urange

Beberapa hari lalu temen urang kehilangan baju kesayangannya di laundrian. Sedih banget dia. Terus dia samperin tempat laundriannya buat nanya kejelasan, kemanakah bajunya tersebut. Eh gataunya ada. Kemudian dia girang kembali.

Pelajaran: Apa-apa yang diperuntukkan untukmu memang akan tetap untukmu. Tapi diperlukan usaha untuk mewujudkannya, jangan hanya berdiam diri sambil membisu. Cara kerja takdir gak seperti itu.

Serat Kasimpe

Wilujeng enjing. Nalika nyerat ieu serat, halimun masih keneh nyimbutan buana ku simpena nu eta. Nu tan surti kana naon-naon bae nu gumulung dina ati. Sedeng regang jeung daun neuteup leleb kana lulurung mata. Wilujeng enjing. Wilujeng ngaraoskeun asih-Na.

Nala…
Anjog deui ieu diri kana hiji rohang nu suwung. Nu tan sora tur wirahma. Jempling. Jempling pisan. Rohang anu kacipta tina jarak jeung waktu. Upama enya sakabeh jalma wenang ngedalkeun naon anu dirasana, berarti kuring oge. Kuring wenang ngabetuskeun, yen ieu rohang teh kakangen.

Kudu nepi ka iraha sajak jeung ungkara jadi pangbeberah diri. Kudu sabaraha ratus bentang jadi diksi. Jeung kudu sabaraha lambar deui simpe nu dibaca.

Nala…
Geuning garis waktu sakur nepungkeun urang. Sakur nepungkeun sajak-sajak urang. Laju dina langit-Na nu mana kuring kudu mulangkeun ieu asih jeung kakangen. Dina teuteup-Na nu mana kuring kudu wasa masrahkeun rasa.

Nala…
Sajak jeung ungkara teh banda-Na anu dititipkeun ka urang. Keur ngagambarkeun hate jeung kamelang sewang-sewang. Keur maca hirup na sisi nu lian.
Sajak jeung ungkara teh ketug nu ngawirahma. Nu awor jeung angin jeung waktu oge kasimpe.
Sajak jeung ungkara teh lawang. Nu nepungkeun urang.

Upama urang lain anu diguratkeun ku takdir. Keun wae, carita urang cuang guratkeun dina sajak jeung ungkara. Sangkan saeusi buana apal, aya dua rasa anu kiwari ngan jadi basa.

Dina jajantung ungkara jeung kasimpe. Kuring ngalangitkeun dunga tur ngaleungitkeun rasa. Keur anjeun.


Salam Baktos
Inka


Lembang, 15 Februari 2017

Kisah Putaran Botol Kaca

Ada banyak hidangan tersedia di ruangan itu. Pertemuan ini adalah pertemuan entah ke berapa yang digelar tiap bulan. Ketua klub membawa sebuah botol kaca kosong ke tengah ruangan, mengadunya dengan sebuah sendok—menimbukan dentingan yang menjadi pusat perhatian semua orang di ruangan itu.

“Aku akan memutar botol kaca ini, dan siapapun yang terpilih, kalian boleh ceritakan momen paling menyakitkan yang kalian nikmati di hidup kalian.”

Semua orang setuju, botol kaca itu kemudian diputar. Bagian penutup botol menunjuk orang-orang itu—untuk menceritakan momen menyakitkan yang paling mereka sukai.

Aku sedang mencari uang receh di saku celana untuk membayar fotokopian ketika seorang teman datang menghampiri. Dia menepuk bahuku sambil berkata,

“Bhan anjirlah! Tadi urang liat mantan maneh jalan sama si Karin Novilda.”

“Lah! Bodo amat.”

Cuma itu yang kukatakan. Sebuah reaksi self defense stadar untuk menutupi luka yang besar. Sebuah cara untuk bunuh diri karena diam-diam aku butuh tahu lebih banyak: Kenapa secepat ini? Si Karin anak mana? Dia cantik? Followers Instagramnya berapa? Aku. Butuh. Tahu. Lebih. Banyak.

Aku senang menyakiti diriku dengan cara seperti itu. Karena ketidakpedulian yang aku tunjukkan membuatku merasa menang. @etalasewarteg

Ruang itu hening. Botol kembali diputar, cerita kembali mengalir.

Menyakiti diri? Ada tawa getir @aksarannyta yang disertakan dalam pertanyaanya. Sayalah jagonya. Dari mulai menahan-nahan langkah ia yang ingin bergegas pergi, meletakkan diri lebih bawah dari mata kaki, mengemis padanya untuk tetap ada—tidak ke mana-mana, mencari –cari peduli ia yang acuh saja tak sudi, hingga menekan jerawat matang, mengelupas sariawan setelah ditetesi Abotyl, juga memaksa mata untuk tidak terpejam semalaman. Bukankah mencintailah yang memungkinkan untuk menyakiti? Sialnya, saya terlanjut mencintai diri saya.

Ada jeda beberapa detik sebelum @truegrey bercerita. Matanya menerawang jauh, seperti mengais-ngais momen kesakitan yang ia relakan begitu saja menimpanya. Ada kekesalan dan kepasrahan dari suaranya.

Apakah memimpikan seseorang di masa lalu termasuk pada menyakiti diri? Nampaknya imbuhan me- dari memimpikan bukanlah kesengajaan mutlak, melainkan kesengajaan ingatan yang berujung pada ketidaksengajaan alam bawah sadar. Jadi beginilah caraku menikmati kesakitan yang kubuat sendiri—memimpikan sebuah kebahagiaan bersama orang di masa lalu yang sejatinya tak akan pernah terjadi.

Botol itu berputar lagi—seolah memilih cerita mana yang ingin ia dengarkan.

Aku tahu ini salah. @mbeeer memulai dengan kalimat pengakuan yang  tak pernah seorang pun mendengarnya. Dan aku juga mengerti tidak seharusnya aku jatuh cinta hingga sekeras-kepala ini. Namun, apa kata hati mampu dibohongi? Sekeras apapun aku mencoba, di tiap pejam, sosoknya selalu ada. Kenapa harus dia? Kenapa senyumnya terasa begitu menyenangkan? Kenapa kehadirannya terasa begitu melegakan? Kenapa pembicaraannya selalu ke arah yang aku inginkan? Dan.. Kenapa harus terlewatkan?

Aku bodoh. Aku dungu.

Menyakiti diri sendiri seperti ini, seperti menggaruk bentol walau tahu itu hanya akan memperparah ruamnya. Salahkah aku jatuh cinta padanya? Seseorang yang diam-diam namanya kutanyakan pada Tuhan.

Kesunyian dan jeda antar cerita ini lama-lama membuat semua orang menerawang—pada kesalahan-kesalahan dan kenangan-kenangan.

Sekeras apapun hatiku menjerit—menyuarakan kesakitannya—aku tak akan perah menghiraukannya. Egoku untuk membuat dia bahagia lebih kuat ketimbang hasratku tuk bisa berada di sampingknya. Dan bahagia dengan orang lain mungkin lebih baik daripada dia bersamaku tapi tak ada satu kebahagiaan pun tersirat walau dalam senyumnya.

Aku mencintainya, tapi dia tidak. Aku merindukannya, dia tak tahu. Aku menginginkannya, tapi dia mengenalku dengan baik saja tidak. Tak apa. Biar aku saja yang merasakan semua ini. Biar aku saja yang merasakan sakit karena terlalu mencintainya. Ada senyuman di akhir suara @fianollaputri

Botol itu kemudian mengarah kepada kembaran @fianollaputri – @fianollyputri.

Aku masih tak paham dengan segala yang dilakukan si gadis bodoh ini. Dari tertawa lalu menangis, menginginkan lalu mengacuhkan, meninggalkan kemudian merindukan, menanti kemudian melupakan, hingga melupakan kemudia menyesali apa yang telah dilakukan dan mulai merindu lagi. Rasanya apa yang kulakukan selalu tak sesuai dengan ekspektasi di awal. Tanpa sadar, yang kulakukan hanyalah menyakiti diri. Entah sampai  kapan akan seperti ini—menyakiti diri sendiri. Mungkin itulah hobiku.

Tak ada penghakiman. Masing-masingnya tenggelam dalam kekhawatiran untuk memutar kembali bagian-bagian sendu pada memori yang sebenarnya paling ingin ditutupi.

Saat itu dia bilang: I felt so wrong. Maybe we are so good becomes friend, best friend indeed. But I don’t know if we were a lover. Are you okay with that? Seriously?

@fadildalamcatatan kemudian menyeruput kopinya. Ada ‘ck’ yang ia suarakan di penghujung seruputannya. Entah begitulah caranya mendalami rasa kopi, entah begitulah caranya mendalami rasa getir yang timbul dari ceritanya sendiri. Kemudia ia melanjutkan.

Terpaut sedikit jeda, kemudia saya menjawab: Iya ih! Kalem weh, aslina!

Hingga saat ini, saya masih menyesal dengan adanya jeda sebelum jawaban di telepon itu. Tapi menyenangkan sekali mengingat jawaban itu. Senyum bangga merekah di bibirnya.

“Kurasa, akan jauh lebih baik jika kita menhadirkan orang lain di sini—mungkin dalam pikiranmu. Apa yang ingin dikatakan seadainya orang yang menjadikan kita memiliki momen kesakitan itu hadir?” Botol itu diputar lagi. Entah tantangan itu semakin sulit, entah semakin jujur.

Aku suka membayangkan bahwa kamu melihatku sebagai sosoknya ketika kamu bermanja di pundakku. Atau ketika kita mengarungi jarak lima jam perjalanan di atas dua roda, ketika kamu membiarkanku tidur menyandar pada punggungmu selagi kamu melambatkan laju dan melingkarkan tanganku di pinggangmu agar aku tidak jatuh. Aku juga suka, memutar kembali kalimat lirih ‘kamu berhak marah’ yang kau ucapkan setiap kali aku cemburu, ketika kamu kemudian meneriakan kalimat “aku terganggu dengan perasaanmu,” entah baru setelah sekian lama. Aku suka, karena ketika kemudian aku melihatmu tidak berpisah lagi dengannya dalam keseharian, aku bisa tersenyum penuh kemenangan, dan memberi penghargaan pada diriku sendiri—karena selama ini aku tak pernah salah tentangmu.

@sendingfailed mengakhiri kalimat dengan tersenyum. Senyum kemanangan yang ganjil, tapi menggenapkan ungkapannya.

Jika orang itu ada di sini, @abdulrrochman menghela napas panjang. Seolah gadis itu memang ada di hadapannya—membuatnya jengah tak karuan hingga perlu baginya untuk menghela napas. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, berbahagialah. Temukan pelabuhanmu. Tempat singgah sepertiku hanya akan membuatmu kembali tenggelam. Walau singkat, rasanya sangat membekas.

@ceritamaharani menutup matanya. Mungkin menutup mata akan membuatnya lebih mudah membayangkan seseorang itu, sekaligus mengatakan apa yang selama ini ingin ia katakan.

Mencitai kita, sama saja dengan mencintai kesakitan yang selalu. Tentang kesakitan-kesakitan yang terjadi di belakang, atau tentang perpisahan yang akan terjadi selanjutnya. Perpisahan ini kian pasti. Seperti bom waktu yang kian mendekat, detik yang berdetak ini bergemuruh. Lalu hati kian berdegum, kala kita menciptakan keping cerita yang kelak menjadi kenangan. Menunggu waktu berhenti dan meledakkan diri kita sendiri.

Suara serak, lantang, dan keras milik @adarumah, kini berubah menjadi serak dan sendu. Giliranya mengungkapkan sesuatu.

Aku selalu teringat dirimu: memori saat mata kita saling bertaut, obrolan hangat dan gelak tawa membuat dinding pelindung tiga dimensi, wajah pucat dengan pipi merona, selalu jadi halusinasi saat aku sedang bekerja. Kita telah lama tak bersua. Rindu ini jadi heroin. Aku tahu akan menjadi sakit. Tapi candu sudah menjadi racun. Sakau jadi harian. Dan aku tak sama sekali menyesal.

Apa yang kamu buat selalu aku bawa sampai hati, salahku? Ada nada kesal—naik beberapa oktaf—yang dibarengi rindu dari suara @minggukemarin. Iya, aku pun menyadarinya bahkan jawabanmu atas penasaranku pun malah membuat aku tambah bertanya-tanya, hubungan macam apa ini? Aku tidak akan berhenti sampai semuanya terjawab atau sampai aku yang mengakhirinya sendiri, walau kau hanya memberi sedikit peran. Dalam kasus ini kita sama-sama menjadi korban: karenamu karenaku, dan karena meraka yang terlalu mencampuri urusan kita. Hanya satu harapanku, bisakah kita sebebas saat hanya kita berdua di depan mereka? Atau sama sekali tidak? Jangan setengah-setengah!

Botol kemudian berputar dan berhenti—mengarah pada @miftahulfikri yang sejak tadi menunduk, memandangi entah apa di bawah sana. Ada hening sejenak, kemudian suara itu mengalir deras tiba-tiba.

Aku hanya bisa menertawakan ketidakmungkinan tentangmu. Ada genangan yang berhasil tertahan di kelopak matanya. Karena aku sudah terlalu lama menunggu, kau mengerti apa mauku. Sudah kulakukan bagianku, tapi bagianmu tak kunjung pula menggenapi harapanku. Sudahlah, bia memang tak mungkin, maka bukan karena aku tak ingin. Aku ikhlas karena hatiku sudah terlanjur getas. Kau tahu ini luka, mengerak begitu lama, meski sewaktu-waktu bisa terbuka, sudah kering air mata terganti sejumput tawa. Aku masih mencinta, tapi kuterima bahwa mendapatkan dirimu adalah ketidakmungkinan yang ada.

Ribuan kali aku mengingatkan diri bahwa memberi kesempatan padamu, adalah sesuatu yang pada akhirnya akan membunuhku. @gambarankata memulai kalimatnya sambil memainkan jarinya di pegangan mug cokelat panasnya. Ada kesan gugup, seolah-olah ia berbicara dengan orang yang memang ia tuju. Aku bahkan sudah bosan mengingatkan diriku sendiri bahwa berjalan bersamamu  pada akhirnya akan selalu meninggalkan goresan luka. Tapi aku senang menyamarkan luka dengan senyum, aku suka menyamarkan tangis dengan tawa. Aku memang bodoh, bukan? Bahkan ketika rasa sakitku menjadi bahagiamu pun, aku rela.

Kau dulu yang bilang aku milikmu hari ini, esok, dan nanti. Mengapa sekarang  muncul pengganti? Kau dulu yang selalu memohonku kembali, mengapa sekarang kau yang pergi? Pertanyaan itu memburu lamunan sosok yang @mbakaneh bayangkan. Kepingan hatimu berserakan. Susah payah kukumpulkan dan rekatkan. Setelah sembuh, nyatanya kau memilih hati lain untuk berlabuh. Aku yang terpuruk jatuh, sialnya masih saya merayu Tuhan menjagamu agar tetap utuh.

Berbahagialah. Meski lelah dan berdarah-darah, takdirku sudah terbiasa mengalah.

Ragu-ragu, @awansenja memutar botol kosong itu. Semesta membuatnya terpilih dengan putaran yang ia buat sendiri.

Cinta pertama bagiku adalah kamu. Kukira cinta pertama itu indah seperti yang para pujangga katakan. Tapi kenyataannya, kamu meyakiti relung hatiku yang paling dalam. Selalu kamu yang menyakitiku.

“Dew!” @aksarannyta memanggil @dwsrkhns Kini gilirannya. Mungkin ia terlalu tenggelam dalam momentum masa lampau yang ia putar lagi dan lagi.

Yang kusukai adalah…rasa mencintaimu berkali-kali yang tidak mencintaiku. Merasa sesak yang kurindu tiap aku bahagia dicintai seseorang. Dan merasa tidak lengkap adalah salah satu merenung yang aku suka. Merasa bodoh dan diacuhkan adalah terapi menjaga hati dari jatuh cinta yang salah kepada hati-hati lainnya. Aku membiarkan diri jatuh padamu berulang kali hanya agar aku tak menyakiti diriku dengan jatuh pada orang lain. Karena sakit karenamu, aku sudah terbiasa mengatasinya.

Aku terbiasa karenanya.

Kali ini, entah ekspresi apa yang @sukasukarizqa coba ungkapkan. Ada kerelaan yang tercampur dengan ketidakrelaan. Ada kesedihan yang tercampur dengan kebahagiaan.

Mencintaimu hingga tertatih jatuh berkali, aku pernah. Merinduimu yang tak lagi merinduiku, aku selalu. Selalu berusaha ada saat kau butuh, aku pasti. Berpura bahagaiabahwa kau menemukan wanita impuanmu, aku lakukan. I love the way I hurt myself. No matter what you’ve did to me.

@miadwis menyelonjorkan kakinya dan menopang tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya di bagian belakang tubuhnya. Kepalanya menengadah, memandangi kipas angin yang semenjak tadi menyingkirkan panas rindu yang bekecambuk di ruangan itu—sambil berkata,

Berbohong baik-baik saja tanpamu, itu menyakiti hatiku. Berbicara bahwa aku tak bisa tanpamu, itu menyakiti harga diriku.

Ia kemudian membenarkan posisi duduknya—bersila bagianya lebih nyaman.

Namun dengan tetap mecintaimu hingga detik ini, adalah sakit yang membuat candu. Rasanya tak apa, seperti mencoba ganja, aku tak bisa berhenti. Jadi bair saja, jika menyakiti diriku ini kulakukan, itu semua karena aku percaya bahwa kamu yang menyayangiku juga menyakiti dirimu sendiri untukku.

@melisalalalaa tiba-tiba berdiri—megambil botol anggur kemudian menegak beberapa mili yang tersisa di dalamnya. Ia mengelap sudut bibirnya dengan ujung kemeja lengan panjangnya. Kemudian kembali ke tempatnya dan berkata,

mengagumi punggungmu..mencuri kecupanmu..menikmati gigitanmu. Memelukmu semalaman, ditemani hingga lelah. Esoknya? Sudah. Hilang. Begitu lagi. Hingga tangis kurasa manis.

Malam ini sungguh akan menjadi malam yang panjang, bukan? @tyaudhitkd tertegun saat tutup botol mengarah ke arahnya. Ia terlihat tak menyiapkan apapun untuk dikatakan. Tapi sedetik kemudian, pandangannya menerawang entah ke mana, dan kata-katanya keluar begitu saja dan apa adanya.

Memaafkanmu yang berkali-kali berjanji untuk tidak menyakitiku lagi adalah sudah menjadi keikhlasan bagiku. Sebab aku sangat yakin, bagaimanapun kau membuat air mataku mengalir deras, kau akan tetap menyayangiku. Sempat ku menyerah, tidak paham akan ulahmu. Seperti membenci namun mencinta. Kau menyayangiku di atas perih hati karena ulah kebrengsekanmu jua. Entah kenapa, aku selalu bisa menerimamu yang penuh dengan segudang kesalahan dan kata maaf. Entah kenapa, aku masih bisa merasakan bahagia denganmu. Walau disela dengan pengkianatan. Mungkin saja, karena aku begitu mencintaimu. Ya, mungkin saja.

@athaisatha melipat tangannya di dada. Seolah ada yang ia tahan keluar dari dalamnya. Kalimat demi kalimat yang ia simpan didalamnya selama ini, telah berubah menjadi ungkapan yang akhirnya ia munculkan.

Aku mencintaimu dulu dan sekarang. Kamu yang dulu bersamaku dan senatiasa berkabar setiap waktu, kamu yang sekarang bersamanya dan tidak lagi menghiraukanku. Aku mencintaimu dulu dan sekarang. Ketika dulu kamu masih menjadi penggalan dalam doaku, kamu yang sekarang tidak lagi dapat aku harapkan. Aku mencintaimu dulu dan sekarang. Dulu kamu menjadi bahagiaku yang menggenapkan aku, sekarang kamu menjadi pedihku yang masih menjadi kesukaanku. Ya, dengan aku terus mencintaimu hingga kini, begitulah rasanya kesakitan, kecanduan, keputusasaan yang menjadi favoritku. Meyakiti yang aku sukai. Mencintaimu sampai mati meski tidak akan pernah saling memiliki. Meski kini bahagiamu bukan aku, jangan lupakan aku. Sapalah aku jika kita beradu temu. Meski kini setengah dari agamamu telah kamu sempurnakan bersamanya, aku tidak apa. Aku bahagia untukmu.

@penyeduh adalah orang terakhir yang belum tertunjuk. Tapi bagaimanapun, ujung pembuka botol itu menunjuknya dalam sekali putaran. Mungkin memang ia yang harus menutup kisah-kisah itu.

Aku merawat luka seperti aku merawat kembang-kembang darimu yang sudah kuning; yang mati meski kuairi setiap hari. Keduanya sama. Kurawat dengan cara menangisinya.

Makanan-makanan yang terhidang di ruangan itu masih utuh. Semua orang telah kenyang dengan perasaannya masing-masing.

Bandung, September 2016.

Tema: Menyakiti Diri yang Kau Suka 

 cc: @kitajabodetabek @kitajateng @kitajatim @kitakalimantan @kitasulawesi @kitasumatera @tumbloggerkita

Hehe.

Ketika saya lihat orang lain di sekitar saya, saya selalu kepikiran:
Yaampun kok bisa ya mereka baik banget begitu. Kapan saya bisa kayak gitu?

Maksudnya tuh baik secara kelakuan, tutur kata sampe penampilan gitu.

Terus sedih sendiri pas ngaca. Kok gua gini amat yak 😂 Hahaha.

Biasanya sih kepikiran kayak gitu tuh pas liat perempuan-perempuan yang make gamis megar jilbab panjang sampe minimal siku seliweran di depan mata. Saya yang perempuan aja tentram liatnya, berasa lagi di bawah kanopi mesjid. Adem bener~

Iri, asli iri dengan yang bisa berpenampilan adem begitu.

Terus karena saya tipikal anak manja yang duit jajan aja masih nadah ortu, kemaren saya merengek minta beliin baju gamis yang megar. Kenapa yang megar? Karena urang teh anaknya gabisa diem. Bisa dipastikan akan terserimpet apabila saya mengenakan rok/gamis sempit. Sudah terbukti dengan beberapa rok saya yang entah bagaimana ceritanya bisa robek.

Ini beneran. Mau make gamis, no hijab-an tapi. Idk why belum tertarik sama hijab yang belit-belit nyekek. Sempet ngajak temen-temen buat gamisan biar ada temennya (?) Emalah diketawain. Yawajar sih, seragam wajib saya itu kemeja/kaos + celana jins + sepatu kets. Udah. Gitu doang. Gaada adem-ademnya ish. Make sepatu teplek aja saya masih ngeri sendiri kalo liat batu, keinjek kan berasa gitu ntar ._.

Kata mentemen make rok aja dulu sar jangan yang langsung ekstrem. Bah. Gapapalah biar nampol.

Eia lanjut. Pas kemarenan minta mami beliin gamis, mami bilang next aja duitnya lagi gaada hahaha yaudah. Urang nabung dulu aja sendiri. Sebab urang sempet cari-cari ternyata harganya gak murah ya? -__-

Terus ukurannya gede semua gitu, saya kan pendek banget terus kecil gitu seolah kesenggol roboh, otomatis saya kalo make gamis bakalan gombrong bener kayak make mukena -______-

Pokoknya lagi mau nabung buat beli gamis megar!
Mau belajar ngecilin baju juga lah sekalian.

Uwoh. Kesampean gak ya .___.

Lalu setelah beberapa lama belakangan ini, saya juga kepikiran. Kenapa gak sekalian nge-gamisin kelakuan sar?

Tul juga. Nanggung sihya penampilan doang yang ditingkatin tapi dalemnya kagak. Sekalian ajalah ngegamisin kelakuan ehe.

Saya mau berenti main-main masa. Main-main di sini maksudnya adalah main gundu sama lawan jenis.
Abisan, setelah saya itung temen main saya tuh lebih banyak laki-laki ketimbang yang perempuan ._.

Faktornya sih jelas, karena abang saya dua otomatis saya lebih gampang deket sama lawan jenis. Udah gitu saya anaknya males ribet dan baper. Tau sendiri saya kalo ngomong bulet bener gapake perasaan, jadinya jarang perempuan yang betulan klik sama saya. Kebanyakan mereka baper gitu haha.

Tapi saya sadar gaseharusnya hal di atas dijadikan excuse buat main mulu sama lawan jenis. Itung-itung membiasakan diri buat menghargai suami kelak. Cih kejauhan mikirnya sar.

Mungkin hanya Adam dan Gilang yang akan saya keep. Gimanapun juga mereka adalah sahabat bertahun-tahun gitu. Sama mereka juga pasti saya kurangin sih intensitas ngobrol atau mainnya.

Ngegamisin kelakuan ya sar.

Pokoknya resolusi utama di 2017 ini adalah 2 hal tersebut!

Weh. Kesampean gak ya 😂😂

Deal?

“Kok belum nikah? Nunggu apa?”

“Kamu terlalu pilih-pilih.”

C’mon, kita tidak hidup di negara yang bebas untuk mengambil pilihan hidup sendiri tanpa perlu menikah. Kita hidup dilingkungan di mana perempuan seumur saya yang belum menikah, dianggap ada yang salah dengan hidupnya. Ditanya “Kapan nikah?” sama saja dengan ditanya “Kapan mati?, i dont fucking know when. Lalu, pilih-pilih? Nyet, jelas lah pilih-pilih. Lo pikir nikah cuma urusan meja makan? Masih ada urusan bayar tagihan dan kewajiban kasur, yang believe me, lo kudu doyan juga sama lakinya, kalo gak mau tertekan tiap malemnya. Lo pikir kalo sampe kawin sama orang yang salah, bisa tuker tambah? Hah? 

Yang cakep, belum tentu mapan, yang mapan belum tentu setia. Yang sudah paket lengkap, belum tentu mau sama urang. Paham? Siapapun yang belum menikah di umur yang sudah cukup, yakin aja, pasti karena sesuatu yang belum bisa ketemu pemecahannya. Simply, belum waktunya menurut yang Maha Tahu Segala.  Mungkin pasangan lagi nabung, atau sedang menunggu restu. Yang pasti, jawaban “Kenapa belum nikah?”, nggak mungkin “Iseng aja.” atau “Ntaran deh, belum mood.”

Jodoh, adalah rejeki yang nggak bisa kita usahakan sendiri. Anggap kita lagi ngomongin bisnis. Rejeki di sini, lo cuma perlu usaha mandiri mentok sampe 90%. Sisanya isi dengan bismillah, serahkan pada semesta. Hasil, tidak akan pernah mengkhianati usaha. Jodoh? Beda lagi. Lo mau usaha mentok sampe 110%, kalo dianya belum ingin berjalan ke arah yg sama, ya percuma, kerja bakti namanya. Katakanlah udah sama-sama mau, giliran orang tua yang belum mau. Mau ngemeng apa? Semua oke, eh Tuhan yang berubah pikiran. Tiba-tiba dia kawin sama yang lain. 

Seriously, you have no idea how fucking hard someone handle this issue. Ditengah proses pemulihan krisis kepercayaandiri yang kadang menyerang, juga masih harus tertekan ngeliat orang tua yang pasti juga kepikiran. Jadi daripada rese nanyain gitu, kenapa nggak simply doain, aja? Deal? Good.