Pinned
"What's not meant to be yours will never be yours, and what's yours, will be yours."

Deeptalk edisi lebaran sama sepupu kali ini: ketakutan dalam mendidik anak.
Waktu itu pernah ngobrol juga tapi kondisinya keponakan masih toodler. Takut tidak bisa dididik secara maksimal sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya. Takut yang bahkan ke kamar mandi pun rasanya pasrah dengan apapun yg terjadi diluar jangkauan atau pandangan kita. Usia toodler memang unpredictable, bisa makan sesuatu, pegang sesuatu, dan lain hal sebagainya.
Kali ini sudah masuk usia anak-anak, menuju usia baligh. Memperkenalkan rukun islam, perihal puasa, shalat, dan juga adab. Takut kalau tidak bisa mengajarkan rukun islam dengan baik, takut ketika diluar pandangan mata, anak tidak memperlakukan orang lain sesuai adab yang diajarkan.
Ternyata prosesnya akan terus belajar, ibunya belajar, anaknya juga belajar. Yang bisa dikendalikan, akan diberlakukan. Yang tidak bisa dikendalikan, hanya minta doa agar Allah yg melembutkan.
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Kalau kamu diminta tolong ANAK PEREMPUAN PERTAMA, tanggapanmu cuma satu: DIIYANI, DILAKONI, SAT SET TANPA SAK SEK.
Anak perempuan pertama itu pada dasarnya sungkan minta tolong. Semua bakal diatasi sendiri, semua dijalani sendiri, seberat apapun.
Kalau tiba-tiba dia minta tolong, berarti memang URGENT dan BUTUH SEGERA DILAKUKAN.
Kalau kamu memilih menunda atau ada kata "Sek" saat kamu terlihat tidak ngapa-ngapain ketika dia mencoba minta tolong, dijamin, dalam waktu 5 menit, dia bakal cabut melakukan semuanya sendiri.
Dan akan makin sungkan minta tolong sama kamu. Heuheuheu.
Ini aku, begitu.
Anak perempuan pertama tuh jarang minta tolong, jadi kalo 'tolong'nya gak ditanggapi pasti kerjaannya sudah di hand-over sendiri. Sambil ngeluh, sambil nangis, misuh-misuh.
Kayaknya juga tipe, act of service, abis. Kalo dia 'suka' sama kamu, dijamin, apa yang kamu butuhin, akan dia penuhin. Utuh, menyeluruh.
Tapi dia juga kaget dan bingung kalo tiba-tiba ada orang yg melayani dan menolongnya sepenuh hati. Padahal lagi gak minta dibantu.
Anak yang biasa merasa bisa menangani sendiri ini, cenderung bingung kalo tiba-tiba ada yang handle, sebagian dari hidupnya. Maskulinitasnya cukup tinggi.
Makanya, nanti, kamu, kalo ketemu aku. Tolong bantu, redakan maskulin yang sudah dibangun bertahun-tahun ini. Karena aku tahu, pasti aku punya sisi kelembutan dan manja didalam diri 'perempuan'ku. Cuma memang perlu dibangunkan lagi.
Ehe.
Kita sepakat, kan? Kalau ibadah haji, umroh, berkurban, infaq dan shodaqoh juga memerlukan harta dunia. :”)
Ya Allah, mampukanlah kami meletakan dunia itu dalam genggaman tangan kami dan akhirat dalam jiwa kami. Aamiin Allahumma aamiin.. :”)
Tidak pernah ada yang bilang mudah untuk menerima semua ini, kan? Berulang kali patah, hilang arah, hingga muncul keinginan untuk menyerah. Betapapun hati ini berjuang untuk menolaknya, malah justru semakin menggebu ia meminta atensi.
“Apa yang salah? Mengapa ia kukuh bertahan, dan mengapa tidak langsung enyah saja?” Aku terdiam, merenung. Sesuatu yang tidak beres terjadi, pikirku. “Apa benar memang ada yang salah dari caraku bersikap kepadanya?”
Dari perenungan yang panjang itu kemudian aku berpikir:
“Apa benar selama ini aku telah berlebihan dalam mendikte takdir apa yang terbaik untukku?”
Aku menangis:
“Tuhan, jika itu benar, maafkan aku atas segala bentuk kesoktahuanku selama ini. Maafkan juga atas segala ketidaksabaranku dalam proses penantian ini. Bimbing aku kembali, aku ingin jadi hamba-Mu yang dulu selalu ridho menerima ketetapan-Mu.”
Ketika seseorang menyatakan bahwa orang yang belum menikah di usia 30-an adalah karena terlalu banyak memilih-milih pasangan, itu sama halnya dengan mengatakan kepada penderita asma bahwa selama ini mereka terlalu memilih-milih oksigen untuk dihirup.
Penting untuk diingat bahwa kita tidak tahu apa yang sudah diupayakan oleh mereka untuk menemukan jodohnya. Semua tetap kembali bahwa jodoh itu di tangan Tuhan, dan bahwa semua ini tidak bisa dilepaskan dari takdir. Oleh karena itu, bukannya menyalahkan atau menghakimi, kita seharusnya mendukung dan menghormati perjalanan hidup setiap individu, tanpa memberikan tekanan atau ekspektasi yang tidak realistis.
:")
Ternyata dengan begitu banyak ruang yang aku miliki, aku bersyukur masih ada ruang untuk aku mencintai diriku sendiri. Tentunya dengan cara, dan bagaimana aku berperilaku.
Aaaa rasanya kayak lagi menghantam karang, terlalu banyak sakit yang kemarin diterima. Terlalu banyak amarah yang kemarin tak mampu dikelola. Ada banyak harap yang ternyata tak bisa menjadi nyata.
YaAllah kalau aku masih boleh diizinkan jatuh cinta, bolehkah aku jatuh cinta dengan laki-laki baik yang menyejukkan mata? Masih bolehkah aku memberikan puk-puk pada seseorang itu ketika dia sedang terluka? Masih bolehkan aku memberinya sedikit perasaan bahagia ditengah-tengah kesedihan yg bisa jadi sedang dia terima?
YaAllah, jalan yg dilalui ini sungguh berliku, jalan yg dilalui ini sungguh membuatku terus bertanya-tanya. Jalan yang dilalui ini --terlalu sulit untuk dijelaskan, tapi semoga Engkau paham bahwa aku butuh pertolongan.
Sekali lagi, ya Allah, aku butuh pertolongan untuk harapan yang sedang aku dambakan.