ubanism

De romantiek van de slaaptrein

In slaaptreinen beleef ik altijd mijn beste nachten: hotseklotsend wegdromen op de geluiden van de trein, slapen als een roos en pas wakker worden wanneer de trein het station van aankomst binnenrijdt, de hele nacht beschermd door Ellen die oplettend en klaarwakker onze kostbare spullen met haar leven heeft bewaakt. Wat had ik me er dus op verheugd: de slaaptrein van Bangkok naar Uban Rachatani voordat we echt op de fiets stappen.
Ellen deed als gebruikelijk geen oog dicht en ik kon ze al na 5 minuten met geen mogelijkheid meer open houden. Wat een lekker bedje en wat een heerlijk koele airco in het ‘lower bed’. Dat Ellen blauwbekkend met het schuim op haar welhaast bevroren lippen (best bijzonder in de tropen) zo'n beetje al haar kleren aan het aantrekken was in het 'upper bed’, inclusief fietsbroek, ontging mij volledig.

Tot ongeveer half drie……

“Jeetje, wat gaat deze trein tekeer! Gaat het wel goed met de fietsen in het bagagetreinstel? Heb ik er wel goed aan gedaan de fietsen met mijn hangslot aan elkaar te zetten, ter voorkoming van diefstal (uit een afgesloten treinstel, bewaakt door een hele aardige man, is best logisch, gebeurt waarschijnlijk dagelijks)? En waar heb ik dat sleuteltje ook al weer gelaten? Ik moet mijn wekker zetten, want ze willen dat treinstel natuurlijk meteen legen bij aankomst en dan staan onze fietsen - lekker handig aan elkaar geketend - natuurlijk vreselijk in de weg”. Deze en andere gedachten flitsten door mijn hoofd, mijn romantische beeld van het reizen per slaaptrein viel in 1 klap in duigen. Maar gelukkig is er ook iets positiefs te melden: de lariam tegen malaria (nog geen mug te bekennen overigens) werkt blijkbaar uitstekend, in ieder geval wat de bijwerkingen betreft (paniek en angstaanvallen).

Voor wie wil weten hoe het is afgelopen? Uiteindelijk is alles natuurlijk goed gekomen. Doodmoe maar heel tevreden en opgelucht stapten wij om half negen op onze fietsen. Laos, we komen er aan!

Viral

di luar saya ada berita
papa telah pulang
di tuang kelebat anyir
tapi ibu tak mengapa
ada oppa yang lebih
menarik dari kehadiran
enam uban papa

saya lihat tak, sepatunya
penuh jahitan-jahitan
bahagia dan bekas anggur
bisa juga anggur bekas
tapi di luar itu mama
telah menyelipkan sebuah
nama untuk didatangi papa
kapan hari

“tapi kapan kita berhenti
saling tak mengenali?”

sebuah berita berjalan
melayangkan gema di ruang
tempat papa dan papa
saling berpandangan
sedangkan mama…
mama masih sibuk di luar
mencari nabi-nabi televisi

di luar ada saya ada berita
beserta dunia dalam mereka.

2017

@kelaspuisi

Mari menghabiskan masa tua bersama tuan. menikmati tiap malam dibawah selimut yang sama. saling memuji cantik dan tampan. Meski rambut kita sudah di tutupi uban, meski kulit-kulit kita sudah dipenuhi keriput.
—  Bagimana apa kamu setuju ?
Duduk Bersamamu

Aku ingin duduk lama bersamamu, menyaksikan film yang kita suka. Kita bisa berunding film kesukaan siapa yang akan kita tonton pada hari itu. Tapi tidak apa jika daftar filmmu masih banyak. Aku tidak keberatan. Asalkan aku duduk bersamamu.

Aku ingin duduk lama bersamamu, dalam sebuah perjalanan jauh menggunakan pesawat. Tidak apa jika kamu takut terbang, kita bisa menggunakan kereta, atau bus jika ingin lebih menikmati perjalanan. Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Asalkan aku duduk bersamamu.

Aku ingin duduk lama bersamamu, dengan sepasang teh hangat di atas meja dan buku dalam genggaman masing-masing, dimana uban mulai menghiasi rambut kita. Tidak apa jika kamu lebih menikmati susu putih hangat. Aku akan ke dapur untuk membuatnya. Asalkan aku duduk bersamamu.

Aku ingin duduk lama bersamamu, berteduh menanti hujan yang reda di sebuah bukit, menemanimu mengganti kaos kaki yang basah dengan kaos kaki cadangan, lalu bersama menikmati lengkungan warna-warni setelah langit berhenti menurunkan titik-titik airnya. Tapi tidak apa jika kamu lebih suka berbasah-basahan di bawah hujan. Aku akan tetap menemani. Asalkan aku duduk bersamamu.

Aku ingin duduk lama bersamamu, bukan hanya sekedar duduk biasa. Di mana aku memimpinmu duduk di atas sajadah kita masing-masing. Aku ingin melakukannya denganmu, juga ketika sepertiga malam.

Aku ingin duduk lama bersamamu, suatu saat nanti. Sampai akhirnya, kita akan duduk lebih lama lagi di dalam jannah-Nya.

Bogor, 28 Agustus 2015 | Seto Wibowo

Kita pernah bersepeda berdua mengelilingi kota. Kita pernah berbagi cerita tanpa peduli sekitar kita. Kita pernah bercanda, tertawa tanpa ada jarak antar kita. Kita pernah berbalas puisi sampai huruf-huruf pun iri. Kita pernah melakukan banyak hal tanpa ada rasa sesal.
Bisakah pernah-pernah tadi kita ulang, lalu kita lanjutkan sampai rambut kita penuh uban?
Untuk Ayah

Aku menemukan kuyup-kuyup tabah
yang menempel di bahunya, atau di mana saja yang kian menambah jumlah keriput-keriput rentanya
yang begitu basah, senyata remah-remah peluh yang tak kenal lelah disemai.

Ayah, pada tiap-tiap kepal kapal tanganmu,
dan pada rengkah-rengkah tapak langkahmu,
helai-helai uban semakin tumbuh bersemi tak lagi mengenal musim,
meski kadang mirip bunga-bunga jambu–tak mewangi,
namun banyak cita-cita yang kau mekarkan

Seperti Januari yang kekar menahan kuyup,
seperti nyanyian riang burung-burung pipit mengiringi rintik penghujan,
atau seperti tanah-tanah basah yang tak lelah dihunjam peluh.
Ayah, engkaulah yang senantiasa menjagaku dari lapar-lapar paling gigil.

Bahkan, engkau pun kerap menamparku, menampar dengan segenap kasih. Yang dengan jelas, beberapa bekas tamparan masih membiru lebam:
“Nak, berpeluh itu lebih membahagiakan, ketimbang berdiam diri dan berkeluh kesah,” ungkapnya sebelum mengayuh peluh.

Ayah, pada sejumput maaf yang kerap membaur kecewa,
pada syukur-syukur yang kerap pula kutinggalkan,
pun pada ungkapan-ungkapan terima kasih yang masih terasa hambar,
untukmu, aku pun ingin tetap menjadi yang senantiasa membanggakanmu.

Bekasi, 2016


Ditulis oleh @tehjeruk