youonlyliveonce

instagram

Custom #Pokemon case made for a lovely customer 💕 #deco #decoden #kawaii #socute #yoi #yurionice #youonlyliveonce #pocketmonsters

Made with Instagram
Y.O.L.O (Jarak)

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayangi bila ada ruang? -Dewi Lestari-

Pernah membaca kalimat itu? Seringkali kamu merutuki jarak yang tengah diciptakan seseorang kepadamu. Seringkali bertanya mengapa harus ada jarak, mengapa menjauh, mengapa mengapa mengapa. Terus saja menanyakan alasan yang terjadi, lalu menimbulkan beragam asumsi sendirian.

Boleh kutanya satu hal? Lelahkah kamu berada dalam pertanyaan yang kamu ciptakan sendiri itu? Jika iya kamu merasa lelah, coba tenang sejenak, rilekskan dirimu sebentar. Dan aku akan kembali bertanya apa yang tengah kamu lakukan, bukankah kamu tengah berhenti? Bukankah itu sama saja dengan spasi dan atau jeda? Kemudian samakan dengan jarak yang tengah hadir menemani, jarak itu spasi, jarak itu jeda, kawan. Mereka dibutuhkan sesekali, sekedar untuk membuatmu kembali merasakan dan menelaah sesuatu dengan lebih jernih dan lebih baik tanpa ada gegabah untuk menyikapinya.

The scariest thing about distance is that you don’t know whether they’ll miss you or forget you -Nicholas Sparks- Bukankah itu yang seringkali kamu takutkan dan pertanyaan itulah yang menghinggapi benakmu saat ini? Apakah mereka merindukanku seperti aku merindukannya atau malah mereka melupakanku karena telah mengenal orang baru. Tak ada yang salah dari permikiran itu memang, tapi satu yang harus kamu tahu, berhenti menerka, berhenti menebak-nebak, berhenti bertanya dan mengambil kesimpulan dengan teorimu sendiri. Bukan kebenaran yang kamu dapatkan, melainkan hanya lelah yang akan kamu genggam.

Hidup selalu berkaitan dengan pertemuan dan perpisahan. Dia yang sekarang dekat, mungkin akan menjauh di esok hari, tanpa pernah mengucap kata pamit. Tanpa harus berkata aku pergi atau aku ingin menjauh darimu. Dan untukmu yang terus saja bertanya akan jarak itu, tak perlu ada yang kamu takutkan apalagi sesali, yang lalu tetap saja pernah mengukir bahagia denganmu bukan? Bumi berputar, kehidupan pun demikian, dan semuanya adalah wajar adanya. Satu yang jangan pernah kamu takut untuk lakukan, sapalah dia yang pernah memberikan bahagia untukmu. Apa susahnya menyapa bagian indahmu di masa lalu? Bukankah kita tidak diperkenankan memutus tali silaturahmi?

Kemudian aku ingat, Michael Bassey pernah berkata, If you truly want to be respected by people you love, you must prove to them that you can survive without them. Kemudian gabungkan saja pernyataan Lana Del Rey serta Ziad K mengenai jarak, distance sometimes lets you know who is worth keeping, and who is worth letting go. Sometimes you just need to distance yourself from people. If they care, they’ll notice. If they don’t, you know where you stand.

Bisa menarik kesimpulan dari pernyataan itu? Jarak itu berharga, sangat amat berharga (menurutku). Hingga terkadang kamu lupa, sedekat apapun kamu dengan seseorang kamu juga butuh adanya sebuah jarak. Terlebih jika kedekatan antar lawan jenis. Karena bisa saja tanpa kamu sadari, dengan kedekatan yang tercipta, ada harap yang perlahan muncul tanpa pernah kamu sadari. Dan sayangnya harap itu muncul hanya pada salah satu pihak, atau bisa juga keduanya namun sayangnya, harapan itu muncul ketika kamu dan dia belum sanggup untuk membiarkan harap itu berlabuh pada hati masing-masing.

Adanya jarak yang tercipta baik secara sadar ataupun tidak seringkali merupakan hal yang jauh lebih mudah daripada harus berpura-pura baik padahal tidak sedang dalam keadaan baik. Atau mungkin juga jarak dipilih karena enggan menjelaskan sesuatu hal yang rasanya teramat sulit diungkapkan.

Dewi Lestari pernah berkata, seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi. Jarak tercipta mungkin saja karena terkadang seseorang butuh menetralisir apa yang dirasa. Meyakinkan apa yang sedang dia rasa, menalarnya, kemudian membuatnya lebih rasional untuk memutuskan hal apa yang akan dia lakukan nanti, tetap menjalani hal seperti biasanya atau dibiarkan berlalu begitu saja.

Untuk siapapun itu yang sedang berada di batas jarak; kepada setiap alasan yang tidak pernah kamu ketahui, kepada setiap jalan pikiran yang kerap tak bisa untuk dipahami, kepada seluruh pilihan yang coba untuk kamu nikmati, tetaplah memandang seseorang dengan caramu sendiri, dan sesekali coba pula untuk melihat cara pandang orang lain, tapi jangan pernah merubah dirimu untuk orang lain. Dan tulisan ini akan aku tutup dengan satu kalimat dari Dewi Lestari (lagi), momentum tidak dapat dikejar. Momentum hadir. Begitu ia lewat ia tidak lagi sebuah momentum. Ia menjadi kenangan.

Bagi kamu dan siapapun yang membaca ini, semoga bisa menghargai setiap pertemuan dan perpisahan yang tercipta. Semoga bisa menjaga hubungan baik yang sedang tercipta dengan seluruh kemampuan yang kamu miliki. Hargai mereka yang hingga sat ini masih dekat denganmu, sedang untuk mereka yang sudah jauh, do’akan saja agar bahagia selalu melingkupi mereka. Adanya jarak bukan untuk disesali, tapi untuk dimengerti dan disyukuri. Dan pilihan yang terbaik selalu berkaitan dengan menerima dan mengikhlaskan. Semoga semakin dewasa segala rasa serta akal. Setelah ini, semoga Tuhan selalu memberikan cara agar kita bisa merasakan bahagia, secukupnya. Ingat, You Only Live Once


Jakarta, 14 Desember 2015

*tulisan ini lahir setelah pagi tadi sempat hampir mengalami kecelakaan ketika mengendarai motor menuju kantor*

Y.O.L.O (Me-/Di-, Kecewa, -kan)

Plant an expectation; reap a disappointment

Elizabeth Gilbert, Committed

Mungkin kamu melakukan sesuatu hal dengan tujuan baik, tapi belum tentu diterima sebagai hal yang baik juga oleh orang lain. Mungkin niatmu melakukan sesuatu hal adalah A, tapi orang lain bisa menganggapnya dengan A pula, atau B hingga bahkan Z. Sebab setiap manusia memiliki pola pikirnya masing-masing yang tak akan sama satu dengan lainnya. See? Apa yang kamu lihat tak selamanya seperti yang tampak. Apa yang kamu dengar tak selamanya seperti apa yang terucap. Yang nyata saja tak bisa dengan gamblang kamu pahami maksudnya, apalagi dengan hal-hal yang memiliki tersirat, bukan?

Bicara perihal kecewa, sadarkah kamu bahwa orang-orang yang paling berpeluang mengecewakanmu adalah orang-orang yang sangat amat kamu kenal, begitu juga sebaliknya. Mengapa katamu? Begini, harapanmu muncul-entah kamu sadari atau tidak-ketika kamu sudah cukup dekat dengan seseorang. Dengan kamu mengenalnya kamu merasa sudah cukup tahu bagaimana sifat dan sikapnya, bagaimana dia kepadamu, dan bagaimana dia bisa memenuhi apa-apa saja yang kamu utarakan padanya; ekspektasi dan harapan. Dan dengan begitu harapan tercipta tanpa tedeng aling-aling, ekspektasi membumbung hingga ke langit. Hingga lupa menjejak, hingga lupa memberikan batas toleransi. 

Kamu ingat kan, bahwa manusia memiliki kesempatan yang cukup besar untuk mengecewakan atau bahkan dikecewakan? Mungkin beberapa dari kita sering sekali merasakan kecewa. Bahkan menimbulkan trauma dan luka atas kecewa itu sendiri. Hingga akhirnya terlalu lelah untuk sekedar bertegur sapa. Terlalu letih jika harus bertatap muka. Atau bisa jadi air mata mengalir begitu saja jika ada yang berkaitan atau membuat kamu ingat dengan kejadian lampau. Ketika segala rasa bahagia, ketika segala hal-hal menyenangkan yang pernah dilalui bersama terkalahkan oleh setitik kecewa yang terjadi-entah disengaja maupun tidak. Pada intinya, kecewa menutupi segalanya.

Tidak ada yang lebih bersalah ketika kata kecewa terlontar. Setiap yang mengecewakan atau yang merasa dikecewakan memiliki porsi salahnya masing-masing. Kecewa ada karena yang merasa dikecewakan menaruh harapan dan ekspektasi berlebih kepada yang mengecewakan. Hingga fokusnya hanya pada hal itu saja-pada harapan yang inginnya bisa sesuai. Lalu lupa dengan rasa sayang yang sebelumnya tercurah begitu besar. Lupa dengan setiap detik waktu yang pernah bergulir dengan keceriaan. Dan yang tersisa hanya kejelekan-kejelekan yang sebetulnya tak perlu dibesar-besarkan. Kecewa hadir pada mereka yang disebut mengecewakan karena ada janji yang mungkin luput dari ingatan. Ada perkataan yang terlontar tanpa pernah terpikirkan akibatnya beberapa saat kemudian. Kecewa bukan hanya terjadi dengan orang lain, kecewa juga bisa dengan diri sendiri. Dan seringkali orang-orang yang merasa kecewa dengan dirinya sendiri, lupa pada apa-apa saja yang pernah mereka lakukan untuk dirinya. Yang menjadi fokusnya hanyalah tidak mampu memenuhi angan dan mimpinya pada saat itu. Kamu harus ingat, manusia itu makhluk dinamis-akan selalu ada yang berubah, sadar ataupun tidak

Lalu apakah kecewa salah? Apakah manusia tak boleh untuk kecewa? Tentu saja kecewa tidak salah, tentu saja kecewa itu boleh, menurutku kecewa itu manusiawi. Kecewa adalah reaksi atas aksi yang tidak sesuai dengan harapan. Dan kamu harus lebih dari sekedar ingat, 

Having a broken heart. It means we have tried for something

Elizabeth Gilbert, Eat Pray Love 

Setidaknya dengan merasa kecewa, merasa terluka, merasa sedih, kita tahu kita sudah melakukan sesuatu hal. Kita tahu kita sudah bergerak, meski tak sesuai dengan harapan. Lalu apa yang salah? Apa yang tidak diperbolehkan? Merasa kecewa yang berlebihanlah yang tidak diperbolehkan. Terlebih jika rasa kecewa membuatmu enggan untuk kembali melangkah, membuatmu terkungkung dengan penyesalan dan kesedihan semata, tentu itu yang salah.

Dulu sekali aku pernah menulis bahwa bisa saja orang yang melukai kita adalah orang yang bisa menyembuhkan luka kita juga. Who knows? Jika kecewamu tercipta karena orang lain ataupun karena dirimu sendiri. Aku hanya mampu berkata, berdamailah dan mulailah memaafkan dirimu sendiri. Semoga sesudahnya, kamu bisa memaafkan kecewa yang tercipta karena orang lain. Dan mulailah untuk melepaskan segala rasa kecewa, sakit maupun luka yang pernah tercipta. Semoga setelahnya kamu mampu untuk berdamai dan menerima segala rasa, apapun itu. 

Beberapa hal memang tak bisa kita ketahui sebab maupun asal muasalnya. Dan yang bisa kita lakukan hanya perlu menerima apa-apa saja yang sudah, telah dan akan terjadi. Kamu hidup bersama harapanmu, bersama harapan yang harus memiliki batas. Bersama harapan yang sepenuhnya hanya bergantung kepada Tuhan, bukan pada ekspektasimu atau bahkan pada orang lain. Seperti kata Bruce Lee, “I’m not in this world to live up to your expectations and you’re not in this world to live up to mine.” Selalu ingat bahwa apa yang terjadi pada dirimu saat ini, baik sedih maupun bahagia adalah skenario terbaik dari Tuhan untuk hidupmu. Selamat melepaskan rasa kecewa-baik dikecewakan maupun mengecewakan. Teruslah menjadi pribadi yang lebih kuat dari hari kemarin, teruslah menjadi pribadi yang bisa memetik pelajaran dari setiap kesalahan di perjalanan, karena You Only Live Once :)))

Tangerang, 10 Mei 2016

Y.O.L.O (Perihal Rasa)

Terus saja seperti itu, menanti dia yang menghubungimu terlebih dahulu. Menanti dia yang menanyakan kabarmu lebih dulu serta menunggu dia yang mencarimu lebih dulu. Memang apa salahnya jika kamu yang memulainya lebih dulu? Egomu terlalu tinggi, sadari itu!

Dia sudah terlalu sering mencari cara untuk menghubungimu. Sudah terlalu sering memancing pembicaraan hanya untuk sekedar menyapamu. Tapi kamu? Mau sampai kapan bertahan di balik dinding yang kamu ciptakan itu? Tidak bosan?

Baiklah, mungkin setiap orang pernah terluka. Dan aku tahu, kamu pun demikian. Tapi ketika seseorang terluka, bukankah mereka masih punya kesempatan untuk bahagia? Mengapa tak pernah kamu coba untuk menciptakan bahagia itu bagi dirimu sendiri? Meski memang selalu ada kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Begini, bagaimana jika tawa yang biasanya kamu dengar darinya perlahan menghilang hanya karena dia mengira kamu terlalu jauh untuk diraih? Bagaimana jika ia mengira segala perilakumu adalah sebuah penolakan? Padahal sebenarnya kamu hanya menyamarkan perasaan yang perlahan hadir di hatimu. Menyembunyikan semuanya hanya karena kamu takut dia tak memiliki rasa yang sama sepertimu.

Terkadang memang sulit mengartikan pola perilaku seseorang. Mencari tahu apa maksud dan tujuan dia bertingkah seperti itu. Tapi, untuk kali ini berhentilah berekspektasi lebih. Maksudku berhentilah untuk selalu berpikir a-z yang sebenarnya belum tentu demikian adanya. Berhentilah menerka bagaimana jika dan hanya jika. Berhentilah untuk terus menerus dipengaruhi paradigma-paradigma yang kamu ciptakan sendiri. Logika memang perlu digunakan ketika kamu jatuh cinta, tapi logikamu bukan digunakan untuk menerka-nerka tentang apa yang dia pikirkan. Pakailah logika itu untuk menentukan pilihan, mengenai apa yang akan kamu lakukan dengan rasa yang kamu miliki tersebut.

Seseorang pernah berkata padaku, ketika kita jatuh cinta, hanya ada 2 pilihan yang bisa untuk kita lakukan. Pertama, mengusahakan, dalam artian kamu akan mengungkapkannya, at least dia tahu mengenai perasaanmu itu. Atau yang kedua kamu pergi, melupakan dan mengemasi perasaanmu itu karena mungkin ada hal lain yang jauh lebih besar yang ingin kamu jaga dan pertahankan.

Resiko ketika seseorang jatuh cinta itu ya patah hati dan kecewa. Sekarang begini, berharap saja yang terbaik dan siap dengan apapun hasil terburuk. Hidupkan memang demikian. Expect nothing walau sebenarnya kamu berharap lebih agar rasamu dapat terbalas. Setidaknya, ketika kamu belajar untuk tidak berharap apapun dengan begitu kamu akan bisa bebas lepas menjadi dirimu yang sebenar-benarnya.

Jika memang tak ada yang ingin kamu rusak dari apa yang sudah terjalin. Jika memang kamu ingin tetap bertahan di balik dinding itu sendirian. Jika memang kamu menanti dia untuk memulai lebih dulu mengungkapkan rasa, meski bisa saja belum tentu dia memiliki rasa yang sama. Yasudah tetaplah bersikap sewajarnya, seperti kamu yang biasanya. Tak perlu ada yang dirubah agar kamu bisa menjadi seseorang yang dia butuhkan misalnya. Tak usah juga kamu ngotot agar ia bisa tahu perasaan yang kamu miliki. Tetaplah berada di jalan yang biasa kamu lalui, bersabarlah dalam penantian panjangmu. Tuhan tidak pernah meninggalkan dirimu sendirian, setidaknya tetaplah berbuat kebaikan untuknya selama kamu mampu, meski gelisah karena rasa yang kamu punya kerap menghantui harimu.

Hidup terlalu berharga jika hanya kamu gunakan untuk  hal-hal yang menguras pemikiran namun membuatmu diam di tempat. Sesekali, tengoklah keadaan sekitar. Bergeraklah maju untuk sebuah perubahan yang bisa kamu lakukan. Semoga Tuhan senantiasa memberikanmu bahagia, serta kamu selalu menemukan cara untuk meraih bahagia itu. Sebab bahagia bukan hanya untuk kepuasan diri sendiri. Berbahagialah selalu, secukupnya. Sebab, You only live once.

Jakarta, 11 Desember 2015

Y.O.L.O (Menjadi Tahu Apa yang Tak Seharusnya Diketahui)

“When you really care about someone, their happiness matters more than yours”

“I swear, I will do anything for you to keep you happy”

Pernah menemukan quote atau kalimat seperti itu? Pasti pernah. Entah di mesin pencari atau mungkin di pinterest, quote tersebut pasti akan selalu bisa kalian temukan. Meski tidak serupa tapi inti dari quote itu akan merujuk pada satu hal. Yang artinya seseorang akan melakukan apapun untuk pasangannya, meski mereka harus merasa sedih, sakit, dan hal-hal lainnya. For me, that’s stupid, sorry for not sorry.

Okay, I know, I really know. Selalu ada banyak rambu-rambu agar kita tidak seperti ini itu ketika jatuh cinta. Bahkan tidak sedikit orang yang akan membuat perjanjian di awal kedekatan untuk tidak berharap lebih atau beragam hal semacamnya. But who knows? When it comes down, your heart is going to do whatever it wants. That’s what we called the magic of love. It can makes even the most intelligent people, drop all logic and their common sense. 

The logical mind being overpowered by a somewhat illogical heart.

Kadang, hanya karena kita sudah katakanlah jatuh cinta pada seseorang kita bisa sebegitunya memberikan waktu dan perhatian. Tapi sayangnya kita seringkali lupa bahwa perhatian yang diberikan juga harus memiliki batas. Sebab ada beberapa hal yang mungkin bagi kita terlihat biasa tapi untuk orang lain justru terlalu berlebihan.  

Selain itu juga, ketika sudah dekat dengan seseorang bahkan mungkin lebih dekat dari yang lain. Kita sering mencari tahu tentang orang itu jauh lebih dalam. Kata mereka wajar, well mungkin iya, sebab mereka ingin lebih mengerti tentang pasangannya. Segala macam cara akan dilakukan untuk mengetahui apa-apa yang dirasa perlu untuk mereka ketahui (padahal sebetulnya tidak perlu untuk diketahui), misalnya saja mencari seluruh akun media sosialnya lalu stalking hingga ke semua postingannya yang terdahulu, atau bahkan berusaha dekat dengan teman-temannya.

Tapi perlu kiranya ketika kita melakukan hal tersebut jangan sampai malah menjadi hal yang menganggu. Sebab, bukan tidak mungkin hal itu malah akan menimbulkan ketidaknyamanan pada pihak lain. Entah pasangannya tersebut atau bahkan lingkungan di sekitar pasangannya itu (jika dan hanya jika dia berusaha untuk dekat dengan seluruh orang yang berada di hidup pasangannya itu dengan cara mencari tahu sendiri. I mean bukan diperkenalkan, melainkan memperkenalkan diri sendiri)

Perlu kiranya kita bisa membedakan antara cinta dan ambisi untuk memiliki semata. Karena, akibat dari mencari tahu hal-hal yang tidak diberitahukan kerap kali menimbulkan perasaan was-was untuk diri sendiri. Dan akhirnya berujung pada persepsi-persepsi baru yang tercipta, misalnya saja, ketika sedang menelusuri seluruh postingannya yang terdahulu, bisa saja kita menemukan kisah masa lalunya. Lalu kemudian mencari tahu dan menyambungkan hal A hingga Z dan akhirnya perasaan yang dulu murni karena sayang malah berubah menjadi ambisi untuk memiliki dan tak rela untuk melepaskan serta pada akhirnya menghalalkan segala cara untuk tetap bisa bersama.

Memang biasanya ada logika yang dikesampingkan ketika hati sudah menjadi dominan.  Kasarnya rela melakukan apa saja atau diperlakukan seperti apapun agar bisa tetap bersama meski sebetulnya itu menyakiti dirinya sendiri. Atau begitu juga sebaliknya, ada beberapa orang yang tak ingin terlalu jatuh hati sehingga logikanya menjadi lebih dominan. Dengan kata lain ketika hatinya berkata iya, pada detik itu juga akan banyak pertentangan di kepala untuk menyanggahnya. Rumit jika sudah menyangkut perasaan, begitu kata mereka.

Beberapa orang yang tak biasa diperlakukan dengan perhatian yang berlebihan cenderung akan menilai sikap tersebut sebagai suatu hal yang menganggu pastinya. Tak sedikit pula ada orang yang tidak suka jika kehidupan lalunya diketahui tanpa pernah dia yang memberitahu sendiri.

Sebenarnya, bila memang penasaran dengan kehidupan lalu pasanganmu, kamu bebas mencari tahunya. Asal, tak perlu mencocokkan kembali. Tak perlu mengaitkan dengan hal-hal yang pernah, sedang dan akan terjadi. Cukup diketahui sendiri saja itu bahkan seharusnya sudah lebih dari cukup, bukan? Bila memang kamu akan harus tahu, suatu saat pasti dia akan memberi tahu apa-apa saja yang kamu ingin tahu. Hanya perkara waktu.

Dari semua kata yang entah berujung dimana, dari semua pemahaman yang entah sampai atau tidak bagi diri sendiri, ada sebuah kalimat dari Osho yang seringkali membuatku berpikir apa itu jatuh cinta yang sebenarnya

Immature people falling in love destroy each other’s freedom, create a bondage, make a prison. Mature persons in love help each other to be free; they help each other to destroy all sorts of bondages. And when love flows with freedom there is beauty. When love flows with dependence there is ugliness.

A mature person does not fall in love, he or she rises in love. Only immature people fall; they stumble and fall down in love. Somehow they were managing and standing. Now they cannot manage and they cannot stand. They were always ready to fall on the ground and to creep. They don’t have the backbone, the spine; they don’t have the integrity to stand alone.

A mature person has the integrity to stand alone. And when a mature person gives love, he or she gives without any strings attached to it. When two mature persons are in love, one of the great paradoxes of life happens, one of the most beautiful phenomena: they are together and yet tremendously alone. They are together so much that they are almost one. Two mature persons in love help each other to become more free. There is no politics involved, no diplomacy, no effort to dominate. Only freedom and love.

Kepada diri sendiri yang sedang belajar dan siapa saja yang membaca ini. Kenali diri dan hatimu terlebih dahulu sebelum kamu belajar untuk mengenali pribadi lain. Apa-apa yang kamu lakukan kepada orang lain, pikirkan dulu bagaimana jika itu yang terjadi padamu. Seperti kata Osho, the capacity to be alone is the capacity to love. Tak usah terburu-buru menyimpulkan dan terlalu sering melihat apa yang sudah berlalu, sebab kamu hidup di masa sekarang. Apa-apa saja yang sudah diberitahu tanpa pernah diminta, itulah yang cukup untuk kamu ketahui, oleh karenanya tak usah terlalu sering mencari tahu sendirian bila tak ingin ada salah paham di hari kemudian. Selamat menikmati perjalanan hari ini dan esok hari, sebab You Only Live Once :)))

Hujan Mimpi
Tangerang, 23 Juli 2016

Y.O.L.O (Waktu)

Tidak akan pernah ada yang tidak berubah. Semesta dan seisinya tidak menjanjikan itu padamu. Bagaimana bisa ketika detik bergulir semua masih saja sama? Yakinkah kamu detik ini dan detik berikutnya kamu masih sama? Padahal seluruh sel di tubuhmu berkembang, ada bagian yang bertumbuh, mereka hidup, belum mati. Maka bukankah tidak ada yang statis? Semuanya dinamis serta nisbi. 

Seringkali kita terlalu malas untuk melakukan beragam kegiatan. Selalu mengeluh ingin berlibur, ingin rehat dari rutinitas barang sejenak. Berdalih bahwa selama ini banyak sekali kegiatan yang sudah dilakukan, hingga membuat tubuh menjadi lelah berkepanjangan. Padahal malas dan segala hal yang membuat kamu rela bersantai-santai, sebenarnya kamu sendiri yang memilihnya. Kamu sendiri yang menciptakan energi itu untuk sering mendekapmu.

Bukan tidak boleh beristirahat, bukan demikian maksudku. Begini, kita bisa saja menikmati seperempat hari dengan berleha-leha. Se-per-em-pat, bukan sepanjang hari. Karena apa? Karena kita diciptakan memang bukan untuk duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Bukan diciptakan hanya untuk tidur dan bermalas-malasan. Ada banyak stimulus yang harus kamu ciptakan untuk dirimu sendiri. Semangat paling besar bukan berasal dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri. Semangat bukan pula berasal dari berapa banyak orang yang menyemangatimu, tapi dari siapa orang yang menyemangatimu tersebut. Bukan begitu?

Crystal Woods pernah berkata bahwa, time flies, whether you’re wasting it or not. Namun lain halnya bagi Marthe Troly, time you enjoy wasting is not wasted time.

Pendapat mereka tak ada yang salah. Ah aku bukan ingin menghakimi persepsi seseorang. Aku hanya sedang menikmati waktu yang bergulir dan menjadikannya sesuatu yang tidak sia-sia. Semisalnya saja dengan berceloteh seperti ini. Aku menikmatinya dan menurutku ini bukanlah membuang-buang waktu. Karena dengan seperti ini, ini adalah fase dimana aku bisa mendewasakan akal serta rasaku sendiri. Membiasakan apa yang ada di benakku tertuang dalam laman dunia maya ini.

Kembali lagi dengan hal yang tadi sempat kusinggung. Ketika kamu menikmati waktu yang kamu habiskan, maka kamu tidak menghabiskan waktu. Begini, akan ada banyak timbul perspesi dari hal itu. Tapi coba kita lihat dari sisi yang lain. Mengapa kita tidak mencoba menciptakan waktu yang bisa dihabiskan se-menyenangkan mungkin dengan hal-hal yang kita sukai, sehingga kita lupa bahwa kita sedang bergulir bersama waktu? Ah nampaknya celotehku terlalu rumit untuk dimengerti. Ringkasnya adalah, mulai detik ini coba cari celah dari setiap rutinitas yang kamu lakukan. Adakah hal menyenangkan yang bisa dilakukan.

Aku memiliki seseorang sahabat, ah bukan ini lebih dari seorang sahabat, sudah kuanggap saudara bahkan, onty kesayangan, sudah susah dijelaskan. Ia seorang frontliner di salah satu bank swasta di Surabaya. Bila hanya sekilas disaksikan kamu akan berpikir bagaimana melelahkannya seharian melayani customer, bahkan tak jarang menerima komplain atas hal-hal yang terkadang bukan kesalahannya. Tapi, jika kamu bertanya padanya, apakah ia merasa lelah menjalani harinya? Jawabannya tidak. Sungguh. Dia selalu berujar bahwa dia bahagia menghabiskan waktu yang dia miliki untuk memberikan pelayanan terbaik untuk orang lain. See, you got my point? Kita bisa memilih untuk menjadikan waktu berlalu dengan menyenangkan atau menyedihkan. Kendalinya ada di diri kita sendiri.

“You can have it all. Just not all at once” Pernah mendengar atau membaca kalimat itu? Kalau tidak salah Oprah Winfrey-lah yang berkata demikian. Pada setiap detik waktu yang bergulir, begitu banyak pilihan yang ditawarkan untukmu tentunya. Namun bukan berarti segala tawaran yang datang menghampiri, segalanya bisa kamu peluk dalam satu waktu bersamaan. Jika belum terbiasa, siap-siap saja kelimpungan dan akhirnya tak ada yang berhasil kamu kerjakan secara maksimal. Bukan maksudku setiap kesempatan yang ada kamu harus tolak atau ambil. Pilah, mana yang menurutmu bisa dan akan kamu kerjakan sepenuh hati dan sebaik mungkin. Karena pada setiap pilihanmu, ada waktu yang kamu gunakan. Jika kamu sembarangan memilih, waktumu akan terbuang sia-sia dan diisi dengan keluhan sepanjang perjalanan. Melelahkan bukan yang seperti itu?

Waktu selalu bersimbah misteri. Entah bagaimana nantinya aku akan dikenang oleh orang lain. Entah nantinya aku akan menjadi seperti apa, atau apa saja yang bisa kuperbuat setelah ini. Semuanya masih teka-teki, bermain-main dalam ruang imajinasiku sendiri. Namun satu yang selalu aku ingat, pada setiap detik waktu yang aku lalui, adalah sebuah kewajiban utnuk terus bertumbuh menjadi sebaik-baiknya ciptaan Tuhan.

Mungkin waktu bisa merubah apapun, begitu kata kebanyakan orang. Tapi mereka lupa, bahwa yang bisa merubah pribadi seseorang, tutur kata, cara pandang bukanlah hanya perkara waktu. Melainkan dirimu sendiri yang seharusnya melakukan perubahan

“Jangan menunda. Jangan habiskan separuh hidupmu untuk menunggu waktu yang tepat. Seringnya, saat kau sadar, waktu yang tepat itu sudah lewat. Kalau sudah begitu, kau cuma bisa menyesal.”  - Windry Ramadhina -

Sependapatkah kamu dengan kata-kata itu? Jika iya, lekas benahi dirimu. Sudah berapa banyak waktu yang kamu lalui hingga saat ini. Bila ingin membahagiakan orang lain, bahagiakan dirimu terlebih dahulu, karena tak akan bisa kamu memberikan gelombang bahagia pada orang lain jika kamu sendiri tak merasakan bahagia itu. Cara untuk bahagia bagaimana? Bersyukur, dan mari ciptakan waktu yang tepat sebaik yang kita bisa dalam melakukan segala hal di dunia yang hanya sementara ini.

Pada akhirnya aku hanya ingin berujar, bahwa waktu yang tepat itu tidak hanya ditunggu, tapi diciptakan. Bagaimana jika mulai dari saat usai menuliskan ini, dan kamu usai membacanya, kita mulai sama-sama menciptakan waktu yang baik dan menggunakannya secara baik pula?

Gunakan waktu yang kamu miliki sebaik mungkin, mengenai batas kebaikan itu seperti apa, jawaban masing-masing kita tentu berbeda. Ingat saja bahwa kamu hanya perlu mencintai waktu yang bergulir dan melaluinya sebaik yang kamu mampu, karena tidak ada yang tahu kapan kita akan berpulang kepada-Nya, bukan? Waktu kita tidak banyak, maka berikan peringatan kepada sudut lobus frontal-mu untuk tidak melupakan waktu yang senantiasa berputar. Tetaplah senantiasa bersyukur, sehingga Tuhan selalu memberikanmu cara untuk meneguk rasa bahagia, secukupnya. Jangan pernah sia-siakan waktu yang sedang berjalan menemanimu, serta jangan pernah lupakan mereka yang membersamaimu melewati detik yang bergulir. Cause, You Only Live Once

Jakarta, 19 Desember 2015

PS : And at the end, thanks teh @dwsrkh untuk memancing ide bagi tulisanku kali ini *peluk erat* dan terima kasih banyak untuk onty @yanuarindrayani yang selalu mau dijadikan tempat berbagi pelajaran kehidupan. Semangat membaik bersama!

Y.O.L.O (Penilaian Orang Lain)

People will question all the good things they hear about you but believe all the bad without a second thought -anonymous-

Pernah mendengar atau mengalami hal tersebut? Yeah, manusiawi jika jawabanmu adalah pernah. Perlu diingat bahwa kita memang hidup di zaman yang seperti itu. Ketika keberadaan kita memang akan selalu menimbulkan beragam pendapat, mulai dari yang baik maupun buruk. Itulah hidup, kawan! Sebaik apapun, setulus apapun niatmu untuk melakukan sebuah kebaikan atau mungkin hal yang kamu anggap baik, tetap saja akan ada beberapa pihak yang menganggapmu mengerjakannya karena pencitraan, hanya sekedar berpura-pura, atau bahkan tak sedikit yang berkata segala kebaikan yang kamu semaikan adalah sebuah perbuatan yang sia-sia.

Well, mereka bebas mengungkapkan beragam pemikirannya. Mereka bebas berceloteh dan berkomentar apapun sebab kita hidup di negara yang memang mengizinkan penduduknya untuk sebegitu bebasnya mengeluarkan pendapat meski tetap ada aturan dan norma-norma yang berlaku tentunya. Try to agree to disagree, itu yang nampaknya perlu untuk ditanamkan pada diri masing-masing kita. Mengapa? Karena memang tak semua pendapat atau perlakuan kita harus disetujui orang lain, pun begitu sebaliknya.

Bila kamu tak setuju dengan penilaian mereka terhadap dirimu, itu sah-sah saja tentunya. Sebab mereka tak mengerti kamu beserta seluruh jalan pikiranmu. Tapi sebentar, sadarkah kamu bahwa penilaian mereka tidak timbul begitu saja? Yap, asumsi mereka terhadap kita justru terbentuk karena perangai kita yang entah kita sadari atau tidak menunjukkannya demikian. Semisal kamu bisa begitu saja dekat dengan lawan jenismu, kemudian lawan jenismu merasa nyaman dan lalu katakanlah mereka menjadi suka denganmu atau bahasa kekiniannya adalah baper. Dan kemudian banyak orang berkata bahwa jelas saja mereka bisa baper karena kamu memperlakukan mereka demikian. Padahal kamu sama sekali tidak berniat demikian, kamu bisa sedekat itu kepada siapapun hanya karena kamu memang bisa dan mampu senyaman itu untuk membuat orang lain nyaman padamu. Tapi apakah mereka bisa sependapat denganmu? Tentu tidak kan? Mereka memiliki opininya masing-masing. Dan seberapa banyak pembelaanmu terhadap apa yang kamu lakukan, tetap saja mereka berkata bahwa itu salahmu. Just deal with it! Yasudah maksudku terima saja komentar mereka jika memang mereka berkata demikian.

Terkadang tak sedikit orang yang berusaha menjelaskan penilaian orang lain terhadap dirinya adalah salah. I mean, mereka berusaha membuat orang lain mengerti bahwa apa yang mereka lakukan tujuannya adalah ini. Bahwa apa yang mereka lakukan adalah alasannya itu. Penilaian orang lain terhadapmu adalah hasil dari apa yang mereka lihat, dengar, rasa dan kemudian mereka terjemahkan menjadi sebuah asumsi yang tak sedikit membuatmu merasa gerah.

Begini, di depanmu mungkin saja mereka yang coba kamu beri pengertian mengenai alasanmu melakukan sesuatu hal tersebut akan berkata iya aku mengerti atau iya tenang saja aku paham mengapa kamu seperti itu. But well, siapa yang tahu ketika nanti dia akan berkata berbeda di belakangmu, atau apa yang dia ucap tetap saja tak sama dengan apa yang dia pikirkan? Tak ada yang tahu, tak ada yang benar-benar tahu. Bukan, aku tak bermaksud agar dirimu berprasangka buruk atas pemikiran orang lain. Hanya saja aku ingin mengatakan bahwa pada kenyataannya memang beberapa pihak ada yang demikian. Ingat, beberapa bukan berarti semua. Tak ada hal yang bisa disamaratakan, kan? Kamu sudah jauh lebih paham mengenai itu pastinya.

Kalimat racauan ini akan berakhir dengan mengingat kata-kata dari Lee Thompson “people change, even good people, if they get the wrong thing in their head. And not everything is always what it looks like and sometimes just because one person looks weak, they might be very strong, and another person might look like a spooky freak but he might be one of the kindest people you’d ever meet. And I guess I learned that time is slippery…We have to enjoy every second, love with all our hearts, all we can, while we can.

Pada akhirnya, I just wanna say that lebih baik segala penilaian orang lain terhadapmu dan atau komentar mereka untukmu tak selamanya harus kamu iyakan atau turuti lalu kamu pikirkan terus-menerus. Kalau memang pendapat mereka menyudutkan atau menjelekkan atau memberikan cap negatif pada dirimu, yasudah anggap saja itu angin lalu, cukup serap dan mulai telaah apa yang mereka utarakan. Seseorang pernah berkata padaku, jadilah seperti spons yang mampu menyerap banyak air. Jangan jadikan penilaian negatif itu merubahmu untuk menghentikan segala kebaikan-kebaikan yang sedang kamu lakukan. Dan apabila komentar mereka memberikan banyak petuah untukmu, bukan berarti seketika itu juga kamu harus menelannya mentah-mentah. Ingat, beberapa petuah bisa dipilih dan dipilah. Mana yang sekiranya bisa untuk didengar, dipertimbangkan, dan kemudian dijadikan masukan. Mana yang memang hanya sebagai sebuah warning untuk kamu melangkah selanjutnya.

Got the point?

Semoga kamu, semoga aku, mulai paham mengenai hal yang baru saja kucelotehkan. Selamat menebar kebaikan di setiap detiknya. Dan jangan lupa untuk mulai memerhatikan tingkah lakumu karena tak semua pihak dapat menerima apa yang kamu lakukan lengkap dengan pandangan yang kamu miliki. Tetap berada di lintasanmu, selama tak menyakiti orang lain dan tak membuat dirimu tersakiti, tetap lakukan kebaikan-kebaikan itu. Selamat mengakhiri Februari dengan perenungan yang lebih baik. Cause, You Only Live Once :)))

Jakarta, 29 Februari 2016

Y.O.L.O (Kekanakan)

Dewasa itu perlu, tapi jangan pernah lupakan sifat-sifat baik semasa kamu menjadi anak-anak

-Hujan Mimpi-

Umur bukanlah sebatas angka yang bertambah setiap tahunnya. Umur bukan pula hal yang dirutuki sebab kau tahu napasmu kian berkurang waktunya. Umur tak bisa menjadi acuan kedewasaan seseorang dalam bersikap, bertindak maupun melakukan pilihan. Umur memang tak bisa menjadi tolok ukur sebuah perbuatan. Itu pula sebabnya mengapa umur tak bisa menjadi dasar untukmu memberikan penilaian terhadap orang lain terkait baik-buruk atau benar-salahnya sesuatu hal.

Sebut saja ketika seseorang meluapkan rasa marah atau kecewanya dengan meninggalkan orang-orang yang saat itu sedang berhadapan dengannya, bukan berarti dia kekanakan. Bukan berarti dia tak dewasa sehingga memilih kabur padahal tahu ada masalah yang belum usai. Aku bukan sedang membenarkan sikap tersebut, tapi kau cukuplah mengerti untuk tidak langsung menilai hal tersebut sebagai sikap kekanakan. 

Sikap dan sifat seseorang terbentuk dari lingkungan seperti apa yang membangunnya, dari pelajaran apa saja yang telah dia ambil semasa hidupnya. Kau tahu hidup penuh dengan pelajaran, anggaplah dia masih belajar untuk mendewasa dengan cara yang saat ini dia ketahui. Bila memang apa yang dia lakukan adalah hal yang tak sepantasnya dilakukan ‘orang dewasa’, biarkan saja hingga ia tenang. Lantas setelahnya dekati dia dan berikan pemahaman dengan cara yang mudah untuk dia pahami. Bukan malah men-judge dia masih anak-anak karena melakukan hal-hal itu. Kau seharusnya paham betul, judgmental akan melekat pada alam bawah sadar seseorang ketika terus-menerus diucapkan.

Tak semua hal tidak baik bisa kau sebut sebagai sikap kekanakan. Memangnya anak-anak hanya memiliki sikap negatif saja? Begini, dewasa memang perlu untuk dimiliki seiring waktu yang berputar di hidupmu. Tapi, ada beberapa sikap dan sifat anak-anak yang perlu kau tanam dan kembangkan di hidupmu meski menua sudah mutlak milikmu saat ini dan keesokan hari. Semisalnya saja, anak-anak mendo'akan temannya bahkan orang lain yang tak dia kenal, tanpa mengenal pamrih sama sekali. Mereka berdo'a semata karena mereka tahu, saat tak ada hal yang bisa dilakukan untuk membantu, setidaknya do'a sudah lebih dari cukup. Mereka berdo'a tanpa berharap esok akan mendapat balasan yang setimpal atas apa yang mereka do'akan di hari ini. 

Itu terkait dengan mendo'akan, satu contoh yang kiranya sering kita abaikan karena terlalu disibukkan dengan rutinitas pekerjaan yang tidak ada habisnya. Lalu bagaimana dengan kebiasaan anak-anak ketika membantu temannya ataupun membantu sesama? Memberi tanpa tedeng aling-aling sedikitpun. Bisa pahami apa pelajaran yang dapat kau ambil lagi setelahnya? Bila belum, mungkin kiranya kau perlu menyelami sikap dan sifat anak-anak lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk tumbuh dan mendewasa, bahkan memberikan penilaian atas sikap atau pilihan hidup orang lain.

Tak ada yang salah bila kiranya kita memang harus kembali pada masa kanak-kanak kita;mengenang. Entah dengan menggali memori di benak. Entah dengan langsung berinteraksi dengan mereka–anak-anak. Agar kita cukup mengerti bahwa semua hal tak baik yang diselesaikan dengan cara instant bukanlah sikap kekanakan. Mengertilah, kita tumbuh dan mendewasa karena lingkungan yang membuat kita beradaptasi. Mengertilah bahwa hidup sejatinya selalu memberikan pelajaran. Mendewasalah dengan sikap baik anak-anak yang lekat pada pribadimu, sebab You Only Live Once :)))

Hujan Mimpi
Tangerang, 24 Mei 2016

Y.O.L.O (Your Turn)

Pernahkah kamu berada pada satu titik dimana semesta seolah sedang berbicara padamu lewat nada-nadanya yang jarang sekali kita coba dengarkan? Ketika semua seolah sedang bergotong-royong mengabarkan padamu bahwa ada yang telah berubah dari dirimu. Baiklah, mungkin bukan seluruhnya berubah, hanya ada beberapa yang berubah, namun tak pernah kamu sadari perubahannya itu.

Adanya orang-orang di sekitarmu adalah sesuatu yang perlu kamu syukuri dan hargai. Mereka yang dekat denganmu baik dalam jarak maupun emotionally adalah orang-orang yang akan menyadarkanmu ketika kamu salah melangkah, atau setidaknya mereka yang akan membangunkanmu ketika kamu tertidur terlalu lama dalam perjalanan dan ketika kamu mulai keluar dari lintasanmu.

Sadar atau tidak, orang-orang itulah yang sebenarnya memahami perubahanmu. Perubahan yang sebenarnya sangat amat kamu sadari, namun sayangnya seringkali kamu sangkal kehadirannya. Kurangi denial, tidak semua hal harus memiliki alasan untuk disanggah bukan? Bukankah menyedihkan ketika seseorang yang sangat amat dekat denganmu tiba-tiba saja berkata “I lost you or i miss the old you”

Hidup adalah perjalanan yang mungkin akan merubah kita, but well, seharusnya perubahan yang tidak menghilangkan jati diri kita, bukan begitu? Ketika seseorang berkata bahwa mereka seolah kehilangan dirimu dan merindukan dirimu yang dulu, please, jangan langsung menyangkal atau melakukan penolakan terhadap apa yang mereka kemukakan. Renungi barang sejenak, pikirkan kembali, benarkah demikian adanya. Seringkali yang mereka maksud bukanlah perubahan signifikan yang kasat mata, sebenarnya itu adalah perubahan yang hanya dirasakan oleh orang-orang yang cukup mengenalmu dengan ‘baik’. Dan mungkin saja perubahan dimana kamu memasuki dunia baru, menapaki perjalanan baru yang tentunya tidak akan lebih mudah untuk dilewati.

Seringkali kamu menyibukkan diri dengan segala aktivitas yang sebenarnya kamu sendiri tidak tahu dengan pasti tujuanmu melakukan hal itu sebenarnya apa. Ya, mungkin kamu tahu, at least kamu akan berdalih aku melakukan ini karena ini itu begini begitu dan segala bentuk pembenaran diri lainnya. Kamu tahu? Hal itu sebenarnya adalah bentuk upayamu sedang melarikan diri dari lintasan yang kamu miliki. Entah apa yang sedang coba kamu hindari, tapi mari tilik kembali apa yang membuatmu perlu melakukan segala kesibukan itu.

Ada salah satu buku yang pernah aku baca, buku yang kembali menyadarkan bahwa terkadang kita keluar dari lintasan yang kita miliki hanya untuk melarikan diri. Padahal nyatanya kita tak perlu melarikan diri ketika segala masalah tiba-tiba datang bersamaan. Kita hanya perlu diam sejenak, mengoreksi apa yang sudah dilalui dan tengah kita jalani, dan bisa saja dilalui bersama mereka yang mau membantu menyadarkan kita. Kembalilah berserah pada Tuhan, itu satu-satunya jalan terbaik yang selalu kamu miliki, bukan pilihan, tapi kewajiban yang acapkali kamu lupakan.

Ah ya, ada satu kutipan dalam buku tersebut yang mungkin akan membuatmu tersadar akan perubahan yang tengah kamu alami, kutipannya seperti ini, Liberate yourself from the need to be right. Not everything has to be okay. Change hurts. Do it anyway. Embrace the fear of freedom, deciding to determine your own path, this is the work of a grownup, of someone who can identify what truly matters. Do what you should do. Your mood will follow.

So, i just wanna say that it’s your turn. Semoga kamu tetap bersama mereka yang selama ini berada pada jangkauanmu. Semoga kamu segera kembali menemukan apa yang kamu cari. Membebaskan apa yang ada di pikiranmu. Kembali menjadi kamu yang sebenar-benarnya kamu. Percayalah, masih ada orang-orang yang akan memegangi tanganmu agar kakimu tetap berpijak pada tanah. Hargai setiap waktu yang berlalu. Syukuri kehadiran mereka yang sekarang berada di dekatmu. Tuhan selalu memberikan petunjuk di setiap langkahmu, percayalah. Semoga selalu menemukan cara untuk bahagia! Cause, You Only Live Once

Hey you, got my point? 

Jakarta, 12 Desember 2015

Y.O.L.O (Memaafkan)

The day you forgive yourself is the day you start to live

Sebelumnya selamat tahun baru 2016. Semoga jauh lebih baik dan bermanfaat lagi di tahun ini. Btw, lebih enak lagi baca tulisan ini sambil denger lagunya Rachel Platten – Fight Song :)))))

Oke, statement tadi akan dijadikan kalimat pembuka aku mengawali tulisan ini. Jadi, hari ini lagi-lagi random melandaku. Dan entah kenapa hal yang terlintas adalah mengenai memaafkan diri sendiri.

Kenapa sih harus memaafkan diri sendiri? Kenapa bisa bilang dengan memaafkan diri sendiri kita baru bisa memulai kehidupan yang baru?

Kalau kamu salah satu yang bertanya demikian maka lemme try to explain you. Jika kamu termasuk yang bisa saja tiba-tiba menangis tanpa alasan yang pasti. Atau mungkin kamu tipikal yang emosinya bisa berubah mendadak hanya karena perkataan atau perbuatan seseorang yang sebenarnya tak ada maksud menyinggung tapi kamu menganggap itu sebagai bentuk hal yang melukai hatimu. Coba sedikit merenung sebentar. Adakah hal di masa lalumu yang belum sepenuhnya bisa kamu relakan ataupun kamu ikhlaskan? Entah itu mungkin kesalahan yang tidak kamu sengaja. Atau bisa jadi keputusan yang kamu ambil membuatmu mengalami hal yang menyakitkan di saat ini. Atau mungkin juga kehilangan seseorang yang benar-benar kamu sayangi. Adakah hal itu pernah ada di masa lalumu dan hingga saat ini tanpa kamu sadari terus membayangi harimu? Membuatmu enggan untuk melangkah, membuatmu membangun benteng pertahanan yang sangat amat tinggi untuk menghindari hal itu terjadi lagi. Yang mana terkadang ketika benteng pertahananmu itu hanya sedang coba diketuk kamu sudah menganggap itu sebagai aksi untuk meruntuhkannya. Dan parahnya lagi bentengmu terkadang hanya ditengok sejenak oleh mereka yang sedang berjalan melewatinya atau juga hanya sekedar diintip kamu sudah terburu-buru menganggap hal itu telah membuat benteng pertahananmu runtuh. Dan pada akhirnya malah akan membuatmu semakin trauma, yang mana trauma itu semakin menumpuk dan kamu tidak akan lepas dari kungkungan masa lalu itu.

Beberapa masalah yang hadir, beberapa kehilangan yang menyapa bukanlah hal yang harus kamu terus rutuki. Even kamu merasa bahwa kamu yang menyebabkan kehilangan itu, atau mungkin karena kamu menyia-nyiakan kesempatan yang hadir, atau bisa juga karena kamu salah mengambil keputusan. Sometimes, all you have to do is loosen up? Bener engga? Tapi bukan berarti dengan begitu membuat kamu jadi enggan untuk melanjutkan kehidupan kembali. Please, you don’t own all the problems in the world.

Entah disadari atau engga hal-hal yang belum sepenuhnya kamu terima itu akan menjadi halangan kamu untuk melanjutkan kehidupan. Mulai dari ketika bertemu dengan orang baru kamu menjadi jauh lebih dingin karena hal-hal yang menghantui pikiranmu atau karena terkenang hal lalu yang membuatmu mengalami trauma untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Apakah sudah mulai terlihat korelasinya? Apakah sudah mulai paham mengapa aku bisa berkata bahwa kamu tidak bisa memulai kehidupan barumu dengan tenang apabila belum memaafkan segala perbuatanmu di masa lalu?

Kehilangan sendiri mengajarkan kamu banyak sekali hal. Termasuk menghargai setiap pertemuan yang terjadi. Dan kehilangan pulalah yang mengantarkan kamu dengan sebuah pertemuan baru yang semakin mendekatkanmu dengan tujuan hidupmu. Pernah engga sih kamu mikir kalau tidak mengalami kehilangan, entah itu benda atau orang yang kamu sayang maka kamu engga akan sampai di titik ini. Engga sampai di tahap pendewasaan ini. Hidup berputar, umur semakin bertambah maka pengalaman tentunya semakin banyak yang bisa dijadikan pelajaran. Seharusnya demikian bukan?

Terkadang kamu terjebak dalam dogma yang berkembang di masyarakat bahwa kamu membutuhkan orang lain untuk membuatmu bisa merasa bahagia. Membutuhkan orang lain untuk bisa tersenyum. Atau contoh lainnya kamu merasa engga sih kalau sekarang kita hidup di zaman yang everyone says they love peace but in reality they don’t. Yang mana semuanya menuju pada satu perspektif kalau kita maunya orang lain yang melakukan hal itu. Dimana kita hanya sebagai pihak yang menerima. Kepikiran engga kalau semua orang berpikiran seperti itu, lantas siapa yang akan memberi? Mengapa tak kamu ubah saja dengan menjadi sumber agar orang lain bisa berbahagia. Menjadi alasan orang lain untuk bisa tersenyum. You don’t need a reason to smile, cause you’re the reason. Bagaimana kalau kamu berpikiran dan menanamkan itu ke dirimu sendiri? Sebelum kita bisa membahagiakan orang lain terlebih dahulu kita harus bisa bahagia. Pun begitu, jika kita ingin meng-influence orang lain agar bisa tersenyum ya mulailah dengan kamu yang bisa tersenyum.

Gimana cara biar bisa bahagiain diri sendiri? Gimana cara biar bisa tersenyum tanpa harus nunggu orang lain bikin senyum? Jawabanku ya cuma satu, mulai dengan memaafkan diri, berdamai dengan diri sendiri maupun masa lalu, melepaskan apa yang memang tak bisa digenggam, merelakan apa yang memang tak bisa dimiliki, mengikhlaskan apa yang sudah harus pergi.

Pada akhirnya yang perlu kamu sadari dan lakukan pertama kali adalah memaafkan diri sendiri akan segala hal yang sudah terjadi adalah satu hal sangat amat diperlukan. Tentu saja kita pernah mengalami bad day, week, month or year. But you must remember, that you can’t see a rainbow without a rain and a little storm. Seperti apapun dunia menyudutkanmu. Seperti apapun cara orang lain untuk menjatuhkanmu. Percayalah bahwa Tuhan selalu menjagamu dan berada di dekatmu. Percayalah bahwa segala sesuatunya akan terlewati. Yuk mulai untuk memaafkan diri, mulai untuk menerima segala kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Serta mulai untuk lebih mengenali diri sendiri jauh lebih baik daripada sebelumnya. Cause, You Only Live Once.

Jakarta, 2 Januari 2016

Y.O.L.O (Make A Move)

I think there is something, more important than believing: Action! The world is full of dreamers, there aren’t enough who will move ahead and begin to take concrete steps to actualize their vision. - W. Clement Stone -

Pergantian adalah hal yang tidak pernah bisa kita hindari. Siang jadi malam. Malam jadi siang. Bahkan pertumbuhan rambut atau kuku selalu ada tiap detiknya walau hanya beberapa mili atau bahkan satuan yang jauh lebih kecil lagi.

Mungkin beberapa dari kita sering kali mengeluh ketika ada perubahan drastis yang terjadi tanpa kita inginkan. Contoh singkat yang paling sering dirasakan adalah ketika seseorang yang begitu dekat dengan kita kemudian menjadi jauh. Lalu akhirnya timbul beragam asumsi dalam kepala dan berujung dengan membandingkan segala laku di hari kemarin dan hari ini.

Kadang, seseorang berubah bukan karena ingin menjauhi atau meninggalkan. Tapi memang siklus adanya demikian. Entah karena tuntutan kesibukan yang semakin padat atau memang karena ada hal-hal lain yang secara tidak sengaja membuatnya berubah. Who knows? Yang pasti berubah itu sudah mutlak.

Memang, yang paling terlihat adalah ketika perubahan itu menyangkut perubahan pada orang terdekat kita. Then, what should I do? Apa yang harus aku lakukan kemudian, setelah menanggapi hal-hal yang berubah -entah pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Acapkali hal itu yang berputar-putar di benak. Dan membuat kita seringkali merenung untuk waktu yang tak singkat.

Bukan merenung untuk bergerak, melainkan merenungi apa kesalahan yang telah dibuat, apa hal-hal yang dilakukan hingga membuat perubahan yang tidak diingini seperti itu. Tak ada salahnya memang jika kita kembali memutar sedikit memori ke belakang untuk mencari tahu apa yang salah. Tapi yang sedikit harus dibenahi adalah ketika merenung tersebut kita tak seharusnya menyita waktu terlalu banyak hingga nyaris lupa untuk melakukan perubahan yang mendukung kehidupan kita agar tetap berada di lintasan. Dan lalu akhirnya menyebabkan kesedihan yang berlarut-larut merajai hari kita. Padahal kita tahu bahwa sedih yang berlarut-larut itu tidak pernah baik.

”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” QS. Ali Imran: 139

Begini, ketika ada satu kebiasaan yang berubah tentu akan mempengaruhi segala aspek lainnya juga. Hal itu sudah pasti tentunya, sebab kita ingat bahwa ada sebab akibat pada satu kejadian. Beberapa yang tidak siap akan adanya sebuah perubahan yang tidak pernah disangka sebelumnya tentu akan diselimuti rasa kecewa yang teramat sangat. Hingga mempengaruhi rutinitas sehari-hari yang dilakukan. Terus berupaya mencari jawaban tapi tak kunjung menemukan jawaban.

Bila dilihat sebenarnya segala aspek kehidupannya baik-baik saja tapi entah kenapa hampa saja menjalani segala kegiatan. Dan akhirnya berujung pada kesedihan yang mendalam dan lalu segala pikiran-pikiran negatif menghampiri. Misalnya saja merasa sudah melakukan segala daya upaya agar bisa menjadi sukses tapi hasilnya masih saja tak pernah tampak. Melakukan segala kegiatan agar bisa mendekatkan pada mimpi-mimpi yang dimiliki tapi selalu saja ada yang menggagalkan.

Segala bentuk kekesalan, kemarahan dan ke-tidak terima-an diri, selalu saja hadir menyusup di tengah segala hal-hal negatif yang berkecamuk di benak. Hingga akhirnya membuat kita justru terjebak untuk melakukan penyiksaan terhadap diri sendiri yang berujung pada rasa benci pada diri sendiri atau orang lain yang menyebabkan suatu perubahan itu.

Padahal kita tahu bahwa semakin sering kita melabeli diri kita tidak bisa melakukan ini itu, diri kita salah akan hal ini itu justru akan membuat alam bawah sadar kita merekam stimulus yang ada tersebut dan membuatnya terus ada hingga hari-hari ke depan. Aku pernah membaca bahwa 80% perilaku kita berdasarkan pikiran bawah sadar, yang mana pikiran bawah sadar sendiri terjadi setelah melewati proses yang berulang tadi. Ketika kita merasa gagal dan menyalahkan diri kita sendiri, sudah barang tentu pikiran kita menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain yang menjadi bukti pembenaran bahwa kita memang benar salah.

Logis memang, tapi tetap saja itu merupakan pembenaran yang salah. Kenapa? Karena ya itu tadi, kita bukan akan muncul ke permukaan dan melakukan hal-hal yang lebih baik namun justru semakin tenggelam pada kesedihan dan gelombang keputusasaan. Mungkin, ada yang harus dibenahi selain niat untuk jauh lebih baik. Mungkin benar jika ternyata ke-iman-an kita lah yang belum cukup baik. Iman yang kumaksud di sini adalah iman yang tak tampak, yang kasat mata, namun harus diyakini. Iman yang memenuhi syarat, Diyakini dengan hati; Diucapkan dengan lisan; Diamalkan dengan perbuatan.

Maka, berhentilah untuk menghabiskan waktumu hanya dengan memikirkan kesalahan apa yang telah diperbuat atau membanding-bandingkan hari ini dengan hari kemarin. Berhenti mencari media-media pembenaran yang semakin membuatmu terus berkubang dengan kesedihan dan membuatmu semakin dalam tenggelam pada keterpurukan. Kamu harus ingat bahwa perubahan itu mutlak ada, entah semakin mendekatkan dengan mimpi atau menjauhkanmu dengan mimpi. Entah menjauhkanmu dengan orang-orang di sekitarmu atau bahkan mendekatkanmu dengan mereka-mereka yang sebelumnya tidak pernah kamu sangka akan bisa menjadi dekat. Bukan hanya ingat bahwa perubahan mutlak ada, tapi kamu harus lebih ingat bahwa apa yang Tuhan berikan di hidupmu memang itulah yang kamu butuhkan dan yang terbaik untukmu.

Hampa yang mungkin hadir ketika ada perubahan yang menyapa atau ada banyak kegagalan yang dirasakan adalah hampa yang bersifat relatif-bisa diukur oleh dirimu sendiri. Hampa berdasarkan upaya-upaya kita mengejar sesuatu yang kita harapkan bisa dilihat oleh orang lain tapi membuat kita lalai memaknai hal-hal mutlak yang terjadi berdasarkan kehendak-Nya.

Perubahan akan selalu ada, entah ke arah yang tak baik atau ke arah yang jauh lebih baik. Yakinkan dirimu agar segala bentuk perubahan yang terjadi di hidupmu adalah perubahan yang menuju kebaikan mutlak yang hakiki. Apa yang kamu inginkan hanya akan tetap menjadi mimpi yang menggantung bila kamu tak segera memutuskan untuk bergerak dan beranjak menggapainya. Yang hadir akan terus berganti, entah cepat atau lambat. Bukan bagaimana kita menyesali yang sudah lewat, tapi bagaimana kita memaknai sebuah pertemuan dan mengambil hikmah dari setiap perubahan yang terjadi kemudian. Jadi tunggu apalagi, let’s make a move, cause You Only Live Once :))

Tangerang, 28 Maret 2016

“I want to be financially independent, but it’s a bit difficult. It’s not only me; every artist wants financial independence, but for us it can be the hardest thing to achieve.”
“What’s your reason for continuing on as an artist then even though financial independence is so difficult?”
“I think other jobs wouldn’t make me happy. You only live once.”

“경제적 자립을 하고 싶은데 그게 좀 어려워요. 저 뿐만 아니라 모든 예술인들의 목표이지만 가장 힘든 부분이기도 해요.”
“경제적 자립이 어려워도 계속 하는 이유는 뭘까요?”
“다른 일을 하고 있는 내 모습에 행복해 하지 않을 것 같거든요. 인생은 한번이잖아요.”