warny

A timeline.

2014.  Scotland votes against independence.  Scotland potentially losing EU membership a key plank of the ‘No’ campaign.

2015.  Scotland votes in 56 out of a potential 59 SNP MPs to Westminster in a first past the post voting system (50% vote share).  Tory party gets a majority due to English seats with a 37% vote share.  They will implement a referendum on EU membership as stated in their manifesto.

2016 (May).  The SNP win 46.5% of the constituency vote giving them 59 seats (First past the post) and 41.7% of the regional vote giving them an extra 4 seats (D’Hondt method). This makes them a minority government, however with the Scottish Green Party there is a pro-independence majority. 

(Important note:  In the SNP manifesto it stated that if the Scotland votes to stay in the EU but, as a whole, the UK votes to leave this will be ground for the SNP calling a 2nd independence referendum.)

Pre-EU ref 2016.  SNP try to get David Cameron, Prime Minister at the time, to agree that the UK will only leave the EU if all four constituent nations vote to leave.  This is dismissed.  It is a point in the campaign that a vote to Leave the EU might jeopardize the UK & lead to renewed calls for a Scottish independence referendum.

2016 (June).  England and Wales vote to leave the EU.  Scotland and Northern Ireland vote to remain.  The Leave vote wins.

Post-EU ref 2016.  David Cameron resigns, Theresa May takes over as Prime Minister.  The SNP try to work out a situation where it can remain in the EU but England & Wales leaves.  This is dismissed.  The Tory party begin to make it seem like a ‘hard Brexit’ will occur.  The SNP suggests Scotland staying in the single-market so it can retain the free movement of people.  This is dismissed.  Westminster does not work with any of the devolved parliaments, leaving them in the dark about Brexit plans.  The Tory party begins to make noises about their being no post-EU deal at all. 

2017.  Nicola Sturgeon, the First Minister of Scotland and leader of the SNP, after seeing that there is no way Scotland can remain in the EU and potentially even the single market begins to implement a part of the manifesto in which her government were elected in on.

The Tory government:

Originally posted by yourreactiongifs

Tulisan : Taatnya Perempuan

Bismillah ar rahman ar rahim.

catatan : tulisan ini bersifat subjektif dan merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman pribadi, ditambah dengan beberapa cerita dari teman sebaya.

Semasa masih lajang beberapa waktu yang lalu. Saya belum begitu memahami secara benar tentang definisi perempuan yang baik, atau yang salehah mungkin kata teman-teman yang belajar agama lebih dari saya. Bagi saya, yang masih seperti ini; kacau, ilmu agamanya cetek, bacaan qurannya terbatas, dll. Tidak ada dalam keberanian saya untuk mempersunting kesalehahan seperti yang didefinisikan dalam buku-buku, pengajian, atau yang dipropagandakan oleh akun-akun di media sosial. Bagi saya, perempuan baik adalah perempuan yang baik, cukup itu.

Kecantikan yang ada dalam benak saya pun hanya sanggup menjangkau dari apa yang dilihat dan dengar, seperti bagaimana ia berpakaian, pakaian seperti apa yang ia kenakan, bentuk parasnya, bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain, bagaimana ia bebicara, dan hanya sebatas itu.

Sampai kemudian, suatu hari saya datang ke kajian di salah satu Masjid. Bahwa hal yang paling sulit bagi perempuan yang nantinya menikah adalah ketaatan terhadap suaminya. Apalagi ketika ketaatan itu berpindah dari orang tua kepada suaminya, dan hal-hal yang mengikuti setelahnya.

Rasanya, ilmu itu hanya sampai pada sebatas pengetahuan kala itu. Sampai akhirnya saya menikah dan memahami betul maksud dari ilmu yang dulu pernah saya dapatkan.

Bagi orang-orang yang merindukan kebebasan yang tidak berbatas, mungkin menikah akan menjadi halangan yang luar biasa. Khususnya bagi perempuan. Bagaimana tidak, sebab setiap hal yang nantinya perempuan ingin putuskan seperti keluar rumah, berpakaian, dan hal-hal krusial lainnya nanti harus melalui izin dari suaminya. Tidak hanya urusan seperti itu, bahkan urusan untuk puasa sunah pun kalau suaminya tidak mengizinkan, ia tidak boleh melakukannya.

Sebagai laki-laki saya pun merenung, berpikir lebih banyak, sambil memandang istri saya hari ini. Betapa “ridho” suami itu benar-benar jadi sesuatu yang amat berharga. Dan sebagai laki-laki saya menjadi mengerti tentang makna-makna yang selama ini abu-abu dalam kehidupan berumah tangga.

Menikah itu harus bisa mengendalikan ego. Saya berusaha untuk meredakannya dan dalam sekian bulan pernikahan ini, saya merasa cukup berhasil. Saya tidak ingin mempersulit istri saya demi melihatnya merasa cukup lapang dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Tidak mengekangnya, saya berusaha memberi pilihan-pilihan yang lebih luas dan leluasa. Saya juga selalu berusaha mendukung setiap pilihan-pilihannya yang baik.

Dan saya pun menjadi paham bahwa ketaatan seorang istri itu tidak bisa kita tuntut, ia lahir dari kepercayaannya kepada kita (laki-laki). Dan saya pun menjadi paham bahwa kecantikan yang hakiki dari seorang perempuan adalah ketaatannya. Ia menyadari bahwa setelah menikah, dirinya tidak lagi bebas. Ada suami yang menjadi pertama dan utama. Ada keputusan-keputusan yang dulu ketika masih sendiri, ia bebas memilih, kini harus melalui izin suaminya. Dan berbagai hal lainnya.

Dan ketaatan itu sungguh akan mengalahkan seluruh atribut kosmetik yang menghiasi wajah, jilbab lucu yang ditawarkan di online shop, dan gamis-gamis panjang yang warna-warni yang melekat di tubuh para model dan endorser. Maka, beruntunglah bagi laki-laki yang mendapatkan perempuan yang memahami tentang ketaatan. Dan beruntunglah perempuan yang mendapatkan laki-laki yang tidak semena-mena dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Ketaatan perempuan itu bisa menjadi jalan surga bagi perempuan. Juga bagi laki-laki. Dan kini, kami sama-sama belajar untuk memaknai ketaatan kami kepada Tuhan sebagai jalan kami dalam menjalani rumah tangga ini. Bismillah :)

Yogyakarta, 15 Maret 2015 | ©kurniawangunadi

Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?

@edgarhamas

“Tugas utama umat manusia disempurnakan oleh kaum Muslimin. Filsuf terbesar, Al-Farabi, seorang Muslim; Ahli Matematika terbesar, Abu Kamil dan Ibrahim Sinan, kaum muslimin; Ahli Ilmu Bumi dan ensiklopedis terbesar, Al-Mas’udi, seorang Muslim; Ahli Sejarah terbesar, Ath-Thabari, masih juga seorang Muslim!” -George Sarton (1884–1896 M)

“Seorang pria hitam di Afrika Selatan”, ungkap Munawer Suleyman seorang sejarawan, “duduk di ujung kursi. Ia tak diperkenankan duduk di kursi sepenuhnya, sebab kursi itu bertulis ‘dahulukan orang putih daripada orang hitam.” Politik Apartheid diciptakan oleh bangsa Eropa ketika mereka menjajah Afrika. Mereka pendatang, namun seenaknya membagi-bagi hak kemanusiaan, menciderai yang lain dan memuliakan kaumnya sendiri.

Beberapa puluh tahun kemudian, seorang guru di Amerika bertanya kepada muridnya, “anak-anak, siapakah bangsa yang pertama kali memperkenalkan dunia tentang persamaan?”, semuanya berebut menjawab, sebab mereka telah membaca buku sejarah semalam tadi, “tentu Amerika bu, Abraham Lincoln melakukannya!”

Padahal, beribu tahun sebelum Lincoln membebaskan budak-budak dan menghilangkan sekat hitam dan putih, telah ada satu pemerintahan yang melakukannya. Menjembatani hitamnya Ethiopia dan langsatnya kulit orang-orang Romawi. Mempertemukan mata coklat arab dengan mata biru Barbar. Menenun persaudaraan antara petarung-petarung sahara dan pemukim negeri Persia. Islam, dengan paripurna telah melakukannya.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Dulu, di Eropa, mandi merupakan suatu hal yang diharamkan oleh penguasa”, tulis Mark Graham dalam buku ‘How Islam Created World, “Pengharaman ini berakhir ketika Umat Islam memasuki Andalusia dan memimpin mereka.”

Sepulang dari Perang Salib, para bangsawan dan Pasukan Salib memasuki Gerbang-Gerbang Kota Eropa dengan bau harum. Mereka membawa “Sabun, Minyak Wangi, Kamfer, Balsem, Permadani mewah Islam , sedangkan yang terbawa tak sengaja adalah Pengaruh Akhlaq Islam. Sebelum itu Bangsawa Eropa tak kenal sabun dan minyak wangi. Mereka hanya mengolesi badannya dengan semacam tanaman liar”, tulis Profesor Poeradisastra.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Pada kaum muslimin, mau tidak mau kita harus mengakui”, kata Will Durrant dalam The Story of Civilization hal. 187, “bahwa merekalah pencetus pertama Ilmu Kimia sebagai salah satu cabang keilmuan”

Pada saat yang sama, “ketika umat Islam memulai penemuan-penemuan penting dalam ilmu Fisika dan Kimia”, dilansir dalam laman sejarah ‘Katibah At Tarikh’, “orang Eropa ramai-ramai menganggap bahwa warna-warni tabung kimia itu sebagai sihir, mereka menjauhinya dan menuduh umat Islam telah bersekongkol dengan iblis, sebuah kesalahan yang fatal.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Rumah Sakit hewan pertama di dunia”, dilansir dari laman Ottoman Archives, “dibangun pada Abad 18 di Bursa, Turki hari ini. Penggagasnya adalah Kekhalifahan Utsmani. Kekhalifahan sangat mengaskan rakyatnya untuk menyayangi binatang, hingga mengadakan program santunan binatang setiap musim dingin, membentuk pasukan khusus untuk menelusuri bukit curam dan gunung-gunung, menebarkan makanan bagi hewan liar yang kelaparan.”

Sementara di saat yang sama, dunia mengenal hewan sebagai makhluk yang disia-siakan. Keledai dipaksa mengangkat beban melebihi kapasitasnya. Banteng-banteng dipertarungkan dalam adat matador. Singa-singa dipertontonkan di Colosseum, bertarung sampai ada yang mati. Dan Islam datang, menebar cita dan cinta, hingga sampai-sampai, terkenang salah satu Undang-undang Umar bin Khattab yang berjudul, “Aturan Muatan yang boleh dibawa Keledai”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Di waktu ketika perpustakaan terbesar di Eropa adalah Library of Saint Gallen dengan jumlh 600 buku”, dilansir dari laman Tarikhuna Al Adzim, “di saat yang sama, Cordoba di bawah naungan Islam telah memiliki perpustakaan di banyak tempat dengan masing-masingnya memiliki 400 ribu buku.”

“Ketika Kerajaan Castilia pimpinan Ferdinand dan Isabella menghancurkan peradaban Islam di Spanyol”, tulis Raghib As Sirjani dalam bukunya ‘Qisshatu Al Andalus’, “mereka membakar lebih dari satu juta buku. Jumlah yang sangat besar yang tidak dimiliki oleh dunia saat itu.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Islam itu agama perang”, orang-orang berseloroh begitu. Yakin? Jika memang yang mereka katakan begitu, lalu mengapa sampai jatuh korban 60 juta jiwa setelah perang dunia II oleh bangsa Eropa? Sedangkan tak pernah ada korban perang sebanyak itu dalam peperangan yang dilakukan Umat Islam. Jika memang Islam agama teror, mengapa sejarah malah mengenang kebengisan pasukan Salib yang membantai 70.000 warga kota selama 4 hari 4 malam?

Justru Islam malah datang dengan aturan pertempuran yang ‘maha lembut’. Kok bisa? Bayangkan, dalam aturan pertempuran saja, tidak dperbolehkan pasukan muslimin menebang pohon, merusak taman, membakar tanaman. Tak boleh menyerang wanita, anak-anak dan orangtua. Tak boleh menyerang tempat ibadah. Tak diperkenankan menyerang orang yang sudah menyerah. Hebatnya.

(Notulensi Pribadi Ketika Mengisi Kajian Online Gamasis UNPAD)

#UNSTOPPABLE 1: Perjuangkanlah Apa yang Pantas diperjuangkan

Jalan perjuangannya tak seindah jalan setapak di taman bunga Keukenhof

Dikanan dan kirinya bertabur warna-warni keindahan yang menyejukkan

Dipenuhi semilir angin yang menerbangkan aroma kesegaran

Bukan,

Jalan perjuangannya dipenuhi duri-duri setajam tombak,

Duri-duri tantangan,ancaman, rintangan

Duri-duri yang mengandung racun mematikan tanpa ampun

Mereka mengira segala tantangan mereka akan membuatnya gentar

Mereka menerka segala ancaman itu akan membuatnya mundur

Mereka menyangka segala rintangan itu akan membuatnya berhenti

Namun, tidak.

Segala apa yang mereka upayakan tak pernah membuatnya berhenti.

Segala apa yang mereka usahakan semakin membuatnya melompat lebih tinggi

Setelah tiga tahun berdakwah secara sembunyi-sembunyi untuk menanamkan iman kedalam hati para sahabat dan orang-orang terdekat beliau. Kinilah saatnya menjalankan amanah Allah yang lebih lagi. Suatu ketika, Allah memerintahkan Rasulullah untuk berdakwah secara terang-terangan kepada kerabat dekatnya.

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat”- (Asy-Syu’ara 214)

Rasulpun mengambil langkah dengan bersegera. Ia kumpulkan kerabatnya para Bani Hasyim untuk menyampaikan kebenaran dari Allah. Saat itu, Rasul belum berbicara apa-apa. Namun, Abu Lahab, paman beliau angkat bicara lebih dulu. Ia mengancam beliau dan berniat menghukum beliau jika berbuat sesuatu. Kala itu,  Rasul hanya diam dan sama sekali tidak berbicara dalam pertemuan itu.

Dilain waktu, Rasul mengundang mereka lagi. Di atas bukit shafa, rasul berseru :

“Segala puji bagi Allah dan aku memuji-Nya, memohon pertolongan, percaya dan tawakal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya”.

Kemudian Rasul, berkata lagi :

“Sesungguhnya seseorang pemandu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian dan kepada seluruh manusia. Demi Allah kalian akan mati layaknya sedang tidur nyenyak dan akan dibangkitkan lagi layaknya bagun tidur. Kalian benar-benar akan dihisab terhadap apapun yang kalian perbuat, lalu disana ada surga yang abadi dan neraka yang abadi pula”.

Bagaimana reaksi kerabat beliau ketika itu?

Ialah Abu Thalib yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap apa yang dikatakan oleh Rasululullah. Namun, beliaulah orang pertama yang mendukung beliau. “Maka lanjutkanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku akan senantiasa menjaga dan melindungimu, namun aku tidak punya pilihan lain untuk meninggalkan agama Bani Abdul-Muthalib”.

Ialah Abu Lahab, yang sangat tidak menyukai perkataan Rasul terlebih lagi beliau mendapat dukungan dari Abu Thalib. Maka seketika Abu Lahab menyumbangkan pendapatnya. “Demi Allah, ini adalah kabar buruk. Ambillah tindakan terhadapnya sebelum orang lain yang akan melakukannya”.

Abu Thalib tak tinggal diam, “Demi Allah, kami tetap akan melindunginya selagi kami masih hidup”.

Setelah mendapat dukungan dari pamannya, Rasulullah semakin yakin menata langkah-langkah perjuangan dakwahnya, menyebarkan tauhid kepada seluruh penduduk Mekkah. Lalu kemudian beliau mulai menghapuskan kemusyikan, dengan mulai menyadarkan para penyembah berhala, agar mereka tahu bahwa mereka sedang berada dalam kesesatan.

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik” (Al-Hijr : 94)

Tentu saja semakin seringnya perjuangan menyampaikan kebenaran yang beliau lakukan semakin memperkeruh hati Abu Lahab dan para pengikutnya. Ia tak suka, Ia tak rela dengan apa yang dilakukan oleh Rasul. Sebab, apa yang dilakukan oleh Rasul hanya akan memberikannya kedudukan yang hina. Apa yang selama ini dia banggakan akan hilang dan lenyap. Abu Lahab takut menjadi hina. Ia takut kehilangan segalanya. Lalu ia mengerahkan usaha-usaha terbaiknya untuk menghentikan langkah-langkah perjuangan Rasul. Ia melakukan segala cara agar rasul jera kemudian berhenti berjuang. Hatinya tak pernah rela menerima kebenaran.

Suatu hari, Abu Lahab mendatangi Abu Thalib agar beliau mau merayu Rasul untuk meninggalkan jalan perjuangannya. Ia mengancam akan membunuh Rasul jika tidak berhenti. Sang paman Abu Thalib yang mulai gentar, kemudian menemui rasul. Lalu beliau menyampaikan keresahan hatinya. Namun, jawaban dari Rasul sungguh membuatnya dirinya semakin yakin untuk membela beliau, semakin yakin untuk menjadi pelindung beliau.

“Paman, Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, sungguh tidak akan aku lakukan. Biarlah nanti Allah yang akan membuktikan kemenanganku atau aku binasa karenanya”.

Rasul tak pernah takut, tak pernah mundur, dan tak pernah berhenti.

Rasul meniti jalan perjuangannya dalam caci maki, fitnah, olok-olok, umpatan. Rasul dilempari batu, Rasul dilempari kotoran, diperangi, dan berkali-kali akan dibunuh. Sungguh berat jalan perjuangan itu, sungguh besar pengorbanannya. Rasul rela mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk sesuatu yang paling dicintai, “Ummati”.

Demi tegaknya kalimat tauhid di muka bumi, “ La Ilaha illallah , muhammadarrasulullah”. Sungguh berat perjuangan itu, namun atas semua usaha terbaik beliau kalimat tauhid tersebut terus menggema sampai hari ini, dan semoga hingga seterusnya nanti.

Rasulullah, terima kasih untuk perjuanganmu yang tanpa henti. Sampai bertemu, suatu saat nanti.

Yuk, shalawat bareng-bareng :)

Bandung, 27 Mei 2017

Photo by Siti Maryam, di Taman Bunga Tulip Keukenhof, The Netherlands

Kau bangunkan aku sebuah istana khusus dihatimu, kau hiasi ia dengan cat warna warni sebagai ungkapan rasa bahagia yang meronai

Disekelilingnya kau tanamkan bunga kesabaran, aromanya semerbak sungguh aku tak ingin beranjak

Lalu kau pagari kuat istanaku dengan besi-besi janji semoga saja tak ada yang kau ingkari

Aku rasa sudah cukup
Karena…

—  Bagiku kau adalah keseluruhan bumbu penyedap rasa, pahit, manis cemburu dan juga rindu
Arisan Puisi Kencan

Cinta si rusdi maslim
.
cinta ibarat gangguan jiwa, saat aku mulai obsesif dan kau alasan untuk kompulsifku untuk bertemu
malamku saat ini dan besok adalah pagimu, milikmu dan untukmu menentukan alasan merindukanku
cerita halusinasimu serta ilusi dan waham adalah tentangku
.
perjanjian dibawah senja dan taman serta anak-anak yang bermain bola menjadi saksi ketika kukecup keningmu
menjadikanmu euforia bahkan aku takut, untuk menyembuhkanmu dariku
sayang bukan bintang dan gemerlap lampu kota yang menyertai rindu ini, karena cukup pelangi dimatamu untuk mengobati rinduku
.
aku tak keberatan jika saja aku menderita skizofrenia, lebih baik dari kehilanganmu dan aku sadar itu
pertemuan satu bulan lalu seperti onset skizofren yang menggerogoti kesadaranku
ini bukan hanya pertemuan atau kencan, tapi obat untuk gangguan jiwaku
yang terkasih untukmu kekasih khayalan!
.
surabaya, 3 mei 2017.

@gustraa-blog

Kencan sepuluh ribu.

Waktu tidak mensponsori kisah kita, duduk berdua denganmu pada sebuah kafe adalah fiktif.

Pergi dengan mira,
“bungur KL, satu” dengan menyodorkan uang sepuluh ribu.
Sesampainya, menemuimu lalu pulang,
dengan sumber selamat,
“Jombang KL, dua” kamu menyodorkan uang duapuluh ribu.

Tak ingin cepat sampai, semoga bus mogok atau macet.
Agar lama,

kencan denganmu diisi dengan dengkur penumpang dan dangdut koplo.
Kencan denganmu butuh sepuluh ribu dengan 2 jam pertemuan; 1 jam beradu tawa, sisanya terpejam pulas.

@uchidnc

Ingin Tidur

airmata kita gelandangan
selalu ‘nemu emperan
hentikan waktu yang kota
wagu pada airmatamu
menembus saujana
yang tidak pernah
menutupi semenjana kita
menghadapi segala
temanku, bisakah punggung kita
menjelma malam?

Landungsari, 2017

@hamidfadaq 

Entah Kapan

lorong-lorong jarak yang mengekang ragamu dibalik bayang-bayang semu…
Hadir bagai belati melukai rasa ini… Hingga setiap kata yang tak sempat terucap…
Menjadi baik adanya dibalik buruk yang tercipta…

Entah dengan siapa kini aku berdiri melawan hari…
Biarlah hujan yang menjawabnya…
Lalu membawanya pada titik temu waktu…

Malang, 3 Mei 2017

@sajaksenjaartastik



Kencan ini tak semu

Pada detik yang mengusik sudut sempit 
Janji ini terukir syahdu bersama sepotong kain 
Sejengkal bumi ini berbisik
Bahwa dunia adalah fana
Namun rasaku nyata menuju Si Empunya
Siapakah ia yang ku cinta
Saat dunia berkata
Bahwa manusialah jawabannya
Namun, sesuatu tak tampak berseru
Yang tak terlihatlah
Yang jauh lebih nyata.

Kediri, 2017.

@vbeskine

Kekasih untuk Kelelawar Gotham

Tudung malam benar-benar gelap
Hingga bubuk mesiu menabur aromanya pada genangan darah orangtuamu
Apa daya ia lahir dari benih-benih darah pengganti sperma dan trotoar jalan pengganti rahim
 -kenalkan, namanya balas dendam
Ia kekasihmu, yang mengencanimu hingga menjelma kelelawar 
Selina dan Diana pun tak setia seperti dia
Kawini dia, si balas dendam
 - untuk melahirkan anak bernama sia-sia

Surabaya, 2017

@rcipta

Nasi Padang

Lapar menghadang kelana ujian
Lalu kuhantarkan butiran karbohidrat
Untukmu yang tengah penat
Kuah kaldunya melagukan dialog kita
Riuh, semacam krenyes ayam di dalamnya
Pahit daun pepaya menyertai tiap kelakar receh
Malam itu
Rendang memang absen, namun senyum kita tidak kan mas?

Surabaya, 3 Mei 2017

@lusiapp


Kencan

malam minggu tadi di pinggiran alun-alun

kau dan aku pelan-pelan leleh pada

secontong es krim yang hangat di bibir

di mana sedetik kemudian hujan deras

lalu ibuku: subuhan!

Mei, 2017.

@annsrakh


Nyanyian kunang-kunang

Tak perlu seperangkat gombal

Karcis bioskop dan popcorn wangi

Cukuplah senyummu yang ayu

dan gerombolan kunang belingsatan

Mabuk kepayang aku

di teras tetangga

        kita menghitung bintang

Lalu kau mendadak raib

        Aroma baygon menguar

Mei, 2017

@sabiliihdina


Dick : Kehangatan untuk Barbara dan Kori

Malam, cerai beraikan aku saat ini

Taburkan sepertiga untuk Barbara, jelmakan aku jadi jubahnya

Sepertiga lagi untuk Kori, bentuk aku jadi selimut hangat ranjangnya

Sepertiga sisanya bawa aku terbang mengelana menuai dosa akibat mengencai dua bidadari siang dan malam

Surabaya, 2017 

@rcipta


Es krim dan kenangan

Nutty monkey,

Noodle es krim dan dua gelas air putih

Telah tersaji dalam mangkuk mini

Kau sesap dengan lahap

Bak menelan kenangan sampai lesap

Lalu anganku terbang

Mulai menelisik labirin tentang memoar silam

Aku menemukannya

Lalu senyummu berkata

Kita berdua, aku dan kamu saja

Kediri, Mei 2017

@natanatasya


Kencan mahal

Di cafe elit meja nomor tiga

Mbak Warni pesan roti panggang

Selai kacang selai coklat sebagai isi

Jus jambu ditambah ice cream tak ketinggalan

Mas Agus hanya pesan kopi hitam

Dengan uang dua puluh ribu di dompet

Cangkir kopi jadi saksi

Kacang dalam roti berhamburan tertawa tebahak

“Yang penting pencitraan , masalah bayar urusan belakang.”

Tuban, 2017

@akasylvietania


Kentjan(a)

Sabtu malam

Aku meringis di depan kaca

Kuambil perona pipi

Senada dengan gula-gula di pekanraya

Bel rumah berdenting

Ku bergegas;

Menuju teras

Ah malang, sandalku putus dari selopnya

Oh, kencanku tinggal kentjan(a)

Kediri, 3 mei 2017

@jemarihujan


Kelas Puisi Regional Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara

you know i stopped watching supernatural years ago after years of bullshit and utter disappointment (wrt what they did to rufus, kevin, victor, all women on the show etc)

but if dean winchester doesn’t eat a goddamn scooby snack i will personally go to warny butters studios and delete every episode of spn ever recorded or ever planned off the face of the earth bye

Mencintai diam-diam.
—  Aku tak pernah mengatakan bahwa melakukannya terasa sulit. Sama sekali tidak pernah. Justru menyenangkan kurasa. Kenapa? Hidupku terasa warna-warni. Hanya dengan melihatnya dari jauh sudah membuat tubuhku menggigil gembira. Oh, itu masih tidak sederhana. Bagaimana hanya dengan berada di satu kota yang sama? Ya. Ini pun sudah dapat membuatku deg-degan parah, hahahah. Beda ceritanya jika dia tau aku menyukainya, melihatnya dari jauh kupikir akan terasa perih. Bukan begitu? Ya, seharusnya begitu.
TiPiSUKa (Titip Puisi Spesial Untuk Kamu)

Ada orang yang dapat membuat kita lebih dewasa dan mengerti hal-hal sederhana dengan makna yang istimewa.

Ada orang yang dapat membuat kita merasakan indahnya hidup hingga detik-detik yang kita rasakan menjadi lebih berarti.

Ada orang yang apabila kita bersamanya menjadi diri kita sendiri dan dapat menorehkan warna-warni yang lebih banyak dari pelangi di dalam hati.

Tidak jarang kita lupa berterima kasih. Padahal, kalimat terima kasih bisa membangkitkan semangat dan membuat lengkungan senyum pada mereka.

Dengan ini kita mengungkapkan syukur atas kehadiran orang-orang yang memberi arti di dalam hidup kita.

Mba @senjasenjaberaksara kepada pundak yang selalu dinanti dengan hati

Mas @aliranrasa pada sahabatnya

Puisi untuk @s_weiku dari mas @catatanpemimpi

Pemenang hati si dia yang sekarang tak luput memberikan pelajaran pada mba @bebraveyou

Ada puisi mas @menjalin untuk pencerita yang mewarnai hari-harinya

Untuk keluarga tersayang dari mba @shintabd

Dan yang terakhir ada mas @mangatapurnama kepada seseorang yang pernah dia harapkan untuk menjadi masa depan

Terima kasih telah hadir dan mewarnai hari-hari serta hati kami.

Riau-Jogja-Solo-Semarang-Demak
9 Februari 2016


cc: @tumbloggerkita, @curhatmamat, @kitajabar@kitajabodetabek, @kitasulawesi, @kitasumatera, @kitajatim

JANGAN SUNGSANG, NELLA!

: Nella Kharisma

1

monitor USG menyuguhkan nuansa hitam-putih
namun geliatmu itu warna-warni di mataku
belum ada dosa berjatuhan; kerlap-kerlipnya
kusaksikan sendiri dari tribun paling jauh

panggung di rahimku tak boleh terlahir sungsang
supaya bukan hentak kaki keluar lebih dulu
aku inginkan merdu suaramu, Nella
menyapu selasar yang dipenuhi puntung rokok

2

puisi ini, Nella
tak tersusun dari sorak semarai kata
bukan juga dari sisa pesta pora bahasa
yang tak sempat dihabiskan adam dan hawa
di surga sana

puisi ini, Nella
hanya pecah ketuban dari rahim;
yang telah berabad-abad mengandung
gigil malam di sebuah konser dangdut
yang semaraknya tak pernah sampai ke kotaku

Solo, 2017

Hujan Pelangi

Tidak akan pernah ada pelangi jika sebelumnya tidak ada hujan turun di Bumi Manusia. Pelangi selalu hadir ketika peristiwa alam hujan mengenai cahaya-cahaya polikromatik matahari, kemudian berpendar dan membentuk warna-warni indah di langit.

Jika pelangi tidak hadir di kesudahan hujan, mungkin saja ia akan hadir esok, lusa atau di hujan-hujan selanjutnya. Atau bisa jadi pelangi hadir di langit hanya saja tidak terlihat oleh kasat mata manusia.

Begitulah kesulitan atau rintangan hidup yang ada pada diri manusia bak hujan yang hadir tidak terduga. Dan kemudahan itu seperti kehadiran pelangi, bisa saat itu juga hadir, bisa esok atau bisa hari-hari selanjutnya. Atau bisa jadi ia selalu muncul hanya saja kita tidak melihatnya. Tapi pastikanlah ketika pelangi itu hadir, hujan telah bersiap dibersamai.

“Pelangi hadir bersama hujan menghentikan rintiknya bukan? Karena kemudahan itu membersamai bukan menyudahi.”

Jangan Lagi Melakukannya Sendiri

From: Me

To: You

Subject: Jangan Lagi Melakukannya Sendiri

Compose email:


Teruntuk kau – yang lebih tangguh dari sebelum ini. Teruslah kuat.


Pagi ini kudapati kau dengan senyum simetrismu yang mekar. Tak mau kalah dengan bunga lili yang sengaja kutanam di pekarangan depan rumah. Kali ini bukan muka berlipat suntuk dan penuh harapa-harap yang tak terwujudkan. 

Katamu, kamu baru mengambil suatu keputusan setelah melewati beribu detik pemikiran. Menghidupkan logika yang selama ini kau redupkan. Sejauh ini hatimu kau beri tahta paling tinggi. Mengikutinya bagai hamba kepada rajanya. 

‘Aku lelah menyakiti diriku sendiri. Maka setelah ini akan kucintai aku lebih dalam dari hari-hari kemarin.’  bisikmu pagi tadi setelah bertukar sapa sebentar. 

Aku tersenyum bangga melihat raut penuh yakinmu. Ini yang aku inginkan. Bagaimana tidak, setelah berpuluh-puluh cerca – usahaku untuk mengembalikan logikamu – tak pernah kau gubris barang satu kata. Kau terlalu pasrah menjadi budak hati. Dibawanya terbang tinggi kau ikuti. Dibuatkannya taman indah dengan bunga-bunga imajinasi warna-warni kau kegirangan sendiri, padahal tahu betul taman tak pernah nyata. Logikamu jelas masih berfungsi, namun sengaja kau lumpuhkan. Hanya karena takut menganggu hati yang berseri.

‘Aku patut diperjuangkan oleh ia yang ingin memerjuangkan. Bukan hanya beratahan dengan ia yang mendekatiku karena aman, nyaman kusuguhkan. Sedang ia padaku tak ingin mengusahakan. Aku wanita yang patut untuk diperjuangkan. Bukan begitu?’ akhir pembicaraan kau menanyakan hal ini, aku mengangguk. Kau tersenyum lagi lebih lebar satu senti dari menit-menit sebelum ini. Tanpa kau sadar, kau menularkannya kepadaku. Dan ternyata, alasan untuk melengkungkan senyum bisa semudah ini.




Kepada kau yang sudah lebih cerdas dari sebelum ini, kumohon jangan bodoh lagi, jangan mau menjadi yang terlalu baik. Sesekali jadilah jahat, egois mementingkan kesehatan hatimu sah-sah saja, kurasa. 

Tidak semua orang harus kau buat bahagia, kau tak memiliki banyak tenaga untuk itu. Namun kau selalu memiliki kekuatan untuk membahagiakan dirimu sendiri. Sampai kapan pun. 

Setelah ini, bertahanlah dengan seseorang yang menginginkanmu bertahan juga. Setelah ini, perjuangkan ia yang ingin memerjuangkanmu. Cintai ia yang sukarela mencintaimu. Bersamalah dengan ia yang ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu juga. 

Jangan melakukannya sendiri, aku tak mau kau kelelahan dan merasakan sakit seperti ini lagi. 

Selamat berbahagia!




Sahabatmu,

Aku.

Hai, Mei. Selamat berjumpa lagi.
Tidak terasa sudah bulan Mei.
Kapan ya waktu terasa, sepertinya pernyatan “tidak terasa ya..” selalu menjadi preambule yang umum bagi orang yang bicara soal kenangan, salah satunya saya.
Ibarat sedang mengendarai sepeda motor, sesekali liat spion, begitu juga mengendarai roda kehidupan. Mei 2016, penuh dengan warna-warni. Diawali dengan perjumpaan pertama saya dengan calon kakak ipar saya (pada saat itu masih calon). Ia datang seorang diri dan begitu berani mengutarakan niat baiknya kepada Mama dan Bapak, saya jadi saksinya. Terima kasih kepada mas Pram, yang mengawali bulan Mei 2016 menjadi spesial. Tidak hanya itu, 7 Mei 2016, saya diberi kesempatan untuk jadi penerima undangan pertama atas rencana pernikahan dua sahabat saya, Hafif dan Aini. Aziqaziq. Hahahaha. Masih inget banget agak keselek ketika tahu tanggal resepsinya bersamaan dengan tanggal resepsi pernikahan kakak saya. Terima kasih Hafif dan Aini, telah menjadi kenangan spesial kedua di bulan Mei. Seingat saya, malam harinya saya sempat mengobrol ringan dengan teman baik saya, tentang rencana studi, dan lain-lain. Terima kasih juga, telah menjadi teman diskusi yang baik di tanggal 7 Mei 2016.
Memasuki minggu ketiga, memulai perjalanan ke Jakarta untuk #JumpaPertama dengan Mbak Rahmi Wahyuni, di tanggal 14 Mei 2016, berlanjut dengan perjumpaan dengan mba mas keren satu seminggu feat. klub futsal (kalau nggak salah begitu judul pertemuannya). Lucunya, pada saat itu saya dan Mbak Ayu sama-sama dapat hadiah cantiq dari mbak cantiq Nasia, yaitu buku Konspirasi Semesta :) kalau saya ngga salah menilai kakak kandung saya, dia selalu punya alasan atau sebab atas apa yang dilakukannya. Mari kita tunggu jawabannya. :) makasih ya Mbak Anin, for your unconditional love. :)
Sepanjang Minggu ketiga, 16-20 Mei adalah salah satu pekan yang berkesan dalam hidup, karena saya berjumpa dengan lingkaran kebaikan bernama Forum Indonesia Muda. Undoubtedly, they are really fantastic, they teach me to be a meaningful person, not to ourself, but also for other people. Makasih FIM, walau diriku tak bisa terlalu aktif di lingkaran nasional, insyaAllah akan tetap menjalankan nilai-nilai yang diberikan, di medan perjuangan saya :)
Tak lupa dan tak boleh lupaaa, di bulan Mei ini juga saya berjumpa dengan tiga teman dunia maya saya, wkwkwkwk. Terima kasih teruntuk duo Fitri (Fitri Arum Sari dan Fitria Handayani) yang sangat berbaik hati menjadi tour guide dan mengizinkan saya untuk menginap di kos kalian :’) juga makasih teruntuk partner diskusi musik yang random, yang sudah meluangkan waktunya buat ngobrol walau hanya 15-20 menit.
Di penghujung Mei 2016, Allah membisikkan saya sebuah nasihat, tentang betapa nikmatnya sehat. Ya, waktu itu sempat mengalami sakit yang mengharuskan saya off dari kampus (bahkan nyaris semua aktivitas) huehehe. Alhamdulillaah, manis-manis ya kenangan di bulan Mei 2016. Bagaimana dengan tahun ini? Semoga tak kalah manis dan jauh lebih bermanfaat :))) aamiin.

*selain mengenang keindahan di bulan Mei 2016, tulisan ini lebih kepada memotivasi diri sendiri, bahwa di bulan ini insyaAllah akan ada perubahan terbaik :’) aamiin.

Rectoverso dulu, 1 Mei 2017

Aku tidak pernah memaksamu untuk tinggal. Kamu yang memilih untuk membersamaiku. Terasa lucu kalau sekarang kamu berteriak kepada dunia seolah akulah yang merampas warna-warni semestamu.
Sequisyi

Mumpung gabut di bawah hujan dalam naungan atap mobil travel, saya ingin bercerita.
Namun oh namun, wahai hadirin, jikalau idenya masih berantakan, mohon maaf ya. Semoga seiring suka bercerita, jadi lebih baik.

Oke. Mulai….
Sore tadi, dengan selamat, saya sampai di Dipati Ukur pukul 16.45 WIB dan berhasil memesan travel untuk keberangkatan 18.30 WIB. Alangkah senang walau sedikit gemas “aiaiaaa lamanyaaa” namun tetap! dapat kursi saja sudah senang. Oke. Saya juga berpikir, “bagus lah! Jadi bisa sholat dan mampir ke mana-mana sebelum berangkat”.

Beberapa waktu, saya habiskan di lounge travel sambil main bata berlayar. Lalu, sekitar pukul 17.00 WIB lewat sedikit, saya beranjak dan menuju masjid di belakang ojek dekat travel tersebut.

Jalan. Jalan. Mana masjid? Jalan lagi. Ini bukan? Eh. Lah inimah. Maju. Jalan. Jalan. Ini bukan yang warna-warni bangunannya? Lirik boleh lirik. Oh benar! Aksen masjidnya mulai terlihat. Oke. Sudah dipastikan itu masjid. Selanjutnya yang dicari adalah pintu. Pintu mana pintu? (Emak rempong hahaha) oke akhirnya sampai kok!

Boleh di depan pintu, saya celingak-celinguk. Boleh intip, ada anak kecil tiga orang sedang berdiri dekat pintu. Saya tanya lah sambil lihat situasi yang sebenarnya saya paham, “Masuknya lewat sini ya?” Diberi iya dan anggukan. “Wah, sepatunya boleh masuk ya?” Diberi iya dan anggukan. “Kalau wudhu perempuan di mana ya?” Sekarang nambah sambil tunjuk. (Rempong sekali saya ini ya, maafkan)

Akhirnya masuk lah. Baiknya anak kecil. Mereka tawari saya untuk memasukkan sepatu saya dalam loker. Lalu, mereka juga kelihatannya terbuka saja dengan hadirnya saya. Oke. Ini baik. Sip. Saya berlalu lah sebentar, setelah rapi, saya duduk di tempat perempuan.

Mereka dekati saya. Tanya nama, tanya umur, tanya punya IG, BBM, Whatsapp, asal, sampai nanya kenal Randi apa ngga. Wow. Lalu suatu saat pembicaraan kita tiba pada ‘Sequisyi’. Butuh beberapa waktu sampai saya “walah bro maksudnya Squishy!” Oh ya ya, saya pikir. Salah satu dari mereka yang memang paling tua dan paling dominan bertanya, “kak, kalau bisa pilih satu, squishy apa yang kakak suka?” Wow. Dalam hati, “eh ada namanya squishy tuh? Apa dong…..hmmm OH!” Saya bilang saya suka yang roti. Lalu, dia kembali merespon, “oh itu kak ya yang bread!” Wow. Mantap sekali.

Panjang cerita. Pembicaraan kita semakin faedah yaitu tentang slime kali ini. Mantap sekali.
Namun, ini, ini yang menjadikan saya ingin menulis….jadi….sepanjang pembicaraan itu, banyak sekali kata-kata bahasa inggris yang mereka pakai. Mulai dari fluffy, slow sampai activator. (Sebenarnya ga inget, makanya sebut tiga, tapi serius! banyak yang mereka sebut) saya berpikir “walah pinternya ini anak-anak”. Shock aja sih. Sebegitu hebatnya trend sampai anak-anak ini bisa sebut ini itu.

Itu sih main ceritanya. Hebat aja. Terus bingung mau cerita apa lagi. Kasih pendapat aja lah mau diceritain apa hahahaha.

“Saya tidak merasa terganggu dengan banyak orang yang berkunjung ke Kampung Pelangi ini. Tidak ada orang yang teriak-teriak juga. Sekarang jadi ramai di sini. Kemarin waktu peresmian, dagangan saya dibeli oleh Pak Wali Kota. Beliau beli satu bungkus telur puyuh, saya bilang mohon maaf tidak ada kembaliannya waktu terima uang 100 ribu, beliau bilang tidak usah dikembalikan. Telur puyuhnya dibagikan ke masyarakat. Saya senang dagangan saya diperhatikan. Rumah saya juga akan diperbaiki setelah ini.”

Kampung Gunung Brintik beberapa bulan yang lalu adalah kampung kumuh yang tak tertata dengan rimbunan tanaman liar dan tembok-tembok merah tak berplester. Letaknya persis di pinggir Kali Semarang dengan kurang lebih 325 rumah. Namun beberapa pekan terakhir, kampung ini berubah rupa, dan juga berganti nama: menjadi Kampung Pelangi yang penuhi warna-warni. (BBC Indonesia)