Avatar

Sukma Sadilia

@sukmasadilia

The more we know the more we realize how little we know. A small creature on the huge planet. Muslim. Indonesia

NAMPAK

Kalau mau nampak kuat, mudah. Posting saja foto kita yang sedang menampakkan kekuatan.

Kalau mau nampak bijak, mudah. Posting saja foto kita dengan berbagai quote yang penuh kebijakan.

Kalau mau nampak baik, mudah. Posting saja foto kita yang sedang melakukan kebaikan.

Kalau mau nampak highclass, mudah. Posting saja foto kita yang sedang berada di tempat mewah.

Kalau mau nampak penyayang, mudah. Posting saja foto kita dengan kata-kata yang penuh rasa sayang.

Kalau mau nampak saleh, mudah. Posting saja foto kita dengan berbagai caption yang saleh.

Di zaman sekarang, mudah bagi kita untuk menampakkan, seperti apa diri kita. Tapi kita lupa, bahwa apa-apa yang nampak, kadang tidak seperti kenyataannya.

Sering saya menemukan, orang-orang yang punya dua kepribadian, begitu luar biasa di dunia maya, namun ternyata ketika saya bertemu di dunia nyata, tidak seperti apa yang ia tampilkan di dunia maya. Apa rasanya? Kecewa.

Tak perlu lelah-lelah menampakkan seperti apa diri kita di dunia maya, karena orang-orang yang akan membersamai kita, adalah orang-orang yang mengetahui kebaikan kita, kesalehan kita, kepribadian kita. Orang-orang yang akan menjadi sahabat kita, adalah mereka yang mengetahui diri kita secara nyata.

Tak perlu lelah-lelah menampakkan yang tidak ada, cukup apa adanya. Begitu saja, aku sudah senang.

===

Ditulis setelah melihat seorang teman, memosting sesuatu yang tidak sesuai dengan kehidupan nyatanya.

NAMPAK Bandung, 1 Maret 2018

Adalah lisan, satu satunya indera pemberian rabb kita yang nanti akan dikunci. Tak bisa melakukan pembelaan atas diri kita, tak bisa mencari pembenaran atau alasan seperti biasa, dan tak akan bisa membohongi keadaan.

Adalah lisan, salah satu anggota tubuh yang amat sering mencelakakan banyak anak cucu adam dan menjerumuskannya ke neraka. Amat sering ingin tau masalah orang, lalu berbahagia diatas penderitaan yang mereka rasakan.

Adalah lisan, yang tidak bertulang namun teramat sulit bagi kita menjaganya. Melawan keinginan untuk tak berucap nasihat tak tepat saat ada saudara yang sedang murung. Melawan keinginan untuk tak usah mau tahu dan tak mengkorek korek aib saudara kita sendiri. Melawan seluruh ego untuk tak usah banyak bicara saat orang di dekat kita bersedih.

Betapa banyak orang di dunia ini yang amat cerdas dalam pekerjaannya, amat cekatan dan pintar dalam urusan bisnisnya, namun amat sulit dalam mengelola lisan.

Sedikit saja lisan kita salah, ada mata yang diam diam basah. Sedikit saja kita tak timbang timbang bicara, ada hati yang ternyata terluka.

Barangkali perlu kita berkaca kembali pada pribadi Rasulullaah shalallaahu'alaihiwasallam dalam menjaga lisannya. Betapa, tak semua nasihat pantas ditempatkan pada setiap kondisi. Ada kalanya, lisan yang kita anggap fasih betul dan punya sejuta nasihat ini, kita tahan dan cukup pahami saja perasaan saudari kita yang sedah bersedih. Karena tak pada semua keadaan, kita perlu tampil berkomentar.

@lolanyunyu

Pic : muaro padang

Pengingat untuk menjaga lisan.

Jail...

Penjara, sebuah tempat yang punya konotasi negatif di mata masyarakat. Penjara, bagi masyarakat, kini bermakna sebuah tempat dimana semua orang-orang terhukum “ditempatkan”. Sebuah tempat untuk orang-orang berkelakuan kriminal, sebuah tempat untuk orang-orang yang mengganggu ketertiban masyarakat.

Fenomena-fenomena yang selama beberapa waktu terakhir ini terjadi di penjara membuat masyarakat memaknai penjara tak lebih dari sekedar tempat seperti yang tertulis di paragraf di atas. Berkumpulnya orang-orang kriminal membuat masyarakat tidak heran jika di tempat tersebut akhirnya banyak terjadi kerusuhan, kekacauan, dan hal-hal imoral lainnya.

Menurut saya pribadi, penjara bukanlah tempat se-negatif itu. Jika tujuannya adalah untuk “menempatkan” orang-orang terhukum dalam kurun waktu tertentu, maka ada sebuah tujuan filosofis di baliknya. Penjara semestinya menjadi sebuah tempat untuk membantu orang-orang terhukum tersebut agar dapat menjadi orang-orang yang lebih baik terlepas dari kesalahan yang telah mereka lakukan. Penjara menjadi sebuah “ruang sendiri” untuk para terhukum untuk berintrospeksi diri atas tindakan tidak baik yang telah dilakukan, sebuah ruang untuk berefleksi, sebuah ruang untuk memperbaiki diri tanpa harus ada kekacauan di dalamnya.

Orang-orang yang dipenjara (put in jail), juga bukan melulu tentang orang yang telah melakukan tindakan tidak baik. Banyak dari mereka yang sebenarnya bukanlah seorang kriminal. Ada dari mereka yang hanya menjadi korban; korban dari sikap orang lain, korban dari euphoria dunia yang jika tak kuat diimbangi, maka akan kalah, tersesat, dan akhirnya menjadi korban.  

Banyak orang-orang hebat di bangsa ini yang dulunya dipenjara. Sebut saja Bung Hatta Sang tokoh proklamasi, Buya Hamka. Kedua tokoh tersebut adalah dua tokoh yang saya kagumi figurnya meskipun mereka juga memiliki catatan sejarah bahwa mereka pernah dipenjara.

Orang-orang yang ada di penjara adalah orang-orang yang sedang membutuhkan binaan, dukungan bahwa mereka masih bisa jadi lebih baik. mereka bukanlah sampah masyarakat yang harus dijauhi dan dicap negatif selama hidupnya.

Penjara, bagi saya, adalah tempat untuk membina orang-orang yang sedang “tersesat” dan menjadi korban. Tidak semua dari mereka adalah sampah masyarakat. Pemikiran-pemikiran seperti ini baiknya dijadikan paradigma bagi kita tentang orang-orang yang dipenjara agar kelak mereka tak menjadi residivis, agar mereka bisa kembali percaya dengan diri mereka sendiri bahwa mereka masih punya banyak kesempatan untuk berbuat baik lagi.

Saya mendedikasikan tulisan singkat dan ringan ini untuk sepupu saya yang saat ini mendekam di penjara karena kasus narkoba. Saya percaya dia hanyalah korban.

Semoga tidak ada kekacauan ataupun intimidasi di penjara. Semoga penjara bisa menjadi sebuah tempat yang kondusif bagi semua tahanan untuk dapat berintrospeksi diri agar kelak bisa berubah dan menjadi orang yang baik.

Menjalani hukuman di penjara adalah sebuah bentuk pertanggungjawaban akan kesalahan yang telah dilakukan. Bertanggungjawab adalah sikap yang pantas dan berwibawa. Bertanggungjawab adalah sebuah simbol keberanian, tidak pengecut, tidak menyembunyikan keburukan.

Dari penjara, saya yakin ada banyak hal yang bisa dipelajari, bisa direnungi untuk melahirkan sebuah pribadi yang baru, pemikiran yang baru untuk siapapun yang pernah menjalani hukuman di dalamnya.  

Ditulis di atas meja kerja dan karya, 28 Februari 2018

10.12 AM.

Kita: Generasi Manja atau Tangguh?

Sedikit obrolan dengan seorang teman dekat saya, saat ini sedang melakukan pengabdiannya di tempat terpencil tepatnya di Distrik Pantai Barat Kampung Martewar Provinsi Jayapura, telah menambah lebih banyak semangat dalam diri saya untuk berbuat jauh lebih banyak untuk orang lain. Sepanjang obrolan yang kami lakukan via Whatsapp, kami banyak bertukar cerita dan bertukar fikiran tentang banyak hal; etos kerja, sistem yang perlu diperbaiki, SDM yang “lemah”, menjadi pendidik yang baik, dan hal-hal apa yang bisa diberikan untuk orang sekitar tanpa melihat keterbatasan akses atau keterbatasan-keterbatasan lainnya.

Mengabdi di tempat terpencil bukanlah hal baru baginya saat ini. Sebelumnya dia sudah mengabdi di tempat terpencil yang digagas oleh pemerintah. Keputusannya untuk melanjutkan hal yang sama mungkin banyak terinspirasi dari pengalamannya itu: kembali mengabdi di tempat terpencil. “Hatiku banyak dibentuk dan disentuh waktu di SM3T lalu,” begitu katanya.  Tidak banyak orang yang mau melakukan hal serupa. Well, kita cukupkan cerita tentang kemauannya mengabdi di tempat terpencil.

Dari banyak hal yang kami bagi bareng via virtual talks di Whatsapp, saya punya pandangan baru tentang mengabdi di tempat terpencil yang ternyata juga memiliki tantangan tersendiri di samping tantangan lain yang kurang lebih sama juga dengan di kota atau dimanapun itu. Tantangan tersendiri adalah tentang akses. Anak-anak sekolah dan para pendidik harus menempuh jarak jauh dari rumah ke sekolah dengan medan yang tidak biasa (tidak sama dengan di tempat-tempat yang sudah berkembang). Tidak jarang ada yang akhirnya merasa malas ke sekolah. Belum lagi kalau hujan, anak-anak sekolah akan lebih telat datang ke sekolah. Teman saya, menurut pengalamannya, harus menunggu datangnya anak-anak didiknya selama berjam-jam.

Bealih ke hal yang lain yaitu etos kerja. Etos kerja berhubungan dengan bagaimana kita melaksanakan pekerjaan kita sesuai dengan apa yang kita yakini. Hal ini berbeda-beda untuk setiap orang karena setiap orang memang punya parameter yang berbeda pula. Namun, secara umum, kita pasti harus menunjukkan etos kerja yang baik. Tidak peduli di tempat manapun, di desa yang terpencil atau di kota yang sangat berkembang sekalipun, orang-orang bisa saja punya etos kerja yang sama-sama baik atau sama-sama buruk. Masing-masing tergantung pada orientasi dedikasi kita atas pekerjaan yang sedang kita tekuni.

Sistem yang berlaku dalam pekerjaan kita ditentukan oleh orang-orang yang punya otoritas mengambil kebijakan. Berdasarkan pembicaraan kami, hal inipun bisa saja sama di antara banyak orang pada setting yang berbeda. Sistem yang berlaku dalam ranah pekerjaan orang-orang di tempat yang sangat berkembang bisa saja buruk, jika memang orang yang membuat sistem tersebut memang oarng yang seperti itu. Meskipun didukung oleh banyaknya sarana dan prasarana untuk menjadikan sistemnya baik. Sebaliknya, sistem yang berlaku dalam ranah pekerjaan orang-orang di tempat yang terpencil akan baik jika memang orang yang membuat sistem tersebut memang oarng yang seperti itu. Meskipun didukung oleh keterbatasan sarana dan prasarana. Atau, bisa saja kebalikannya. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi; karakter orang. Dan sistem yang tidak baik diciptakan dari orang-orang yang mungkin apatis, orang yang tidak peduli, atau orang yang tidak melaksanakan amanah dengan baik a.k.a. tidak bertanggungjawab.  

Hal di atas berkaitan erat dengan keberadaan SDM-SDM yang “lemah” dalam sistem tersebut. Kata “lemah” di sini bukan berarti lemah fisik, akan tetapi lemah mentalnya. Dimanapun itu, banyak orang yang merasa tidak bisa menyamai kecepatan dengan orang-orang yang dedikatif terhadap pekerjaannya, menganggapnya sebagai saingan. Alhasil, mereka kadang melakukan hal-hal negatif yang berakibat ke orang lain juga. Untuk hal ini, saya setuju saja dengan prinsip kerja teman saya: yang penting kita bertanggungjawab pada ranah tanggungjawab kita masing-masing.”

Tuhan menciptakan kehidupan kita secara seimbang. Kita tidak bisa memungkiri keberadaan hal-hal negatif. Seperti Yin dan Yang. Untuk itu, masih ada hal-hal positif untuk bagian yang negatif tadi. Saya sudah banyak mendapatkan inspirasi dari pendahulu-pendahulu bangsa ini yang membuktikan dedikasi penuhnya. Sebut saja, Bung Hatta, Pak Habibie. Cerita hidup Bung Hatta yang “tidak pernah punya sepatu baru seperti yang diinginkannya” selama hidupnya. Cerita dari Pak Habibie yang “sempat sakit selama di Jerman ketika melanjutkan studynya yang kelak ilmunya akan dia gunakan untuk kemajuan peradaban bangsa”. Figur-figur yang tangguh, tidak manja. Figur-figur yang berbuat dengan baik untuk mewariskan banyak sekali kebaikan dalam kehidupan orang banyak.

Teman saya, saya anggap sebagai salah satu figur yang dedikatif. Seorang figur yang tangguh: mengutamakan kepentingan orang banyak. “Saya dengan temanku mau beli in focus (Proyektor, LCD) biar ngajar bisa pakai itu. Baru siswa juga bisa tau perkembangan.”...... “Lakukan yang terbaik dalam segala aspek hidup ini. Lakukan saja apa yang menjadi bagian kita di pekerjaan selama itu mendatangkan yang baik buat banyak orang.” “Selamat bekerja, kawan,”. Begitulah akhir dari virtual talk-ku dengannya.

Tanyakan pada diri sendiri: Kita adalah generasi manja atau tangguh?

February 20th, 2018.

Menjadi Global Netizen

Saat ini kita hidup di zaman ketika teknologi sangat berkembang pesat; abad 21. Abad dimana semua umat manusia, tidak peduli asal dan residennya dimana, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu lagi. Teknologi membuat satu orang dan orang lainnya jadi bisa berinteraksi meskipun berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Mereka bisa berdiskusi tentang banyak hal, menjalin hubungan, atau bekerja sama dalam satu wadah pekerjaan.

Fenomena tersebut menghasilkan sebuah peradaban baru dalam kehidupan umat manusia yang dulunya tidak pernah dikenal atau bahkan asing. Kalau dulu manusia begitu dipisahkan oleh sekat khususnya wilayah, saat ini karakter tersebut seakan bergeser dengan adanya perkembangan teknologi. Global Netizen, demikian orang menyebutnya. Global netizen adalah sebuah istilah yang muncul dari keberadaan perkembangan pesat teknologi.

Apa global netizen itu? Pertama kita harus mengulik kata Netizen dulu. Berdasarkan apa yang ditulis Azzam, istilah netizen pertama kali muncul pada naik daunnya internet pertama kali tahun 1990-an oleh pelopornya yaitu Michael F. Hauben. Dalam tulisannya, Hauben menulis, “ Selamat datang di abad ke-21. Anda adalah seorang Netizen (seorang penduduk Net) dan Anda hadir sebagai warga di dunia ini, semua karena konektifitas global yang bisa diwujudkan oleh Net. Anda memandang semua orang sebagai warga negara Anda. Secara fisik mungkin Anda sedang hidup di satu negara, tapi Anda sedang berhubungan dengan sebagian besar dunia melalui jaringan komputer global. Secara virtual, Anda hidup bersebelahan dengan setiap netizen di seluruh dunia. Perpisahan secara geografis sekarang diganti dengan keberadaan di dunia virtual yang sama.(1)

Dari apa yang dipaparkan oleh si ahli tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa global netizen adalah seorang penduduk Net yang hidup berdampingan dengan seluruh penduduk dunia dengan adanya jaringan komputer global. Global netizen bukan berarti kita jadi penduduk dunia  yang sah secara administratif yang mungkin bikin kita berfikir kita bisa ke negara mana saja tanpa harus ada syarat administratif ini itu. Global netizen hanya berlaku dalam dunia virtual, jadi dalam konteks nyata, kemanapun kita pergi tetap harus berdasarkan ketentuan administratif.

Ada satu topik yang muncul dengan adanya istilah global netizen ini. Sebuah topik yang mungkin bisa dilihat dari sisi siapa yang setuju dan siapa yang tidak setuju (pros or cons). Topik ini adalah keterikatan rasa untuk berkontribusi di negara sendiri. Menjadi global netizen berarti kita merasa menjadi bagian dari kehidupan global. Apapun yang kita putuskan bisa jadi berwujud atau bersifat global. Menjadi global netizen merangsang daya kontributif kita berlaku secara umum.

Contoh kecil misalnya ketika kita belajar ke luar kota dan nanti memutuskan untuk bekerja di tempat yang sama atau dengan kata lain tidak kembali ke daerah asal kita. Banyak yang berfikir bahwa tempat yang paling baik untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kita adalah di “tanah” kita sendiri. Menurut saya, setelah melihat bagaimana fenomena global netizen itu dan mendengar pendapat orang-orang tentang dimana sebaiknya berkarir, membuat saya berfikir bahwa kita bisa bekerja, berkarya, menyalurkan ilmu pengetahuan kita di mana saja. Hanya saja, ada beberapa orang yang cenderung membatasi diri dan tidak memberikan akses kepada orang lain. Menurut saya, dengan menjadi global netizen, kita bisa menyebarkan manfaat dari apa yang bisa kita lakukan kepada siapapun dimanapun selama itu tidak memberikan efek negatif. Sadar akan menjadi global netizen memberikan diri kita sendiri peluang akan perkembangan diri kita sendiri dan mengembangkan orang lain: “sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”

Fenomena global netizen memberikan ruang untuk berbagi pendapat, pandangan, ataupun pengetahuan. Apa-apa yang kita tidak tau bisa kita pelajari dari orang lain, apa-apa yang orang lain tidak tau bisa kita bagikan. Bukankan hal-hal seperti ini justru akan membuat kita semakin “kaya”?

Setiap orang punya pendapat sendiri- sendiri tentang fenomena global netizen dilihat dari dimana bagusnya kita berkontribusi. Dari semua itu, alangkah baiknya kalau kita melihatnya dari segi potensi-potensi positif yang bisa hadir karenanya. Being a global netizen is fine when you can bring, share good influence to people around you regardless any backgrounds they have.

 February 11, 2018.

(1): Ihya R. ‘Azzam. Netizen Itu Apa Sih? Apa Peran Mereka? Accessed from

Bekerja dan Berkaryalah...

Banyak orang, selepas lulus kuliah atau sekolah, mulai mencari pekerjaan untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah didapatkan. Sebagian dari mereka mencari pekerjaan yang linear dengan ilmunya, akan tetapi ada juga yang menekuni pekerjaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan ilmu mereka. Ada banyak sekali alasan yang melatarbelakangi perbedaan langkah yang diambil tersebut. Salah satunya adalah orientasi bekerja.

Orientasi orang yang bekerja bermacam-macam. Ada yang ingin mencari penghasilan (materi), ada yang ingin sekedar mencoba hal baru, ada yang sekedar ingin menghabiskan waktu, dan ada pula yang ingin menghasilkan karya dalam bidang pekerjaan yang ditekuninya tersebut. Latar belakang orientasi mereka tersebut tidak salah sepanjang mereka bisa bermanfaat bagi publik, memberikan jasa pelayanan yang baik atau dengan kata lain tidak (justru) menyusahkan orang.

Hal yang paling baik, menurut saya, adalah bekerja dalam bidang yang kita senangi sehingga memungkinkan kita untuk tidak sekedar bekerja, tetapi kita juga bisa menghasilkan sebuah karya.

Bekerja yang memungkinkan kita untuk berkarya bisa kita dapatkan salah satunya ketika didasarkan pada passion. Apa yang kita senangi menjadi salah satu pertimbangan untuk memutuskan pekerjaan apa yang ingin kita geluti. Ketika kita menyukai hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan dan ingin berkontribusi dalam bidang tersebut, kita bisa memilih bidang pekerjaan seperti tenaga pendidik. Ketika kita senang berinteraksi dengan orang lain, kita bisa memilih pekerjaan seperti Human Relation Development di satu instansi, Ketika kita senang menggambar, kita bisa memilih pekerjaan seperti arsitek, dan lain-lain.

Berkarya dalam pekerjaan kita tidak semata-mata harus berbentuk produk fisik. Karena definisi dari kata karya itu sendiri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah hasil perbuatan, ciptaan. Orang yang berkarya adalah orang yang mencipta. Jadi, apapun bisa menjadi sebuah karya, misalnya kita menginisiasi sebuah sistem kebijakan baru, program, atau apapun itu di tempat dimana kita bekerja yang memberikan banyak manfaat pada orang-orang yang menggunakannya. Karya kita juga harus yang positif yang bisa memberikan kontribusi untuk banyak orang, karya yang manfaatnya bisa dirasakan.

Bayangkan jika kita tidak hanya bekerja, tetapi kita juga berkarya dalam pekerjaan yang kita geluti. Kita tidak hanya akan mendapatkan penghasilan sebagai bagian dari profesionalisme, tidak hanya akan menghabiskan waktu kita begitu saja. Akan tetapi, kita akan memberikan sebuah nilai dari (bahkan) setiap detik yang kita habiskan. Kita juga akan mendapatkan sebuah penghargaan, dan yang paling penting adalah apa yang kita hasilkan sebagai karya tersebut akan menjadi sebuah memori tersendiri untuk orang-orang yang merasakan manfaatnya.

10 Februari 2018

(Tulisan ini terinspirasi dari “caption” sebuah postingan orang yang saya ikuti di akun Instagram: “Spot meja kantor tempat berkarya (bukan bekerja)”  ~Dian Setya

Juga akhirnya menjadi hal yang selalu saya ingat ketika saya bekerja: Bekerja dan BERKARYALAH :)

Tulisan : Tentang Hidup Kita

Hidup. Bagiku, ia tidak seperti air yang mengalir. Ia adalah air di lautan yang hendak menuju puncak pegunungan tertinggi. Sulit tentu saja jika ia berusaha mendaki melalui sungai, sebab hukum alamnya tidak demikian. Sebab itu, ia membiarkan dirinya menguap, berada di awan-awan, berpasrah kemanapun dibawa pergi. Pada akhirnya, ia belum tentu jatuh di puncak gunung seperti yang ia inginkan. Barangkali, jatuh di persawahan. Satu hal di hidup ini yang selalu sulit kita tahu adalah, kita diciptakan dengan peran. Kita ditempatkan di tempat terbaik sesuai potensi yang kita miliki. Jika sekarang kita kebingungan, mau jadi apa, mau bagaimana, apa yang harus dilakukan. Coba amati hidupmu sebelum-sebelum ini, perjalananmu yang mengantarkanmu sampai di titik ini.
Hidup. Ada orang-orang yang ingin diperjuangkan, berharap bahwa ia berarti sehingga ada orang yang bersedia melakukan apapun untuknya. Tapi, ia tidak menjadi berarti untuk dirinya sendiri. Berkata bahwa ia pun berjuang, padahal ia diam ditempat. Membiarkan orang lain berusah payah melakukan sesuatu untuknya. Ada yang keliru dalam memaknai hidup, memaknai perjuangan, memaknai pengorbanan.
Hidup. Bukanlah tentang mendengarkan orang lain sebanyak-banyaknya. Keputusan-keputusan bukan diambil dari apa kata orang. Kamu menikah, bukan karena kata orang. Kamu berkarir, bukan karena kata orang. Kamu melakukan kebaikan, bukan untuk kata orang. Hidup ini sudah bising oleh riuh rendah suara-suara yang sumbang dibalik bayang-bayang, mendikte hidupmu seolah-olah itu adalah yang terbaik untukmu padahal mereka tidak pernah menjadi dirimu, apalagi menjalaninya. Keputusan hidup kita bukan untuk menyenangkan semua orang, melainkan mencapai titik tertingginya yaitu keridhaan Tuhan.
Hidup. Ia tidak seperti cermin, yang menunjukkan hampir keseluruhan apa yang diterimanya tanpa rahasia. Hidup itu menyembunyikan rahasia-rahasia. Sebagaimana setiap manusia menyembunyikan rahasia-rahasianya. Hidup melipat banyak misteri, kita harus membukanya satu per satu. Kemudian, bagian yang tak kalah penting adalah kita bersiap untuk menerima kenyataan yang kita dapati dari setiap rahasia yang tersingkap.
Hidup itu seperti apa bagimu? Serumit itukah? Atau sesederhana kamu bisa memahaminya ?

©kurniawangunadi / yogyakarta, 13 januari 2018

So what does our deen (religion) want? In a nutshell, what Allah wants from us is to constantly try to get better. Not to become perfect, but to get better. Get better than what? Get better than who? Get better than yourself from yesterday. We just have to constantly try to improve. At the end of the day, it doesn’t matter if we’re talking about ourselves as teachers, da’ies (preachers and advocates), worshipers, as Muslims in any capacity — all our deen wants is constant effort to improve. If we internalize that, then it gives us many benefits. One of the most important benefits of that realization is, we will never be satisfied with where we are.
Avatar

Repost :  The Secret of Mother

Oleh: Shamsi Ali/ Presiden Nusantara Foundation ( New York )

Teori masa lalu menyebutkan karakteristik dan sifat2 bawaan seorang anak diwariskan dari ibu dan bapaknya dalam proporsi 50 : 50. Artinya, ayah dan ibu memberikan sumbangan yang sebanding dan setara dalam diri seorang anak.

Belakangan ini, penelitian biologi molekuler terbaru menemukan bahwa seorang ibu mewariskan 75% unsur genetikanya kepada anak, sedangkan bapak hanya 25%. Oleh karena itu, sifat baik, kecerdasan, dan kesolehan seorang anak sangat ditentukan oleh sifat baik, kecerdasan dan kesolehan ibunya.

Apa yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW, ternyata memiliki kesesuaian dengan fakta ini.

Ketika seorang sahabat bertanya kepada Baginda Nabi, mana yang harus diprioritaskan seorang anak, apakah ibunya atau ayahnya, beliau pun menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu…lalu Ayah mu”. Proporsinya tiga berbanding satu ( 3 : 1 )

Mari kita lihat lebih jauh. Di dalam sel-sel manusia terdapat sebuah organel yang memiliki fungsi sangat strategis, namanya mitokondria.

Organel berbentuk bulat lonjong ini berongga, selaputnya terdiri atas dua lapis membran. Membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks) dan mengandung banyak enzim pernapasan.

Tugas utama mitokondria adalah memproduksi bahan kimia tubuh bernama ATP (adenosin triphosphat). Energi yang dihasilkan dari reaksi ATP inilah yang kemudian menjadi sumber energi bagi manusia.

Mitokondria bersifat semiotonom krn 40% kebutuhan protein dan enzim dihasilkan sendiri oleh gennya.

Mitokondria adalah salah satu bagian sel yang memiliki DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel.

Sekali lagi, dan ini sangat menarik, mitokondria hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh bapak. Mengapa? Krn mitokondria berasal dr sel telur bukan dari sel sperma. Itulah sebabnya, investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75%.

Kita dapat berkata, inilah “organel cinta” seorang ibu yang menghubungkan kita dengan Allah dan kesemestaan.

Tanpa kehadiran mitokondria, hidup menjadi hampa, tidak ada energi yang mampu menggelorakan semangat.

Tanpa mitokondria, kita tdk dpt melihat, mendengar, hingga akhirnya tdk bs membaca, mencerna dan merasa.

Oleh karena itu, kita jangan heran jika kontak batin antara ibu dan anaknya sangat kuat dan intens. Jarak sejauh apapun tidak bisa menghalangi sensitivitas hati seorang ibu.

Hal ini memperlihatkan adanya energi cinta yang menembus dimensi. Teori superstring yang kita ambil dr ilmu fisika bs sedikit memperjelas hal ini. Para ilmuwan di MIT, yang tergabung dalam kelompok 18, menemukan sebuah supersimetri, yaitu sebuah persamaan matematika yang menciptakan ruang di alam semesta tt terdiri atas 57 bentuk dalam 248 dimensi. Konsep supersimetri menyebutkan, andai dunia ini dibagi2 menjadi bentuk apapun, sebenarnya hanya ada satu titik yang melingkupinya.

Artinya, ilmu pengetahuan menemukan bahwa jarak itu tdk bs membatasi jiwa dan ruh yang bersemayam dalam satu titik yang sama.

Jika kita menggunakan konsep ini, dimana pun berada, hati seorang ibu selalu berada di titik yang sama.

Itulah sebabnya, apa yang dirasakan anak dan apa yang dirasakan ibu, bioelektriknya berada pada titik yang sama.

Mitokondrianya berada dalam posisi yang sama sehingga titik pertemuannya pun sama. Dengan kata lain, perasaan seorang ibu kepada anaknya bagaikan perasaan dia terhadap dirinya sendiri.

Allahu akbar!

(Diterjemahkan dari The Secret of Mother) (AT/P07/P1)

RTM : Bina Keluarga

Keluarga, sebagai sebuah ikatan jangka panjang -dan panjangnya melintas dunia dan akhirat- tentu tidaklah mudah menjalaninya. Sudah pasti akan ada godaan, gangguan, cobaan, dan segala bentuk ujian yang akan berusaha menggoyahkan keluarga. Jadi, untuk siapapun yang ingin membangun sebuah keluarga, pertama-tama harus membuang jauh ekspektasi tentang keluarga yang senantiasa harmonis, romantis, serba berkecukupan, dan selalu bahagia. Bisa jadi, anggapan-anggapan semacam itu, yang tertanam pada benak-benak anak-anak muda yang ingin menikahlah yang membuat tingkat perceraian di negeri ini semakin meningkat. Saat menemukan bahwa ekspektasi berbeda dengan realita.
Zaman ini tentu berbeda tantangannya dengan zaman saat orang tua membesarkan kita. Untuk itu, pelajarilah segala hal yang diperlukan di zaman ini. Mendidik anak, membina pasangan, merawat keluarga, semuanya membutuhkan ilmu dan seninya tersendiri. Untuk itu yang kedua, untuk siapapun yang ingin membina rumah tangga. Pernikahan bukanlah jawaban atas semua masalahmu saat ini, jangan menjadikan pernikahan sebagai pelarian karena kamu bingung mau ngapain, jadi mending nikah aja. Membina rumah tangga memerlukan pondasi yang kokoh, awal yang baik, sesuatu yang mendasarinya harus benar-benar kuat. Sebab, ilmu dan seni untuk menjalaninya menuntutmu harus belajar terus menerus sepanjang hidup, tidak peduli bagaimanapun keadaanmu. Kalau kamu enggan mempelajarinya, bisa jadi kamu lari dan mencari pelarian lainnya.
Setiap keluarga memiliki nilai-nilai yang dianut dan ditanamkan dalam diri masing-masing. Keluarga menjadi kontrol nilai terkuat sebelum kita terjun di masyarakat. Untuk itu, sejak saat ini. Mulailah untuk memiliki prinsip, nilai, hal-hal baik yang kamu pegang dengan kuat. Sebab, tanpa pegangan yang kuat terhadap nilai-nilai tersebut. Keluargamu akan mudah sekali goyah. Untuk itu juga, penting dan perlu untuk siapapun yang ingin membina rumah tangga. Untuk bisa mengenali nilai-nilai dan prinsip yang dipegang oleh calon pasangannya. Sebab, banyak sekali yang berjalan tanpa prinsip, tanpa nilai, hanya ikut-ikutan. Memiliki pasangan yang punya prinsip adalah sebuah anugerah lainnya yang mungkin jarang diketahui. Apalagi jika nilai/prinsip itu selaras denganmu dan menjadi nilai dalam keluarga. Mempertahankan keluarga, perlu upaya yang kuat dari kedua belah pihak, tidak hanya salah satu.
Yogyakarta, 8 Desember 2017 | ©kurniawangunadi
Manusia yang sabar, adalah yang ketika rezeki sampai pada tangannya, dunia tidak ikut masuk ke dalam hatinya. Ketika makanan masuk ke dalam mulutnya, haram tidak ikut masuk ke dalam darahnya. Ketika nikmat sampai pada dirinya, sombong tidak ikut masuk ke dalam jiwanya

Pengingat diri kala lupa.

Mengenal Perempuan

Pernikahan akan membuatmu mengenal perempuan lebih dari yang kamu sangka selama ini. Kamu akan mengenal kekhawatirannya dan mengapa itu terjadi. Kamu akan berhenti menilainya lemah setelah melihat bagaimana ia bekerja setiap hari. Kamu akan semakin mencintai ibumu, seketika kamu melihat betapa berat perjuangannya ketika mengandung dan melahirkan anakmu.
Pernikahan akan mengajarkanmu tentang perempuan. Setelah selama ini kamu hanya mengenalnya dari mata, dari kata, dan dari buku-buku yang menurutmu paling mutakhir dan terpercaya. Perempuan lebih kompleks dari itu dan kamu akan mempelajarinya setiap hari. Kamu akan belajar tentang air mata yang tidak selalu bermakna sedih sebab mereka memang mudah menangis untuk hal-hal yang menyentuh hatinya. Baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan.
Pernikahan akan membuatmu mengerti bahwa keberadaannya mampu membuatmu memiliki energi yang berkali lipat lebih besar dari sebelumnya. Sesuatu yang tidak kamu dapatkan dari hubungan-hubungan dengan perempuan sebelum itu. Ini juga akan membuatmu mengerti bahwa cintamu kepadanya mungkin tidak akan pernah bisa sebesarnya cintanya kepadamu. Dengan segala kerendahan hati, kamu mungkin perlu mengakui itu. Dan untuknya, sudah seharusnya kamu bersyukur.
Yogyakarta, 5 Mei 2017 | ©kurniawangunadi

Tidak Selesai

Kita adalah perjalanan yang tak sampai. Tak cukup kuat untuk melangkah lebih banyak. Enggan untuk berhenti terlalu lama. Namun lemah mengimbangi beratnya rindu

Kita adalah puisi yang tak selesai. Dihempas waktu, dari lidah yang membeku hingga tak ada lagi kata untuk berucap. Ingin mengeja lebih banyak tentang kehidupan ini. Namun keraguan membuatnya terdiam.

Kita adalah lagu yang terhenti. Rindu mengoyak tiap nada, melelapkan irama untuk bersyair. Berusaha tegar untuk membuat segalanya kembali indah. Namun sesak akibat pilu.

Kita adalah rajutan yang terputus. Sesak menghempas lubang jarum, mengantar pertanyaan, silih berganti mendatangi dengan bibir gemetar. Berharap dapat menyulam hati penuh kehangatan. Namun kaku tertahan tangis.

Kita adalah tulisan yang tergantung. Jarak membuatnya lusuh, mimpi-mimpi membuatnya penuh rintangan. Masih saja berbinar meski sebait kata pada sajak-sajak beraroma tanah basah yang membuatnya gundah. Namun cerita masih saja mencari maknanya.

Kita seperti lupa pada segala do'a yang pernah kita semai dalam senja. Kita seperti enggan untuk menunggu secuil kebaikan masing-masing yang tak pernah gagal berulangkali kita sujudkan. Dan kita seperti tak ingin terbangun kepada mimpi yang pernah menitahkan pesan pada rindu-rindu sebelum subuh.

Kita adalah segala hal yang tidak tamat, tak berujung juga tak berakhir. Hingga nyatanya, kita menjadi kisah yang tak pernah usai.

Kita lupa, bahwa kita pernah saling memperjuangkan. Pada akhirnya, kita terlambat menyadarinya.

Kita telah lupa untuk saling menuju.

Bogor, 5 Mei 2017 | Seto Wibowo

Gak ada yang lebih pahit dari dibikin malu di depan teman teman karena kita gak bisa. Itulah yang membuat kita ragu untuk memberikan jawaban yang berbeda dari orang lain. Karna, secara mental, dari kecil kita selalu dianggap salah. Pokoknya salah aja kalo kita beda. // Pandji Pragiwaksono dalam Mesakke Bangsaku.

Pic : Tower yang beda sendiri di fakultas iip

Belajar Berbahasa

Kali ini saya akan membahas sedikit hal tentang belajar berbahasa dari pendapat pribadi saya sendiri. Jadi, kalian bisa setuju, bisa juga tidak. Kalian bisa mengaplikasikannya, bisa juga tidak.

 Dalam kehidupan kita sehari-hari, ketika kita menggunakan komunikasi lisan, kadang-kadang kita tidak terlalu peduli dengan apa yang disebut sistem bahasa. Yang terpenting dalam sebuah komunikasi antara pembicara adalah tersampaikannya pesan. Jika pesan tersampaikan, tidak peduli seamburadulnya susunan kata yang diucapkan, respon verbal yang kita berikan, hal tersebut sudah mencapai tujuan komunikasi.

 Namunpun demikian, dari beberapa hal yang kita tidak acuhkan dalam berkomunikasi tersebut, ada hal yang sebenarnya sangat penting dan patut kita perbaiki untuk mencapai penggunaan bahasa yang baik. Hal ini berangkat dari pengalaman saya sendiri. Mungkin bagi kalian, teman-teman, hal ini sepele, tetapi bagi saya This is A Big Deal.

 Jadi beberapa hari yang lalu, saya sedang menulis untuk blog Tumblr ini. Topik yang saya angkat adalah tentang perbedaan, keberagaman, hal-hal semacam itulah. Sebenarnya saya merasa sok-sok bicara tentang topik yang kemarin-kemarin jadi topik hangat selama pilkada ibukota kemarin. Tapi kemudian, saya merasa kenapa tidak untuk berbagi pikiran meskipun lewat tulisan, toh kita memiliki ruang yang disebut freedom of speech. Nah, selama menulis tentang topik tersebut, saya banyak menggunakan kata “berbeda”. Frase yang saya tulis adalah “berbeda sama”. Saya tiba-tiba tertegun sendiri hanya karena frase yang saya gunakan tersebut. Kenapa menggunakan kata “sama” untuk kata “berbeda”? seharusnya, menurut saya, kata “berbeda” itu berpasangan dengan “dari”. Saya terfikir tentang Bahasa Inggris. Bahasa Inggris juga menggunakan frase “different from”, bukan “different with”. Kalian bisa lihat di kamus Cambridge Advanced Learner’s Dictionary Edisi Ketiga.  (atau “different with” itu masuk akal juga untuk konteks tertentu?).

 Kata “different” sendiri dalam kamus CALD3 berarti “not the same”. Jadi, ketika saya menggunakan kata “berbeda sama”, saya jadi merasa aneh. Dalam komunikasi lisan kita sehari-hari, kita terkadang mengatakan “Saya BEDA SAMA dia”. Kata “sama”, menurutku bisa digunakan untuk mengekspresikan perbandingan. Jadi, kita bisa mengatakan “dibandingkan dengan” atau “dibandingkan sama”. Sebagaimana dalam Bahasa Inggris, lagi, kita mengatakan “compared with”. Nah, setelah ini, saya akan berusaha untuk belajar berbahasa lisan maupun tulisan dengan cara yang lebih baik. Contoh kecilnya, saya akan mengatakan “saya beda dari dia” misalnya untuk mengekspresikan perbedaan. (Tapi, bukan berarti perbedaan jadi jembatan penghalang untuk kita bisa sama-sama :D)

 Selain itu, merasa penting untuk belajar berbahasa dengan cara yang lebih baik saya dapatkan dari bangku perkuliahan. Jadi waktu itu, kelas saya sedang belajar mata kuliah Linguistics yang diampu oleh seorang dosen hebat. Bapak dosen mengajukan pertanyaan yang dimulai dengan kata “tidak”, dan salah satu teman saya menjawab “ya” untuk mengekspresikan bahwa dia tidak melakukan apa yang Bapak dosen tanyakan tersebut. Penting untuk beliau memberikan pencerahan kepada kami untuk menggunakan bahasa yang benar. Jadi, ketika kita ditanya dengan pertanyaan dengan kata “tidak”, jawablah juga dengan menggunakan kata tidak jika kita memang merasa tidak melakukannya. Misalnya, “Jadi kamu tidak membaca buku tersebut?”. Ketika kita menjawabnya dengan “ya, saya tidak menjawabnya.” Hal tersebut keliru, teman-teman. Jawablah dengan “TIDAK, saya tidak membacanya.”

 Sekali lagi, saya hanya mencoba berbagi dari sudut pandang saya dan apa yang saya ketahui. Kalian bisa setuju, bisa belajar. Kalian mungkin sudah tau, bisa juga belum :D

  On top of all, menurut saya, bahasa adalah bagian dari peradaban manusia. Peradaban yang baik dimana orang-orangnya menggunakan bahasa yang baik, benar, dan sopan.

 Ngomong-ngomong tentang bahasa, saya ingin menyertakan tulisan saya ini dengan dua kutipan tentang bahasa yang saya ambil dari UNESCO Project “Atlas of the World’s Languages in Danger”.

“ One does not inhabit a country; one inhabits a language.” (E.M. Ciora)

“ Each language is a uniquely structured world of thought, with its own associations, metaphors, ways of thinking, vocabulary, sound system, and grammar – all working together in a marvelous architectural structure, which is so fragile that it could easily be lost forever.” (Christopher Moseley)      

Seharusnya, setiap perempuan lebih dulu menamatkan buku Sirah Shahabiyah agar tahu, perempuan mana yang seharusnya dijadikan panutan.

Bahwa, istri Rasulullaah lah yang seharusnya kita jadikan panutan. Karena sikap mereka, sudah pasti atas didikan beliau langsung. Dan itu sebaik baik contoh.

Baca dan resapi setiap akhlak dalam diri mereka.

Agar kita tidak lagi salah meniru sikap dan bisa memelihara rasa malu pada tempatnya.

Karena perempuan yang punya rasa malu, adalah perempuan yang punya iman. Dan perempuan yang punya iman, pasti cantik; karena akhlaknya.

Benarlah kiranya, selain hidayah, yang kedua terasa mahal itu adalah rasa malu.

Rasa yang saat ini kian terasa mahal. Perempuan perempuan kehilangan panutan sehingga tanpa sadar yang ditiru adalah yang kurang tepat.

Kenapa rasa malu itu membuat perempuan mahal? Karena rasa malu itu telah menjaga perempuan.

Ada banyak sekali aturan dalam agama kita khusus untuk perempuan yang pada hakikatnya tidak pernah bertujuan untuk membuat perempuan susah. Semua diatur Allaah agar perempuan makin terjaga.

Jadi, kalau kita tidak mau diatur oleh aturan Allaah, mungkin kita memang tidak mau dijaga oleh Allaah. Jangan lagi salahkan Allaah kalau; nafsu kita makin liar, orang bersikap gampangan ke kita, dan kehormatan kita luntur dihadapan manusia.

Kita sendiri yang mengoyak tabir malu itu lebih dulu. Berontak, tidak mau Allaah atur. Membangkang sambil cari cari alasan.

Kalau rasa malu sudah tertanam, kita tidak akan banyak tanya kenapa Allaah banyak aturan ke kita.

“Kenapa sih rambut itu aurat? Kan cantik. Kenapa juga kaki mesti ditutup? Ribet. Kok gaboleh pakai celana jeans keluar rumah, nyetak paha dikit gapapa dong. Kayang di pantai juga gabole? ”

Malu. Jawabannya adalah rasa malu. Ada izzah dan iffah yang mustinya serius kita jaga, apalagi ditengah zaman yang seakan akan membenarkan semua sikap.

Buat para perempuan yang memelihara rasa malu untuk tetap pada kadar dan tempatnya, semoga Allaah istiqomahkan rasa itu sampai nanti tugas di dunia ini selesai.

Menjaga rasa malu itu cuma berat di awal, menjelang terbiasa. Dan percayalah, ini semua sementara.

@lolanyunyu

saya, ayah, dan ibu ngobrol tentang turnover personil yang dialami sekolah dan perusahaan. ibu bercerita tentang fenomena yang unik–di mana para guru yang lebih senior cenderung lebih setia dibandingkan dengan yang muda. para guru muda itu adalah guru-guru generasi saya, milenial kata mereka. padahal, para guru senior telah bersama kami (sejak) saat semuanya susah, saat kelas masih di garasi. padahal, para guru junior yang akhirnya memutuskan pindah haluan, tidak sedikit yang sekolahnya diupayakan oleh ibu–supaya bisa kembali memberi dan berbagi.

saya jadi sedih–dan malu sih–atas (sebagian) generasi saya itu. kenapa ya daya tahan dan daya juang kami segitu-segitu aja. kenapa ya kami banyak berhitung tentang manfaat (bagi diri sendiri, uang terutama). kenapa ya kami selalu bertanya “what’s in it for me?” dan selalu “taking things for granted”. kenapa ya kami kemakan dogma-dogma tentang mengikuti passion sampai lupa tentang pesan nabi untuk menjadi bermanfaat. kenapa ya?

mungkin yang salah adalah sosial media–yang menampilkan kehidupan manis senang nan bahagia di permukaan, yang membuat kami (kita) melupakan hakikat perjuangan dan rasa syukur. mungkin yang salah adalah para motivator, yang menyerukan bahwa passion adalah segala-galanya–padahal kami (kita) yang diseru juga sekadar ikut-ikutan saja. mungkin yang salah adalah para pemilik lapangan kerja, yang berlomba-lomba pasang harga sehingga bekerja menjadi kegiatan transaksional belaka, jual beli jasa semata.

“generasi ibu nggak kenal tuh sama istilah passion. yang kami kenal itu menjadi bermanfaat sebab begitu pesan nabi. generasi ibu percaya bahwa rezeki itu paling banyak bisa dijemput di tempat di mana kita bisa bermanfaat paling banyak.”

kita yang muda punya banyak kesempatan, punya banyak jalan untuk dipilih. kita yang muda punya masa depan yang masih panjang. kita yang muda bisa mencoba-coba banyak hal, banyak bidang.

tapi, kita yang muda juga harus selalu ingat untuk bersyukur secara utuh: atas yang dicapai dan tidak dicapai, yang didapat dan tidak didapat, yang dimiliki dan tidak dimiliki, yang dipertahankan dan dilepaskan; untuk berterima kasih pada setiap peran yang telah menjadikan kita diri kita yang sekarang; untuk menjadi makna dan menjadi manfaat–mengutamakannya.

ibu dan ayah benar. apalah arti punya hidup keren kalau hanya untuk diri sendiri. inilah yang selalu saya sampaikan pada adik-adik saya, juga anak-anak saya kelak.

ada yang lebih penting daripada mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat. pastikan bahwa setiap pilihanmu adalah manfaat–dunia akhirat.

Be a significant you.

“Jadilah seperti An-Najm (bintang), ia berada di atas tapi cahayanya senantiasa tunduk ke bawah. Jangan seperti Ad-Dukhan (asap), ia berada di bawah tapi senantiasa ingin terlihat di atas”

-Ust. Adi Hidayat Lc. M.A.