warna bunga

anonymous asked:

Assalamu'alaikum mba jana. gmna pndpat mba ttg kerudung syar'i tp byk model2nya? Dan jga semkin menjamurnya model2 pashmina instan yg syar'i? Bukannya kita hrus mngenakan kerudung yg sederhana? Toh tujuan brkerudung adlh menutupi kecantikan

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.

Syar'i itu bukan sekedar jargon, tagline atau apalah sebagai pemanis produk biar laris manis. Harus dikembalikan kepada standar syar'i. Kita juga jangan hanya dengar ada embel-embel syar'i nya lalu dipakai tanpa diperhatikan lagi syarat-syarat berkerudung.

Kalo berkerudung jangan sekedar pakai kerudung. Karena perempuan jahiliyah berkerudung juga. Ya jangan sampai kita menyerupai perempuan jahiliyah dari segi niat dan cara.

Perempuan Badui pada masa jahiliyah menutupi kepalanya dengan kerudung sebagai pelindung rambut dari sengatan matahari. Kerudungnya dijulurkan sampai dada. Sementara krah atau belahan baju atas akan terlihat jika kerudung itu terbuka/tersingkap. Pada sumber lain dikatakan, kerudung mereka diberikan pemberat dikedua ujungnya lalu dilibaskan kebelakang.

Jadi perempuan jahiliyah menggunakan kerudung bukan karena aspek spiritual. Tapi hanya keadaan dan faktor manfaat saja; semata untuk melindungi rambut dan kepala dari panas matahari ditengah padang pasir.

Kemudian datanglah Islam mengatur soalan pakaian; kerudung dan jilbab. Dengan membedakan diantara keduanya dan memberitahu cara pemakaiannya.

Dalam surah An-Nuur: 31 terdapat kata “khumur” yang merupakan jamak dari “khimar” yang artinya ialah kerudung. Menurut Tafsir Ath-Thabari, 19/159; Ibnu Katsir, 6/46; Ibnul ‘Arabi, Ahkamul Qur`an, 6/65, khimar (kerudung) ialah apa-apa yang dapat menutupi kepala.

“…. hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya” (QS. An-Nuur: 31)

Kerudung wajib diulurkan ke atas dada. Tidak boleh diikat kebelakang apalagi dililit-lilit sampai leher tercekik.

Dalam menafsirkan ayat “wal-yadhribna bi-khumurihinna ‘ala juyubihinna” pada surat An-Nuur : 31 di atas, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Nizham al-Ijtima’i fil Islam mengatakan, bahwa khumur (bentuk jamak dari khimaar) artinya adalah apa-apa yang digunakan untuk menutupi kepala (maksudnya : kerudung). Sedang juyuub (bentuk jamak dari jayb) artinya adalah tempat yang terbuka pada baju atau kemeja (maksudnya : kerah/lubang baju).
Artinya, kerudung (khimar) cukup diulurkan diatas (menutupi sampai) krah (juyub)/lubang baju; tempat untuk masuknya kepala saat pakai baju, sudah cukup untuk memenuhi kriteria syar'i.

Jadi, kerudung bukan saja menutup kepala tapi juga menutup leher dan dada. Kalau misalnya mau dipanjangkan lagi itu pilihan dan bentuk kehati-hatian.

Kerudungnya juga yang tebal atau tidak tembus pandang. Kalo masalah motifnya sih terserah. Mau kamu pakai yang polos, bunga-bunga, warna-warni, terserah mau pakai corak yang gimana. Yang penting bukan gambar makhluk bernyawa.

Dari pertanyaan kamu, perlu dibedakan antara “label” syar'i dengan bahan dan model kerudung. Misal kamu pakai pashmina, bisa jadi tetap syar'i kerudung pashminanya kalo sudah menutupi dada dan tidak tembus pandang/tebal. Tapi akan menjadi tidak syar'i kalo dililit sana sini diatas dada dan ngepres dileher atau kepalanya udah kayak punuk onta. Atau misal kamu pakainya kerudung instan langsung pakai, ukurannya udah menutup dada tapinya masih diperpendek lagi atau digaya-gayain sampai tidak memenuhi syarat syar'i. Jelas ini gaboleh.

Kalo melihat banyaknya model-model kerudung sekarang ini, terutama yang tidak memenuhi standar syar'i, adalah bentuk pengaburan identitas muslimah.

Kita bisa mengenali seorang muslimah dari caranya berbusana kan? Namun disinilah nilai-nilai Islam bisa disusupi dan diliberalisasi. Lihat saja perkembangan mode busana muslimah hari ini, tidak lagi bersandar pada Al Qur’an surat An-Nuur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59, serta hadits-hadits terkait. Standar pakaian muslimah telah mengadopsi mode busana New York atau Paris lalu ditempelkan sedikit aksesori Islamnya.

Akibatnya, tergodalah kaum muslimah mengikutinya. Mereka mengenakan busana muslimah bukan lagi karena dorongan takwa melainkan tuntunan mode dan tren terkini serta pengagungan nilai artistik ditengah gaya hidup permisif dan pluralis.

Ujung-ujungnya, kaum muslimah menjadi pasar empuk bagi industri baju muslim dan sangat menguntungkan para pengusaha. Dalam Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC), Indonesia dengan penduduk muslim terbesar sedang ditargetkan oleh pemerintah dan para pelaku industri mode menjadikan negeri ini kiblat mode muslim dunia pada tahun 2020. Sebab saat ini Indonesia tercatat memiliki tingkat ekspor busana muslim yang besar ke negara-negara muslim seperti Malaysia, Turki, Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, dan negara-negara lainnya di Timur Tengah. (Sepertinya saya pernah munliskan ini tahun lalu).

Tanpa sadar, arus opini menghanyutkan kita. Memganggap model busana yang digunakan sebagai pendapat dan pilihan pribadi, padahal itu adalah pilihan dan buah pikiran pihak lain yang secara masif ditanamkan dalam otak kita melalui media massa, terutama media sosial.

Sadar atau tidak, ini adalah bentuk serangan pemikiran asing yang dialamatkan ke kaum muslimah agar mengaburkan lalu menanggalkan identitasnya.

surat kelima


Selamat sore senja.

Saya ingin tahu bagaimana kabarmu? Apa kamu masih seperti dulu, wanita yang sejatinya kuat tapi merasa rapuh. Saya menemukan banyak teman yang sebenarnya rapuh tapi berusaha terlihat tegar. Namun di mata saya, kamu justeru sebaliknya. Kamu adalah wanita kuat yang tidak menyadari kekuatannya. Ibarat teh celup yang belum diseduh. Ibarat kopi yang belum dicampur air. Kamu tidak pernah menyadari bahwa kamu kuat, kamu baik, kamu memiliki sinarmu sendiri yang berbeda dengan yang lainnya.

Senja,

Kamu perlu tahu, di dunia ini tidak ada manusia yang sama persis. Setiap manusia memiliki keunikan masing-masing. Ada yang pemalu, ada yang sanguinis, ada yang lembut, ada yang ceria. Kita tentunya tidak bisa menilai bahwa wanita yang lembut lebih baik dari wanita yang ceria. Kita juga tidak bisa menyebutkan bahwa wanita yang blak-blakan lebih baik daripada wanita yang pemalu. Sifat-sifat itu adalah hal yang tidak bisa dibandingkan.

Sifat dasar kita adalah anugerah. Ia ibarat pakaian yang menjadi cantik bila dipakai oleh hati yang cantik. Ia juga bisa menjadi buruk bila dipakai oleh hati yang buruk.

Apa lagi yang kamu takutkan?

Masa lalu?

Senja, tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa izin Allah. Dirimu yang sekarang terbentuk oleh segala hal yang terjadi masa lalu. Maka orang yang tidak bersedia menerima masa lalu kamu, berarti dia tidak berhak menginginkan dirimu yang sekarang.

Saya berharap kelak kamu sampai pada suatu keaadaan dimana kamu menemukan dirimu sendiri yang sebenar-benarnya. Serta mensyukuri segala keindahan celupan warnaNya yang ada dalam diri kamu. Tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi indah.

Ketika kamu masih merasa rendah diri dengan dirimu sendiri, cobalah bermain ke taman bunga. Lili tidak perlu meminjam warna kuning milik bunga matahari untuk menjadi indah. Bunga matahari tidak perlu meminjam warna ungu milik lavender untuk menjadi ceria. Bukan begitu?

Sekian.

Dalam ketidakpastian hidup, semoga Allah menganugerahkan rasa syukur.

Jajan Satu Juta

Mama saya penjahit. Dari kecil rumah saya tidak pernah benar-benar rapi (saya memakai ukuran rapi umumnya), sebab ruang tamu kami adalah tempat mama bekerja. Tidak ada kursi-kursi empuk dan meja kaca bundar, tidak ada vas bunga dan paganan yang sedia di dalam toples warna-warni bergambar bunga.

Ketika kecil saya sering bereksperimen sendiri. Seperti membuat baju barbie dari potongan kain atau bahan bekas mama. Atau membuat kantung kecil tempat mama menaruh gulungan benang. Atau membuat sapu tangan sendiri.

Sayangnya saya beberapa tahun kemudian saya berpisah dengan mama, abang, dan adik. Maka otomatis berpisah dengan seperangkat alat jahit beserta ruang tamu yang berserak.

Bertahun kemudian saya pulang ke rumah. Ruang tamu sedikit melebar dan segala kain dan benang melebur. Mama kecewa mendapati saya yang tidak lagi menaruh minat pada bidang jahit menjahit. Saya seolah mantan yang sudah memutuskan hubungan dan tidak ingin kembali.

Saya kemudian kuliah di Fakultas keguruan, yang setiap tahun meluluskan beribu-ribu sarjana. Mau tidak mau saya harus menanggalkan jins ketat, kaos oblong, dan sepatu kets di beberapa mata kuliah.

Ketika itu, saya memutuskan untuk mencari sendiri dasar atau bahan baju batik untuk kuliah. Ternyata tautan saya dengan setumpuk dan barisan kain tidak pernah terlepas begitu saja. Saya mencocokkan batik ini dengan kain itu, kain itu dengan kain yang lain, begitu terus.

Mama yang mendapati kain-kain itu terlihat senang, saya membaca: “Kamu berbakat dalam urusan memilih kain.”

Setelah itu saya keranjingan ikut ke pasar. Beberapa kali juga saya bertengkar dengan mama di tengah pasar karena saya tidak suka dengan kain yang dipilihkan mama untuk saya. Tak jarang juga saya bahagia sekali tahu-tahu sudah ada rok baru atau blouse ciamik di kasur saya.

Kemudian saya mengangankan membeli kain sepuasnya, dengan uang satu juta. Satu juta saja. Saya akan sangat bahagia. Saya berulangkali membayangkan bagaimana rasanya menyisir kain-kain dengan jemari sendiri. Menyebut ukuran masing-masing kain, berdiskusi dengan penjual atau pelayan toko, kemudian mengitari toko mencari kain lain, membayar ke kasir, dannnnnn menenteng belanjaan ke luar toko.

Saya membayangkannya berkali-kali. Beberapa tahun sejak saya masuk ke kampus.

Uang datang dan hilang. Saya terus mengandaikan jari-jari yang menyentuh kain-kain. Tahun-tahun yang diisi percaya dan upaya menabung tapi terus terpakai untuk biaya-biaya kuliah.

Sampai akhirnya tahun ini angan-angan itu terwujud. Mimpi satu juta untuk kain.Satu juta cash untuk kain-kain yang saya suka jadi jilbab, syal, overal, dan lain-lain.

Saya makin percaya tuhan tidak pernah bilang tidak. Tapi tunggu. Tunggu tanggal mainnya. Ehe ehe.

anonymous asked:

Kak boleh ceritain ga, gimana dulu pertama kali kakak ketemu sama pacar kakak? Aku kepo😅😅

Pertama ketemu pake kemeja kotak-kotak hitam-putih. Dia pake sweater biru tua kesukaannya. Aku berangkat dari jakarta menuju kotanya. Naik travel. Di travel deg-degan setengah mati. Sempat berpikir untuk turun aja dari travel. Pulang lagi, saking deg-degannya. :)))

Kedatanganku ke Kotanya bukan khusus untuk menemuinya, hanya kebetulan ada keperluan juga, jadi sekalian saja. Setelah sampai di kotanya, aku menunggu di tempat travel. Mengabarinya kalau aku sudah sampai, walau dia sebelumnya mengatakan kalau untuk mengabari saat jauh sebelum masuk kotanya, tapi aku urungkan. Aku terlalu deg-degan. Hahahah. Kalau kamu, akan deg-degan juga ga? atau aku saja yang terlalu norak? :)))

Aku duduk menunggu, di bangku panjang depan pool travel. Memainkan handphone guna menghilangkan kegelisahan, juga mengirim chat pada sahabatku. isinya kurang lebih: “AAAKKK GIMANA NIIIHHH?? PULANG LAGI AJA APA?? HAHAHAHAHAAHHAHAHAHAHA” 

Lalu, 15 menit kemudian dia datang. Dari sudut mataku, aku tau dia berjalan ke arahku, tapi aku pura-pura tidak tau saja. Tetap menunduk, memainkan Hpku. Sambil sesekali cekikian sendiri membaca pesan dari sahabatku. Dia duduk sebelahku. “Udah lama?” katanya. Dengan berlagak terkejut aku menengok ke arahnya, “Eh! udah sampe toh.” Hahahahaha ya Allah maaf aku alay. Dia mengetahui, kalau aku pura-pura terkejut. Tapi dia baik, dia pura-pura tidak tau. 

Dia membawakan tas berisi bajuku, berjalan menyebrang tempat travel. “Penuh, macet banget. Gak dapet parkir, jadi jalan dikit ke sebrang gak apa-apa, ya?” katanya, “nggak apa-apa, yuk!” aku berjalan duluan, seakan tau kendaraannya yang mana. :))

Di dalam mobil, kita mengobrol. Obrolannya apa, entahlah. Tak ada yang masuk dalam kepalaku. :)) “Maaf ya, lama. Tadi aku nyari ini dulu.” Dia memberikan setangkai bunga warna kuning. “Kamu kan suka bunga, suka kuning. Aku susah loh nyarinya! kudu metik di taman dulu. Makanya lama.” Satu yang aku syukuri, dia seseorang yang bisa membawa obrolan ke arah yang menyenangkan. Walau itu hanya basa basi atau membunuh kecanggungan, tapi setidaknya tidak ada jeda lama di antara kita. Aku yang sedikit berbicara saat bertemu orang barupun jadi mudah terbawa alurnya. 

Oke, aku mengerti, bukan awal pertemuan seperti ini yang kamu maksud pada pertanyaanmu. Tapi aku tertarik menceritakan hal ini. Entah mengapa. Biar panjang aja. :)) 

Dan ini cerita gak ada intinya. 😂

Spe minat cita2 fantasi jom share sme2

AMIR LEBIH HANDAL

“your’s is the best among the best”, bisik datin rose ke telinga amir ketika menikmati amir punya di kali pertama. Tak dapat nak diucapkan oleh datin rose betapa lazatnya sewaktu amir membenamkan batang paling hebat ke dalam celah kelangkangnya.


Hingga sendat saluran nikmat rose kena sumbat dengan batang amir yang melengkung macam pisang tanduk itu. Terangkat-angkat punggung datin rose dek kelazatan yang tidak terhingga. Sampai merah telinga amir digigitnya bila terasa terlalu sedap.


Datin rose masih ingat kejadian minggu lepas. Beberapa kali dia membisik kata-kata tersebut di telinga amir kerana kelazatan yang tak terhingga. Baru sekarang dia dapat merasai batang melayu.


Dan dia mengakui bahawa batang bersunat kepunyaan lelaki tersebut sungguh hebat. Amir mampu bertahan lama menyebabkan datin rose mencapai orgasme berkali-kali.


Sebagai isteri yang masih muda nafsu datin rose kadang-kadang tak terlayan oleh datuk lim yang telah melebihi separuh abad. Kadang-kadang datin rose seperti meminta-meminta agar datuk lim memenuhi keperluan batinnya.


Ada ketikanya datin rose hanya melancap sendiri bagi memuaskan nafsunya yang membuak-buak itu.


Hari itu nafsu datin rose kembali menggila. Datin rose tak mampu lagi melayan dirinya sendiri.


Datin rose membelek handphonenya dan mencari nama amir. Dia ingin amir memberi kepuasan kepadanya. Dia ingin amir membelai tubuhnya dan membenam senjata hebatnya itu.


“hello amir, kamu di mana?” Datin rose memula bualan.


“saya di johor bahru dengan datuk lim, apa hal datin?” Amir bertanya kembali.


“oohh.. Kamu di johor bahru, tak apalah,” datin rose menjawab lemah dengan nada kecewa.


Datin rose kecewa kerana amir tidak akan dapat memberi kepuasan kepadanya. Bagi datin rose nafsunya yang berada di ubun-ubun itu perlu dipuasi.


Kalau tak ada amir, mana-mana lelakipun tak apalah. Asal saja mereka mempunyai batang pelir yang keras, fikir datin rose.


Datin rose bangun dari katil dan bergerak ke tingkap. Dilihat rama pemandunya sedang mencuci kereta. Badan rama yang tak berbaju itu terlihat sungguh kekar. Datin rose memanggil rama dan melambai agar rama datang ke biliknya di tingkat atas.


Sesampainya di bilik tidur yang luas itu datin rose langsung menerpa rama. Rama yang hanya berseluar itu dipeluk penuh ghairah oleh datin rose.


Seluar rama dilondehnya. Rama amat terkejut dengan tindakan yang tak disangka-sangka itu. Rama berdiri kaku tanpa membantah tindakan isteri majikannya tersebut.


Dalam keadaan keliru itu rama mula terasa zakarnya yang terkulai layu itu disentuh dan diramas-ramas oleh datin rose.


Sebagi seorang lelaki yang normal maka zakarnya mula mengeras bila diramas-ramas dan dilurut-lurut oleh tangan yang licin halus kepunyaan wanita muda dan cantik.


Datin rose menarik tubuh rama ke tengah katil. Rama terbaring telentang di tilam empuk. Tilam lembut empuk sungguh nyaman. Rama mula membandingkan dengan keadaan rumahnya. Bilik tidur itu saja sama besar dengan keseluruhan rumah rama. Tilam di rumahnya hanya diperbuat daripada span nipis.


Tidak empuk macam tilam majikannya. Nafsu datin rose sudah meluap-luap. Zakar rama yang tercacak tegak di ramas kuat. Zakar hitam panjang hampir 8 inci itu dilurut-lurut. Kulit kulup yang masih menutupi kepala zakar ditarik-tarik.


Kepala zakar rama yang hitam berkilat terbuka. Tanpa lengah datin rose mencium penuh nafsu kepala licin. Bau istimewa menerpa hidung datin rose. Datin rose khayal dengan bau jantan tersebut.


Nafsunya tak dapat dibendung lagi. Zakar besar rama dijilat dan dikulum. Lidah comel datin rose menari-nari di permukaan kepala zakar yang licin halus. Hujung lidah meneroka segala lekuk dan takuk zakar rama. Kulit kulup dinyonyot dan diperah oleh lidah kasar datin rose. Digerak mulutnya maju mundur.


Rama kegelian. Rama rasa sungguh nikmat. Terasa seperti melayang-layang diangkasa. Selama tujuh tahun dia berkahwin, isterinya tak pernah mengulum dan mengisap batang zakarnya.


Datin rose kagum melihat zakar hitam terpacak kaku. Zakar suaminya tak sepanjang dan sekeras ini. Panjang zakar suaminya hanya 5 inci, berkepala kecil dan mempunyai kulit kulup macam zakar rama juga. Datin rose jarang mendapat belaian suaminya.


Kadang-kadang suaminya tidur pula bila nafsunya tengah memerlukan cumbuan dan belaian.


Kalau diminta juga, datuk lim melayan sambil lewa, tak sampai lima minit sudah selesai. Kadang-kadang bila mencecah sahaja di muara vagina, mani datuk lim telah terpancut. Datin rose belum mencapai klimaks, kecewa.


Rama terkejut juga. Datin rose yang selama ini dilihat lemah lembut rupa-rupanya ganas di tempat tidur. Rama terbaring kaku menikmati segala perlakuan datin rose.


Kelazatan dari batang zakar menjalar ke seluruh tubuh. Belum pernah dia merasai nikmat begini. Impian untuk meniduri datin rose dah tercapai. Rama tersenyum gembira.


Keghairan datin rose sampai ke puncak. Baju tidur tipis dibuka. Tetek pejal datin rose menjadi tatapan mata rama. Bulu ketiak hitam jarang-jarang terbentang di depan rama. Perasaan rama menjadi tidak menentu.


Dengan pantas dia membaringkan datin rose. Tanpa disuruh rama menerkam tetek kenyal datin rose.


Puting warna pink dinyonyot-nyonyot. Dihisap-hisap. Datin rose menggelinjang. Geli dan nikmat di pangkal dan di puting. Bibir lebam rama amat terampil melayan gunung mekar. Ketiak datin rose yang berbulu jarang dicium rama.


Kulit ketiak yang putih dijilat-jilat. Rama ingin melayan datin rose sebaik-baiknya.


Rama mahu datin rose akan sentiasa mengingatinya. Basah lencun ketiak datin rose kiri dan kanan oleh air liur rama. Lidah besar dan kasar rama membuat datin rose menjadi tidak keruan. Datin rose bertambah geli.


Badannya bergerak-gerak. Antara sedar dengan tidak datin rose mula mengerang keienakan.


“ahhh..ohhh..sedap rama, lagi, lagi,” suara datin rose tak teratur lagi.


Datin rose seronok dan enak dengan layanan rama. Suaminya tak pernah membelai seperti ini. Malah datin rose yang bertungkus lumus membangkitkan nafsu datuk lim.


Berpeluh-peluh datin rose mengocok dan melancap zakar suaminya sebelum bertarung. Kadang-kadang zakar En. Tan tak cukup keras bagi meneroka terowong nikmat datin rose. Kalaulah suaminya sehebat rama alangkah baik, keluh datin rose dalam hati.


 Dengan perlahan rama bergerak ke bawah. Kulit perut datin rose yang belum beranak dielus-elus. Pusat datin rose dijilat-jilat. Datin rose tak tertahan lagi. Punggungnya diayak kiri kanan. Ditonjol tundunnya tinggi-tinggi ke atas.


Muka rama melekat di tundun putih gebu. Diarahnya rama mengakhiri pertempuran. Diarahkan agar batang hitam panjang segera ditancap di taman indah.


Datin rose tak tertahan lagi ingin merasa batang besar itu menggerudi lombong syurganya. Rama tersenyum, tak perlu tergopoh-gopoh fikir rama. Isteri majikan yang selama ini menjadi idamannya perlu dinikmati selama yang boleh.


Mungkin kesempatan ini tak berulang lagi. Rama amat terpesona sejak hari pertama datin rose datang ke banglo itu. Dari dulu dia berangan-angan untuk bersama-sama dengan isteri majikan yang cantik dan muda itu.


Muka rama menghampiri paha datin rose. Ah, indah sungguh pemandangan. Paha mulus licin dan lembut. Kulit paha datin rose sungguh halus, gebu dan tiada walaupun secalit parut. Tundun tinggi gebu putih melepak.


Ada sejemput bulu halus menghiasi tundun indah. Bulu tumbuh cantik tanda sentiasa dirawat dan dijaga oleh datin rose. Rama menelan air liur menghayati pemandangan di hadapan.


Sungguh berbeza dengan tundun isterinya yang hitam, leper dan berbulu lebat. Zakar rama bergerak-gerak memberontak. Aliran darah memenuhi batang zakar. Rama mendekatkan wajahnya ke tundun indah. Bagai kueh pau terbelah.


Bibir luar membengkak, merekah. Terlihat sedikit bibir dalam. Indah macam kelopak bunga ros. Warna merah jambu.


Di sudut atas ada bonjolan kecil. Kelentit datin rose sebesar biji jagung warna merah jambu berkilat terkena cahaya lampu. Rama geram melihat kelentit indah datin rose.  Kelentit tak bersunat itu agak besar dan panjang.


Sejak dulu rama amat geram terhadap amoi-amoi cina. Paha-paha yang putih melepak selalu diperhati bila sekali sekala ke supermarket.


Ketiak licin amoi cina yang memakai baju tanpa lengan juga menarik perhatiannya. Kalau tidak ada undang-undang, rama rasa ingin memperkosa saja amoi-amoi tersebut.


Pelan-pelan rama menempelkan hidungnya ke taman datin rose. Aromanya sungguh nyaman. Rama menggeselkan hidungnya ke kelentit yang tertonjol. Aromanya amat segar, benar-benar membuat rama khayal.


 Rama melurutkan hidungnya ke bawah, ke celah rekahan bibir lembut. Datin rose mengeliat, paha terbuka luas. Indah sungguh, fikir rama. Rama menarik nafas dalam-dalam.


Rama ingin supaya sepasang paru-parunya dipenuhi dengan aroma vagina isteri majikan yang cantik itu. Rama berlama-lama di situ. Rama ingin menikmati sepuas-puasnya bau vagina datin rose.


Datin rose terketar-ketar kegelian. Terasa tubuhnya bagai melayang-layang. Punggugnya terangkat-angkat bila hujung hidung rama menyentuh mutiara pusakanya.


Cairan licin mula keluar dari taman datin rose. Aromanya makin keras, aroma khas vagina. Aroma yang benar-benar ingin dinikmati rama.


Selama ini rama hanya menghidu bau dari celana dalam datin rose yang diambilnya dari bilik cucian. Itupun dirasainya sungguh nikmat.


Rama mengeluarkan lidah menjilat cairan licin. Payau dan masin. Nikmat sekali. Lidah makin dijolok di lubang sempit. Lubang keramat datin rose diteroka.


Rama terasa lidahnya dikemut hebat dinding vagina datin rose. Lidah rama diramas halus oleh vagina yang mekar. Erangan datin rose makin jelas.


“ahh…ohhh…argh….sedap..sedap…” Datin rose menggelepar kesedapan.


Rama melajukan lagi jilatan. Maju mundur lidah rama di lorong sempit. Datin rose mula mengerang, merengek, bibir digigit mata mula menguyu.


Paha mulus dan pejal itu bergetar.getaran-getaran paha dan punggung bagaikan berlakunya gempa bumi. Tangan datin rose menggenggam erat besi di kepala katil.


Paha datin rose menjepit kepala rama. Datin rose mengerang keras, badan datin rose mengejang dan tiba-tiba cairan vagina menyirami seluruh muka rama. Datin rose terkulai lemas. Datin rose dah sampai ke puncak nikmat.


Keghairahan rama baru separuh jalan. Datin rose sudah lemah longlai. Rama terus mengganas. Cairan nikmat yang terbit dari vagina datin rose disedut dan dijilat hingga kering.


Ditelan cairan pekat licin. Kelentit datin rose dijilat penuh ghairah. Nafsu datin rose kembali bangkit. Ditolak rama hingga terlentang.


Datin rose bangun. Datin rose tak sabar lagi menunggu tindakan rama. Rama terlampau lambat. Badan rama dikangkanginya.


Tubuh datin rose tak dibaluti seurat benang. Muka datin rose menghadap rama. Tetek pejal tergantung kemas di dadanya. Rama geram melihat tetek berkembar yang sedang mekar.


Datin rose menurunkan badannya pelan-pelan. Muara vagina merah basah merapati zakar hitam keras terpacak. Zakar rama menunggu penuh sabar.


Terpacak keras sambil berdenyut-denyut. Bibir halus vagina datin rose mengelus-elus lembut kepala licin berkilat. Muara yang telah lembab mengucup lembut kepala licin hitam berkilat.


Rama melihat bibir merah basah mula menelan batang hitamnya. Punggung datin rose makin rendah hingga seluruh kepala zakar rama berada dalam lubang hangat. Vagina datin rose mengemut secara berirama.


Datin rose menurunkan lagi pantatnya. Seluruh zakar rama menerobos mengisi gua keramat. Rama dapat merasa kulit kulup zakarnya tertolak ke bawah. terowong nikmat yang hangat dan lembab diisi penuh oleh batang hitam berurat yang penuh tenaga.


Tetek datin rose dipegang dan diramas lembut. Kedua-dua tangannya bekerja keras. Tangan kasar pemandu membelai tetek pejal berkulit halus isteri majikan.


Datin rose merasa keenakan bila teteknya diramas. Suaminya jarang memegang teteknya walaupun disua ke depan muka.


Datin rose menikmati penuh khayal. Perasaan sedap dan lazat menjalar ke seluruh tubuhnya.Rama merasa batang zakarnya diramas-ramas. Hangat lubang vagina datin rose yang sempit. Datin rose mengemut.


Mula-mula pelan, kemudian makin cepat. Kemutan-kemutan tersebut beralun berirama. Punggung datin rose naik turun dengan laju. Batang besar rama penuh padat mengisi rongga sempit datin rose. Datin rose mengemut makin cepat dan pantas.


Rama tak tertahan, badannya bertambah kejang, maninya berkumpul dihujung zakar, pancutan tak terkawal lagi. Rama melepaskan pancutan dalam vagina datin rose yang lembab, hangat. Enam das dtembaknya.


Benih hindu yang segar menyemai ladang cina yang subur. Datin rose tak kisah kalau benih-benih itu bercambah dalam rahimnya. Itu urusan esok, yang penting merasai nikmat hari ini.Tiba-tiba datin rose menjerit keras,


“ahh…. Ohhh….arghhh… Enak rama, enak”.


Cairan panas menyirami kepala zakar rama. Kepala zakar basah kuyup disirami air nikmat. Rama berasa ciaran nikmat datin rose sungguh hangat, malah lebih hangat daripada cairan nikmat isterinya.


Terketar-ketar lututnya bila cairan hangat datin rose menyiram kepala zakarnya yang berkulit licin dan sensitif tersebut.


Datin rose terasa lemah. Sendi-sendi terasa longgar. Datin rose rebah di dada bidang berbulu kasar. Rama diam saja menikmati kesedapan.


Tetek datin rose menempel rapat di dada rama. Terasa geli bila tetek pejal bergesel degan bulu-bulu dada rama yang kasar. Hangat terasa di dalam bilik yang dingin.


Datin rose terkapar lesu di dada kekar. Dada rama yang berpeluh dicium. Bau keringat rama menerpa lubang hidung datin rose. Bau lelaki, fikir datin rose. Badan datuk lim tak berbau keras seperti bau badan rama. Datin rose suka bau keras badan rama.


Sepuluh minit kemudian rama melangkah lesu meninggalkan datin rose terlena pulas. Sebelum keluar sempat juga rama mencium taman mekar yang telah diairi. Bau lendir vagina datin rose bercampur maninya yang pekat dihidu.


Inilah bau nikmat seks, kata hati rama. Rama berjalan longlai ke muka pintu. Sambil menutup pintu rama menjeling ke arah isteri majikannya bertelanjang bulat terbaring di katil empuk. Rama berharap agar peristiwa ini berulang lagi.


Bila tersedar rama tiada lagi di bilik tersebut. Datin rose yang masih telanjang bulat meraba-raba taman rahsianya. Basah dan berlendir. Datin rose meraba bibir vaginanya yang terasa sengal.


Jari-jarinya basah dengan cairan lendir yang meleleh keluar dari lubang kemaluannya. Jari-jari itu dicium, bau cinta. Datin rose tersenyum. Rama memang hebat dan gagah, tapi amir lebih handal. Datin rose masih lagi tersenyum…

Bisnis dan Kapitalisasi Aurat

Sebelumnya, saya memohon maaf jika mungkin tulisan saya menyinggung. Saya tidak bermaksud menyinggung siapapun, hanya ingin menceritakan sesuatu yang semoga menjadi pengingat bagi saya sendiri khususnya sebagai muslimah sekaligus sebagai (calon) pengusaha in sya Allah. Cieee…

Kita hidup di jaman di mana hijab menjadi sebuah trend. Menutup aurat bukan lagi sebuah keanehan dan perempuan berpakaian syar'i sudah menjadi pemandangan familiar. Sekitar belasan tahun ke belakang, menutup hijab adalah hal yang janggal, aneh, dan seringkali di larang.

Kemudian kebutuhan akan hijab menjadi meningkat di masyarakat. Bagi orang - orang yang bisa melirik peluang, bau uang sudah tercium dan pasar hijab, saya juga pernah mencoba bermain di dalamnya dulu dan akhir-akhir ini, and seriously, menjanjikan! Kata seorang customer desain saya yang mantan direktur marketing salah satu perusahaan hijab (syar’i) lokal terbesar di Indonesia, justru karena banyaknya saingan, itu menandakan bahwa pasar hijab begitu banyak. Jika tidak ada peluang pasar di dalamnya, tidak mungkin pengusaha - pengusaha merambah ke dunia itu. Tentu saja, perdagangan hijab berkelas - kelas, dari kelas Pasar Baru dan Gasibu hingga Saphira atau Zoya. Dari yang setipis saringan air hingga yang syar’i seperti milik Rabbani atau Nibras Hijab.

Banyak hal positif dari bisnis hijab. Muslimah - muslimah Indonesia tidak lagi kesulitan menutup aurat. Simbiosis mutualisme antara produsen dengan masyarakat bukan?

Saya tidak akan membicarakan hijab, tapi lebih kepada bisnis kecantikan lain yang berawal dari populernya hijab. 

Ceritanya, hari Selasa lalu dalam mata kuliah Design Thinking, kami diminta presentasi mengenai branding bisnis atau rencana bisnis kami masing - masing. Salah satu teman saya mempresentasikan bisnisnya yang berupa kerudung printed. Scarf printed memang sedang populer, terutama jika desainnya dari brand terkenal seperti Ria Miranda. Motifnya biasanya bunga - bunga, dengan warna pastel yang syahdu, manis sekali walaupun saya tidak pernah ingin mengenakannya. O ya, karena printing kain masih mahal sekali, yang saya tahu, hijab printed biasanya berukuran kecil kecuali dari brand milik Gaida.

Saya hanya fokus pada teknis dan proses brandingnya ketika  Profesor kami dengan agak sungkan bertanya, “saya ingin bertanya pada kalian yang berhijab di sini. Hijab itu kan untuk menutupi aurat ya, nah kerudung bercorak warna warni gini kan membuat perempuan jadi cantik dan memikat banyak laki - laki. Itu gimana ya, bukankah hukumnya justru tidak boleh demikian dalam Islam? Saya tidak tahu ini ya, tapi bahkan brand W**d*h juga membuat seakan perempuan tuh harus (dandan) cantik, begini, begitu.”

Terus terang saya merasa ditampar. Hal ini membuat saya berpikir lebih jauh lagi. Pengusaha kebanyakan akan melihat kecantikan yang seakan Islami dari sisi peluang. Serius deh, saya juga pernah bekerja di perusahaan kosmetik yang disebutkan dosen saya itu (walaupun saya tidak mengerjakan project decorative, tapi skin care). Bisnis muslimah adalah pasar besar yang dilirik banyak orang. Di sana kita bisa jualan apa saja, asal brand ambasadornya berhijab dan ada label halal, seakan - akan semuanya sudah memenuhi syarat menjadi muslimah.

Wardah adalah yang mengawali penjualan kosmetik dengan label halal, dan memang tujuannya demikian, memberikan garansi dan rasa aman pada santri yang ingin merawat kulitnya (merawat kulit, bukan berhias) karena banyak kosmetik yang tidak halal bahkan najis. Di jaman ini, semuanya bergerak sesuai dengan perkembangan pasar dan bisnis. Banyak brand kecantikan kemudian ikut-ikutan menggunakan label halal dengan bintang iklan berkerudung demi menarik minat pasar muslimah, padahal belum tentu secara syariah yang dipamerkan di televisi dan media itu diperbolehkan. 

Tentu saja, bisnis yang mendukung muslimah ini banyak manfaatnya. Kita jadi mengerti bagaimana harus berpenampilan baik, kita jadi mudah merawat diri, dan yang jelas ini adalah ladang rejeki bagi banyak sekali orang dan bidang.

Yang menjadi kontroversi adalah ajang Putri Muslimah, yang diprotes banyak orang karena membawa nama muslimah tapi memamerkan kecantikan di depan khalayak. Sponsor memberinya sponsor bukan karena mendukung kegiatan tersebut, tapi karena takut kesempatan menjadi sponsor direbut oleh kompetitornya. Lagi lagi kepentingan marketing.

Saya sendiri bukan yang sudah mengenakan hijab syar’i (semoga suatu hari nanti), saya juga masih sering berhias dan berdandan, karena begitulah kecenderungan wanita : ingin berhias dan terlihat cantik. Bagi saya, sulit sekali mengenyahkan nafsu ingin kelihatan cantik. Barangkali banyak perempuan juga begitu.

Lalu apa ujung dari tulisan ini? Sebenarnya lebih kepada mengingatkan diri sendiri dan barangkali teman - teman yang mengamati hal yang sama, bahwa kita perlu lebih berhati - hati. Dalam jaman yang begitu dinamis dan kapitalis, banyak sekali produk yang dengan mudah akan memuaskan nafsu kita berhias. Saya sendiri masih kebayang - bayang untuk membeli lipstik warna merah menyala. Tentu saja perempuan boleh berhias, tapi dengan batasan - batasannya. Dan batasan ini sesungguhnya mutlak sesuai tuntunan agama, namun pengaplikasiannya begitu relatif sesuai dengan yang mau kita percaya.

Duh, pada akhirnya, tulisan ini mengkritik diri saya sendiri yang kerap tidak peduli bahwa apa yang saya kenakan jauh dari kewajiban muslimah. 

Sekali lagi saya mohon maaf jika ada yang tidak sepakat. Kita bisa berdiskusi di belakang, karena fenomena bisnis muslimah ini sangat menarik bagi saya. 

Wallahualam Bissawab.

Jangan Lagi Melakukannya Sendiri

From: Me

To: You

Subject: Jangan Lagi Melakukannya Sendiri

Compose email:


Teruntuk kau – yang lebih tangguh dari sebelum ini. Teruslah kuat.


Pagi ini kudapati kau dengan senyum simetrismu yang mekar. Tak mau kalah dengan bunga lili yang sengaja kutanam di pekarangan depan rumah. Kali ini bukan muka berlipat suntuk dan penuh harapa-harap yang tak terwujudkan. 

Katamu, kamu baru mengambil suatu keputusan setelah melewati beribu detik pemikiran. Menghidupkan logika yang selama ini kau redupkan. Sejauh ini hatimu kau beri tahta paling tinggi. Mengikutinya bagai hamba kepada rajanya. 

‘Aku lelah menyakiti diriku sendiri. Maka setelah ini akan kucintai aku lebih dalam dari hari-hari kemarin.’  bisikmu pagi tadi setelah bertukar sapa sebentar. 

Aku tersenyum bangga melihat raut penuh yakinmu. Ini yang aku inginkan. Bagaimana tidak, setelah berpuluh-puluh cerca – usahaku untuk mengembalikan logikamu – tak pernah kau gubris barang satu kata. Kau terlalu pasrah menjadi budak hati. Dibawanya terbang tinggi kau ikuti. Dibuatkannya taman indah dengan bunga-bunga imajinasi warna-warni kau kegirangan sendiri, padahal tahu betul taman tak pernah nyata. Logikamu jelas masih berfungsi, namun sengaja kau lumpuhkan. Hanya karena takut menganggu hati yang berseri.

‘Aku patut diperjuangkan oleh ia yang ingin memerjuangkan. Bukan hanya beratahan dengan ia yang mendekatiku karena aman, nyaman kusuguhkan. Sedang ia padaku tak ingin mengusahakan. Aku wanita yang patut untuk diperjuangkan. Bukan begitu?’ akhir pembicaraan kau menanyakan hal ini, aku mengangguk. Kau tersenyum lagi lebih lebar satu senti dari menit-menit sebelum ini. Tanpa kau sadar, kau menularkannya kepadaku. Dan ternyata, alasan untuk melengkungkan senyum bisa semudah ini.




Kepada kau yang sudah lebih cerdas dari sebelum ini, kumohon jangan bodoh lagi, jangan mau menjadi yang terlalu baik. Sesekali jadilah jahat, egois mementingkan kesehatan hatimu sah-sah saja, kurasa. 

Tidak semua orang harus kau buat bahagia, kau tak memiliki banyak tenaga untuk itu. Namun kau selalu memiliki kekuatan untuk membahagiakan dirimu sendiri. Sampai kapan pun. 

Setelah ini, bertahanlah dengan seseorang yang menginginkanmu bertahan juga. Setelah ini, perjuangkan ia yang ingin memerjuangkanmu. Cintai ia yang sukarela mencintaimu. Bersamalah dengan ia yang ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu juga. 

Jangan melakukannya sendiri, aku tak mau kau kelelahan dan merasakan sakit seperti ini lagi. 

Selamat berbahagia!




Sahabatmu,

Aku.

Di kedua bola mataku tergambar telaga, jernih, dengan jelas memantulkan harap-harap agar kau tetap tinggal.

Di pipiku jatuh rintik-rintik hujan yang kian deras. Mengalir menganak sungai, ditinggali ikan-ikan yang terjebak dalam sesal.

Di bibirku gugurlah daun-daun maaf yang tak henti terucap. Terbang ditiup angin lalu jatuh ke hatimu—namun malah kau injak.

Di kedua tanganku yang dulu sempat menggenggammu hangat, terdapat lantunan doa-doa yang setiap malam selalu terpanjat untukmu.

Di dalam kurungan tulang rusuk yang dulu sempat ditumbuhi bunga-bunga beraneka warna, kini mereka kering dan tandus. Di gerogoti rindu yang bersemayam dalam aliran darah.

Di kedua kakiku yang pernah kau ajak berjalan beriringan, kini ia mengakar kuat jauh, jauh, di masa lalu ketika masih bersamamu. Ia tak ingin pulang.

Bercerita Bunga Kepada Lebah

Alkisah, adalah seekor lebah yang… biasa saja. Berbadan kecil, pendek, tidak rupawan, sayapnya kecil, dan memiliki sengat yang tumpul.

Seperti pagi-pagi lainnya, lebah kecil berkeliling dengan koloninya. Yang berbeda dengan dunia lebah ialah tidak ada yang namanya bully, menghina atau mencemooh fisik, mengganggu yang lemah, membanggakan diri sendiri, apalagi kelewat bangga hanya karena sekedar bisa masak. Namun, hal tersebut tetap saja membuat lebah kecil sedikit minder dengan teman-temannya.

Tiba di suatu taman indah di tengah kota, sesuai dengan aba-aba jenderal lebah, koloni menyebar pada bunga mereka sendiri-sendiri, mengambil madu. Seluruh koloni serentak menyebar. Semua bekerja, sesuai perintah, tidak ada yang berbincang sendiri, tidak ada yang mengeluh mengomel sendiri, apalagi asyik sendiri dengan smartphone. Begitupun lebah kecil, ketika sedang khusyu’ mengambil madu. Tiba-tiba matanya terarah pada sebuah bunga yang tak biasa ia lihat sehari-hari. Bedanya, bunga itu terletak di luar taman, tepat berada di sisi pagar kayu berwarna putih itu.

Bunga itu sendirian, tidak ada lebah yang berdiri di atasnya. Hanya angin yang sesekali mengayun-ayunkan kelopaknya. Padahal bunga itu lebih cantik jika dibandingkan dengan bunga-bunga yang berada di taman. Lebah kecil ingin mendatanginya. Namun, ia tidak berani. Lebih tepatnya, malu untuk menyapa.

Keesokan hari masih sama, bunga itu masih bersama dengan sunyi, dan lebah kecil masih belum memiliki keberanian walau hanya sekedar untuk bertukar sapa. Hingga seminggu setelahnya. Rasa penasaran lebah kecil itu semakin memuncak. Ia akan menemui bunga itu setelah mendapatkan madu.

Seusai menyelesaikan tugas lebah sebagaimana umumnya. Lebah kecil sempat terhenti. Sayapnya seperti membeku. Tidak bisa digerakkan. Namun kedua matanya masih terpaku pada bunga itu. Warna bunga itu semakin cerah seiring dengan berjalannya hari. Akhirnya sepasang sayap mungilnya berhasil membawanya menuju bunga itu.

“Emm… Hai.”, ucapnya ragu.

“Hai!.”, balas bunga itu ramah, yang ternyata suaranya tidak seperti wujudnya yang begitu sendu.

“Boleh, kah?”

“Tentu saja.”, dan lebah kecil menaruh tubuhnya di atas bunga itu.

“Apa kamu tersesat?”, tanya bunga itu. Mungkin ia memang belum pernah didatangi seekor lebah.

“Tidak, hanya… eh, sebenarnya…”

“Apa?”

“Eh, kenapa kamu tumbuh di luar pagar?”

“Aku tidak tahu. Tuhan yang menciptakanku tumbuh di sini. Mungkin Dia punya maksud lain. Walaupun itu membuatku tidak pernah didatangi oleh lebah sekalipun. Hahaha.”, jawabnya tanpa terlihat sedih.

“Kamu sendiri kenapa berpisah dengan teman-temanmu? Apa itu tidak apa-apa?”, tanyanya kepada lebah kecil.

“Tentu tidak, aku bisa pulang sendiri.”

“Boleh kah aku banyak bertanya?”

“Tentu saja. Lagipula, ini kali pertama aku berbincang. Sebelumnya, terimakasih karena sudah mendatangiku.”, ucap bunga itu.

“Sama-sama. Sebenarnya, apa yang membuatmu tetap ingin tumbuh? Walau di luar taman?”

“Tidak tahu.”, jawabnya lirih.

“Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan nikmat yang sudah diberikan Tuhan kepadaku. Aku menjadi bunga yang indah, lebih indah dari yang lain. Walau tidak berada di taman. Tapi, jika Tuhan memberikan pilihan, tentu saja aku tidak mau menjadi bunga.”, tambah bunga itu.

“Lalu?”

“Iya, aku ingin menjadi manusia.”

“Kenapa manusia? Mereka itu bekerja dengan saling menipu, tidak pernah puas dengan kehidupan dunia, dan mudah merusak ciptaan Tuhan.”

“Tidak semua manusia seperti itu kok. Kamu lihat manusia perempuan yang sedang duduk membaca buku di kursi taman berwarna coklat itu?”

Lebah hanya mengangguk.

“Ya, seperti dia. Aku ingin seperti dia. Bisa menutup dan menjaga diri. Untuk apa aku dilahirkan sebegitu indahnya jika semua orang bisa menikmatinya. Lihatlah manusia perempuan itu. Dia menggunakan kain penutup di kepalanya, lalu disilangkan kain itu di bagian bawahnya, bahkan ia juga menutup punggung kakinya dengan kaos kecil. Kira-kira seperti itulah, aku ingin cantik yang diberikan Tuhan kepadaku ini, hanya akan kuberikan pada seseorang saja. Aku juga tidak suka ketika siapapun bisa menyentuhku.”

Lebah hanya terdiam mendengar penjelasan panjang dari bunga.

“Lihatlah sebentar lagi, akan ada manusia laki-laki yang menjemputnya.”

Tidak lama, datang seorang pria berkacamata, duduk di samping perempuan berkerudung tadi. Kemudian keduanya berdiri dan berlalu, wujud keduanya hilang ditelan kepadatan kota.

“Siapa manusia laki-laki itu?”, tanya lebah penasaran.

“Itu adalah pasangan hidupnya. Dan hanya kepadanya manusia perempuan itu memberikan keindahannya. Indah bukan?”

Lebah kecil masih terdiam, ia perlahan mulai paham dengan apa maksud bunga.

“Menurutmu, apakah Tuhan mau merubahku menjadi manusia?”

“Tentu saja. Jika kau berdo'a kepada-Nya.”, jawabnya dengan tersenyum kecil.

“Hmm, jika begitu, aku akan berdo'a sepanjang hari setelah ini.”

“Itu bagus. Semoga do'amu terkabul. Dan sekarang saatnya aku untuk pergi.”, tutup lebah kecil itu, kemudian terbang.

“Sampai jumpa.”, lambai lebah itu pada bunga.

“Sampai jumpa lagi, terimakasih karena telah datang menemaniku, hari ini aku sangat senang.”

Lebah hanya membalasnya dengan senyum, senyumnya yang tidak seperti biasa, senyumnya yang cemerlang, sebening embun yang menggantung pada bunga itu.

Dalam perjalanan pulang, lebah kecil pun turut berdo'a dalam senyumnya, agar Tuhan merubahnya menjadi manusia laki-laki. Dan menjadi pasangan hidup si bunga ketika keduanya menjadi manusia.

Bogor, 15 Juni 2015 | Seto Wibowo

Kalau belum jadi apa-apanya emang mestinya enggak boleh terlalu banyak berharap. Repot sendiri nantinya. Dibawa santai saja, kalau kiranya belum berani berkomitmen, ya enggak usah kebanyakan membayangkan hari indah berdua bersamanya dihujani bunga-bunga beraneka warna diiringi tawa sepanjang masa.
Hidupmu yang nyata ya hari ini, bukan besok, apalagi masa lalu.