youonlyliveonce

Y.O.L.O (Jarak)

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayangi bila ada ruang? -Dewi Lestari-

Pernah membaca kalimat itu? Seringkali kamu merutuki jarak yang tengah diciptakan seseorang kepadamu. Seringkali bertanya mengapa harus ada jarak, mengapa menjauh, mengapa mengapa mengapa. Terus saja menanyakan alasan yang terjadi, lalu menimbulkan beragam asumsi sendirian.

Boleh kutanya satu hal? Lelahkah kamu berada dalam pertanyaan yang kamu ciptakan sendiri itu? Jika iya kamu merasa lelah, coba tenang sejenak, rilekskan dirimu sebentar. Dan aku akan kembali bertanya apa yang tengah kamu lakukan, bukankah kamu tengah berhenti? Bukankah itu sama saja dengan spasi dan atau jeda? Kemudian samakan dengan jarak yang tengah hadir menemani, jarak itu spasi, jarak itu jeda, kawan. Mereka dibutuhkan sesekali, sekedar untuk membuatmu kembali merasakan dan menelaah sesuatu dengan lebih jernih dan lebih baik tanpa ada gegabah untuk menyikapinya.

The scariest thing about distance is that you don’t know whether they’ll miss you or forget you -Nicholas Sparks- Bukankah itu yang seringkali kamu takutkan dan pertanyaan itulah yang menghinggapi benakmu saat ini? Apakah mereka merindukanku seperti aku merindukannya atau malah mereka melupakanku karena telah mengenal orang baru. Tak ada yang salah dari permikiran itu memang, tapi satu yang harus kamu tahu, berhenti menerka, berhenti menebak-nebak, berhenti bertanya dan mengambil kesimpulan dengan teorimu sendiri. Bukan kebenaran yang kamu dapatkan, melainkan hanya lelah yang akan kamu genggam.

Hidup selalu berkaitan dengan pertemuan dan perpisahan. Dia yang sekarang dekat, mungkin akan menjauh di esok hari, tanpa pernah mengucap kata pamit. Tanpa harus berkata aku pergi atau aku ingin menjauh darimu. Dan untukmu yang terus saja bertanya akan jarak itu, tak perlu ada yang kamu takutkan apalagi sesali, yang lalu tetap saja pernah mengukir bahagia denganmu bukan? Bumi berputar, kehidupan pun demikian, dan semuanya adalah wajar adanya. Satu yang jangan pernah kamu takut untuk lakukan, sapalah dia yang pernah memberikan bahagia untukmu. Apa susahnya menyapa bagian indahmu di masa lalu? Bukankah kita tidak diperkenankan memutus tali silaturahmi?

Kemudian aku ingat, Michael Bassey pernah berkata, If you truly want to be respected by people you love, you must prove to them that you can survive without them. Kemudian gabungkan saja pernyataan Lana Del Rey serta Ziad K mengenai jarak, distance sometimes lets you know who is worth keeping, and who is worth letting go. Sometimes you just need to distance yourself from people. If they care, they’ll notice. If they don’t, you know where you stand.

Bisa menarik kesimpulan dari pernyataan itu? Jarak itu berharga, sangat amat berharga (menurutku). Hingga terkadang kamu lupa, sedekat apapun kamu dengan seseorang kamu juga butuh adanya sebuah jarak. Terlebih jika kedekatan antar lawan jenis. Karena bisa saja tanpa kamu sadari, dengan kedekatan yang tercipta, ada harap yang perlahan muncul tanpa pernah kamu sadari. Dan sayangnya harap itu muncul hanya pada salah satu pihak, atau bisa juga keduanya namun sayangnya, harapan itu muncul ketika kamu dan dia belum sanggup untuk membiarkan harap itu berlabuh pada hati masing-masing.

Adanya jarak yang tercipta baik secara sadar ataupun tidak seringkali merupakan hal yang jauh lebih mudah daripada harus berpura-pura baik padahal tidak sedang dalam keadaan baik. Atau mungkin juga jarak dipilih karena enggan menjelaskan sesuatu hal yang rasanya teramat sulit diungkapkan.

Dewi Lestari pernah berkata, seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi. Jarak tercipta mungkin saja karena terkadang seseorang butuh menetralisir apa yang dirasa. Meyakinkan apa yang sedang dia rasa, menalarnya, kemudian membuatnya lebih rasional untuk memutuskan hal apa yang akan dia lakukan nanti, tetap menjalani hal seperti biasanya atau dibiarkan berlalu begitu saja.

Untuk siapapun itu yang sedang berada di batas jarak; kepada setiap alasan yang tidak pernah kamu ketahui, kepada setiap jalan pikiran yang kerap tak bisa untuk dipahami, kepada seluruh pilihan yang coba untuk kamu nikmati, tetaplah memandang seseorang dengan caramu sendiri, dan sesekali coba pula untuk melihat cara pandang orang lain, tapi jangan pernah merubah dirimu untuk orang lain. Dan tulisan ini akan aku tutup dengan satu kalimat dari Dewi Lestari (lagi), momentum tidak dapat dikejar. Momentum hadir. Begitu ia lewat ia tidak lagi sebuah momentum. Ia menjadi kenangan.

Bagi kamu dan siapapun yang membaca ini, semoga bisa menghargai setiap pertemuan dan perpisahan yang tercipta. Semoga bisa menjaga hubungan baik yang sedang tercipta dengan seluruh kemampuan yang kamu miliki. Hargai mereka yang hingga sat ini masih dekat denganmu, sedang untuk mereka yang sudah jauh, do’akan saja agar bahagia selalu melingkupi mereka. Adanya jarak bukan untuk disesali, tapi untuk dimengerti dan disyukuri. Dan pilihan yang terbaik selalu berkaitan dengan menerima dan mengikhlaskan. Semoga semakin dewasa segala rasa serta akal. Setelah ini, semoga Tuhan selalu memberikan cara agar kita bisa merasakan bahagia, secukupnya. Ingat, You Only Live Once


Jakarta, 14 Desember 2015

*tulisan ini lahir setelah pagi tadi sempat hampir mengalami kecelakaan ketika mengendarai motor menuju kantor*

We owe it to our inner child to have complete victory and live the life that we’ve always wanted to live regardless of our current circumstance.

Remember when we just knew that the whole world was ours and we can do anything that we wanted to do? Well… we grew up and let the shadows of the life cover our light. Our experience eliminated our innocence.

Anyhow, With a new belief system we can overcome any obstacle in our way. The great news is, that 9 out of 10 times, we are own obstacle. That means that we have the full power to remove it! :) You owe it to the child that still lives inside of you and the one that brings your absolute joy to think about. Remember her? Remember him? That should be your driving force. Make all your visions come true by starting to really believe in you, again. I mean why not? No, really… why not?

#riseinlovewithyou #youonlyliveonce #inspiration #motivation #quote #justdoit #childhood #whynot #believeandachieve

Y.O.L.O (Kehilangan)

what defines us is how well we rise after falling - anonymous -

Apakah kamu pernah merasakan jatuh? Apapun itu yang menggunakan kata jatuh, termasuk cinta. Setiap jatuh selalu memiliki sakit yang bisa saja nampak namun bisa juga tidak. Tapi tetap saja namanya sakit, bukan? Sakit adalah konsekuensi mutlak yang memang sudah pasti kamu terima tentunya. Tapi, pernahkah ketika kamu jatuh, kamu berusaha menolak untuk mengakuinya? Kurasa aku sering demikian, entah bagaimana halnya denganmu. Penyebabnya bisa saja karena malu, atau karena gengsi, atau juga karena terlalu tahu diri, atau bisa jadi agar tak terlihat lemah. Bahkan tak jarang beberapa orang menangis menahan sakit yang ia alami sendirian, tak menyalahkan kamu atau siapapun. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena bisa terjatuh pada sesuatu, termasuk terjatuh pada hati yang tak memilihnya untuk terjatuh juga. Tak ada yang tahu dengan pasti apa penyebabnya kecuali dirimu sendiri.

Berapa banyak perjumpaan yang Tuhan berikan padamu selama ini? Sungguh, kamu tak akan mampu menghitungnya. Tapi berapa banyak kegelisahan dan kesedihan yang kamu alami atas perpisahan yang terjadi di hidupmu? Aku yakin kamu mampu menjabarkannya satu persatu.

Aku tak akan membahas tentang apa itu kehilangan, pertemuan maupun perpisahan, meski nyatanya akan banyak kamu temui kata-kata itu di dalam tulisan ini. Tak ada kamu temukan fokus khusus pada tulisan kali ini, ini lebih pada bagaimana aku mengurai apa yang sedang berkeliaran di benakku.

Pernahkah kamu berusaha menghilang dari kehidupan seseorang hanya karena kamu sedang menghindari sebuah kehilangan akan dirinya? Maksudku kamu memilih menghilang sebelum dia yang pergi menghilang.

Kamu harusnya paham betul, bahwa sebelum memilih menghilang ada baiknya kamu menelisik kembali arti sebuah pertemuan yang Tuhan rancang untukmu.

Jika saja kamu tahu bertemu dengan seseorang itu selangkah lebih dekat dengan perpisahan dengannya pula. Percaya atau tidak. Mau memahami atau tidak. Itulah kehidupan, sebuah persinggahan serta pembelajaran. Namun bukan berarti tak akan ada yang menetap, ada, pasti ada yang menetap namun akhirnya kembali akan berpulang kehadirat Tuhan.  

Maybe, a lot of people brings you down. But you must know that there will always somebody wanna helps you to get up. Selalu demikian, yang pergi akan digantikan dengan yang baru. Pun begitu dengan yang baru akan ada masanya untuk kemudian tergantikan juga.

Berapa banyak waktu yang telah kita lalui? Berapa banyak rasa yang sudah mampu untuk kita tafsirkan sendiri? Tak lagi mampu untuk kamu hitung tentunya. Segala moment bahagia akan selalu terbingkai menjadi sebuah memori yang terbaik. Sama halnya dengan moment yang menyedihkan, ia pun akan terkenang sebagai sebuah pelajaran berharga mengenai kelemahan diri dan kebutuhan kita untuk selalu dekat dengan-Nya.

Terkadang kita menolak ketika orang lain sudah berkata bahwa kita telah merasakan sakit. Denial. Sebut saja seperti itu, kamu menyangkalnya dengan tertawa, tersenyum atau mengatakan bahwa semuanya tidak mungkin. Jika saja kamu mau percaya kata mereka, jika saja kamu tidak menyangkal, pasti kamu tidak akan terluka dan merasakan sakit yang teramat parah.

Dan tak ayal pada akhirnya kamu akan meminta pada Tuhan untuk memusnahkan segala rasa yang hadir tanpa pernah kamu inginkan. Lalu bergegas merapikan segala perlengkapanmu untuk angkat kaki dan enyah dari hadapannya. Nyatanya, apakah akan semudah itu segalanya terjadi? Apa yang berkaitan dengan hati tak semudah itu untuk dibolak-balikkan sesuai inginmu, kecuali Dia yang berkehendak. Bahkan sejauh apapun kamu berlari menghindar, jika Dia inginkan kamu untuk tetap tinggal. Maka tak ada yang bisa kamu lakukan kecuali mulai terbuka dan mengakui rasamu sendiri. Dan tetap tinggal sembari belajar akan rasa yang telah tersemai di hatimu.

Dan bagiku tak usah terburu-buru untuk mundur, mundur adalah pilihan terakhir dari sekian banyak pilihan yang harus kamu pilih seharusnya. Ketika mundur maka sudah tak ada lagi yang bisa kamu perjuangkan, sayangnya kamu lupa, perjuangan terakhir yang sangat bisa kamu lakukan adalah mendo'akan segala yang terbaik untuknya. Berdo'a pun termasuk sebuah bentuk perjuangan rasa bukan?

Kamu tentu tahu, segala sesuatu yang sudah semestinya bersatu maka tak akan ada yang mampu untuk menghalanginya menjadi satu. Meski sempat terpisah sekalipun. Vice Versa.

Maybe you know that you still so far from the perfection that you want or you imagine. But I wish as every second you breathe, you get closer to it. Yakin saja, sedalam apapun sakit yang kamu rasakan ketika terjatuh, sebanyak apapun luka yang tertoreh, yakinkan dirimu adalah insan yang cukup kuat untuk menghadapinya, karena Tuhan tak akan pernah meninggalkanmu sendirian.

Dan akhirnya aku akan menutup tulisan ini dengan satu kalimat dari Ika Natassa, yang perlu kita ingat cuma ini : saat kita ‘rela’ berkompromi dengan seseorang, di luar sana pasti ada juga yang rela berkompromi dengan kita

Berkompromilah dengan dirimu sendiri sebelum kamu ingin membuat orang lain bisa berkompromi denganmu. Dan satu lagi, jalur yang kita tempuh memang tak selalu sama dengan orang lain, entah itu seseorang yang begitu berarti di hidupmu atau juga bukan. Tapi percayalah bahwa di setiap jalan yang kamu lalui, selalu akan ada jalan lain yang kamu lihat lengkap dengan mereka-mereka yang pernah berjalan beriringan denganmu atau bisa juga mereka yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya untuk bisa bertemu.

Apakah kamu sadar dan cukup untuk mengerti, bahwa itu tandanya, pertemuan akan selalu ada meski perpisahan tak pernah terelakkan.

Berbahagialah dengan perjalanan yang sedang kamu tempuh kini, sebanyak apapun perpisahan yang kamu alami, maka sebanyak itu pula akan tercipta sebuah pertemuan kembali. Berikan hal terbaik pada orang-orang yang kamu temui sejauh kamu menyusuri jalanan ini, karena kita tidak pernah tahu kapan pertemuan yang memisahkan akan terjadi, atau bisa saja pertemuan akan terjalin kembali setelah perpisahan yang kamu alami. Selamat menantikan kejutan-kejutan dari semesta, nikmati saja waktumu saat ini, cause You Only Live Once :)))

Jakarta, 9 Januari 2016

don’t feel like you need to be thankful all the time, you have the right to be upset, you have the right to wish and want. if you’re told “stop, other people have it worse than you” think, you’re you and that’s what your life is. other people are more unfortunate but you were given this life for a reason so succeed, work hard and give life you’re all and spoil yourself because you only live once and you’re given one life so make it yours.
—  10:00AM thoughts
Y.O.L.O (Perihal Rasa)

Terus saja seperti itu, menanti dia yang menghubungimu terlebih dahulu. Menanti dia yang menanyakan kabarmu lebih dulu serta menunggu dia yang mencarimu lebih dulu. Memang apa salahnya jika kamu yang memulainya lebih dulu? Egomu terlalu tinggi, sadari itu!

Dia sudah terlalu sering mencari cara untuk menghubungimu. Sudah terlalu sering memancing pembicaraan hanya untuk sekedar menyapamu. Tapi kamu? Mau sampai kapan bertahan di balik dinding yang kamu ciptakan itu? Tidak bosan?

Baiklah, mungkin setiap orang pernah terluka. Dan aku tahu, kamu pun demikian. Tapi ketika seseorang terluka, bukankah mereka masih punya kesempatan untuk bahagia? Mengapa tak pernah kamu coba untuk menciptakan bahagia itu bagi dirimu sendiri? Meski memang selalu ada kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Begini, bagaimana jika tawa yang biasanya kamu dengar darinya perlahan menghilang hanya karena dia mengira kamu terlalu jauh untuk diraih? Bagaimana jika ia mengira segala perilakumu adalah sebuah penolakan? Padahal sebenarnya kamu hanya menyamarkan perasaan yang perlahan hadir di hatimu. Menyembunyikan semuanya hanya karena kamu takut dia tak memiliki rasa yang sama sepertimu.

Terkadang memang sulit mengartikan pola perilaku seseorang. Mencari tahu apa maksud dan tujuan dia bertingkah seperti itu. Tapi, untuk kali ini berhentilah berekspektasi lebih. Maksudku berhentilah untuk selalu berpikir a-z yang sebenarnya belum tentu demikian adanya. Berhentilah menerka bagaimana jika dan hanya jika. Berhentilah untuk terus menerus dipengaruhi paradigma-paradigma yang kamu ciptakan sendiri. Logika memang perlu digunakan ketika kamu jatuh cinta, tapi logikamu bukan digunakan untuk menerka-nerka tentang apa yang dia pikirkan. Pakailah logika itu untuk menentukan pilihan, mengenai apa yang akan kamu lakukan dengan rasa yang kamu miliki tersebut.

Seseorang pernah berkata padaku, ketika kita jatuh cinta, hanya ada 2 pilihan yang bisa untuk kita lakukan. Pertama, mengusahakan, dalam artian kamu akan mengungkapkannya, at least dia tahu mengenai perasaanmu itu. Atau yang kedua kamu pergi, melupakan dan mengemasi perasaanmu itu karena mungkin ada hal lain yang jauh lebih besar yang ingin kamu jaga dan pertahankan.

Resiko ketika seseorang jatuh cinta itu ya patah hati dan kecewa. Sekarang begini, berharap saja yang terbaik dan siap dengan apapun hasil terburuk. Hidupkan memang demikian. Expect nothing walau sebenarnya kamu berharap lebih agar rasamu dapat terbalas. Setidaknya, ketika kamu belajar untuk tidak berharap apapun dengan begitu kamu akan bisa bebas lepas menjadi dirimu yang sebenar-benarnya.

Jika memang tak ada yang ingin kamu rusak dari apa yang sudah terjalin. Jika memang kamu ingin tetap bertahan di balik dinding itu sendirian. Jika memang kamu menanti dia untuk memulai lebih dulu mengungkapkan rasa, meski bisa saja belum tentu dia memiliki rasa yang sama. Yasudah tetaplah bersikap sewajarnya, seperti kamu yang biasanya. Tak perlu ada yang dirubah agar kamu bisa menjadi seseorang yang dia butuhkan misalnya. Tak usah juga kamu ngotot agar ia bisa tahu perasaan yang kamu miliki. Tetaplah berada di jalan yang biasa kamu lalui, bersabarlah dalam penantian panjangmu. Tuhan tidak pernah meninggalkan dirimu sendirian, setidaknya tetaplah berbuat kebaikan untuknya selama kamu mampu, meski gelisah karena rasa yang kamu punya kerap menghantui harimu.

Hidup terlalu berharga jika hanya kamu gunakan untuk  hal-hal yang menguras pemikiran namun membuatmu diam di tempat. Sesekali, tengoklah keadaan sekitar. Bergeraklah maju untuk sebuah perubahan yang bisa kamu lakukan. Semoga Tuhan senantiasa memberikanmu bahagia, serta kamu selalu menemukan cara untuk meraih bahagia itu. Sebab bahagia bukan hanya untuk kepuasan diri sendiri. Berbahagialah selalu, secukupnya. Sebab, You only live once.

Jakarta, 11 Desember 2015

Of course I’m up early as can be this Saturday morning, I’m not a calm person and walking the runway this afternoon is keeping my mind from any kind of peace! I chose to post this image today as I feel it represents so much that is relevant to where I am today. This image of me was taken about two months ago, in my ditavonteese set, when I was still getting used to the idea of being in front of the camera. I struggle to take modeling seriously sometimes as the idea of me doing it seems like such a laughable concept. It’s hard to ignore your fears and bury your standard thought process in order to try and take on different roles that you may love the idea of but aren’t used to. A few years ago if an opportunity to walk on a runway was offered to me I would have said no. I would have thought why go through the stress and possible embarrassment of all that could go wrong on a runway? Better to play it safe and watch, let someone else put themselves out there. But now I think I’ve finally matured, when this opportunity arose I felt queazy at the thought of saying yes but when I thought about saying no and turning it down, I felt even worse! I realised that as much of a risk this could be, putting myself out there, possibly falling over, not knowing what I’d be dressed in… The thought of not even giving it a go seemed much more risky! And I was right! After yesterday’s rehearsal I can already see how much fun this would be and I’m so glad I knew better than to turn it down simply because it made me nervous! I feel like I’m stepping into someone else’s shoes today, out of the shadows and into the spotlight… Quite literally there is about three set up! But it’s the little steps I take that will soon make me feel like I’m in my own shoes and my own skin doing things like this, and one day I’ll be more confident with these types of situations!

Y.O.L.O (Memaafkan)

The day you forgive yourself is the day you start to live

Sebelumnya selamat tahun baru 2016. Semoga jauh lebih baik dan bermanfaat lagi di tahun ini. Btw, lebih enak lagi baca tulisan ini sambil denger lagunya Rachel Platten – Fight Song :)))))

Oke, statement tadi akan dijadikan kalimat pembuka aku mengawali tulisan ini. Jadi, hari ini lagi-lagi random melandaku. Dan entah kenapa hal yang terlintas adalah mengenai memaafkan diri sendiri.

Kenapa sih harus memaafkan diri sendiri? Kenapa bisa bilang dengan memaafkan diri sendiri kita baru bisa memulai kehidupan yang baru?

Kalau kamu salah satu yang bertanya demikian maka lemme try to explain you. Jika kamu termasuk yang bisa saja tiba-tiba menangis tanpa alasan yang pasti. Atau mungkin kamu tipikal yang emosinya bisa berubah mendadak hanya karena perkataan atau perbuatan seseorang yang sebenarnya tak ada maksud menyinggung tapi kamu menganggap itu sebagai bentuk hal yang melukai hatimu. Coba sedikit merenung sebentar. Adakah hal di masa lalumu yang belum sepenuhnya bisa kamu relakan ataupun kamu ikhlaskan? Entah itu mungkin kesalahan yang tidak kamu sengaja. Atau bisa jadi keputusan yang kamu ambil membuatmu mengalami hal yang menyakitkan di saat ini. Atau mungkin juga kehilangan seseorang yang benar-benar kamu sayangi. Adakah hal itu pernah ada di masa lalumu dan hingga saat ini tanpa kamu sadari terus membayangi harimu? Membuatmu enggan untuk melangkah, membuatmu membangun benteng pertahanan yang sangat amat tinggi untuk menghindari hal itu terjadi lagi. Yang mana terkadang ketika benteng pertahananmu itu hanya sedang coba diketuk kamu sudah menganggap itu sebagai aksi untuk meruntuhkannya. Dan parahnya lagi bentengmu terkadang hanya ditengok sejenak oleh mereka yang sedang berjalan melewatinya atau juga hanya sekedar diintip kamu sudah terburu-buru menganggap hal itu telah membuat benteng pertahananmu runtuh. Dan pada akhirnya malah akan membuatmu semakin trauma, yang mana trauma itu semakin menumpuk dan kamu tidak akan lepas dari kungkungan masa lalu itu.

Beberapa masalah yang hadir, beberapa kehilangan yang menyapa bukanlah hal yang harus kamu terus rutuki. Even kamu merasa bahwa kamu yang menyebabkan kehilangan itu, atau mungkin karena kamu menyia-nyiakan kesempatan yang hadir, atau bisa juga karena kamu salah mengambil keputusan. Sometimes, all you have to do is loosen up? Bener engga? Tapi bukan berarti dengan begitu membuat kamu jadi enggan untuk melanjutkan kehidupan kembali. Please, you don’t own all the problems in the world.

Entah disadari atau engga hal-hal yang belum sepenuhnya kamu terima itu akan menjadi halangan kamu untuk melanjutkan kehidupan. Mulai dari ketika bertemu dengan orang baru kamu menjadi jauh lebih dingin karena hal-hal yang menghantui pikiranmu atau karena terkenang hal lalu yang membuatmu mengalami trauma untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Apakah sudah mulai terlihat korelasinya? Apakah sudah mulai paham mengapa aku bisa berkata bahwa kamu tidak bisa memulai kehidupan barumu dengan tenang apabila belum memaafkan segala perbuatanmu di masa lalu?

Kehilangan sendiri mengajarkan kamu banyak sekali hal. Termasuk menghargai setiap pertemuan yang terjadi. Dan kehilangan pulalah yang mengantarkan kamu dengan sebuah pertemuan baru yang semakin mendekatkanmu dengan tujuan hidupmu. Pernah engga sih kamu mikir kalau tidak mengalami kehilangan, entah itu benda atau orang yang kamu sayang maka kamu engga akan sampai di titik ini. Engga sampai di tahap pendewasaan ini. Hidup berputar, umur semakin bertambah maka pengalaman tentunya semakin banyak yang bisa dijadikan pelajaran. Seharusnya demikian bukan?

Terkadang kamu terjebak dalam dogma yang berkembang di masyarakat bahwa kamu membutuhkan orang lain untuk membuatmu bisa merasa bahagia. Membutuhkan orang lain untuk bisa tersenyum. Atau contoh lainnya kamu merasa engga sih kalau sekarang kita hidup di zaman yang everyone says they love peace but in reality they don’t. Yang mana semuanya menuju pada satu perspektif kalau kita maunya orang lain yang melakukan hal itu. Dimana kita hanya sebagai pihak yang menerima. Kepikiran engga kalau semua orang berpikiran seperti itu, lantas siapa yang akan memberi? Mengapa tak kamu ubah saja dengan menjadi sumber agar orang lain bisa berbahagia. Menjadi alasan orang lain untuk bisa tersenyum. You don’t need a reason to smile, cause you’re the reason. Bagaimana kalau kamu berpikiran dan menanamkan itu ke dirimu sendiri? Sebelum kita bisa membahagiakan orang lain terlebih dahulu kita harus bisa bahagia. Pun begitu, jika kita ingin meng-influence orang lain agar bisa tersenyum ya mulailah dengan kamu yang bisa tersenyum.

Gimana cara biar bisa bahagiain diri sendiri? Gimana cara biar bisa tersenyum tanpa harus nunggu orang lain bikin senyum? Jawabanku ya cuma satu, mulai dengan memaafkan diri, berdamai dengan diri sendiri maupun masa lalu, melepaskan apa yang memang tak bisa digenggam, merelakan apa yang memang tak bisa dimiliki, mengikhlaskan apa yang sudah harus pergi.

Pada akhirnya yang perlu kamu sadari dan lakukan pertama kali adalah memaafkan diri sendiri akan segala hal yang sudah terjadi adalah satu hal sangat amat diperlukan. Tentu saja kita pernah mengalami bad day, week, month or year. But you must remember, that you can’t see a rainbow without a rain and a little storm. Seperti apapun dunia menyudutkanmu. Seperti apapun cara orang lain untuk menjatuhkanmu. Percayalah bahwa Tuhan selalu menjagamu dan berada di dekatmu. Percayalah bahwa segala sesuatunya akan terlewati. Yuk mulai untuk memaafkan diri, mulai untuk menerima segala kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Serta mulai untuk lebih mengenali diri sendiri jauh lebih baik daripada sebelumnya. Cause, You Only Live Once.

Jakarta, 2 Januari 2016