~lah

Lindungi Wajahmu

Kemarin ketika pelatihan UKM, saya berkenalan dengan seorang ibu muda berusia 40 tahun. Ketika mengobrol, dia bercerita bahwa suaminya tidak mengizinkannya menggunakan make up. Ini bukan pertama kali saya menemukan seorang istri tidak diperbolehkan suaminya mengenakan apapun di mukanya. 

Saya sedih, karena istri - istri itu jadi tidak melindungi wajahnya dengan apapun. Resiko kerusakan kulit pada kulit yang tidak dilindungi lebih besar. Memang sih air wudhu bisa mencerahkan wajah kalau kata dosen saya, tapi ikhtiar lain perlindungan dari pengaruh luar yang buruk juga menurut saya perlu. 

Make up, sepanjang pengetahuan saya adalah kosmetik dekoratif (kosmetik yang berfungsi sebagai elemen estetika). Sayangnya, banyak laki - laki maupun kita sebagai perempuan yang tidak tahu bagaimana memilah fungsinya. Dianggapnya semua kosmetik yang menempel di wajah adalah make up (atau dekoratif)

Ibu - ibu, terutama bapak - bapak, kita harus tahu bahwa fungsi kosmetik di wajah tidak hanya untuk berhias. Oke wait, kosmetik itu sangat luas loh. Sabun, shampoo, parfum, deodoran, hand body lotion, itu semua adalah kosmetik. Jadi, para bapak juga menggunakan kosmetik setiap hari kecuali yang tidak mandi dan bebersih badan. Kosmetik pembersih biasa disebut wash rinse cosmetic (eh apa ya, saya lupa, intinya itu lah). Sedangkan handbody lotion, pelembab, butter lotion, termasuk pelembab wajah dan area mata, itu biasa disebut skin care cosmetics. 

Ceritanya saya hampir tidak pernah mengenakan pelembab apapun di wajah hingga 27 tahun. Ketika saya bekerja di perusahaan kosmetik pada 2015, wajah saya dicek oleh alat kantor dan barulah tahu bahwa banyak kerusakan di sana. Sekarang juga muncul banyak sekali flek hitam yang tidak terkendali. Selain karena usia, karena ketidakperdulian saya merawat wajahlah yang menyebabkan demikian. Kalau kata dokter kulit di kantor waktu itu, usia 25 tahun kita sebaiknya sudah menggunakan krim anti agging, karena agging kulit sudah dimulai di usia itu (yah yang ini mah ga wajib, pake air wudhu aja).

Jadi, Bapak - bapak, melarang istri berhias untuk memenuhi syariat agama itu adalah yang terbaik. Tapi cerdaslah, jangan larang istrimu menempelkan krim - krim di wajah, karena krim - krim itu bukan agar cantik, tapi sebagai bentuk ikhtiar melindungi kulit wajah dari ultraviolet, polusi dan debu, udara dan cuaca yang ekstrim, dan hal - hal buruk lain yang seringkali menyebabkan penyakit seperti kanker kulit.

Bedak pun, selain sebagai make up dekoratif, dia juga melindungi wajah untuk terkena pengaruh luar secara langsung. Kalau saya pribadi  menggunakan bedak agar tidak terlihat pucat (karena wajah asli saya sangat pucat), juga lipstik dengan alasan yang sama. 

Banyak pelembab wajah yang tidak mempengaruhi warna wajah secara signifikan. Yang pernah saya coba Hada Labo, Wardah sun cream gel SPF 30 (yang ini sudah banyak testimonial dari konsumen bahwa mereka sangat suka), Wardah White Secret SPF 35, Body Shop pelembab wajah (duh yang ini enak banget), SK II miracle water. Dua brand terakhir itu saya coba karena kantor beli untuk referensi, jadi saya wajib mencoba. Merk - merk yang lain lupa.

Pelembab yang saya beli sendiri adalah produk menengah yang terjangkau dan aman. Jadi, merawat wajah ga selalu harus mahal, ga harus kok beli SKII (tapi kalo mampu sih ga papa, karena bagus, hahaha). Semuanya teksturnya ringan, mudah diaplikasikan, sehingga kalau kita habis berwudhu, kita bisa mengaplikasikannya lagi dengan cepat dan mudah. Jadi Bapak - bapak, pake kosmetik tidak selalu membutuhkan waktu lama loh, aplikasi pelembab dan bedak hanya 2 menit, tapi sebagai ikhtiar melindungi kulit istrimu sepanjang hari. Masa gamau punya istri yang kulitnya sehat?

CMIIW

Oh my god, this took forever to make..
But here are some of the Sonic females I could remember on spot.

Anak-Anak Subuh

Ada anak lelaki yang hampir setiap subuh ikut berjamaah, ia berdiri dan duduk persis di sebelah Ayahnya. Meniru semua gerakan Ayahnya, si Ayah sholat sunnah ia ikut, begitu seterusnya.

Ada anak usia sekitar tiga tahun yang kadang-kadang ikut Ayahnya ke masjid. Wajahnya terlihat baru bangun tidur, masih pakai diapers pula. Berdiri persis di samping Ayahnya mengikuti Ayahnya sholat sunnah sebelum subuh. Sampai gerakan sujud nggak bangun lagi, hingga Ayahnya selesai sholat, ternyata ia tertidur sambil sujud.

Ada lagi anak yang usianya juga sekitar tiga tahun. Juga berdiri di sebelah Ayahnya, namun pada saat sholat subuh tak berapa lama setelah takbir dan Imam membaca alfatihah, ia ngeloyor meninggalkan barisan. Hingga sholat subuh usai, biasanya ia duduk di pojok masjid menunggu Ayahnya selesai.

Ada pula Ayah yang membawa anaknya ke masjid dalam kondisi masih terlelap. Di gendong turun dari mobilnya, sampai ke masjid dan bahkan hingga jamaah bubar si anak tetap terlelap. Meski sang Ayah sudah mencoba membangunkannya. Maklum, masih usia dua tahun.

Yang menarik ada anak yang rajin ke masjid padahal tidak ada Ayahnya. Entah bagaimana ibunya mendidik, menarik pastinya. Meski tanpa Ayah yang sudah lama meninggal, ia tetap rajin ke masjid.

Selama masih ada barisan anak-anak yang berangkat ke masjid di subuh hari, meskipun dengan berbagai kepolosan perilakunya, maka masih jelas masa depan agama ini.

Selama masih ada orang tua, terutama para Ayah yang berupaya mengajak serta anak-anaknya sholat subuh berjamaah di masjid, akan kokohlah barisan pejuang agama Allah. Negara pun akan selamat.

Khawatir lah bila sudah tidak ada kalangan muda dalam barisan jamaah subuh di masjid-masjid, bagaimana nasib ummat ini di masa datang?

Ada riwayat yang terbaca, salah satu rahasia kehebatan para pejuang Aceh, yang membuat penjajah kesulitan mengalahkan rakyat Aceh adalah, Teuku Umar dan para panglima memilih pasukannya dari masjid-masjid di waktu subuh.

Mereka yang bangun subuh adalah para pejuang. Orang-orang yang bersungguh-sungguh, yang telah bisa mengalahkan rasa lelah dan malasnya, tak turuti kantuknya, menguasai egonya.

Kagum kepada para orang tua yang tak lelah mengenalkan, mengajarkan dan memberi contoh kepada anak-anaknya untuk sholat berjamaah subuh di masjid. Kelak anak-anak ini menjadi pribadi yang tangguh raga dan jiwanya.

Tak perlu khawatir, bila subuh saja bisa dikuasai, kelak masa depan bisa digenggam. @bayugawtama

Memetik Buah dari Ladang Orang Lain

Enak engga sih gausah capek-capek nanem buah, gausah capek-capek nyiapin seluruh kebutuhan untuk bikin tanah subur, bahkan engga perlu nyiapin bibit, tapi buahnya bisa diambil gitu aja tanpa ijin dan abis itu dijual? Kalo engga mikirin dosa mah jawabannya pasti enak, yekan? Secara, dapet duit tanpa modal apa-apa. Tapi kalo dijualnya dengan ijin si empunya ladang mah halal-halal aja. Yang engga halal tuh ketika dijual tanpa ada ijin sama sekali dengan si empunya, haram tjuy~ That’s the main point!

Yang tadi tuh cuma analogi aja kok, jadi sebetulnya hari ini mau blabbering dikit (ujung-ujungnya sih pasti panjang)

Lemme say, perkembangan social media sekarang tuh cepet banget dan bawa banyak hal menguntungkan terutama untuk personal branding. Admit it! Gini deh, lo mau jadi apa? Desainer atau fotografer? Kalo dulu ribet harus bikin portofolio dengan nyetak ini itu dan menyiapkan beragam hal lain yang lumayan menguras isi kocek, kalo sekarang beda, sekarang mah gampang, hiasi aja blog atau instagram lo dengan hasil karya lo, trus publish dan jadiin itu sebagai portofolio. Modalnya apa? Kuota internet dan smartphone.

Atau mau jadi penulis? Cara termudahnya adalah tulis aja kepsyen panjang-panjang, rajin aja updet blog, nanti pembaca dengan sendirinya akan menemukan karya lo. As we know, penerbit-penerbit besar di Indonesia juga sudah mulai mencari tulisan-tulisan populer. Tulisan-tulisan yang berasal dari blogger yang punya pembaca, yang tulisannya disukai oleh orang lain, yang tulisannya mendapat respon dari orang lain, yang konsisten untuk nulis walaupun dunia nyepelein, ya semacem itulah pokoknya.

Kalo dulu mau jadi penulis tuh susah, bikin draft, print sampe berlembar-lembar, kirim ke penerbit, nunggu 1-3 bulan yang belum tentu langsung diterima (even sampe sekarang juga untuk mengirim naskah tulisan masih harus seperti itu). Tapi ya kalo gamau ribet untuk melakukan hal itu, kalian tinggal lakukan hal tadi—memanfaatkan social media untuk “menjual” karya lo, mengenalkan pada dunia siapa lo dan gimana karya lo.

Itu keuntungannya ada social media saat ini. Namanya hidup, ada plus ada minus, ada yang nyemangatin ada yang ngejatuhin, selalu ada yang bertolak belakang buat ngasih warna. Trus kekurangannya socmed apa? Karya lo dicopas, diplagiasi, dicuri, diakui, bahkan yang lebih nyesek lagi adalah DIKOMERSIALKAN.

Prolognya aja udah panjang kan tuh:(

Jadi gini, dua hari yang lalu ada yang nge-direct message di instagram janpi bilang bahwa,

“kak quote-nya diaku-akuin tuh”

Lalu doi ngasih screenshot quotenya. Reaksi pertama mah sans aja, da udah biasa dicomot gitu (sombong pisan anaknya teh:() Trus nanya dong,

“Ohya? Akunnya apa?”

dan dijawablah,

“@statusmantan kak, tadi aku mention kak Janpi sih, tapi abis itu komenku diapus”

Karena emang lagi gabut, langsung aja dong mau stalk akun itu, cuma pengen kepo niat awalnya mah, trus pas ngebuka dengan ig janpi, kampret moment happens, engga ketemu dong akunnya, WOW EYKE SUDAH DI BLOCK TJUY. Ku dm lah followersku tadi dengan bilang “aku diblock deh kayaknya dek, gabisa liat akunnya da” then she said, “pake akun kakak yang satunya lagi aja”

Ah, what a good idea! Ku buka dengan akun stfbl (sekalian promo gapapa lah ya ehehe), eh ketemu! Fix udah diblock ternyata akun janpi wk. Iseng lah, stalk dengan asoy, sambil mengumpat dalam hati, “uw kwotku banyak sekali yang diakuin, gapapa gapapa, ikhlas~”

Iya bener awalnya ikhlas, sampe kemudian ngeh kalo ternyata doi sudah menerbitkan buku! Karena ada say no to piracy, di salah satu postingannya. Eh emosi dong, abis itu komenlah dengan bilang,

“tidak mendukung pembajakan, tapi ambil quote orang trus diaku-akuin? Dan yang punya quote asli diblock? Duh si @hujan_mimpi kasian dong kakak”

Engga lama setelah itu, mau load more postingannya eh udah gabisa, akun stfbl ternyata diblock juga. WOW! Keren pisan da. Iseng mau buka lagi, pake akun orang lain, eh ignya yang tadi public langsung diprivate. Unch, ada yang disembunyikan dan secara tidak langsung si @statusmantan ini tau dong kalo doi salah.

Setelah itu minta bantuan temen-temen untuk kemudian nge-add akun itu, tapi emang orangnya udah takut mungkin, engga ada yang di-accept sampe sekarang, duh salah banget bersikap gini, asli. Penasaran dong, akhirnya aku dan temen-temen lain ngekepo line@-nya, dan mari ucapkanlah syukur Alhamdulillah, karena ternyata lagi-lagi quote janpi dan sederet nama tumblr lainnya juga banyak yang dicomot dan diakuin. Hahaha. Emang dasar udah panas, mas @menjalin ngekomen di postingan line@ itu dengan mencantumkan link tulisan asli, eh engga lama komennya diapus dan disable komen. Udah ini mah engga bener ini orang, bersalah wes!

Trus karena emang kepo, balik lagi liatin akun ig si kang copas ini, di bionya ada judul bukunya, trus search dong di google, kemudian ingin berkata kasar tapi masih nahan-nahan supaya engga kesulut emosi, karena tau kenapa? Judulnya hampir mirip dengan tulisanku di instagram dan yang lebih kesel adalah TAGLINE, fix dari tulisanku yang judulnya seperti itu. Mau ngoceh rasanya tapi buat apa, dan dengan membulatkan tekad, kebetulan emang hari itu mau ke toko buku, sekalian aja nyari buku itu.

Singkat cerita, buku tersebut kutemukan, dan ada yang kebuka dari wrapping-nya, jadilah dibaca memindai aja, berulang-ulang di dalam hati udah kesel karena ternyata ada beberapa yang tulisannya familiar banget. Akhirnya dengan berat hati, yaiyalah berat, kalo beli berarti nyumbangin royalti ke dia, tapi karena terpaksa dan mau membuktikan sesuatu, berangkatlah ke kasir dan beli buku itu.

BTW, KALIAN GAUSAH IKUT-IKUT BELI BUKUNYA GUYS, SAYANG UANG JUGA, DIA SIH ENAK DAPET ROYALTI. MENDING SEKALIAN AJA REPORT AKUNNYA EH :)))

Sampe rumah, dimulailah penyelidikan. Judul buku dan tagline-nya terlalu familiar, udah gitu judul buku sama tagline-nya teh jadi yang begitu dijual, jadi kemungkinan besar tulisan itulah yang menjadi main point di buku itu. Kucarilah tulisan itu, pas dibuka HAHAHAHA, bener dong tulisannya copas secopas-copasnya ummat dari tulisanku.

Mulai nyari lagi, satu dua tiga ketemu tulisanku yang dicomot, dan kemudian menemukan tulisan dari akun-akun lain yang juga diambil, contohnya nih tulisannya kak cindy aka @kunamaibintangitunamamu. Mennn, mau gimana juga engga ada credit-nya, si penulis asli mah bakal tau itu tulisannya. Inget banget di surat kontrak penerbitan buku ada tulisan bahwa, karya adalah karya orisinil penulis, bukan plagiasi. Berarti ada unsur pertanggungjawaban seharusnya kan? Bisa diusut dong ya?

Akhirnya di tengah malem, aku nge-pm editor kesayangan, nanya apakah bisa tulisan seseorang yang sudah dibukukan untuk diperkarain kalo ternyata tulisan itu adalah hasil copy paste, tentunya dengan menyertakan bukti. Dan jawaban editorku adalah, “bisa dong~ kenapa bella?”

Mungkin janpi lagi kebanyakan amarah jadinya cuma senyum jahat sambil bales chat dengan bilang, “gapapa kak, kucari buktinya dulu ya hehe.” Dan pencarian pun dimulai, nandain halaman per halaman yang aku tahu itu tulisanku dan aku familiar dengan tulisan itu. Mulailah buka archive tumblr, mulailah dengan mengetik satu kalimat di halaman yang udah kutandain di google, thennnnnn…terbukalah semua tulisan aslinya.

Aku menemukan tulisanku yang kutulis di tanggal 12 Juni 2016, judulnya Merindukanmu, sudah mendapatkan notes 255 kali, yang mana bahkan tulisan ini sudah dimusikalisasi sama mas @mangatapurnama, juga dicopas di buku ini (terima kasih untuk system archive tumblr yang membantu), padahal buku ini terbit di April 2017, plis, siapa yang lebih dulu coba ya? Belum lagi tulisanku yang jadi main point di buku ini adalah tulisanku di caption instagram tanggal 11 Januari 2017, yang bener-bener plek sama. Warbiayasak memang!

Dengan sedikit gerah melihat kelakuannya yang dengan begitu beraninya mengkomersialkan tulisan orang lain, ku pm lah bukti-bukti itu ke editorku. Dan hari ini, di tanggal 22 Mei 2017, kuserahkan masalah ini ke tangan penerbit.

Biar apa diperkarain sih? Biar ada efek jera, percayalah, kegiatan ini kalo engga dikasih ketegasan, akan menjangkit. Udah kayak penyakit menular, copas meng-copas begitu didiemin bisa menular juga soalnya. Kedengeran lebay? Bodo amat! Toh yang dirugikan memang eug, bukan lau hehe. Kalo dicomot di akun doang lo bisa bilang ikhlasin aja, tapi ketika lo udah tau karya lo dikomersialkan tanpa ijin, lo negur halus lalu diblock, apa iya masih mau untuk engga peduli?

Rejeki udah ada yang ngatur, yelah, anak sekolah juga tau itu, tapi masalahnya bukan direjeki siapa-siapanya, tapi ini tuh perbuatan salah. Lo tau salah tapi lo diem aja, itu malah lebih salah!

Aku tidak bilang ini sepenuhnya salah penerbit apalagi editor dari buku tersebut kenapa sampe bisa kecolongan, toh mereka sudah memperingatkan hal itu kepada penulis sedari awal, bahkan sebelum penulis tanda tangan kontrak ada point penulis harus bertanggung jawab penuh bahwa tulisan itu adalah hasil karyanya sendiri. Jadi ya ini mah salah penulisnya, tapi merugikan banyak pihak tentunya, penerbit dan editornya juga mau gamau jadi malu, merasa dirugikan dan jadi ngerasa punya tanggung jawab dong ya~

Kemarin malam, di saat abis pulang talkshow, masih dengan ditemani editor dan beberapa penulis lainnya yang masih juga bahas masalah ini, si admin statusmantan ngepm dong. CIAK, AKUH DI PM! Isinya adalah ucapan permintaan maaf bahwa sudah memasukkan tulisanku ke buku mereka, dan berkata bahwa itu adalah ketidaksengajaan karena admin statusmantan ada banyak. Bentar, correct me if i’m wrong, ketidaksengajaan kalo se-kalimat dua kalimat mah yaudah gapapa, tapi kalo satu tulisan penuh? Kalo engga hanya satu tulisan? Itu masih bisa disebut sengaja? Alibinya admin ada banyak? Di akhir chat doi yang masuknya langsung banyak itu, doi bilang kalo menunggu responku, eh sampe skrg chatku ga di-read dong wkwk. Hmm, mari menghela napas saja~

Ah ya, begitu masalah ini kuceritain di igstories banyak yang bilang, “sabar, pahalamu banyak”. Mennn, bukan perkara pahala, dan engga semua hal harus dihadapi dengan cara mendiamkan aja, sabar engga selamanya diam, kan? Ini lebih kepada harus ada yang menghentikan kegiatan seperti ini, biar plagiasi engga semakin merajalela. Yang dirugiin engga cuma yang karyanya dicopas soalnya. Sekarang gini deh, yang karyanya dicopas engga semuanya punya keberanian untuk nyari bukti dan ngasih bukti-bukti itu dan menuntut. Engga kehilangan apa-apa emang, tidak sampai merugikan dalam hal materil kalo diliat, tapi dari moril, ada yang bisa menjamin kalo orang ini akan tetep mau berkarya? Kalo abis dicopas dan tau karyanya dijadikan buku, siapa yang bisa menjamin orang ini akan tetep pede nge-share tulisannya di socmed kepunyaannya? Sedangkan doi juga engga sepede itu untuk ngirim naskahnya ke penerbit. Materil engga dirugiin? Masa iya? Si tukang copas yang membukukan tulisannya ini dapet royalty loh, dapet DP loh, coba kalo si yang dicopas nerbitin buku sendiri atas karyanya, royalty dan DP itu masuk ke koceknya~

Nih ya, ini edukasi sebenernya, untuk siapapun yang merasa karyanya dicopas bahkan sampe dikomersialkan dan lo punya bukti kalo itu karya lo, jangan diem aja, jangan takut, Indonesia punya hukum kok atas hal itu. Lo dirugikan dan lo punya peran besar untuk menghentikan plagiasi.

Janpi pribadi, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pembaca, followers dan siapa pun itu yang peduli pada karyaku dan karya orang lain serta bersedia untuk memberitahukan akun-akun yang hobi ngecopas tanpa mencantumkan sumber asli kepada pemilik asli tulisan. Sekali lagi, peran serta pembaca buatku adalah segalanya. Next, aku akan cerita seputar buku “Sebatas Mimpi” yang membuatku semakin peduli dengan dunia kepenulisan~

Salam hangat tapi bukan karena amarah,
Hujan Mimpi

*nb: janpi engga pernah minta tolong untuk reblog postingan, tapi kali ini, mau minta tolong share tulisan ini–entah dengan reblog atau share linknya, terserah, bebas. biar orang lain di luar sana tau, kalo menghargai karya orang lain itu perlu. dan kegiatan copas mencopas apalagi untuk tujuan komersial sangat bisa diperkarakan. makasih banyak kelean :)

10 Hal Yang Saya Pelajari dari Buku The Airbnb Story

Saya baru selesai membaca buku The Airbnb Story yang ditulis editor Fortune, Leigh Gallagher.

Judul lengkapnya The Airbnb Story: How three ordinary guys disrupted an industry, made billions, and created plenty of controversy.

Buku ini menceritakan perjalanan Airbnb, sebuah platform digital yang menghubungkan jutaan tempat tinggal dengan para traveler. Airbnb memfasilitasi orang-orang yang memiliki apartemen, rumah, bahkan kamar untuk disewakan kepada orang lain; dan memfasilitasi traveler untuk bisa tinggal di berbagai tempat di berbagai kota di seluruh dunia.

Airbnb memudahkan traveler untuk mencari tempat menginap dengan harga termurah atau sesuai preferensi, dan pengalaman yang lebih menarik karena tinggal seperti orang lokal. Saya sendiri pernah menggunakan Airbnb di Bandung, Bali, dan Kuala Lumpur.

Buku ini bercerita tentang perjalanan Airbnb dari sejak trio co-founders memulai di San Fransisco hingga tumbuh menjadi perusahaan global dengan valuasi lebih dari 31 Milyar USD.

Ada banyak cerita menarik dan lessons learned dari cerita Airbnb, dan saya ingin membagikan beberapa diantaranya.

Ini dia 10 poin yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

1. Just Start and Grow

Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharzyk. Trio co-founders ini memulai ide Airbnb bukan dari passion; tapi karena kepepet.

Berawal dari kepepet karena tidak bisa membayar kos-kosan (sebenarnya apartemen, tapi ya kurang lebih sama lah), mereka melihat kesempatan saat mengetahui banyak peserta konferensi desain di San Fransisco yang kehabisan hotel. Akhirnya mereka menyediakan air bed dan menyewakan kamar kosan mereka.

Dari sana, baru mereka melihat peluang penyewaan properti seperti rumah dan apartemen sebagai bisnis. Mereka terus belajar dan mengembangkan platformnya dari sekadar blog biasa (bahkan di awal namanya airbedandbreakfast.com) hingga dikembangkan sebagai platform dengan teknologi kompleks.

So if you have an idea, it’s not gonna be something big when you just start. Just start and grow.

2. The Cofounders: Perfect Triangle

Dalam perjalanan panjang Airbnb sebagai perusahaan, salah satu yang paling mengagumkan dan jarang sekali dimiliki perusahaan lain adalah komposisi unik cofoundernya.

Chesky, Gebbia, dan Blecharzyk adalah tiga orang dengan karakter dan personaliti yang berbeda, dan saling melengkapi satu sama lain. Diantara mereka bertiga; Chesky adalah pemimpin natural, Gebbia adalah otak kreatif + desain, dan Blecharzyk adalah engineer dengan mindset analitik.

Perbedaan karakter ini membuat Airbnb berkembang pesat karena semua pilar diisi expert di bidangnya masing-masing, dan membuat mereka komprehensif dalam menyelesaikan masalah karena punya berbagai sudut pandang.

Salah satu kesalahan umum orang yang memulai startup: tim dibuat dari lingkaran pertemanan. Akibatnya, seringkali tim tidak efektif karena diisi oleh orang-orang dengan karakter dan keahlian yang sama.

Cofounder Airbnb justru menunjukkan sebaliknya; perbedaan karakter akan membuat tim sangat solid dan cepat berkembang.

3. Shameless in Learning

Ketiga cofounder Airbnb adalah pemula saat memulai. Apalagi sang CEO, Brian Chesky, yang saat memulai Airbnb bisa dibilang belum punya pengalaman kerja yang mumpuni.

Tapi kekurangan itu justru diakuinya sebagai keuntungan terbesarnya.

“Karena saya banyak tidak tahu, saya jadi tidak tahu malu saat belajar”, kata Chesky. Dia tidak malu untuk datang ke berbagai sumber; membaca buku, mendatangi mentor dan pengusaha senior, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol dan bertanya apapun yang harus dia pelajari.

4. Learning Fast By Going to One Source

Airbnb tumbuh sebagai perusahaan dengan sangat cepat, yang berarti Chesky sebagai pemimpin juga harus belajar dan bertumbuh dengan sangat cepat.

Dalam dunia startup dan bisnis pada umumnya, salah satu metode belajar adalah mendatangi pebisnis senior yang sudah berpengalaman.

Dalam hal ini, Chesky mengembangkan metode belajarnya sendiri yang disebut Going to The Source: alih-alih datang ke 10 sumber dan menyimpulkan nasihat mereka semua, lebih baik habiskan setengah waktu untuk mencari satu orang yang paling relevan, dan hanya datang ke orang itu.

Chesky belajar dari banyak pebisnis; bisnis global dari Warren Buffet, desain dari Johy Ive (Apple), manajemen dari Bob Iger (Disney), ekspansi internasional dari Sheryl Sandberg, dan masih banyak lagi.

Find your most revelant mentor, and go ask for his/her advice.

5. Go With Mission

Airbnb adalah salah satu bisnis yang bergerak dengan misi. Misi Airbnb tercetak jelas dalam logo dan slogan mereka: Belong Anywhere.

Mereka ingin menciptakan dunia dimana semua orang bisa merasakan menjadi bagian dari masyarakat, tempat, dan cinta, dimanapun mereka berada.

Meski bisnisnya bergerak di bidang properti, tapi misi belong anywhere menggerakkan semua orang yang terlibat dalam Airbnb untuk bergerak lebih dari sekadar motif uang. This makes them go extramile, and create an extraordinary impacts.

6. To Scale, Do The Unscalable

Menumbuhkan skala bisnis (to scale) adalah tantangan besar sebuah bisnis.

Airbnb sempat mentok pertumbuhannya. Saat Chesky dkk. melakukan analisis, ternyata pengguna mereka pada saat itu tidak bertumbuh karena foto-foto properti yang ada di listing mereka tidak menarik.

Chesky turun sendiri mendatangi rumah-rumah yang disewakan dan memberikan jasa fotografi gratis. Beberapa orang bahkan tidak tahu bahwa Chesky yang saat itu turun sendiri adalah CEO nya. Setelah list itu memiliki foto-foto yang bagus, barulah pengguna Airbnb bertumbuh pesat.

Untuk bertumbuh, terkadang kita harus melakukan hal-hal yang unscalable alias merepotkan dan butuh effort besar, tapi tetap harus dilakukan.

7. Recruit The Best Talent

Di dunia startup, tim adalah koentji.

Chesky punya concern besar terhadap tim, apalagi anggota tim di awal perusahaan. “Tim di awal seperti menanamkan DNA perusahaan”, kata Chesky.

Karenanya, dia juga memastikan 300 karyawan pertama diwawancara secara langsung oleh Chesky, untuk meyakinkan bahwa semua anggota tim memiliki visi dan value yang sama.

Hasilnya, tim dengan visi yang sama membawa Airbnb melesat dengan cepat.

8. Disruption Always Get Rejection

Inovasi besar selalu mendapatkan perlawanan. Setidaknya di awal.

Hal ini mudah dipahami mengingat inovasi selalu merupakan perlawanan pada status quo, sehingga orang-orang yang sudah berada di zona itu pasti terganggu.

Dalam kasus Airbnb, model bisnisnya “mengganggu” jaringan hotel besar, pengelola apartemen, dan tentu saja pemerintah sebagai regulator.

Airbnb mendapat penolakan di banyak kota, bahkan di kota besar seperti New York dan tempat asalnya sendiri, San Fransisco.

Jika kamu punya ide yang tertolak, mungkin perlu berbaik sangka karena semua inovasi besar selalu dapat penolakan. Tinggal bagaimana kita terus maju dan meyakinkan bahwa inovasi kita membawa manfaat dan dampak.

9. Bigger Size = Bigger Problems

Ukuran yang membesar tidak membuat Airbnb selesai dengan masalah.

Justru semakin besar ukurannya, semakin besar pula tantangan dan masalah yang mereka hadapi.

Di awal, Airbnb berjuang dengan masalah bagaimana caranya menumbuhkan pengguna. Setelah membesar, mereka berkutat dengan ekspansi dan adaptasi ide Airbnb ke berbagai kota. Lalu mereka mendapatkan masalah besar dari pemerintah dan jaringan pengusaha properti di New York. Belum selesai dari itu, mereka juga mendapatkan isu negatif tentang rasisme di platform Airbnb.

Chesky pernah bilang, semakin besar perusahaan mereka, semakin banyak pula yang terlibat dan semakin besar pula tantangan mereka.

Bersiap hadapi tantangan yang lebih besar seiring pertumbuhan perusahaan/ide kita yang semakin membesar.

10. Be A Cockroach

Salah satu cerita paling legendaris dari Airbnb adalah saat mereka menjual sereal Obama O’s dan Cap’n McCains.

Tahun 2008 saat pemilu Amerika berlangsung, Chesky dkk. yang saat itu masih kesulitan menumbuhkan Airbnb dan hampir kehabisan uang justru memiliki ide gila. Mereka belum bisa mendapatkan banyak uang dari penyewaan properti, jadi mereka bertaruh di hal lain; mereka menjual sereal dengan gimmick politik.

Mereka membeli seral kiloan, lalu dibungkus dengan packaging berjudul Obama O’s dan Cap’n McCains yang dijual seharga 40$. Ide ini viral dan habis terjual, hingga mereka berhasil mengumpulkan 30.000$ yang memberi mereka nyawa lebih untuk mengembangkan Airbnb. Meskipun yang mereka lakukan justru tidak ada hubungan langsung dengan model bisnis mereka.

Saat Paul Graham (Y Combinator, inkubator yang memberi pendanaan awal untuk Airbnb) mendengar cerita ini, dia langsung yakin pada Chesky dkk.

“You guys are cockroaches”, kata Graham. “You just won’t die”.

So lessons learned: pertahankan ide dan bertahan hidup dengan cara apapun. 

Jadilah kecoa.



Itu dia 10 hal yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

Masih banyak cerita menarik lain di bukunya. Dan juga banyak video cerita Airbnb di berbagai talks di Youtube. Berikut beberapa diantaranya:

  1. The Airbnb Story - Startup Founder Biography
  2. Brian Chesky - Launching Airbnb and the Challenges of Scale
  3. Joe Gebbia - How Airbnb Design for Trust
  4. Nathan Blecharczyk - The real story about how Airbnb was founded

Semoga menginspirasi.

Salam kreatif!