti betapa beratnya masalahmu itu kamu sendiri. Tapi percayalah, bahwa takdir baik akan menghampirimu. Dan satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa takdir baik itu datang adalah dengan bertahan hidup selama mungkin.

Bayangkan bila barangkali sedikit lagi atau gak lama lagi, bebanmu akan terangkat dan masalahmu akan selesai. Sudah paling betul bahwa bertahan hidup dan melewatinya hari demi hari adalah satu-satunya pilihan.

Semoga Allah berikan ketenangan dan pertolongan untukmu.

*peluk dari jauh

GIMANA BISA NEGARA LEPAS TANGGUNG JAWAB ATAS MORAL WARGANYA?

“Gak mau diatur agama tapi nyuruh agama bertanggung jawab untuk mengatur sesuatu yang gak mau diatur negara. Gimana bisa?” —taufikaulia

Soal seks bebas nih. Jadi kan sekarang banyak ormas, terutama ormas-ormas Islam, yang menentang Permendikbud No. 30. Bukan menentang karena peraturan ini mengatur soal kekerasan seksual, tapi karena peraturan ini menjadikan consent (persetujuan) sebagai ukuran kekerasan seksual.

Yang dimaksud kekerasan adalah yang bila korbannya tidak setuju atau terpaksa. Apakah betul? Betul. Yang kemudian menjadi problematis adalah bagaimana dengan seks yang dilakukan pasangan bukan suami istri tapi sama-sama setuju?

Di sinilah ada kekhawatiran, di mana di satu sisi ada aturan yang menjadikan sexual consent sebagai ukuran sebuah pelanggaran tapi di saat yang sama tidak ada aturan yang melarang seks bebas. Hal ini berpotensi menjadi dalih bagi pelaku dan pegiat seks bebas untuk menjadi bebas sebebas-bebasnya.

Lalu, twit saya yang ada di gambar maksudnya apa?

Dalam percakapan whatsapp saya berdiskusi dengan seorang kawan lama yang punya pandangan berbeda. Bagi saya, negara perlu turut campur untuk melarang seks bebas mengingat seks bebas ini sudah sangat merebak sekali sebagaimana kita tahu dari percakapan-percakapan cabul/porno yang ada di sosial media. Sementara, kawan saya berpendapat negara tak perlu ikut campur, biar itu jadi tanggung jawab agama sebagai tameng atas krisis moral di masyarakat. Baginya, agama yang harus waspada, sigap, dan bertanggung jawab terhadap degradasi moral masyarakat.

Waw.

Ada benarnya, yaitu kita sebagai penganut loyal agama kita, perlu refleksi kembali tentang cara kita beragama dan menanamkan nilai-nilai agama ke masyarakat kita. Banyaknya orang bermaksiat mungkin karena kekurangpandaian kita dalam berdakwah.

Tapi....

Ada celah di situ. Kita sebagai penganut loyal agama dan pendukung setia moral, tidak punya kuasa yang mengikat kepada orang-orang. Di negara ini, agama itu powerless alias tidak punya kekuatan mengikat kepada penganut-penganutnya. Agama itu isinya perintah dan larangan serta janji juga ancaman. Karena negara kita bukan negara agama, maka hukuman kepada pelaku zina menurut hukum agama mutlak tidak dapat kita terapkan, hukum rajam misalnya. Kalau diterapkan tentu malah akan jadi pidana dan backfire bagi oknum agama yang melakukan.

Lantas, bagaimana bisa menyerahkan tanggung jawab moral sepenuhnya kepada agama atas perzinahan lalu menghendaki negara tak turut campur padahal kita sama-sama tahu bahwa negaralah yang punya kuasa atas setiap warganya dan negaralah yang bertanggung jawab penuh untuk melindungi warganya dari kerusakan moral dan sosial.

Bayangkan ada teman kita yang mengingatkan pelaku zina, “Sahabatku, janganlah kau berzina karena itu termasuk perbuatan dosa.” Lalu dijawab, “Siapa lo? Panitia akhirat? Dosa gw urusan gw. Gak usah sok suci lo. Dasar munafik!”

Melemparkan tanggung jawab moral hanya pada agama?

Taufik Aulia

Satu-satunya orang yang bisa mengubah hidupmu adalah kamu sendiri, kawan. Sejak kapan kamu meringkuk sendiri di situ dan terjebak masa lalu?

Hidupmu gak tergantung orang lain, apalagi orang yang meninggalkanmu. Hidupmu tergantung kamu.

Ayo bangun, keluar dari kamarmu. Ambil sepedamu, jalan-jalanlah keluar. Kalau tak punya sepeda, ambil sendalmu, berjalan kakilah. Sapa orang-orang yang bertanya-tanya selama ini kamu ke mana. Hadapi pertanyaannya, buka obrolan yang lain.

Lakukan itu setiap hari. Semoga saja kamu menemukan orang yang tepat untuk menjadi temanmu, atau melabuhkan hatimu suatu ketika nanti.

Apa Saya Bahagia?

Semakin dewasa semakin sering saya menanyakan hal ini pada diri saya. Pagi-pagi setelah mandi di depan kaca, malam-malam menjelang tidur di atas kasur, atau siang-siang saat lapar di tengah meeting dan pekerjaan kantor yang gak ada habisnya.

Pertanyaan ini butuh kejujuran. Saya tak perlu malu dan merasa kalah sekalipun jawabannya adalah tidak. Setidaknya saya mengerti perasaan saya sendiri. Setidaknya saya jujur pada apa yang saya rasakan. Ini yang penting.

Perihal tindakan yang kemudian harus saya lakukan atas perasaan saya itu adalah soalan lain. Bertahan juga bukan kesalahan jika memang tak ada pilihan lain yang dapat dijangkau. Putar arah atau berganti jalan juga bagus. Intinya, menyesuaikan kemampuan dan keadaan.

Yang bikin kesal itu jika saya membuat-buat alasan untuk menutupi rasa bersalah saya atas kemalasan dan kelalaian saya, padahal ada kesempatan dan ada kemampuan. Kenapa kesal? Jelas kesallah, saya tidak bahagia karena ketidakmampuan saya melawan rasa malas dan lalai saya sendiri.

Bertahan hidup itu memang gak gampang ya, tapi bukan gak mungkin. Memang perlu dipikirin dan diseriusin, bukan sekenanya.

Ah, ayolah semangat!

__________________

Ingin menikah? Yuk, belajar dulu. Di bawah ini ada informasi kelas online yang bisa kamu ikuti. Gunakan kode promo PMICTAUFIK untuk dapat harga spesial. Kunjungi bit.ly/kelaspmic

Andai saja kita tahu betapa sayangnya Allah sama kita dan sadar betapa dunia ini gak lebih dari sekadar senda-gurau saja, niscaya gak akan ada satu detik pun yang kita relakan berlalu tanpa rasa syukur yang membuncah-buncah.

Bahkan di balik musibah pun kita akan menemukan celah untuk bersyukur, andai saja kita tahu.

Kehidupan memang kadang seperti bercanda, dan takdir kadang seperti tak berpihak, tapi TAK ADA satu pun ketetapan-Nya yang jahat.

Kita gak sedang dizalimi oleh takdir dan kehidupan. Kita hanya sedang diuji untuk menilai siapa yang paling baik iman dan amalnya.

Kenapa perlu diuji? Karena akhirat memang Allah persiapkan hanya untuk orang-orang yang dicintai-Nya. Tak seperti dunia yang dibagi-bagikan begitu saja.

Apapun keadaanmu saat ini, jangan berkecil hati. Bangkit dan bersyukurlah!

Telegram: Taufik Aulia

Re-bah-an

Duh, rebahan sambil main gadget ini jadi musuh besar kita banget ya hari ini. Kalau mau sukses, sandungannya bukan batu, tapi gadget yang bikin kita addicted. Sedikit aja jauh dari gadget, udah kayak berasa jauh dari Tuhan. Lesu, capek, butuh istirahat dan hiburan.

Padahal....

Padahal kerja belum seberapa, setengah jam aja belum tapi udah kangen gadget. When you feel this, yes you are already addicted!

Gak usah jauh-jauh nyalahin Tuhan gak adil. Lah kamunya sendiri kok yang udah dikasih waktu tapi malah disia-siain.

Persoalannya, sebesar apa tekadmu? Di sini bedanya. Kalau tekadmu besar, berjam-jam gak rebahan sambil main gadget ga akan jadi masalah besar buatmu.

Jadi, masih mau lama-lama rebahan?

Telegram: Taufik Aulia

Pada Suatu Ketika di Pertemanan Kita

Gak perlu sedih kalau ada orang yang kamu anggap sahabat tapi gak hadir di momen-momen penting dalam hidupmu. Mereka tetap sahabatmu, tapi di saat itu mereka punya prioritas lain.

Waktu saya wisuda, hampir gak ada sahabat saya yang hadir. Ada, tapi sedikit, itu pun adik tingkat dan beberapa teman seangkatan. Sedih sih, tapi wajar karena sahabat saya kebanyakan sudah lulus duluan hahaha. Sudah pada merantau lagi ke tempat yang lain.

Anyway, kita perlu berlapang dada untuk menerima kenyataan bahwa pada suatu ketika kita bukanlah prioritas bagi orang lain. Ini bukan hal besar karena setiap orang punya prioritasnya masing-masing.

Keluarga, karir, bisnis, atau yang lainnya tentu jadi prioritas. Semakin kita bertambah usia, semakin ada jarak antara kita dan teman-teman kita. Bukan berarti silaturahim menjadi renggang, melainkan waktu kita tak seleluasa dulu untuk ngobrol dan nongkrong-nongkrong seperti dulu kala.

Ketika sudah menikah, misalnya, kita gak bisa sesuka hati pergi nongkrong ke luar sama teman-teman meninggalkan anak istri di rumah sendirian. Ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, ada istri dan anak yang perlu lebih dulu kita prioritaskan, apakah itu bercengkerama bersama mereka, makan bareng mereka, atau jalan-jalan bersama. Setelah itu barulah kita bisa luangkan waktu untuk menyambung silaturahim dengan teman-teman.

Jadi, tenang saja, sahabat tetaplah sahabat. Kita berbagi memori masa lalu yang akan selalu dikenang. Jika jarang bertemu, bukan berarti silaturahim kita berhenti. Kita hanya sudah memiliki prioritas dan masalah masing-masing.

Berdoa saja semoga di masa depan Allah berikan kita kesempatan untuk berkolaborasi dg teman-teman untuk hal yg lebih berdampak bagi banyak orang. Berdoa saja semoga Allah jadikan kita orang yang berdaya, bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk berbagi kebaikan dan mendukung teman-teman kita.

Semoga Allah lapangkan hati kita. Semoga Allah bukakan jalan rezeki kita. Semoga Allah jadikan kita pribadi yang bermanfaat.

Mau Mati Aja!

Ketika kamu ingin pergi dari kehidupan, barangkali saat itu hidup bisa jadi demikian beratnya.

Masalah datang bertubi-tubi dan kita merasa telah sampai pada batasnya

Gak kuat lagi, ingin pergi saja, ingin lenyap dari muka bumi!

Tunggu...

Allah bilang ini dalam Al-Qur'an.

Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. (QS. Yusuf: 87)

Saya gak tahu gimana caranya Allah akan menolong kita, tapi Allah udah bilang itu dalam Al-Qur'an. Yang saya tahu, Allah gak mungkin bohong.

Kita gak perlu lari, kita hanya perlu menunggu dan memantaskan diri hingga pertolongan-Nya datang.

Aku pada-Mu.

Menampakkan Sedekah

Ketika lo memutuskan untuk menunjukkan sedekah lo ke khalayak umum, lo harus sadar bahwa aksi sedekah lo itu gak cuma menginspirasi orang untuk juga ikutan sedekah, tapi juga mengundang orang yang lagi kesusahan untuk meminta sesuatu dari lo.

Jadi, menampakkan sedekah ke muka umum itu bukan cuma soalan ikhlas versus riya' saja ya. Lo juga harus nyiapin diri buat menghadapi lebih banyak orang yang datang minta bantuan karena mereka pikir lo punya harta yang banyak dan hati yang sangat luas untuk berbagi.