well if it was tru

it was weeks ago now but lets be honest… there was no plot relevance for the musical number (that we know of) making it obvious that the latest and (probably) greatest of gotham memes was only included to confirm ed nygmas raging bisexuality

What is 'Work'?

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat melakukan interview kepada salah seorang calon karyawan yang melamar kerja di perusahaan yang saat ini sedang saya bangun, sebutlah namanya Shinta. Di awal interview Shinta memperkenalkan dirinya dengan baik, dan sepanjang berjalannya interview juga menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan singkat, padat, lugas, it’s obvious she was being well-prepared.

Hingga sampailah pada satu pertanyaan terakhir, pertanyaannya sederhana:

“Menurut kamu, kerja itu apa sih? What is ‘work’?”

She look surprised.

Kali ini, dari ekspresinya kita tahu, bahwa Shinta tak menduga akan mendapatkan pertanyaan demikian. Sambil coba menjawab, Shinta terlihat lebih gugup, jawabannya tidak relevan, susunan kalimatnya berantakan, tanda otak dan mulutnya sedang bekerja bersamaan, namun terpisah satu sama lain.

Well, it’s not about Shinta. I never blame her. It’s all about the question, and what should be the answer. Right?

But, why does it matter?
Menurut saya, penting banget. Bayangin aja, kalau dipikir-pikir, dari 24 jam yang kita lewatin dalam sehari, let say kurang lebih 8 jam kita pakai buat tidur, dan 8-9 jam kita gunakan untuk bekerja (asumsi kita kerja 8 to 5). Itu kalau kerjanya ‘teng-go’ alias pulang tepat waktu, kalau lembur? bisa 10-11 jam kita bekerja. Itu belum sama waktu yang kita habiskan untuk transport berangkatnya ke kantor. Let say di Jakarta, yaa standard-nya kira-kira 1-2 jam lah sekali berangkat, pulangnya sama segitu juga, dengan kondisi harus menguras hati karena harus dempet-dempetan di KRL, atau macet-macetan di jalan. Berapa tuh totalnya? Minimal 12 jam! Bahkan kalau lembur bisa sampai 14 jam dari 24 jam yang kita punya dalam sehari. Gila ya?

Nah tapi faktanya, banyak banget orang-orang di dunia ini yang mengalami stress, bahkan depresi, karena kerja. Sampai ada yang sampai males banget ke kantor, menunggu-nunggu weekend datang dan terbeban ketika Senin tiba, sengaja berlama-lama di waktu istirahat, banyak yang menantikan hari libur, dan banyak lain hal. Buat yang sudah menikah, bahkan gak jarang karena kerjaan, gara-gara ada masalah di kantor, masalahnya hingga dibawa-bawa ke rumah tangga, komunikasi jadi gak berkualitas.

Bayangin tuh, the reason we woke up in the morning adalah untuk melakukan repeatable-action kayak yang saya sebutin di atas. Beberapa bahkan benar-benar ngelakuin itu berulang-ulang dari lulus kuliah sampai pensiun setelah puluhan tahun bekerja. Nah, pertanyaan besarnya adalah: Is that all worth it? Do we really spend our life, or waste our life? If it’s not worth it, so why do we do it?

For some reason, emang gak bisa munafik, “Ya kalau lo gak kerja ya lo gak hidup, there’s no free lunch!”. Sadly, it’s true. Nah, ini sebenarnya ya pilihan hidup masing-masing, kalau mau tetap begitu ya nggak apa juga. Tapi ya coba ditanya aja ke dalam diri sendiri: “Is that worth it?”. Jika jawabannya tidak, so there must be something wrong with you.

Trus apa tuh yang salah? Well, in my opinion, yang salah adalah cara kita memandang ‘kerja’ itu sendiri. Bagi kebanyakan orang, kerja itu ya bertahan hidup, kita kerja hanya untuk makan. Waktu yang banyak kita habiskan itu, ya sekedar untuk survive. Apa implikasinya? Buat sebagian orang, jadinya meaningless. Gak ada purpose-nya, hilang arah, sehingga yang dirasakan ya hanya berlelah-lelahnya saja, berangkat ke kantor jadi beban. Kalaupun dapat gaji, ya toh gaji akan selalu habis juga tiap bulannya, gak peduli seberapa besar gaji yang didapat (btw ini bener lho).

Menurut saya, definisi 'kerja’ yang seharusnya, adalah #berkarya. Gimana tuh maksudnya? Coba sekarang bayangin, kalau seandainya di dunia ini semua orang dapat gaji yang memadai, tiap orang sudah bisa menghidupi dirinya masing-masing, urusan survive nya sudah selesai. Lalu? Apa yang akan kita lakukan? What would you do? Jalan-jalan sepuasnya? Shopping? hang out sama temen dan keluarga sepuasnya. Oke, tapi saya jamin gak akan lama. Paling sebulan dua bulan. Or let say setahun lah. Then what?

Kerja yang membuat kita bahagia, adalah kerja yang merupakan panggilan hidup kita, based on apa yang ingin kita tuju, kerja yang sesuai dengan life mission kita. Saya jamin, berapapun gajinya, kita akan lebih bahagia. At the other side, kalau kita bekerja sesuai dengan life mission kita, maka orientasi kita pun otomatis akan berubah, yang tadinya salary-oriented menjadi accomplishment-oriented. Hidup yang kita habiskan, jadi berharga. Meaningful.

au where everything is the same except im a responsible human being

while learning about the real author of my immortal is interesting and all, im just glad to hear shes alive and living her life–and from what is now unfortunately public knowledge she’s a pretty cool person who has accomplished a lot and is a published writer and its pretty inspiring, yeah

 but i also do wish people had just. let her be? i know we were all dying to know more about her but she’s her own person who has moved on from that time in her life and hunting her down like that was :/// 

anyways i dont have much else to say other than please remember she’s a real human being, not a spectacle,  and to treat her with respect, especially since its been over 10 years and people grow and change. and that i hope shes doing well with all this going on.

5sos are like the ultimate fanfiction i mean…. u have these 4 random boys from autralia who dropped out of school together to make a band…. youve got michael and luke who used to hate each other, calum and michael being best friends since the start….and ashton as the missing piece…. investigate this backstory please i mean it sounds way too well-put-together to be tru

Okay but I love how Yousef was telling Elias off about not having iftar with the balloon squad and he was guilt tripping Elias saying he’s going to Turkey tomorrow and then Sana called and asked to hang out and Yousef is like peace out suckers and Elias is like ohhh what happened to iftar with the boys and Yousef is like 🤔 but am I Muslim bro ? Lmao I love Yousef and Elias

Asking why

People often ask me why do I stan or even like loki the way I do.

Simple, the man has been true real fucking shit all his life. Imagine that your whole life has been a lie. He already felt out the family even thought he didn’t knew the whole truth. How you feel when all your life your father has been neglecting you and at the end the day he was lying to you all your life. And to end it all you were lied of your on race and we’re taught to fear and hate your true self.

Idk about you, but I wouldn’t handle it. In my opinion Odin does deserve the shit he went tru and what he is going tru this new movie. And loki handle it quite well if you ask me, even what he been tru, he still wanted to have the love and attention of his “father” and went on and killed his true father. What Odin did. YELLED AT HIM AND FUCKING CHOICED THOR SIDE.

Yell at me, hate me, but that’s the fucking truth.

2

nails for breakfast, tacks for snacks (demo) // panic! at the disco