wanita indonesia

For all people in the world, who curious about meehhh.
Hellawwww…
Nama gue Nimas, pemilik resmi akun glazynimsky.tumblr.com (inget, gue pemilik aslinya)
Alhamdulillah wanita, kelahiran 21 tahun lalu di desa terpencil di ujung utara Provinsi Lampung. Punya kehidupan di Kota Batam sejak usia 3 bulan sebelum akhirnya merantau ke Kota Semarang pada usia 18 tahun. 
Kulitnya sawo mateng cenderung gelap dan belang, punya banyak strecth mark, bekas luka, wajahnya bulat dengan pipi besar, tapi tetep manis *eh

Pecinta drama korea dan Oppa-oppa ganteng (yang kini udah jadi ahjussi kebanyakan) sejak masih duduk di kelas 5 SD. 
Terbuai mati sama Kahitna sejak dirahim mama, dan Yovie n Nuno sejak nonton FTV.
Pecandu Harry Potter sejak baca novel yang pertama, dan pengagum Rupert Alexander Lloyd Grint garis keras!
Cita-cita pengen nontonin Kenny G duet bareng Peabo Bryson (or mereka sendiri juga ngga papa deh).
London destinasi utama sepanjang sejarah, kemudian disusul New York dan Seoul. 
Pengen punya karir yang isinya nulisssssssssssssssss!
Suka baca dari jaman ga bisa baca (trus gimana lo bacanya?), suka nulis semenjak dipaksa mama.

Mencintai Tumblr sejak pertama kali membuatnya, untuk manusia yang sudah kenal lama dengan gue pasti paham betapa cintanya gue dengan wadah menulis ini. 
Bagi gue Tumblr bukan hanya tempat gue nulis dan curhat (emang banyakan sih gitu), tapi maknanya lebih. Gue bukan tipe orang yang gampang bacot di sosmed, tapi ga ngerti kenapa gue lega aja kalo udah bacot di Tumblr (bedanya apa nim?).

Semoga ga penasaran lagi ya sama gue yang tak seberapa ini (wajahnya), tapi hatinya bak Aurora. 

Oh iya, gue mahasiswi tingkat akhir yang lagi lari ngejar sidang akhir.

Salam cantik 
Nimas di kamar kosan

PAHLAWAN WANITA BERKERUDUNG SYAR'I YANG TERLUPAKAN.

“Kartini” yang tidak pernah dimunculkan profilnya. Pengaruhnya dalam dunia pendidikan begitu nyata. Bahkan sekaliber Al-Azhar Mesir pun terinpirasi dari tindakan beliau. Dan, point yang tidak kalah penting, pakaian anggun dengan kerudung yang menutup dada itu sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka.. Allahu Akbar..

Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (1900-1969) adalah salah satu pahlawan wanita milik bangsa Indonesia, yang dengan hijab syar'i-nya tak membatasi segala aktifitas dan semangat perjuangannya.

Rahmah, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru, pejuang pendidikan, pendiri sekolah Islam wanita pertama di Indonesia, aktifis kemanusiaan, anggota parlemen wanita RI, dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika Rahmah bersekolah, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, menjadikan perempuan tidak bebas dalam mengutarakan pendapat dan menggunakan haknya dalam belajar. Ia mengamati banyak masalah perempuan terutama dalam perspektif fiqih tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki, sementara murid perempuan enggan bertanya. Kemudian Rahmah mempelajari fiqih lebih dalam kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi, dan tercatat sebagai murid-perempuan pertama yang ikut belajar fiqih, sebagaimana dicatat oleh Hamka.

Setelah itu, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Lil Banaat (Perguruan Diniyah Putri) di Padang Panjang sebagai sekolah agama Islam khusus wanita pertama di Indonesia. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tekadnya, “Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?”

Rahmah meluaskan penguasaannya dalam beberapa ilmu terapan agar dapat diajarkan pada murid-muridnya. Ia belajar bertenun tradisional, juga secara privat mempelajari olahraga dan senam dengan seorang guru asal Belanda. Selain itu, ia mengikuti kursus kebidanan di beberapa rumah sakit dibimbing beberapa bidan dan dokter hingga mendapat izin membuka praktek sendiri.
Berbagai ilmu lainnya seperti ilmu hayat dan ilmu alam ia pelajari sendiri dari buku. Penguasaan Rahmah dalam berbagai ilmu ini yang ia terapkan di Diniyah Putri dan dilimpahkan semua ilmunya itu kepada murid-murid perempuannya.

Pada 1926, Rahmah juga membuka program pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu rumah tangga yang belum sempat mengenyam pendidikan dan dikenal dengan nama Sekolah Menyesal.

Selama pemerintahan kolonial Belanda, Rahmah menghindari aktifitas di jalur politik untuk melindungi kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Ia memilih tidak bekerja sama dengan pemerintah penjajah. Ketika Belanda menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri didaftarkan sebagai lembaga pendidikan terdaftar agar dapat menerima subsidi dari pemerintah, Rahmah menolak, mengungkapkan bahwa Diniyah Putri adalah sekolah milik ummat, dibiayai oleh ummat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah. Menurutnya, subsidi dari pemerintah akan mengakibatkan keleluasaan pemerintah dalam memengaruhi pengelolaan Diniyah Putri.

Kiprah Rahmah di jalur pendidikan membuatnya mendapatkan perhatian luas. Ia duduk dalam kepengurusan Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Pada 1935, ia diundang mengikuti Kongres Perempuan Indonesia di Batavia. Dalam kongres, ia memperjuangkan hijab sebagai kewajiban bagi muslimah dalam menutup aurat ke dalam kebudayaan Indonesia.
Pada April 1940, Rahmah menghadiri undangan Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh. Ia dipandang oleh ulama-ulama Aceh sebagai ulama perempuan terkemuka di Sumatera.

Kedatangan tentara Jepang di Minangkabau pada Maret 1942 membawa berbagai perubahan dalam pemerintahan dan mengurangi kualitas hidup penduduk non-Jepang. Selama pendudukan Jepang, Rahmah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi perang, Rahmah bersama para ADI mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi penduduk yang kekurangan. Ia memotivasi penduduk yang masih bisa makan untuk menyisihkan beras segenggam setiap kali memasak untuk dibagikan bagi penduduk yang kekurangan makanan. Kepada murid-muridnya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada pada Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk penduduk.
Selain itu, Rahmah bersama para anggota ADI menentang pengerahan perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur untuk tentara Jepang. Tuntutan ini dipenuhi oleh pemerintah Jepang dan tempat prostitusi di kota-kota Sumatera Barat berhasil ditutup.

Terimbas oleh Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang terjun ke politik lebih dahulu, dan dengan kondisi Indonesia yang semakin terpuruk oleh penjajah Jepang, akhirnya Rahmah terjun ke dunia politik. Ia bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Hahanokai di Padang Panjang untuk membantu perjuangan perwira yang terhimpun dalam Giyugun (semacam tentara PETA).

Seiring memuncaknya ketegangan di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya. Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 1944 dan 1945 di Padang Panjang, Rahmah menjadikan bangunan sekolah Diniyah Putri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan.
Hal ini membuat Diniyah Putri mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Jepang. Menjelang berakhirnya pendudukan, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei dan Rahmah duduk sebagai anggota peninjau.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah mendapatkan berita tentang proklamasi kemerdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In, Muhammad Sjafei, Rahmah segera mengibarkan bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Putri. Ia tercatat sebagai orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di sekolahnya menjalar ke seluruh pelosok daerah.

Ketika Komite Nasional Indonesia terbentuk sebagai hasil sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 22 Agustus 1945, Soekarno yang melihat kiprah Rahmah mengangkatnya sebagai salah seorang anggota.

Pada 5 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan dekrit pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pada 12 Oktober 1945, Rahmah memelopori berdirinya TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia memanggil dan mengumpulkan bekas anggota Giyugun, mengusahakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari harta yang dimilikinya. Bersama dengan bekas anggota Hahanokai, Rahmah mengatur dapur umum di kompleks perguran Diniyah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi yang dibentuk di Padang Panjang.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda kedua, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Rahmah meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan mendekam di tahanan wanita di Padang Panjang. Setelah tujuh hari, ia dibawa ke Padang dan ditahan di sebuah rumah pegawai kepolisian Belanda berkebangsaan Indonesia. Ia melewatkan 3 bulan di Padang sebagai tahanan rumah, sebelum diringankan sebagai tahanan kota selama 5 bulan berikutnya.

Pada Oktober 1949, Rahmah meninggalkan Kota Padang untuk menghadiri undangan Kongres Pendidikan Indonesia di Yogyakarta. Ia baru kembali ke Padang Panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada akhir 1949. Rahmah bergabung dengan Partai Islam Masyumi. Dalam pemilu 1955, ia terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Sumatera Tengah. Melalui Konstituante, ia membawa aspirasinya akan pendidikan dan pelajaran agama Islam.

Pada 1956, Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir, Abdurrahman Taj, berkunjung ke Indonesia dan atas ajakan Muhammad Natsir, berkunjung untuk melihat keberadaan Diniyah Putri. Imam Besar tersebut mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Putri, sementara Universitas Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan.

Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Usai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir memenuhi undangan Imam Besar Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, Rahmah mendapat gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar, dimana untuk kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan itu pada perempuan.

Hamka mencatat, Diniyah Putri mempengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kuliyah Qismul Banaat (kampus khusus wanita) di Universitas Al-Azhar. Sejak saat itu Universitas Al-Azhar yang berumur 11 abad membuka kampus khusus wanita, yang diinspirasi dari Diniyah Putri di Indonesia yang baru seumur jagung.

Sebelum kepulangannya ke Indonesia, Rahmah mengunjungi Syria, Lebanon, Jordan, dan Iraq atas undangan para pemimpin negara tersebut.

Sekembalinya dari kunjungan ke berbagai negara di Timur Tengah, Rahmah merasa bahwa Soekarno telah terbawa arus kuat PKI. Ia merasa tidak nyaman berjuang di Jakarta, kemudian memilih kembali pulang ke Padang Panjang. Rahmah melihat bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruannya akan lebih bermanfaat daripada duduk di kursi parlemen sebagai anggota DPR yang sudah dikuasai komunis. Ketika terjadi PRRI di Sumatera Tengah akhir 1958, akibat ketidaksetujuan atas sepak terjang Soekarno, Rahmah ikut bergerilya di tengah rimba bersama tokoh-tokoh PRRI dan rakyat yang mendukungnya.

Pada 1964, ia menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Sejak itu hingga akhir hayatnya, hidupnya didedikasikan kembali sepenuhnya untuk Diniyah Putri.

Tampak pada foto, pahlawan ini mengenakan hijab syar'i dan baju kurung basiba dengan cara yang anggun, elegan dan modern yang menampakkan kecerdasannya dan kemajuannya dalam berpikir.

(LuLu Basmah - diringkas dari berbagai sumber)

PENA KITAJABODETABEK

Tak Sekadar Jelita, Ia Malaikat Pertiwi.

@about-lastparadise

Pengekangan, pengintimidasian, perjuangan, perlawanan, perubahan, persamaan.

@tadaruscinta

Mawar pengharum bangsa bukan penghias semata. Salah satu pembebas feodalisme di Jawa. Dipingit. Menulis “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dengan kata, dengan surat, ia berjuang. Menanggalkan gelar ningrat, menepi pada jelata. Pendekar bangsa berhati mulia harum namanya. Peduli masa depan perempuan itulah harapnya. Kartini; perempuan kuat pembangun peradaban bangsa. Kokoh dalam pemikiran, teguh dalam berjuang. Karena juangnya, wanita dapat mengecap pendidikan. Wanita hebat pemerhati pendidikan rakyat jelata. Pejuang bangsa, pencatat sejarah wanita Indonesia.

@menatapmu, @meeeong, @coretanpensilmaya, @asqinajah, @filosofihujan, @sitimasruroh, @syifareillita, @fnibrass, @dyananggra, @tandatanya, @anagramrasa, @waroengkopi

21 April; pelopor kesetaraan derajat wanita. Mendobrak patriarki, demi kesetaraan wanita sejati. Menuntut ilmu juga merupakan hak perempuan. Emansipasi, pendidikan tinggi dan cantik hati. Simbol wanita kuat, tanpa melupakan kodrat. Perjuangan emansipasi dan persamaan hak perempuan. Wanita punya andil dalam membangun bangsa. Emansipasi seperti ‘habis gelap terbitlah terang’. Bahasa yang indah,pembawa cita-cita. Wanita menginspirasi dalam cerdasnya yang memesona. Terima kasih untukmu, lentera perempuan bangsa.

@pengenangmasalalu, @indiraauliaputri, @bebraveyou, @oktaviavhe, @jejakmilkyway, @dialogdiberanda, @mehmetfath, @lestarifebrin, @yoga-dorayaki, @arsanitaa, @ariqyraihan.

Perempuan tangguh harus bisa melawan kejahatan. Melawan dengan perdamaian, simbol dari pergerakan. Karena emansipasi; pejuang tak melulu laki-laki. Wanita kuat harus cerdas dan pemberani. Karenanya harkat, martabat perempuan Indonesia terangkat. Wanita ningrat pejuang pendidikan, demi bangsa. Kartini sejati tak akan pernah mati. Wanita masa kini, harapannya saat ini. Layakkah kita disebut Kartini masa kini?

@hismarliansyah, @tequilaice, @gincumerah @ksatriaputih, @fajrinaananda, @sketsarindu, @katimut, @reinkarnasikata, @obatpenenang.

Perempuan yang tak mau dipandang lemah. Sosok wanita sangatlah mulia dan berharga.

@sukadiam, @salfarisibasyir

Karena aku perempuan. Jadi, terima kasih.

@reshaaceritaa

Seseorang harus berbagi tanggal lahirnya dengan tanggal kepergian seseorang lainnya. Tulisan ini, kami persembahkan kepada dua yang berbagi ironi indah. Biarkan kami memelukmu melalui setiap eja, setiap jeda, Kawan. Dua yang indah, dua yang menghebatkan, dua yang perempuan. Tetaplah tegar, genggam tangan kami demi meredam getar.

Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia sekaligus Turut Berduka Cita atas berpulangnya ibunda dari @semangkukasle a.k.a A. Saifudin. Semoga almarhumah diberikan tempat terindah; Surga-Nya. Aamiin

Pict. by : @reshaaceritaa a.k.a Resha Mediana

Editor by : Annisa Fitrianda Putri

cc: @tumbloggerkita

CeritaJika #58 : Jika Istrimu Seorang Melayu

Soal bahasa bukan masalah utama kita. Kerna kita berkongsi banyak diksi dan aksara yang sama. Nahu dan sorof yang hampir sama. Meski terbit salah fahaman, tapi kita tetap bisa berkomunikasi sebaiknya.
Tidakkah kamu rasa, perbezaan dan kesalah fahaman lah yang mengikat kuat perasaan dan hubungan kita? Kalau aku tidak mengerti maksud mu, aku bertanya memohon pencerahan begitu juga sebaliknya. Soal bahasa juga sudah banyak boleh dibahaskan, apatah lagi soal yang lainnya. Kan?

Jika istrimu seorang Melayu, jangan dirisau akan makan dan pakai minum mu. Makanan mu sangat digemari oleh orang Melayu. Aku juga suka tempe, kalau itu boleh menguatkan kepercayaan mu mengenai soal makanan ini. Kita boleh bertukar selera. Aku jadi wanita terhormat Indonesia, kamu jadi laki laki Melayu terakhir. Saling berbagi rasa. Saling melengkapi.

Dalam banyak perbedaan, ada persamaan. Banyak sekali. Dalam bahasa Melayu, aku menyebut perbezaan, tapi jikalau kamu menyebut perbedaan pun, aku turut faham. Lupa. Aku ini peminat bahasa Indonesia. Lebih asik. Lebih basah, bak kata orang orang di sini. Aku tak punya kamus Indonesia. Cuma memahami bahasamu dari pembacaan dan pemerhatian komentar di laman sosial. Tidak ada alasan untuk tidak memahami bahasa indahmu. Kerna aku suka. Suka banget!

Nah, aku lagian menulis ini dalam bahasamu. Bertungkus lumus untuk tidak bunyi terlalu Melayu. Sebagai seorang istri, aku harus menghormati mu, dan bertutur dalam bahasa mu, salah satu manifestasi penghormatan ku buatmu.

Soal yang lainnya, ga perlu dibahas panjang. Kerna kita serumpun. Ga ada banyak yang boleh jadi penghalang. Jangan khuatir. Keluarga ku senang aja dengan orang bukan Melayu. Buktinya, kakak iparku sendiri datangnya dari Morocco. Lebih jauh dari tempat mu!

Asal agama mu dan agama ku baik baik aja, aku ok je!

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Pengirim :
Majidah Ali
Mahasiswi IIUM, Malaysia - Penyuka bahasa Indonesia.

#‎Tertipu‬ Oleh Kepintaran#
Ada Kisah seorang ikhwah..


Yang amat mencintai istrinya. .
Namun istrinya tak mencintainya. .
Ia mengharapkan lelaki lain. .
Yang lebih darinya. .

Wanita itu telah pandai Bahasa Arab. .
Sementara suaminya. .
Hanya memahami Bahasa Indonesia. .

Wanita itu telah lama mengaji. .
Sementara suaminya. .
Sibuk membanting tulang mencari nafkah. .
Tuk membahagiakan kekasihnya. .

Wanita itu telah banyak menghafal al-Qur'an. .
Sementara suaminya tak banyak bisa menghafal. .

Mungkin. .
Kini suaminya sudah tak berharga di matanya. .
Mungkin. .
Kini cintanya telah pudar di hatinya. .
Karena tak sesuai harapannya. .

Demikianlah. .
Kisah cinta yang bertepuk sebelah. .
Karena istrinya tertipu oleh kepintarannya. .

Ilmu tak membuatnya semakin sayang pada suaminya. .
Ilmu tak membuatnya semakin berbakti kepada suaminya. .

Ilmu membuatnya angkuh. .
Tak ada lagi cinta dihatiku, kilahnya. .

Saudariku. .
Engkau boleh lebih berilmu dari suamimu. .
Tapi mungkin suamimu lebih takut kepada Allah darimu. .

Engkau boleh punya banyak kelebihan di atas suamimu. .
Tapi, suamimu. .
Mungkin lebih dicintai oleh Robbmu karena ketawadhu'annya. .

Al Hasan Al Bashri rohimahullaah berkata. .
Ilmu itu bukanlah dengan banyak menghafal riwayat. .
Namun ilmu adalah yang menimbulkan rasa takut kepada Allah. .

Dimanakah hadits yang telah engkau hafal,
“Suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu..”

Ya Robb. .
Berilah kami ilmu yang bermanfaat…

Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.