@setiyadewi

menuang pikiran dan perasaan

Maafkanlah Dirimu Sendiri

Maafkanlah dirimu sendiri, jika keputusanmu di masa lalu mengantarkanmu pada luka-luka yang kamu miliki saat ini.
Maafkanlah dirimu sendiri, jika pilihanmu di masa lalu adalah pilihan yang membuatmu terjebak dalam ketidakbahagiaan.
Maafkanlah dirimu sendiri, jika kepercayaanmu pada seseorang telah berubah menjadi pengkhianatan, karena keputusanmu untuk percaya kepadanya adalah hal yang membuatmu sangat terluka.
Maafkanlah dirimu sendiri, atas hal-hal yang kamu lakukan sehingga membuat hidupmu seolah-olah tak ada pilihan lain selain melawan atau bertahan. 
Maafkanlah dirimu sendiri, jika apa yang kamu jalani menjadi beban bagi orang yang kamu sayangi.
Maafkanlah dirimu sendiri, jika saat ini tidak bisa membuat pilihan karena ketakutan. 
Maafkanlah dirimu sendiri.
Maafkanlah dirimu sendiri, beri maaf pada dirimu sendiri. ©kurniawangunadi

Menurutku, memiliki orang tua yang membantu dan memudahkan kita untuk berbakti adalah sebuah privilege terbesar dalam hidup sih

Untuk yang tidak mendapatkan privilege itu, banyak² bersabar dan berdoa semoga Allah senantiasa beri kekuatan, kesabaran dan kelapangan hati untuk terus berbakti :")

Anonymous asked:

Bang, baru dapet kabar kalau Kegiatan Mentoring Resmi dibawah Mata Kuliah Agama Islam di ITB akhirnya dilarang Bu Rektor dengan berbagai alasan yang dibuat2.

Lucu sih alasannya, doi pake salah satu feedback peserta kuliah yang bilang "Mentoring Memberatkan" padahal ada begitu banyak data lain yang bilang dapet hal baik dari Mentoring.

Ironi ya klo udah masuk ranah Politik Identitas di Kampus, bahkan sekelas Orang ITB gak lagi berguna Ilmu statistika tentang data pencilan, modus, dll yang susah payah dipelajari dan diajarkan ke Mahasiswanya tidak berguna, wkwkwk

Hmm, ini terjadi di banyak kampus dan serempak. Begitu sistematis dan terarah. Mencurigakan? Tentu, karena mereka memang tahu bahwa di kampus-kampus yang sudah terdapat mentoring nuansa keislamannya kuat. Ini tentu menghasilkan output mahasiswa yang tersibghah dengan karakter keislaman. Jika didiamkan, tentu mereka khawatir jika Indonesia terlalu Islami.

Lembaga keagamaan mereka kucilkan; kegiatan keislaman mereka batasi; masjid-masjid kampus mereka intervensi (diganti paksa dengan kelompok yang dekat dengan ormas tertentu); dan ya, pembatasan kegiatan kemahasiswaan.

Coba saja perhatikan pola ini seragam di hampir banyak kampus.

Avatar

Hmmm.. jadi teringat materi diskusi kemaren..

Getting married is easy but the hardest thing is finding the right partner who's going to help you maintain and increase your level of Imaan and Taqwa.

If you want to get married, ask Allah for 3 things in a spouse:

1. Ya Allah please Grant me someone who will remind me of You.

2. Ya Allah please Grant me someone who will hold my hand in Jannah.

3. Ya Allah please Grant me someone who will elevate my Imaan.

Aameen.🤍🕊

Aamiin🤲

InsyaAllah, ustaz Nouman Ali Khan akan ke Indonesia lagi tahun ini, ke kota mana yah selain Jakarta? Silahkan teman-teman memberikan usulannya dengan reblog.

Avatar

Palembanggg

Semaraaanggg

Avatar

ya dehhh semarangg!!! ahaha.. manatau kan bisa main aku pan kapan ke semarang:p

Naaah kaann gitu doong suportiiff wkwkw🤭

InsyaAllah, ustaz Nouman Ali Khan akan ke Indonesia lagi tahun ini, ke kota mana yah selain Jakarta? Silahkan teman-teman memberikan usulannya dengan reblog.

Avatar

Palembanggg

Semaraaanggg

setelah sekian lama nggak nulis. akhirnya pagi menjelang siang tadi kata-kata yang dulu hilang berseliweran di kepala.

pengen banget saat itu juga menuangkan di tumblr ini. udah kepikiran banget mau nulis apa. di otak dan hati udah tersusun kata-kata yang 'wah bagus juga nih. wah kobisa'.

tapi akhirnya baru sempet nulis sekarang di pukul 02.34 😂 dan tentu saja kata-kata yang tadi terpikirkan sudah menguap entah kemana.

intinya. ternyata benar ya, menjadi 'dewasa' itu udah gaada waktu mau galau² kaya dulu. ga sempet banget. udah harus menghadapi realita dengan topeng baikbaik saja. sampe lupa rasa sedih dan pengen nangisnya tadi gimana wkw.

dan, keren banget cara Allah menunjukkan hikmah di hari ini. eh kemaren.

cerita lengkapnya di next tulisan insyaaAllah. sekarang lg hectic bebikin soal dan rapor😂 jadi belom sempet mau menggalau wkwk

.menyempurnakan ikhtiar dengan keyakinan kepada Allah.

Nggak Apa-apa

Nggak apa-apa kok kalau kamu merasa gagal di usia sekarang. Sudah menjelang usia tiga puluh tapi baru saja patah hati karena putus cinta. Merasa gagal karena belum mendapatkan pekerjaan yang seperti teman-temanmu. Merasa kok kayaknya perjuanganmu nggak ada habisnya. Serasa buntu jalan yang ada di depan mata. 
Nggak apa-apa kok kalau kamu merasa perlu untuk minta pertolongan. Alih-alih memendamnya sendiri dan menjadi sampah yang menggunung di hatimu. Membuat malammu kalau mau tidur jadi penuh kekhawatiran dan bangun pagi dengan ketakutan-ketakutan yang sama setiap hari. Nggak apa-apa kalau memang merasa diri kita nggak mampu buat melakukannya sendiri, merasa bodoh karena tidak mengerti, merasa kemana saja selama ini. Ayo, minta tolong itu nggak apa-apa.
Nggak apa-apa kok kalau kamu lagi sibuk sendiri. Saat dunia lagi banyak berita tentang isu perang, politik, dan sebagainya. Sementara kamu masih berjuang buat sekedar memenuhi kebutuhan dirimu. Sedang berjuang menghadapi masalah-masalahmu di dirimu, di rumah tanggamu, di keluargamu, di anak-anakmu, di pasanganmu, di sekolahmu, di manapun itu berada. Nggak apa-apa. dengan kamu menyelesaikan masalahmu dengan baik, itu sudah membantu kebaikan untuk dunia ini. 
Nggak apa-apa kalau kita merasa ini dan itu. Semua perasaan itu valid. Kamu hanya perlu jujur dan memahami bahwa memang saat ini, ya keadaannya seperti ini. Lalu, gimana caranya biar kita bisa memutus mata rantainya. Berjuang sekuat dan setenang mungkin, buat kita sendiri, bukan buat siapa-sapa :) ©kurniawangunadi
Anak tangga yang harus dicapai terlalu tinggi.
Sedang langkahku teramat kecil dan lemah.
Memang berat. Tapi semoga Allah kuatkan dan mampukan.

setidaknya untuk setaun kedepan hehe

Sesak

Dunia yang belum pulih, nyatanya membuat sesak semakin menjadi.

Sesak karena kehilangan orang tercinta. Sesak menahan rindu pada orang tersayang. Sesak melihat kerumitan pemerintahan dengan segala peraturan dan orang-orangnya. Sesak melihat orang-orang dengan kepercayaan tak berdasarnya. Sesak melihat orang yang kesulitan semakin sulit.

Sebelum pandemi, mereka kesusahan mencari makan. Saat pandemi, dimana segalanya menjadi semakin susah dan terbatas, apa kabar mereka?
Apa kabar pekerja harian yang penghidupannya adalah ketidakpastian? Apa kabar mereka yang bekerja di terminal, stasiun, juga tempat wisata yang sepi dari pengunjung bahkan ditutup? Apa kabar mereka yang akhirnya harus dirumahkan dan tidak punya tabungan?

Beruntungnya, dunia ini juga memiliki banyak sekali orang baik. Saling bergandengan tangan menghadapi situasi yang serba tidak pasti ini. Inovasi dan inisiatif mereka membantu sesama tak bisa lagi dinalar logika. Terpancar jelas bagaimana ketulusan hatinya.

Belum lagi, para nakes dan segala lini yang mendukungnya. Para sopir ambulans, cleaning service, petugas pemakaman. Ah, betapa setiap orang benar-benar sedang berjuang. Sesak sekali menyaksikannya.

Jika di kondisi seperti ini masih saja ada oknum-oknum yang mementingkan kepuasan dirinya (korupsi bansos misalnya), aku tak tau lagi dimana hati nuraninya. Entah. Barangkali sudah hilang ditelan masa.

Semarang, 25 Juli 2021

Tidak ada kenyamanan di zona pertumbuhan
Tidak ada pertumbuhan di zona kenyamanan

- Teh Pepew ( Febrianti Almira )

Bismillah yaa. Semoga Allah mampukan. Semangat bertumbuh🤎

Kunci tenang dalam hidup :

Fokus pada diri sendiri😇

(masih) Resah Pandemi

Berapa orang, Yang kehilangan orang tua Kehilangan anak Kehilangan istri Kehilangan suami Kehilangan saudara Kehilangan teman Entah lama tidak bersua, atau untuk selamanya

Berapa orang, Yang kehilangan pekerjaan Tidak punya pilihan Antara mati kelaparan Atau menjadi korban Nyawa manusia, seakan hanya sebuah hitungan

Berapa pasang mata yang tidak bisa tidur setiap malamnya Memikirkan nasib dirinya, keluarganya, bahkan negara Yang entah kemudian akan bagaimana

Ada yang menahan rindu Untuk tidak bertemu meski membuat hati selalu sendu Tapi ia lakukan ini semua, untukmu

Ada yang berjuang Hingga titik darah penghabisan Menjadi garda terakhir perjuangan Bahkan nyawa menjadi taruhan

Ada yang menghabiskan waktunya menjadi peneliti Mencari bagaimana agar menemukan obat dan vaksin virus ini

Ada yang berjuang membuat alat pengobatan Agar rumah sakit tak kualahan

Ada yang harus menunda momen berharga Pernikahan, wisuda, dan momen lainnya

Ada juga yang terpaksa menutup mata Hanya agar diri menjadi tidak gila

Setiap orang, sedang berjuang. Dengan caranya.

Kita, Memang kehilangan momen berharga Riuh ramai menyambut Ramadhan Juga kebahagiaan Idul Fitri

Bukankah ini hanya 1kali dari sekian kali dalam hidup kita? Tidakkah kamu bisa #dirumahaja?

Semarang, 19 Mei 2020

Duakali ramadhan dan idulfitri.

Dan kini, sudah jutaan orang yang kehilangan.

Semoga Allah beri mereka ketabahan dan kekuatan.

Menyata?

Sudah berhari-hari. Lonjakan kasus covid19 terjadi di negeri ini.

Sirine ambulans dimana-mana. Grup di sosial media beralih fungsi menjadi papan pengumuman duka cita. Bendera kuning terpasang dimana-mana.

"Berita duka"
"Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un"

Menjadi headline news obrolan maya yang hampir setiap hari ada. Juga pembuka pengumuman di masjid² desa.

Virus itu sudah semakin nyata adanya. Tahun lalu, mungkin kita hanya membayangkan. Tahun ini, barangkali kita ikut merasakan. Demam, pusing, batuk, juga hilang penciuman.

Alhamdulillah. Allah masih beri perlindungan. Hanya gejala ringan.

Tapi kawan, ribuan orang kini sedang berjuang. Rumah sakit penuh antrian. Oksigen kehabisan. Nakes harus memilih mana yang harus diselamatkan. Bahkan banyak dari mereka yang telah berguguran.

Oh Tuhan. Semakin teriris-iris hati ini. Dulu merasa ngeri dengan 1000 kasus perhari. Kini 20ribu lebih yang terjadi. (dan ini bukan sekedar angka, tapi nyawa)

Banyak yang akhirnya memilih menepi. Lelah dengan segala konspirasi. Tak kuasa melihat dan mendengar segala berita kekeosan ini. Hanya berharap dapat menjaga diri dan keluarga sendiri. Demi kesehatan fisik, jiwa, pikiran dan hati. Tak lupa untuk selalu memohon perlindungan pada Ilahi.

"Bertahan, ya"
"Sehat-sehat ya"

Menjadi ungkapan yang kini penuh arti.

Cepat membaik ya, bumiku🤍

*jaga iman dan imun yaa temanteman

*stay at home, double mask kalo harus keluar, jaga prokes, berjemur, makan sayur dan buah atau minum vitamin

*let's vaccinated bagi yang sudah bisa vaksin

*do something happy, take care of ur mental health

*berdoa!

Sehat selalu ya dimanapun kalian berada. Semoga Allah melindungi dan menjaga kita semua. Aamiin🤎

Semarang, 5 Juli 2021

Rasa di Tengah Pandemi #1

Di masa pandemi ini, banyak aspek yang diuji.

Salah satunya, tentang rasa.

Mulai dari rasa empati, bersyukur, bersabar, sadar diri hingga perasaan bersalah, bodoh, tidak berguna, bahkan tak jarang malah membuat stress.

Semua tentu tergantung bagaimana menyikapinya.

Rasa-rasanya, hampir semua perasaan-perasaan itu aku rasakan.

Sedih melihat orang-orang yang mungkin kurang beruntung, di kondisi normal aja susah mencari makan, apalagi dalam kondisi seperti ini. Barangkali tepat rasanya jika kalimat "meninggal karena corona atau mati kelaparan" sering menjadi alasannya melanggar aturan.

Bersyukur masih bisa makan dengan baik dan nyaman. Bersyukur masih banyak orang-orang baik yang memikirkan dan bergerak untuk orang-orang itu. Rasa-rasanya justru makin banyak bermunculan orang-orang baik di dunia ini yang kebaikannya seringkali membuat geleng-geleng kepala. Betapa luar biasanya. Semoga Allah membalas kebaikan mereka. Aamiin.

Bersabar atas kondisi yang serba terbatas ini. Bersabar belum bisa bertemu orang. Bersabar belum bisa pergi kesana kemari. Menyikapi hal apapun, termasuk adanya perasaan-perasaan ini dengan kesabaran.

Pun sadar diri. Momen ini memang tepat sekali untuk introspeksi diri. Merenungkan banyak hal dan fokus dengan diri sendiri. Sadar bahwa masih banyak sekali kekurangan. Masih banyak hal yang perlu diperjuangkan.

Semarang, 5 Mei 2020

Lebih dari satu tahun yang lalu..

And now.. it's getting worse :(

#saatnyaupdatetulisan😁

#Mengkhianati Perjuangan Sendiri

Ada yang pura-pura lupa punya hafalan, sampai-sampai, nggak tahu lagi kapan terakhir murojaah.

Ada yang pura-pura lupa jumlah hafalan, sampai-sampai, murajaahnya hanya berputar di juz yang itu-itu lagi.

Ada yang pura-pura lupa dengan hafalan, sampai-sampai, hafalannya bener-bener lupa karena nggak pernah diingat-ingat lagi.

Aku cuma mau bilang: Ingat, dulu, kau pernah mengorbankan segalanya demi mendapatkan hafalan Al-Quran. Sekarang, begitu kau mendapatkannya, mengapa tiba-tiba kau melupakan perjuangannya?!

Bukankah dahulu, kau pernah rela kehilangan waktu-waktu bermainmu, kau menolak setiap ajakan teman-teman ketika itu. Semuanya, demi mendapatkan moment berduaan bersama Al-Quran.

Bukankah dahulu, kau pernah mempertaruhkan segala hobimu, menahan setiap keinginan yang terus menarikmu dari perjuangan, sebab bagimu, berhasil setoran satu ayat sudah lebih membahagiakan dari apapun yang pernah ada dalam hidupmu.

Bukankah dahulu, kau pernah menangis pada malam yang sunyi, saat semesta diam mendengarkan bisik-bisik doamu yang mengulang-ulang permintaan sama setiap hari: “Ya Allah, jadikan aku hafizh Al-Quran.”

Bukankah dahulu, kau siap meski harus melangkah tertatih mengejar target yang kau miliki, mati-matian bangkit setiap kali badai perjuangan menjatuhkan diri, berpura-pura kuat ketika ragamu sendiri memintamu berhenti. Kau telah berkorban begitu hebat.

Lantas, mengapa hari ini, kau memilih berhenti?

Kau tahu, jika kau berhenti hari ini, berarti, kau telah mengkhianati perjuangan sendiri!

__

Ust. Ahmad Khoirul Anam

reminder

"Impian tentang sesuatu yang tak mungkin, memiliki namanya sendiri. Kita menyebutnya harapan."
— dikutip dari buku terjemahan "The Orange Girl" karya Jostein Gaarder

Karena bagiNya, tak ada yang tak mungkin. Maka langitkanlah harapan hanya padaNya.

Cukup & Syukur

Perasaan yang harus senantiasa dibangun, dari dan oleh diri sendiri.

Kurang tepat rasanya jika rasa cukup dan syukur hanya hadir saat menyaksikan saudara kita yang 'terlihat' lebih kurang dari kita. Merasa diri lebih beruntung barangkali?

Padahal apaapa yang hanya terlihat itu ya yang bisa dipandang mata. Who knows kedalaman hatinya. Barangkali justru merekalah yang lisan dan hatinya tak pernah berhenti mengucap syukur. Selalu merasa tenang dan cukup dengan apa yang mereka miliki.

Siapa yang tahu, justru merekalah orang-orang yang beruntung itu.

Di instagram orang-orang nulis biar dapet banyak followers. Di tumblr orang-orang nulis berharap semoga gak ada yang baca. Gak ada followers. Tapi sekalinya ada yang follow, suka langsung dicari sampai dalam. Ini siapa. Dia ko tau tumblr ini. Perasaan jarang nulis. Tapi ko dia bisa tau tumblr ini.
Ah tumblr, se private itu . . .

Betul banget! Bahkan kadang sampe pengen bikin akun baru lagi karena kebanyakan followers padahal cuman segitu ya tapi banyak wkwk