wahyu

~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸

Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya .


Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.


Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.


Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.


Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an.


Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.


Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.


~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸


jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.


Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu.


Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah Imam Ahmad .


~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸


Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya .
Seperti Ummu Habibah .
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya .


Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya :


“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam ! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu .
Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu . Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya . Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin !”.


Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i .


~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸


Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman .


Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu .


“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak .


“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan .


Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani .


Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.


~ Jika suatu saat nanti kau jadi ibu 🌸


Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses .
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu .
Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu .


Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri .
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor .
Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia .


Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999


Semoga terinspirasi…


✍🏻 WA BIS ( Belajar Ilmu Syar'I Akhwat )

🍂🍃Untuk para ibu dan calon ibu

Sekilas Al-Muzzammil

“Tau ga, Al-Muzzammil ceritanya ngebahas apa?”
“tahajuuud”
“trus?”
“tilawah dengan tartil”
“trus?”


Disini orang-orang uda mulai bingung,..

 “Trus?”

Hening,..
 “Surat Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir secara tersirat menceritakan tentang kehidupan rumah tangga Rasulullah"


Orang-orang tambah bengong. Dimananyaaaaa???
 Tadi seru, ustad Hanan ngebahas sisi lain dari surat Al-Muzzammil yaitu peran seorang istri dalam rumah tangga. Ketika pertama kali dapat wahyu, Nabi takut dan bingung, trus lari dari Jibril yang bungkeleukan di pojok langit. Seorang Nabi lari terbirit.

Lari kemana?
Ke rumah, ke kamarnya, mencari ketenangan.
Gimana caranya?

 “Selimuti aku….”

Sama hal nya ketika Nabi stress, galau dan putus asa ketika didustakan kaumnya. Nabi pulang dalam kondisi sedih, ke kamarnya, mencari ketenangan. 

Zammilunii,…


 “Selimuti aku….” 


Nah, kebanyakan orang ga pernah ngasi perhatian lebih di bagian ini. Siapakah yang menyelimuti Nabi ?

Istrinya, Khadijah,.. 


Litaskunu ilaih,.
Agar dirimu merasa tentram kepadanya.


Ini hakikat pernikahan, agar jiwa lelaki bisa tenang, tentram. Kebayang dong dalam kondisi bingung dan takut, yang di cari tuh ternyata bukan pemuka adat atau bodyguard, tapi pelukan istri. Dan betul, itu ternyata yang paling menenangkan. 

Surat-surat pertama yang turun secara tersirat menceritakan peran Khadijah dalam proses dakwah Nabi Muhammad. Gimana seorang Khadijah ada dan menentramkan. 

“Selimuti aku….”


Menurut para ulama, salah satu amalan yang besar pahalanya bagi seorang istri adalah menunggu suaminya pulang kerumah. Menyambut dengan wajah cerah, menghilangkan penat suaminya, ngilangin semua stress suami setelah seharian berada di luar rumah. Litaskunu ilaih, agar suaminya merasa tentram.

Ga main-main ini pahalanya. Khadijah adalah contoh figur sukses seorang istri yang dengan semua yang beliau punya bisa menentramkan hati suaminya. Pernah denger kan kalo Khadijah dapat salam dari Allah?, trus disampaikannya lewat Jibril pula, ngeriiik. 

Vital banget itu peran seorang istri dalam berumah tangga. Karena ketenangan yang paling the best buat seorang lelaki adalah berada dipelukan istrinya. Tenaaang rasanya (cenah, kata yang udah nikah :( ) 


Oooh, gitu 

Disini orang-orang mulai manggut-manggut.
Tapi ternyata, untuk orang –orang yang shaleh.. ada yang lebih menenangkan dari berada di pelukan istri. 

Qumil laila illa qaliil
 Shalatlah pada malam hari, meskipun sebentar. (Al – Muzzammil ayat dua)
 

Iya,
ternyata nabi ketika uda mulai tenang dalam pelukan Khadijah, pas uda epos-eposnya malah disuruh bangun. Disuruh tahajud :(

Kebayang lah, lagi nyaman-nyamannya sama istri cantik nan shalehah, pinter dan mempesona macem Khadijah eh malah disuruh bangun.
Tapi emang begitulah aturan mainnya.
Istri tuh berperan untuk menentramkan gelisah dan beban pikiran suaminya. Tapii, ga bisa ngasi solusi. Tenang sih tenang, tapi masalahnya ga beres. 

Disini Allah turun tangan…

Sok bangun, shalat.
Sok nyerita, kamu butuh apa?
 Allah nanti yang ngejawab semua doa, yang ngasi solusi dari semua masalah.

So sweet bangetlah itu.

“Kenikmatan shalat malam itu lebih-lebih dari kenikmatan bareng sama istri bagi orang yang Shaleh. Coba nanti bandingin sendiri”

Jemaah langsung pada manyun.

“yaelah, bandingin gimana, punya istri aja beloom”
“Makanya nikah, hahaha”

 Adalah sejam tadi ceramah, cuma bahas dua ayat. Katanya ntar bakalan lebih banyak materi soal shalat malam dan seluk beluknya ketika itikaf di sepuluh hari terakhir.
Seruu! Btw, sekarang uda hari ke-18, :(

Uda mau udahannya aja Ramadhannya

Nasihat-Nasihat Komitmen dengan Al-Qur'an

Nasihat dari Ustadz Abdul Aziz AR :

1. Sebaik baiknya liqo adalah ketika hadir bertambah keimanan, bertambah rindunya kepada Allah dan bertambah prestasinya.

2. Jangan sampai sekedar hadir liqo menjadi prestasi.

3. Kader dakwah bisa menjadi ruhul jadid bagi dakwah jika Al Quran akrab dengan mereka.

4. Jangan ada dalam pikiran kita bahwa Al Quran adalah penghalang aktifitas kita.

5. Jangan malas menghafal Quran karena usia.

6.Lihat Surah Azzumar 23 tentang manhaj interaksi dengan Al Quran yang benar.

7. Luaskanlah hati kita untuk menerima Al Quran, yaitu senang ketika membacanya , bahkan baru membayangkan membaca Al Quran, ia sudah merasa senang.

القرآن مأدوبة اللّٰه"Al Quran adalah hidangan Allah “

8. Tidak akan bisa berinteraksi dengan Al Quran kecuali mereka yang berusaha membersihkan hatinya.

9. Jangan duakan Al Quran, yaitu membaca Al Quran sambil melihat gadget.

10. Berinteraksi dengan Al Quran yang benar adalah meyakininya bahwa membacanya mendatangkan keutamaan.

11. Manusia yang bersama Al Quran hampir hampir menandingi kenabian ,hanya wahyu tidak diturunkan kepada nya ( Alhadist ).

12. Berinteraksi dengan Al Quran adalah terus membacanya setiap hari.

13. Jangan karena sudah membaca Al Quran 10 juz hari itu, lalu tidak membaca di 
hari yang lain, karena 10 juz itu jatah hari tersebut dan hari yang lain mempunyai jatah juga.

14. Waktu membaca Al Quran itu harus definitif, jika kita menunggu waktu kosong untuk membaca Al Quran ,maka kita tidak akan mendapatkannya.

15. Adukanlah surat surat yang sulit kita hafal, kepada Allah, maka Allah akan 
memudahkannya.

16. Al Quran adalah ahsanal hadist ( perkataan terbaik ), hadist nabi saw tingkatannya hanya hasan ,sedangkan perkataan yang lainnya di bawah itu.

17. Kita sering takjub dengan ciptaan-Nya, namun kita jarang takjub dengan perkataanNya.

18. Siapa yang sering berhubungan dengan perkataan yang terbaik, maka ia akan menjadi manusia yang terbaik.

19. Al Quran itu mudah dihafal karena banyak kata yang sama dan diulang.

Kalau kita sudah hafal "fa bi ayyi alai rabbikuma tukadziban ” dalam surah ar-rahhman ,maka ayat yang lain di mana redaksinya sama itu sudah hafal secara otomatis.

Berinteraksi dengan Al Quran itu harus berulang ulang.

20. Orang yang membaca seratus kali sebuah surah, dan ia belum hafal, maka ia tetap mulia , dibandingkan orang yang hanya membaca tiga kali lalu langsung hafal , karena tujuannya adalah berulang ulang bersama Al Quran bukan hanya sekedar mendemostrasikan kekuatan hafalannya.

21. Siapa yang sudah hafal juz 30 ,maka ia sudah punya hidayah untuk menghafal juz 29 , dan seterusnya.

22. Jangan remehkan ketidakhadiran kita bersama ikhwah.

23. Mungkinkah rizqi kita berkurang ,karir kita menurun ketika bersama Allah dengan berinteraksi melalui firman-Nya ?

24. Tidaklah kita jauh dengan Al Quran kecuali ketika itu kita jauh dengan Allah.

25. Jangan menolak kebaikan untuk mempertahankan kebaikan yang lain.

26. Jangan membenturkan satu amalan dengan amalan yang lain , karena manusia itu mampu melakukan berbagai macam aktivitas dalam satu waktu.

27 .Siapa yang lelah untuk Allah di dunia ini maka Allah akan mencukupkan lelahnya di akhirat.

Siapa yang tidak mau lelah di dunia untuk taat kepada Allah ,maka ia akan merasakan lelah di akhirat .

Selamat Menikmati hari terakhir bulan Dzulhijjah, memperbaiki diri untuk tahun baru Hijriyah1 Muharrom 1438H dan seterusnya.

#kaum yg dirindukan

Setelah selesai menjalankan ibadah sholat subuh, Rasulullah duduk dengan para jamaahnya di masjid. Kemudian Rasulullah bertanya kepada para jamaahnya. “Siapakah orang yang paling menakjubkan imannya?”. salah satu orang dalam jamaah menjawab “malaikat”.

Rasul pun berkata “Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Allah?”. Berarti, jawaban salah satu sahabat tersebut tidak benar. Tentu saja malaikat beriman, karena mereka bertugas sebagai pelaksana perintah Allah.

Kemudian sahabat lain menjawab “Para nabi!”

Rasul pun berkata “bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari Allah di turunkan kepada mereka?”

“Kalau begitu, sahabat-sabahat Mu, ya Rasulullah”, jawab sahabat

Rasul pun berkata lagi, “bagimana mereka tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan mukjizatku, hidup bersamaku, mengenal dan melihatku dengan mata kepala mereka sendiri?”

Sahabat pun bertanya lagi, “jadi siapa makhluk Allah yang imannya paling menakjubakan, ya Rasulullah?”

Rasulullah pun menjawab “Kaum yang hidup sesudah kalian,”. Maksudnya adalah umat yang lahir setelah para sahabat rasul sudah tidak hidup lagi atau manusia yang hidup pada masa yang akan datang. “Mereka membenarkan aku, padahal mereka tidak pernah menyaksikan aku. Mereka menemukan tulisan dan beriman. Mereka mengamalkan apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membelaku, seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku bertemu dengan mereka!”

#layakkah kita dirindukan???

Kecerdasan Ibu

Q: Apakah benar kecerdasan seorang anak itu menurun dari ibu?

A: Menurut sepengetahuan kami (kelompok presentan), kecerdasan menurun dari ibu itu bisa saja dan mungkin benar. Tapi faktor-faktor selain genetis seperti asupan gizi dan nutrisi, pola asuh, juga lingkungan sangat mempengaruhi kecerdasan anak. Terima kasih.

Salah satu sesi tanya jawab dari presentasi Genetika Manusia mata kuliah Biomedik, Ekstensi FKM UI hari Senin lalu. Membahas genetika manusia seru syekali dan tidak pernah bosan untuk takjub dengan kerja mesin DNA manusia juga kromosom dan berjuta komponen yang terlibat di dalamnya. Kadang masih terheran-heran sama manusia yang masih nggak percaya Tuhan. Sebab kalo bukan Tuhan, maka siapa lagi Yang Maha Besar yang mampu menciptakan kehidupan manusia dari sebuah sel menjadi organ kompleks yang bergerak dan menjadi kita hari ini. Semakin berilmu seharusnya kita semakin beragama, that’s so true. Ilmu dan agama sesungguhnya berjalan beriringan. Ya khan.

Selesai presentasi, dosen pengganti kami, Pak Wahyu, menerangkan kembali soal pertanyaan tadi. Kecerdasan manusia itu terkait dengan kromosom X yang diturunkan dari ibu.

“Saya sepakat dengan kelompok presentan, bahwa kecerdasan menurun dari ibu sangat mungkin dan bisa saja benar adanya. Apalagi hasil-hasil penelitian semakin hari semakin membuktikan hal tersebut. Yaa katakanlah kecerdasan menurun dari ibu, uang jajan menurun dari ayah..”

“HAHAHA” (tawa jamaah)

Plis pak penjelasannya bagus tapi kenapa jadi komedi :”)

Berbagai penelitian telah mengkaji manfaat pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif dalam hal menurunkan mortalitas bayi, menurunkan morbiditas bayi, mengoptimalkan pertumbuhan bayi, membantu perkembangan kecerdasan anak, dan membantu memperpanjang jarak kehamilan bagi ibu.

Kajian Implentasi Dan Kebijakan Air Susu Ibu Eksklusif Dan Inisiasi Menyusu Dini Di Indonesia. Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq. Makara, Jurnal Kesehatan, Vol. 14, No. 1, Juni 2010: 17-24.

Jadi seperti sabda pak Wahyu, “kalau ada ibu yang tidak cumlaude dan bukan anak UI, nggak berarti anaknya juga akan bernasib sama seperti ibunya. Gen ibu mungkin saja menyumbang kecerdasan, tapi stimulasi dan nutrisi adalah hal yang sangat penting untuk membangun kecerdasan anak.”

Kadang banyak ibu yang kurang paham pentingnya ASI. Ada juga yang nggak ngASI karna katanya ASInya nggak keluar. Ibu-ibu masa kini banyak yang tergiur iklan susu formula biar anaknya cerdas. Padahal cerdas bukan dari susu formula. ASI itu bisa diusahakan lho. Ibu yang ngadopsi anak aja ASInya bisa keluar padahal nggak mengandung. KOK BISA? // Bisaa! Itu karna hormon oksitosinnya bekerja. Kenapa ASI penting, karna 1000 hari pertama di masa awal kehidupan adalah masa emas untuk membentuk kecerdasan itu. Dan faktor-faktor lain selain ASI seperti pola asuh, faktor lingkungan, juga makanan harus diperhatiin betul.

Untuk jadi ibu yang cerdas dan kelak melahirkan generasi cerdas harus siap-siap dari sekarang. Noted. Bukan pas setelah nikah dan sebelum hamil aja. Tapi anyway selalu ngerasa: ih ngomong mah gampang, pelaksanaannya gimana? :”””)) Semoga bisa! Ibu cerdas pasti bisaa! HEHE.


Semangat ibu dan calon ibu!

Depok, 20 September 2016

berpikir itu berbeda dengan berakal. berpikir letaknya di kepala. berakal letaknya di kalbu. berpikir ukurannya logika manusia. berakal ukurannya wahyu Allah.
—  Ustad Rasil.
tidakkah pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal?
KEKASIH ALLAH DIKALANGAN ORANG BERDOSA

Terdapat seorang lelaki pada zaman Nabi Musa ‘alaihissalam yang meninggal dunia. Orang ramai tidak mahu menguruskan jenazahnya kerana kefasikan lelaki ini. Mereka kemudiannya membuang jenazahnya ke sebuah tempat yang kotor dan busuk. Allah Subhanahu Wa Taala kemudiannya memberikan wahyu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Allah berfirman: “Wahai Musa, seorang lelaki telah meninggal dunia, tetapi orang-orang telah mencampakkan jenazahnya di tempat yang kotor, sedangkan dia ialah kekasih (wali) daripada kekasih-Ku, mereka tidak mahu memandikannya, mengkafankannya dan mengebumikan jenazahnya, maka pergilah engkau uruskan jenazahnya.”

Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam pun berangkat ke tempat tersebut. Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya kepada orang-orang: “Beritahulah aku tempatnya.” Mereka pun bersama-sama menuju ke tempat tersebut. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam melihat mayatnya, orang-orang pun bercerita tentang kefasikannya. Lalu Nabi Musa ‘alaihissalam berbisik kepada Tuhan-Nya dengan berkata: “Ya Allah, Engkau memerintahkan aku untuk menguruskan mayatnya, sedangkan orang-orang telah menjadi saksi atas kejahatannya, maka Engkau lebih tahu daripada mereka.”

Kemudian Allah berfirman: “Wahai Musa, benarlah kata-kata kaummu tentang perilaku lelaki ini semasa hidup. Namun, ketika dia menghampiri ajalnya, dia memohon pertolongan dengan tiga perkara, jika semua orang yang berdosa memohon dengannya, pasti Aku akan mengampuninya dirinya demi Allah, Zat yang Maha Mengasihani.” Tanya Nabi Musa: “Ya Allah, apakah tiga perkara itu?”
Allah berfirman: “Ketika dia di ambang kematiannya,

1) Dia Benci Kemaksiatan Dalam Hati
Dia berkata: “Ya Tuhanku, Engkau tahu akan diriku, penuh dengan kemaksiatan, sedangkan aku sangat benci kepada kemaksiatan dalam hati, tetapi jiwaku terkumpul tiga sebab aku melakukan maksiat walaupun aku membencinya dalam hatiku iaitu, hawa nafsuku, teman yang jahat dan Iblis yang laknat. Inilah yang menyebabku terjatuh dalam kemaksiatan, sesungguhnya Engkau lebih tahu daripada apa yang aku ucapkan, maka ampunilah aku.”

2) Mencintai Orang Soleh
Dia berkata: “Ya Allah, Engkau tahu diriku penuh dengan kemaksiatan, dan tempat aku ialah bersama orang fasik, tetapi aku amat mengasihi orang-orang yang soleh walau aku bukan dari kalangan mereka, kezuhudan mereka dan aku lebih suka duduk bersama mereka daripada bersama orang fasik. Aku benci kefasikan walau aku adalah ahli fasik.”

3) Mengharap Rahmat Allah Dan Tidak Berputus Asa
Dia berkata: “Ya Allah, jika dengan meminta untuk dimasukkan ke dalam syurga itu akan mengurangkan kerajaan-Mu, sudah pasti aku tidak akan memintanya, jika bukan Engkau yang mengasihaniku maka siapakah yag akan mengasihaniku?”

Lelaki itu kemudian berkata lagi: “Ya Allah, jika Engkau mengampuni dosa-dosaku bagai buih di pantai, maka bahagialah kekasih-kekasih-Mu, Nabi-Nabi-Mu, manakala syaitan dan Iblis akan merasa susah. Sebaliknya jika Engkau tidak mengampuniku, maka syaitan dan Iblis akan bersorak kegembiraan dan para Nabi-Mu dan kekasih-Mu akan merasa sedih. Oleh itu, ampunilah aku wahai Tuhan Pencipta Sekalian Alam, sesungguhnya Engkau tahu apa yang aku ucapkan.”

Maka, Allah pun berfirman: “Lantas Aku mengasihaninya dan Aku mengampuni segala dosanya, sesungguhnya Aku Maha Mengasihani, khusus bagi orang yang mengakui kesalahan dan dosanya di hadapan-Ku. Hamba ini telah mengakui kesalahannya, maka Aku ampuninya. Wahai Musa, lakukan apa yang Aku perintahkan, sesungguhnya Aku memberi keampunan sebab mulianya orang yang menguruskan jenazahnya dan menghadiri pengebumiannya.”

(Riwayat Wahhab bin Munabbih, Kitab Tawwabin susunan Imam Ibnu Qudamah)

————–
Kisah ini menunjukkan kita tidak boleh sama sekali berputus asa dari rahmat Allah yang amat luas walau apa jua sekali pun. Firman Allah: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (Surah Al-A’raf : 156).
Dan benarlah sabdaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Janganlah kalian merasa kagum dengan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya. Sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya dia meninggal pada saat itu, dia akan masuk ke dalam syurga, namun dia berubah dan beramal dengan amal keburukan.

Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya dia meninggal pada saat itu, dia akan masuk neraka, namun dia berubah dan beramal dengan amal kebaikan.

Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Dia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?” Beliau bersabda: “Memberinya taufik untuk beramal kebaikan, setelah itu Dia mewafatkannya.” (Musnad Ahmad, no. 11768)

Wallahu a’lam bissawab

(ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari)

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Pernyataan atau tingkah laku yang dikeluarkan oleh orang-orang zaman sekarang yang juga telah dinyatakan dalam Al-Qur'an berabad-abad lalu, seperti homoseksual dan tantangan orang-orang musyrik terhadap Allâh SWT, sebenarnya justru menguatkan Al-Qur'an itu sendiri sebagai kitab wahyu yang relevan di tiap zaman. Bukti bahwa Al-Qur'an bukanlah kitab basi dan tidak perlu pembaharuan macam orang liberal bilang. Toh gagasan merekalah yang sebenarnya basi.
Hebatnya Para Ibu



JIKA SUATU SAAT NANTI KAU JADI IBU…


Jadilah seperti Nuwair binti Malik (Radhiyallahu ‘Anha) yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya..

Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun..
Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.

Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.

Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) dengan potensinya yang lain..

Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an..

Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris pencatat wahyu..

Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini:
Zaid bin Tsabit (Radhiyallahu 'Anhu)..

~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..


jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah (Rahimahallah) yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah..

Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu..

Kelak, ia tumbuh menjadi jajaran Ulama Hadits dan Imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah
Imam Ahmad bin Hanbal (Rahimahullah)..

~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..

Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya .
Seperti Ummu Habibah (Rahimahallah)..
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya..

Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya,
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaan-Mu..
Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu.. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya..
Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”..

Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya:
Imam Syafi’i (Rahimahullah)..


~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..

Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya 'Abdurrahman..

Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi Imam Masjidil Haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu..

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak..

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam Masjidil Haram…”,
Sang Ibu tak bosan-bosannya mengingatkan..

Hingga akhirnya 'Abdurrahman benar-benar menjadi Imam Masjidil Haram dan termasuk deretan Ulama berkelas dunia yang disegani..

Kita pasti sering mendengar Murattal-nya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama:
'Abdurrahman As-Sudais (Hafizhahullahu ta'ala)..


~ Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..

Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses..
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu .
Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu..

Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri.
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor .
Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia..

Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999,
Dr. Ahmad Zewail (Hafizhahullahu ta'ala)..

→→→
Maa syaa'aAllaah..

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa min-dzuriyyatinaa Qurrata a'yun waj-'alnaa lil-Muttaqiinaa Imaamaa..

Aamiiin Allaahumma Aamiiin..

Menulis itu pekerjaan hati. Menulis itu bekerja untuk keabadian. Tak mengapa jika tak mau menulis. Tapi jika kau tak “membaca”, tak ingatkah kau pada wahyu pertama Rasulmu?
— 

Membacalah. Carilah ilmu. Bukalah AlQur’an, bukalah buku-buku yang kaya akan ilmu, pengetahuan, serta makna. Begitu banyak harta di sana. Semua hanya soal pilihan, mau atau tidak. 

Jadilah berilmu, kemudian amalkan.
Anak-anakmu pasti bangga.
Orang tuamu pasti bahagia.
Jadilah manfaat, walau sedikit, untuk siapa saja. 

(Fitriyani Syahrir)

Watch on nakindonesia.tumblr.com

Revelation and Reaction to People (Subtitle Indonesia)

Hujan turun dari langit dan memberikan kehidupan di bumi sebagaimana wahyu turun dari langit dan memberikan kehidupan bagi hati…. 

Kau tau, ada 3 macam tanah. Pertama, yang mampu menyerap air, kemudian darinya tumbuh tanaman dan buah-buah sehingga ia memberikan manfaat bagi orang lain. Kedua, dia tidak mampu menyerap air, tapi dia mampu menahannya, sehingga paling tidak dia masih bisa memberikan manfaat bagi orang lain walaupun tidak untuk dirinya. Dan yang ketiga, tanah yang tidak bermanfaat sama sekali. Tidak mampu menyerap air, dan tidak pula bisa menahannya. Itu perumpaan yang sangat sesuai dengan orang yang menerima wahyu…


Video asli diunggah oleh Darul Arqam Studio
Video diterjemahkan oleh NAK Indonesia

Subscribe channel youtube NAKIndonesia: www.youtube.com/user/NAKIndonesia
Follow tumblr NAKIndonesia: http://nakindonesia.tumblr.com
Follow Instagram NAKIndonesia: nakindonesia

Al-Muzzammil [73:5]

Behold, We shall cast upon you a Weighty Word.

That is, “you are being commanded to stand up in the Night Prayer because We are going to send down on you a weighty word, to bear the burden of which you must develop necessary power in yourself, and you can develop this power only by abandoning your ease and comfort of the night and by standing up in the Prayer and passing half the night or thereabout in the worship of your Lord.”

The Qur'an has been called a weighty Word also for the reason that acting on its commands, demonstrating its teaching practically, extending its invitation in the face of the whole world, and bringing about a revolution in the entire system of belief and thought, morals and manners, civilization and social life, according to it, is indeed the weightiest task any human being ever has been charged with.

It has been called a weighty Word also because bearing the burden of its revelation was a difficult and heavy duty. Hadrat Zaid bin Thabit says: “Once Revelation came down upon the Holy Prophet (upon whom be peace) in a state when he was resting his head upon my knee. I felt such a pressure of the weight on my knee that I thought it would break.”

Hadrat `A`ishah says: “I have seen the state of the Holy Prophet’s receiving Revelation during intense cold, drops of perspiration started falling from his forehead.” (Bukhari, Muslim, Malik, Tirmidhi, Nasa'i)

In another tradition Hadrat `A`ishah has stated: “Whenever Revelation came down on the Holy Prophet (upon whom be peace) while he was riding on his she-camel, the she-camel would be forced to rest her chest on the ground and could not move until the Revelation was over.” (Musnad Ahmad. Hakim, Ibn Jarir)

Kisah Nabi SAW Pertama Kali Menerima Wahyu

Telah menceritakan kepada kami Abu ath-Thahir Ahmad bin Amru bin Abdullah bin Amru bin Sarh telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata, telah menceritakan kepada kami Urwah bin az-Zubair bahwa

Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, telah mengabarkan kepadanya bahwa, dia berkata,

“Wahyu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah dalam bentuk mimpi yang benar dalam tidur beliau. Tidaklah beliau mendapati mimpi tersebut melainkan sebagaimana munculnya keheningan fajar subuh, kemudian beliau suka menyepi sendiri.

Beliau biasanya menyepi di gua Hira’. Di sana beliau menghabiskan beberapa malam untuk beribadah kepada Allah sebelum kembali ke rumah. Untuk tujuan tersebut, beliau membawa sedikit perbekalan. (Setelah beberapa hari berada di sana) beliau pulang kepada Khadijah, mengambil perbekalan untuk beberapa malam. Keadaan ini terus berlarut, sehingga beliau dibawakan wahyu ketika beliau berada di gua Hira’.

Wahyu tersebut disampaikan oleh Malaikat Jibril dengan berkata, "Bacalah wahai Muhammad!”

Beliau bersabda, “Aku tidak pandai membaca.”

Rasulullah bersabda, “Lalu malaikat memegang dan memelukku erat-erat, ketika aku merasakan kepayahan ia pun melepasku.”

Kemudian dia berkata, “Bacalah wahai Muhammad!”

Beliau bersabda, “Aku lalu menjawab, 'Aku tidak bisa membaca’.”

Beliau melanjutkan, “Jibril kemudian memegang dan memelukku erat-erat lagi, hingga ketika aku merasakan kepayahan ia pun melepasnya kembali. Kemudian ia berkata, 'Bacalah wahai Muhammad!”

Beliau bersabda, “Aku lalu menjawab, 'Aku tidak pandai membaca’.”

Beliau melanjutkan, “Jibril kembali memegang dan memelukku erat-erat, sehingga ketika aku merasakan kepayahan, ia pun melepaskanku. Kemudian dia membaca firman Allah, ’(Bacalah wahai Muhammad dengan nama Rabbmu yang menciptakan sekalian makhluk. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Rabbmu Yang Maha Pemurah yang mengajar manusia melalui pena. Dia mengajar manusia sesuatu yang tidak diketahui)’ (Qs. Al 'Alaq: 1-5).”

Setelah kejadian itu beliau pulang dalam keadaan ketakutan hingga menemui Khadijah, seraya beliau berkata, “Selimutilah aku! Selimutilah aku.”

Lalu Khadijah memberi beliau selimut hingga hilang rasa gementar dari diri beliau. Beliau kemudian bersabda kepada Khadijah, “Wahai Khadijah! Apakah yang telah terjadi kepadaku?”

Beliau pun menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi. Beliau bersabda lagi, “Aku benar-benar khawatir pada diriku.”

Khadijah terus menghibur beliau dengan berkata, “Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tidak ada, menjamu tamu dan sentiasa membela faktor-faktor kebenaran.”

Khadijah beranjak seketika menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, sepupu Khadijah. Dia pernah menjadi Nashrani pada zaman Jahiliyah. Dia suka menulis dengan tulisan Arab dan cukup banyak menulis kitab Injil dalam tulisan Arab. Ketika itu dia telah tua dan buta.

Khadijah berkata kepadanya, “Paman!

("Paman” adalah panggilan yang biasa digunakan oleh bangsa Arab bagi sepupu dan sebagainya karena menghormati mereka atas dasar lebih tua)

Dengarlah cerita anak saudaramu ini.“

Waraqah bin Naufal berkata, "Wahai anak saudaraku! Apakah yang telah terjadi?”

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan semua peristiwa yang beliau telah alami.

Mendengar peristiwa itu, Waraqah berkata, “Ini adalah undang-undang yang dahulu pernah diturunkan kepada Nabi Musa. Alangkah baik seandainya aku masih muda di saat-saat kamu dibangkitkan menjadi Nabi. Juga alangkah baik kiranya aku masih hidup di saat-saat kamu diusir oleh kaummu.”

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan, “Apakah mereka akan mengusirku?”

Waraqah menjawab, “Ya, tidaklah setiap Nabi yang bangkit membawa tugas sepertimu, melainkan pasti akan dimusuhi. Seandainya aku masih hidup di zamanmu, niscaya aku akan tetap menolong dan membelamu.”

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dia berkata, az-Zuhri berkata, Dan telah mengabarkan kepada kami Urwah dari Aisyah bahwa dia berkata, “Wahyu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah…lalu dia melansirkan hadits seperti hadits Yunus, hanya saja dia berkata, "Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu sedih selamanya.” Dan dia berkata, “Khadijah berjakah, 'Wahai pamanku, dengarkan dari anak saudaramu ini’.” Dan telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Syu'aib bin al-Laits dia berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku dari kakekku dia berkata, telah menceritakan kepada kami Uqail bin Khalid berkata Ibnu Syihab saya mendengar Urwah bin az-Zubair berkata, Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, “Lalu beliau kembali pada Khadijah dalam keadaan hatinya ketakutan, ” lalu menceritakan hadits seperti hadits Yunus dan Ma'mar. Hanya saja dia tidak menyebutkan awal dari hadits keduanya, “Wahyu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pertama kali terjadi adalah mimpi yang benar.” Dan dia mengikuti perkataan Yunus, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya.” Lalu dia menyebutkan perkataan Khadijah, “Wahai pamanku, dengarkan dari anak saudaramu.”


حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ

أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةَ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ فَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ يَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ أُوْلَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى فَجِئَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ أَقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ

{ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ }

فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرْجُفُ بَوَادِرُهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ ثُمَّ قَالَ لِخَدِيجَةَ أَيْ خَدِيجَةُ مَا لِي وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ قَالَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي قَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى وَهُوَ ابْنُ عَمِّ خَدِيجَةَ أَخِي أَبِيهَا وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعَرَبِيَّ وَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعَرَبِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ أَيْ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ قَالَ وَرَقَةُ بْنُ نَوْفَلٍ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَآهُ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا يَا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا حِينَ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ وَرَقَةُ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا

و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ قَالَ قَالَ الزُّهْرِيُّ وَأَخْبَرَنِي عُرْوَةُ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ يُونُسَ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فَوَاللَّهِ لَا يُحْزِنُكَ اللَّهُ أَبَدًا وَقَالَ قَالَتْ خَدِيجَةُ أَيْ ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ و حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلُ بْنُ خَالِدٍ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ سَمِعْتُ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ زَوْجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَجَعَ إِلَى خَدِيجَةَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ وَاقْتَصَّ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ يُونُسَ وَمَعْمَرٍ وَلَمْ يَذْكُرْ أَوَّلَ حَدِيثِهِمَا مِنْ قَوْلِهِ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةُ وَتَابَعَ يُونُسَ عَلَى قَوْلِهِ فَوَاللَّهِ لَا يَخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا وَذَكَرَ قَوْلَ خَدِيجَةَ أَيْ ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ


(Shahih Muslim no. 231)

Unfinished Words Game
  • WARNING! JUST READ THIS POST IF YOU HAVE ENOUGH SPARE TIME : P
  • Me: (berhasil upload video)
  • Rances: Berhasil.. horee..
  • Me: horraaaayy
  • Rances: horraaaayy itu basa sundanya ular
  • Me: itu oray (-_-")
  • Me: lah tapi oray kan bahasa Indonesianya person
  • Rances: orang itu warna merah d campur kuning jdi orang
  • Me: orange orange tempe, beli di badboyz!
  • Rances: beli Oreg Api dlu d warung sbelah badboyz!
  • Me: korek telor makanan khas betawi
  • Rances: klo mules kbelet kerak... hha
  • Me: aduuuuh berak banget nih belanjaannya, bawain dong!
  • Wahyu: berak obama
  • Me: barak api
  • Agung: HAHAHAHAH
  • Me: bau gung
  • Bambang: barak tuh yg ska d pake bwt baso spya awet..
  • Me: borak kan kepala ga ada rambutnya
  • Agung: botaaakk, botak mah,klw kalian nakal gw botaakkk biar mampuss.hahahha
  • Rances: Jitak ya gung.. Jitak-Jitak di dinding, diam-diam merayap...
  • Bambang: cicak ituu... cicak tuh tarian khas daerah bali tari cicak...
  • Elfhat: kecak,,ah mau makan pake kecak ABC
  • Me: kecap tuh alat musik khas sunda
  • Bambang: Sudah sudahh....
  • Dimas: Sudah itu sinonimnya gampang.
  • Elfhat: Mudah sekali harga baju itu
  • Me: Jangan murah-murah dong! Santai aja ngomongnya!
  • Bambang: buktikan marahmu..
  • Agung: meraahhh bajuuu kamejaaaa . . . .
  • Bambang: lagu smash: kau buat ku kerah.
  • Agung: geraaahhh sakti,tak pernah berhenti bertingkah sesuka hati...
  • Bambang: lagu inul: gerah penontoonn, bpak2 ibu2 semuanyaaa....
  • Agung: gera = para , jauh loh bang. parah mah jablayyy tuh? hehhehe
  • Me: notebook banyak pereknya. ada asus, acer, hp
  • Dimas: Ih idung lu merek banget
  • Bambang: kmaren pas ultah si elfat kita pesek k tiang.
  • Me: lampu ajaib digesek biar keluar jinnya
  • Rances: Gosok tuh bergosok tanam...
  • Elfhat: Cocok dicinta ulam tiba
  • Dimas: Bagai pucuk merindukan bulan
  • Bambang: biar cantik pasang pucuk.
  • Agung: ternyata lo tuh tusuk banget siihhh jadi oraanggg
  • Bambang: psen sate bang 10 busuk.
  • Agung: tusuk kan udaahh, aahh lo sering denger busuk - busuk tetangga sih.
  • Me: Ikan tuh banyak bisiknya!
  • Agung: ada sisik,koma,tanda seru,dan lainnya
  • Wahyu: sd titik fatimah sekolahnya dafil
  • Me: pemain bulu tangkis, titim swie king
  • Dimas: lwim yuuuk di ciater
  • Me: operasi bibir swimbing
  • Rances: Lemparrr Sumbing
  • Me: kalo ke subang dari bandung itu lewat lembing
  • Dan mungkin ini belum akan berakhir. Entah sampai kapan. Hhhhh~