university of istanbul

Tentang Tujuan Hidup

Ada teman yang setiap kali saya posting sesuatu di facebook, dia akan menyangkutpautkan dengan pernikahan. Entah bagaimana caranya dia akan selalu melakukan itu. Sampai suatu waktu kawan-kawan saya yang lain bertanya apakah ia tidak bosan dengan pertanyaan begitu terus di tiap postingan saya? Terbayangkan sampai kawan saya jenuh? Saya sendiri sudah imun dengan dia, jadi ya, memaklumi. Mungkin itu life goal dia. Sehingga ketika sekarang dia sudah menikah dan punya anak dua, dia mungkin tidak punya goal lagi. Fyi, saya masih single dan tidak ada masalah dengan itu semenjak saya tidak menjadikannya sebagai life goal. Menikah urusan mudah buat saya. Kalau saya mau, sudah dari bertahun-tahun lalu. Tapi, kalau bukan life goal, buat apa saya memusingkannya?

Meski memang terkadang ketika mengevaluasi diri sendiri saya nampaknya jauh tertinggal dibandingkan dengan teman-teman lain yang saat ini tiap hari posting foto anak-anak mereka, sudah punya cicilan rumah, kemana-mana pakai mobil, posting makanan dan minuman ala XXI dan restoran terkemuka, dan apa-apa yang kalian bisa bayangkan sendiri. Saya? Hidup masih dari beasiswa, kadang dapat fee dari projek, mobil-motor tidak ada uang, apalagi cicilan rumah, foto-foto lucu anak-anak? Ya itulah saya. Saya cuma bisa posting sudut perpustakaan, segelas es cendol yang berharga, keluhan karena biasa pakai LTE tetiba hanya bisa pakai 3G, serta kekesalan karena tidak bisa mengakses Wikipedia karena diblokir pemerintah Turki. Itu saya.

Tapi saya sungguh tidak peduli dengan tujuan hidup orang lain, apalagi jika saya tidak bisa memberikan kontribusi terhadapnya. Apa hak saya mengomentari kehidupan mereka? Terlebih saya punya life goal sendiri yang bukan orang lain yang akan memberikan, tapi buah dari kapalan jari-jari saya pribadi. Jika saya harus menjadi seperti kebanyakan orang, saya bisa saja memilih untuk berkarir di tvOne setelah empat tahun bekerja di sana. Atau saya terus bekerja untuk kemanusiaan di ACT dengan posisi senior dan gaji yang lumayan. Atau di tempat lain yang lebih baik. Motor saya sudah punya, mobil karena malas saja di Jakarta sudah terlalu penuh dengan keegoisan, atau HP bagusan, ah saya bisa. Atau menikah? Well, percayalah, saya bisa saja dengan si biduan kampus yang susah sekali didapatkan namun dengan saya mudah. Haha, gaya! Tapi ini serius. Tampang saya pas-pasan, tapi soal komitmen, bisa diadu. Dan saya sangat menghargai wanita sebagai partner, bukan di bawah ketiak laki-laki. Tapi masalahnya, life goal saya bukan itu. Ketika saya harus kehilangan orang yang saya cintai karena life goal di depan mata, saya rela. Dengan catatan bukan karena saya yang mau pisah. Ketika saya harus meninggalkan kenyamanan di Jakarta demi sesuatu yang telah lama saya impikan, saya rela.

Saat ini saya sedang berjuang menyelesaikan PhD saya dengan santai. Penuh kesulitan, tapi saya menikmati (makanya tidak selesai-selesai, jangan diikuti, haha). Sambil mendapatkan pengalaman baru jalan tidak jelas di negeri orang. Tahun depan saya berangkat Erasmus ke Jerman. Dulu, waktu kuliah di UI, baca tentang Erasmus saya pasti minder duluan. Apalah saya ini tidak punya prestasi, IPK sekarat, English blepotan, tidak pernah terpikirkan untuk daftar. Namun takdir berkata lain, di pengumuman penerimaan Erasmus di Istanbul University, nama saya muncul setelah sebelumnya saya tidak berharap banyak. Saya punya cerita khusus tentang ini sebenarnya. Nanti bisa saya ceritakan. Well, insallah saya berangkat. Ini adalah bagian dari life goal saya yang tidak terduga. Dan saya sangat menikmati ke-tak-terdugaan dalam hidup.

Ada hal-hal yang harus kita korbankan untuk mencapai atau menjadi sesuatu. Jika itu adalah paradigma umum; menikah atau bekerja, tak masalah. Ulat harus bersemedi lama untuk menjadi kupu-kupu. Kecebong harus bersabar untuk menjadi katak. Lalu kita manusia apakah tidak bisa bersabar untuk menjadi dan mencapai sesuatu? Ada hal-hal yang mungkin orang lain sudah capai, tapi ada juga hal-hal yang ada di dalam diri kita dan mereka tidak punya. Jadilah dan capailah sesuatu dengan tangan kita; tidak perlu berusaha sefrekuensi dengan tujuan hidup orang lain.

regretsaboutmyself  asked:

Where are you from? I love your blog. Do you study art at university or the art is only a passion? (I'm italian, i'm sorry for grammar mistackes)

Aw thank you love❤️i m student at university of art based in İstanbul/Turkey😛😛

Musim panas telah tiba. Daun-daun tumbuh hijau merona. Bunga-bunga bermekaran ditata indah di taman-taman. Semua orang bergembira, mengambil foto selfie banyak tak terkira. Jalan di antara bunga atau duduk di atas rumput bersandar dengan pohon rindang adalah bagian terindah belajar di kampus ini. Kalau seandainya tidak ingat banyaknya tugas dan PR yang harus diselesaikan, niscaya setiap hari seharian betah berlama-lama di sini. Perjuangan butuh waktu sesaat menyegarkan pikiran dan perasaan. Selamat datang, musim panas. Selamat membahagiakan hati-hati penuh riang.

chefsreviews  asked:

I am currently learning Turkish by myself because in September I start university in Istanbul. What is your routine/ what does your routine involve when you're learning a language?

I made a post here. Also, i post daily what i do in order to improve in my target languages. ^^