ya nabi allah

Did you know?

When Ali al Akbar (sa) was given permission to go in the battlefield,
Imam Hussain (as) raised his hands to the heavens and supplicated, “O Allah! Bear witness against these folks that a man who looks most like Your Messenger Muhammad in his physique, manners, and eloquence has come out to fight them!
Whenever we missed seeing Your Prophet, we would look at him.
O Allah! Deprive them of the blessings of the earth, create dissension among them, and make them into many parties, and do not let their rulers ever be pleased with them, for they invited us to support us, then they transgressed on us and fought us!”

Then he recited the Qur’anic verse saying, “Allah surely chose Adam, Noah, the family of Abraham and the family of Imran over all people, offspring of one another, and Allah is Hearing, Knowing (Qur’an, 3:34).”


Source : [al-Khawarizmi, Maqtal al-Husayn, Vol. 2, p. 30]

KEKASIH ALLAH DIKALANGAN ORANG BERDOSA

Terdapat seorang lelaki pada zaman Nabi Musa ‘alaihissalam yang meninggal dunia. Orang ramai tidak mahu menguruskan jenazahnya kerana kefasikan lelaki ini. Mereka kemudiannya membuang jenazahnya ke sebuah tempat yang kotor dan busuk. Allah Subhanahu Wa Taala kemudiannya memberikan wahyu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Allah berfirman: “Wahai Musa, seorang lelaki telah meninggal dunia, tetapi orang-orang telah mencampakkan jenazahnya di tempat yang kotor, sedangkan dia ialah kekasih (wali) daripada kekasih-Ku, mereka tidak mahu memandikannya, mengkafankannya dan mengebumikan jenazahnya, maka pergilah engkau uruskan jenazahnya.”

Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam pun berangkat ke tempat tersebut. Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya kepada orang-orang: “Beritahulah aku tempatnya.” Mereka pun bersama-sama menuju ke tempat tersebut. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam melihat mayatnya, orang-orang pun bercerita tentang kefasikannya. Lalu Nabi Musa ‘alaihissalam berbisik kepada Tuhan-Nya dengan berkata: “Ya Allah, Engkau memerintahkan aku untuk menguruskan mayatnya, sedangkan orang-orang telah menjadi saksi atas kejahatannya, maka Engkau lebih tahu daripada mereka.”

Kemudian Allah berfirman: “Wahai Musa, benarlah kata-kata kaummu tentang perilaku lelaki ini semasa hidup. Namun, ketika dia menghampiri ajalnya, dia memohon pertolongan dengan tiga perkara, jika semua orang yang berdosa memohon dengannya, pasti Aku akan mengampuninya dirinya demi Allah, Zat yang Maha Mengasihani.” Tanya Nabi Musa: “Ya Allah, apakah tiga perkara itu?”
Allah berfirman: “Ketika dia di ambang kematiannya,

1) Dia Benci Kemaksiatan Dalam Hati
Dia berkata: “Ya Tuhanku, Engkau tahu akan diriku, penuh dengan kemaksiatan, sedangkan aku sangat benci kepada kemaksiatan dalam hati, tetapi jiwaku terkumpul tiga sebab aku melakukan maksiat walaupun aku membencinya dalam hatiku iaitu, hawa nafsuku, teman yang jahat dan Iblis yang laknat. Inilah yang menyebabku terjatuh dalam kemaksiatan, sesungguhnya Engkau lebih tahu daripada apa yang aku ucapkan, maka ampunilah aku.”

2) Mencintai Orang Soleh
Dia berkata: “Ya Allah, Engkau tahu diriku penuh dengan kemaksiatan, dan tempat aku ialah bersama orang fasik, tetapi aku amat mengasihi orang-orang yang soleh walau aku bukan dari kalangan mereka, kezuhudan mereka dan aku lebih suka duduk bersama mereka daripada bersama orang fasik. Aku benci kefasikan walau aku adalah ahli fasik.”

3) Mengharap Rahmat Allah Dan Tidak Berputus Asa
Dia berkata: “Ya Allah, jika dengan meminta untuk dimasukkan ke dalam syurga itu akan mengurangkan kerajaan-Mu, sudah pasti aku tidak akan memintanya, jika bukan Engkau yang mengasihaniku maka siapakah yag akan mengasihaniku?”

Lelaki itu kemudian berkata lagi: “Ya Allah, jika Engkau mengampuni dosa-dosaku bagai buih di pantai, maka bahagialah kekasih-kekasih-Mu, Nabi-Nabi-Mu, manakala syaitan dan Iblis akan merasa susah. Sebaliknya jika Engkau tidak mengampuniku, maka syaitan dan Iblis akan bersorak kegembiraan dan para Nabi-Mu dan kekasih-Mu akan merasa sedih. Oleh itu, ampunilah aku wahai Tuhan Pencipta Sekalian Alam, sesungguhnya Engkau tahu apa yang aku ucapkan.”

Maka, Allah pun berfirman: “Lantas Aku mengasihaninya dan Aku mengampuni segala dosanya, sesungguhnya Aku Maha Mengasihani, khusus bagi orang yang mengakui kesalahan dan dosanya di hadapan-Ku. Hamba ini telah mengakui kesalahannya, maka Aku ampuninya. Wahai Musa, lakukan apa yang Aku perintahkan, sesungguhnya Aku memberi keampunan sebab mulianya orang yang menguruskan jenazahnya dan menghadiri pengebumiannya.”

(Riwayat Wahhab bin Munabbih, Kitab Tawwabin susunan Imam Ibnu Qudamah)

————–
Kisah ini menunjukkan kita tidak boleh sama sekali berputus asa dari rahmat Allah yang amat luas walau apa jua sekali pun. Firman Allah: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (Surah Al-A’raf : 156).
Dan benarlah sabdaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Janganlah kalian merasa kagum dengan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya. Sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya dia meninggal pada saat itu, dia akan masuk ke dalam syurga, namun dia berubah dan beramal dengan amal keburukan.

Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya dia meninggal pada saat itu, dia akan masuk neraka, namun dia berubah dan beramal dengan amal kebaikan.

Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Dia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?” Beliau bersabda: “Memberinya taufik untuk beramal kebaikan, setelah itu Dia mewafatkannya.” (Musnad Ahmad, no. 11768)

Wallahu a’lam bissawab

(ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari)

SILA SHARE DAN SEBARKAN