yang geng

5

Sedap nya tengok mamat berbulu ni. Kalau ada dpn mata memang abah terkam dia tak lepas dah. 5 round pun sanggup. Siapa taste sama macam abah suka yang macam ni kita geng.

SELFIE2 #4: Bukan Gaya-Gayaan

Sejak dua tahun ke belakang (atau bahkan lebih lama lagi), hijrah menjadi kata yang begitu populer di kalangan anak muda. Sebut saja di Bandung, ketika sore hari selepas jam kuliah/kerja atau malam hari di akhir pekan, anak-anak muda ramai menghadiri majelis ilmu. Istilahnya, “Sekarang, gaul itu ke mesjid, bukan ke mall.” Ibu saya pernah mengatakan, “Alhamdulillah, ayeuna mah barudak ngora teh malem minggu ka marasjid, mening ge kitu lah dari pada ubrang-abring teu puguh (Alhamdulillah, sekarang anak-anak muda kalau malam minggu pergi ke mesjid. Lebih baik begitu, daripada jalan-jalan tidak jelas).” Apakah kamu juga adalah salah satu dari anak muda yang sekarang mulai berhijrah dan mencintai majelis ilmu? Bersyukurlah.

Minggu lalu saya pulang kantor lebih larut dari biasanya. Di perjalanan, jalanan tiba-tiba saja macet padahal biasanya di jalan itu selalu lancar. Dengan memicingkan mata karena sedang tidak menggunakan kaca mata, saya melihat di depan sana ramai sekali anak-anak muda berkerumun. Saya lalu bertanya-tanya, “Ada apa disana? Apakah ada kecelakaan?” Tanya saya terjawab beberapa menit kemudian ketika saya tepat melewati sebuah mesjid yang tak jauh dari kerumunan tadi. Ternyata, ada salah satu kelompok geng motor yang terkenal di Bandung yang baru saja bubaran dari mesjid selepas mengikuti sebuah kajian, padahal sebelumnya mereka terkenal selalu membuat onar. Saya langsung ingat akan hijrah. MasyaAllah. Begitulah, Allah memudahkan apa saja yang dikehendaki-Nya mudah, termasuk menggerakkan hati anak-anak muda dan bahkan geng motor sekalipun untuk mulai belajar mencari ilmu tentang Allah dan agamanya.

Dalam memaknai hal ini, ada satu hal yang perlu selalu kita ingat, yaitu bahwa 

Hijrah yang kita lakukan bukanlah sekedar untuk gaya-gayaan supaya tidak ketinggalan trend yang sedang tejadi, supaya dianggap gaul oleh teman-teman selingkaran, supaya disebut shalih/shalihah, atau supaya bisa mengambil hati seorang manusia. 

Jauh daripada hanya alasan-alasan semacam itu, hijrah seharusnya dilakukan untuk meraih ridhonya Allah: untuk menjadi hamba-Nya yang benar dan taat kepada-Nya. Kawan, hijrah selaras dengan komitmen untuk terus memperbaiki diri sebab kita sadar ada akhirat setelah kehidupan di dunia ini, bukan agar bisa dipanggi akhi atau ukhti.

Sekarang ayo kita sama-sama bertanya pada hati kecil masing-masing tentang hijrah kita yang selama ini sering kita banggakan. Apakah landasannya adalah karena Allah? Atau, apakah jangan-jangan kita hanya ingin mengikuti trend dan gaya-gayaan?

Semoga kita senantiasa menghisab diri atas segala yang kita lakukan sebelum kita bertemu dengan hisab sesungguhnya. Semoga Allah memudahkan hijrah kita agar kita pantas untuk dicintai dan diberi petunjuk oleh-Nya. Baarakallahu fiikum!

Let’s look into yourself!

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.30 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

Tentang Lelaki yang Paling Saya Percaya

Beruntunglah ibu hanya punya dua biji anak. Kata beliau, dua saja ramainya udah naujubillah. Umur sudah pada uzur tapi kelakuan kayak anak tetangga sebelah yang masih lima tahun. Hobinya teriak-teriak menertawakan saudaranya, rebutan nyiumin ibu, (dulu jaman kuliah) kejar-kejaran keliling rumah, kadang saya lempar kolor adek ke teras rumah dan saya cantolin di pagar. **kakak anarkis**. Atau menggunakan HP nya, saya sms temannya sesama cowok, “hai Rick, i love you deh.” Atau juga dengan HP nya, sms pacarnya, “hai, beb, aku mau boker”.

Ketika SMA (dia kelas 1 saya kelas 3), kami pulang dan pergi sekolah bersama karena sekolahnya pun selalu sama, dengan helm yang sama. 

Di kamar mandi kami, sering ada bawang merah atau cabe. Awalnya ibu bingung, lama-lama dia tahu, yang lemparin itu bumbu dapur adalah saya atau adik. Jadi kamar mandi itu temboknya tidak full menempel pada langit-langit, sehingga ada celah sekitar 40cm di atas. Kalau salah satu dari kami mandi dan yang lain ada di sebelah kamar mandi (kebetulan dapur), akan ngerjain dengan melempar sesuatu ke dalam kamar mandi. Ini bahkan masih kami lakukan hingga sekarang. kadang bawang itu dibiarkan di dalam kamar mandi hingga tumbuh tunas. -_-

Sifat adik dan saya sebenarnya berlawanan. Saya ambisius dan cenderung mengejar segala sesuatu, sedangkan adik saya lebih kalem dan menerima. Begitu pula secara fisik. Kadang saya letakkan kaki saya di pundaknya (betul-betul anarkis), lalu bilang ke ibu, “Buk, liat muka Gigih sama kakiku aja putihan kakiku.” Lalu saya dimarahi ibu karena kurang ajar. 

Kalau sedang di rumah, dia suka manja. Minta dibuatkan sambal terasi untuk sarapan, harus saya yang buatkan. Katanya enak. 

Belakangan, waktu berkumpul kami tidak sebanyak dulu. Seringkali kami sama-sama di rumah tapi berada di kamar masing-masing. Mungkin saya sendiri yang menciptakan jarak, entah mengapa. Mungkin saya sedang lebih suka sendirian. Dia sendiri capek bekerja, pulang ke rumah mungkin hanya tiga minggu sekali. Biasanya dia mengganggu dengan masuk paksa kamar saya. 

Suatu hari iseng-iseng sambil lalu saya bertanya padanya, “Gik, kalo misalnya aku nikah sama yang lebih muda dari kamu, gimana?” Katanya, “ya gapapa Din.” Lalu dia diam sebentar, “tapi aku bingung euy manggilnya apa ya?” Haha. 

Dia lama sekali baru lulus kuliah. Awalnya tertunda karena ikut merawat saya yang sakit selama satu tahun. Namun lama-lama dia malas dan benar-benar kehilangan motivasi menulis skripsi. Semuanya sudah khawatir dia tidak lulus. Karenanya saya selalu khawatir jika ada orang yang tidak juga lulus kuliah hanya karena tersendat di skripsi atau tugas akhir.

Saya senang ketika harus menghabiskan perjalanan berjam-jam dengannya. Biasanya kami akan menyetel musik kesukaan kami, berhenti di manapun kami mau berhenti, makan apapun yang kami mau, dan mengomentari orang-orang yang kami lihat. 

Suatu hari dalam perjalanan ke Surabaya, dia memutar sebuah lagu. Saya tanya, ini lagu apa dan siapa? Dia menjawab. Lalu saya lupa, dan bertanya lagi. Ini terjadi hingga empat kali pertanyaan yang sama. Dan dia tidak pernah merubah nada suaranya, tetap sabar.

Dia satu-satunya orang rumah yang tahu saya habis ke psikiater. 

Dia yang mengajari saya menyetir mobil. Saya takut sebenarnya, tapi dia selalu mendorong, dan pura-pura tidak takut ketika saya akan menabrak sesuatu. 

Dalam hal pekerjaan, jalannya tidak semudah saya yang sebagaimanapun sulitnya, tetap bisa masuk sini situ. Dia lebih sulit. Tapi seperti namanya, dia gigih. Meskipun saya tahu dia lelah, terlebih tahun depan sudah akan menikah.

Saya sempat khawatir, apa dia bisa? Dengan penghasilan segitu? Dengan kecenderungan rejekinya yang begitu? Tapi suatu malam, calon istrinya berkata pada saya, “aku percaya Mbak sama dia. Aku percaya banget. Dia pasti segimana juga akan berusaha, entah narik becak entah gimana.”

Ah, saya jadi sadar. Kan saya yang paling mengenal dia, paling sering bersama dia, paling dia jaga, kenapa masih meragukannya? Rejeki mah ada jalannya. Selama ini saya melihatnya sebagai lelaki yang sangat bertanggung jawab walaupun tidak terlalu cerdas. Dan herannya, dimanapun dia berada, sesedikit apapun penghasilannya, teman-teman dan bosnya selalu menaruh kepercayaan padanya. Orang-orang selalu berbuat baik padanya. Dan cewek-cewek banyak yang naksir juga, padahal cakep juga kagak.

Ayah dan ibu, termasuk adik saya, begitu berhati-hati ketika meminta ijin saya untuk menikahkan si adek lebih dulu. Bohong lah kalau saya tidak sedih. Tapi lalu hepi, karena dengan begitu saya tidak akan diburu-buru untuk menikah cepat hanya karena supaya adik bisa juga segera menikah. Dengan dia duluan kan saya jadi santai, hahaha mau nikah kapanpun ga masalah. **lalu sorak sorai** (Din, plis inget umur!!!). 

Adik saya punya teman-teman se-geng yang sering main ke rumah. Dulu mereka selalu ribut di depan rumah, minum kelapa yang diambil dari pohon depan rumah. Tertawa-tawa.  Kadang-kadang temannya menggodanya, celingukan mencari-cari saya, lalu komentar bahwa saya cantik. Ketika ada temannya yang nge fans saya, dia langsung marah dan bilang, “no!!!! My sister is not for my friend!!!” 

Dari adik saya, saya belajar,bahwa tanggung jawab seorang lelaki tidak semata-mata perihal harta. Secara finansial dia masih jauh dari ‘bisa memakmurkan keluarga’, tapi tanggung jawabnya di luar itu luar biasa. Dulu saya pikir punya adik seperti dia biasa saja. Tapi ketika saya bercerita tentang adik saya yang begini begitu, beberapa perempuan memandang saya dengan cemburu. Lalu berkata, ‘uh, beruntungnya adiknya bisa diandalkan seperti itu, adikku gak gitu’. Saya jadi bangga. Saya jadi bersyukur. Ditambah calon istrinya juga sudah jadi sahabat saya, jadi seperti nambah adik perempuan.

Dia adalah lelaki yang paling bisa diandalkan oleh ibu dan saya. Dia lelaki yang bisa menjaga saudaranya. Bahkan saat saya bersama dia, dia lebih dewasa dan justru bersikap seperti kakak saya. Dia yang menjemput saya ketika sakit di Jawa Barat, mengantarkan, merawat saya, dan melakukan segala rupa hingga saya bisa kembali mandiri. Tanpa mengeluh.

Dia bukan semacam ikhwan soleh yang rajin beribadah sunnah. Tapi dia tahu betul bagaimana menjaga mahramnya, juga teman-teman perempuannya.

Di dunia ini, jika ada laki-laki yang bisa saya percaya hampir sepenuhnya, itu adalah dia. Cowok berjidat super lebar. Wali, sahabat, sekaligus adik saya.

Watch on fuckyeahhangeng.tumblr.com

Ex Files (前任攻略) | Full movie with English subtitles | 720p HD | starring Han Geng, Yao Xing Tong, Wang Li Kun, Zheng Kai, Ban Jia Jia and Lee Yang Seob | now also streaming on Tudou Movies | via Chappy Moore

How Grateful I am : to be Bipolar Disorder (part III). How I Deal and Treat It!!

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari rangkaian curhatan saya terkait Bipolar Disorder yang saya derita. Uuh, padahal masih ingin diendapkan pun karena terus terang belum dibikin kerangkanya dan belum matang, tapi beberapa orang sudah kirim pesan ke saya minta segera dituliskan. 

Part I silahkan dibaca di PART I

Part II wajib dibaca di PARTII sebelum membaca part III ini.

Untuk ke sejuta kalinya, saya ingatkan pada teman-teman yang membaca : 

Hanya karena seseorang menderita gejala yang sama dengan yang saya alami (ada di part II), bukan berarti dia juga terkena BD. Berdasarkan penelitian teman adik saya, gejala BD sudah banyak dialami orang-orang di perkotaan. Tapi bukan berarti mereka juga sakit jiwa. Hal itu terjadi karena tingkat stres yang tinggi. Meskipun gejala-gejalanya terdengar biasa saja dan semua orang mengalami, pada penderita BD, gejala tersebut punya level yang cenderung ekstrim. Maka, tolong jangan mudah menyimpulkan seseorang kena bipolar hanya karena membaca ciri-ciri yang saya derita.  Stop being dramatic about yourself. Hufft, maap jadi marah-marah.

Saya akan share treatment yang saya lakukan untuk memperbaiki kondisi diri saya. Saya tegaskan, ini hanya berdasarkan pengalaman, informasi psikiater, dan beberapa artikel yang saya baca. Jadi, saya tidak menyarankan untuk diterapkan pada penderita lain.

One more time, this treatment just suit for myself. If you think you like it, do it. If you don’t agree, just leave it. You will find your own treatment. One think that you have to know, this treatment is really fun, works, and helpful for me. **sorak sorak**

0. Deal with this illness. Terima saja kamu punya kelainan jiwa, semeleh kata orang Jawa. Don’t do the denial. Lalu, ceritakanlah masalah kejiwaanmu pada orang-orang terdekat. Pada orang tua, pada sahabat, pada bos, pada pasangan. Karena mereka yang akan paling sering menjadi orang yang melihatmu ‘kumat’. Penting bagi orang-orang terdekat untuk menerima kondisimu dan tahu bagaimana kamu harus diperlakukan.

1. Cliche. Mendekatkan diri pada Tuhan adalah jalan yang paling baik. Bagi Muslim, sadar ga sih kita selama ini meremehkan Allah? Takut ini takut itu, takut besok makan apa, takut nanti bisa punya anak atau gak, takut kalau disakiti orang bagaimana. Jadi, mendekatkan diri pada Allah bukan hanya persoalan memperbanyak ibadah, tapi menghayatinya. Bagaimana memperbaiki tauhid, memperbaiki kepercayaan dan keyakinan kita secara konseptual, bukan sekedar jasmaniyah. 

Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita tahu sebesar apa kekuatan-Nya, semakin kita tahu bahwa segala kekhawatiran kita, depresi kita, kemarahan kita, bahkan segala emosi tanpa sebab ini Dia yang menciptakan. Jadi, pulangkan saja pada-Nya, minta Dia yang mengatasi. Kita mah lemah, cuma bisa pasrah. Percayalah saran saya yang satu ini, karena saran-saran berikutnya adalah saran sesat. Ini satu-satunya saran yang benar. Kekekekekek.

Hmm, kalau boleh kasih sugesti (yang saya sendiri belum berhasil menjalankannya), sebisa mungkin amalkan Al Masurat. Banyak-banyak minta ampun akan membantu kita membersihkan hati.

2. Tontonlah hanya tontonan yang menimbulkan perasaan positif. Misalnya How I Met Your Mother, Upin Ipin, dan Superman is Return. Eh maaf, itu hanya berlaku buat saya. Eh tapi serius loh, dalam keadaan sedih, senang, gelisah, serial How I Met Your Mother itu selalu berhasil membantu saya calm down.

Berhenti nonton tontonan yang tidak bermanfaat dan membuat perasaan jadi semakin rendah. Misalnya drama  yang isinya terlalu banyak penderitaan. Ayolah, itu hanya akan membuat emosi kita terdramatisir. Bagi saya tontonan harus dapat memperkaya sudut pandang. Sehingga bukan hanya sebagai hiburan yang menghibur dalam jangka pendek, tapi juga sebagai faktor yang membantu saya membentuk pola pikir yang positif.

3. Biasakan nonton  acara motivasi yang cocok dengan karaktermu. Kalau saya, suka motivasi dari Brendon Burchard. Sudut pandangnya menarik, dipadukan dengan cara berbicaranya dan kisah-kisahnya yang inspiratif. 

4. Dengarlah lagu-lagu yang membuat perasaanmu menjadi positif.Hentikan mendengar lagu cengeng yang hanya memperlemah jiwa. Misalnya, lagu tentang kesedihan karena diselingkuhi, lagu mendayu-dayu karena tidak  bisa melupakan mantan. Uh, come on!!! We have to move up girl!!! Kalaupun belum bisa, jangan manjakan perasaan dengan mendramatisirnya pakai cara mendengarkan lagu sedih.  **cie yang udah bisa lupain mantan, sombong**

5. Banyak-banyak membaca kisah orang yang bisa survive dari masa-masa sulit. Dari mereka kita bisa belajar sudut pandang baru, bagaimana mereka bisa melewati masa sulit.

6. Penderita BD sering merasa gagal dalam hidupnya. Untuk itu, penting baginya untuk memperbaiki citra diri dengan banyak mengingat prestasi kecil.

7. Ketika mendapat kegagalan atau kesedihan, kadang-kadang saya mendramatisir dan membuatnya seakan-akan jadi besar. Sehingga saya lupa bahwa hidup saya sebenarnya baik-baik saja. Seperti beberapa hari lalu, saat saya gagal ujian LPDP, rasanya semuanya kacau. Padahal tidak juga. Keluarga saya baik-baik saja, emosi saya stabil, rejeki lancar. Jadi penting untuk bersyukur dan mengingat kebaikan yang kita terima dari Tuhan. Dulu, saya pernah punya kebiasaan menuliskan apa saya yang saya syukuri setiap hari. Sekarang tidak lagi.Tapi the point is, kalau meng kopi kata-kata Brendon Burchard, ‘in your difficult time, don’t forget to keep gratitude.’ Latih terus bersyukur, paksakan hati untuk bersyukur.

8. Keluarlah rumah walau sekali dalam sehari. Saya tahu, banyak di antara penderita BD yang bisa mendekam di kamar selama berhari - hari pada saat masa depresi. Jangan dituruti!! Oke, kamu boleh mendekam sebentar, lalu keluarlah dari rumah! Beli cabe, beli es cendol, beli cilok, belanja sayur, atau godain mahasiswa sebelah. Lakukan hal ringan yang menyenangkan, yang tidak membutuhkan otakmu bekerja terlalu keras. 

Ini akan membantu otak kita rileks, lalu memikirkan macam-macam. Nah, lagi-lagi menurut Brendon, jika otak terbiasa berpikir negatif, maka otak akan mudah melakukan itu (berpikri negatif). Karena cara kerja otak seperti jalan setapak. Makin sering digunakan untuk berjalan, maka semakin mudah kita melaluinya. Maka, kita harus paksa otak untuk memikirkan hal-hal positif. Sehingga lama-kelamaan otak akan terbiasa dan mudah melakukannya.

Keluar rumah akan membantu kita refresh dan tidak merasa sumpek.

9. ‘Me time’ itu penting. Saya sering pergi sendirian ke suatu tempat lalu hanya duduk dan membaca buku. Memperhatikan orang-orang berlalu lalang, sesekali ngobrol dan berkenalan dengan mereka. 

10. Berolahraga dengan rutin. Dulu ketika kuliah, saya sempat ikut futsal walaupun hanya beberapa kali. Amazing nya, futsal membuat perasaan saya bahagia luar biasa. Sekarang, paling saya lari pagi di hari Minggu. Sambil update pergaulan remaja masa kini. 

11. Berkumpullah dengan orang-orang yang berpola pikir positif. Masya Allah, saya tuh beruntung sekali punya banyak sahabat yang cara berpikirnya terbuka dan sangat positif.

12. Ikut kegiatan dan komunitas. Dulu ketika merantau, saya selalu punya kegiatan di luar pekerjaan dan juga punya komunitas. Mengajar PAUD gratis lah, ikut tumbloggerkita lah, atau yang lain. Adanya komunitas membuat hidup jadi lebih berwarna, waktu kita lebih bermanfaat, dan emosi jadi teralihkan pada hal positif. Sekarang ketika stay di kampung halaman, which is butiran debu di peta Indonesia, saya belum menemukan kegiatan atau komunitas yang cocok dengan saya. 

13. Karena saya orang yang sangat random dalam bekerja, maka atas saran mantan atasan dan seorang psikolog, saya selalu menulis apa saja yang akan saya kerjakan hari ini. Disiplin mematuhi list itu akan membuat hidupmu lebih teratur. Dengan keteraturan itu, sadar atau tidak, hati jadi lebih tenang. Tapi karena dasarnya impulsif, saya juga tetap bisa impulsif. Pada intinya, sekarang jadi bisa memilah mana yang harus teratur, mana yang lebih asik jika dilakukan impulsif. And this way is works for me!!

14. Bermain atau bicaralah dengan binatang atau anak kecil. Saya suka ngobrol dengan dua kucing yang sering main ke rumah saya. Suka juga menggoda anak balita yang saya lihat, even di jalan. Kadang mereka ketakutan, kadang heran, ada juga yang langsung ikut saya dan ga mau diajak pulang ayahnya karena mau ikut saya. Hahaha. Kadang saya pergi ke makam sahabat saya, hanya untuk ngobrol dengan batu nisan. Berbicara dengan hal-hal yang tak bisa menanggapi cerita kita, juga menyenangkan. It’s kinda weird? Whatever, i enjoy it.

15. Jangan turuti emosi. Oke dalam masa hypomanic, kita akan kehilangan semangat dan tenaga. Saya bisa lemas dan tidak bersemangat selama seminggu penuh. Tapi, usahakanlah untuk memaksakan diri bergerak. Jangan pernah menuruti keinginan badan untuk terus-terusan tergolek di ranjang. Come on, perasaan ini harus teralihkan. Lakukan pertemuan dengan orang yang menyenangkan. Sahabat atau temang se geng, yang akan membuatmu excited. Kalo saya sih, kayaknya senang kalo ketemu sama Adam levine. Oke lupakan kalimat terakhir.

Paksa diri kita bergerak meski tidak banyak. Keluar rumah, berolahraga, jalan-jalan, beli jajanan tidak sehat semacam cilok, temui anak-anak kecil, lakukan semuanya tanpa menghiraukan perasaan negatif yang sedang kamu rasakan.

Percayalah, gejala BD itu kadang semacam mantan. Sekali saja kamu hiraukan kedatangannya, dia akan terus-terusan minta dimanjakan. Makanya, kita harus berani MENGABAIKAN nya, tidak menghiraukannya, mengalihkan perhatian pada yang positif. Dengan begitu, lama-lama kita akan bisa mengatasinya dengan tidak terlalu dramatis.

16. Ketika gejala BD datang, katakan pada diri sendiri : Oke, dia datang. Dia boleh datang, tapi aku tidak perlu memperhatikan. Penting untuk menyadari ketika kumat. Dengan kesadaran itu, kita akan lebih bisa menerimanya dengan ramah, dan deal with it. :)

17. Menulis. Tuliskan apa saja yang ingin kau tuliskan. Menulis dan menggambar adalah terapi yang sangat baik bagi ketenangan jiwa.


Semua saran saya di atas, lebih kepada untuk melatih otak kita merubah sudut pandang. Mungkin tidak bisa digunakan untuk antisipasi jangka pendek ketika gejala muncul dan sulit terkendali. 

Tapi percayalah, perubahan sudut pandang juga akan merubah cara kita bersikap ketika gejala itu datang. 

You know what, i’m really get better now. Even sometimes i’m sure i can be crazy anytime. I don’t care. We just need to do the best to deal with the ilness. No matter other people can accept us or not, the most important thing is to accept our self. :)

Semoga kita semua selalu diberi rasa sakinah, apapun yang terjadi, apapun yang terjadi, apapun yang terjadi. Good luck for your amazing Bipolar Disorder!!! 

**panjang ya? Saya aja males bacanya**

aku tahu aku bukan orang baik-baik,
karena itulah aku harus,
bersama orang baik-baik,
biar ada yang membantu,
menuju destinasi yang satu.

syurga

—  GENG SURAU Legasi II