Avatar

Time Sign

@sqainialkhanza

penutur ulang keajaiban semesta pada kata yang diikat makna dan cerita

Aku rindu; tanpa harus aku bercerita, ada seseorang yang tiba-tiba saja bertanya kenapa. Seolah tahu, hatiku sedang hancur.

Aku rindu; tanpa harus aku menurunkan berat dikepala, ada seseorang yang tiba-tiba saja menegur dan mengingatkan dzikir. Seolah paham, banyak riuh yang berkecamuk dalam diamnya diri.

Aku rindu; tanpa harus mengeluh sakit, ada seseorang yang bawakan aku teh jahe panas dan segerombolan nasehat menjaga diri. Seolah hari itu, kondisi terburukku sedang menyerang.

Iya, aku rindu. Pada ia, yang tau aku tanpa harus ada kata. Membuat aku yang tak suka banyak bicara, memang tak perlu banyak bicara.

Aku, rindu ummi.

Sendiri...

Terkadang rasanya sepi. Ingin sekali ada seseorang yang bisa menemani. Tapi kemudian, aku teringat akan doa - doaku yang lalu. Bukankah aku pernah meminta agar diri ini hanya berpangku dan bersandar pada-Mu? Mungkin inilah tarbiyah dariMu untuk mewujudkan itu; mengambil banyak orang yang biasanya memelukku.

Dimulai dari kakek, di saat aku berharap bisa mengajak kakek ke hari wisuda cucu pertamanya. Di saat aku tengah membayangkan, pasca wisuda nanti, aku akan bawa seseorang ke hadapan kakek untuk beliau nilai. Wisuda tetap berjalan seperti biasa, seseorang asing pun benar-benar datang meminta izin datang ke rumah. Tapi semua itu, tanpa Kakek karena Allah lebih dulu memanggil pulang.

Hari berlalu, seseorang itu pun ternyata bukan jodoh yang Allah takdirkan. Seseorang lain datang, di hadapan Abi ia meminta izin untuk menyambung silaturahmi. Katanya, jika berkenan, ia akan bawa keluarganya syawal tahun itu. Jika aku tak keliru, masih terpaut dua bulan lagi sejak ketukan pertamanya di depan pintu. Tapi qadarullah, ujian menghampirinya dan membuat ia undur diri dari niat pertamanya. Sialnya, syawal demi syawal aku malah menunggu ia kembali datang. Hingga menjadi syawal ke tiga sejak kedatangannya, ia kembali menghubungiku dan bertanya kesedianku. Aku menimbang, harapku kembali rekah. Ia adalah orang terakhir yang aku sempat perkenalkan kepada Abi. Tentu harapku saat abi persilakan ia melaju kala itu, menjadi nyala kembali. Yap, tahun itu Abi telah berpulang. Tiba-tiba. Tapi sesunggunya telah tercatat lebih dulu dalam lembaran takdir Abi waktu itu jadi waktu berpulangnya Abi, tidak tiba-tiba.

Tapi entah aku yang terlalu lama menimbang, atau memang ia yang sudah berubah haluan. Dia menghilang, saat aku meminta izin menimbang dalam sepekan. Kemudian datang kembali memberi kabar perpisahan. Dia meminang seorang wanita lain. Siapa yang bodoh saat itu? Ah sudahlah, jawaban yang pasti hanya satu: dia bukan jodoh yang Allah siapkan. Namun, tentu rasanya patah dan menyakitkan.

Lengkap rasanya, ditinggalkan oleh dua lelaki yang pernah membuat cinta pertamaku tumbuh: abi dan kakek. Serta ditinggal oleh seorang yang pernah aku harap setelah abi tiada.

Jika orang baru datang, siapa yang akan menemui mereka? Siapa yang akan menilai mereka untukku? Siapa yang akan mempersilakan hidupku diambil seseorang?

Ohh Allah, saat itu hatiku hancur.

Sampai pada waktu dimana akhirnya aku memberanikan diri untuk memulai jalur taaruf. Bertukar CV dengan seorang asing lainnya. Benar-benar asing. Dalam perjalanan itu, aku menerima cv seorang ikhwan yang Umi pun senang dengan riwayat yang ia tuliskan dalam CV-nya. Baiklah, kini hanya Umi yang jadi keran datangnya sumber keridoan. Tapi kemudian, Allah membuka lembar-lembar sifat yang tak tertulis dalam CV-nya. Aku mundur kembali.

Saat pertanyaan kapan yang selanjutnya dari Umi datang dan aku masih belum bisa menjawab, Allah memanggil Umi pulang.

Oh Allah, aku antarkan umi pulang kepada-Mu dengan lapang... Sudah tak ada lagi pertanyaan bagaimana nasib di depan sana. Saat itu, hanya satu yang aku ingat, sebuah pesan umi yang kemudian aku sempat bisikan juga di saat-saat umi koma,

"Tenang, ada Allah."

Aku paham, ada rasa berat dalam hati umi. Beberapa kali bertanya "masa iya?". Tapi saat aku bisikkan mantra itu, umi menghela napas. Mudah-mudahan itu pertanda leganya umi mendengarku meyakini itu. Mendengar kekuatan tanpa gentar yang coba aku bangun. Iya, ada Allah. Dan hanya Allah yang tersisa dalam hidupku.

Innalillahi wa inna illahi raajiun

Rasanya kalimat inilah yang mewakili hati. Cukup teramat sangat bermakna. Sesungguhnya semua kembali padaMu; bukan hanya yang hidup untuk mati dan berpulang kembali, tetapi yang hidup untuk terus kembali pulang selama perjalanan hidupnya.

Lalu, apakah aku benar-benar sendirian?

Tidak, tentu.

Ada saudara-saudara umi dan abi. Ada juga teman-teman umi dan abi yang masih menyambung silaturahmi. Semua banyak menolong dan merangkul. Tapi, tentu semua tersebab Allah yang gerakkan mereka. MaasyaAllah walhamdulillah...

Apalah dayaku sekarang tanpa Allah yang menolong? Apakah mampuku sekarang tanpa Allah yang dampingi? Benar-benar buta dan alpa.

Hari - hari tentunya pernah menjadi berat. Sesekali masih terasa dan kembali terasa berat. Aku pernah kehilangan diriku. Aku pernah merasakan beratnya bangun pagi dan sesaknya memasuki malam. Tapi mantra-mantra yang umi ajarkan selalu menguatkanku, "Laahaula wallaquwwata Illa billah." Mimpi penghibur yang Allah datangkan pun sering kali menjadi obat saat lelah menjalani ujian demi ujian. Mimpi bertemu Abi atau umi. MaasyaAllah walhamdulillah.

Sekarang, aku tak tau siapa yang akan menemui seseorang itu. Pilihanku untuk diriku saja sering kali salah. Pilihanku yang pernah aku persilakan menemui abi dan umi pun masih salah. Bagaimana aku memilih seseorang asing sendirian?

Ohh faghfirlii...

Bukankah aku telah menitipkan diriku pada Allah? Menyerahkan hidup dan matiku. Maka, aku pun menyerahkan pemilihan pelengkap agamaku pada-Nya.

Allah, aku sungguh tak tahu caranya. Aku benar-benar tak tau orangnya harus seperti apa. Aku bahkan tak tau, apakah harus membuka pintu sekarang atau nanti. Maka Allah, pilihkan saja semuanya untukku. Alih-alih aku tak tau semua jawabannya, aku hanya ingin Engkau lihat aku sedang berikhtiar. Aku berikhtiar lewat jalan menganyam ilmu dan kewarasan diri menuju pernikahan. Semoga Engkau ridho. Semua Engkau bisa menerima ikhtiarku. Bukan menemukan ia, aku hanya ingin menemukan-Mu dalam hidupku lebih lekat dan dekat lagi.

Allah, ada banyak ketakutan dalam hidupku. Tapi aku serahkan semuanya pada-Mu. Biar semua berjalan sesuai mau-Mu. Disaat sulit dan ujianpun datang, bukankah Engkau juga yang sediakan ruang solusi? Aku hanya harap Engkau ridho dan tuntun dalam setiap detik waktu kehidupan.

Tiga tahun berlalu..

Terhitung panjang untuk setiap perjalanan yang sudah dilalui. Tapi terhitung singkat untuk sisa waktu tanpamu di depan sana, Bi.

Tiap kali langkahku beradu dengan takdir; Terhenti ataupun melaju, terbentur ataupun terhanyut. Tiap-tiap itu aku membayangkan, bagaimana ya reaksi Abi? Mungkin akan lebih banyak tertawa dan meledekku sepanjang hari. Meski senang ataupun sedih latar ceritanya. Caramu menjagaku semangatku memang dengan tawa.

Iya, kadang aku bertanya-tanya. Bagaimana Abi bersikap bila kejadian ini itu terjadi. Bagainana perhitungan dan pertimbangan dibuat dalam setiap tantangan. Fight or flight, apapun itu aku tau Abi pasti mempertimbangkannya dengan matang.

Lalu, aku di sini sudah dengan peran yang baru. Kutemani umi, seperti pesanmu kala itu, hingga mengantarnya pulang. Kucoret beberapa tulisan mimpi yang pernah kita diskusikan sepanjang hari-hari hanya berduaan, kala itu.

Aku rindu diskusi-diskusi kita berdua. Tentang aku dengan sejuta mimpi tak masuk akalku. Tentang rumah. Tentang masa depan. Tentang cerita hebatmu. Tentang rentetan kisahku yang sering masuk ke dalam list guyonanmu mencemoohku.

Aku rindu semuanya..

Aku pun akan melangkah, memasuki pintu baru sebentar lagi. Kuharap engkau akan senang melihat ini...

Bi, i'm fine. Really really fine. Just missing you on every particular time. Missing you on my lonely stayed in my room💕

Semoga kenikmatan selalu engkau dapati bersama umi dalam penantian pertemuan kita kembali di syurganya Allah. InsyaAllah

2023, Bagaimana aku mendeskripsikannya?

Memasuki tahun 2023, tak ada resolusi spesial. Hanya satu, ingin menemukan kembali diriku. Begitulah target satu tahun kemarin.

Rupanya, aku mesti menemukan "aku" di antara hujan dan badai yg berderu. Kehilangan, kekecewaan, kesendirian; bersatu memenuhi kepala. Merasa tak layak, merasa hilang arah kembali; benar-benar membuat aku menemukan "aku" yang lemah. Semakin lemah saat Allah ambil satu per satu tempat aku berbagi peluh. Semakin gamang saat Allah biarkan aku harus berjalan sendiri.

Tapi pendidikan Allah rupanya tak pernah salah. Tiap badai datang, tiap diri merasa tak mampu, tiap kemudian selalu ada keajaiban menyertai. Ternyata, ikhtiar manusia ini terbatas. Pikiran manusia ini juga terbatas. Lalu bagaimana semua badai bisa terlewati jika buka karena pertolongan Allah?

Dan di penghujung Desember, di akhir waktu umi, aku bisikan kembali pesan yang selalu umi ajarkan di sepanjang tahun yang berat ini "Tenang, ada Allah."

Semoga, pesan terakhir yang diiringi talqin kemudian, dari si adik lelaki dapat mengantarkan pada husnul khatimahnya umi. Seperti pesan dokter yang menangani umi sepanjang tahun ini, "Teh, jika kita tak bisa membuat ibu pulih; lanjutkanlah untuk membuat ibu menemui husnul khatimahnya"

Maka tenang menjadi satu hal yang mahal. Tenang sebab diri yakin penuh ada Allah dan sadari betul hanya seorang hambanya Allah.

"Pertolongan Allah, tak melulu selesainya urusanmu. Tenangnya hati dalam menghadapi persoalan pun adalah bentuk pertolongan Allah," begitulah pesan Umi suatu malam.

Terkadang, diri merasa sepi sendiri. Serasa paling menderita. Merasa semua orang tak pernah selaras. Hari kian hari, mengutuki diri menjadi candu yang tak terelak.

Pergi. Inginnya begitu. Menjauhi manusia manusia sekitar. Mengurung di kamar tanpa ada kata seperti biasa. Hanya sendiri. Tapi sendiri yang penuh benci pada diri.

Rasanya, semua salah.

Tapi sebenarnya, semua rasa itu terlalu buat diri lupa. Menjadi tak tentu pandangan dan rasa. Tanpa sadar, sungguh takdir banyak membawa pada keberuntungan tanpa harus banyak mengupayakan.

Hadirnya manusia manusia yang dinilai tidak selaras, adalah bukti diri yang sedang tersesat. Maka mereka dihadirkan agar bisa obati lara hati. Hadirnya manusia yang berbeda karena memang diri sendirah yang sedang salah arah. Manusia yang Allah gerakkan hatinya untuk merangkul diri yang kepayahan sendiri. Manusia yang Allah hadirkan tanpa diri cari agar kita kembali.

Manusia manusia itu, pasti ada. Di sekitar. Di dekat diri.

Pasti terasa dan terlihat, jika kemudian diri berdamai dengan hiruk pikuk hati yang tak lapang.

Kamu kemana aja?

Rasanya, jengah sendiri aku mendapatkan pertanyaan itu. Dari banyak orang.

Mereka memang tidak pernah tau, apa yang aku hadapi. Pun aku, tak bercerita. Salahku? Mungkin.

Alasan apapun, seharusnya tak menjadikanku meninggalkan kewajiban. Aku paham itu. Tapi, aku butuh ruang dan waktu.

Aku perlu waktu untuk mengendorkan otot-ototku yang masih tegang agar terbiasa menjalankan semua ini dengan biasa. Aku perlu waktu untuk mengolah otakku agar bisa mengingat semua hal yang harus aku lakukan (kini) sendiri saja.

Aku butuh waktu.

Apakah salah dengan memberikan waktu?

Suatu hari yang lalu, saat aku takut kehilangan Ibu, tetapi kemudian Allah mengambil Ayah yang saat itu sedang sehat dan banyak kami tumpui harap. Tak genap tiga tahun, waktu yang begitu rasanya sebentar dalam putaran hari, Allah mengambil Ibu.

Kini lengkap, aku, si kakak tertua dari tiga bersaudara jadi Kepala Keluarganya. Menjadi Kepala Keluarga sebelum menikah. Menjadi Kepala Keluarga pada status di dalam KK yang tercatat.

Rasanya, tak pernah terbayang hidup tanpa Ibu dan Ayah di fase usia ini.

Tak pernah terbayang, berjalan tanpa bimbingan.

Tak apa, memang tak apa.

Hanya terkadang merasa sepi sendiri. Menakutkan, kadang menyeruak di pertengahan hari. Rindu, sering juga memenuhi ruang hati.

Tapi di tempat ini, di posisi ini, kami tengah belajar tentang menaruh tumpuan harap. Bukankah kita semestinya berpijak pada dahan yang kokoh? Dan sekokoh-kokohnya pijakan hanya pada Allah.

Banyak takut, banyak sepi, banyak rasanya tak tau arah, tapi harus lebih banyak banyak sadar juga bahwa Allah selalu ada. Maka, harap pun hanya tertinggal satu,

"Allah, temani ya..."

Ada kerinduan yang menyeruak. Memenuhi ruang dada. Tapi entah pada (si)apa.

Memangnya, bagaimana rasanya rindu? Ada rasa ingin bertemu? Ada ruang kosong di hati yang ingin diisi?

Entahlah.. Apa itu rindu?

Jika memang definisi rindu pun tak tahu, bagaimana pula mengatasinya? Kukira hanya doa yang akhirnya menyembuhkan. Barangkali, rindu ini ada pada yang sulit untuk diraih. Entah sebab terpisah takdir alam dunia, entah sebab terpaut jarak takdir kehidupan.

Sekarang atau nanti, cerita kita akan tetap sama di bawah garis takdirnya Allah.

Oh Allah, romansaMu melalui takdir kadang tak dapat aku maknai oleh akal. Romansa di bawah lengkung pelangi atau derasnya badai dan ombak menghantam. Dualisme kehidupan yang niscaya ada, tanpa sekat dan predikat pembeda.

Oh Allah, romansaMu kental sekali aku kecap. Namun terkadang, tak mampu aku telan dan cerna dengan sempurna.

Oh Allah, jika ikhlas adalah kunci memaknai tiap romansa menjadi manis terasa, bolehkah aku rasakannya bersama orang tercinta saja?

Bagaimanapun rasa melepas, begitu sulit ditumbuhkan. Meski dijalanipun terasa sama sulit.

Baiklah, hari ini aku memutuskan untuk menyerah.

Aku biarkan rasaku pecah saja. Tidak lagi terus memaksa untuk berdiri tegak. Sesekali memilih tidur sejenak, tak apa bukan?

Aku biarkan saja diriku kalah. Agar dia malu, sekalian. Iya, kalah pada diriku sendiri. Kalah dengan ego yang selalu ingin menang. Kalah dengan ambisi untuk selalu ideal.

Biar dia tau sendiri, dia hanya hamba.

Bukankah dengan membunuh tuhan yang diciptakan sendiri, kita bisa lebih seutuhnya dekat dengan Tuhan sesungguhnya?

Teruntuk seseorang yang akan kutemani kelak dalam kehalalan,sejauh hidup yang telah kutempuh, serumit kisah hidup

yang aku sendiripun sempat tak percaya

entah aku bisa melewatinya atau tidak,

oleh karna itu apa kau tau? nanti, engkau akan menjadi sosok yang sangat berharga dalam hidupku. Karna sejujurnya aku sudah banyak bertemu dengan seseorang yang Allah tidak takdirkan untuk aku mempertanggung jawabkan hidupnya.

Memang banyak cara tuhan untuk mendewasakan, perihal jodoh adalah salah satunya, dan teruntuk orang-orang yang yang telah berhasil menautkan cinta

diatas kehalalan kepada orang yang memang telah lama kau inginkan, bukankah itu adalah satu hal yang akan kau syukuri sepanjang hidupmu? Karna banyak sekali yang gagal bersanding dengan pilihan hatinya,

dan memang begitulah jodoh itu bekerja.

Dan teruntuk kamu yang masih berjibaku,

tidak apa-apa jika saat ini kau hanya mampu memeluk erat harapmu sendiri

nikmati hal-hal sulit yang sudah terlanjur mengunjungimu,

Kadang sesuatu itu akan memiliki nilai lebih manakala ia didampingi dengan

kesulitan tapi percayalah setelahnya pasti akan ada kemudahan.

Semoga ada kekuatan untukmu, semoga dengan kesulitan menjadikanmu lebih bijaksana dan lebih mengerti hidup. Selamat berusaha, semoga segera menemukan bahagia.

SUDUT PANDANG JILID 2

Sering kali, aku bertanya-tanya.

Jika aku menyerah, apa yang akan terjadi? Bagaimana jadinya nanti?

Rasanya pilihan ini mengantarkan pada sebuah jawaban yang lebih abu-abu. Lebih berkabut daripada berkelana menelusuri naik dan turunnya tantangan di depan. Lebih tak jelas daripada menerjang badai yang jalan di depanpun tak nampak untuk dipijak. Lebih menyeramkan dari titian jembatan rapuh untuk menyebrang jurang-jurang harapan.

Meskipun berjuang tak melulu menemukan peluang baik, tapi setidaknya aku akan temukan pelajaran dalam kegagalan yang bisa saja terjadi. Meskipun badai terus berderu, setidaknya aku bisa menari di bawah air hujan yang turun.

Memang, tak semua badai ditutup pelangi warna-warni. Tak semua pekat hitamnya langit, ada rembulan pemanis yang cantik.

Tapi setidaknya, Allah tau bahwa aku tidak pernah diam dan menyerah.

Meskipun pada akhirnya, bukan pula karena perjuangan diri akhirnya cerita indah terbentuk. Bukan karena diri yang terus berjalan menerjang badai, akhirnya pelangi nampak di langit.

Tapi perjuangan, perjalanan yang tidak pernah dibiarkan padam, (semoga) jadi sebab lahirnya pertolongan Allah yang Rahman Rahim.

gelas-gelas kaca.

ada banyak yang ingin dituliskan, namun rasanya kehilangan kata-kata. Allaah bantu mereka, siapapun yang saat ini sedang berada di titik terendah dalam hidupnya..

Ini sederhana. Tapi, langsung mrembess pas baca. Seperti hadir, seraya menepuk punggung 😭💕

Allah, aku yakin. Hari esok pasti akan indah. Semoga hatiku juga sudah indah dipenuhi syukur dan taqorrub pada-Mu. Sebening hati yang ikhlas. Sesejuk hati yang takut pada-Mu.

Allah, tak apa. Jika hari ini benteng-benteng kehidupan masih harus menerjang. Jika Engkau ridha, akupun ridha. Asal Engkau beri selalu kuat dalam menghadapinya. Asal Engkau terus bersamai. Asal Engkau tidak pernah melepaskanku.

Allah, pegang terus tanganku. Aku takut menerjang hari sendirian. Aku lemah bila harus melintasi tebing sendirian. Seperti kata-Mu, dunia hanya permainan, namun berharap pada-Mu tidak pernah merasa dipermainkan dunia.

Allah, peluklah terus tubuh yang letih ini. Bersama-Mu.