~lah

ISA - Heigilah “Lah” al’Haven

// Basic Information //

As a teenager, Lah left home for a revolution that didn’t exist. Now, she struggles for purpose and to determine what her convictions are worth.

Full Name: Heigilah al’Haven
Nicknames: Lah
Age, Height, Weight: 24, 5′2, 115 lbs.
General Physical Description: Dark, loosely curly hair typically held back by a braid pulled over one shoulder. Pale skin with warm undertones, green eyes.
Distinguishing marks: Stick-and-poke tattoos between her fingers, so green and blurred that it’s impossible to distinguish what they were supposed to be. She tries to cover them with plain but bulky silver rings.
Orientation & Relationship: Straight, in an undefined but deeply committed thing with Kaiden Blackwell (@kaidenblackwell).
Known Affiliations: Employee of Steelgrove Syndicate, sometimes found working or drinking at The Brig.
Family Ties: She’s been out of contact with her parents for years. Lah has no biological siblings, but she thinks of her childhood friend Khalid as a brother.

// In-Depth Knowledge //

Personality Strengths:  Empathetic, observant, principled, loyal
Personality Weaknesses: Stubborn, impulsive, overzealous/idealist
Personality Synopsis: Lah is a revolutionary at heart, driven both by her beliefs and her loyalty to those she considers “her people.” While time and experience have taught her to carefully cultivate a neutral exterior, it’s a constant battle, sometimes unsuccessful, between the inherent strength of her feelings and learned caution.
Education: While she was tutored in academics and etiquette as a child, Lah hasn’t received any formal education since leaving home at fourteen.
Upbringing: As a girl in Kul’Tiras, her merchant father had high hopes for her upward social mobility, and her soldier mother just wanted to raise her on the straight and narrow. She likes to say she found a way to disappoint both. After Lah and her father followed her mother to Theramore, her mother’s promotion and her father’s grief over losing his business left her with ample unsupervised time. She found a group of Tirasian kids to run around with—the same group that would eventually latch on to big ideas about revolution, and run away to Westfall to find it.
Primary Motivators: Conviction and community.
Emotional Disposition: Cautiously warm, impassioned, conscientious.
Interesting Facts: The grumpier and more disinterested an animal, the more she loves it (from a safe distance).

// RP Interests & Hooks //

Camaraderie: Lah loves meeting others with a revolutionary bent, whether it’s to discuss philosophies or swap stories. Conversely, she’s deeply suspicious of anyone with a stake in maintaining hierarchies, particularly nobles and wealthy merchants.   
Westfall: For roughly five years, Lah lived in Westfall camped out with a small pack of Tirasian kids with big (and unsuccessful) ideas for changing the world. Their smaller efforts, aiding the poorest Westfall communities via legitimate and not-so legitimate means, were at least temporarily helpful. She traveled the province extensively and met a number of people in her time there. If you have a character based in or who spent time in Westfall, they could very easily have been acquainted!
Friends from the Motherland: Kul’Tiras is her birthplace and in her blood. She gets excited to meet her countrymen, and especially to speak Tirasian. (It’s a personal headcanon that Tirasian is basically Azeroth’s Dutch, spoken by natives but in addition to Common rather than instead of it. It is, after all, a trading nation, and who’s going to bother learning Tirasian?) She loves hearing tales about the homeland, but also loves any stories from sailors and seafarers, Tirasian or not.
Con for Hire: With a versatile face, a subtle hand, a keen eye, and a talent for lying, Lah’s strength is liberating information and valuables from targets. Fighting, however, is not in her wheelhouse, and she’s well aware that the only way she’s winning one is with the element of surprise and a stroke of luck. 
OOC Notes: I’m open to pre-established relationships or new ones, friendships, business partnerships, family connections, pretty much anything aside from romance. I really like the idea of getting some adversarial relationships going!

(Tagged about a million years ago for this by @vinarei! Thank you!)

Menyesal… Iya… Maksudku menyesal mengapa aku lebih berharap pada mu sedang kan bagiku cukup Allah lah tempat ku berharap. Bukan menyesal karena mengenalmu.

Jadi, jangan suka berpikiran negatif dulu ya… Karena aku takan pernah mengatakan kata “sesal” selama mengenal mu.

Kedua orang tua saya bekerja sejak saya bahkan belum lahir. Dulu, saya sering dirumah sendirian dan kesepian. Dulu saya iri kalau main sore ibunya temen-temen saya nungguin sambil bawa kue arisan, sedang ibu saya pulang kerja sore hari bawa berkas lemburan. Kakak-kakak saya usianya agak jauh dari saya sehingga ketika saya kecil mereka sudah remaja, lebih suka dikamar saja dibanding dengerin saya ngoceh-ngoceh ngga jelas.

Kesepian itu yang membuat saya bercita-cita jadi ibu rumah tangga. Banyak berada dirumah dan menjadikan hati saya menjadi taman kecil untuk keluarga. Saya ingin menjadi seseorang yang mendengar tangisan dari mata yang bening itu, menjadi jari yang digenggam pertama kali oleh tangan-tangan kecil mereka, yang dicintai ketika ada dan dirindukan setiap hari. hal yang tak mudah, karena sekarang saja kalau diam dirumah lebih dari 2 hari, saya dah ga betahh, pingin ngapain gitu lah..

Kata orang, untuk apa jadi sarjana jika hanya menjadi ibu rumah tangga?

Bagi saya, untuk apa jadi sarjana jika tidak jadi ibu rumah tangga? * plis kecuali kamu bapak-bapak

| Rilis A. 21/01/18. foto sama bayi bermantel hermes 😂

3 things nobody knows about me.

Firstly, aku tak suka dipaksa. Fullstop. Once I said no means no. So degil ish. Tapi hati aku takde lah keras sangat, taklah kejam sangat. aku cuma perlukan ruang, masa untuk aku adapt dan hadam dan pujuk hati sendiri bila dengan sesuatu yang aku tak suka. Kadang benda-benda macam ni boleh bincang sebenarnya tapi sebab sebelah pihak je yang rasa dia betul nak semua benda aku ikot, bila aku suarakan reason aku takde sapa nak dengar so aku macam lantak ko lah nak paksa-paksa aku memang takkan ikut.😌

Second. Tak tahu lah kenapa dalam sebulan, mesti akan ada satu dua hari yang aku akan moody giler giler dan menangis puas-puas sampai sakit.🤷🏼‍♀️ Yes nak pulih balik take time. Kalau marah pun yang aku cuma mampu menangis sebab bila bersuara lagi sakit hati dan aku tahu aku takkan menang (that time jangan ada yang tegur aku tolonglah paham. Jangan bagi aku driving sebab aku akan bawak laju gila babi sampai dah tak pikir keselamatan semua lantak ah baik aku mati je. Biasalah orang tengah marah kan) So bila lepastu baru aku rasa lega, rasa dah lepaskan semuanya dan waktu tu aku kutip balik satu persatu kekuatan aku yang hilang. Rasa diri useless sangat.🙂

And last but not least, aku taktau lah aku sorang je ke yang ada penyakit ni. Selalu rasa menyesal dengan apa yang dah jadi, rasa berdosa padahal benda tu tak berdosa pun. Aku akan step back pikir banyak kali apa yang aku buat or cakap tu actually betul ke salah sampai kadang-kadang aku salahkan diri sendiri walaupun sebenarnya kalau orang lain tengok betul lah apa yang aku buat tu. Tapi ntah lah kadang-kadang sampai hati aku sakit, kepala sakit sebab asyik pikir perasaan orang lain dan benda yang dah lepas tu buatkan aku menyesal. Aku rasa macam hidup ni takde makna dah. Tapi aku usaha lawan suara-suara halus tu. Benda ni dah lama berlaku. Tapi aku baru perasan seminggu dua minggu yang lepas. Sebab makin lama aku rasa makin worst. Korang pernah dengar Existential Crisis? Taktau pi google.

Cukuplah benda-benda ni dah membangangkan diri aku. Rasa macam bodoh pi cerita kekurangan sendiri lol. Orang lain mungkin nampak aku ok. Tapi biarlah aku dah penat struggle sorang-sorang.

Al Quds, Palestina, dan Sudut Pandang yang Perlu Dibeningkan

@edgarhamas | edgarhamas.tumblr.com

(disampaikan dalam Agenda Diskusi Online yang diadakan oleh FSLDK Surabaya Raya | Selasa, 12 Desember 2017)

Baitul Maqdis, atau Al Quds, atau Elia Capitolina ketika berada di bawah kekuasaan Romawi, bukanlah sekadar sebuah kota. Lebih dari itu, dia adalah ruang dimana banyak peradaban bertemu, banyak ide-ide dan gagasan beradu, dan bersinggungan di atasnya banyak sekali kekuatan. Tidak salah jika seorang ilmuwan muslim, DR Muslih Abdul Karim mengutip perkataan Ulama, bahwa palestina yang di dalamnya ada Al Quds adalah “Ummul Ma’arik”, Mother of Battles, Induk peperangan.

Nah, pada kesempatan kali ini, izinkan saya membagi pembahasan menjadi tiga titik besar. Pertama; adalah perlunya kita untuk membeningkan sudut pandang kita dalam melihat Palestina. Kedua; sebagaimana tema berbicara, kita akan membahas situasi terkini Al Quds secara khusus, palestina, dan dunia Arab secara umum yang menjadi latar konflik. Dan ketiga; kita perlu untuk melihat akan berbagai kemungkinan yang akan terjadi setelah Trump mengumumkan dukungannya tehadap Israel untuk menjadikan Al Quds sebagai ibukota.

Pembahasan Pertama; Membeningkan Sudut Pandang

Apa itu Al Quds? Itu pertanyaannya. Jangan pernah membahas jauh-jau tentang satu masalah yang padahal kita tak mengerti apa hakikat permasalahan itu.

Teman-teman sekalian, Al Quds memiliki banyak sekali nama. Orang Yahudi dan Nasrani menyebutnya sebagai Jerusalem, dan umat Islam menyebutnya sebagai Baitul Maqdis atau Al Quds. Semua nama sangat berarti, dan kesemuanya sepakat bahwa kota ini adalah merkusuar penting bagi tiga agama langit. Dalam perspektif Yahudi, disinilah Nabi Sulaiman membangun Haikal (kuil). Bagi Nasrani, disitulah tempat Yesus Kristus disalib. Bagi Umat Islam, disanalah Nabi Muhammad ﷺ berangkat menuju langit ke tujuh dalam agenda agung berjudul Isra’ Mi’raj.

Al Quds tidak untuk muslim saja, tidak pula untuk nasrani saja, atau yahudi. Ia adalah hak semua pemeluk agama langit. Namun yang jadi titik penting dalam pembahasan kita adalah; dalam sejarah, kedamaian pemeluk 3 agama ini tidak pernah terwujud kecuali ketika di bawah kekuasaan Muslim. Ini bukan sebuah klaim. Ini adalah fakta sejarah. Saya mengatakan ini bukan karena saya muslim, melainkan karena sepanjang referensi baik Barat maupun Timur, semuanya bersaksi bahwa Palestina secara umum, dan Al Quds secara khusus hidup dalam harmoni di bawah pemerintahan islami.

“A people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots”

(Masyarakat tanpa pengetahuan tentang sejarah, asal dan kultur mereka, ibarat pohon yang tidak berakar), kata Marcus Harvey.

Apa yang membuat Al Quds penting?

Pertama, karena disanalah sentral pertemuan dari 3 benua. Asia, Afrika dan Eropa

Kedua, letaknya yang strategis membuat para penguasa ingin sekali menguasainya. Itulah mengapa sudah sangat terkenal kaidah geopolitik yang berbunyi, “siapa yang menguasai palestina, maka ia akan menguasai dunia.”

Ketiga, dan ini yang paling penting, tempat ini menjadi “pusat” tiga agama langit. Dan ini sangat berhubungan dengan iman. Bukan masalah politik atau militer. Keimananlah yang menjadikan kota ini benar-benar bermakna. Bahkan sampai-sampai tokoh zionis Yahudi, Benyamin Disraeli berkata, “The view of Jerusalem is the history of th world; it’s more, it is the history of earth an heaven.”

Bayangkan saja, logikanya, bagaimana mungkin tanah kecil yang tak sebesar Jawa Barat (Palestina seluas 26.990 km², dan Jawa Barat seluas 37.174 km²) bisa menjadi titik penting yang selalu penuh dengan pergulatan kekuatan dunia? Sebab yang dicari bukanlah luasnya, bukanlah kekayaannya, namun karena kedudukan dan pengaruhnya.

Itulah mengapa, dari sini kita perlu memahami, bahwa permasalahan Al Quds bukan semata-mata masalah politik. Dia adalah masalah peradaban yang sangat-sangat kompleks. Tidak akan bisa saya menyebut seluruh hakikat tentang Al Quds dan palestina hanya dengan pertemuan online 2 jam-an ini. Maka akan saya sampaikan saya garis besarnya.

“Sebab Al Quds, adalah masa lalu, masa kini dan masa depan kita”, kata salah seorang pemimpin perjuangan Rakyat Palestina di jalur Gaza.

Pandangan Masing-masing Agama Secara Ringkas :

YAHUDI : memandang bahwa Al-Quds adalah ibukota mereka, tidak ada yang berserikat dengan mereka walau satupun, sebagaimana pendiri Zionis, Mandell Slair berkata, “kalian menanyakan padaku apa keinginanku, maka Aku menjawab, bahwa keinginanku adalah Yerusalem. Kalian bertanya padaku, maka aku menjawab; Haikal, dan ia adalah sesuatu yang hilang dari kita. Apa yang kita anggap benar, adalah apa yang akan kita perjuangkan untuk meraihnya. Ialah negeri kita yang indah, keyakinan kita yang disucikan!”

NASRANI : Kaum Kristiani memandang Palestina sebagai ikatan keyakinan, yang membuat mereka berkumpul dari saentero negeri untuk menziarahi Baitul Lahm (Bethlehem) di selatan Baitul Maqdis , dikatakan bahwa tempat tersebut merupakan maskot Yesus Kristus, sebagaimana diceritakan dalam Injil Matius halaman 4, dan dinamakan dalam Kitab Suci mereka sebagai “Rumah Daud”

ISLAM : Kaum Muslimin memandang bahwa Palestina, terutama Baitul Maqdis, adalah negeri yang diberkahi, disebutkan berkali-kali dalam Al-Qur’an dan dimuliakan dengan hadist-hadist Nabi Muhammad SAW.

Allah berfirman, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Isra ayat 1)

Masjid Al-Aqsha memiliki keberkahan, begitupula tanah tempat ia kokoh berdiri. Di Palestina lah, terutama di Al-Quds, Nabi Adam alaihissalam membangun pondasi Masjid ini, 40 tahun setelah membangun Ka’bah di Makkah.

Fakta Penting :

Dalam permasalahan Al Quds, kaum muslimin dan kristen banyak sekali bersatu pada dan memiliki keyakinan yang sama, bahwa kota ini untuk seluruh pemeluk agama langit. Namun yahudi tidak. Dalam doktrin mereka yang tertulis di kitab talmud; Palestina adalah ibukota abadi mereka dan hanya untuk mereka, yang lain hanyalah binatang dan bangsa di bawah kendali mereka.

Saat itulah konflik menjadi-jadi.

Pembahasan Kedua :

Situasi Terkini di Al Quds

6 Desember lalu, dunia dikejutkan dengan pernyataan Trump mengakui Al Quds sebagai ibukota Israel. Tentu dunia geger dengan sikapnya yang sangat kontroversial ini. Apa alasannya ketika ditanya, “mengapa anda melakukan ini semua?’, jawabannya adalah; karena demokrasi. Sebab mayoritas kongres AS mendukung ini. Faktanya memang, anggota kongres didominasi oleh mereka yang mendukung kepentingan yahudi. Bahkan bisa dibilang, sebagian besar anggota kongres AS telah dibeli suaranya oleh yahudi.

Awal petaka itu bermula ketika tahun 1995, kongres menyepakati untuk memindahkan kedubes AS dari Tel Aviv menuju Al Quds dan di saat yang sama juga mengakuinya sebagai ibukota Israel. Keputusan kongres tidak dijalani oleh para presiden hingga 20 tahun lamanya, sebab mereka meyakini bahwa kebijakan itu akan merusakn perdamaian duna.

Makanya, Trump mengatakan bahwa para presiden AS sebelumnya adalah pengecut. Ia lanjutkan, Trump malah mengatakan bahwa pemindahan ibukota ke Al Quds adalah hak Israel, untuk kemaslahatan AS dan demi perdamaian. Itulah semuanya, asumsi fana dan perhitungan Trump yang salah fatal. Tak lama setelah itu, banyak sekali telepon dari pemimpin negara di dunia yang mengecam Trump.

Mengapa pemindahan ibukota dari Tel Aviv ke Al Quds adalah ide yang sangat buruk?

Setidaknya ada beberapa jawaban. Pertama, Amerika berati telah merestui israel untuk menjajah teritori yang bukan haknya, sebab Yerusalem/Al Quds adalah tanah yang dilindungi badan Internasional. Kedua, amerika dengan sengaja ingn menyalakan kembali bara api konflik di atas tanah Palestina untuk mencegah palestina merdeka seutuhnya. Ketiga, AS berarti telah mengatakan pada dunia, bahwa ia menjadi rekan israel dalam membantai manusia. Keempat, AS telah memberi lampu hijau bagi Israel untuk mencaplok tanah Palestina. Kelima, memperkeruh sitausi antara dua negara (israel dan palestina). Dan keenam, mengancam kedudukan kota suci bagi tiga agama langit.

Sejauh ini, setelah pidato kontroversial trump, telah gugur 4 orang warga Palestina oleh agresi zionis israel. Ada juga 15 orang yang luka-luka parah karena serangan mendadak israel. Khusus di daerah Gaza, sudah ada 4 orang gugur dan 170 orang luka-luka. (sumber : @PalinfoAr)

Langkah Trump mengakui Al Quds sebagai ibukota israel adalah kebijakan yang aneh. Ini bisa menjadi blunder baginya, bahkan ini ahistoris (tidak sesuai dengan arah sejarah yang terjadi di muka bumi ini). Mungkin ada yang bertanya, mengapa Trump melakukan kebijakan gila ini? Ustadz Anis Matta mengatakan bahwa Trump berusaha mengalihkan isu karena tekanan politik dalam negerinya. Sudah lama Amerika merusak negara lain untuk kepentingan domestik mereka sendiri. Ini tidak adil dan tidak beradab. Di dalam negeri, Trump kehilangan kepercayaannya, maka ia melakukan ‘caper’ untuk menegaskan bahwa dia ada dan kuat.

APA YANG AKAN TERJADI SETELAH INI?

-Keputusan Donald Trump ini akan menjadikan Palestina makin terbakar dengan konflik, sebagaimana saat ini dunia memiliki dua titik merah konflik di Korea dan Ukraina.

-Timur Tengah sudah sangat panas, ada banyak sekali permasalahan yang dibentangkan oleh yahudi dan sekutunya untuk mencegah kebangkitan Islam di tanah Arab. Dengan adalah konflik pemindahan ibukota ke Al Quds, trump telah membuat Timur Tengah menjadi kawasan konfliik paling panas di muka bumi.

-sebenarnya, Trump telah membelah dunia kemudian menjadi dua blok baru; pro-israel atau kontra-israel. Dan akan banyak sekali kepentingan yang bermain untuk memanfaatkan situasi ini guna memukul amerika. Diantaranya, Rusia dan Cina yang kini cenderung berseberangan dengan AS

-di dalam dimensi lain, Trump secara gegabah telah membangunkan singa tidur. Bernama umat Islam. Dan dia akan tahu bahwa umat Islam jika telah bangun dari tidur panjangnya, akan sangat bisa untuk menjadi kekuatan baru dunia yang mengalahkan dominasi AS-Eropa.

APA YANG BISA KITA LAKUKAN UNTUK MEMBANTU TERSELESAIKANNYA KONFLIK DI PALESTINA?

Terdidik, mendidik, itu yang utama. Pembahasan ini tidak cukup sekadar 2 jam. Ini adalah problem yang bisa dikatakan abadi sampai hari kiamat datang. Sebab, silahkan dicek di pengetahuan agama-agama langit, baik Islam, Nasrani, dan Yahudi, meyakini bahwa akhir zaman akan sangat lekat dengan problema Palestina.

Bagi muslim contohnya. Palestina adalah; tempat kejadian akhir zaman akan berada di sana, ibukota negeri Islam akan berada di sana ketika akhir zaman, Dajjal akan dibunuh oleh Nabi Isa di pintu Ludd, yakni di sebuah daerah di Palestina. Ya’juj dan Ma’juj akan datang menyerbu bumi dan akan dimatikan di Palestina. Perang akhir zaman akan terjadi di Palestina.

Akhir Kata,

Ada banyak alasan untuk membela Al Quds dan Palestina. Namun yang paling tinggi di atas semuanya, yakni keimanan. Keimanan lah yang membuat orang Palestina rela bertahan berpuluh tahun lamanya, berbekal kerikil dan pisau dapur, melawan tank Merkava israel dan pesawat siluman F-35 mereka. Keimanan lah yang membuat pemuda Palestina bisa bertahan belajar di reruntuhan puing sekolahnya yang dihancurkan Apache isral.

Tahukah kamu mengapa Nabi-nabi namanya abadi sedangkan nama raja mudah menghilang? Karena di zaman apapun, di periode apapun, agama selalu mengisi pemikiran manusia dan memadukannya dengan ide-idenya, ruang hidupnya, dan usianya.

Membela Palestina bagi umat muslim terutama, adalah “juz’ min aqidah”, bagian penting dari akidah kita. Kamu tahu 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui? Apa yang kamu rasakan ketika saya bilang, 19 dari 25 nabi dan Rasul itu diutus di Palestina!

Itulah segores pemaknaan yang seharusnya membuat kita berdiri tangguh membelanya. Bukan temporal dan bukan reaksioner, namun pembelaan yang diiringi dengan pemahaman dan ilmu. Klaim Yahudi tentang Palestina, semuanya dusta. Akan perlu banyak waku untuk menjabarkannya. Namun satu hal; Yahudi tidak pernah benar-benar ingin kembali ke palestina. Sebab telah termaktub di taurat mereka; bahwa ketika seluruh yahudi berkumpul di Palestina, maka itulah saat-saat menuju kehancuran mereka. Semua ini adalah agenda zionisme. Pangkalnya adalah zionisme, yang puncaknya nanti adalah; hadirnya Dajjal untuk memimpin mereka.

Ini bukan teori konspirasi, sahabat. Ini adalah dunia kita yang penuh dengan intrik dan rahasia. Ini adalah dunia kita tempat kebenaran dan kebatilan bertempur sampai matahari terbit dari barat. Sebab itulah, sejatinya rasa nyaman bukanlah saat yang tepat. Kini kita harus sadar bahwa kita telah ada di ujung tanduk peradaban manusia.

Dan palestina akan jadi latarnya.

marshmellowtea  asked:

this blog is so good i owe u my life..,.,,., can i get a pic of komaeda getting a kiss please he deserves it.,..,.,.,.,,. good sweet best boy i love him...,.,.,.,.,,....,

Thank you, we all love him (ToT Why just A kiss? (ewe

You didn’t mention who, so I’ll just draw our top shippings lmao
(plus, we’re crazy for komahinanami, it’s so pure//cri) Showers Ko with kisses
-mod yuki

Oh my god, this took forever to make..
But here are some of the Sonic females I could remember on spot.