tundae

Kalau isya-mu aja masih ditunda-tunda, ndak apa-apa dong Allah menunda pintamu?
— 

Termasuk mungkin di dalamnya menunda rezekimu, juga jodohmu. Impas kan?

Allah mah selowww, ngikut kita aja gimana~
*sedang menikam diri sendiri*

Daily Monster 331: La Tunda

Region of origin: Colombia and Ecuador

A child of the Devil and a human woman, la tunda was a witch-like spirit who preyed on small or unbaptized children or men who ventured into the woods. La tunda could shapeshift into a female loved one of the person, to trick them into entering her domain; but the transformation was always imperfect, most notably including a leg that was a molinillo, a traditional wooden whisk-like utensil. Once she had lured in her victim, she would lull them into a stupor through strong odors and by feeding them shellfish, where should would eat the children and keep the men in her thrall.

Aku Mengaminkan Dari Kejauhan

Aku tahu ada yang istimewa hari ini tapi aku pura-pura mengabaikan

Aku tahu ada yang penting hari ini tapi aku pura-pura tidak peduli

Jauh dari rongga-rongga hati paling dasar sebenarnya aku mengucap doa

Jauh dari pangkal lidah yang tidak tampak sebenarnya aku merapal mantra

Demi kebahagiaanmu yang tak perlu berbatas

Demi aku juga yang mulai memilih ikhlas

Semoga segala pinta dan impianmu tak membutuhkan tunda untuk dijabah

Semoga aku yang pernah datang sekelebat dengan membawa tanda tanya tidak perlu lagi repot-repot merindukanmu seperti yang sudah-sudah

Kau berhak bahagia, aku pun demikian

Maka dari itu, untuk pertama kalinya di hari kedua bulan kedua di tahun ini aku hanya akan mengaminkan dari kejauhan.

Tidak ada yang kusesali dari segala bentuk tulisan yang pernah kubuat

… karena seburuk dan sebaik apapun nanti akan tetap menjadi memori dalam dekap

Berbahagialah, aku juga akan …

Kita tak perlu bertemu kalau kau tak mau

sama halnya dengan kita tak perlu bersua walau aku ada rasa

kecuali,

jika suatu hari dengan tidak sengaja kita berpapasan dan salah satu diantara kita ada yang berani menyapa kembali untuk pertama kali,

maka artinya Tuhan sedang turun tangan dan ikut campur tentang perkara ini

Silahkan berdoa,

mataku sudah ku tutup, tanganku sudah menengadah dan batinku telah berkata .. “aamiin”

-Dari aku yang mengaminkan dari kejauhan

youtube

(via https://www.youtube.com/watch?v=9IdVIcH9X1g)

LOL WAT DE ASS?! XD

…there can never be a trini version…

Tentang Waktu di Media Sosial

Sudah 3 hari ini saya sengaja me-nonaktif-kan Facebook saya. Terhitung sejak Senin malam, akun saya hilang dari peredaran Facebook.

Sungguh suatu keputusan yang tepat, ketika suhu politik memanas menjelang hari pemilihan Pilkada dan saya khawatir lepas kontrol dalam mengupdate status ataupun memberi komentar. Juga untuk memanfaatkan waktu yang ada demi hal-hal lain yang perlu saya kerjakan.

Saya seketika juga meng-uninstall aplikasi Messenger, Path dan Instagram, walaupun untuk Instagram saya instal kembali pada hari ini. Riuh di media sosial membuat saya berpikir kembali tentang arti waktu dan eksistensi. Berapa banyak waktu Sholat yang sengaja saya tunda untuk melihat timeline Facebook, instagram atau Twitter?

Duh, maafkan saya Tuhan. Banyak hal yang saya korupsi waktunya karena keasyikan bermain di media sosial. Mulai dari Chatting, mengupload postingan, share, komen, like dan lain sebagainya. Saya sadar hal ini tidak selamanya baik. Saya harus mulai bisa mengendalikan diri dan mengendalikan waktu di media sosial.

Beberapa orang menyadari “kepergian” saya di Facebook. Bukan, saya bukan bermaksud pergi agar dicari. Toh, saya masih tetap bisa dihubungi via sms, telepon, whatsapp, E-mail dan Telegram. Banyak cara untuk berhubungan dan mungkin saya ingin puasa dulu beberapa saat dari Facebook, Messenger atau Path.

Apakah akan ada perubahan dalam hubungan yang sudah terjalin di media sosial tersebut? Mungkin saja. Tapi, toh seharusnya silaturahmi tidak hanya terjalin di media sosial. Saya harap seperti itu, semakin banyak interaksi di dunia nyata dan semakin bijak memanfaatkan waktu untuk hal-hal baik.