vanila coklat

Leona (Part 17)

Tak pernah kujumpai indah yang hina, sehina ini.
Tak pernah.
Aku memohon ampun,
aku tahu aku salah, aku merasakan,
kesalahanku.
Mencintaimu, aku menakut-nakuti diriku sendiri.

Cinta seorang penakut itu ketegaan.
Aku telah memikirkanmu dengan jahatnya.
Takut dibalas, ditinggalkan.

Pernah aku mencoba dengan susah payah,
di hadapan benda-benda mati untuk memberi sedikit
senyum kepada hari-hari yang tanpa kau,
tetapi apa?
Aku gagal.

Sungguh aku manusia yang bukan tanpa cela,tak peduli banyak yang memuji.
Aku berbakat dalam mengecewakan, namun katamu, kamu berbakat dalam memaafkan.
Aku butuh maafmu, dan aku terpuruk.
Kuanggap hanya kehadiranmu yang mampu membangkitkanku, sebab kaulah pemaaf yang kucintai.
Kau!

 

-joshua zani-

 


3 BULAN KEMUDIAN

Yang kesekian kalinya, dari sekian kesalahanku yang ia ketahui, aku dimaafkan. Terbuat dari apa hati Leona, hingga terasa mudah tuk memaafkan? Kurasa, bila dikhianati seperti itu, seharusnya aku menerima sebuah tamparan, atau paling tidak, tak dipercaya lagi. Namun, maaf darinya itu menjelaskan kepadaku satu hal, bahwa cinta selalu lebih besar dari kemarahan, kebencian.

Mengapa Leona tidak marah? Marah itu kan wajar, sebab aku bersalah. Mengapa dia membalas perbuatanku dengan pelukan, bukan dengan tamparan?

Kurasakan, pelukan itu juga hukuman, kepada barangsiapa yang mencintai tetapi juga berbohong. Kurasakan, pelukan yang darinya adalah pelukan yang menyiksa. Semakin erat, semakin aku merasa bersalah. Aku kapok. Tak ingin lagi aku mengulang hal yang sama. Aku ingin menjadi lelaki yang setia, dan tidak ragu-ragu untuk merasa yakin, kalau setia kepada perempuan seperti Leona adalah setia yang tepat. Bagaimana jika aku berpikir sebaliknya? Apakah setia kepadaku adalah setia yang tepat? Aku tidak tahu. Sepertinya hanya orang bodoh yang memilih setia kepadaku. Permasalahannya, Leona sanggup untuk menjadi cukup bodoh demi cinta.

Sekarang, permasalahan lain adalah tinggal antara aku dan diriku sendiri. Leona sudah memaafkanku, tetapi belum tentu aku sanggup memaafkan diriku sendiri. Susah! Semenjak aku berselingkuh, aku menjadi lelaki yang cemburuan dan penuh curiga kepadanya. Kini mencintai seperti sedang dihantui. Aku takut mendapat balasan yang sama, atau lebih. Aku lupa kalau aku telah dimaafkan. Aku takut ditinggalkan, aku ingin sebisanya membuat Leona tidak ke mana-mana, tidak diganggu-ganggu, terkunci.

Sekarang, setiap bertemu Leona, aku selalu ingin mengecek HP-nya. Aku ingin tahu, siapa-siapa saja yang menghubunginya, dengan siapa saja dia ngobrol atau chatting. Aku mengkhawatirkan Nicky, atau cowok-cowok lain yang siapa tau mendekatinya. Dan hal-hal lain.

“Josh, nggak ada apa-apa.” Kata Leona seraya memberikan HP-nya kepadaku.
“Kalo nggak ada apa-apa, yaudah sini lihat..” Kataku.

Iya, aku selalu curiga. Ini rasa takutku, sebenarnya. Aku bagai takut akan karma, takut menuai pengkhianatan yang sebelumnya pernah kubuat. Aku tidak menyadari, bahwa pemikiran ini telah menjadikanku orang yang tidak mengindahkan maaf yang kuterima. Di sisi lain, aku memang belum memaafkan diriku sendiri. Terlalu salah mungkin.

Btw, aku kehilangan pekerjaan. Aku sudah tidak lagi siaran, karena aku diberhentikan. Aku bolos siaran 4 kali, telat siaran berkali-kali. Orang radio sudah lelah dengan sifatku ini, sifat pemalas, tidak bertanggung jawab. Akan tetapi aku tidak merasa telah kehilangan pekerjaan. Aku biasa saja, tidak menyesal. Menurutku, radio itu yang salah, karena kehilangan penyiar sepertiku. Sungguh pemikiran yang angkuh. Kubilang pada Leona, aku memang bosan siaran, dan mau bekerja dengan Yohanes. Padahal bohong saja. Aku cuma tidak mau kelihatan susah, terpuruk. Sementara kuliahku? Aku mengambil cuti. Tak tau pasti di masa depan aku akan jadi apa.

Seusai dia kuliah, Leona datang ke rumahku. Dia mengajakku pergi makan, tetapi kubilang malas. Malas dalam arti sebenarnya. Malas. Malas keluar, malas mandi, malas ngapa-ngapain, ingin di rumah saja. Leona membawakanku rujak, dia tahu aku suka rujak. Di teras rumahku, aku dan dia duduk berdua sambil ngerujak.

“Ih aneh deh kamu, ngerujak cuma sama garem aja.”
“Aku emang suka garem dicabein gitu.”
“Sambelnya kan enak, Josh..”
“Kalo pake sambel, jadi pedes, nggak asin.”
“Ya ini kan garemnya pake cabe.”
“Tetap pedesnya lebih berasa daripada asin.”
“Hihihi, aneh…”
“Eh ini soal selera. Masa’ beda selera dibilang aneh.”
“Iya iya…”
“Kamu suka sambel, tapi aku nggak bilang kamu aneh. Karena kita cuma beda selera.”
“Iya, Josh, iya… ih sensi banget cuma masalah rujak aja ih…”
“Yang bilang aneh duluan, kan kamu..”
“Iya, maksudku aneh aja..”
“Yaudah iya, aku aneh.”
“Ih, Josh, kamu ambekan ya sekarang.. mandi gih, biar fresh pikirannya. Udah siang loh ini..”
“Males. Entar aku mandi, kamu ngajak jalan.”
“Hihihihi.. emang kamu nggak mau keluar? Yuk, makan sushi..”
“Sushi terus.”
“Yaudah apa deh, kamu yang pilih..”
“Aku lagi males, Le.”
“Ih, makanya mandi. Nanti kalo mandi, malesnya ilang.”
“Emang gitu?”
“iya, coba deh…”
“Aku mau mandi, tapi sama kamu.”
“IH JOSH… HAHAHAHAHA..”
“Yuk, mandi.”
“HAHAHAHA GILA YA KAMU..”
“Tadi aneh, sekarang gila. Salah terus ya aku.”
“Hihihihi.. aku kan udah mandi. Nih cium rambutnya wangi vanilla..”
“Nggak takut dikerubunin semut, rambutnya?”
“Ya enggaklah, Josh…”
“Rambut cewek sekarang aneh-aneh.. wangi coklat, wangi vanila, besok-besok mungkin ada wangi kedongdong.”
“Yah kok kedongdong! Hahahaha..”
“Hahahaha..”
“Hahahaha..”
“Btw jus paling enak jus kedongdong menurutku.”
“Nah, yuk cari jus kedongdong, Josh, yuk yuk…”
“Ih kamu tuh gila jalan banget ya.. sekali-kali di rumah aja gitu. Kalo keluar, nanti keluar duit lagi. Mending di rumah aja.”
“Hmmmm.. iya deh.”

“Josh, Josh, tumben rumah kamu sepi.”
“Pada keluar.”
“Hooooooo… ke mana?”
“Nggak tau ke mana. Aku bangun udah sepi.”
“Hooooooo….”
“Ih, Josh, mandi kek.. biar wangi…”
“Ntar, ntar. Abis rujak.”
“Bener, ya?”
“Iya…”
“Hmm, yaudah.”
“Eh, sini HP kamu. Mau liat.”
“Ih, liat apa sih?”
“Liat aja, ada yang ganggu-ganggu kamu, nggak?”
“Nggak ada, Josh…”
“Yakin?”
“Iya….”
“Yaudah liat..”
“Astaghfirullah…. Nih liat aja..”
“Mana sini? Nih kamu liat juga aja, HP aku.”
“Nggak usah. Aku percaya kamu.”
“Oh yaudah.”

Kulihat isi HP-nya. Kutanya password-nya, kubuka satu persatu, isi SMS-nya, chatting-nya, socmed-nya, semua. Aku mau tau, ingin membuktikan apa Leona itu nggak macem-macem. Sungguh pemikiran yang buruk untuk seseorang yang aku cintai. Dengan kata lain, aku seperti tidak percaya kepadanya. Dan ya, aku tidak menemukan apa-apa.

“Belakangan ini, kamu sering cek HP aku, kenapa sih? Kamu takut aku macem-macem, ya?”
“Bukan gitu. Aku cuma takut ada yang ganggu kamu. Kamu kan polos.”
“Iya iya.. tapi nggak ada apa-apa kan?”
“Nggak ada. Atau mungkin udah kamu apus?”
“Ih enggaaaaaak, Josh…”
“Ya aku mana tau. Kali aja udah kamu apus.”
“Enggak.. emang aku nggak macem-macem, Josh..”
“Yaudah, yaudah. Anggep aja nggak ada apa-apa.”
“Emang nggak ada apa-apa.”
“Iya. Semoga aja nggak ada apa-apa.”
“Emang nggak ada apa-apa, Josh. Aku tuh sayang sama kamu.”
“Iya, aku tau kamu sayang sama aku, tapi aku nggak tau, sama siapa aja kamu berkomunikasi.”
“Astaghfirullah….. yaudah, yaudah.”
“Yaudah. Aku mandi dulu.”
“Asiiiiik… gih, gih, mandi.”

Sehabis mandi, aku mengajak Leona masuk ke dalam kamarku.

“Well, ini kamarku. Kecil, ya?”
“Kecil, Josh. Hahahaha..”
“Sialan.”
“Hahahaha.. nggak ada AC-nya?”
“Nggak ada. Pake kipas.”
“Ya Allah… kamu nggak gerah?”
“Enggak. Kan pake kipas. Kadang, kipas angin lebih enak daripada kipas.”
“Hahahahahaha.. enakan AC!”
“Yeeee.. coba aja sini, duduk depan kipas… Gimana? Adem kan?”
“Adem, Josh. Kayak naik motor.”
“Yeeee, itu mah beda anginnya.”
“Hahahahaha…”
“Nyesel aku ngajak kamu ke kamar. Malah ngehina.”
“Hihihihihi.. ih enggak, Josh.”
“Apaan. Udah yuk keluar. Ntar kamu keringetan lagi.”
“Hahahaha ih enggak ih, iya adem nih depan kepas. Waaah, anginnya menyejukkan…”
“Palsu!”
“Hahahahaha…”
“Udah jangan ketawa.”
“Ih, Josh….. kamu kadang kalo ketus gitu, malah gemesin.”
“Udah nggak usah ngerayu.”
“Hihiihi… eh, Josh, itu poster siapa?”
“Itu. Steven Gerrard.”
“Siapa tu?”
“Pemain bola. Itu kan posternya lagi mau nendang bola deh. Masa pemain billiard. Kamu nih hari ini bikin emosi ya..”
“Hahaha, iya, ya? Maap deh maap..”
“Steven Gerrard itu legend. Dia kapten Liverpool. Pokoknya keren deh orangnya.”
“Iya, ganteng.”
“Iya.”
“Eh kamu mandi cepet banget sih? Basahin badan aja ya, nggak sabunan?”
“Yeeee, cowok tuh mandinya emang cepet. Emang cewek!”
“Hihihihihi…”
“Nah tuh, lo betah kan depan kipas?”
“Iya, Josh, adem.”
“Ngeyel sih.. gimana, pilih kipas atau AC?”
“AC, Josh. Maap. Hahahaha..”
“Hahahaha, nyebelin lo.”

Aku duduk di sampingnya, mengacak-acak rambutnya karena gemas. Leona tertawa-tawa, merasa sukses menjahiliku. Kami penuh canda dan mesranya, dan tak terasa, kemesraan ini perlahan menggiring kami ke dalam pertemuan antara dua bibir, dua tubuh. Kami berciuman, berpelukan, dan rebah bersama di atas tempat tidurku yang kecil.

“Tolong tahan aku.”
“Nggak bisa, Josh.”
“Seriusan?”
“Iya, susah.”
“Duh. Gimana dong?”
“Nggak tau.”
“Kamu maunya gimana?”
“Terserah Josh.”
“Duh. Kok terserah aku?”
“Josh…..”

Kami berciuman lagi, ciuman lembut, lama.

“Le..”
“Josh..”
“Kamu masih perawan?”
“Masih.”
“Aduh. Yaudah jangan.”
“Josh, nggak apa. Aku mau lepas sama kamu.”
“Jangan deh.”
“Josh, nggak apa.”
“Kamu yakin?”
“Kamu nggak akan bikin aku hamil, kan?”
“Enggak.”
“Yaudah, aku percaya kamu.”
“Yakin?”
“Iya.”

Kemudian aku mencumbunya, terus-terusan dengan ciuman dan jamahan yang bertubi-tubi. Aku menciumnya dari bibir hingga ke leher, aku meremas payudaranya, kiri dan kanan. Aku dilanda nafsu birahi, barangkali Leona juga demikian. Kurenggut keperawanannya dengan satu dorongan yang kupaksa-paksa pantas: cinta.

***

Leona, perempuan pertama yang kurenggut keperawanannya. Sebelumnya, tidak ada. Kini, beban seperti ada di pundakku. Bercinta adalah hal biasa tadinya, tetapi tidak dengan Leona. Setelah kejadian, Leona berucap dengan satu kalimat, diucapkan dengan bibir yang gemetar, dia bilang, “Josh, jangan tinggalin aku.” Kujawab, “nggak, Le, nggak akan.”

Semenjak kejadian itu, aku merasakan ada perubahan di dalam hubungan aku dengan Leona. Kami, yang tadinya saling mencinta karena perasaan yang kuat, sekarang sudah tercampur nafsu. Kami telah mewarnai cinta kami dengan kegiatan-kegiatan yang mesum, dan kami ketagihan untuk mengulang kemesuman ini terus. Kami berubah menjadi sepasang kekasih yang nakal, atau mungkin aku yang membuat Leona nakal.

Aku sampai ngekos di tempat kos yang bebas, tujuannya supaya aku dan Leona bercinta. Aku dan Leona patungan, walau seringnya Leona yang menalangi bayar bulanannya. Kami telah rusak, atau mungkin aku telah merusaknya. Kami tak kuasa menahan nafsu kami masing-masing, kami lepas kendali. Ini berjalan terus-terusan hingga 6 bulan. Aku dan Leona, sudah lama kami bersama-sama, dan kini semakin menggila. Padahal, kami juga masih backstreet, masih mengumpat dari bayang-bayang orang tua Leona, dan tentunya perbedaan agama. Salahnya kami, kami malah berpikir kalau dosa ini akan membantu kami untuk semakin kuat, tak terpisahkan. Padahal, tidak.

Kadang-kadang, aku suka dihantui oleh perasaan takut kalau-kalau Leona hamil. Aku tau caranya biar tidak hamil, aku merasa menguasai cara itu. Namun, Leona suka bikin takut, kalau dia sudah bilang telat datang bulan. Cinta kami telah dihantui oleh dosa kami sendiri. Sementara satu masalah yang tidak baru, kembali muncul ke permukaan, yaitu keluarga Leona.

Malam hari, HP-ku berdering, sesaat setelah aku sampai di rumah, di seusai pergi berkencan dengan Leona. Ya, salah aku dan Leona yang pergi kencan hingga larut malam. Aku dan dia pergi nonton, hingga Leona baru sampai di rumah jam 10 malam. Atau lebih. Waktu pulang yang sudah pasti akan dimarahi, diinterogasi. Kujawab telepon dari nomor tak dikenal itu, dan kudapati suara seorang wanita yang pernah kudengar sebelumnya, seorang wanita yang mengaku telah melahirkan Leona.

“Kamu yang namanya Joshua?”
“Iya. Ini siapa, ya?”
“Saya ibunya Leona.”
“Iya, tante, kenapa?”
“Kamu masih berhubungan dengan Leona?”
“Ummm.. berhubungan gimana ya, Tante?”
“Kamu tau, kami sekeluarga nggak setuju kalo Leona berhubungan sama kamu? Kamu tau siapa kamu? Kamu tau kamu dan Leona beda agama?”
“Maaf tante.”
“Kamu pikir kami sekeluarga itu orang bodoh? Leona baru pulang jam segini, ke mana kalo bukan sama kamu?”
“Maaf, tante. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Leona.”
“Kamu jangan bohong. Banyak mata-mata. Saya bukan ibu yang bodoh. Saya tau Leona pergi ke mana, sama siapa. Kamu ini harusnya sadar, kamu siapa.  Selama ini dia nggak pernah pulang malam, nggak pernah ngelawan sama saya. Gimana ceritanya dia jadi suka pulang malam dan ngelawan orang tua, kalo bukan berhubungan sama anak yang nggak bener?”
“Loh, tante kok nyalahin saya?”
“Kamu jangan kurang ajar. Leona bantu kamu apa aja sih?? Begini ya.. Jangan sampe saya harus mengingatkan kamu dengan cara lain. Kami sekeluarga sudah marah. Jangan sampe terjadi apa-apa sama kamu. Saya tau rumah kamu, tempat kos kamu. Jangan macam-macam.”
“Tante ngancem saya?”
“Kamu yang mengancam masa depan anak saya.”
“Saya nggak suka diancam, Tante.”
“Saya masih ngomong baik-baik sama kamu. Tolong jauhi Leona. Dan sebaiknya kamu paham. Ini masih saya yang mengingatkan, jangan sampe nanti abang-abangnya Leona yang turun tangan.”
“Hmm… Saya minta maaf, Tante. Saya tidak akan berhubungan dengan Leona lagi.”
“Kamu kalo mau berengsek, sama cewek yang berengsek. Jangan sama Leona. Dia itu anak baik, solehah. Kalo kamu punya otak, kamu nggak akan bikin masalah ini jadi panjang. Pikir! Mulai detik ini, saya nggak mau dengar kamu hubungi Leona lagi. Mau itu SMS, telepon atau ketemu. Jangan ganggu anak saya lagi. Paham?”
“Iya, tante.”

Kemudian telepon itu ditutup.

Jantungku berdebar, sebab sejujurnya aku memang takut. Aku takut mendengar suara ibunya, membentak-bentakku seperti itu, aku takut punya masalah dengan keluarganya. Aku tidak tau apa yang bisa dilakukan mereka terhadapku, karena Leona. Aku merasa diancam. Di sisi lain, aku juga tersinggung. Menurutku, tadi itu penghinaan. Dari siapa keluarga Leona bisa mengetahui seperti hampir semuanya. Mamanya Leona bilang tau aku tinggal di mana, tau aku ngekos, dari siapa mereka tau semua itu? Apa ada yang membuntuti Leona selama ini?

Keesokan harinya, siang-siang, aku terbangun oleh ketukan pintu yang keras. “Joshua! Keluar!” Aku mengangkat tubuhku dari tempat tidur dan langsung berpikir kalau itu abang-abangnya Leona. Aku berjalan menuju pintu kamar kosku dengan perasaan was-was, takut. Kubuka pintu, kulihat ada 5 orang. Ada Fajar, ada Benny, ada Robbie, dan dua orang yang mengaku abang Leona. Saat aku membuka pintu, tubuhku langsung didorong, aku terpental hingga tersungkur, punggungku membentur tempat tidur.

“Oh ini, tempat kos yang dibayarin Leona? Enak banget hidup lo?”

Aku cuma terdiam, kaget, takut. Kulihat Fajar tersenyum puas melihatku terjatuh.

“Kenapa diem? Takut?” Kata salah seorang abang Leona.
“Ada apa ini?” Tanyaku.
“Ada apa? Lo tuh nggak tau deketin siapa. Leona itu adik gue. Gue nggak terima adik gue rusak karena lo. Gue nggak terima adik gue lo manfaatin. Lo nggak tau diri.” Bentak abang Leona.
“Manfaatin? Gue nggak manfaatin.” Belaku.
“Yaelah, Josh.. masih aja ngeles.” Ujar Fajar.
“Sikat aja, Bang.” Tambah Benny.

Suasana semakin mencekam. Aku semakin takut.

“Nggak usah. Gue masih baik. Kotor tangan gue nyikat cowok kayak gini. Eh, gini ya, Josh.. lo itu udah bikin keluarga gue repot. Gue dateng ke sini jadi bukti, kalo lo nggak bisa sembunyi dari kita. Selama ini lo kita biarin, kita pengen liat, lo mau sampe mana sih? Tapi kayaknya lo makin keenakan ya… adik  gue itu emang bego, bisa lo bego-begoin. Tapi kita enggak.” Kata abang itu.
“Tapi gue nggak manfaatin. Gue emang tulus sama Leona.” Jawabku.
“Tulus anjing! Masih aja lo ngeles.” Kata abang yang satu lagi. “Adik gue udah lo apain aja, Njing?!”
“Nggak gue apa-apain.”
“Bohong lo anjing. Kita nemuin alat tes kehamilan di kamarnya, lo bilang nggak lo apa-apain?”
“Okay, I’m sorry.”
“Sorry? Cuma sorry.”

Tak tahan menahan emosi, kemudian aku dipukuli. Di dalam kamarku sendiri. Oleh mereka, berlima. Aku hanya tertelungkup menutup wajahku, menunggu sampai mereka lelah memukuliku. Namun mereka tak lelah, aku dipukuli terus sampai memar dan berdarah.

“Udah?” Tanyaku. “Silakan pukul lagi aja, mungkin gue emang pantes menerima.”
“Jadiin ini pelajaran, Josh. Hati-hati sama titit lo.” Cetus Fajar.
“Jangan sok jagoan makanya.” Kata Benny.
“Udah, udah. Kita balik.” Kata seorang abangnya.

Mereka pergi dari kamar kosku, dan satu persatu penghuni kamar kos lain mengintip keadaanku dari balik pintu. Aku malu, aku terpukul.

***

PERGIMU ITU MATIKU

Berat mengubah sikap, sebab demi Tuhan rasa ini masih sama. Memandang wajahmu aku tak sudi, tak berani. Oh, jangan sampai di hadapanmu aku meneteskan air mata. Mengertilah, aku lelaki yang benci menangis. Mengertilah, telah semampunya aku tak ingin melihatmu lagi. Sementara waktu telah menyeretku jauh dari ragamu. Aku masih saja benci menjadi aku yang berharap kembali di detik-detik itu.

Di pelukanmu.

Betapa pesta yang sia-sia, ria yang percuma. Pada tiap esok yang kupunya, hanya aka nada satu tanya: kau di mana?

Sesungguhnya, aku ingin sekali berkata ya, jika kau memintaku kembali. Namun, tiada pintamu datang kepadaku. Tidak ada. Mungkin aku hanya terlalu sering berpikir tentang suatu hari, yang tidak akan pernah datang.

Tidak seharusnya kita menyesaatkan ini semua. Aku masih menyesali itu. Ada rindu kepada aku yang dulu, aku yang tak kenal kau. Sebab dari kehilanganmu aku menemukan persamaan antara udara dan bebutiran. Aku telah hancur, tubuhku mengurus. Jiwaku mengurasku. Telah kujadikan kakiku seringan kapas, supaya aku tak dapat lagi memahami langkahku. Tetapi, aku tidak dapat melambatkan dunia.

Sekarang bantulah semua orang, supaya membenciku. Kau tidak sendiri. Aku telah menjadi orang lain. Aku yang dulu, yang kau cintai itu, sudah tiada.

Jurang telah memanggil seluruh aku yang tanpa kau.

 

-joshua zani-

 

Memang, aku ini lelaki yang tak tau diri. Hati yang tulus bukan tempatku, perempuan yang baik bukan untukku. Aku ini tercipta untuk kegelapan, atau dunia yang kelam yang butuh teman, korban. Aku telah kembali di dunia yang tadinya kulepas demi Leona. Sekarang tidak ada lagi suara-suara yang manja, tidak ada lagi pelukan yang hangat, tidak ada lagi cinta, gairah untuk memperbaiki diri. Semangat yang tadinya ada itu sirna, kuanggap sirna ditelan keadaan. Kusalahkan keadaan apabila aku terpuruk sekarang. Keadaannya, aku dan Leona memang tidak ditakdirkan bersama. Keadaannya, Leona terlalu baik, aku terlalu buruk. Keadaannya, bila terus bersamaku, Leona akan menjadi perempuan yang rusak. Aku itu cinta yang berdampak buruk. Sialan.

Cinta itu sudah mati, aku dan Leona sudah berpisah, tanpa sedikitpun kata perpisahan. Entah bagaimana sekarang kabar Leona. Dia tidak mencariku, atau mungkin dia juga menyerah. Sudah 3 bulan aku tidak bertemu dan berkomunikasi dengannya. Entahlah, tak mau tau. Aku ingin cuek saja. Keluarganya telah mempermalukanku, menghinaku, memukuliku. Aku ingin kembali menjadi aku yang begini saja, yang tanpa Leona.

Tersiksa sebenarnya tanpa Leona. Sekarang aku sudah menunggak bayar kosan 3 bulan, dan kalau seminggu ini aku tidak membayar, aku akan diusir. Aku butuh Leona sebenarnya. Hal-hal seperti ini, dia pasti bisa membantu, menalangi. Dulu begitu. Dulu aku bergantung pada Leona, moril maupun materil. Kalau dipikir-pikir, benar juga. Memang sudah saatnya aku lepas dari Leona. Bagaimana aku bisa mencintai seseorang, sementara hidup dan semangatku bergantung padanya. Tidak boleh begini, kan? Aku ini bisa tanpa Leona. Harus bisa. Setidaknya tak apa tidak menjadi lebih baik, daripada menjadi baik karena bergantung dia. Terserah apa kata hati, aku tak mau gubris. Aku memilih untuk tidak menyadari, kenyataan mendorongku untuk menjadi stres, mendekati depresi. Mau ngapa-ngapain juga bingung. Nggak kuliah, nggak kerja. Satu-satunya uang kudapat ya dari mama. Tidak seberapa. Cuma mama saja memang yang paling tahan menerima aku. Cuma mama. Ah, tapi sama saja. Makin lama, aku juga makin menyusahkan mama. Mau gimana? Sekarang aku mau kerja, bingung ke mana. Yang kupunya tinggal teman. Lama-lama nongkrong sama teman juga kepikiran, kalau aku cuma bikin susah tongkrongan. Apa-apa dibayarin. Sama aja. Aku ini harus berubah. Aku ini harus keluar dari kota ini. Aku ingin kabur dari kenyataan, pergi ke suatu tempat yang baru, dengan harapan bisa bebas dari rasa bersalah melihat diri. Aku ingin pergi, sejauh-jauhnya dari Leona, dari teman-teman, dari mama, dari siapapun yang sudah lama kubuat susah.

-bersambung-

Vanila Coklat

                                         

External image

                                         

External image

                       tau tak i tgh marah kat u
                       x tau…jom lah awak…cepatlah…
                       zara…i luv u…i syg kat u…i syg kat u…i’m serious…
                       jom..cepat..cepat..nanti lambat….

                                   

External image

                                     ZarAmir ~ Sweetness Overdose!