Sendiri...
Terkadang rasanya sepi. Ingin sekali ada seseorang yang bisa menemani. Tapi kemudian, aku teringat akan doa - doaku yang lalu. Bukankah aku pernah meminta agar diri ini hanya berpangku dan bersandar pada-Mu? Mungkin inilah tarbiyah dariMu untuk mewujudkan itu; mengambil banyak orang yang biasanya memelukku.
Dimulai dari kakek, di saat aku berharap bisa mengajak kakek ke hari wisuda cucu pertamanya. Di saat aku tengah membayangkan, pasca wisuda nanti, aku akan bawa seseorang ke hadapan kakek untuk beliau nilai. Wisuda tetap berjalan seperti biasa, seseorang asing pun benar-benar datang meminta izin datang ke rumah. Tapi semua itu, tanpa Kakek karena Allah lebih dulu memanggil pulang.
Hari berlalu, seseorang itu pun ternyata bukan jodoh yang Allah takdirkan. Seseorang lain datang, di hadapan Abi ia meminta izin untuk menyambung silaturahmi. Katanya, jika berkenan, ia akan bawa keluarganya syawal tahun itu. Jika aku tak keliru, masih terpaut dua bulan lagi sejak ketukan pertamanya di depan pintu. Tapi qadarullah, ujian menghampirinya dan membuat ia undur diri dari niat pertamanya. Sialnya, syawal demi syawal aku malah menunggu ia kembali datang. Hingga menjadi syawal ke tiga sejak kedatangannya, ia kembali menghubungiku dan bertanya kesedianku. Aku menimbang, harapku kembali rekah. Ia adalah orang terakhir yang aku sempat perkenalkan kepada Abi. Tentu harapku saat abi persilakan ia melaju kala itu, menjadi nyala kembali. Yap, tahun itu Abi telah berpulang. Tiba-tiba. Tapi sesunggunya telah tercatat lebih dulu dalam lembaran takdir Abi waktu itu jadi waktu berpulangnya Abi, tidak tiba-tiba.
Tapi entah aku yang terlalu lama menimbang, atau memang ia yang sudah berubah haluan. Dia menghilang, saat aku meminta izin menimbang dalam sepekan. Kemudian datang kembali memberi kabar perpisahan. Dia meminang seorang wanita lain. Siapa yang bodoh saat itu? Ah sudahlah, jawaban yang pasti hanya satu: dia bukan jodoh yang Allah siapkan. Namun, tentu rasanya patah dan menyakitkan.
Lengkap rasanya, ditinggalkan oleh dua lelaki yang pernah membuat cinta pertamaku tumbuh: abi dan kakek. Serta ditinggal oleh seorang yang pernah aku harap setelah abi tiada.
Jika orang baru datang, siapa yang akan menemui mereka? Siapa yang akan menilai mereka untukku? Siapa yang akan mempersilakan hidupku diambil seseorang?
Ohh Allah, saat itu hatiku hancur.
Sampai pada waktu dimana akhirnya aku memberanikan diri untuk memulai jalur taaruf. Bertukar CV dengan seorang asing lainnya. Benar-benar asing. Dalam perjalanan itu, aku menerima cv seorang ikhwan yang Umi pun senang dengan riwayat yang ia tuliskan dalam CV-nya. Baiklah, kini hanya Umi yang jadi keran datangnya sumber keridoan. Tapi kemudian, Allah membuka lembar-lembar sifat yang tak tertulis dalam CV-nya. Aku mundur kembali.
Saat pertanyaan kapan yang selanjutnya dari Umi datang dan aku masih belum bisa menjawab, Allah memanggil Umi pulang.
Oh Allah, aku antarkan umi pulang kepada-Mu dengan lapang... Sudah tak ada lagi pertanyaan bagaimana nasib di depan sana. Saat itu, hanya satu yang aku ingat, sebuah pesan umi yang kemudian aku sempat bisikan juga di saat-saat umi koma,
"Tenang, ada Allah."
Aku paham, ada rasa berat dalam hati umi. Beberapa kali bertanya "masa iya?". Tapi saat aku bisikkan mantra itu, umi menghela napas. Mudah-mudahan itu pertanda leganya umi mendengarku meyakini itu. Mendengar kekuatan tanpa gentar yang coba aku bangun. Iya, ada Allah. Dan hanya Allah yang tersisa dalam hidupku.
Innalillahi wa inna illahi raajiun
Rasanya kalimat inilah yang mewakili hati. Cukup teramat sangat bermakna. Sesungguhnya semua kembali padaMu; bukan hanya yang hidup untuk mati dan berpulang kembali, tetapi yang hidup untuk terus kembali pulang selama perjalanan hidupnya.
Lalu, apakah aku benar-benar sendirian?
Ada saudara-saudara umi dan abi. Ada juga teman-teman umi dan abi yang masih menyambung silaturahmi. Semua banyak menolong dan merangkul. Tapi, tentu semua tersebab Allah yang gerakkan mereka. MaasyaAllah walhamdulillah...
Apalah dayaku sekarang tanpa Allah yang menolong? Apakah mampuku sekarang tanpa Allah yang dampingi? Benar-benar buta dan alpa.
Hari - hari tentunya pernah menjadi berat. Sesekali masih terasa dan kembali terasa berat. Aku pernah kehilangan diriku. Aku pernah merasakan beratnya bangun pagi dan sesaknya memasuki malam. Tapi mantra-mantra yang umi ajarkan selalu menguatkanku, "Laahaula wallaquwwata Illa billah." Mimpi penghibur yang Allah datangkan pun sering kali menjadi obat saat lelah menjalani ujian demi ujian. Mimpi bertemu Abi atau umi. MaasyaAllah walhamdulillah.
Sekarang, aku tak tau siapa yang akan menemui seseorang itu. Pilihanku untuk diriku saja sering kali salah. Pilihanku yang pernah aku persilakan menemui abi dan umi pun masih salah. Bagaimana aku memilih seseorang asing sendirian?
Ohh faghfirlii...
Bukankah aku telah menitipkan diriku pada Allah? Menyerahkan hidup dan matiku. Maka, aku pun menyerahkan pemilihan pelengkap agamaku pada-Nya.
Allah, aku sungguh tak tahu caranya. Aku benar-benar tak tau orangnya harus seperti apa. Aku bahkan tak tau, apakah harus membuka pintu sekarang atau nanti. Maka Allah, pilihkan saja semuanya untukku. Alih-alih aku tak tau semua jawabannya, aku hanya ingin Engkau lihat aku sedang berikhtiar. Aku berikhtiar lewat jalan menganyam ilmu dan kewarasan diri menuju pernikahan. Semoga Engkau ridho. Semua Engkau bisa menerima ikhtiarku. Bukan menemukan ia, aku hanya ingin menemukan-Mu dalam hidupku lebih lekat dan dekat lagi.
Allah, ada banyak ketakutan dalam hidupku. Tapi aku serahkan semuanya pada-Mu. Biar semua berjalan sesuai mau-Mu. Disaat sulit dan ujianpun datang, bukankah Engkau juga yang sediakan ruang solusi? Aku hanya harap Engkau ridho dan tuntun dalam setiap detik waktu kehidupan.