warna bunga

anonymous asked:

Kak boleh ceritain ga, gimana dulu pertama kali kakak ketemu sama pacar kakak? Aku kepo😅😅

Pertama ketemu pake kemeja kotak-kotak hitam-putih. Dia pake sweater biru tua kesukaannya. Aku berangkat dari jakarta menuju kotanya. Naik travel. Di travel deg-degan setengah mati. Sempat berpikir untuk turun aja dari travel. Pulang lagi, saking deg-degannya. :)))

Kedatanganku ke Kotanya bukan khusus untuk menemuinya, hanya kebetulan ada keperluan juga, jadi sekalian saja. Setelah sampai di kotanya, aku menunggu di tempat travel. Mengabarinya kalau aku sudah sampai, walau dia sebelumnya mengatakan kalau untuk mengabari saat jauh sebelum masuk kotanya, tapi aku urungkan. Aku terlalu deg-degan. Hahahah. Kalau kamu, akan deg-degan juga ga? atau aku saja yang terlalu norak? :)))

Aku duduk menunggu, di bangku panjang depan pool travel. Memainkan handphone guna menghilangkan kegelisahan, juga mengirim chat pada sahabatku. isinya kurang lebih: “AAAKKK GIMANA NIIIHHH?? PULANG LAGI AJA APA?? HAHAHAHAHAAHHAHAHAHAHA” 

Lalu, 15 menit kemudian dia datang. Dari sudut mataku, aku tau dia berjalan ke arahku, tapi aku pura-pura tidak tau saja. Tetap menunduk, memainkan Hpku. Sambil sesekali cekikian sendiri membaca pesan dari sahabatku. Dia duduk sebelahku. “Udah lama?” katanya. Dengan berlagak terkejut aku menengok ke arahnya, “Eh! udah sampe toh.” Hahahahaha ya Allah maaf aku alay. Dia mengetahui, kalau aku pura-pura terkejut. Tapi dia baik, dia pura-pura tidak tau. 

Dia membawakan tas berisi bajuku, berjalan menyebrang tempat travel. “Penuh, macet banget. Gak dapet parkir, jadi jalan dikit ke sebrang gak apa-apa, ya?” katanya, “nggak apa-apa, yuk!” aku berjalan duluan, seakan tau kendaraannya yang mana. :))

Di dalam mobil, kita mengobrol. Obrolannya apa, entahlah. Tak ada yang masuk dalam kepalaku. :)) “Maaf ya, lama. Tadi aku nyari ini dulu.” Dia memberikan setangkai bunga warna kuning. “Kamu kan suka bunga, suka kuning. Aku susah loh nyarinya! kudu metik di taman dulu. Makanya lama.” Satu yang aku syukuri, dia seseorang yang bisa membawa obrolan ke arah yang menyenangkan. Walau itu hanya basa basi atau membunuh kecanggungan, tapi setidaknya tidak ada jeda lama di antara kita. Aku yang sedikit berbicara saat bertemu orang barupun jadi mudah terbawa alurnya. 

Oke, aku mengerti, bukan awal pertemuan seperti ini yang kamu maksud pada pertanyaanmu. Tapi aku tertarik menceritakan hal ini. Entah mengapa. Biar panjang aja. :)) 

Dan ini cerita gak ada intinya. 😂

Jangan Lagi Melakukannya Sendiri

From: Me

To: You

Subject: Jangan Lagi Melakukannya Sendiri

Compose email:


Teruntuk kau – yang lebih tangguh dari sebelum ini. Teruslah kuat.


Pagi ini kudapati kau dengan senyum simetrismu yang mekar. Tak mau kalah dengan bunga lili yang sengaja kutanam di pekarangan depan rumah. Kali ini bukan muka berlipat suntuk dan penuh harapa-harap yang tak terwujudkan. 

Katamu, kamu baru mengambil suatu keputusan setelah melewati beribu detik pemikiran. Menghidupkan logika yang selama ini kau redupkan. Sejauh ini hatimu kau beri tahta paling tinggi. Mengikutinya bagai hamba kepada rajanya. 

‘Aku lelah menyakiti diriku sendiri. Maka setelah ini akan kucintai aku lebih dalam dari hari-hari kemarin.’  bisikmu pagi tadi setelah bertukar sapa sebentar. 

Aku tersenyum bangga melihat raut penuh yakinmu. Ini yang aku inginkan. Bagaimana tidak, setelah berpuluh-puluh cerca – usahaku untuk mengembalikan logikamu – tak pernah kau gubris barang satu kata. Kau terlalu pasrah menjadi budak hati. Dibawanya terbang tinggi kau ikuti. Dibuatkannya taman indah dengan bunga-bunga imajinasi warna-warni kau kegirangan sendiri, padahal tahu betul taman tak pernah nyata. Logikamu jelas masih berfungsi, namun sengaja kau lumpuhkan. Hanya karena takut menganggu hati yang berseri.

‘Aku patut diperjuangkan oleh ia yang ingin memerjuangkan. Bukan hanya beratahan dengan ia yang mendekatiku karena aman, nyaman kusuguhkan. Sedang ia padaku tak ingin mengusahakan. Aku wanita yang patut untuk diperjuangkan. Bukan begitu?’ akhir pembicaraan kau menanyakan hal ini, aku mengangguk. Kau tersenyum lagi lebih lebar satu senti dari menit-menit sebelum ini. Tanpa kau sadar, kau menularkannya kepadaku. Dan ternyata, alasan untuk melengkungkan senyum bisa semudah ini.




Kepada kau yang sudah lebih cerdas dari sebelum ini, kumohon jangan bodoh lagi, jangan mau menjadi yang terlalu baik. Sesekali jadilah jahat, egois mementingkan kesehatan hatimu sah-sah saja, kurasa. 

Tidak semua orang harus kau buat bahagia, kau tak memiliki banyak tenaga untuk itu. Namun kau selalu memiliki kekuatan untuk membahagiakan dirimu sendiri. Sampai kapan pun. 

Setelah ini, bertahanlah dengan seseorang yang menginginkanmu bertahan juga. Setelah ini, perjuangkan ia yang ingin memerjuangkanmu. Cintai ia yang sukarela mencintaimu. Bersamalah dengan ia yang ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu juga. 

Jangan melakukannya sendiri, aku tak mau kau kelelahan dan merasakan sakit seperti ini lagi. 

Selamat berbahagia!




Sahabatmu,

Aku.

Bisnis dan Kapitalisasi Aurat

Sebelumnya, saya memohon maaf jika mungkin tulisan saya menyinggung. Saya tidak bermaksud menyinggung siapapun, hanya ingin menceritakan sesuatu yang semoga menjadi pengingat bagi saya sendiri khususnya sebagai muslimah sekaligus sebagai (calon) pengusaha in sya Allah. Cieee…

Kita hidup di jaman di mana hijab menjadi sebuah trend. Menutup aurat bukan lagi sebuah keanehan dan perempuan berpakaian syar'i sudah menjadi pemandangan familiar. Sekitar belasan tahun ke belakang, menutup hijab adalah hal yang janggal, aneh, dan seringkali di larang.

Kemudian kebutuhan akan hijab menjadi meningkat di masyarakat. Bagi orang - orang yang bisa melirik peluang, bau uang sudah tercium dan pasar hijab, saya juga pernah mencoba bermain di dalamnya dulu dan akhir-akhir ini, and seriously, menjanjikan! Kata seorang customer desain saya yang mantan direktur marketing salah satu perusahaan hijab (syar’i) lokal terbesar di Indonesia, justru karena banyaknya saingan, itu menandakan bahwa pasar hijab begitu banyak. Jika tidak ada peluang pasar di dalamnya, tidak mungkin pengusaha - pengusaha merambah ke dunia itu. Tentu saja, perdagangan hijab berkelas - kelas, dari kelas Pasar Baru dan Gasibu hingga Saphira atau Zoya. Dari yang setipis saringan air hingga yang syar’i seperti milik Rabbani atau Nibras Hijab.

Banyak hal positif dari bisnis hijab. Muslimah - muslimah Indonesia tidak lagi kesulitan menutup aurat. Simbiosis mutualisme antara produsen dengan masyarakat bukan?

Saya tidak akan membicarakan hijab, tapi lebih kepada bisnis kecantikan lain yang berawal dari populernya hijab. 

Ceritanya, hari Selasa lalu dalam mata kuliah Design Thinking, kami diminta presentasi mengenai branding bisnis atau rencana bisnis kami masing - masing. Salah satu teman saya mempresentasikan bisnisnya yang berupa kerudung printed. Scarf printed memang sedang populer, terutama jika desainnya dari brand terkenal seperti Ria Miranda. Motifnya biasanya bunga - bunga, dengan warna pastel yang syahdu, manis sekali walaupun saya tidak pernah ingin mengenakannya. O ya, karena printing kain masih mahal sekali, yang saya tahu, hijab printed biasanya berukuran kecil kecuali dari brand milik Gaida.

Saya hanya fokus pada teknis dan proses brandingnya ketika  Profesor kami dengan agak sungkan bertanya, “saya ingin bertanya pada kalian yang berhijab di sini. Hijab itu kan untuk menutupi aurat ya, nah kerudung bercorak warna warni gini kan membuat perempuan jadi cantik dan memikat banyak laki - laki. Itu gimana ya, bukankah hukumnya justru tidak boleh demikian dalam Islam? Saya tidak tahu ini ya, tapi bahkan brand W**d*h juga membuat seakan perempuan tuh harus (dandan) cantik, begini, begitu.”

Terus terang saya merasa ditampar. Hal ini membuat saya berpikir lebih jauh lagi. Pengusaha kebanyakan akan melihat kecantikan yang seakan Islami dari sisi peluang. Serius deh, saya juga pernah bekerja di perusahaan kosmetik yang disebutkan dosen saya itu (walaupun saya tidak mengerjakan project decorative, tapi skin care). Bisnis muslimah adalah pasar besar yang dilirik banyak orang. Di sana kita bisa jualan apa saja, asal brand ambasadornya berhijab dan ada label halal, seakan - akan semuanya sudah memenuhi syarat menjadi muslimah.

Wardah adalah yang mengawali penjualan kosmetik dengan label halal, dan memang tujuannya demikian, memberikan garansi dan rasa aman pada santri yang ingin merawat kulitnya (merawat kulit, bukan berhias) karena banyak kosmetik yang tidak halal bahkan najis. Di jaman ini, semuanya bergerak sesuai dengan perkembangan pasar dan bisnis. Banyak brand kecantikan kemudian ikut-ikutan menggunakan label halal dengan bintang iklan berkerudung demi menarik minat pasar muslimah, padahal belum tentu secara syariah yang dipamerkan di televisi dan media itu diperbolehkan. 

Tentu saja, bisnis yang mendukung muslimah ini banyak manfaatnya. Kita jadi mengerti bagaimana harus berpenampilan baik, kita jadi mudah merawat diri, dan yang jelas ini adalah ladang rejeki bagi banyak sekali orang dan bidang.

Yang menjadi kontroversi adalah ajang Putri Muslimah, yang diprotes banyak orang karena membawa nama muslimah tapi memamerkan kecantikan di depan khalayak. Sponsor memberinya sponsor bukan karena mendukung kegiatan tersebut, tapi karena takut kesempatan menjadi sponsor direbut oleh kompetitornya. Lagi lagi kepentingan marketing.

Saya sendiri bukan yang sudah mengenakan hijab syar’i (semoga suatu hari nanti), saya juga masih sering berhias dan berdandan, karena begitulah kecenderungan wanita : ingin berhias dan terlihat cantik. Bagi saya, sulit sekali mengenyahkan nafsu ingin kelihatan cantik. Barangkali banyak perempuan juga begitu.

Lalu apa ujung dari tulisan ini? Sebenarnya lebih kepada mengingatkan diri sendiri dan barangkali teman - teman yang mengamati hal yang sama, bahwa kita perlu lebih berhati - hati. Dalam jaman yang begitu dinamis dan kapitalis, banyak sekali produk yang dengan mudah akan memuaskan nafsu kita berhias. Saya sendiri masih kebayang - bayang untuk membeli lipstik warna merah menyala. Tentu saja perempuan boleh berhias, tapi dengan batasan - batasannya. Dan batasan ini sesungguhnya mutlak sesuai tuntunan agama, namun pengaplikasiannya begitu relatif sesuai dengan yang mau kita percaya.

Duh, pada akhirnya, tulisan ini mengkritik diri saya sendiri yang kerap tidak peduli bahwa apa yang saya kenakan jauh dari kewajiban muslimah. 

Sekali lagi saya mohon maaf jika ada yang tidak sepakat. Kita bisa berdiskusi di belakang, karena fenomena bisnis muslimah ini sangat menarik bagi saya. 

Wallahualam Bissawab.

Kalau belum jadi apa-apanya emang mestinya enggak boleh terlalu banyak berharap. Repot sendiri nantinya. Dibawa santai saja, kalau kiranya belum berani berkomitmen, ya enggak usah kebanyakan membayangkan hari indah berdua bersamanya dihujani bunga-bunga beraneka warna diiringi tawa sepanjang masa.
Hidupmu yang nyata ya hari ini, bukan besok, apalagi masa lalu.
Bercerita Bunga Kepada Lebah

Alkisah, adalah seekor lebah yang… biasa saja. Berbadan kecil, pendek, tidak rupawan, sayapnya kecil, dan memiliki sengat yang tumpul.

Seperti pagi-pagi lainnya, lebah kecil berkeliling dengan koloninya. Yang berbeda dengan dunia lebah ialah tidak ada yang namanya bully, menghina atau mencemooh fisik, mengganggu yang lemah, membanggakan diri sendiri, apalagi kelewat bangga hanya karena sekedar bisa masak. Namun, hal tersebut tetap saja membuat lebah kecil sedikit minder dengan teman-temannya.

Tiba di suatu taman indah di tengah kota, sesuai dengan aba-aba jenderal lebah, koloni menyebar pada bunga mereka sendiri-sendiri, mengambil madu. Seluruh koloni serentak menyebar. Semua bekerja, sesuai perintah, tidak ada yang berbincang sendiri, tidak ada yang mengeluh mengomel sendiri, apalagi asyik sendiri dengan smartphone. Begitupun lebah kecil, ketika sedang khusyu’ mengambil madu. Tiba-tiba matanya terarah pada sebuah bunga yang tak biasa ia lihat sehari-hari. Bedanya, bunga itu terletak di luar taman, tepat berada di sisi pagar kayu berwarna putih itu.

Bunga itu sendirian, tidak ada lebah yang berdiri di atasnya. Hanya angin yang sesekali mengayun-ayunkan kelopaknya. Padahal bunga itu lebih cantik jika dibandingkan dengan bunga-bunga yang berada di taman. Lebah kecil ingin mendatanginya. Namun, ia tidak berani. Lebih tepatnya, malu untuk menyapa.

Keesokan hari masih sama, bunga itu masih bersama dengan sunyi, dan lebah kecil masih belum memiliki keberanian walau hanya sekedar untuk bertukar sapa. Hingga seminggu setelahnya. Rasa penasaran lebah kecil itu semakin memuncak. Ia akan menemui bunga itu setelah mendapatkan madu.

Seusai menyelesaikan tugas lebah sebagaimana umumnya. Lebah kecil sempat terhenti. Sayapnya seperti membeku. Tidak bisa digerakkan. Namun kedua matanya masih terpaku pada bunga itu. Warna bunga itu semakin cerah seiring dengan berjalannya hari. Akhirnya sepasang sayap mungilnya berhasil membawanya menuju bunga itu.

“Emm… Hai.”, ucapnya ragu.

“Hai!.”, balas bunga itu ramah, yang ternyata suaranya tidak seperti wujudnya yang begitu sendu.

“Boleh, kah?”

“Tentu saja.”, dan lebah kecil menaruh tubuhnya di atas bunga itu.

“Apa kamu tersesat?”, tanya bunga itu. Mungkin ia memang belum pernah didatangi seekor lebah.

“Tidak, hanya… eh, sebenarnya…”

“Apa?”

“Eh, kenapa kamu tumbuh di luar pagar?”

“Aku tidak tahu. Tuhan yang menciptakanku tumbuh di sini. Mungkin Dia punya maksud lain. Walaupun itu membuatku tidak pernah didatangi oleh lebah sekalipun. Hahaha.”, jawabnya tanpa terlihat sedih.

“Kamu sendiri kenapa berpisah dengan teman-temanmu? Apa itu tidak apa-apa?”, tanyanya kepada lebah kecil.

“Tentu tidak, aku bisa pulang sendiri.”

“Boleh kah aku banyak bertanya?”

“Tentu saja. Lagipula, ini kali pertama aku berbincang. Sebelumnya, terimakasih karena sudah mendatangiku.”, ucap bunga itu.

“Sama-sama. Sebenarnya, apa yang membuatmu tetap ingin tumbuh? Walau di luar taman?”

“Tidak tahu.”, jawabnya lirih.

“Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan nikmat yang sudah diberikan Tuhan kepadaku. Aku menjadi bunga yang indah, lebih indah dari yang lain. Walau tidak berada di taman. Tapi, jika Tuhan memberikan pilihan, tentu saja aku tidak mau menjadi bunga.”, tambah bunga itu.

“Lalu?”

“Iya, aku ingin menjadi manusia.”

“Kenapa manusia? Mereka itu bekerja dengan saling menipu, tidak pernah puas dengan kehidupan dunia, dan mudah merusak ciptaan Tuhan.”

“Tidak semua manusia seperti itu kok. Kamu lihat manusia perempuan yang sedang duduk membaca buku di kursi taman berwarna coklat itu?”

Lebah hanya mengangguk.

“Ya, seperti dia. Aku ingin seperti dia. Bisa menutup dan menjaga diri. Untuk apa aku dilahirkan sebegitu indahnya jika semua orang bisa menikmatinya. Lihatlah manusia perempuan itu. Dia menggunakan kain penutup di kepalanya, lalu disilangkan kain itu di bagian bawahnya, bahkan ia juga menutup punggung kakinya dengan kaos kecil. Kira-kira seperti itulah, aku ingin cantik yang diberikan Tuhan kepadaku ini, hanya akan kuberikan pada seseorang saja. Aku juga tidak suka ketika siapapun bisa menyentuhku.”

Lebah hanya terdiam mendengar penjelasan panjang dari bunga.

“Lihatlah sebentar lagi, akan ada manusia laki-laki yang menjemputnya.”

Tidak lama, datang seorang pria berkacamata, duduk di samping perempuan berkerudung tadi. Kemudian keduanya berdiri dan berlalu, wujud keduanya hilang ditelan kepadatan kota.

“Siapa manusia laki-laki itu?”, tanya lebah penasaran.

“Itu adalah pasangan hidupnya. Dan hanya kepadanya manusia perempuan itu memberikan keindahannya. Indah bukan?”

Lebah kecil masih terdiam, ia perlahan mulai paham dengan apa maksud bunga.

“Menurutmu, apakah Tuhan mau merubahku menjadi manusia?”

“Tentu saja. Jika kau berdo'a kepada-Nya.”, jawabnya dengan tersenyum kecil.

“Hmm, jika begitu, aku akan berdo'a sepanjang hari setelah ini.”

“Itu bagus. Semoga do'amu terkabul. Dan sekarang saatnya aku untuk pergi.”, tutup lebah kecil itu, kemudian terbang.

“Sampai jumpa.”, lambai lebah itu pada bunga.

“Sampai jumpa lagi, terimakasih karena telah datang menemaniku, hari ini aku sangat senang.”

Lebah hanya membalasnya dengan senyum, senyumnya yang tidak seperti biasa, senyumnya yang cemerlang, sebening embun yang menggantung pada bunga itu.

Dalam perjalanan pulang, lebah kecil pun turut berdo'a dalam senyumnya, agar Tuhan merubahnya menjadi manusia laki-laki. Dan menjadi pasangan hidup si bunga ketika keduanya menjadi manusia.

Bogor, 15 Juni 2015 | Seto Wibowo