There is only one way to read, which is to browse in libraries and bookshops, picking up books that attract you, reading only those, dropping them when they bore you, skipping the parts that drag-and never, never reading anything because you feel you ought, or because it is part of a trend or a movement. Remember that the book which bores you when you are twenty or thirty will open doors for you when you are forty or fifty-and vise versa. Don’t read a book out of its right time for you.

Doris Lessing

Lesson Learned 2017: #1 Productive Browsing

"Bil, gimana sih caranya supaya kita tau apa yang lagi ngehits di kalangan masyarakat? Supaya bisnis bisa adjust sama market?"

Begitu yang kutanya pada Bibil ( @fabilamahadira ) , salah satu mentor bisnisku. Entrepreneur sekaligus dosen muda tersebut menjawab.

"You have to know what they eat. Browsing. Termasuk hal-hal sampah. Gue sih bisa ngefilter gimana caranya supaya itu nggak mempengaruhi karakter kita."

Kemudian, ia menunjukkan browser di laptopnya. Ada folder khusus di bookmark bar-nya yang menyimpan beberapa situs yang ia bookmark. Lebih dari 15 kayaknya.

"Gue buka ini setiap hari selama 30 menit." Hoo. Yaya.

Beberapa hari selanjutnya, aku mencoba cara Bibil. Kubikin folder bertajuk "Daily Dose 1" untuk menampung situs-situs yang kudu dibaca tiap harinya.

Bagiku sendiri, 30 menit tidak cukup. Maka caraku adalah: 

(1) Skimming beberapa situs; (2) Pilih beberapa link yang mau lanjut dibaca (bahkan termasuk status facebook orang yang menarik!), kemudian copas di chat ke diri sendiri (biasanya aku nyetok link di Slack atau Telegram); (3) Nanti, bisa dibaca saat berada di kendaraan umum (that's why I love public transport), atau lagi nggak ada kerjaan. Daripada reaktif scrolling medsos atau buka chat, karena aku punya prioritas mengenai apa saja yang mau kubaca di hari ini.

Alhasil, aku pun jadi lebih mengerti fenomena zaman now. Wekeke.

Memang di satu sisi, menelusuri berita-berita kini, ditambah menyelami seliweran status medsos adalah hal yang menyakitkan.

Ada masanya aku malas membaca berita lagi, malas menelusuri linimasa medsos, takut terlalu hanyut dalam wacana, takut jadi terdistraksi dan akhirnya tidak berkarya.

Namun, aku belajar, jika kuncinya adalah KESEIMBANGAN. Aku belajar untuk tetap mengamati fenomena di sekelilingku, namun dengan sistem 'productive browsing' yang menjagaku agar tidak hanyut dalam samudera wacana. Sistemku adalah bahteraku.

Wallahu'alam.  Masih belum 100% berjalan baik. Tapi semoga Allah mudahkan.