warna bunga

Jangan Lagi Melakukannya Sendiri

From: Me

To: You

Subject: Jangan Lagi Melakukannya Sendiri

Compose email:


Teruntuk kau – yang lebih tangguh dari sebelum ini. Teruslah kuat.


Pagi ini kudapati kau dengan senyum simetrismu yang mekar. Tak mau kalah dengan bunga lili yang sengaja kutanam di pekarangan depan rumah. Kali ini bukan muka berlipat suntuk dan penuh harapa-harap yang tak terwujudkan. 

Katamu, kamu baru mengambil suatu keputusan setelah melewati beribu detik pemikiran. Menghidupkan logika yang selama ini kau redupkan. Sejauh ini hatimu kau beri tahta paling tinggi. Mengikutinya bagai hamba kepada rajanya. 

‘Aku lelah menyakiti diriku sendiri. Maka setelah ini akan kucintai aku lebih dalam dari hari-hari kemarin.’  bisikmu pagi tadi setelah bertukar sapa sebentar. 

Aku tersenyum bangga melihat raut penuh yakinmu. Ini yang aku inginkan. Bagaimana tidak, setelah berpuluh-puluh cerca – usahaku untuk mengembalikan logikamu – tak pernah kau gubris barang satu kata. Kau terlalu pasrah menjadi budak hati. Dibawanya terbang tinggi kau ikuti. Dibuatkannya taman indah dengan bunga-bunga imajinasi warna-warni kau kegirangan sendiri, padahal tahu betul taman tak pernah nyata. Logikamu jelas masih berfungsi, namun sengaja kau lumpuhkan. Hanya karena takut menganggu hati yang berseri.

‘Aku patut diperjuangkan oleh ia yang ingin memerjuangkan. Bukan hanya beratahan dengan ia yang mendekatiku karena aman, nyaman kusuguhkan. Sedang ia padaku tak ingin mengusahakan. Aku wanita yang patut untuk diperjuangkan. Bukan begitu?’ akhir pembicaraan kau menanyakan hal ini, aku mengangguk. Kau tersenyum lagi lebih lebar satu senti dari menit-menit sebelum ini. Tanpa kau sadar, kau menularkannya kepadaku. Dan ternyata, alasan untuk melengkungkan senyum bisa semudah ini.




Kepada kau yang sudah lebih cerdas dari sebelum ini, kumohon jangan bodoh lagi, jangan mau menjadi yang terlalu baik. Sesekali jadilah jahat, egois mementingkan kesehatan hatimu sah-sah saja, kurasa. 

Tidak semua orang harus kau buat bahagia, kau tak memiliki banyak tenaga untuk itu. Namun kau selalu memiliki kekuatan untuk membahagiakan dirimu sendiri. Sampai kapan pun. 

Setelah ini, bertahanlah dengan seseorang yang menginginkanmu bertahan juga. Setelah ini, perjuangkan ia yang ingin memerjuangkanmu. Cintai ia yang sukarela mencintaimu. Bersamalah dengan ia yang ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu juga. 

Jangan melakukannya sendiri, aku tak mau kau kelelahan dan merasakan sakit seperti ini lagi. 

Selamat berbahagia!




Sahabatmu,

Aku.