writingoftheday

[Masih] Di sini

Serupa hujan yang terus menderas di sepanjang jalan raya perkotaan. Membelah keramaian hingga akhirnya sepi hadir melintas di sepanjang jalan itu. Rinduku padamu tak kandas-kandas. Terus membelah realita bahwa aku takbisa bersamamu, hingga akhirnya kebodohan melintas di antara perasaan kita. Tunggu, maksudku ‘Aku’.

Aku tidak bisa mengatakan ‘kita’ karena pada akhirnya, hanya aku yang mencintaimu diam-diam. Dalam jarak yang tak disangka-sangka olehmu. Kamu takkan pernah tahu ada seseorang di dekatmu yang diam-diam menyimpan perasaan jauh lebih kuat dari semua lelaki yang berbaris di hadapanmu.

Kamu harus tahu, bahwa mengungkapkan tidak semudah itu dan mencintaimu dalam diam semenyesakkan itu. Aku tahu rasanya akan sangat sakit, tapi akan jauh lebih sakit jika pada akhirnya kita sama-sama tahu perasaan ini dan kamu tetap tak memilihku. Karena takdir sudah menunjukkan jalan hidup yang harus kamu jalani.

Jika suatu saat nanti, kamu berpikir jika apa yang takdir tunjukkan itu salah, cobalah resapi kembali orang-orang yang pernah berada di sekitarmu dulu. Barangkali, kamu akan menemukanku, walaupun ku tahu, jarak yang kuciptakan cukup untuk membuatmu tak mengenangku sekali pun.

Tapi, jika akhirnya kamu menemukanku, bersegeralah. Aku (masih) di sini menunggumu.

 

Bogor,

September ke-10 | 2016

sedang mencoba memfiksikan yang fiksi