~lah

HADIAH YANG TERTEBAK

“Ah, gapapa bajunya ngetat. Yang penting kan udah pake kerudung”

“Nanti lah pake kerudung lebar mah, kalau ilmu agamanya udah mantep.”

“Aku gak cocok kalo pake yang lebar gitu, aku bukan ukhti-ukhti gitu, cewek biasa aku mah”

Semoga kisah ini bisa memberikan gambaran bagi teman-teman akhwat yang senang berpakaian ketat.

Sore itu begitu cerah. Cahaya matahari senja, masuk ke dalam ruang tamu. Cahayanya jatuh kepada kirana, seorang anak perempuan kecil yang imut, yang sedang asyik bermain dengan mainannya di atas karpet.

“Bu, besok kan hari ulang tahunku. Ibu sudah menyiapkan kado belum?” Kirana memandang ibunya yang sedang duduk di sofa, sambil memegang boneka beruangnya.

“hahaha, nak. Pintar sekali kamu. Sebentar yah.” Ibu berdiri, seraya masuk ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, ibu kembali, membawa 2 buah bingkisan.

“Ini nak, ibu sudah menyiapkannya untukmu. Tapi baru boleh dibuka besok yah.” Ibu tersenyum, sambil kedua tangannya memegang hadiah ulang tahun kirana.

Kirana memandang hadiah itu dengan penuh rasa penasaran, dan lalu “Ah, ibu. Aku bisa menebak hadiah ibu. Itu kan jerapah-jerapahan ya bu?”

Ibunya terkaget, kirana bisa menebak salah satu kado ulang tahunnya besok.

“Kok kamu bisa tau nak?” Ibu heran.

“Yaiyalah bu, kadonya udah keliatan bentuknya bu, ketebak kalau itu isinya jerapah. Pintar kan aku yah bu?” Kirana bangga, sambil menepuk-nepuk dadanya.

“Hmm, kira-kira jerapahnya warnanya apa yah? Mukanya kayak gimana yah? Hmm, ah, aku tidak sabar membukanya besok” Kirana tersenyum sembari berimajinasi tentang hadiahnya, karena dia tau belum saatnya dia membuka kado tersebut.

Ibu menggelengkan kepala, tidak menyangka anaknya bisa menebak hadiah tersebut. Ibu memang sadar, kalau kadonya itu memang mudah ditebak. Karena memang saat membungkusnya, ibu kekurangan bungkus kado, sehingga ibu hanya sekedar menutup hadiahnya sealakadarnya, yang penting tertutup.

“Ibu, kalau yang ditangan kiri ibu, itu apa?” Kirana bertanya sembari menunjuk kado yang dipegang oleh tangan kanan ibunya.

“Oh, ini? Apakah kamu bisa menebaknya?” Tanya ibu pada kirana.

Kirana mencoba memandang hadiah yang dipegang ibunya. Seberapa kali pun Kirana memandang hadiah tersebut, kirana tak bisa menebak hadiah tersebut. Berbentuk box, berbeda dengan hadiah sebelumnya yang nampak jelas bentuknya.

“hmm, Boneka ya bu? Hmm, atau permen? Hmm, atau alat gambar ya bu?” Kirana menjawab asal-asalan.

“hahaha, bukan kirana. Ternyata kamu enggak tau ya?” Ibu nya tertawa, sembari membercandai kirana.

“Ia bu, aku gak bisa nebak. Bentuknya gak keliatan. Cuman kotak besar saja.” Kirana menjawab candaan ibunya.

Ibu kembali tersenyum. Ibu senang, Kirana tidak tahu tentang kado yang akan dia dapatkan besok. Ibu tahu kirana takkan bisa menjawabnya, karena ibu membungkus kado itu dengan bungkus kado yang sangat banyak, dan ibu menutupnya dengan box besar, sehingga tidak nampak bentuk aslinya. Karena hal tersebut juga, ibu jadi kekurangan bahan untuk membungkus kado jerapah Kirana.

“Yasudah nak, tenang, nanti juga kamu akan dapat kok. Tinggal menunggu waktunya saja. Nanti kalau waktunya udah pas, kamu boleh buka hadiahnya ya besok” Ibu tersenyum

“Iah bu, siap!” Kirana menjawab sambil mengangkat tangannya, melakukan gerakan hormat, seolah ibunya adalah Panglima perang besar yang siap memerintah.

Ibu tertawa melihat kirana, kirana pun tertawa karena melihat ibunya yang tertawa. Sore itu, matahari begitu hangat, tapi suasana keluarga itu jauh lebih hangat.

Setiap wanita adalah hadiah terindah bagi pasangannya. Dan banyak dari kita, yang kadang lupa, bahwa perintah menutup aurat datang bukan untuk memberatkan, tapi untuk menjaga kemuliaan wanita.

Kisah ini bukan hanya untuk wanita, pun untuk pria yang senang berpakaian minim.

BINGKISAN YANG TERTEBAK
Bandung, 28 Maret 2019

Melangkahlah

Hidup adalah sebuah perjalanan. Yang setiap harinya seharusnya menjadikan kita pribadi yang baru, yang lebih baik dari hari kemarin. Bukankah katanya seseorang yang bermanfaat adalah dia yang hari ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tidak ada manusia yang jahat. Perlakuan, sikap dan penilaian orang lain lah yang membuat dia dinilai jahat. Tapi seseorang yang merasa dirinya belum baik pasti tidaklah mungkin dengan mudah menilai orang lain.

Masa lalu orang berbeda-beda dan jangan lihat seseorang dari masa lalunya. Lihatlah bagaimana saat ini dia belajar untuk menjadi pribadi yang baik sebab jalan menuju-Nya itu tidak mudah namun indah, penuh cinta.

Dan dia yang sudah kau anggap baik itu bukanlah seseorang yang sempurna. Suatu waktu pastilah dia bisa melakukan sebuah kesalahan, entah itu akan melukai orang lain atau tidak. Tapi jika dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf, maka maafkanlah.

Isi hati manusia hanya Allah yang tahu.

Maka ringankanlah kakimu menuju-Nya. Maka ringankanlah hatimu menerima segala kehendak-Nya.

Jika kamu ada di jalan yang benar menuju Allah, berlarilah. Jika itu berat untukmu, berlari-lari kecil lah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Dan jika kamu tidak bisa, merangkaklah, tapi jangan pernah berhenti ataupun berbalik arah. -Imam Syafi'i-

Akhir Maret 2017
Elsa yang sedang waras

a-non-sequitur replied to our post: “Anyone else obsessed with Partisan Jyn…”

My partisan!Jyn feelings are absurd in their size. And the novel gives us ALL THESE TINY HINTS without concrete details, and I’m just all *grabby hands* APPARENTLY a prequel book on Jyn’s pre-rogue one life is supposed to be published this may.

I read about that and a looking forward to getting my hands on a copy! It’s such a formative period, and I’m itching to see (1) Jyn making friends or something like that because guys, has Jyn ever really had friends before Rogue One? She was born in a prison and more or less held hostage by the Empire when her family was “rescued” by Krennic, then the Ersos escaped to Lah’mu and like NO ONE else lived around them. Beeny was her only friend there it seems (I still have to read Catalyst, so someone correct me if I’m wrong); (2) Jyn learning how to fight from Saw Gerrera; and (3) to see the belief and fervor that made Saw declare her, at 16, the best fighter amongst the Partisans and then the subsequet (4) abandonment and how that changed her.

Oh my god, this took forever to make..
But here are some of the Sonic females I could remember on spot.

Okay guys cun lah hari ni gua rasa paling happy sbb skandal aku ni dah setuju untuk gangbang dia ramai2, so siapa yg betul2 serius n minat je pm aku cpt, yg main2 aku xlayan.awek ni mmg terbaik mak org anak 3 dah tapi kemut mmg dasyat. Diulangi pm aku cpt ye!

Get ready game mlm ni hehe mmg kaw lah aku henjut kau .. Servis minah ni mmg terbaik ..nanti kalau aku baik hati aku post video main dgn dia hehe

6

Jyn Erso + Losing Her Parents

The first time Jyn had been orphaned was on a farm on a shoreline of the planet Lah'mu. She had seen her mother shot by a death squad and watched her father surrender to the man responsible. Abandon her to a soldier he barely knew. The second time had been in the deserts of Jedha when she had seen the man who raised her, the man who had taught her everything, who she hated more than almost anyone buried beneath a mountain after being nothing but kind. Or as kind as he knew how to be.

Ingatlah, pelabuhan selalu lebih kuat dibanding kapal-kapal yang merapat
— 

Ada kapal yang hanya datang dan pergi tanpa peduli, ada yang pernah singgah menetap namun hanya sementara, lalu ada juga yang datang membawa masalah lantas pergi dan tak pernah kembali

Benar, mereka semua pasti membawa dan menyisakan sebuah kenangan tersendiri, namun semuanya hanya masalah waktu untuk memaknai arti kedatangannya

Yakini saja bahwa pada akhirnya akan ada kapal yang akan menambatkan dirinya sendiri untuk selama-lamanya, untuk menyelesaikan pelayarannya, menghentikan pencariannya, karena memang pelabuhanmu-lah tujuan utamanya selama ini

Jadi, tetaplah menjadi kuat dan terus mempersiapkan serta memperbaiki diri, karena bisa jadi kapal itu sudah mulai dekat?

Kadang saya menceritakan mimpi saya pada orang lain, berharap dia turut mendoakan. Tapi kadang mendapat pendapat sinis yang meruntuhkan semangat, bahkan dari orang - orang terdekat. Maka, seringnya saya menyimpannya dalam diam.
—  Walaupun saya tahu, Allah lah yang menggenggam mimpi, bukan mulut - mulut sok tahu. Dan pengalaman mengajarkan pada saya, ikhtiar maksimal dan keyakinan penuh akan mendapat bantuan Allah dengan utuh. Yes I have those experiences, many times, in every part of life.
2

Disebabkan mood aku baik hari ni so aku belanja followers aku id wechat salah seorang skandal aku ni a.k.a bini org beb . Hehe ni jenis girls yg suka mkn luar beb , biasalah dpt suami yg xpndai lyn isteri ni lah jadinya , so pandai2 lah korang ayat okayy n pandai2 ejas kalau dia tanya mana dpt id huhu gudluck

What gets me about Jyn’s arc is that it’s in some ways the exact opposite of the typical hero’s story, particularly the stories shown in Finn and Rey and Luke. Those stories are all about gain, and about finding your own, individual, importance. Jyn’s story is all about LOSS, and ultimately realizing that she is a part or a wider world- that by becoming part of a group for a good cause, rather than (realistically) focussing only on herself, she becomes more. 

    Jyn starts out with absolutely everything. She’s the daughter of wealthy scientist parents on a core world. They adore her, dote on her, spend time with her. She wants for nothing. 

    But her parents have to go on the run to Lah’mu. It’s a difficult change, to be sure- from urban center to middle of nowhere. And she has to work for her livelihood. But her life is still fun and livable. Her parents make sure she has plenty of luxuries and awesome toys. 

  But then the Empire comes for her parents. She loses her doting parents and the life they had in a single day, with her mother gone and her father as well as dead. But she still has a home, of sorts, with Saw Gerrera. It’s a difficult life- the extremist’s base is often lacking in basic necessities, and Jyn doesn’t exactly have anyone watching out for her anymore. But there’s a place with a fire and a hot meal and sleeping cot, and Saw Gerrera to watch out for her. 

    But then Saw Gerrera abandons her, and at sixteen she has to fend completely for herself. She’s lost almost everything, but at least she still has her independence, her mother’s kyber necklace. She can still watch twin suns rise and breath fresh air and decide the way she goes in the galaxy. But her life is almost impossible. To simply live, she has to lie, steal, cheat, and deceive on a daily bases. She forges imperial documents, pretends to work in Imperial facilities for the mess halls and showers. She steals property off of people who will probably have a difficult time replacing it. She resists arrest. 

   But then Jyn gets caught. It’s a minor slip up, caused by hunger and exhaustion. As she waits in Imperial processing in Wobani, Jyn thinks that this is probably OK. At best, she’ll have some kind of food and place to sleep. At worst … well what does her life mean to the galaxy anyway? She’s out of friends. Though she has never been much for the force, she prays for her end anyway. She has lost absolutely everything, even her freedom, even her freaking name. 

     When the rebellion rescues her, all Jyn can think about is escape. She’s long stopped caring about what the rebel flag stands for. All the rebellion reminds her of is Saw Gerrera, of the sounds of informants whose minds he scrambled for information that she used to hear from the cell. All she wants is a way out of this mess, and maybe … maybe find out about what her father has been doing all of this time. 

     But Jyn realizes that the rebellion stand for more than that. She realizes it in her growing relationship with Cassian Andor, but also in herself and the group of friends she’s found. The rebellion is more important than her individual safety, and though she has had the luxury of remaining uninvolved, staying neutral has only hurt her. Jyn starts to think of the kind of future she wants for herself, and for the world. Her life doesn’t mean much, but if could mean a whole lot more in this rebellion. 

   Ultimately, Jyn’s death hurts because it’s located at the end of her downward spiral. Her life has finally started to improve. She has a place in the world, friends, a sense of herself, a mission. Most importantly, she sees a home she’s started to rebuild. She knows she can now find a bed, a hot meal, comrades at the Rebel Base. And then there’s whatever she has with Cassian. Maybe . .. maybe it can become something more. 

    Jyn makes the ultimate sacrifice, and it’s telling that she’s smiling as she goes. The galaxy told her that she was worth nothing, so she told herself that her survival was worth more than anything else. Now she’s started to finally find a balance and a hope, and her life can finally be worth something to someone else. 

Semoga Dapat Yang Terbaik Ya
— 

Hmmm …. sampai saat ini saya masih selalu gemas ketika ada seseorang mengucap atau menuliskan permohonan macam itu, entah untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Kalimat itu selalu membuat saya gregetan dan pengin bilang; Emang kapan Allah enggak ngasih yang terbaik!?

Entah logika saya yang keblinger atau saya yang berlebihan, tapi menurut saya, permohonan macam itu justru menunjukan barangkali ada sebagian hati kita yang tidak benar-benar yakin bahwa Allah-lah sebaik-baik peramu kehidupan.