warny

Rasa #347

Aku terlelap pada pertanyaanmu yang mungkin saja bisa ku jawab. Sayangnya, ia pandai sekali mengalunkan serangkaian nada ninabobo di sepanjang malamku. Sebab ia paham betul, bahwa malamkulah yang menggantungkan jawab dari setiap pertanyaanmu. Karena itu,

aku tak cukup berani untuk meraih lalu menuliskan jawab pada sebuah kanvas putih tersenyum dengan pena warna warni menahan kantuk yang selalu kausediakan di pagi hari.

Bukan aku tidak ingin menjawab. Aku ingin. Tapi maaf,

pertanyaanmu selalu saja membuatku terlelap.

Aku tidak pernah memaksamu untuk tinggal. Kamu yang memilih untuk membersamaiku. Terasa lucu kalau sekarang kamu berteriak kepada dunia seolah akulah yang merampas warna-warni semestamu.
Banda Neira, Rindu, dan Rumah

Ini tentang Duo Pop Nelangsa yang beberapa waktu lalu meluncurkan album studio mereka yang bertajuk: Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. Banda Neira adalah hujan yang turun ketika musik tanah air sedang kekeringan kreativitas dan keunikan. Tentu bukan hanya Banda Neira, masih banyak grup musik dan penyanyi Indonesia yang menggebrak dengan kualitasnya, terutama di tahun 2015 yang lalu, seperti Barasuara, Silampukau, dan lain sebagainya.

Kembali ke Banda Neira. Semenjak saya mendengar lagu mereka, dan saya saat itu mengumpat dalam hati bahwa ada sesuatu yang bernas yang mereka bawakan. Dan itu menyentuh suatu titik dalam diri saya: “Suatu imajinasi yang penuh power”.

Masih ingat dengan lagu Ke Antah Berantah di album pertama mereka? Kalau kita merasa nyaman dengan lagu itu, saya yakin kita akan terbawa ke suatu area yang asing namun menawarkan petualangan atau menenggelamkan diri kita ke imajinasi kita layaknya film fantasi.

Atau coba hayati lagu Pelukis Langit di album terbaru mereka. Apa yang kamu khayalkan? Bisakah melihat warna-warni di benak saat bagian chorus berdendang?

Dari sekian lagu yang mereka ciptakan dan mereka adaptasi, saya masih menyenangi lagu Rindu dari musikalisasi puisinya Subagio Sastrowardoyo:
Rumah kosong/
Sudah lama ingin dihuni/
Adalah teman bicara; Siapa saja atau apa/
Jendela, kursi/
Atau bunga di meja/
Sunyi, menyayat seperti belati/
Meminta darah yang mengalir dari mimpi/

Subagio adalah pemuisi yang ulung. Sastrawan yang karyanya melegenda dan terus dikaji. Selain Rindu, saya pun suka dengan puisi Manusia Pertama di Luar Angkasa:
Berilah aku satu kata puisi/
daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji/
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi/
yang kukasih/

Ada rindu rumah yang menyeruak dalam puisi tersebut. Dan Banda Neira telah dengan baik membawakan puisi Rindu-nya Subagio.

Apa yang kukenang saat lagu Rindu melantun dari ponselku? Yaitu masa kecil. Bau kamar, suasana sepi di komplek perumahan, suara ibu yang sering terdengar, buku-buku lama, dan dingin di tiap-tiap malam. Semuanya bermunculan dalam beberapa menit lagu itu kudengar. Rumah jadi pusat rindu yang mesti selalu diisi oleh apa yang dirindukan. Dan saya kira, Banda Neira telah tuntas, memaknai rumah sebagai awal dari segalanya, termasuk rindu.

Coba cek beberapa foto mereka bermain musik di halaman rumah, lagu Di Beranda, dan musikalisasi puisi Rindu?

Home Sweet Home.

Lahir

Awal tahun 2017 ini menjadi waktu yang menarik bagi saya. Pasalnya, banyak diantara teman-teman saya yang sedang memulai berkarya, dan bahkan melahirkan buku pertama mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Tak heran jika pada akhirnya kami saling berpesan, “Kita tukeran buku, ya!” Masya Allah! Selain itu, timeline juga menjadi warna-warni karena buku masing-masing, termasuk juga diwarnai oleh Menata Kala, karya kolaborasi saya dengan seorang sahabat, Khairunnisa.

Sebuah buku yang lahir hampir selalu telah menempuh perjalanan panjang dulu sebelumnya. Bukan hanya soal keberanian menuliskan lembar pertama, tapi juga keberanian dalam mengalahkan keraguan, rasa takut untuk ditolak, malu, dan masih banyak lagi yang sudah tentu setiap penulis memiliki ceritanya masing-masing.

Seperti cerita teman-teman kepada saya tadi sore, ada yang sampai sudah melakukan survey ke 12 penerbitan, ada yang sedang berjuang mengumpulkan semua ‘kekuatan’ diri, ada yang perlu membagi waktunya guna untuk juga betanggung jawab pada mimpi yang lain, dan masih banyak lagi. Bagaimana pun, ups and downs di dunia kepenulisan ini harus dilewati, agar karya yang kelak lahir adalah karya yang tak sekedar ada, tapi melahirkan makna.

Pada intinya, setiap buku terlahir dari proses, dan setiap proses adalah jalan agar bisa terlahir makna dan pembelajaran.

Sekarang, proses Menata Kala sudah hampir menempuh ujungnya. Terimakasih sudah menunggu. Alhamdulillah, yang ditunggu sekarang sudah punya kabar baru untukmu! InsyaAllah, BESOK KITA BISA PRE ORDER ;)

Info selengkapnya akan dipublikasikan besok, ya!

Mewarnai dunia sendiri..
Menjadikannya bewarna warni..
Ada luka dan perih yang silih berganti menggoreskan kanvas di kertas yang ringkih..
Ada tawa dan tangis yang dilampiaskan pada jiwa yang pesimis..
Saling tumpah tindih..
Memberi warna dan melengkapi setiap sudut kosong perjalanan..
Agar nanti pada akhirnya enak dipandang mata..
Sebagai masa lalu yang mampu membuat senyum dan tawa..
Tak Berhenti
— 

Sayangku,
sedemikian pilukah menanggung ketiadaanmu? Aku telah bersembunyi dari sinar rembulan, semenjak kepergianmu tak sanggup aku tahan. Karena, aku tahu. Ceritamu tentang keindahannya pun turut berlalu. Katamu, cahayanya meneduhkan kegelapan dan mendamaikan keheningan. Hingga, kehadirannya menyentuh batinmu yang candu akan kesendirian.

Aku merindukanmu, sebanyak warna-warni debar suaramu yang menenangkan telingaku.

Sayangku,
sedemikian pilukah menanggung ketiadaanmu? Aku telah melangkah di tanah yang baru dan terlelap di ruang yang baru. Tapi, aku sadar. Ribuan kenangan yang berhamburan di kepala, tak begitu saja terbakar dan lenyap dari jiwa. Tubuhku masih ingat rasa kulitmu, deras napasmu, juga riak duka tawamu. Hingga, aku tak mampu menggantinya dengan siapa pun selain kamu.

Aku merindukanmu, sejalang peluh dan tangis kita yang saling merata tumpah di seluruh raga.

Sayangku,
sedemikian pilukah menanggung ketiadaanmu? Aku telah melepas jantungku yang dulu menjadi alasanmu meninggalkan aku. Tapi, aku memahami. Keberadaan siapa pun kerap menghalangi jalanmu mencintai sunyi. Karenanya, aku tak dibiarkan untuk mencintaimu sekali lagi. Kamu bahkan tak membiarkan siapa pun untuk mencintaimu, meski sekali.

Tapi, aku merindukanmu, seluas hatiku yang selalu sanggup menerima keseluruhanmu.

Tak berhenti.

Down will be done.

Saat ini aku hanya ingin terpejam.
Sembari merapal doa, siapa tahu ketika mata kembali terbuka, semua sudah terlupa.
Kali ini aku hanya ingin terdiam.
Sembari melumat pahit, siapa tahu ketika diri kembali berlari, air mata sudah mengering disapu angin.
Dan hari ini aku hanya ingin terduduk.
Sembari menyulam perih, siapa tahu ketika aku berdiri, sulamannya penuh warna yang warni.

Bukankah bumi berputar? Bukankah jalan tak selalu bersih tanpa belukar? Bukankah kita tak setiap hari berdiri dengan kekar?

Ya Allah, Tuhan yang Maha Segalanya. Yang menggenggam bumi dan seisinya.
Yang mengubah segala yang sudah terencana oleh manusia menjadi rencana-Mu.
Jatuh adalah perkara mudah bagi-Mu untuk diberikan kepada setiap hamba-Mu, namun jatuh adalah perkara sulit bagi kami yang menerimanya.

Jatuh membuat air mataku menjadi terpuisi.
Jatuh membuat tangisku menjadi tersyair.
Jatuh membuat rengekkanku menjadi tergema.
Jatuh membuatku berdoa agar hidup Kau sudahi saja.

Lapangkan hatiku, Allah.
Kuatkan aku. Terangi pikiranku. Ikhlaskan aku. Ingatkan aku bahwa jatuh tak akan berlangsung terlalu lama, bahwa seluruh airmata dan peluhku tak pernah Kau anggap gratis, bahwa badai pasti reda, bahwa sakit akan segera Kau sembuhkan, bahwa pelangi selalu Kau suguhkan walah hujan sempat menjadi penghalang.

Jika aku kembali membaca tulisan ini nanti. Setidaknya aku tahu bahwa aku pernah jatuh dan bumi masih terus berputar.

10.33 am. Tuesday, August 23. 2016.

Pesta Kembang Api

Langit meriah
Penuh kembang api warna-warni

Kita menyaksikannya bersama
Aku menoleh ke arahmu;
tersenyum bahagia

Katamu “nikmati saja kebersamaannya”

Euforia kembang api telah habis,
Orang-orang beranjak pulang
Kau dan aku masih bersisian

Pelan-pelan harus melepaskan genggaman.

Jangan Lagi Melakukannya Sendiri

From: Me

To: You

Subject: Jangan Lagi Melakukannya Sendiri

Compose email:


Teruntuk kau – yang lebih tangguh dari sebelum ini. Teruslah kuat.


Pagi ini kudapati kau dengan senyum simetrismu yang mekar. Tak mau kalah dengan bunga lili yang sengaja kutanam di pekarangan depan rumah. Kali ini bukan muka berlipat suntuk dan penuh harapa-harap yang tak terwujudkan. 

Katamu, kamu baru mengambil suatu keputusan setelah melewati beribu detik pemikiran. Menghidupkan logika yang selama ini kau redupkan. Sejauh ini hatimu kau beri tahta paling tinggi. Mengikutinya bagai hamba kepada rajanya. 

‘Aku lelah menyakiti diriku sendiri. Maka setelah ini akan kucintai aku lebih dalam dari hari-hari kemarin.’  bisikmu pagi tadi setelah bertukar sapa sebentar. 

Aku tersenyum bangga melihat raut penuh yakinmu. Ini yang aku inginkan. Bagaimana tidak, setelah berpuluh-puluh cerca – usahaku untuk mengembalikan logikamu – tak pernah kau gubris barang satu kata. Kau terlalu pasrah menjadi budak hati. Dibawanya terbang tinggi kau ikuti. Dibuatkannya taman indah dengan bunga-bunga imajinasi warna-warni kau kegirangan sendiri, padahal tahu betul taman tak pernah nyata. Logikamu jelas masih berfungsi, namun sengaja kau lumpuhkan. Hanya karena takut menganggu hati yang berseri.

‘Aku patut diperjuangkan oleh ia yang ingin memerjuangkan. Bukan hanya beratahan dengan ia yang mendekatiku karena aman, nyaman kusuguhkan. Sedang ia padaku tak ingin mengusahakan. Aku wanita yang patut untuk diperjuangkan. Bukan begitu?’ akhir pembicaraan kau menanyakan hal ini, aku mengangguk. Kau tersenyum lagi lebih lebar satu senti dari menit-menit sebelum ini. Tanpa kau sadar, kau menularkannya kepadaku. Dan ternyata, alasan untuk melengkungkan senyum bisa semudah ini.




Kepada kau yang sudah lebih cerdas dari sebelum ini, kumohon jangan bodoh lagi, jangan mau menjadi yang terlalu baik. Sesekali jadilah jahat, egois mementingkan kesehatan hatimu sah-sah saja, kurasa. 

Tidak semua orang harus kau buat bahagia, kau tak memiliki banyak tenaga untuk itu. Namun kau selalu memiliki kekuatan untuk membahagiakan dirimu sendiri. Sampai kapan pun. 

Setelah ini, bertahanlah dengan seseorang yang menginginkanmu bertahan juga. Setelah ini, perjuangkan ia yang ingin memerjuangkanmu. Cintai ia yang sukarela mencintaimu. Bersamalah dengan ia yang ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu juga. 

Jangan melakukannya sendiri, aku tak mau kau kelelahan dan merasakan sakit seperti ini lagi. 

Selamat berbahagia!




Sahabatmu,

Aku.

Perjalanan: Menemukan Kalian!

Indah cerita dan kisah hidup ini, karena perjuangan tinta para penulis. Dibuat nya karya dengan sepenuh hati, di susun nya dengan celupan kasih sayang, di rapihkan nya dengan ikhlas, di luapkan nya dengan penuh cinta. Hingga begitu banyak sekali buku-buku yang dapat kita temui, maka aku lah salah satu penikmat bacaan para penulis itu.

Rak buku ku sudah penuh, dengan segala ukuran buku yang terpampang bersusun sesuai bahasan, tebal tipis nya, besar kecil nya, warna-warni nya, semua bisa memanjakan mata ini, kala lelah datang. Bersama nya aku bisa merasakan banyak kontemplasi, serasa hidup di zaman prasejarah hingga zaman milenial seperti sekarang. Alam bawah sadar ku selalu rindu dengan bacaan yg bisa mengantarkan ku ke semua zona waktu.

Kau ingin ke zaman Rasulullah Saw, tinggal ambil buku Shirah Nabawiyah.

Kau ingin merasakan pahit getir nya masa perjuangan negeri, ambil buku Api Sejarah atau karya Tan Malaka di lemari.

Kau sedang ingin melankolis, ambil tumpukan novel yg ceritanya membuat kamu senyum-senyum sendiri.

Kau sedang demotivasi, ambil buku-buku Motivasi dan Inspirasi di pojok rak buku barisan paling kanan.

Kau jengah dengan masalah negeri, ambil saja kumpulan puisi karya Cak Nun, Chairil Anwar, Rendra, Hamka, Mas Sapardi Djoko Damono.

Kau ingin kenal dengan karakter dan sifat para Sahabat, Tabiin, Tabiut Tabiin, Para Shahabiyah, dan Ulama Islam, ambil buku Biografi tentang mereka saja.

Kau sedang rindu dengan seseorang, ambil dan bacalah Al-Qur'an.

Dan kesemuanya, bisa aku dapatkan hanya dengan membaca tulisan-tulisan mereka. Ya, tulisan para penulis, merekalah sutradara sejarah, saksi hidup, sekaligus investor ilmu penuh berkah. Namanya abadi, walaupun jasad nya telah mati. Karyanya membumi, walau pun namanya telah tercantum di batu nisan.

Pertanyaan nya; bisakah aku seperti mereka? Membumikan karya lewat tulisan dan buku? Hingga nama ini jadi harum dan berkah. Bisa kah? *Aku terpejam.

***

Apa yang aku baca, sedikit demi sedikit mulai aku tuangkan dalam tulisan. Sesekali buku yang baru selesai aku baca, menjadi penggalan beberapa paragraf di tulisan yang aku buat. Mulai belajar menempatkan kata, frasa, diksi agar bisa di pahami. Mulai susun menyusun beberapa baris, larik dan rima dalam puisi tak beraturan, ahh maklum saja masih amatiran.

Alhamdulillah nya, di perjalanan aku banyak menemukan orang-orang yang satu frekuensi. Temu dengan tulisan-tulisan di sosial media, sampai bertemu dengan pemilik akun nya. Akhirnya, seperti yang ku alami saat ini. Aku bersyukur telah di arahkan untuk berjalan dan di pertemukan dengan mereka. Orang-orang hebat yang sudah sangat mahir dalam berkata-kata lewat aksara.

Siapa mereka itu?

Adalah kalian.

Siapa kalian itu?

Kamu.

Iya, kamu yg sedang membaca tulisan ‘ga jelas’ ini!

Aku beri kisi-kisi,

Di perjalanan awal, aku temu dengan seorang teman yang mau di ajak berjuang di organisasi. Perempuan perasa ini, pandai menuangkan isi hati nya kedalam tulisan yang melambai-lambai, pun mendayu-dayu. Tulisan nya selalu indah dan bikin betah dibaca, maklum perempuan perasa ini katanya sih pemalu. Baginya menulis ialah obat dari segala macam rindu yg tak sampai, rasa yang tak terungkapkan dengan lisan. Entah lah, itu sudut pandang ku.

Di perjalanan selanjutnya, aku menemukan adik kecil yang manja juga malu-malu. Bimbang dan galau perihal hati, itu aktivitas kesehariannya. Sesekali sering berbagi lewat curhatan, minta solusi dan motivasi. Adik kecil ini pun sama, dia aktif menulis juga. Curhatan kejujuran nya bisa ditemukan di wall sosial media, hanya untuk saat ini dia sedang tumbuh dan mendewasa. Itu dari kaca mata pribadiku.

Di perjalanan berikutnya, aku menemukan seorang pria tinggi berwibawa. Temu perdana, di acara yg mulia. Berkenalan dan dikenalkan oleh seorang teman perempuan. Bak gayung bersambut, akhirnya bisa bertemu kembali lewat tulisan. Bahasan kita kalau membuat tulisan kadang sama, karena sesama lelaki yang sedang berjuang mungkin kali yaa. Itu menurut ku.

Dan beberapa orang lagi, yang baru aku kenal. Akan lebih aku kenali lewat tulisan-tulisan yang mereka buat. Ini PeeR ku.

Mari kita merenung sejenak, di pertengahan perjalanan ini, kawan.

Awalnya aku ragu bisa mewujud seperti penulis yang namanya terpanjang di cover buku dan rak-rak lemari toko buku. Tidak pula terpikirkan untuk bisa membuat karya, barang beberapa halaman saja.

Namun, keyakinan ini terus tumbuh. Energi dalam diri selalu bergejolak selaksa degup jantung yang kian cepat berdetak. “Kalian pasti BISA!” , bisik nurani ku.

Maka aku percaya diri, InsyaAllah kedepan kita bisa terus sinergi melahirkan karya. Bukan bicara masalah pribadi, tapi ini bicara kolaborasi.

Perjalanan ada untuk di tuntaskan, tanggung jawab, konsisten dan niat lillahi ta'alaa lah yang menjadi bahan bakarnya.

Semoga kalian paham, ya!

Bandung, 15 Februari 2017 | dindinbahtiar | Tebar Manfaat Lewat Aksara

Serakah

Sepatutnya malam seperti biasanya
Tenang dan ringkih
Malam ini berbeda, ramai
Dengan segala pergolakan

Terngiang kembali diingatan
Petir siang hari menyambar sebentuk….
“Serakah”. Ucapmu sambil bergurau
Tapi kepala batu ini tetap pada keputusannya

Adalah kamu, taman bermain.
Komedi putar yang penuh gelak tawaku
Arum manis yang tidak ingin kubagi ke siapapun
Juga warna-warni pembangkit semangat

Sedangkan dia, rumahku.
Kasur empuk untuk menanggalkan seluruh resah
Ruang baca yang merekam semua pribadiku
Juga ruang kerja untukku terus berkarya

Bersikeras kamu menyuruhku memilih
Aku tidak akan bisa
Merusak keseimbangan
Keseimbangan diriku sendiri

Memejam aku meredakan malam
Yang ramai dengan pergolakan sendiri
Hidup tentu saja mengenai dipilih dan memilih
Tapi bisakah berdamai dengan yang tidak dipilih?

Aku pulang kerumah.
Tempat ternyamanku
Sesekali mengunjungi taman bermain
Yang penuh gemerlap kesenangan semu


cc: @kitakalimantan @tumbloggerkita @yuvenil

TiPiSUKa (Titip Puisi Spesial Untuk Kamu)

Ada orang yang dapat membuat kita lebih dewasa dan mengerti hal-hal sederhana dengan makna yang istimewa.

Ada orang yang dapat membuat kita merasakan indahnya hidup hingga detik-detik yang kita rasakan menjadi lebih berarti.

Ada orang yang apabila kita bersamanya menjadi diri kita sendiri dan dapat menorehkan warna-warni yang lebih banyak dari pelangi di dalam hati.

Tidak jarang kita lupa berterima kasih. Padahal, kalimat terima kasih bisa membangkitkan semangat dan membuat lengkungan senyum pada mereka.

Dengan ini kita mengungkapkan syukur atas kehadiran orang-orang yang memberi arti di dalam hidup kita.

Mba @senjasenjaberaksara kepada pundak yang selalu dinanti dengan hati

Mas @aliranrasa pada sahabatnya

Puisi untuk @s_weiku dari mas @catatanpemimpi

Pemenang hati si dia yang sekarang tak luput memberikan pelajaran pada mba @bebraveyou

Ada puisi mas @menjalin untuk pencerita yang mewarnai hari-harinya

Untuk keluarga tersayang dari mba @shintabd

Dan yang terakhir ada mas @mangatapurnama kepada seseorang yang pernah dia harapkan untuk menjadi masa depan

Terima kasih telah hadir dan mewarnai hari-hari serta hati kami.

Riau-Jogja-Solo-Semarang-Demak
9 Februari 2016


cc: @tumbloggerkita, @curhatmamat, @kitajabar@kitajabodetabek, @kitasulawesi, @kitasumatera, @kitajatim

Apa Yang Kau Tahu Tentang Gelas Yang Tidak Terisi?

Gelasku tidak terisi, sudah lama sekali. Pernah ada yang mengisi, dengan air warna-warni. Warna-warninya mempermainkan mataku, kukira rasanya akan semanis madu. Kutenggak satu-dua kali, rasanya tak seindah itu.

Pernah ada yang mengisi dengan air sekeruh kali depan rumahku. Jelas rasanya kau tak akan mau tahu. Lidahku pun kalau bisa tak mau tahu. Cuma bodohnya aku, kucicip juga air cokelat muda itu. Bodohnya aku, kumuntahkan juga sambil menangis.

Gelasku tidak terisi, sudah lama sekali. Kini aku tunggu kau datang isi gelasku, dengan hujan tak berbadai kalau kau mau.



Teruntuk si Langit, 10 Februari 2015

Rumah Berpagar Putih

Kepada pemilik rumah di seberang jalan..

Hallo tetangga jauh,
Sudah 2 tahun tinggal di sini dan aku tak pernah melihatmu, sama sekali. Aku tahu rumah itu tidak kosong, tapi kenapa bahkan ujung kakimu saja tak pernah kulihat. Bukan berarti aku pernah melihatmu ketika memakai sepatu atau ketika kamu berada di dalam mobil, aku benar-benar tak pernah melihat sosokmu.

Setiap pagi dan sore saat aku melintas, pagar putihmu tak pernah gagal menarik perhatianku. Seringkali tertutup namun kadang terbuka, tapi aku tak tahu kenapa aku tak pernah melihatmu. Jika kubayangkan, mungkin kamu seorang berambut panjang dengan kulit putih dan memiliki sepasang bola mata cokelat. Kadang bayangan itu begitu lekat, seolah aku sudah mengenalmu.

Ada aura berbeda dari rumahmu itu, mengikatku, entah apa dan tak bisa kujelaskan, mungkin pohon mahoni di depan rumah, atau barisan bunga warna warni dalam pot. Suatu hari, entah kapan, aku akan tinggal di situ, itu yang kupikirkan. Mungkin lucu, entah kamu akan menjualnya, atau aku menjadi tuan rumahnya bersamamu. :)

Kau tahu? Tinggal di negara orang itu tidak mudah, seringkali rindu rumah, rindu tetangga rumah atau sekadar aroma anginnya. Tapi rumah berpagar putih itu membuatku merasa lebih baik, merasa dekat dengan rumah.

Jika surat ini kau baca semoga tidak menjadi terganggu. Aku tak berniat menakutimu, sungguh, tersenyumlah saja. Ada tetangga yang begitu baik yang jatuh cinta dengan rumahmu. Aku tentu tak akan merampas rumah itu dengan paksa. :))



Salam,
Tetangga jauh

Alih-alih melupakan. Kau justru semakin tertambat dalam ingatan. Kulihat, kau tidak pernah berdiam diri, malah semakin berjalan menghampiri bagai tak tahu diri.

Kau ini siapa? Aku sudah lupa bahkan enggan mengingat. Yang aku tahu kau adalah benih. Tertanam dalam lalu tumbuh kian menjulang. Aku yang menyiraminya, hingga berbunga begitu lebat. Warna-warni dan wangi.

Kau ini siapa? Aku tidak tahu. Dari jalan mana kau datang pun aku tabu. Rupanya kau lebih mirip dengan angin. Pergi sesuka hati, namun tetap kembali.

Padahal aku bukan rumah, namun kau selalu singgah. Padahal aku tidak pernah menyuruhmu bertamu, namun kau selalu mengetuk pintu. Padahal aku tidak mempersilahkanmu masuk, namun kau sudah bersiap untuk duduk.

Jangan bilang aku serupa dengan persinggahan. Dimana kau bisa beristirahat sejenak tatkala lelah untuk kemudian meninggalkanku lagi lantaran peluhmu sudah terbasuh.

Jangan bilang aku sama dengan persimpangan. Karna bingung harus belok kemana, kau diam berapa waktu. Menyandarkan bahu padaku hanya untuk menentukan kemana langkah itu membawamu. Hingga ketika kau sudah putuskan, aku kau lepaskan.

Kau ini siapa? Sebut saja kau Cinta. Yang sudah menyulam pintalan benang warna-warni dirongga dada. Jemalinnya kusut, membuatku sukar melerainya.

Kau ini siapa? Sebut saja kau Cinta. Yang pernah menjadi benih. Tertanam menjadi tunas. Tumbuh dan mengakar. Yang setiap saat jika kau sedang menunjukkan kehadiranmu, kau akan menggugurkan bunga-bunga yang mekar dalam hatiku.

Kau ini siapa? Sebut saja kau Cinta. Lalu aku apa? Sebut saja aku, Pemandu Harap.

10:28pm. Sunday, Dec 27. 2015

Sambung Rasa

Pada suatu malam menuju larut (13/05), pernah ada sebuah percakapan via twitter bersama kak pintuajaibkemanasaja. Kami sama, hanya bertemu di dunia maya, hobi bercerita di jejaring sosial manapun, dan mencintai kata atau apapun itu namanya.

@cindyjoviand: Kamu bukan kekasihku, tapi aku rindu.
@duwiarie: Kamu bukan lagi yang ku punya, tapi aku cinta.
@cindyjoviand: Kamu bukan matahari, tapi aku selalu merasa hangat.
@duwiarie: Kamu bukanlah kopi, tapi selalu bisa membuatku kecanduan berulang kali.
@cindyjoviand: Kamu bukanlah surga, tapi aku selalu ingin menujumu.
@duwiarie: Kamu bukanlah belati, tapi sering kali mengiris hati.
@cindyjoviand: Kamu bukanlah pelangi, tapi cukup mampu membuat hidupku berwarna-warni.
@duwiarie: Kamu bukanlah rumah, tapi selalu bisa membuatku merasa teduh.
@cindyjoviand: Kamu bukanlah balon, tapi saat kamu terlepas hatiku sangat kacau.
@duwiarie: Kamu bukanlah lautan, tapi bisa membuatku tengelam hingga dasar
@cindyjoviand: Kamu bukanlah gula, tapi bersamamu aku tak mampu menakar manisnya cerita kita.
@duwiarie: Kamu bukanlah tanggal merah, tapi selalu bisa membuatku tertawa semeringah.
@cindyjoviand: Kamu bukanlah lagu, tapi mampu membuat hatiku menari-nari tanpa henti.
@duwiarie: Kamu bukanlah hujan, tapi selalu bisa membuatku mersa kedinginan.
@cindyjoviand: Kamu bukanlah cafe, tapi membuatku nyaman meski hanya duduk dan diam menunggumu.
@duwiarie: Kamu bukanlah buku, tapi selalu bisa membuatku betah berlama-lama denganmu.
@cindyjoviand: Kamu bukanlah bintang, tapi kamu selalu mampu memukauku dari kejauhan sana.
@duwiarie: Kamu bukanlah bintang, tapi kamu selalu terlihat begitu terang.
@cindyjoviand: Kamu bukanlah angin, tapi di kesepian itu kamu datang menyejukkanku.
@duwiarie: Kamu bukanlah penyakit, tapi selalu bisa membuatku merasa sesak.

Aku tidak menghitung berapa banyak kalimat yang kami adukan, tapi rasanya tak akan pernah habis-habis kalimat yang ingin kami tuliskan untuk seseorang yang masing-masing kami sayangi; kamu.

Senang berkolaborasi denganmu, Kak Duwi.

Kita; sisa dari kebodohan kita

untukmu pengganti jingga dari senja yang redup,
kita pernah bersama-sama menertawakan diri kita ketika saling jatuh cinta. ku hadirkan namamu di tiap lembar kertas warna warni. saat itu kita adalah manusia paling bahagia.

ingatkah ketika kita mulai takut kehilangan? mengingatnya saja seperti menembuskan peluru ke jantung masing-masing. untuk merasakannya kita selalu berdoa agar kehilangan tidak benar-benar menyadari keberadaan kita. walaupun niscayanya kita akan kehilangan cepat atau lambat. siap ataupun tidak.

aku rindu. senyum dan bola mata hitammu yang menyala tidak ku temukan di diri orang lain. terlebih pada suaramu, aku lebih merindukan dengan napas menggebu.

di atas pijakan kaki ini, kita pernah sama-sama bercerita seindah melodi taman bunga. kita lalu saling menghadirkan peluk untuk meneduhkan kegelisahan kita. kataku, jika hujan turun maka itu saatnya kita melepaskan peluk lalu segera meraih bulir hujan atau sekedar membasahi tubuh. persis seperti anak lima tahun yang berlarian bermain lumpur.

untukmu yang pernah mengisi apa yang tiada di dalam aku,
berbahagialah. aku menyayangimu. lalu merindukan. sangat.
dan sisa-sia kenangan adalah bukti bahwa kita pernah semanis puisi sebelum menjadi elegi.