warny

A timeline.

2014.  Scotland votes against independence.  Scotland potentially losing EU membership a key plank of the ‘No’ campaign.

2015.  Scotland votes in 56 out of a potential 59 SNP MPs to Westminster in a first past the post voting system (50% vote share).  Tory party gets a majority due to English seats with a 37% vote share.  They will implement a referendum on EU membership as stated in their manifesto.

2016 (May).  The SNP win 46.5% of the constituency vote giving them 59 seats (First past the post) and 41.7% of the regional vote giving them an extra 4 seats (D’Hondt method). This makes them a minority government, however with the Scottish Green Party there is a pro-independence majority. 

(Important note:  In the SNP manifesto it stated that if the Scotland votes to stay in the EU but, as a whole, the UK votes to leave this will be ground for the SNP calling a 2nd independence referendum.)

Pre-EU ref 2016.  SNP try to get David Cameron, Prime Minister at the time, to agree that the UK will only leave the EU if all four constituent nations vote to leave.  This is dismissed.  It is a point in the campaign that a vote to Leave the EU might jeopardize the UK & lead to renewed calls for a Scottish independence referendum.

2016 (June).  England and Wales vote to leave the EU.  Scotland and Northern Ireland vote to remain.  The Leave vote wins.

Post-EU ref 2016.  David Cameron resigns, Theresa May takes over as Prime Minister.  The SNP try to work out a situation where it can remain in the EU but England & Wales leaves.  This is dismissed.  The Tory party begin to make it seem like a ‘hard Brexit’ will occur.  The SNP suggests Scotland staying in the single-market so it can retain the free movement of people.  This is dismissed.  Westminster does not work with any of the devolved parliaments, leaving them in the dark about Brexit plans.  The Tory party begins to make noises about their being no post-EU deal at all. 

2017.  Nicola Sturgeon, the First Minister of Scotland and leader of the SNP, after seeing that there is no way Scotland can remain in the EU and potentially even the single market begins to implement a part of the manifesto in which her government were elected in on.

The Tory government:

Originally posted by yourreactiongifs

Tulisan : Taatnya Perempuan

Bismillah ar rahman ar rahim.

catatan : tulisan ini bersifat subjektif dan merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman pribadi, ditambah dengan beberapa cerita dari teman sebaya.

Semasa masih lajang beberapa waktu yang lalu. Saya belum begitu memahami secara benar tentang definisi perempuan yang baik, atau yang salehah mungkin kata teman-teman yang belajar agama lebih dari saya. Bagi saya, yang masih seperti ini; kacau, ilmu agamanya cetek, bacaan qurannya terbatas, dll. Tidak ada dalam keberanian saya untuk mempersunting kesalehahan seperti yang didefinisikan dalam buku-buku, pengajian, atau yang dipropagandakan oleh akun-akun di media sosial. Bagi saya, perempuan baik adalah perempuan yang baik, cukup itu.

Kecantikan yang ada dalam benak saya pun hanya sanggup menjangkau dari apa yang dilihat dan dengar, seperti bagaimana ia berpakaian, pakaian seperti apa yang ia kenakan, bentuk parasnya, bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain, bagaimana ia bebicara, dan hanya sebatas itu.

Sampai kemudian, suatu hari saya datang ke kajian di salah satu Masjid. Bahwa hal yang paling sulit bagi perempuan yang nantinya menikah adalah ketaatan terhadap suaminya. Apalagi ketika ketaatan itu berpindah dari orang tua kepada suaminya, dan hal-hal yang mengikuti setelahnya.

Rasanya, ilmu itu hanya sampai pada sebatas pengetahuan kala itu. Sampai akhirnya saya menikah dan memahami betul maksud dari ilmu yang dulu pernah saya dapatkan.

Bagi orang-orang yang merindukan kebebasan yang tidak berbatas, mungkin menikah akan menjadi halangan yang luar biasa. Khususnya bagi perempuan. Bagaimana tidak, sebab setiap hal yang nantinya perempuan ingin putuskan seperti keluar rumah, berpakaian, dan hal-hal krusial lainnya nanti harus melalui izin dari suaminya. Tidak hanya urusan seperti itu, bahkan urusan untuk puasa sunah pun kalau suaminya tidak mengizinkan, ia tidak boleh melakukannya.

Sebagai laki-laki saya pun merenung, berpikir lebih banyak, sambil memandang istri saya hari ini. Betapa “ridho” suami itu benar-benar jadi sesuatu yang amat berharga. Dan sebagai laki-laki saya menjadi mengerti tentang makna-makna yang selama ini abu-abu dalam kehidupan berumah tangga.

Menikah itu harus bisa mengendalikan ego. Saya berusaha untuk meredakannya dan dalam sekian bulan pernikahan ini, saya merasa cukup berhasil. Saya tidak ingin mempersulit istri saya demi melihatnya merasa cukup lapang dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Tidak mengekangnya, saya berusaha memberi pilihan-pilihan yang lebih luas dan leluasa. Saya juga selalu berusaha mendukung setiap pilihan-pilihannya yang baik.

Dan saya pun menjadi paham bahwa ketaatan seorang istri itu tidak bisa kita tuntut, ia lahir dari kepercayaannya kepada kita (laki-laki). Dan saya pun menjadi paham bahwa kecantikan yang hakiki dari seorang perempuan adalah ketaatannya. Ia menyadari bahwa setelah menikah, dirinya tidak lagi bebas. Ada suami yang menjadi pertama dan utama. Ada keputusan-keputusan yang dulu ketika masih sendiri, ia bebas memilih, kini harus melalui izin suaminya. Dan berbagai hal lainnya.

Dan ketaatan itu sungguh akan mengalahkan seluruh atribut kosmetik yang menghiasi wajah, jilbab lucu yang ditawarkan di online shop, dan gamis-gamis panjang yang warna-warni yang melekat di tubuh para model dan endorser. Maka, beruntunglah bagi laki-laki yang mendapatkan perempuan yang memahami tentang ketaatan. Dan beruntunglah perempuan yang mendapatkan laki-laki yang tidak semena-mena dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Ketaatan perempuan itu bisa menjadi jalan surga bagi perempuan. Juga bagi laki-laki. Dan kini, kami sama-sama belajar untuk memaknai ketaatan kami kepada Tuhan sebagai jalan kami dalam menjalani rumah tangga ini. Bismillah :)

Yogyakarta, 15 Maret 2015 | ©kurniawangunadi

LDR; Lengkapi Dengan Rindu

Baik buruk perubahanku
Tak akan kau sadari
Kita berevolusi
Bila kita ingin tahu
Seberapa besar rasa yang kita punya
Kita butuh ruang
(Tulus, Ruang Sendiri)

Kerinduanlah, pemantik yang membuat siapapun pecinta menjadi kokoh langkahnya, berani pijakannya, dan kuat asanya untuk mempertahankan menara impian yang telah ia susun sedemikian utuh.

Dalam kisah apapun di episode hidupmu, sisipkan ruang untuk kau lengkapi dengan rindu. Jarak yang tercipta kadang membuat lara, tapi di saat yang sama, ia memberimu ruang untuk mempersiapkan hari terbaik, memberimu luang untuk melesatkan diri.

Ini bukan masalah tentang kamu dan pasangan saja. Kerinduan tak sesederhana itu. Kerinduanlah energi yang membuat Al Fatih rela berpuluh hari tegak bertahan di depan dinding Konstantinopel; ia rindu akan penantian 800 tahun semenjak Rasulullah menarasikannya dalam sabdanya.

Kerinduanlah yang membuat jutaan manusia, lengkap dengan warna-warni bahasa dan kebangsaannya tumpah ruah di pusaran tanah haram. Kerinduan menjadi tamu Allah, kemudian menjadi energi bagi milyaran muslimin berikhtiar menggenapkan rukun Islamnya.

Maka dalam kisahmu, setelah engkau memancang mimpi agung, lengkapi dengan rindu, agar citamu tak luruh ditelan waktu. Kerinduan menjaganya, membuatmu membara, menjadikanmu jiwa gagah pengembara dalam petualangan meraihnya, bukan penyilat lidah di siang hampa.

LDR; Lengkapi Dengan Rindu
@edgarhamas

kamu cantik
— 

kamu cantik kok, tanpa warna warni di bibirmu.

kamu cantik kok, tanpa pemerah di pipimu.

kamu cantik kok, tanpa lukisan di alismu.

kamu cantik kok, tanpa tapi.

kamu cantik dengan bekas bekas air wudhu pada wajahmu.

kamu cantik dengan pakaian yang sederhana.

kamu cantik, tak usah risau.

Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?

@edgarhamas

“Tugas utama umat manusia disempurnakan oleh kaum Muslimin. Filsuf terbesar, Al-Farabi, seorang Muslim; Ahli Matematika terbesar, Abu Kamil dan Ibrahim Sinan, kaum muslimin; Ahli Ilmu Bumi dan ensiklopedis terbesar, Al-Mas’udi, seorang Muslim; Ahli Sejarah terbesar, Ath-Thabari, masih juga seorang Muslim!” -George Sarton (1884–1896 M)

“Seorang pria hitam di Afrika Selatan”, ungkap Munawer Suleyman seorang sejarawan, “duduk di ujung kursi. Ia tak diperkenankan duduk di kursi sepenuhnya, sebab kursi itu bertulis ‘dahulukan orang putih daripada orang hitam.” Politik Apartheid diciptakan oleh bangsa Eropa ketika mereka menjajah Afrika. Mereka pendatang, namun seenaknya membagi-bagi hak kemanusiaan, menciderai yang lain dan memuliakan kaumnya sendiri.

Beberapa puluh tahun kemudian, seorang guru di Amerika bertanya kepada muridnya, “anak-anak, siapakah bangsa yang pertama kali memperkenalkan dunia tentang persamaan?”, semuanya berebut menjawab, sebab mereka telah membaca buku sejarah semalam tadi, “tentu Amerika bu, Abraham Lincoln melakukannya!”

Padahal, beribu tahun sebelum Lincoln membebaskan budak-budak dan menghilangkan sekat hitam dan putih, telah ada satu pemerintahan yang melakukannya. Menjembatani hitamnya Ethiopia dan langsatnya kulit orang-orang Romawi. Mempertemukan mata coklat arab dengan mata biru Barbar. Menenun persaudaraan antara petarung-petarung sahara dan pemukim negeri Persia. Islam, dengan paripurna telah melakukannya.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Dulu, di Eropa, mandi merupakan suatu hal yang diharamkan oleh penguasa”, tulis Mark Graham dalam buku ‘How Islam Created World, “Pengharaman ini berakhir ketika Umat Islam memasuki Andalusia dan memimpin mereka.”

Sepulang dari Perang Salib, para bangsawan dan Pasukan Salib memasuki Gerbang-Gerbang Kota Eropa dengan bau harum. Mereka membawa “Sabun, Minyak Wangi, Kamfer, Balsem, Permadani mewah Islam , sedangkan yang terbawa tak sengaja adalah Pengaruh Akhlaq Islam. Sebelum itu Bangsawa Eropa tak kenal sabun dan minyak wangi. Mereka hanya mengolesi badannya dengan semacam tanaman liar”, tulis Profesor Poeradisastra.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Pada kaum muslimin, mau tidak mau kita harus mengakui”, kata Will Durrant dalam The Story of Civilization hal. 187, “bahwa merekalah pencetus pertama Ilmu Kimia sebagai salah satu cabang keilmuan”

Pada saat yang sama, “ketika umat Islam memulai penemuan-penemuan penting dalam ilmu Fisika dan Kimia”, dilansir dalam laman sejarah ‘Katibah At Tarikh’, “orang Eropa ramai-ramai menganggap bahwa warna-warni tabung kimia itu sebagai sihir, mereka menjauhinya dan menuduh umat Islam telah bersekongkol dengan iblis, sebuah kesalahan yang fatal.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Rumah Sakit hewan pertama di dunia”, dilansir dari laman Ottoman Archives, “dibangun pada Abad 18 di Bursa, Turki hari ini. Penggagasnya adalah Kekhalifahan Utsmani. Kekhalifahan sangat mengaskan rakyatnya untuk menyayangi binatang, hingga mengadakan program santunan binatang setiap musim dingin, membentuk pasukan khusus untuk menelusuri bukit curam dan gunung-gunung, menebarkan makanan bagi hewan liar yang kelaparan.”

Sementara di saat yang sama, dunia mengenal hewan sebagai makhluk yang disia-siakan. Keledai dipaksa mengangkat beban melebihi kapasitasnya. Banteng-banteng dipertarungkan dalam adat matador. Singa-singa dipertontonkan di Colosseum, bertarung sampai ada yang mati. Dan Islam datang, menebar cita dan cinta, hingga sampai-sampai, terkenang salah satu Undang-undang Umar bin Khattab yang berjudul, “Aturan Muatan yang boleh dibawa Keledai”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Di waktu ketika perpustakaan terbesar di Eropa adalah Library of Saint Gallen dengan jumlh 600 buku”, dilansir dari laman Tarikhuna Al Adzim, “di saat yang sama, Cordoba di bawah naungan Islam telah memiliki perpustakaan di banyak tempat dengan masing-masingnya memiliki 400 ribu buku.”

“Ketika Kerajaan Castilia pimpinan Ferdinand dan Isabella menghancurkan peradaban Islam di Spanyol”, tulis Raghib As Sirjani dalam bukunya ‘Qisshatu Al Andalus’, “mereka membakar lebih dari satu juta buku. Jumlah yang sangat besar yang tidak dimiliki oleh dunia saat itu.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Islam itu agama perang”, orang-orang berseloroh begitu. Yakin? Jika memang yang mereka katakan begitu, lalu mengapa sampai jatuh korban 60 juta jiwa setelah perang dunia II oleh bangsa Eropa? Sedangkan tak pernah ada korban perang sebanyak itu dalam peperangan yang dilakukan Umat Islam. Jika memang Islam agama teror, mengapa sejarah malah mengenang kebengisan pasukan Salib yang membantai 70.000 warga kota selama 4 hari 4 malam?

Justru Islam malah datang dengan aturan pertempuran yang ‘maha lembut’. Kok bisa? Bayangkan, dalam aturan pertempuran saja, tidak dperbolehkan pasukan muslimin menebang pohon, merusak taman, membakar tanaman. Tak boleh menyerang wanita, anak-anak dan orangtua. Tak boleh menyerang tempat ibadah. Tak diperkenankan menyerang orang yang sudah menyerah. Hebatnya.

(Notulensi Pribadi Ketika Mengisi Kajian Online Gamasis UNPAD)

The Tables Have Turned Part II

Originally posted by bysamoylova

A/N: I hope you guys like this as much as you liked Part 1! GIF NOT MINE!

Warniing: Slight Cursing

Part 1: The Adventures of HotDog Girl & Sir Christian

The picture you’d taken and posted on Cody’s Instagram had over 469,000 likes and so many comments under it asking him so many questions about the picture and the hashtag. So many of his fans got the hashtag to top trending worldwide on twitter, you were now back in NYC while Cody was in LA but you both talked everyday consider it was only a three hour difference so it didn’t affect you both as much “What are your plans for today Sir Christian?” You said retaking your notes from your history class “I was going to live stream but talking to you is so much better right now.” He said smoothly causing you to smirk.

“Oh but Sir Christian your fans need you, they have questions and demand answers.” You said putting down your pencil laying your back down “Well Hotdog Girl, my attention is fully yours at the moment. Now indulge me in your history class, how was it today?” He asked “It was boring, the dude Rodrick, he just won’t take no for an answer, it really pisses me off.” You said sighing in frustration. Rodrick Golding, this jock in your history class who sits next a to you always try’s to flirt with you asking you on dates left and right just not knowing when to give up.

“Did you tell him you had a boyfriend?” Cody asked in a tone that you’d never heard before “Yeah, since the two day of him hitting on me, he doesn’t give a shit.” You said laughing but you felt Cody still tense “It’s not a big deal, hopefully he’ll stop soon and I mean if he doesn’t it’s very likely I won’t see him again after this semester is over.” You say picking up your pencil and continuing to write your notes.

“True, but what if he gets violent (Y/N)? Who will be there to protect you?” Cody said with his voice strained and angered “Cody. I’m not a little girl, I can handle an asshole, trust me. Please Sir Christian did you forget I am the royal servant of my king, meaning I am his knight as well. So I’m good with kicking ass,don’t worry yourself.” You said laughing causing him to let out a weak chuckle “Yeah, I’m sure.” He said.

“Just cause I don’t study in the art of bodybuilding doesn’t mean I can’t kick your ass Cody.” You said challenging him trying to divert his attention from your earlier conversation “Oh really? You think so?” He said lowly, the words just sliding off his tongue without any problem. “Yeah, I know so. All those pretty muscles are just for looks.” You said biting down on your pencil softly “That’s big talk Hotdog Girl. Can you back all that up?” He said chuckling.

“Try me Sir Christian.” You said bluntly not knowing where this confidence had come from “Oh I will, I’ll be in New York next week for a convention for Teen Wolf, so be careful Hotdog Girl, I’m coming for you.” He said lowly in a teasing tone, but you knew Cody was all games so nothing would happen.

“Don’t you have a livestream to do?” You said snapping back into focus “Yeah, I guess you’re right. Seeing as you’re in a hurry to be rid of me.” Cody said faking his hurt feelings “You’ll be watching me right?” He said and you could hear the smirk through the phone “Of course, it’s not like I have anything better to do.” You said smiling.

“Alright, I better see your name pop up or I’m calling you right then and there while being live.” He said threateningly “Oo, I’m so scared.” You said teasingly “Oh you should be Hotdog Girl.” He said before hanging up. You rolled your eyes and continued on with notes, waiting for Cody’s stream to start once around 10 minutes had passed you signed in and when you did the smile on his face was breathtaking “Ahh, we have a special visitor guys. Hotdog Girl is here with us.” He said to the people who were watching and as once as you were mentioned the questions started to flow like crazy.

“Whoa whoa guys, the views and questions are flooding in.” Cody said squinting as he read the comments and questions “Why is she called Hotdog Girl? Do I know her real name? Is she my girlfriend?” Cody laughed reading the rest of the crazy questions and comments “I know her real name, she’s not my girlfriend but she is a good friend of mine, we talk everyday, she’s the first person on my mind when I wake up.. that sounded kind of creepy.. shit.. umm she loves Athena, she was the one who started the Hotdog Girl nickname.” Cody said laughing causally heating hot dog after making his last statement, you couldn’t help but swipe your fingers across the screen editing your name and asking him your question.

“Did I eat the hotdog to make fun of you? Why would I do that , you’re my favorite girl.” Cody said winking and if the fans weren’t going crazy before they started to go nuts now. After about 2 hours of watching the stream you’d fallen asleep. Once you had awoke it was to the sound of your phone ringing “Hello?” You said half awake mumbling the greeting to the person on the line “Good evening sunshine, come to your door please”. The voice said quickly before hanging up, you didn’t even question the person on the phone walking to your door opening it to feel a little body rub against your leg purring.

You looked down to see what it was, but her fur was so recognizable that even your tired eyes knew exactly what she was and who she belonged to, you scooped Athena in your arms softly stroking her fur “You’re such a good kitty.” You said softly as you gently scratched her head “Well, honey, we are home.” You heard Cody say softly leaning on your door watching you cuddle with Athena, dropping his bags at the door “And what do I owe the pleasure of your presence?” You said looking at him smiling at Athena “Well, I told you Teen Wolf was coming to New York so I came out here earlier than everyone else and I didn’t want to stay at a nice hotel when I could spend time with my favorite girls.” Cody said picking up his bags putting them down in your hall as he closed the door behind him. You continued to walk to your couch laying down while Athena made herself more comfortable on your now exposed stomach, you felt your legs lift slightly and then they were brought down onto Cody’s lap “So since you’re here and I am fully awake, how about that ass kicking I promised?” you said peeking over to see Cody’s reaction.

You couldn’t help but notice the devilish smile that appeared on his face, making you instantly regret mentioning it as you were pulled towards him in one swift motion causing Athena to jump off of you, on minute you were on his lap and then next you were now hung over his shoulder hitting his back playfully “Cody Allen Christian! Let me go!” you yelled softly trying not to wake your neighbors “Is that defeat I hear in your voice (Y/N)?” he said smoothly and then you knew it was game time. “Can I have your phone? This is adventure part 4 and it must be documented.” You said laughing still hitting his back and just as you were going to turn you heard the click of his camera “I don’t know if this one should be documented or kept?” he said smirking which earned him a nice smack on his back “Behave Christian or I might have to kick you out.” you say as you felt you back hit the sofa “It was fun but I think we know the true winner.” He said turning his back towards you, this was your moment.

You jumped on him snatching his phone out of his hands snapping another picture but this time your hair was covering a good amount of your face but Cody’s smile can be seen in the picture, and seeing it so bright warmed your heart. “Are you done snapping pictures?” Cody said taking his phone out of your hands gently sitting on the couch “What do I get for being the winner?” Cody asked watching you return to your normal sitting position “I can cook for you and we could watch a movie of your choice?” you said shrugging tying your hair into a messy ponytail “Sounds good to me.” he said leaning back in your couch, relaxing as Athena made her way to his lap beginning to fall asleep.

“Pasta, sounds good?” you ask grabbing the ingredients and pans “Anything you make sounds amazing.” Cody said watching you intently from the living room, he allowed his eyes to roam over your body as you had turned around to cook the food “Athena, I think I am truly about to be blessed.” he said with the kitten as he patiently waited for the food to be done. About 25 minutes later the smell of the marinara sauce had flooded your apartment, you set the plate of food on your coffee table as you began to cuddle next to Cody on the couch “Choose a movie yet?” you asked already knowing it was going to be a scary movie because those were Cody’s favorites.

“How about ‘It’ because it’s a memory of how we met?” Cody said giving you a cheesy smile as you nodded your head cuddling into him more. “ Movie nights are the best nights.” he said grabbing his plate and beginning to eat watching the movie closely looking back at you ever so often until the movie was done he had noticed you had fallen asleep. He snapped a photo of you captioning it “Now the tables have turned huh HotDog Girl #TheAdventuresofHotDogGirl&SirChristianPart6”

Another Medicine

Ternyata benar, tidak semua sakit butuh obat-obatan untuk dikonsumsi. Meski bukan psikosomatis dan murni gejala fisik, nyatanya ada hal-hal lain yang cara kerjanya melebih paracetamol, aspirin, atau yang lainnya. Apakah itu? Namanya panggilan alam, panggilan hati untuk bergerak lagi mengupayakan kebaikan, agar tidak tenggelam dalam sakit itu sendiri.

Sesubuh tadi, grup utama kantor tiba-tiba ribut gara-gara video-clip terbaru seorang penyanyi Indonesia yang memuat banyak konten negatif, yang mirisnya sudah ditonton tiga juta orang hanya dalam tiga hari, dan you know lah usia berapa yang jadi pasar utamanya. Tiba-tiba ingin lompat dari tempat tidur, “Kesel ya, kenapa sih negative vibes cepet banget menyebarnya?” Lalu saya sadar ini Senin, lantas ingat bahasan ini akan semakin happening nanti di ruang kerja. Ya Allah~

Masih di grup kantor, di circle sebelahnya, sebuah pesan tertinggal disana, “Noooov, kamu dan teman-teman dapat titipan video dari Bunda Elly, beliau sampaikan sesuatu soal program baru kita. Parah merinding banget, semangat yaa!” Lalu langsung dicek, daaaaan … 

“Terima kasih ya, Bunda terharu sekali dengan apa yang kalian perjungkan. Berjuang terus ya, Nak. Bunda pengen banget peluk kalian. Allah akan tolong setiap kebaikan, Nak. Semoga Allah karuniakan kemudahan, pasangan yang menenangkan, dan semangat untuk terus berjuang. Jangan merasa sendirian ya Nak, bunda engga mau kalian merasa sendirian.

Nangis, jelas ini bikin gerimis! Suhu tubuh mendadak terasa normal, karena ada ‘obat’ lain yang cara kerjanya cepat, melebihi anestesi. Draft kalimat-kalimat izin absen hari ini mendadak dihapus lagi. Semoga Allah mampukan, agar sesuatu yang baik hari ini tidak terlewatkan. Semangat ya rangers warna-warni! Kita akan sampai, insyaAllah sebentar lagi :”)

Begitu juga untukmu, semoga Allah mudahkan perjuanganmu hari ini. Sebab, kamu pun sama, insyaAllah sampai sebentar lagi. Selamat memenangkan hari ini!

Kabar Hujan

Kembali mengingatmu aku. Menggiring jemariku, membentuk tinta pena diruang putih. Rasanya setelah seratus dua puluh malam kau pergi, tidak banyak mentari menyentuh kulitku diwaktu pagi;

Hujan masih saja jatuh di labirin kecil ini, merendam emosi, juga seribu tawaku. Meski hampir tenggelam dan menghanyutkanku, pribadi ini enggan mengharapkan cahaya warna-warni;

Aku hanya terus diatapku, melihat orang-orang melakoni peran yang mereka hayati. Sembari ku melakukan jutaan gerakan yang dianggap normal di bumi. Dengan lubang kecil dilangit-langit, ku kabari, aku baik.

Setulusnya;
H.N

South of the city center in Malang, Indonesia, rows upon rows of monotonous white houses with brown roofs suddenly transform into a rainbow of vibrant colors bursting at every corner. The village of Kampung Warna-Warni (Indonesian for “Village of Color”) was once drab and polluted, lacking the economic resources required to build a healthy community. But eight event management students from a nearby university lent a helping hand by applying their class skills to the real world. The students partnered with a local paint company looking to do a social responsibility project, which donated over 6,000 pounds of colorful paint, and voila, a hueless city got a brilliant new paint job.

Aku buruk dalam merekayasa dan menjelaskan warna-warni semesta. Rasanya hampir tak mungkin, padaku, kau akan terbuai karena majas dan kata-kata. Tetapi, kelak ketika kau sudi menjadikan aku sebagai tempat terakhirmu berlabuh, kupastikan kau selalu tahu. Tak ada yang lain, kaulah jagatku yang satu dan raya itu; indah yang kusyukuri dan kuagungkan setiap waktu.

Fire Hazard

Fic idea I just couldn’t shake. Hurt/Comfort. Enjoy

Ed pushed the door to Colonel Mustang’s office open with his shoulder. He grasped the white bread stump of a used-to-be sandwich in one hand, a stack of papers in the other, which his eyes skimmed through before glancing up. Ed crammed the rest of the sandwich into his mouth as the door shut under its own weight behind him.

“Is the Colonel here? I’ve got something for him from General Raven.”

“Hey Ed.” It was Riza who spoke. She’d taken the open seat next to Breda, a black ballpoint pen running sightlessly along her papers as she looked up to greet Ed. A small, echoing chorus of ‘Heys’ bounced from Falman, Fuery, Havoc, and Breda.  “He’s in a meeting with Colonel Lucibella right now.”

Ed’s expression soured, as if the idea of the Colonel engaging in work irked him. He swallowed and licked his empty gloved fingers. “And how long is that gonna last?”

“Why? Got a date?” Havoc asked. He tipped the edge of his cigarette against his desk’s ashtray. Not that the cigarette or the ashtray were allowed under office regulations.

“No, but that doesn’t mean I’m not busy.” Ed tilted his head over his shoulder, eyes to the unmoving door. “Me and Al are sticking around in Central for two more days to dig through—well what’s left of the library. Except someone told Raven we’re here and now he’s got me playing errand boy.”

“It doesn’t have to be a chore.” Fuery laid his pen down on his desk, wrist twirling to loosen the strain. “You can stick around and chat with us while you’re here. I’m sure the Colonel would be glad to see you too once he gets back.”

Ed let out a small guffaw. “What? And give him the chance to order me around too? I’ll pass on that.”

“You can leave the reports on his desk, Ed. I’ll tell him they’re from Raven.” Hawkeye had refocused on her own paperwork, a stack a few times taller than the other soldiers’. She signed Mustang’s signature at the bottom of the top-most page and flipped it into the next pile.

Ed shrugged. He charted a careful path around loose papers which had dropped to the floor, frowning at the growing number as he neared the Colonel’s desk. When he looked up, it was with distaste. The entire top of Mustang’s desk was obscured beneath a thick coating of notes and papers. A scattering of pens topped some, buckled others upward. Stacks bled together with dog-eared pages appearing like chipped out cement in tall towers. Books open to odd pages, crumpled sheets of trashed loose leaf, rubber shavings from erased charcoal drawings–Ed gave the mess a once over, then looked to the paper tucked under his own elbow.

Keep reading

Kau bangunkan aku sebuah istana khusus dihatimu, kau hiasi ia dengan cat warna warni sebagai ungkapan rasa bahagia yang meronai

Disekelilingnya kau tanamkan bunga kesabaran, aromanya semerbak sungguh aku tak ingin beranjak

Lalu kau pagari kuat istanaku dengan besi-besi janji semoga saja tak ada yang kau ingkari

Aku rasa sudah cukup
Karena…

—  Bagiku kau adalah keseluruhan bumbu penyedap rasa, pahit, manis cemburu dan juga rindu

Rumah kayu, rumah dekat laut, rumah dekat lereng pegunungan, rumah dekat sungai. Sudah lama rasanya aku tinggalkan impian yang muluk itu. Biarlah nelayan yang berumah di dekat pantai. Biarlah petani yang berumah di dekat gunung.

Aku ingin berumah di sini. Di dekat keriuhan mobil motor lalu lalang. Di kota yang sedang meliuk kesibukan. Di tanah yang rawa. Yang di dalamnya ada buku-buku, ada papan tulis, ada lego, ada plastisin warna-warni, ada bak besar menampung hujan, ada ayunan di pohon, ada pondok kecil tempat kita merawat kata-kata dan lagu, ada kau, aku, dan anak-anak yang tumbuh.

#UNSTOPPABLE 1: Perjuangkanlah Apa yang Pantas diperjuangkan

Jalan perjuangannya tak seindah jalan setapak di taman bunga Keukenhof

Dikanan dan kirinya bertabur warna-warni keindahan yang menyejukkan

Dipenuhi semilir angin yang menerbangkan aroma kesegaran

Bukan,

Jalan perjuangannya dipenuhi duri-duri setajam tombak,

Duri-duri tantangan,ancaman, rintangan

Duri-duri yang mengandung racun mematikan tanpa ampun

Mereka mengira segala tantangan mereka akan membuatnya gentar

Mereka menerka segala ancaman itu akan membuatnya mundur

Mereka menyangka segala rintangan itu akan membuatnya berhenti

Namun, tidak.

Segala apa yang mereka upayakan tak pernah membuatnya berhenti.

Segala apa yang mereka usahakan semakin membuatnya melompat lebih tinggi

Setelah tiga tahun berdakwah secara sembunyi-sembunyi untuk menanamkan iman kedalam hati para sahabat dan orang-orang terdekat beliau. Kinilah saatnya menjalankan amanah Allah yang lebih lagi. Suatu ketika, Allah memerintahkan Rasulullah untuk berdakwah secara terang-terangan kepada kerabat dekatnya.

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat”- (Asy-Syu’ara 214)

Rasulpun mengambil langkah dengan bersegera. Ia kumpulkan kerabatnya para Bani Hasyim untuk menyampaikan kebenaran dari Allah. Saat itu, Rasul belum berbicara apa-apa. Namun, Abu Lahab, paman beliau angkat bicara lebih dulu. Ia mengancam beliau dan berniat menghukum beliau jika berbuat sesuatu. Kala itu,  Rasul hanya diam dan sama sekali tidak berbicara dalam pertemuan itu.

Dilain waktu, Rasul mengundang mereka lagi. Di atas bukit shafa, rasul berseru :

“Segala puji bagi Allah dan aku memuji-Nya, memohon pertolongan, percaya dan tawakal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya”.

Kemudian Rasul, berkata lagi :

“Sesungguhnya seseorang pemandu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian dan kepada seluruh manusia. Demi Allah kalian akan mati layaknya sedang tidur nyenyak dan akan dibangkitkan lagi layaknya bagun tidur. Kalian benar-benar akan dihisab terhadap apapun yang kalian perbuat, lalu disana ada surga yang abadi dan neraka yang abadi pula”.

Bagaimana reaksi kerabat beliau ketika itu?

Ialah Abu Thalib yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap apa yang dikatakan oleh Rasululullah. Namun, beliaulah orang pertama yang mendukung beliau. “Maka lanjutkanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku akan senantiasa menjaga dan melindungimu, namun aku tidak punya pilihan lain untuk meninggalkan agama Bani Abdul-Muthalib”.

Ialah Abu Lahab, yang sangat tidak menyukai perkataan Rasul terlebih lagi beliau mendapat dukungan dari Abu Thalib. Maka seketika Abu Lahab menyumbangkan pendapatnya. “Demi Allah, ini adalah kabar buruk. Ambillah tindakan terhadapnya sebelum orang lain yang akan melakukannya”.

Abu Thalib tak tinggal diam, “Demi Allah, kami tetap akan melindunginya selagi kami masih hidup”.

Setelah mendapat dukungan dari pamannya, Rasulullah semakin yakin menata langkah-langkah perjuangan dakwahnya, menyebarkan tauhid kepada seluruh penduduk Mekkah. Lalu kemudian beliau mulai menghapuskan kemusyikan, dengan mulai menyadarkan para penyembah berhala, agar mereka tahu bahwa mereka sedang berada dalam kesesatan.

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik” (Al-Hijr : 94)

Tentu saja semakin seringnya perjuangan menyampaikan kebenaran yang beliau lakukan semakin memperkeruh hati Abu Lahab dan para pengikutnya. Ia tak suka, Ia tak rela dengan apa yang dilakukan oleh Rasul. Sebab, apa yang dilakukan oleh Rasul hanya akan memberikannya kedudukan yang hina. Apa yang selama ini dia banggakan akan hilang dan lenyap. Abu Lahab takut menjadi hina. Ia takut kehilangan segalanya. Lalu ia mengerahkan usaha-usaha terbaiknya untuk menghentikan langkah-langkah perjuangan Rasul. Ia melakukan segala cara agar rasul jera kemudian berhenti berjuang. Hatinya tak pernah rela menerima kebenaran.

Suatu hari, Abu Lahab mendatangi Abu Thalib agar beliau mau merayu Rasul untuk meninggalkan jalan perjuangannya. Ia mengancam akan membunuh Rasul jika tidak berhenti. Sang paman Abu Thalib yang mulai gentar, kemudian menemui rasul. Lalu beliau menyampaikan keresahan hatinya. Namun, jawaban dari Rasul sungguh membuatnya dirinya semakin yakin untuk membela beliau, semakin yakin untuk menjadi pelindung beliau.

“Paman, Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, sungguh tidak akan aku lakukan. Biarlah nanti Allah yang akan membuktikan kemenanganku atau aku binasa karenanya”.

Rasul tak pernah takut, tak pernah mundur, dan tak pernah berhenti.

Rasul meniti jalan perjuangannya dalam caci maki, fitnah, olok-olok, umpatan. Rasul dilempari batu, Rasul dilempari kotoran, diperangi, dan berkali-kali akan dibunuh. Sungguh berat jalan perjuangan itu, sungguh besar pengorbanannya. Rasul rela mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk sesuatu yang paling dicintai, “Ummati”.

Demi tegaknya kalimat tauhid di muka bumi, “ La Ilaha illallah , muhammadarrasulullah”. Sungguh berat perjuangan itu, namun atas semua usaha terbaik beliau kalimat tauhid tersebut terus menggema sampai hari ini, dan semoga hingga seterusnya nanti.

Rasulullah, terima kasih untuk perjuanganmu yang tanpa henti. Sampai bertemu, suatu saat nanti.

Yuk, shalawat bareng-bareng :)

Bandung, 27 Mei 2017

Photo by Siti Maryam, di Taman Bunga Tulip Keukenhof, The Netherlands

anonymous asked:

Assalamu'alaikum mba jana. gmna pndpat mba ttg kerudung syar'i tp byk model2nya? Dan jga semkin menjamurnya model2 pashmina instan yg syar'i? Bukannya kita hrus mngenakan kerudung yg sederhana? Toh tujuan brkerudung adlh menutupi kecantikan

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.

Syar'i itu bukan sekedar jargon, tagline atau apalah sebagai pemanis produk biar laris manis. Harus dikembalikan kepada standar syar'i. Kita juga jangan hanya dengar ada embel-embel syar'i nya lalu dipakai tanpa diperhatikan lagi syarat-syarat berkerudung.

Kalo berkerudung jangan sekedar pakai kerudung. Karena perempuan jahiliyah berkerudung juga. Ya jangan sampai kita menyerupai perempuan jahiliyah dari segi niat dan cara.

Perempuan Badui pada masa jahiliyah menutupi kepalanya dengan kerudung sebagai pelindung rambut dari sengatan matahari. Kerudungnya dijulurkan sampai dada. Sementara krah atau belahan baju atas akan terlihat jika kerudung itu terbuka/tersingkap. Pada sumber lain dikatakan, kerudung mereka diberikan pemberat dikedua ujungnya lalu dilibaskan kebelakang.

Jadi perempuan jahiliyah menggunakan kerudung bukan karena aspek spiritual. Tapi hanya keadaan dan faktor manfaat saja; semata untuk melindungi rambut dan kepala dari panas matahari ditengah padang pasir.

Kemudian datanglah Islam mengatur soalan pakaian; kerudung dan jilbab. Dengan membedakan diantara keduanya dan memberitahu cara pemakaiannya.

Dalam surah An-Nuur: 31 terdapat kata “khumur” yang merupakan jamak dari “khimar” yang artinya ialah kerudung. Menurut Tafsir Ath-Thabari, 19/159; Ibnu Katsir, 6/46; Ibnul ‘Arabi, Ahkamul Qur`an, 6/65, khimar (kerudung) ialah apa-apa yang dapat menutupi kepala.

“…. hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya” (QS. An-Nuur: 31)

Kerudung wajib diulurkan ke atas dada. Tidak boleh diikat kebelakang apalagi dililit-lilit sampai leher tercekik.

Dalam menafsirkan ayat “wal-yadhribna bi-khumurihinna ‘ala juyubihinna” pada surat An-Nuur : 31 di atas, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Nizham al-Ijtima’i fil Islam mengatakan, bahwa khumur (bentuk jamak dari khimaar) artinya adalah apa-apa yang digunakan untuk menutupi kepala (maksudnya : kerudung). Sedang juyuub (bentuk jamak dari jayb) artinya adalah tempat yang terbuka pada baju atau kemeja (maksudnya : kerah/lubang baju).
Artinya, kerudung (khimar) cukup diulurkan diatas (menutupi sampai) krah (juyub)/lubang baju; tempat untuk masuknya kepala saat pakai baju, sudah cukup untuk memenuhi kriteria syar'i.

Jadi, kerudung bukan saja menutup kepala tapi juga menutup leher dan dada. Kalau misalnya mau dipanjangkan lagi itu pilihan dan bentuk kehati-hatian.

Kerudungnya juga yang tebal atau tidak tembus pandang. Kalo masalah motifnya sih terserah. Mau kamu pakai yang polos, bunga-bunga, warna-warni, terserah mau pakai corak yang gimana. Yang penting bukan gambar makhluk bernyawa.

Dari pertanyaan kamu, perlu dibedakan antara “label” syar'i dengan bahan dan model kerudung. Misal kamu pakai pashmina, bisa jadi tetap syar'i kerudung pashminanya kalo sudah menutupi dada dan tidak tembus pandang/tebal. Tapi akan menjadi tidak syar'i kalo dililit sana sini diatas dada dan ngepres dileher atau kepalanya udah kayak punuk onta. Atau misal kamu pakainya kerudung instan langsung pakai, ukurannya udah menutup dada tapinya masih diperpendek lagi atau digaya-gayain sampai tidak memenuhi syarat syar'i. Jelas ini gaboleh.

Kalo melihat banyaknya model-model kerudung sekarang ini, terutama yang tidak memenuhi standar syar'i, adalah bentuk pengaburan identitas muslimah.

Kita bisa mengenali seorang muslimah dari caranya berbusana kan? Namun disinilah nilai-nilai Islam bisa disusupi dan diliberalisasi. Lihat saja perkembangan mode busana muslimah hari ini, tidak lagi bersandar pada Al Qur’an surat An-Nuur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59, serta hadits-hadits terkait. Standar pakaian muslimah telah mengadopsi mode busana New York atau Paris lalu ditempelkan sedikit aksesori Islamnya.

Akibatnya, tergodalah kaum muslimah mengikutinya. Mereka mengenakan busana muslimah bukan lagi karena dorongan takwa melainkan tuntunan mode dan tren terkini serta pengagungan nilai artistik ditengah gaya hidup permisif dan pluralis.

Ujung-ujungnya, kaum muslimah menjadi pasar empuk bagi industri baju muslim dan sangat menguntungkan para pengusaha. Dalam Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC), Indonesia dengan penduduk muslim terbesar sedang ditargetkan oleh pemerintah dan para pelaku industri mode menjadikan negeri ini kiblat mode muslim dunia pada tahun 2020. Sebab saat ini Indonesia tercatat memiliki tingkat ekspor busana muslim yang besar ke negara-negara muslim seperti Malaysia, Turki, Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, dan negara-negara lainnya di Timur Tengah. (Sepertinya saya pernah munliskan ini tahun lalu).

Tanpa sadar, arus opini menghanyutkan kita. Memganggap model busana yang digunakan sebagai pendapat dan pilihan pribadi, padahal itu adalah pilihan dan buah pikiran pihak lain yang secara masif ditanamkan dalam otak kita melalui media massa, terutama media sosial.

Sadar atau tidak, ini adalah bentuk serangan pemikiran asing yang dialamatkan ke kaum muslimah agar mengaburkan lalu menanggalkan identitasnya.

Jogja, Pada Suatu Malam

Pukul delapan malam. Jalanan riuh. Knalpot-knalpot bernyanyi, mengantar para manusia menuju tempat persinggahannya. Para tukang becak duduk di pinggir trotoar, menunggu penumpang sembari menyeruput kopi hitam pekat. Pekatnya hampir sama dengan langit malam ini.


Malioboro tak pernah mati. Setiap sudutnya menguarkan aroma yang mampu membangkitkan ingatan. Lampu-lampu warna-warni berjejeran. Percakapan dalam bahasa Jawa terdengar riuh rendah.


Sudah sejak tiga tahun lalu kami menikah, senyumnya tetap sama. Sederhana, tapi selalu memiliki kekuatan yang membuatku tetap ingin di sampingnya; menjaganya. Perempuan pemilik senyum itulah yang bersamaku, malam ini.


Rumah kami berjarak sekitar lima kilometer dari Malioboro. Hari ini Sabtu, orang-orang lalu lalang lebih ramai daripada biasanya. Langit malam yang cerah membuat kami memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di sini. Kami berjalan menyusuri trotoar, sebelum tiba-tiba dia menghentikan langkahnya.


“Gantengnya nambah.” Katanya, setelah memakaikan blangkon di kepalaku.


“Ya iya lah ganteng. Kamu mau sama aku karena itu, kan?” Balasku dengan nada agak genit.


Sejurus kemudian dia membungkam mulutku dengan tangannya. “Yang ini berapa, Bu?” Dia bertanya kepada ibu penjual blangkon.


“Lima puluh ribu, Cah ayu.” Dia menyerahkan selembar uang kepada ibu penjual blangkon dan mengucap terima kasih.


“Blangkon itu nggak gratis, ya. Aku laper. Di situ kayaknya ada angkringan. Karena aku udah beliin kamu blangkon, jadi gantian kamu yang traktir. Deal?” Katanya.


“Yah ternyata ada maunya. Ya, baiklah, oke.” Jawabku malas.


Beberapa saat kemudian kami tiba di salah satu angkringan yang letaknya di ujung Jalan Malioboro, dekat pasar Beringharjo. Kami memilih duduk lesehan. Nasi kucing, sate telur puyuh, dan teh manis hangat telah terhidang di hadapan kami.


Tak jauh dari tempat kami duduk, beberapa pengamen memainkan alat musiknya. Lagu Sewu Kutho yang dipopulerkan Didi Kempot terdengar mengalun. Di tengah-tengah kami menikmati makanan yang terhidang, tiba-tiba dia mengatakan sesuatu.


“Makasih, ya.” Ucapnya.


“Iya. Nasi kucingnya enak. Apalagi kalau aku yang bayar. Ya, kan?” Balasku agak sedikit menyindir.


“Ih, bukan makasih itu.”


“Lalu?” Tanyaku.


“Makasih untuk semuanya. Untuk tiga tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya.” Katanya.


Aku diam. Lalu menatapnya, dalam.


“Ya iya lah kamu harus berterima kasih. Kalau dulu aku nggak ngelamar kamu, dan lebih milih perempuan lain, pasti kamu sekarang masih jomblo gara-gara patah hati sama aku. Ya, kan?” Mendengar perkataanku, dia mencubit pipiku dengan membabi buta. Sementara aku hanya bisa meringis menghadapi serangan itu.


Pengamen yang tadi, mereka tak beranjak dari tempatnya, tetap memainkan alat musiknya. Sekarang lagunya berganti. Lagu Sempurna dari Andra and The Backbone terdengar, menambah kehangatan Jogja malam ini.


|| Ruang, 7 Oktober 2017, 22.33 ||

Catatan Harian : Harus Kuat Puasa

Setelah benar-benar mencicipi rasanya berwirausaha sendiri, tenggelam dan belajar berenang dilautannya jadi pengalaman hidup yang berharga. Dulu pernah, jualan boneka kain felt pas SMA, terus jualan pulsa, nasi kuning, donat, perlengkapan kuliah, puding, atau apapun yang bisa saya buat sendiri, tapi efek berwirausaha itu baru kerasa pas udah hidup dengan uang sendiri. Kalau nggak jualan, ya nggak makan.

Harus kuat puasa, kata suami saya. Dia yang lebih dahulu merasakan pahit getirnya nggak punya uang karena nahan nggak mau ngerepotin orang tua, mentalnya sudah ditempa habis-habisan ketika ia memutuskan berjualan boneka…teddy bear. Agar bisa makan, agar bisa kuliah, agar bisa menikah, katanya. 

Harus kuat puasa, adalah kata-kata pertama yang suami saya katakan setelah kami menikah, tepatnya setelah kami membulatkan tekad untuk menjadi pengusaha, dan memulai segalanya dari nol. Saya bukan orang yang jago jualan. Mentalnya masih tempe, lembek, nggak tegaan. Perfeksionis, tapi nggak tegaan apalagi pas nentuin harga. Nggak jarang karya-karya saya, terjual secara cuma-cuma. Bapak dan Suami lah, lelaki-lelaki yang sering protes, “Karyamu itu, ada nilainya. Sedekah boleh, tapi kan kamu juga butuh untung. Kalau untung, dikumpulin, nanti kan bisa jadi semakin besar sedekah yang bisa kamu kasih”. Iya juga ya. Akhirnya dari situ saya jadi belajar tega. Bukan tega sih, lebih ke menghargai karya sendiri, menghargai diri sendiri. Harus kuat puasa, puasa dari ngasih gratisan adalah ujian pertama saya.

Harus kuat puasa selanjutnya adalah puasa dari beli-beli yang nggak perlu, puasa nonton video biar hemat kuota, puasa makan enak, dan puasa lainnya yang enak-enak. “Harus kuat hidup prihatin ya, Buk. Kan mau jadi pengusaha.” Katanya lagi. Nasihat yang selalu keluar di momen yang tepat memang tidak pernah terkesan menggurui, sesederhana bicara dengan hati, senyaman memaafkan diri sendiri.

Melalui hari-hari yang warna-warni, suatu pagi, habis sudah tabungan dan persediaan uang kami, hanya untuk bayar biaya kebutuhan cek laboratorium saya di rumah sakit. Saya nggak akan pernah lupa hari itu, momen itu.
 
“Bi, maafin ibuk yah. Abi sedih ndak?”
“Sedih kenapa? Minta maaf kenapa?”
“Iya, gara-gara ibuk, kita jadi nggak punya uang.” Kata saya, menahan isak.
“Ndak ada yang perlu disalahkan, buk. Ndak ada yang salah. Ini namanya hidup, naik turun, seru kok.” Katanya, tersenyum.

Dari semua momen ‘harus kuat puasa’, pada hari itu, baru berasa banget apa maknanya.

“Bi, hari ini jadinya makan apa ya?”
“Ibuk mau makan apa?” Katanya, tenang. “Insyaallah masih cukup kalau buat makan. Selama masih bisa makan, berarti masih dikasih tenaga untuk cari uang ya, Buk. Tenang aja.”

Malamnya kami makan nasi, terong rebus, dan sambal. 
“Padahal makan terong sama sambel tuh nikmat banget ya, Buk.” Saya mengiyakan karena memang enak, lebih enak lagi karena ia sangat amat terjangkau. 

“Tadi siang habis dari rumah sakit, Abi narik Uber. Alhamdulillah ada rezekinya ya, Buk.” Katanya bersemangat, melahap lauk pauk sederhana di piringnya.

Saya tersenyum. Benar bahwa betapa nikmatnya berpuasa kian terasa saat berbuka. Sesederhana apapun santapannya. Sesulit apapun keadaannya, berpuasa membuat kita menghargai apapun yang ada, mensyukuri apapun yang dipunya, berterima kasih pada Allah atas apa yang kita tidak punya. Sebab Allah pasti memberikan manisnya nikmat dalam ujian, dengan cara dan jalan cinta-Nya yang tidak pernah kita sangka.

Depok,
9 Agustus 2017

jamikanasa