ulamas

Usaha Agar Hati Bersih
Sahabatku sekalian… ingat wasiat dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam tentang 7 perkara untuk membersihkan hati :

1. Jangan Buruk sangka sesama orang beriman
2. Jangan memata-matai, tutup untuk serba ingin tahu
3. Jangan mengorek-orek aib orang lain
4. jangan saling berlomba tentang duniawi, bukan itu yang harus kita perlombakan wasyaariu
5. Jangan saling mendengki
6. Jangan saling membenci
7. Jangan saling bermusuhan

Silahkan periksa hati masing-masing… Sehebat apapun amal yang kita perbuat, bila hati busuk akan menjadi hijab yang akan menjadikan hidup tidak bahagia dan tidak Mulia.

http://www.smstauhiid.com/ulama/aagym/usaha-agar-hati-bersih/
—  Aa Gym
bbc.com
Mexico revives 3,000-year-old ancient ball game - BBC News
A championship is being played in Mexico to try to revive a 3,000-year-old ball game.

VIDEO AT WEBSITE

The finals of a revived 3,000-year-old ball game have been played in the Mexican city of Teotihuacan

Organisers have been trying to bring back the game, known as Ullamaliztli in Mexico, because of its ancient cultural and religious significance.

The game was played across Central America before being banned by the Spanish conquistadors.

The tournament, only the second since 2006, is being played by ten teams from across Mexico.

According to ancient texts the ball game was seen as a struggle between light and darkness and provided the energy to keep humanity going.

One of the best preserved ball courts can be found - with stone rings to throw the ball through - in Mexico’s Yucatan peninsula

Today the game is played by teams of seven players, who knock a heavy solid rubber ball up and down a narrow pitch, using their hips rather than their feet.

Giant ball courts can still be seen in ruins across the region.

In ancient times losers of the game were often sacrificed to the Gods*, but this year organisers opted for a knockout tournament instead.


* There is iconography and mythology related to the ballgame that involve sacrifice, but there is little evidence that people were sacrificed for having played this game.

Kalau Kamu Belum Bisa

Kalau kamu belum bisa banyak sedekah, ajaklah orang - orang bersedekah. Semoga melalui sedekah orang yang kamu ajak, kamu dapat juga keselamatan.

Kalau kamu belum bisa menikah, bantulah orang lain yang akan menikah. Semoga melalui itu, hatimu mendapatkan sakinahnya. 

Kalau kamu belum bisa berqurban, jadilah panitia qurban. Semoga melalui itu, keberkahan qurban sampai juga di catatan amalmu.

Kalau kamu belum bisa menjadi ulama, cintailah para ulama. Semoga melalui itu, kamu mendapatkan syafaatnya.

Kalau kamu belum bisa menjadi orang berilmu, cintailah para penuntut ilmu. Semoga melalui itu, kamu terciprat sedikit derajatnya.

Kalau kamu belum bisa berkarya, dukunglah orang - orang yang tengah berkarya. Semoga melalui itu, hatimu dibuka lapangnya, diberkahi jalan hidupnya.

Kalau kamu belum bisa sepenuhnya berbuat kebaikan, dekatilah orang - orang yang penuh kebaikan. Semoga melalui itu, malaikat mendoakanmu agar selalu berada dalam kebaikan.

Sebab waktu, tenaga, dan kadar iman kita terbatas, dalam berbuat baik kita kudu cerdas. Menerapkan paham MLM dalam beramal baik tidak ada salahnya bukan? Pasif income pahala, jariyah yang tiada putusnya. 

Di atas semua itu, semoga biar Allah makin sayang. 

Selamat Jumat barakah,
selamat menikmati Al Kahfi.

PENGINGAT

Dapat tulisan ini dari WA. Dan menurut saya ini sangat baik.
Bagi yang belum paham, hal ini bisa menjelaskan apa yang akan kita lalui di masa depan kelak.
Bagi yang sudah paham, hal ini bisa menjadi pengingat.
Silahkan sisihkan 2 menit  untuk membaca.


BAGI YG ISLAM. TAK DIBACA SAYANG. 👇

✐ Selepas Malaikat Israfil meniup sangkakala (bentuknya seperti tanduk besar) yang memekakkan telinga, seluruh makhluk mati kecuali Izrail & beberapa malaikat yang lain. Selepas itu, Izrail pun mencabut nyawa malaikat yang tinggal dan akhirnya nyawanya sendiri.

✐ Selepas semua makhluk mati, Tuhan pun berfirman mafhumnya “Kepunyaan siapakah kerajaan hari ini?” Tiada siapa yang menjawab. Lalu Dia sendiri menjawab dengan keagunganNya “Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” Ini menunjukkan kebesaran & keagunganNya sebagai Tuhan yg Maha Kuasa lagi Maha Kekal Hidup, tidak mati.

✐ Selepas 40 tahun, Malaikat Israfil alaihis salam dihidupkan, seterusnya meniup sangkakala untuk kali ke-2, lantas seluruh makhluk hidup semula di atas bumi putih, berupa padang Mahsyar (umpama padang Arafah) yang rata tidak berbukit atau bulat seperti bumi.

✐ Sekelian manusia hidup melalui benih anak Adam yg disebut “Ajbuz Zanbi” yang berada di hujung tulang belakang mereka. Hiduplah manusia umpama anak pokok yang kembang membesar dari biji benih.

✐ Semua manusia dan jin dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan hina. Mereka tidak rasa malu karena pada ketika itu hati mereka sangat takut dan bimbang tentang nasib & masa depan yang akan mereka hadapi kelak.

✐ Lalu datanglah api yang berterbangan dengan bunyi seperti guruh yang menghalau manusia, jin dan binatang ke tempat perhimpunan besar. Bergeraklah mereka menggunakan tunggangan (bagi yang banyak amal), berjalan kaki (bagi yang kurang amalan) dan berjalan dengan muka (bagi yang banyak dosa). Ketika itu, ibu akan lupakan anak, suami akan lupakan isteri, setiap manusia sibuk memikirkan nasib mereka.

✐ Setelah semua makhluk dikumpulkan, matahari dan bulan dihapuskan cahayanya, lalu mereka tinggal dalam kegelapan tanpa cahaya. Berlakulah huru-hara yang amat dahsyat.

✐ Tiba-tiba langit yang tebal pecah dengan bunyi yang dahsyat, lalu turunlah malaikat sambil bertasbih kepada Allah Subhanahu Wa Taala. Seluruh makhluk terkejut melihat ukuran malaikat yang besar dan suaranya yang menakutkan.

✐ Kemudian matahari muncul semula dengan kepanasan yang berganda. Hingga dirasakan seakan-akan matahari berada sejengkal dari atas kepala mereka. Ulama berkata jika matahari naik di bumi seperti keadaannya naik dihari Kiamat nescaya seluruh bumi terbakar, bukit-bukit hancur dan sungai menjadi kering. Lalu mereka merasakan kepanasan dan bermandikan peluh sehingga peluh mereka menjadi lautan. Timbul atau tenggelam mereka bergantung pada amalan masing-masing. Keadaan mereka berlanjutan sehingga 1000 tahun.

✐ Terdapat satu telaga kepunyaan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam bernama Al-Kautsar yang mengandungi air yang hanya dapat diminum oleh orang mukmin sahaja. Orang bukan mukmin akan dihalau oleh malaikat yang menjaganya. Jika diminum airnya tidak akan haus selama-lamanya. Kolam ini berbentuk segi empat tepat sebesar satu bulan perjalanan. Bau air kolam ini lebih harum dari kasturi, warnanya lebih putih dari susu dan rasanya lebih sejuk dari embun. Ia mempunyai saluran yang mengalir dari syurga.

✐ Semua makhluk berada bawah cahaya matahari yang terik kecuali 7 golongan yang mendapat teduhan,  dari Arasy. Mereka ialah:

- Pemimpin yang adil.

- Orang muda yang taat kepada perintah Allah.

- Lelaki yang terikat hatinya dengan masjid.

- Dua orang yang bertemu kerana Allah dan berpisah kerana Allah.

- Lelaki yang diajak oleh wanita berzina, tetapi dia menolak dengan berkata “Aku takut pada Allah”.

- Lelaki yg bersedekah dengan bersembunyi (tidak diketahui orang ramai).

- Lelaki yang suka bersendirian mengingati Allah lalu mengalir air matanya kerana takutkan Allah.

✐ Oleh kerana tersangat lama menunggu di padang mahsyar, semua manusia tidak tahu berbuat apa melainkan mereka yang beriman, kemudian mereka terdengar suara “pergilah berjumpa dengan para Nabi”. Maka mereka pun pergi mencari para Nabi. Pertama sekali kumpulan manusia ini berjumpa dengan Nabi Adam tetapi usaha mereka gagal karena Nabi Adam a.s menyatakan beliau juga ada melakukan kesalahan dengan Allah Subhanahu Wa Taala. Maka kumpulan besar itu kemudiannya berjumpa Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. (semuanya memberikan sebab seperti Nabi Adam a.s.) dan akhirnya mereka berjumpa Rasullullah SAW. Jarak masa antara satu nabi dengan yang lain adalah 1000 tahun perjalanan.

✐ Lalu berdoalah baginda Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam ke hadrat Allah Subhanahu Wa Taala. Lalu diperkenankan doa baginda.

✐ Selepas itu, terdengar bunyi pukulan gendang yang kuat hingga menakutkan hati semua makhluk karena mereka sangka azab akan turun. Lalu terbelah langit, turunlah arasy Allah yang dipikul oleh 8 malaikat yang sangat besar (besarnya sejarak perjalanan 20 ribu tahun) sambil bertasbih dengan suara yang amat kuat sehingga ‘Arasy itu tiba dibumi.

✐ 'Arasy ialah jisim nurani yang amat besar berbentuk kubah (bumbung bulat) yang mempunyai 4 batang tiang yang senantiasa dipikul oleh 4 malaikat yang besar dan gagah. Dalam bahasa mudah ia seumpama istana yang mempunyai seribu bilik yang menempatkan jutaan malaikat di dalamnya. Ia dilingkungi embun yang menghijab cahayanya yang sangat kuat.

✐ Kursi yaitu jisim nurani yang terletak di hadapan Arasy yang dipikul oleh 4 malaikat yang sangat besar. Saiz kursi lebih kecil dari 'Arasy umpama cincin ditengah padang . Dalam bahasa mudah ia umpama singgahsana yang terletak dihadapan istana.

✐ Seluruh makhluk pun menundukkan kepala karena takut. Lalu dimulailah timbangan amal. Ketika itu berterbanganlah kitab amalan masing-masing turun dari bawah Arasy menuju ke leher pemiliknya tanpa silap dan tergantunglah ia sehingga mereka dipanggil untuk dihisab. Kitab amalan ini telah ditulis oleh malaikat Hafazhah / Raqib & 'Atid / Kiraman Katibin.

✐ Manusia beratur dalam saf mengikut Nabi dan pemimpin masing- masing. Orang kafir & munafik beratur bersama pemimpin mereka yang zalim. Setiap pengikut ada tanda mereka tersendiri untuk dibezakan.

✐ Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, dan amalan yang pertama kali dihisab adalah solat. Sedangkan hukum yang pertama kali diputuskan adalah perkara pertumpahan darah.

✐ Apabila tiba giliran seseorang hendak dihisab amalannya, malaikat akan mencabut kitab mereka lalu diserahkan, lalu pemiliknya mengambil dengan tangan kanan bagi orang mukmin dan dengan tangan kiri jika orang bukan mukmin.

✐ Semua makhluk akan dihisab amalan mereka menggunakan satu Neraca Timbangan. Saiznya amat besar, mempunyai satu tiang yang mempunyai lidah dan 2 daun. Daun yang bercahaya untuk menimbang pahala dan yang gelap untuk menimbang dosa.

✐ Acara ini disaksikan oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dan para imam 4 mazhab untuk menyaksikan pengikut masing-masing dihisab.

✐ Perkara pertama yang diminta ialah Islam. Jika dia bukan Islam, maka seluruh amalan baiknya tidak ditimbang bahkan amalan buruk tetap akan ditimbang.

✐ Ketika dihisab, mulut manusia akan dipateri, tangan akan berkata- kata, kaki akan menjadi saksi. Tiada dolak-dalih dan hujah tipuan. Semua akan di adili oleh Allah Ta'ala dengan Maha Bijaksana.

✐ Setelah amalan ditimbang, mahkamah Mahsyar dibuka kepada orang ramai untuk menuntut hak masing-masing dari makhluk yang sedang dibicara sehingga seluruh makhluk berpuas hati dan dibenarkannya menyeberangi titian sirat.

✐ Syafaat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam di akhirat :

ⅰ- Meringankan penderitaan makhluk di Padang Mahsyar dengan mempercepatkan hisab.

ⅱ- Memasukkan manusia ke dalam syurga tanpa hisab.

ⅲ- Mengeluarkan manusia yang mempunyai iman sebesar zarah dari neraka.

(Semua syafaat ini tertakluk kepada izinan Allah Subhanahu Wa Taala.)

✐ Para nabi dan rasul serta golongan khawas juga diberikan izin oleh Allah untuk memberi syafaat kepada para pengikut mereka. Mereka ini berjumlah 70 000. Setiap seorang dari mereka akan mensyafaatkan 70 000 orang yang lain.

✐ Setelah berhasil dihisab, manusia akan mula berjalan menuju syurga melintasi jambatan sirat. Siratal Mustaqim ialah jembatan (titian) yang terbentang dibawahnya neraka. Lebar jembatan ini adalah seperti sehelai rambut yang dibelah tujuh dan ia lebih tajam dari mata pedang. Bagi orang mukmin ia akan dilebarkan dan dimudahkan menyeberanginya.

✐ Fudhail bin Iyadh berkata perjalanan di Sirat memakan masa 15000 tahun. 5000 tahun menaik, 5000 tahun mendatar dan 5000 tahun menurun. Ada makhluk yang melintasinya seperti kilat, seperti angin, menunggang binatang korban dan berjalan kaki. Ada yang tidak dapat melepasinya disebabkan api neraka senantiasa menarik kaki mereka, lalu mereka jatuh ke dalamnya.

✐ Para malaikat berdiri di kanan dan kiri siratal mustaqim mengawasi setiap makhluk yang lalu. Setiap 1000 orang yang meniti siratal mustaqim,  hanya seorang saja yang brrhasil melaluinya. 999 orang akan terjatuh ke dalam neraka.

Rujukan:
Kitab Aqidatun Najin karangan Syeikh Zainal Abidin Muhammad Al-
Fathani. Pustaka Nasional Singapura 2004.

☞ Jika sekiranya kalian ingin mengumpul saham akhirat, sampaikanlah ilmu ini kepada sahabat² yang lain. Sebagaimana mana sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam:
❝ Sampaikanlah pesananku walaupun satu ayat. ❞
Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :

① Sedekah/amal jariahnya.
② Doa anak²nya yang soleh.
③ Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain. La illaha illa Allah,
Muhammadu Rasulullah
kepada 3 group saja.  
Lihat apakah anda
mempunyai waktu untuk
ALLAH atau tidak.

Kiamat menurut Agama islam di tandai dgn beberapa petanda.

- Kemunculan Imam Mahdi

- Kemunculan Dajjal

- Turunnya Nabi Isa (AS)

- Kemunculan Yakjuj dan Makjuj

- Terbitnya matahari dari Barat ke Timur

- Pintu pengampunan akan ditutup

- Dab'bat al-Ard akan keluar dari tanah & akan menandai muslim yang sebenar2nya

- Kabut selama 40 Hari akan mematikan semua orang beriman sejati shg mereka tidak perlu mengalami tanda2 kiamat lainnya

- Sebuah kebakaran besar akan menyebabkan kerusakan

- Pemusnahan/runtuhnya Kabaah

- Tulisan dalam Al-Quran akan lenyap

- Sangkakala akan ditiup pertama kalinya membuat semua makhluk hidup merasa bimbang dan ketakutan

- Tiupan sangkakala yang kedua kalinya akan membuat semua makhluk hidup mati dan yg ketiga yang membuat setiap makhluk hidup bangkit kembali

Nabi MUHAMMAD SAW telah bersabda:
“Barang siapa yg mengingatkan ini kepada orang lain, akan Ku  buatkan tempat di syurga baginya pada hari penghakiman kelak”

Kita boleh kirim ribuan bbm mesra, promote, fb yang  terlalu penting tapi bila kirim yang berkaitan dengan ibadah mesti berpikir 2x.

Allah berfirman : “jika engkau lebih mengejar duniawi daripada mengejar dekat denganKu maka Aku berikan, tapi Aku akan menjauhkan kalian dari syurgaKu”

Kerugian meninggalkn solat:

Subuh: Cahaya wajah akan pudar.

Zuhur: Berkat pendapatan akan hilang.

Ashar: Kesehatan mulai terganggu.

Maghrib: Pertolongan anak akan jauh di akhirat nanti.

Isya’: Kedamaian dlm tidur sukar didapatkan.

Sebarkan dgn ikhlas. tiada paksaan dalam agama

Niatkan ibadah (sebarkan ilmu walau 1 ayat)

Nasihat Kubur :      

1). Aku adalah tempat yg paling gelap di antara yg gelap, maka terangilah .. aku dengan TAHAJUD

2). Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah aku dengan ber SILATURAHIM .

3). Aku adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah aku dengan perbanyak baca .. AL-QUR'AN.

4). Aku adalah tempatnya binatang2   yang menjijikan maka racunilah ia dengan Amal SEDEKAH,

5). Aku yg menjepitmu hingga hancur  bilamana tidak Solat, bebaskan jepitan itu dengan SHOLAT

6). Aku adalah tempat utk merendammu dgn cairan yg sangat amat sakit,   bebaskan rendaman itu dgn PUASA..

7). Aku adalah tempat Munkar & Nakir bertanya, maka Persiapkanlah jawabanmu dengan Perbanyak mengucapkan Kalimah “LAILAHAILALLAH”

Sampaikanlah tulisan ini kepada teman-teman lainnya. Siapa tahu, tulisan ini, bisa menjadi petunjuk juga hidayah bagi sebagian orang.

Wallahua’lam bisshawab

spiritual Advice from different Ulama:

Seyid Ali al-Qadhi:
You will never reach any spiritual level if you have haq owing to someone, until you fulfil it.

Sh. Nukhudaki:
Never leave Salat al-Layl and enhancing your taqwa and self-restraint.

Sh. Kampani:
Always keep regular time for your seclusion, and whenever you are in gatherings try to be like you are in seclusion.

Seyid Ahmad Karbalai:
Absolute concentration should be on the Imam of your time (a.a.f.), and doing tawassul to him, with reciting dua Faraj, and dua of ‘Allahuma 'arrifni nafsak…..“

Sh. Bahari:
The most comprehensive advice I can give is that you avoid sin. If you work on this you will reach the loftiest of stations. If you do sin, quickly repent and seek forgiveness.

Mulla Husainquli Hamadani:
Self-monitoring means to never be inattentive of the presence of the Almighty.

Sh. Mehdi Naraqi:
A human body is material and finite, but its soul is eternal. If you uphold it with good Akhlaq it will have everlasting happiness, and if you pollute it with vices it will endure ongoing punishment.

Sh. Baydabadi:
My dear, be aware, and not lost, know yourself, and dont be a showoff, because knowing yourself is knowing your Lord, and showing off takes you away.

Sh. Muhammad Taqi Amuli:
Never leave prayer on its time. Have good manners to everyone, and stay away from haram income.

Sh. Kohestani:
If knowledge is the criterion, Satan is the most knowledgeable of us. It is practicing that is the criterion.

Mirza Qasim Gargari Jalfa`i:
The most important element of spiritual progress and true perfection, after obeying God, is serving people.

Allamah Tabatabai:
Neglecting repentance, and postponing it is a sin in itself, and this sin continues to repeat every instant.

Imam Khomeini:
If a soul is not disciplined and purified from corrupt features knowledge will have no effect in it.

Mirza Ali Akbar Marandi:
Take utmost care of your mother. Never let her be upset or discontent with you, or else you will never succeed in this world or in the hereafter.

Sh. Behjat:
Only one piece of advice is enough, and that is God sees you in every state you are in.

Sh. Hasanzade Amuli:
There is nothing more important than self-discipline.

Menguasai Dunia? Kuasai Fitrah

Islam, yang saya pahami, adalah agama yang tidak hanya komprehensif, tapi juga fleksibel, realistis, dan klop dengan fitrah manusia.

Salah satu contohnya—ini terkenal sekali, bisa kita lihat dalam shahih bukhari. Ada tiga orang datang menemui istri-istri Nabi, menanyakan perihal ibadah Rasulullah.

Setelah itu, karena saking bersemangatnya, salah satu dari mereka berkata, “Aku akan mendirikan shalat sepanjang malam.”

Salah satu yang lainnya berkata, “Aku akan berpuasa sepanjang hidupku dan tak akan pernah berbuka.”

Satu orang terakhir berkata, “Aku tidak akan mempergauli perempuan dan tidak akan menikah.”

Kabar ini sampai ke telinga Rasulullah, hingga Rasul menemui mereka dan berkata, “Apakah kalian orang-orang yang mengatakan hal itu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku melaksanakan shalat dan aku tidur, dan aku menikah.”

Sangat manusiawi, sangat realistis, bukan? Tentu masih banyak contoh lain yang dapat kita temukan, namun semoga poinnya sudah tertangkap.

Islam Menguasai Dunia?

Sebagai muslim yang secara aktif mempelajari Islam, kemungkinan besar kita sudah sering mendengar gagasan bahwa akan datang suatu masa di mana dunia ini diliputi kembali oleh cahaya Islam, entah dalam bentuk kekhilafahan dalam arti sistem politik, atau kekhilafahan dalam makna yang lebih luas (misalnya, aliansi negara-negara Islam), atau dalam bentuk “penguasaan” lainnya.

Dalam logika saya, jika ummat Islam ingin menjadi sang “soko guru peradaban dunia”, salah satu syarat penting yang harus dijaga adalah karakteristik Islam yang fleksibel, realistis, dan sesuai dengan fitrah manusia tadi.

Jangankan manusia, binatang yang mendapatkan pemaksaan, yang diperlakukan secara berlawanan dengan fitrahnya, pasti akan berontak (coba tangkap seekor ikan, keluarkan dari air, ia tidak akan diam sehingga lemas lalu mati).

Kalaupun akhirnya binatang tersebut menyerah, fitrahnya menjadi terpangkas (Pandji Pragiwaksono pernah cerita, temannya memelihara bayi beruang. Setelah beruang sudah cukup dewasa dan dilepaskan ke alam, dalam selang waktu yang tak terlalu jauh sang beruang ditemukan mati, diduga karena tidak mampu bertahan hidup). 

Peradaban macam apa yang mau kita hadirkan, jika kita berkuasa dengan pemaksaan atas realitas dan fitrah manusia? Mereka yang terkuasai pasti akan melakukan perlawanan terus menerus, menjadi perang tak berkesudahan. Apakah itu wujud agama rahmat bagi semesta alam?

Pemaksaan Atas Fitrah 

Ada banyak realitas dan fitrah manusia yang barangkali sering kita remehkan, kita tekan, kita paksakan.

Misalnya, soal hiburan. Sejujurnya, saya pernah begitu judgemental terhadap teman-teman yang–di mata saya, mengisi hidupnya hanya dengan bersenang-senang. “Hedonisme”, “Maksiat”, “Tak punya visi”, adalah beberapa label saya terhadap mereka.

Saat itu saya gagal melihat realitas bahwa manusia memang memiliki fitrah untuk selalu mencari kesenangan-kebahagiaan, yang mungkin pada setiap orang berbeda kadarnya sebab berkombinasi dengan kompleksitas hidupnya.

Saat itu saya gagal memahami bahwa saya tidak bisa memaksakan standar saya terhadap mereka. Mungkin mereka tidak mengenal Islam sebaik saya, mungkin mereka anak-anak yang broken home, dan mungkin-mungkin lainnya, yang menyebabkan kebutuhan mereka akan bersenang-senang jauh lebih kuat daripada saya.

Namun, coba sekarang tengok @PemudaHijrah. Lihat betapa membludaknya kajian-kajian mereka. Lihat siapa orang-orang yang hadir dalam majelis-majelis mereka. Lihat betapa kerennya event mereka. Teman-teman yang dulu saya cap sebagai kerumunan hedonis, ternyata banyak yang menjadi bagian dari mereka. Mungkin diantaranya karena mereka merasa fitrah mereka, realitas mereka, bisa terakomodasi bersama komunitas Pemuda Hijrah–tentu sebagai bagian dari kehendak dan hidayah dari Allah.

Astaghfirullah, betapa bodohnya saya, betapa jahatnya penghakiman saya.

Jalan Hidayah Itu Banyak

Kita memerlukan sebanyak-banyaknya cara untuk membuat manusia merasakan sendiri nikmat-indah-kerennya cahaya Islam. Perkataan kita semata tidak akan cukup. Apalagi tidak semua orang begitu diperdengarkan ayat Al-Quran langsung menangis seperti Umar bin Khatthab.

Mungkin diantara kita ada yang pertama kali mendapatkan hidayahnya lewat lagu produksi Awakening Records. Mungkin juga ada yang berhijab karena pada mulanya tertarik dengan gaya fashion seorang hijaber. Bahkan mungkin ada yang terpantik mendalami shirah karena menonton film Lord of the Rings (konon beberapa scene perang dalam film ini mirip dengan penggambaran scene perang pada zaman Rasul). Mengapa tidak mungkin?

Masih banyak kemungkinan jalan hidayah lain yang mungkin tidak bisa kita bayangkan saat ini, karena terbatasnya cakrawala berpikir kita, karena sempitnya pergaulan kita, karena sedikitnya referensi kita. Jika kita menyadari dan mengakui hal ini, maka semoga kita bisa mengurangi kebiasaan kita dalam menghakimi sesuatu.

Petualangan Menjelajahi Fitrah

Karena saya meyakini bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah, maka saya meyakini pula bahwa upaya mengeksplorasi dan memahami fitrah adalah sesuatu yang penting.

Dari sanalah barangkali kita mampu melihat betapa luasnya jalan hidayah Allah, lalu kita bisa memahami bahwa kita pun bisa punya peran sebagai agen hidayah Allah dengan apa yang kita bisa; bahwa tidak hanya yang hafal Al-Quran yang bisa berdakwah; tidak hanya yang berlajar ilmu syar’i yang bisa membangun ummat terbaik; bahkan keberadaan para penghafal Quran dan para ‘ulama syar’i saja mungkin tidak memadai jika kita ingin mewujudkan Islam sebagai soko guru peradaban dunia.

Kita perlu menyediakan alternatif yang lebih baik atas semua realitas dan fitrah yang eksis di muka bumi. Film Hollywood? Drama Korea? Industri Gaming? Musik? Apapun, semuanya, perlu kita siapkan alternatif yang lebih baik, yang bisa menjawab realitas dan fitrah.

Maka, dengan Islam sebagai pemandu, mari menjelajahi fitrah kita masing-masing, menjadi sebaik-baik diri kita dengan segala keunggulan uniknya.

Selamat berpetualang!

Khadijah atau Aisyah?

17. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, & dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua.

18. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu

Yang mana? Khadijah atau Aisyah?

ada yg memilih Khadijah. Jadi yg memilih Khadijah, Seperti apa, Khadijah itu?

Lembut, Penyayang, Keibuan, Pegertian, Penuh dukungan, rela mengorbankan harta jiwa untuk menyokong perjuangan suami, terpercaya mengurus rumah ketika ditinggal suami pergi. LUAR BIASA.

“Mau yg begitu? mau ya??” - tanya ustadz salim

“Baik. saya doakan antum benar2 mendapatkan yg seperti Khadijah. YANG LEBIH TUA PUN TIDAK MASALAH :D” “ya Kalau minta sesuatu itu kan yg lengkap ya?!” tambahnya. 

Atau mau seperti Aisyah?

Cantik,  Cerdas, Pinter, Lincah, Imut2, Sporty..

Oiya, sporty, kenapa?

Cerita sama Khadijah, gak ada ceritanya Rasulullah lomba lari sama Khadijah, gak ada. Adanya lomba lari sama Aisyah. Pergi ke fitnes bareng gak ada itu ceritanya sama Khadijah, adanya sama Aisyah. Pergi nonton, gak ada ceritanya sama Khadijah, adanya sama Aisyah. Nonton tari tombak di masjid. Saling bersandaran menempelkan pipi sama pipi. berdua. (Jangan itu yg dibayangkan!!!)

Mau yg seperti Aisyah?

Saya do'akan. (Kok jd gak mau? “pasti belakang ada tapinya ini..”)

Iya. Siapkah dengan sifat pecemburunya Aisyah.

Banting piring di depan tamu. Oiya, bagaimana suatu ketika Rasulullah sedang menjamu tamuya dengan piring2, kemudian tamu itu baru makan, baru mengambil makanan di atas piring itu, tiba-tiba Aisyah datang, mengambil piring itu dibating di depan tamunya, “PRAKKKK….”

Siap-siap piring plastik kalau begitu.

Kenapa? Tapi antum bayangkan Rasulullah, ada orang sedang menerima tamu, datang istrinya membanting piring di depan tamu, biasanya ingin menyelamatkanharga dirinya sendiri dengan caranya memarahi istri. iya kan?Tapi Rasulullah apa yg dikatakan? Senyuuum aja sambil mengatakan “Maaf ya, ibu kalian sedang cemburu”.

CUMA BEGITU.

biasanya gak ada rumah tangga ikhwah yg istrinya mengatakan ke suaminya ,“Kamu itu cuma ngaku-ngaku ….(titik2) )

Tapi Aisyah, sampai membuat para ahli hadits bingung, karena ada di riwayat rumah tangga Rasulullah itu Aisyah pernah berkata kepada Nabi,

“Kamu itu cuma ngaku-ngaku Nabi!”

itu kan ulama bingung. Ini maksudnya bagaimana? Orang istri sendiri kok meragukan keNabi-an suami. Mana mungkin Aisyah meragukan kenabian Muhammad saw, suaminya. Maka untungnya dijelaskan oleh pakar psikologi kalau “Bahwa itu kalimat yg diringkas”. Jadi orang itu kalau marah kalimat aslinya bukan begitu. Kalimat Aisyah bunyinya adalah “Aku tau kamu Nabi, tapi kenapa hari ini aku tidak merasakan kasih sayang, cinta, keadilanmu, dan semua perilaku kebaikanmu yang mencerminkan bahwa kau Nabi. Knapa hari ini aku tidak merasakan itu?”

Nah, itu kalimat kalau buat marah kan kepanjangan.

Loh, kita ini kan cenderung suka meringkas ya. memang di dunia wanita kecenderungannya ada yg membuat kalimat tidak langsung yg diringkas. itu kadang2 berbahaya. kalau suaminya tidak faham. Tapi tenang saja Nabi waktu itu mengatakan, “maafkan aku.”

Nah, siap dengan Aisyah yg seperti itu? Saya doakan.

Nah, artinya apa teman-teman? saya ingin mengambil ibroh,

Nabi saja yg sempurna, laki-laki paling baik, mendapatkan istri yg juga tidak sempurna. Maka yg kita cari bukan yg sempurna, tp yg TEPAT.

Dan tepat itu tdk harus sama. “saya itu beda jauh sama dia. karakternya gak mungkin cocok kayaknya.”

Siapa yg bilang? Rumus kecocokan itu macam2. Ada rumus kecocokan itu kesamaan, memang ada. Ada yg kemudian disebut sebagai keseimbangan. Panas yg sangat tinggi ketemu dgn kebekuan yg sangat  menggigilkan, jadinya kehangatan. itu namanya keseimbagan. Jadi anda jangan heran kalau ada “Ih..itu karakternya bumi dan langit lho. kok bisa ya nikah?” gitu. BISA SAJA.

atau ada juga yg beda, bukan beda berlawanan tp yg satu seperti hujan yg turun, yg satu seperti tanah yg subur. maka tumbuhlah buah2an. Itu kegenapan.

Bukalah ruang seluas-luasnya. Jadi jika anda jatuh cinta hari ini, jangan jatuh cinta pada satu orang tapi pada yg banyak sekalian.. :D

Jangan bilang “Aku tidak mungkin jatuh cinta pd org yg demikian!”

Kalau anda memang harus jatuh cinta, saya sendiri menyarankan anda untuk bangun. Tapi jika harus mengalami proses jatuh dulu, jatuhnya yg banyak sekalian..

jd ada yg tanya, “istikharah itu jawabannya pedomannya apa?”

saya juga tidak tau. “Apa mesti mimpi?”

Jadi kata Imam Syafi'i: selisihilah hawa nafsu.

Maksudnya apa?

Kalau memilih setelah istikharah, selisihilah hawa nafsu. Kalau ada biguung saking bingungnya selisihilah hawa nafsu.

disadur dari kajian pranikah ustad Salim A Fillah 

Beriman Pada Logika

Manusia, semakin hari semakin mengembangkan pemikiran cerdas dan logika yang luar biasa. Di satu sisi, luar biasa sekali perkembangan ini. Kehidupan semakin berkembang, pemahaman agama semakin komprehensif dan pembuktian kesempurnaan ilmu agama (Islam) juga makin banyak.

Tapi, tanpa kita sadari, logika seringkali membutakan kita, menjadi tuhan baru yang menjadi alasan kita melakukan amal yang diperintahkan agama.

Apakah para sahabat Rasul dulu selalu tahu efek baik duniawi di dalam setiap perintah Allah? 

Apakah Umar tahu bahwa sholat tahajjud itu baik bagi kesehatan? Belum tentu. Apakah Abdurahman bin Auf tahu bahwa bersedekah dan berbuat baik akan memberikan energi positif pada semesta sehingga semesta akan mengembalikan kebaikan itu pada dirinya (lalu beliau menjadi konglongmerat yang super kaya raya sampai resah karena dia terlalu kaya)? Rasanya tidak. Apakah para sahabat tahu apa saja nama nutrisi dan vitamin yang terkandung dalam kurma? Mungkin tidak. Kita lebih tahu.

Tapi para sahabat menjalankannya semata - mata karena itu semua perintah Allah, itu semua sunnah Rasulullah. Sami’na wa ato’na.

Seperti ketika seorang alumni perang Badr berbuat kesalahan dan Umar ibn Khattab RA hendak membunuhnya namun Rasulullah melarangnya. Umar bertanya mengapa dan mengapa, namun ketika Rasulullah menjawab bahwa itu perintah Allah (karena semua alumni perang Badr diampuni dosanya), tanpa banyak bicara Umar mundur. Sami’na wa ato’na, tanpa perlu mengusungkan logikanya lagi.

Ingat perjalanan Nabi Musa yang merasa sangat pintar kemudian Allah mempertemukannya dengan Khidir yang ternyata lebih bijak? Dari kisah mereka yang diabadikan dalam QS Al - Kahfi, kita belajar untuk sami’na wa ato’na. Dengarkan dan lakukan, beriman pada apa saja yang Allah perintahkan dan larang. 

Seringnya, kita banyak membantah. Tentu saja kita boleh bertanya mengapa. Tentu saja kita boleh mencari tahu, bahkan Allah memerintahkan kita untuk mempelajari. Namun, kita harus menelisik ke dalam hati kita. Benarkah pertanyaan - pertanyaan yang kita ajukan betul - betul karena ingin tahu, atau sekedar bantahan karena kita enggan melaksanakan?

Begini. Bisa kan kita bedakan kedua pertanyaan ini.

1. Kenapa ya, wudhu kan batal kalau kita kentut? Nah, yang kentut bagian itu, kok yang dibasuh bagian lain? I want to know.

2. Kenapa sih, wudhu kan batalnya karena kentut? Kok yang dibasuh bagian lain? Gamau ah, gw mau basuh pantat aja kalo gt.

Apakah bisa membedakan keduanya? Yang pertama, meski masih bertanya, dia mengerjakan. Yang kedua, karena logikanya belum tahu, dia enggan melaksanakan. 

Tentu saja Islam adalah agama yang logis. Namun, ada beberapa hal yang memang belum bisa kita mengerti sendiri, karena itulah kita membutuhkan bimbingan dari guru dan ulama. Penyakit kita seringkali adalah sudah merasa tahu, sehingga mengedepankan logika dalam beragama.

Iman kadang belum bisa kita terima logikanya. Bukan karena tidak logis, tapi karena logika kita belum sempurna dan belum bisa mencerna. Pengalaman, pembelajaran, pemahaman, yang membantu kita memahami iman. Semakin kita mengenal Islam, semakin kita tidak akan banyak komplain terhadap aturannya kok, semakin pula logika kita akan dibimbing ke arah yang lebih benar. 

Semoga kita menjadi umat yang tunduk, sami’na wa ato’na terhadap perintah agama, sejalan dengan itu terus belajar mengapa demikian mengapa begitu.

*kegelisahan topik ini sudah mengendap selama beberapa bulan terakhir.

CMIIW

Dulu orang ngaji itu runtut kitab, huruf demi huruf dari masjid ke masjid, dati madrasah ke madrasah, dari pondok ke pondok. Menjadi murid dalam mencari ilmu para ulama. Ilmu dan hukum di sanad dari guru ke guru sebelum dibagikan dan diamalkan.

Di zaman digital orang jadi jamaah youtube, ngaji di depan gadget, ngga ada rumus runtut ilmu, ngajinya dari tanya jawab ke tanya jawab, jawaban ustadz di hukum-kan.

Ngga ada lagi rumus jalan ke masjid atau madrasah, cukup follow atau subscribe jadilah jamaah. Selanjutnya jadilah pendalil. Menisbatkan diri jamaahnya ustadz kh, ustadz as, ustads fa, ustadz ah, dan sebagainya.

Ulama dulu dihormati karena ketinggian ilmu, kelapangan hati, akhlak mulia, serta ketakdziman muridnya. Maka guru-guru dahulu spesialisasinya hadist, fiqih, ushul fiqih, tasawuf, aqidah, tafsir.

Sekarang spesialisasi berubah jadi ustadz hist anak muda, spesialisasi instagram, spesialisasi youtube, spesialisasi facebook, spesialisasi twitter.

Dunia berubah, dakwah pun berubah. Cara memandang agama juga berubah. Kita semua memang sudah berubah.

Agama memang tidak berubah, tapi cara kita beragama akan berubah.

Jurus Jitu Mendidik Anak

Oleh: Ust. Abdullah Zaen, Lc. MA حفظه الله تعالى

👉JURUS PERTAMA: MENDIDIK ANAK PERLU ILMU

Tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.

Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua.

Padahal, menjadi orangtua harus berbekal ilmu yang memadai. Sekadar memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tak cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap.

Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya.

Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas.

Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang!

👉Ilmu apa saja yang dibutuhkan?

»Ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.

»»Ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Demi merealisasikan wasiat Nabi shallallahu’alaihiwasallam untuk para orangtua,

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.

Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain?

»ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, tidak lupa adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.

Dalam hal ini Nabi shallallahu’alaihiwasallam mempraktekkannya sendiri, antara lain ketika beliau bersabda menasehati seorang anak kecil,

“Nak, ucapkanlah bismillah (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu”. HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah.

»Ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.

👍Ayo belajar!

Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!

Urgensi kesalihan orangtua dalam mendidik anak

Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!

✔Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak.

Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!

👉Beberapa contoh aplikasi nyatanya

Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.

Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!

👉JURUS KEDUA: MENDIDIK ANAK PERLU KESALIHAN ORANGTUA

Tentu Anda masih ingat kisah ‘petualangan’ Nabi Khidir dengan Nabi Musa ‘alaihimassalam. Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang Allah sebutkan dalam surat al-Kahfi. Manakala mereka berdua memasuki suatu kampung dan penduduknya enggan untuk sekedar menjamu mereka berdua. Sebelum meninggalkan kampung tersebut, mereka menemukan rumah yang hampir ambruk. Dengan ringan tangan Nabi Khidir memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari penduduk kampung. Nabi Musa terheran-heran melihat tindakannya. Nabi Khidir pun beralasan, bahwa rumah tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya terpendam harta peninggalan orangtua mereka yang salih. Allah berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut dewasa dan mengambil manfaat dari harta itu.

Para ahli tafsir menyebutkan, bahwa di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah: Allah akan menjaga keturunan seseorang manakala ia salih, walaupun ia telah meninggal dunia sekalipun.

Subhânallâh, begitulah dampak positif kesalihan orang tua! Sekalipun telah meninggal dunia masih tetap dirasakan oleh keturunannya. Bagaimana halnya ketika ia masih hidup?? Tentu lebih besar dan lebih besar lagi dampak positifnya.

Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!

Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.

Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.

Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.

Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!

.
Sebuah renungan

Tidak ada salahnya kita putar ingatan kepada beberapa puluh tahun ke belakang, saat sarana informasi dan telekomunikasi masih amat terbatas, lalu kita bandingkan dengan zaman ini dan dampaknya yang luar biasa untuk para orangtua dan anak.

Dulu, masih banyak ibu-ibu yang rajin mengajari anaknya mengaji, namun sekarang mereka telah sibuk dengan acara televisi. Dahulu ibu-ibu dg sabar bercerita tentang kisah para nabi, para sahabat hingga teladan dari para ulama,

👉JURUS KETIGA: MENDIDIK ANAK PERLU KEIKHLASAN

✔👍Ikhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yg tak bernyawa.

Termasuk jenis amalan yg harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?

Maksudnya: Rawat & didik anak dg penuh ketulusan & niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.

Canangkan niat semata-mata untuk Allah dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman. Iringilah setiap kata yg kita ucapkan dg keikhlasan..

Bahkan dalam setiap perbuatan yg kita lakukan untuk merawat anak, entah itu bekerja membanting tulang guna mencari nafkah untuknya, menyuapinya, memandikannya hingga mengganti popoknya, niatkanlah semata karena mengharap ridha Allah.

Apa sih kekuatan keikhlasan?

Ikhlas memiliki dampak kekuatan yg begitu dahsyat. Di antaranya:

dg ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan. Proses membuat & mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yg tidak sebentar. Puluhan tahun! Tentu di rentang waktu yg cukup panjang tersebut, terka&g muncul dalam hati rasa jenuh & kesal karena ulah anak yg kerap menjengkelkan. Seringkali tubuh terasa super capek karena banyaknya pekerjaan; cucian yg menumpuk, berbagai sudut rumah yg sebentar-sebentar perlu dipel karena anak ngompol di sana sini & tidak ketinggalan mainan yg selalu berserakan & berantakan di mana-mana.Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan? Jalanilah dg penuh ketulusan & keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dg ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dg keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung & menyebalkan.

Dg keikhlasan, ucapan kita akan berbobot. Sering kita mencermati & merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yg sangat membekas di dada anak-anak yg masih belia… hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yg bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yg segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yg membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yg menggerakkan kata2 kita. Jika Engkau ucapkan kata2 itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat & sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dg sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah utk anak2 yg Engkau lahirkan dg susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yg berbobot.Sebab bobot kata-kata kita kerap bersumber bukan dari manisnya tutur kata, melainkan krn kuatnya penggerak dari dalam dada; iman kita & keikhlasan kita…

dg keikhlasan anak kita akan mudah diatur. Jgn pernah meremehkan perhatian & pengamatan anak kita. Anak yg masih putih & bersih dari noda dosa akan begitu mudah merasakan suasana hati kita.Dia bs membedakan antara tatapan kasih sayang dg tatapan kemarahan, antara dekapan ketulusan dg pelukan kejengkelan, antara belaian cinta dg cubitan kesal. Bahkan ia pun bisa menangkap suasana hati orgtuanya, se&g tenang & damaikah, atau se&g gundah gulana?Manakala si anak merasakan ketulusan hati orgtuanya dalam setiap yg dikerjakan, ia akan menerima arahan & nasehat yg disampaikan ayah & bun&ya, krn ia menangkap bahwa segala yg disampaikan pa&ya adalah semata demi kebaikan dirinya.

dg keikhlasan kita akan memetik buah manis pahala. Keikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yg amat manis di alam sana. yg itu berujung kpd berkumpulnya orgtua dg anak2nya di negeri keabadian; surga Allah yg penuh dg keindahan & kenikmatan.

Artinya: “org-org yg beriman, beserta anak cucu mereka yg mengikuti mereka dlm keimanan, Kami akan pertemukan mereka dg anak cucu mereka”. QS.Ath-Thur: 21

Dipertemukan dimana? Di surga Allah jalla wa‘ala!

Mulailah dari sekarang

🍃🌺🌺 ❀ ❀ ❀ ❀ ❀

noted for myself
— 

*Dialog antara Rasulullah & Iblis*

*Rasulullah* bertanya :
“Apa yg kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku hendak Sholat ?”

*Iblis* menjawab :
“Aku merasa Panas dingin dan Gementar”

*Rasulullah* : “Kenapa ?”

*Iblis* :
“Sebab setiap seorang hamba berSujud 1X kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 Derajat”

*Rasulullah* :
“Jika seorang umatku berpuasa ?”

*Iblis* :
“Tubuhku terasa terikat hingga dia berbuka”

*Rasulullah* : “Jika ia berhaji ?”

*Iblis* :
“Aku seperti orang Gila”

*Rasulullah* :
“Jika ia membaca Al-Quran ?”

*Iblis* :
“Aku merasa meleleh laksana air timah di atas Api”

*Rasulullah* :
“Jika ia bersedekah ?”

*Iblis* :
“Itu sama saja org tersebut membelah tubuhku dgn gergaji”

*Rasulullah* :
“Mengapa bisa begitu ?“

*Iblis*:
”Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya, yaitu :

1. Keberkahan dlm hartanya,
2. Hidupnya disukai,
3. Sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dgn api neraka,
4. Terhindar dari segala macam musibah akan terjauh darinya,

*Rasulullah* :
“Apa yg dapat mematahkan pinggangmu ?”

*Iblis* :
“Suara kuda perang di jalan Allah”

*Rasulullah* :
“Apa yg dapat melelehkan tubuhmu ?”

*Iblis* :
“Taubat org yg bertaubat”

*Rasulullah* :
Apa yg dpt membakar hatimu?”

*Iblis* :
“Istighfar di waktu siang & malam”

*Rasulullah* :
“Apa yg dpt mencoreng wajahmu ?”

*Iblis* :
“Sedekah yang diam-diam”

*Rasulullah* :
“Apa yg dpt menusuk matamu ?”

*Iblis* :
“Sholat fajar”

*Rasulullah* :
“Apa yg dpt memukul kepalamu ?”

*Iblis* :
“Sholat berjamaah”

*Rasulullah* :
“Apa yg paling mengganggumu ?”

*Iblis* :
“Majlis para ulama”

*Rasulullah* :
“Bagaimana cara makanmu ?”

*Iblis* :
“Dengan Tangan kiri dan jariku”

*Rasulullah*:
“Dimanakah kau menaungi anak2mu di musim panas ?”

*Iblis* :
“Dibawah kuku Manusia”

*Rasulullah* :
“Siapa temanmu wahai iblis ?”

*Iblis* :
“Pezina”

*Rasulullah* :
“Siapa teman tidurmu ?”

*Iblis* :
“Pemabuk”

*Rasulullah* :
“Siapa tamumu ?”

*Iblis* :
“Pencuri”

*Rasulullah* :
“Siapa utusanmu ?”

*Iblis* :
“Tukang Sihir (Dukun)”

*Rasulullah* :
“Apa yg membuatmu Gembira ?”

*Iblis* :
“Bersumpah untuk cerai”

*Rasulullah* :
“Siapa kekasihmu ?”

*Iblis* :
“Org yg meninggalkan Sholat Jumat”

*Rasulullah* :
“Siapa Manusia yg paling
membahagiakanmu ?“

*Iblis* :
“Org yg meninggalkan sholat dengan sengaja”

*sebarkan biar 1 dunia tahu apa kelemahan Iblis*.

..Sharing is caring
*Ingat : Nabi berpesan Sebarkan walau sepotong ayat*

Sesama Muslim Loh

Terus terang, saya sungguh lelah dengan banyaknya orang share kegiatan yang bertemakan “Persatuan Indonesia dan Toleransi” dengan segala bentuknya itu, namun disertai dengan caption yang memilukan. Aksi lilin, atau yang terbaru damai sesuatu apa gitu di Yogyakarta.

Bukan, bukan kegiatannya yang saya tidak suka, akan tetapi caption dari netizen - netizen yang menyudutkan dan menurut saya sebagiannya semena - mena. Justru yang seperti inilah menurut saya yang meramaikan anggapan bahwa Indonesia seakan sedang di ambang kehancuran kebhinekaan.

Seringnya diawali dengan cerita manis tentang toleransi dan heterogensi di lingkungan mereka. Tapi lalu ujungnya nyinyirin demo 212 dst.

Kenapa sih harus begitu? Seakan-akan yang demo itu biadab dan ingin Indonesia hancur terpecah - belah.

First of all, you salah tempat, bukan itu yang menjadi poin demo. Bukan karena perbedaan agama apalagi ras yang membuat demo itu terjadi. Felix Siaw yang Chinese juga ikutan btw. Jadi ga ada tekanan terhadap ras Chinese.

Second, di sana banyak ulama, profesional, bahkan ada pejabat dan penulis nasional loh. Dan para nyinyir-ers ngoceh seakan peserta demo adalah orang-orang bodoh. Well jika tidak suka, diam atau komentar namun sopan dan ahsan. Please be remember, kita butuh syafaat para ulama di akhirat nanti.

Third, mereka cuma sedang berjuang. Apakah membuat rusuh dan membunuh orang? Kan tidak. Saya pikir bakal nurunin sentimen investor di Indonesia, ternyata bahkan tidak. Memang terjadi macet di beberapa titik saja, namun ini kan proses demokrasi. Lalu kenapa segitunya dipojokkan? Apakah mereka begitu merugikan?

Fourth, ini yang bikin saya nelangsa sampai kadang menangis. Yang nyinyir itu orang-orang muslim loh!!! Kalau kita belum sependapat dengan mereka, kita harus belajar lagi. Jangan-jangan kitalah yang kurang ilmu, jangan-jangan kitalah yang kurang iman, jangan-jangan kitalah yang kurang tabayyun.

Kalaupun kita sudah merasa benar, ya sudah. Sekali lagi sampaikan komentar bahkan yang kontra sekalipun dengan cara yang ahsan, dengan cara yang sesuai dengan pendidikan yang kau enyam.

Jika metode tafsir Quran saja kamu tidak tahu, jangan coba-coba membantah tafsir Quran ulama. Jika fiqih muamalah dan kisah muamalah Rasul dan sahabat dengan non Muslim saja belum kau pelajari, jangan sekali-sekali komentar buruk tentang ajaran muamalah Islam.

Ah, feel free to give me a damn. I don’t care, anyway.

Kisah Yahudi dan Penggembala

Tersebutlah dalam satu episode masa lalu, seorang Yahudi datang ke sebuah desa yang bermukim di dalamnya masyarakat muslim. Ia berniat menebar syubhat dan keragu-raguan pada hati ulama yang ada di dalam desa itu.

Namun, sebelum ianya sampai ke pusat desa, ia menemui seorang penggembala muda yang sedang memberi makan ternaknya di rerumputan.

“Sebelum aku mengelabuhi Ulama mereka, aku akan mulai dulu dengan mengelabuhi penggembala bodoh ini”, serunya dalam hati. Sejurus kemudian, ia datangi penggembala dan mengaku-ngaku dirinya seorang pengembara muslim yang sedang singgah dari desa satu ke desa lainnya untuk bertualang. Setelah beberapa lama berkenalan, yahudi memulai tipu dayanya.

“Tidakkah kau sadari, bahwa kita akan susuah menghafal Al Quran yang jumlahnya 30 juz? Di dalamnya juga kau dapati ayat-ayat yang mirip, mengapa tidak kita hapus saja yang mirip itu, sehingga lebih mudah kita pelajari? Lagipula, ia cuma pengulangan kata saja tanpa faidah, iya kan?”

Si yahudi tersenyum jahat. Ia serasa di atas angin, dengan mudahnya mengelabuhi seorang muslim untuk mengingkari kitab sucinya.

“Perkataanmu wahai pengembara, sangatlah memukau”, jawab penggembala.

Makinlah senang si yahudi karena responnya membuatnya yakin bahwa sang penggembala telah termakan permainan makarnya.

“Namun, aku juga punya pertanyaan”, lanjut sang penggembala, “jika begitu, kita kan juga punya anggota badan yang mirip; dua mata, dua tangan, 10 jari, dua telinga. Tidakkah kau memotong bagian yang mirip itu agar bebanmu makin ringan? Lagipula, anggota badan yang mirip itu jika dipotong akan membuat energi yang kau dapat dari makan akan mengalir pada tubuhmu tanpa mubazir kan?”

si yahudi menatap kosong. Ia berdiri dan pamit undur diri dari penggembala sembari lirih berkata pada dirinya, “penggembala saja bisa mematahkan argumentasiku, apalagi Ulama mereka!”

——–
Ya Allah, pahamkanlah kami tentang agama-Mu.

All right, let's talk about some character designs ^^

Thank you to the Anon who inspired this analysis of the Shoukoku no Altair anime designs. I know you didn’t ask for this giant post but here you go anyway -w-

Let’s start with the designs that I love~ 

Kyros, Constantinos, and Balaban are spot on imo especially Balaban ^^ I get the exact same feeling from anime!Balaban as I do from manga!Balaban. MAPPA did great with these~ I can’t wait to hear these characters’ voices. If Balaban’s voice is right, he may just be one of the best manga -> anime adaptations I have ever seen OwO

Honorable mention: Kulak-san from the former Tughril village looks pretty good too, very similar to manga kulak-san  :3

Now we have the slightly-off-but-still-recognizable squad: 

All I’m doing is nitpicking with these because honestly they look nice.

Abiriga looks just like himself except that I think his eyes are more alive in the manga. The tattoos around his eyes stand out more too, so he looks extra exotic~

Suleyman’s design is very good, but he looks just a little too tame to me. He needs to look just 10% more like a homeless person and then this design would be A+

Shahara seems more mature to me in the manga and more beautiful. Anime!Shahara is cute, but she looks younger and doesn’t have the same grace as manga!Shahara.

I don’t know what’s going on, but even though Louis’ hair matches his manga counterpart, it just doesn’t work in the anime. It looked plausible in the manga, but I think the anime has opened my eyes to how weird his hairstyle actually is O_O

And then lastly we have the wtf-who-is-this-character-i’ve-never-seen-before squad, essentially the failed designs: 

I almost didn’t recognize Ayse and Beyazit in the opening. They look too alike, weirdly alike, like brother and sister. I feel there should be a clearer distinction and as you can see, the manga did a very good job making them look like relatives but not twins. I have a special respect for manga artists who can draw believable relatives but avoid making them look unbelievably similar.

Anime!Zaganos is too conventionally attractive. Don’t misunderstand, I think he’s very attractive in the manga, and the point isn’t that he isn’t. In the manga, he’s a very specific type of attractive, very unconventionally so, but anime!Zaganos is just too obviously good-looking. He gives off a Severus Snape vibe in the manga, you’re supposed to be thinking ‘he’s trouble… right? but from some angles i may or may not think he’s hot’, not considering him the most eligible bachelor in the story. That full, luscious hair doesn’t suit him; I much prefer his stringy, oily hair in the manga. 

Oh, poor Mahmut. *sigh* He’s easily the most attractive character in my opinion. I’m crying at the loss of his beautiful hair, and his eyes are much prettier in the manga. I’m afraid we won’t be able to see his gorgeous golden hair blowing in the wind while he’s on a horse… ;n; Plus, manga!Mahmut has this smug look that totally suits his face, and not once have I seen anime!Mahmut carry such an expression. I can’t imagine anime!Mahmut looking half as sinister as he’s eventually going to have to later on -_-;

Let’s just appreciate manga!Mahmut’s beautiful hair and smug/sinister looks one more time:

Holy shit, that’s the end. If you read all the way, I love you. There’re my opinions on the anime’s character designs so far. Feel free to tell me your own! 

'IBRATUNA

Suatu ketika, 3 ulama besar kita - Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Al-‘Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani - tengah berada dalam satu forum (majelis ilmu). Syaikh Ibnu Baaz sebagi ketuanya. Rahimahumullah.

Tatkala ada pertanyaan dari hadirin, bila pertanyaan tersebut terkait dengan fiqih, beliau mengarahkannya kepada Syaikh Al-‘Utsaimin. Bila pertanyaan tersebut berkenaan dengan hadits, beliau mengalihkannya kepada Syaikh Al-Albani. Adapun beliau, hanya berkenan menjawab bila pertanyaan seputar aqidah dan tauhid.

Saat tiba waktu sholat, Syaikh Ibnu Baaz meminta Syaikh Al-Albani untuk menjadi imam sholat. Awalnya Syaikh Albani menolak, karena beliau merasa Syaikh Ibnu Baaz yang lebih layak, baik secara usia maupun keilmuan. Tapi Syaikh Ibnu Baaz tetap meminta beliau menjadi imam. Syaikh Ibnu Baaz berkata:

كلنا في القرآن سواء، و أنت أعلمنا في الحديث

“Kita semua sepadan dalam hal (keilmuan) Al-Qur'an, tapi diantara kita engkau paling berilmu dalam masalah hadits.”

Kemudian Syaikh Albani bertanya:
“Sholat yang bagaimanakah yang harus aku lakukan? Apakah yang sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” *

* Yakni, sholat yang lumayan panjang.

Syaikh Ibnu Baaz menjawab:
“Bahkan yang sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ajarilah kami, wahai Abu Abdirrahman. Ajarilah kami tentang tuntunan sholat Rasulullah.”

——————–

Diantara pelajaran yang bisa diambil:
1. Ulama adalah sosok yang tidak sok tahu meskipun sebenarnya dia tahu.

2. Ulama bukanlah tipe orang yang gemar bicara dalam segala hal, meskipun dia sebenarnya layak bicara tentang itu.

3. Ulama lebih suka memberikan kesempatan kepada pihak lain yang dirasa lebih kompeten untuk menjawab pertanyaan, meskipun dia sebenarnya juga mampu menjawabnya.

4. Ulama hanya menjawab suatu hal yang memang dirasa itu adalah bidangnya dan tidak memaksakan diri untuk menjawab bidang lain yang lebih dimampui oleh orang lain menurut penilaiannya.

5. Diantara akhlaq ulama adalah menahan diri dalam forum. Tidak menampakkan diri sebagai orang yang paling hebat dan berilmu dengan berbicara apa saja dan menjawab apa saja.

6. Ulama adalah pribadi yang tidak gila kedudukan. Dia lebih senang menyerahkan kedudukan pada orang lain, meskipun dia sebenarnya pantas dengan kedudukan tersebut.

7. Ulama tidak segan untuk mengambil faedah (belajar) kepada orang lain dalam suatu perkara, meskipun dia sebenarnya sudah menguasai perkara tersebut.

8. Ulama selalu berusaha memilih petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selama hal itu memungkinkan.

Tulisan Ammi Ahmad, yang sayang banget kalau gak diabadikan di tumblr. Barakallahu fiik ammi ahmad. Bahasa Arabnya ammi ketje sekali. Kapan-kapan saya minta video serial aslinya. Insya Allah…

~*
Jadi teringat dengan buku yang berjudul “Kita dan Akhlak para Salaf” karya Abdul Aziz Nashir Al Jualail, Baha’udin Fatih Aqil.

Kita dan akhlak para salaf bagaikan langit dan sumur.

13 Ramadhan 1438 H || 08.06.17 || -andromeda nisa’-

🔥 Do not use your intellect to judge the Deen!

Shaikh Muqbil Ibn Haadee al-Waadi`ee رحمه الله said:

❝If having a (sound) intellect was sufficient, Allaah would not have sent the Messengers nor revealed the Books.❞

—  📚[Ijaabaat al-Saail (pg. 366)]
✏ Fahad Barmem
العقل، هل يكفي؟
قال العلامة مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله في إجابة السائل (366) :
“ لو كان العقل كافيا ؛
ما أرسل الله رسلاً
وما أنزل الله كتباً .

DARI GARUT UNTUK DUNIA

Perawakannya kecil, namun suaranya lantang. Setiap kali ia hendak naik ke podium, para santri bertanya-tanya kali ini ia akan menyampaikan materi apa. Termasuk saya. Karena selalu ada hal baru dalam ceramah-ceramahnya. Itulah A Adi yang saya kenal semasa di pondok. Orang kini menengalnya sebagai Ustadz Adi Hidayat. Seorang dai, seorang ustadz, seorang hafiz, dengan kaliber ulama Quran dan Hadits yang mumpuni. Ribuan jamaah melingkar untuk menyimak tausiyah dan dedahan ilmunya.

Di pondok, saya dan Ust. Adi Hidayat terpaut dua angkatan. Saya adik kelasnya sewaktu kami nyantri di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut. Saya tahu waktu itu banyak santri yang tak suka pada A Adi, termasuk saya kadang-kadang (hehehe). Tetapi itu bukan karena perangainya yang buruk… Lebih karena ia begitu baik, taat beribadah, berprestasi, dekat dengan guru dan pembina… Dan tentu saja karena ia sangat “ngustad”. Banyak orang tak suka padanya jelas karena iri alias cemburu pada keilmuan dan akhlaknya. Soal bahwa mengapa banyak santri putra enggan bertemu dan mengobrol dengannya, mungkin karena takut diceramahi. Siapa sih yang suka diceramahi? Padahal, seandainya mereka tahu, selalu ada mutiara dalam nasihat-nasihatnya.

Saat tumbuh di pesantren, saya menjadikan A Adi sebagai salah satu benchmark dalam menggapai prestasi, di bidang apapun. Bagaimana tidak, sejak saya masuk sebagai santri kelas 1, semua orang sudah membicarakan Adi Hidayat (santri kelas 3) yang bisa berprestasi di berbagai bidang: Ranking 1 pelajaran umum, ranking 1 pelajaran pesantren, juara aneka lomba dari debat hingga cerdas cermat, bahkan kompetisi olahraga.

Then I grew up by looking up at him as one of my role models. Saya berusaha menyusulnya dengan meraih prestasi yang pernah diraihnya juga, ranking 1 pelajaran umum maupun ranking 1 pelajaran pesantren pernah saya raih. Urusan lomba-lomba juga saya tak mau kalah, saya ikuti puluhan lomba dari tingkat pondok hingga tingkat nasional dan menjuarai beberapa di antaranya. Di bidang olahraga, saya juara tenis meja dan masuk ke dalam tim elit basket pesantren. Saya berusaha mengamalkan apa yang dinasihatkan Kiai Miskun, kiai kami di Pondok, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran, “Wa likulli wijhatun huwa muwalliha,” bahwa setiap sesuatu termasuk setiap orang memiliki kebelihannya masing-masing. Dan yang harus kita lakukan adalah, “Fastabiqul khairat,” berlomba-lomba dalam kebaikan.

Sampailah saya pada satu titik di mana saya dan A Adi sudah sama-sama duduk di bangku Aliyah. Ia kelas 3 dan saya kelas 1. Kami sudah sama-sama tumbuh dengan rekam jejak masing-masing… Dan persaingan, kompetisi, untuk tak menyebutnya rivalitas, menjadi tak terhindarkan lagi. Kami sering terlibat dalam debat terbuka yang disaksikan banyak santri, bersaing dalam lomba bahtsul kutub, dan lainnya. Saya berusaha “mengalahkan” semua prestasi yang pernah diraihnya di aneka level, Provinsi maupun Nasional. Di beberapa bidang saya berhasil menang dan membuat rekor yang lebih baik, di sejumlah bidang yang lain A Adi tak mungkin terbendung lagi.

Tetapi, satu hal yang tak bisa saya susul darinya dengan cara apapun adalah ketakwaan dan budi pekertinya. Saya tahu diri soal itu. Ia sepertinya tak pernah merasa tersaingi, itulah yang membuat saya menarik diri dari “persaingan” dengannya. Dan juga karena ternyata kami pada akhirnya memilih jalur dan peminatan yang berbeda. Jika Kiai Miskun punya dua pilihan untuk para santrinya: Mau jadi intelektual yang ulama atau ulama yang intelktual? Saya lebih tertarik pada jalur yang pertama sementara kelihatannya A Adi fokus di pilihan yang kedua.

Saya ingat setelah “islah” itu semua jadi berubah. Saya mulai dekat dengan A Adi. Di masjid, saya mulai sering berdiskusi dan tak malu untuk bertanya hal-hal yang tidak saya mengerti. Sayangnya waktu itu A Adi sudah akan keluar dari pondok… Di satu sisi saya menyesal mengapa “pengakuan” saya datang terlambat, sementara seandainya saya “bersahabat” dengannya sejak lama mungkin saya bisa belajar lebih banyak darinya–sejak kelas 1. Tetapi di sisi lain saya juga bersyukur, semua “kompetisi” saya dengannya bagaimanapun telah membentuk siapa diri saya hingga saat ini.

Saya ingat hal yang paling mengesankan adalah selanjutnya kami sering berada dalam satu kontingen, terutama untuk lomba debat bahasa. Suatu kali kami berada dalam satu tim dan bekerjasama untuk memenangkan perlombaan… dan menang.

Kini, Ust. Adi Hidayat telah tumbuh menjadi sosok ulama yang intektual dengan kapasitas yang luar biasa. Saya sudah bisa menduganya sejak lama. Sejak kami pertama bertemu di masjid di tahun 1999. Kini ceramahnya ditunggu banyak orang, ilmunya menerangi ummat. Saya memang berjuang di “jalan dakwah” dan “medan jihad” yang lain, tetapi tentang A Adi saya selalu punya stock kekaguman dan rasa bangga yang cukup untuk ingin bisa bersama-sama dengannya.

Semalam kami bertemu. Usai mendengarkan kajiannya di Al-Ihsan PTM Bekasi, kami berbincang tentang banyak hal: Tentang tentang tantangan dakwahnya, tentang pihak-pihak yang berusaha menjatuhkannya, tentang komitmennya pada masa depan ummat, tentang rencana-rencana sinergi dan kolaborasi. Tak lupa juga sejumlah cerita nostalgia.

Dari sejumlah nasihatnya semalam, saya catat baik-baik satu hal, bahwa perjuangan untuk memberikan manfaat pada umat bukan hal gampang dan bisa dilakukan sendirian. Mulai hari ini, kita harus melakukannya bersama-sama…


Ciputat, 7 April 2017

FAHD PAHDEPIE

Cinta Tidak Senaif Itu

Mereka bilang, jika cinta pasti setengah mati berjuang untuk bersama. Kenyataannya, cinta tidak senaif itu, Kawan.

Cinta tidak melulu soal dia atau kita memperjuangkan. Persoalan kehidupan tidak sesederhana ‘jika cinta maka harus berjuang untuk selalu bersama’.

Setiap manusia tumbuh dengan pengalaman dan pemahaman yang berbeda. Setiap cinta tumbuh dengan masing - masing cerita. Terlalu kejam jika kita menggunakan standard cerita Cinderella, untuk memutuskan seberapa dalam cinta seseorang pada pasangannya.

Mereka bilang, jika cinta maka akan segera datang melamar. Padahal, perjuangan manusia itu tidak selalu sama melulu soal itu; keadaan ruh setiap manusia tidak rata baiknya seperti ulama yang begitu percaya pada jatah rezeki Tuhan yang pasti akan tiba. Setiap manusia memiliki perjuangan yang tak bisa diabaikan. Setiap manusia memiliki pedoman yang tak boleh dipaksa samakan.

Mereka bilang, jika cinta maka pedih ketika kehilangan. Bagiku, pedihnya kehilangan cinta pada manusia yang tak seharusnya adalah tanda bahwa kita perlu memperbaiki iman.

Mereka bilang, jika tak sedih ketika kehilangan kekasih, maka tak cinta kau padanya. Bagiku, bisa jadi orang itu bukan tak cinta namun memang sudah luas hatinya.

Jakarta, 5 Februari 2017.
Hasil obrolan di antara sibuknya meeting, dengan rekan yang ditinggal tunangan sama perempuan yang dia inginkan, dan bersikap sangat bijak menghadapi takdir. Kelasnya sudah di atas sih. Beda sama gw, yang dalam kehilangannya cuma bisa mewek tiap bangun tidur.

Yakin Terhadap Allah;

“Setiap ujian yang datang, kita lihat bagaimana interaksi hati kita terhadap ujian tersebut. Interaksi hati tersebut menyebabkan ujian terasa ringan. Jika hati itu tidak kuat jiwa tauhidnya dan keyakinannya terhadap Allah سبحانه وتعالى itulah sebabnya ujian terasa berat. Sehingga ujian yang ringan pun dia terasa berat, sebab apa? sebab jiwanya tidak diterapkan denganketauhidan dan keyakinan yang kuat terhadap Allah سبحانه وتعالى.”

“Apabila hati, ketauhidan , keyakinan yang kuat terhadap Allah سبحانه وتعالى maka apa segala bentuk ujian yang datang, seberat mana pun, sebesar mana pun ujian yang datang, dia akan rasa ringan, malah dia redha pula. Dan dia suka pula ujian yang datang kerana dia tahu ujian yang datang tu semua dari Allah سبحانه وتعالى satu bentuk hadiah dari Allah سبحانه وتعالى. Lihat Para Nabi dan Rasul mereka diberi ujian oleh Allah سبحانه وتعالى untuk tinggikan kedudukan dan martabatnya.”

“Segala yang wujud itu, bergantung kepada qudrat dan iradat Allah سبحانه وتعالى, maka tiada satu perbuatan pun berlaku tanpa izin dari Allah. Bersediakah kita kembali kepada Allah sebelum kita benar-benar kembali kepada Allah?.”

“Setiap detik masa yang berlalu itu adalah dengan izin Allah. Masa dan waktu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Setiap dari kita mempunyai masa yang sama yakni dua puluh empat jam sehari semalam. Dibahagi sama rata oleh Allah سبحانه وتعالى.”

“Masa dan waktu ini ianya adalah objek yang diciptakan Allah. Allah tidak berhajat kepada masa. Allah yang menciptakan "Past Tense” Allah yang menciptakan “Present Tense” Allah yang menciptakan “Future Tense”,“Past, Present dan Future Tense.” Dan semuanya berhajat kepada Allah سبحانه وتعالى di atas kewujudannya.“

"Allah سبحانه وتعالى juga tidak berhajat kepada ruang kepada tempat kepada masa kepada penjuru kepada arah, warna, rupa, bentuk fizikal. Allah yang tidak boleh digambarkan yang tidak boleh dicapai oleh akal manusia. Akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menyuruh di kalangan makhluk-Nya untuk memuliakan ini memuliakan itu supaya kemuliaan kita, keagungan kita kepada Allah سبحانه وتعالى.”

“Walaupun dunia ini diciptakan untuk kamu tetapi kamu diciptakan untuk Allah bukannya untuk dunia itu. Dan Itu hakikat kamu diciptakan untuk menghambakan diri kepada Allah untuk mentakzimkan, memuliakan, mengagungkan apa yang telah dimuliakan yang telah diagungkan oleh Allah سبحانه وتعالى.”

“Seseorang yang dimuliakan oleh Allah سبحانه وتعالى yang diberikan untuk menguasai masanya maka kita jangan terkejut bila kita mendengar ada orang yang boleh khatam Al-Quran dengan banyaknya. Orang yang boleh berzikir dengan banyaknya. Orang yang boleh menunaikan solat seribu rakaat semalaman dan sebagainya.”

“Pada hakikatnya kita semua mempunyai masa yang sama. Akan tetapi yang membezakan kita apa yang kita isi dengan setiap masa dan waktu kita. Tujuan kita diciptakan oleh Allah سبحانه وتعالى adalah untuk beribadah kepada Allah. Untuk beramal. Itu kerja kita. Allah سبحانه وتعالى menciptakan kita sebagai pekerja-Nya, hamba-Nya yang bermaksud beribadah kepada Allah sepanjang masa.”

“Bagaimana seseorang itu berada dalam ibadah sepanjang masa? Dua puluh empat jam. Di sini Ulama menjelaskan dengan penuh indah bahawa makna ibadah bukan sahaja terhad kepada solat, puasa, haji, zakat, Al-Quran dan zikir sahaja. Tetapi ianya meliputi kepada segala pekerjaan kita, setiap perbuatan yang harus, setiap dari pekerjaan kita, setiap dari amal kita.”

“Semuanya adalah dikira sebagai ibadah jika dengan niat yang benar. Makannya, minumnya walaupun tidurnya. Apabila ianya dilakukan dengan adab Rasulullah ﷺ dengan cara yang ditunjukkan oleh sunnah Rasulullah ﷺ maka tidurnya juga dikira di dalam ibadah.”

“Apabila makan dan minumnya dengan niat untuk mendapatkan tenaga untuk taqarub kepada Allah. Dia tidur dengan niat untuk merehatkan badannya supaya mendapat kekuatan tenaga untuk dia bangun nanti tahajud esok dia nak melakukan amal-amal kebajikan nak menunjukkan makna taqarrub kepada Allah سبحانه وتعالى.”

“Maka setiap perbuatan yang harus apabila ianya dilakukan dengan niat "Lillahi Ta'ala” bersama dengan adab dan sunnah yang ditunjukkan oleh Rasulullah ﷺ maka perbuatan yang harus itu tidak lagi sekadar perbuatan harus. Makna harus apabila dilakukan tidak mendapat apa-apa dan ditinggalkan pun tidak mendapat apa-apa. Itu makna harus.“

"Tetapi sekiranya ianya diselitkan dengan niat ikhlas, mengharapkan keredhaan Allah, mendekatkan diri kepada Allah, itu bukan perbuatan harus tapi ianya dikira ibadah di sisi Allah سبحانه وتعالى. Walaupun makan dan minumnya, main bolanya dan sebagainya dengan niatnya "Lillahi Ta'ala” tanpa melanggar sebarang batasan syariat maka dia beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى.“

"Ulama mengatakan setiap pekerjaan, perbuatan itu akan dikira sebagai ibadah iaitu yang pertama adalah, Apabila dia ada niat yang baik, niat yang soleh, niat "Lillahi Ta'ala”, niat untuk dia mendapatkan tenaga untuk bertaqarub kepada Allah سبحانه وتعالى. Dan yang kedua adalah, Jika dia sudah ada niat.“

"Dia ada keinginan untuk melakukan sesuatu pekerjaan, perbuatan tersebut untuk menyalurkan memberikan manfaat kepada orang lain. Apa jua pekerjaan dan amal yang dia lakukan semuanya memberikan manfaat kepada orang lain.”

“Dan bukan mudarat, tidak berfaedah melalaikan, melekakan diri daripada mengingati Allah. Jika memberikan mudarat, tidak memberikan faedah, melalaikan dan melekakan orang daripada Allah, menjauhkan orang daripada mengingati kepada Allah سبحانه وتعالى itu bukan ibadah.”

“Alangkah beruntungnya orang-orang yang diberikan kelebihan oleh Allah سبحانه وتعالى, yang dapat menguasai masanya mengisi masanya untuk beribadat kepada Allah سبحانه وتعالى. Untuk mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى. Dan amatlah rugi orang-orang yang masanya berlalu pergi begitu saja. Masa yang berlalu tanpa diisi dengan suatu yang bermanfaat. Demi masa sesungguhnya manusia itu didalam kerugian.”

“Maka bersyukurlah kita kepada Allah kerana dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk hadir di majlis ilmu di saat ramai orang di luar sana memilih untuk duduk berehat di rumahnya, duduk di atas sofanya, melihat televisyen, melepak dan sebagainya. Dan kita telah dipilih, kita diizinkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menghadiri majlis yang baik yakni dimajlis ilmu. Dan ditempat yang baik yakni di rumah Allah سبحانه وتعالى ini.”

Guru mulia kami. Tasawwuf. Darul Mujtaba. Ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari.

INNAMAL AQSHAA ‘AQIIDAH

Sesungguhnya Al Aqsha adalah aqidah. Begitu syiar yang dijunjung ratusan warga Timur Tengah ketika unjuk rasa bebaskan Al Aqsha dari tangan penjajah.

Sempat saya bertanya-tanya mengapa masyarakat Palestina menolak memasuki Masjid Al Aqsha melalui gerbang elektronik yang dipasang penjajah Israel. Bukankah yang terpenting adalah mendirikan sholat di dalamnya? Menghidupkan rumah Allah dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat? Dan sebagai muslim, tentu tidak mungkin masuk masjid dengan membawa logam atau senjata berbahaya, bukan?

Berikut catatan yang saya coba pahami dari tulisan Ketua Persatuan Ulama Palestina wilayah Khon Younis Muhammad Sulaiman Nashrullah dengan sedikit tambahan.

1. Bahwasanya keadaan Masjid Al Aqsha yang tanpa azan dan sholat tidak akan membahayakan umat beriman (yang memang hatinya telah terpaut akan kewajiban dan kebutuhan ini). Bahkan kita bisa lihat bagaimana mereka tetap mengumandangkan azan di pelataran masjid dan menggelar shaf panjang tuk mendirikan shalat. Masjid Al Aqsha akan senantiasa baik-baik saja dengan segudang upaya penutupan dari penjajah Israel selama penduduknya juga senantiasa menolak persyaratan-persyaratan dari penjajah. Mengapa demikian?

Sebab yang membahayakan Masjid Al Aqsha adalah ketika kita memasukinya dengan hina. Kita bukan kriminalis yang harus diperiksa ketika hendak beribadah.

2. Memasuki Al Aqsha melalui gerbang elektronik bukan satu-satunya jalan membebaskan masjid. Justru memasukinya sama saja kita membiarkan penguasaan penjajah Yahudi menang di atas kita. Jika untuk demikian saja kita lemah (menurut pada peraturan Yahudi), entah bagaimana ke depannya paksaan-paksaan penjajah merebut Al Aqsha. Dan entah bagaimana semakin tamaknya Yahudi terhadap tanah dan jiwa Palestina.

3. Sesungguhnya menetap di luar Al Aqsha dan memperjuangkannya sampai perang hingga syahid merupakan jihad yang mashlahah. Serta menganjurkan orang-orang beriman untuk turut memperjuangkan bebaskan Al Aqsha dan mendirikan sholat di dalamnya dengan kemuliaan.

4. Penolakan warga Al Quds juga menyingkap dan membongkar kepalsuan terhadap permukaan dunia selama ini. Menjelaskan bahwa siapa sebenarnya yang menjajah dan merebut Al Aqsha secara paksa? Hingga untuk azan dan sholat di dalamnya saja dilarang. Hingga untuk memasukinya saja harus melalui cara yang tak patut. Menjauhkan Al Aqsha dari penghuninya secara perlahan namun kejam.

5. Memohon untuk sholat di dalam Masjid Al Aqsha kepada penjajah berhati batu tidak menghasilkan kemuliaan apa pun. Sebaliknya, yang demikian justru melukai kemuliaan dan kehormatan. Bahkan disebutkan dalam tulisan aslinya perbuatan tersebut tidak mendatangkan pahala, justru menodai diri dengan dosa; karena pada dasarnya secara tak langsung mengakui kekuasaan musuh Allah. Apa Allah dan Rasul-Nya ridho?

6. Sesungguhnya kewajiban kita hari ini adalah membebaskan tanah Nabi bermi'raj itu. Membebaskan Masjid Suci ketiga umat Islam. Membebaskan masjid kedua yang dibangun di bumi ini dari penjajah Israel. Baik dengan senjata ataupun kata. Bukan rela sholat di dalamnya dengan mematuhi perintah musuh. Barang siapa yang masih berleha-leha dari memperjuangkan (membebaskannya), maka perlu dipertanyakan fitroh dan pemahamannya. Apa sudah terbalik dan berpenyakit?

Maka wahai Abnaul Quds, pilihan kita hanya dua, sholat di Masjid Al Aqsha dalam keadaan mulia atau melawan penjajahan hingga syahid meski di ambang pintu Al Aqsha. Tidak ada kesempatan untuk lemah, tunduk dan pasrah terhadap aturan-aturan penjajah!

Demikian pesan yang disampaikan Muhammad Sulaiman. Catatan yang cukup menjawab pertanyaan saya perihal Al Aqsha. Maka tak ragu saya mencatumkan judul demikian. Bahwa benar, urusan Palestina adalah urusan umat Islam. Perkara Al Aqsha adalah perkara keyakinan yang harus diperjuangkan. Hingga tak ragu kita teriakkan, “Bir ruuh, bid dam, nafdhiika yaa Aqsha!”, dengan ruh dan darah kita persembahkan untuk Aqsha. Dan tak ragu pula kita perjuangkan cita-cita bersama, hidup mulia atau mati syahid!

Allahu ta'aala a'lam.

|| Jakarta, 210717