tumball

Penyesatan Khas Komunis

Saya Muslim, Islam ajaran saya, bila ada yang bilang ajaran saya perlu diwaspadai, ya jelas saya tersinggung. Pasti saya akan buat apapun yang saya bisa untuk membela Islam

Logikanya, bila ada yang tersinggung saat ada gerakan waspadai bangkitnya komunis, melakukan apapun untuk membela komunis, maka siapa dia dan ajarannya? Tebak sendiri

Bagaimana caranya membela komunisme? Ada dua cara. Satu, buat citranya jadi baik. Kedua, buat citra musuh-musuh anda jadi buruk. Hingga ramai manusia bersimpati

Lihat saja, bagaimana di tayangan-tayangan kita saksikan bahwa PKI memframing bahwa mereka adalah pendukung pemerintah paling utama, loyalis Soekarno, dan semisalnya

Di lain sisi, mereka memosisikan diri sebagai korban, sebagai tumbal propaganda orde baru, kaum yang patut dikasihani, padahal mereka brutal, sadis dan bengis

Saat ini, isu itu berganti bentuk, dengan melabeli semua gerakan yang anti-komunis seolah sebagai gerakan yang menjadikan isu komunis ini jadi alat menggulingkan pemerintah

Selain itu mereka juga menstigmatisasi Islam dan syariatnya sebagai pemecah bangsa, ulamanya sebagai aktor makar, persis sama dengan cara PKI di masa yang lalu

Saat PKI dekat dengan penguasa dulu, Masyumi dibubarkan, HAMKA, Natsir, dan ulama lainnnya dikriminalisasi. Ini lagu lama dengan penyanyi baru, bahanyanya tetap sama

Khilafah yang merupakan ide Islam dianggap seolah lebih berbahaya daripada ide komunis yang sudah mengakibatkan jutaan nyawa meregang di pelbagai sudut dunia

Perppu Ormas yang dikeluarkan, amaran yang penguasa berikan, ternyata lebih galak dan menghantam ummat Islam, sementara ide atheis, liberalis, komunis, diberi ruang diskusi

Sejarah mencatat, adalah komunis yang pernah membantai manusia tanpa ampun di Indonesia, sejarah mencatat pula, Islam dan Muslim yang selalu menyelamatkan negeri ini

Lalu mengapa sampai saat ini, Islam dan Muslim selalu dituduh dengan tuduhan tak pantas? Mengapa semua Aksi Bela Islam selalu dituduh menggoyang kekuasaan?

Bagi kami Muslim, ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar berkuasa, yang tak dibawa mati. Ada iman, ada amal salih, ada dakwah, ada jihad, yang lebih kami cintai
—  Ustadz Felix Siauw
Lelaki pun Bisa Terluka, Meski Ia Terkadang Tak Tahu Bagaimana Menyatakannya

Sebuah Cerpen.

_______________________________________

(1)

“Bego!”

Alya memekik tepat disampingku, menutupi sepasang matanya dengan lengan. Tersedu-sedan, namun samar terdengar karena dentuman musik cafe yang lebih keras menggaung. 

Itulah umpatan terakhir yang ia katakan, sedang aku sudah sejak tadi mengalihkan pandangan, melihat ribuan kendaraan yang lalu-lalang namun rasanya kosong. Aku melayang ke beda alam, terdiam di beranda rumah sanubari milik Alya -yang sejak awal telah dibuatnya aku masuk untuk mengikuti kisahnya, membuat emosiku teraduk-aduk dan akhirnya menyerah pasrah. 

“Kenapa sih lelaki tuh bego banget?”, mata sembabnya melihatku. 

Aku yakin, ucapan itu tak ditujukan untukku, aku pun tau pada siapa serapah itu menuju, tetapi aku merasai juga sakit seperti sembilu ketika perempuan manapun berani menyudutkan genderku. Hanya saja aku sudah tak mampu membalasnya dengan balik mengumpat, hanya kedua pundakku yang kuangkat tanda aku tak ambil pusing untuk tanya yang membabi-buta itu.

“…padahal dikit lagi, coba Chan.. dikit lagi,” isaknya makin menjadi. 

Aku kepulkan lagi sebatang Magnumku, membuatnya menjadi bulatan yang menebal lalu sepersekian detik kemudian hilang diterpa angin. Setelah kuhisap, rokok itupun mengeluarkan bunyi terbakar yang aneh, seaneh gelisahnya hatiku menekuri perawan yang masih memunggungi lengannya sejak tadi. Hanya ada aku dan Alya yang ada di luar cafe, sementara orang-orang yang duduk di dalam memandang kami dengan sejuta tanya. Peduli setan, bukan urusanmu kawan. Hari ini biarkan hidupku berepisode drama.

Alya masih terisak, ketika aku sudah hampir bosan,

“Udah lah Ly, lagian lunya juga sih yang salah,” pungkasku, sambil mematikan api rokok yang telah sekarat.

“Gue cuman mau liat keseriusan dia, Chan!” 

“Tapi ngga gitu juga Ly caranya. Lu sempet mikir panjang ngga, sih?”, Aku hampir menggertak. Jenuh.

“Gue ngga mau kesannya gue itu cewe gampangan, Chan. Gue mesti liat sejauh mana dia mau memperjuangkan gue,”

Ah, rese! umpatku dalam hati. Sedari tadi, alasan yang kudengar dari Alya hanya nonsense. Yang terlihat cuma egoisnya saja, tanpa mau mengakui bahwa dia juga yang menyebabkan masalah seperti ini ada. Dia yang memantik api dalam sekam, lalu dia juga yang teriris dalam tangis. Yang egois itu siapa sih, Ly?

Aku memantik calon puntung ketiga, bersama asap yang kuhirup, kubuang semua rasa kesalku ke udara. Mematut diri, melihat ke sudut jalan, membiarkan Alya menghabiskan tangisnya sampai tandas, yang semoga membawanya pada muara kesadaran tentang betapa naifnya dia memandang masalahnya. Sedang aku? Kalau sudah terlalu keruh, aku sendiri kadang buntu hingga sisanya hanya amarah yang akan mewakili.

Alya, kenapa sih kamu berani menyakiti?

……………………………………………………………………….

Lelaki itu bernama Tarra. Dia bukan artis, tetapi sifatnya memang budiman. Dia anak baik yang lebih cocok mungkin tidak pacaran. Tetapi, ia kadung sudah mengejar Alya sejak semester dua, si anak dance plus pemusik aestetik yang sejak dulu sudah memikat hatinya. Aku sih, tidak ambil pusing, hanya menertawai cerita yang selintingan kudengar dari sana-sini. Gila, anak baik-baik begitu kok ngebet sama anak slengean macam Alya. 

Dia memang punya segalanya, terutama wajah rupawan manis memikat. Tidak terlalu aneh kalau banyak lelaki yang kepincut. Utamanya, kalau setiap pasang mata melihatnya bernyanyi, beraksi seperti bumi miliknya sendiri. Tak segan kalau sedang berkumpul di markas anak musik, sampai larut malam, dan lagi-lagi hanya dia perempuan yang berani seperti itu. 

Meski begitu, Alya juga punya pertahanan tinggi seperti pagar istana, dengan segala pesonanya. Aku, Chandra Dirga, yang sudah sejak setahun lalu menjadi sang kepala markas, paham betul karakter anak perempuan satu ini. Tidak ada yang paling kutakuti selain satu sifatnya ; suka meremehkan. 

Bagi kami anak markas, cerita soal Tarra acapkali terdengar dari Alya, yang selalu kami simpulkan dengan tawa. Alya menyebut Tarra sebagai si anak masjid, yang sok-sokan mau menggaet hati sang biduan, dirinya seorang. Kontan saja, sinisme kami menguap-nguap di ruangan buluk di sudut kampus ini. Terakhir, si Belek, gitaris yang sempat magang di markas akhirnya angkat kaki karena tak kuat dibully, apa lagi kalau bukan karena mendekati Alya. Parahnya, Alya sendiri yang mengata-ngatainya di depan kami. Sinting memang. Bagi kami, Alya tidak untuk digoda, apalagi dimiliki. Ia bahkan sudah dianggap seperti lelaki.

“Gue bakal ngetes Tarra ah, Chan, Kir,” ucap Alya suatu hari.

Aku dan Bokir a.k.a Irham yang diajak bicara, meleng sebentar ketika sedang menyetem gitar. Hanya ada kami bertiga memang di markas kala itu.

“Maksud lu, Ly?” Bokir menyela,

“Anjis ini mah ngga akan bener lu, Ly” Aku menghela nafas panjang.

Alya tertawa sesaat, “Tarra ternyata ganteng, euy. Mau gue tes ah sejauh apa dia ke gue,”

Bokir ikut-ikutan mendengus, “Si Belek ngga cukup jadi tumbal lu, Ly?”

Aku hanya diam, menyetem gitar yang malah makin kendor, sedangkan pikiranku menangkap gelagat yang aneh. Perempuan ini mau apalagi?

“Diem aja lu pada. Semoga Tarra ngga secupu si Belek,”

“Gile lu, Ly. Tobat lu,” aku terpelatuk.

“Iya, anjir. Maneh nanti kena batunya siah,” tukas Bokir, yang aku tahu kalau dia sudah berbahasa Sunda, tandanya dia serius.

Alya hanya tertawa. Sinisme lagi-lagi menguap di udara. 

.

Hampir sebulan aku tak melihat lagi Alya di markas, sepi, melompong, tanpa sosok tuan putri. Memang sih, aku dan dia sekampus tetapi apa daya beda gedung yang berkalang puluhan meter sudah tak mampu lagi untuk saling menyetorkan muka. Cuma aku sifatnya memang tak mau usik dan usil atas kesibukan orang, biarlah. Lagipula, tanpa Alya, latihan anak musik jadi lebih teratur dan lebih serius. 

Sabtu, tepat jam 5 sore, anak-anak sudah bubar. Biasalah, pencitraan jomblo, katanya mau malam mingguan eh ternyata pada nonton bola di rumah. Tapi biarlah, aku tak ambil pusing, lagian akupun jomblo. Dan baru saja kututup pintu teralis markas ketika Arif datang menepuk pundakku, mengajak sekalian pulang ke parkiran. Kebetulan, ia teman sekelas Alya, iseng kutanya kemana batang hidungnya,

“Yang gue liat sih, tadi dia pergi,”

“Ama?” ucapku datar. Sangat tidak aneh kalau Alya tepergok pergi dengan lelaki.

“Tarra,”

“Weh? Malmingan mereka?”

“Au dah, iya kali,” oceh Arif, sambil meraih motornya yang terparkir “Udah semingguan dia balik ama Tarra,”

“Wah iya? hahaha,” aku tertawa, namun sumbang. Aku ingat betul apa yang Alya ingin lakukan ke Tarra, rencananya, sinismenya. Memuakkan.

“Yoi. Beruntung banget tuh Tarra,” pungkas Arif, sambil tos denganku dan akhirnya berlalu. 

Sayangnya tidak. Alya tak benar-benar menyambut Tarra dengan hatinya. Kasihan, bukannya pintu hati, yang ia temui malah kerangkeng sinisme Alya yang perlahan memenjarakan asanya. Si Belek saja tidak kuat, apalagi anak baik-baik seperti Tarra. Ah, tak ada yang perlu kusemogakan selain hanya nafas panjang yang perlahan kuserap pelan-pelan ; amit-amit jabang bayi, kalau aku nanti punya pacar yang modelnya seperti Alya. 

Kustarter Piaggio-ku meninggalkan kampus yang sudah sepi di sore sabtu yang penuh pencitraan ini.

.

Dua minggu berlalu. 

Aku hampir melupakan drama percintaan Alya, ketika ia baru saja mengirimkan pesan whatsapp sepulang kuliah. Penting, katanya, malam ini ditunggu di cafe di daerah Setiabudi. Tumben, hari Jumat begini, feelingku merasa ada yang tak biasa. Aku sebenarnya malas, tapi memang tidak ada kerjaan juga. Anak markas entah keliaran kemana, kantin kampus sepi, parkiran mahasiswa hampa, pun Persib tidak ada jadwal main. Alhasil, tidak ada alasanku untuk menolak, mengiyakan -sekitar jam 8 sudah di lokasi. 

Cafe tidak begitu ramai ketika kuparkirkan Piaggio-ku. Tidak terlihat Mini Cooper milik Alya. Si kampret ini pasti telat. Dia yang manggil eh dia yang telat, memang dasar. Tapi tanggung lah, maka aku langsung menuju lantai tiga, spot penjuru kanan yang kabarnya punya sinyal wifi paling kencang, -dan tentu saja, tempat paling sreg untuk meninjau sepanjang Jalan Setiabudi menuju Lembang. 

Dan ternyata Alya sudah disana, termenung di punggung tangannya, menghadap utara. Dia tidak menyadari kehadiranku, malah aku yang menyadari kalau di mejanya sudah ada sebungkus rokok mentol tanpa pemantik. Aku berjingkrak mengejutkannya, tapi ia hanya menoleh tanpa respon berarti.

“Ngerokok, lu?” Ucapku, seraya menelunjuki barang bukti.

“Hampir,” ucapnya berdesah, tampak enggan “Gue udah beli mentol disini, eh lupa beli Zippo. Minta ama mas-masnya, eh pada ngga ngerokok. Ya udah gue nunggu lo deh,”

“Cih. Ngga akan gue kasih,” keluhku. Mataku membulat, memeriksa apa gerangan yang menjadi kabut hitam di harinya. Terlihat jelas di matanya, sayu menyimpat gumpalan keresahan, tapi harus lebih dijelaskan lagi lewat ucapan.

“Kenapa sih lu, Ly? Stres apaan? IPK lu masih tiga koma, kan?”

“Bodo amat IPK gue, yang jelas masih bagusan dari lu, Chan” tuturnya pelan. Bangke lu Ly, masih sempet sombong juga waktu kaya gini. 

“Ini soal Tarra,” dengusnya, perlahan, menegakkan kepala, mencuri perhatianku, “Gue dicampakkan, Chan,”

Ah, demi Dewa, puja kerang ajaib, puja dewa Neptunus bertongkat garpu! Semestinya aku tertawa, meledak saat itu juga. Tapi entah kenapa, dinamit humorku tak bekerja, dicuri oleh dalamnya tatapan Alya, yang seketika membuat sintesis baru dalam otakku yang masih bekerja rodi mencerna -apakah aku ini tragedi yang harus membuatku tertawa? Aneh, apakah Alya keseleo lidah? Apa yang tersirat dari kalimatnya? 

“Maksud lo, Ly? Dicampakkan? Ngga salah denger gue?” ujarku, sembari teringat pada si Belek. Jadi yang mencampakkan itu siapa, Belek atau Alya? 

“Gue juga ngga tau, tapi feeling gue kaya gitu Chan,” lirihnya, dengan dagu berpunggung tangan.

“Emang udah jadian?”

“Belom, eh, hampir,”

“Lah?”, aku membenarkan letak dudukku, “Jadian belum, dramanya udah kelar, gimana sih?”

“Tauk ah! Dia bego emang! Gue udah suka sama dia, tapi dianya malah cemen, ngga mau memperjuangin gue lagi,” 

Segalanya makin aneh, apalagi ketika bulir air mata pelan-pelan menitik dari pelupuk mata Alya. Sekian tahun aku mengenalinya, baru sekarang aku merasa kalau Alya benar-benar seperti perempuan, yang pasti mengalirkan air mata karena perasaannya yang lembut. Lambat laun, ia mulai merintih sambil menundukkan kepala, membuatku menjadi resah, sementara orang-orang di bagian dalam cafe beberapa kali mencuri pandang ke arah kami. 

‘Gue cuman ngasi dia challenge, Chan,” Isak Alya, masih menutupi matanya, “Gue cuma mau liat sejauh mana keseriusan dia. Awalnya gue ngga yakin pada awalnya, tapi…”

“Tapi….”

“Tapi…”

Kata menggantung itu hanya diulangnya sambil tersedu-sedan. Sedang aku hanya diam menyimak, meski lirih ucapannya beradu dengan bisingnya klakson kendaraan yang lalu lalang. Kupusatkan perhatianku meski sorot matanya tak dapat kulihat.

“…Gue akhirnya suka ama dia, Chan”

Aku menghela nafas panjang. Berondongan tanya yang sejak tadi merunyam masih coba kutahan. Masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.

“Trus…kenapa lu akhirnya sedih, Ly?”

“Gue cuma kecewa aja, padahal gue udah mulai suka ama dia. Gue cuma nguji dia kok, seberapa tangguh dia kalau gue diem, kalau gue ngga mood, kalau gue lagi bingung mau ngapain, kalau gue cuma ngandelin kata “terserah”, kalau gue kadang ngga acuh ama dia….” 

Giliranku sekarang menutup mata, mengusapnya berkali-kali. Kini jelas, semuanya menjadi terang. Ada kemasygulan yang tak tertahankan, kalau bukan karena nuraniku yang masih terpegang, aku sudah sejak tadi ingin memuntahkan lahar kekesalan. Alya, Alya, kenapa kau begitu tampak arogan? 

Aku hanya mendengus berkali-kali, lalu mencoba menghidupkan puntung pertamaku. Sempat bergetar tanganku, hanya karena menahan kesal. 

“Lu kena karma, Ly” tegasku, “Lu mainin hati cowo yang udah mati-matian ngejar lu,”

Ia mendongak. “Dianya aja cemen, gue kan cewe, yang harusnya diperjuangin!”

“Tapi ngga gitu juga caranya, Ly! Lu mesti tau batasan juga!”

Tangis Alya tertahan, kurasakan Ia mengumpulkan benih amarah yang seketika itu langsung memuncak.

“Oh, gitu? Jadi menurut lo, segampang itu dapetin cewe, iya? Cuma bilang “sayang” trus cewe jadi mudah luluh tanpa ngelihat perjuangan si cowo itu dulu, iya? Jadi, tanpa usaha, cinta lu bisa diterima dengan gampang, iya?” 

“Perjuangan sih perjuangan, tapi bukan berarti lelaki bisa dipermainkan kaya gitu, Ly!” Aku mau tak-mau harus menyela.

“Alah, munafik lo, Chan! Dimana-mana juga kaum gue yang suka dipermainkan oleh laki-laki kaya lo! Udah sering dimana-mana gue liat, cewe yang baik-baik malah sering ditinggalin karena dia terlalu baik, Chan! ………” 

“…….Gue kasi tau, kadang cowo itu ngedeketin cewe ngga pake banyak usaha karena tau kalau cewenya itu baik! padahal lu tau sendiri, segala sesuatu yang ngga didapetin pake usaha keras itu jarang dihargai, Chan! Akhirnya cewe-cewe itu ditinggalin karena menurut mereka ngedapetin si cewe itu ngga ada tantangannya, ngerti ngga sih lu?….”

“……Gue sebagai cewe, ngga mau digampangin gitu aja, Chan! Ngga mau gue ama cowo yang cuma modal rayuan terus langsung minta jadian, najis Gue! Udah banyak kasus temen-temen gue yang terlalu ngemudahin cowo buat ngedapetin hatinya, yang akhirnya malah disia-siain. Ngga adil, Chan! Ngga adil! Ngerti ngga sih maksud gue?”

Alya meraung, sedang sudah kusut masai mukanya mengusap bekas aliran air mata. Sedang aku terdiam, termenung, membiarkan amarahnya menurun dengan sendirinya. Sempat tadi ingin kubalas api dengan api, tapi aku sadar kalau itu takkan berguna, perang egoisme antara lelaki dan perempuan, apa gunanya? Sekam pembelaan itu sudah kubuang jauh-jauh, kugantikan dengan asap kretek yang kuhisap pelan-pelan. Membuang keresahan, membiarkan dentuman musik cafe yang mengambil alih keadaan.

.

(2)

Malam semakin larut. 

Musik sudah mati sejak tadi. Asbakku sudah penuh dengan beberapa puntung yang lintingannya masih tersisa seperempat, tandaku tak benar-benar menikmatinya. Tak ada lagi dengungan manusia-manusia yang keheranan melihat drama percintaan dibalik kaca pembatas cafe, mereka sudah enyah dengan sejuta tanya di kepala masing-masing, tentang apa yang terjadi pada seorang perempuan yang menangis-meledak meledak-lalu membekap kedua matanya dengan punggung tangan, sedangkan si lelaki hanya diam mematut diri, menghabiskan batang demi batang yang terkepul lalu hilang. Suara riuh kendaraan sudah tak kentara lagi, arus menuju Lembang sudah perlahan sepi. 

Alya menyudahi dramanya dengan diam. Rokoknya masih utuh, tapi ia tak meminta pantikan zippo-ku. Hampir lima belas menit sudah ia merenung, dengan arah pandang kami yang bertelekan meja, memandang pepohonan rindang di penjuru cafe. Hentakan emosi sudah lama pergi, yang tersisa hanya sunyi. 

“Ly,” 

“Hmmm….”

“Lu harus minta maaf ke Tarra,”

Tak ada reaksi. ia tak mengangguk, pun tak juga menggeleng. Giliranku kini yang harus berbicara panjang, mencoba menarik benang simpulan yang terlanjur masai.

“Gue yakin, ini salah paham aja sih. Gue pribadi ngerasa tertohok ama kata-kata lu tadi, emang bener -cowo emang harus lebih menghargai apa yang udah dia dapetin, kasih sayang dari cewe yang udah nerima dia apa adanya, terlepas itu usahanya keras atau ngga… gue setuju ama lu, Ly..”

“…..cuma, baru Tarra yang sampai buat lu nangis kaya gini. Baru dia, Alya. Tandanya, apa yang dia lakuin itu membekas di hati lu. Perhatian dia, perjuangan dia, pengertian dia ke lu, itu yang ngebuat diri lu itu sebenarnya udah membuat diri lu tergenapi. Gue yakin, sampai ngebuat lu jadi galau kaya gini, apa yang dia lakukan itu udah sebaik-baik cara, kan? ….”

“…Alya, mungkin metode lu untuk menguji keseriusan lelaki itu harus lu liat juga ngga pake logika, tapi juga pake perasaan lu. Kalau hati lu kebuka, keseriusan seseorang itu pasti bisa lu ukur juga, kan? Gue ingetin lu untuk jadi perempuan seutuhnya sekarang, gunain hati lu yang peka dan lembut itu buat nyari jawaban atas segalanya…”

Aku berucap spontan, tanpa sebelumnya sengaja mengatur kata-kata. Sial, rokokku sudah habis, jadi aku terpaksa melanjutkan lagi dengan mulut yang masam. Aku merasa tak pernah sebijaksana ini sebelum ini, dan rasanya aneh. 

“Ly…”

“Hmmmm….” ucap Alya, lirih.

“Ngerti kan maksud gue?”

“Iya, Chan..” tukasnya, “Masih belum terlambat buat gue. Semoga dia ngga ngerasain sakit hati yang terlalu dalam,”

“Ly,  Gue kasi tau ke lu, kalau lelaki pun bisa terluka, meski dia terkadang ngga ngerti cara ngungkapinnya,” ucapku perlahan-lahan, mendekat , “Lelaki, meskipun dia berhak dan bisa, tetapi ngga akan pernah memilih untuk menangis kaya lu, kaum perempuan. Sesakit apapun hatinya, dia memilih untuk mengekspresikannya….”

‘…..jadi, jalan termudah untuk itu semua adalah pergi dari lu. Lu ngerti kan sekarang kenapa Belek udah ngga mau nemuin lu lagi abis kejadian tempo hari? Jangan sampe Tarra juga jadi korban ketidak-sengajaan lu, Ly.. padahal bisa jadi perlakuan mereka itu beda banget. Cuma Tarra yang bisa bikin lu nangis, dan lu mengakui bahwa lu kecewa karena dia ngga mampu menuhin ekspektasi lu…”

Alya mengangguk. Perlahan, aku menangkap sinar yang berbeda dari sorot matanya. Semoga dia mengerti. Hanya dia yang bisa mengambil konklusi dari semua ini. 

Aku berdiri, melemaskan ketegangan. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ternyata, memang sudah sepi. Tak sadar aku kalau bangku-bangku di dalam sudah diangkat ke atas meja, pun terlihat lantai yang basah karena sudah dipel -tanda harus segera angkat kaki dari sini.

….

“Pulang yuk,” tawarku, “Mau naik vespa butut gue apa naik Gojek?”

“Tau aja lu kalo gue ngga bawa mobil,” ucapnya, tersenyum.

“Gue ngga ngerti lagi lu tadi kesini naik apa, Ly. Lu terbang ya?” Ucapku terkekeh, dia pun tertawa berderai. Efek setelah menangis memang akan membuat tertawa, katakanlah itu sebagai proses sublimasi hati.

Tak lama kemudian, vespaku meluncur membelah sunyinya Bandung, darijalan Setiabudi menuju Cihampelas yang dingin, sepi, dan hanya berteman kelap-kelip lampu kota. Alya hanya diam, dan aku sadar kalau aku harus memberinya kesempatan untuk meresapi makna semua peristiwa yang baru terjadi beberapa jam kebelakang.

Tiba-tiba, ia menoyor helmku dari belakang,

“Tumben lu, Chan, bisa bijaksana gitu, hahaha,”

“Yaelah, gue gituloh, ketua anak musik! Kalau ngga bijaksana, ngapain lu ngajak curhat gue kan?” Aku tertawa.

“Sengak banget lu,” toyornya lagi, sambil balas tertawa.

Tinggal dua lampu merah lagi untuk sampai ke rumah Alya, ketika itu sesumbar ia bicara padaku,

“Kalau akhirnya Tarra ngga mau nerima gue lagi, gimana Chan? Misalnya dia kecewa berat ama gue gitu, gimana yah?”

Aku terdiam. Tak membalas. Kesusahan mencari balasan yang sepadan. 

“Kalau Tarra ngga mau, lu mau kan jadi pacar gue, Chan?” ucapnya tiba-tiba, membuat tawaku tersembur. 

“Kampret! hahahaha. Gue bukan cowo gampangan kali, Ly. Gue harus nguji seberapa keseriusan lu ke gue, hahaha,” ucapku, sambil melet-melet ke spion yang mengarah ke wajahnya. 

Ia hanya tertawa. Lalu diam, hilang bersama deru motorku. Semakin lama, pelukannya semakin kurasakan begitu lekat. Sesempurna inilah kalau Alya mau menjadi sosok perempuan yang sejati, membuat siapapun lelaki pasti mudah jatuh cinta. 

Gue yakin lu bisa berubah ly, terutama merubah sudut pandang lu tentang laki-laki, ngga semuanya lelaki kaya yang lu pikirin, Ly, ucapku dalam hati.

Hingga, tak ada lagi ucap yang bersahutan dari mulut. Entah, kalau dari hati.

_____________________________________________

©miftahulfikri

akhirku

bukankah telah kau saksikan
seberapa jujur air mataku bertutur
tentang tubuhku yang terlalu ringkih
untuk dibebani rasa cintaku sendiri
tentang dayaku yang hanya tersisa
untuk menantimu sepanjang usia
tentang segalaku
yang akhirnya selalu
terjatuh
lumpuh
di hadapan Tuhan
berulang-ulang

sebab
darimu aku terlalu jauh
dengan raga dan jiwa
berjarak tak tersentuh
meski mataku dan matamu tertatap
meski suaraku dan suaramu terdengar
juga nafasku dan nafasmu tersesap

bukankah telah kau saksikan
seberapa terlukanya aku mencintaimu
terlebih ketika aku tersadar satu hal
ialah
bersamamu adalah ketidakmungkinan
lalu
bersamamu akhirnya aku tersia-siakan

kau datang
dengan sikap yang mengikrarkan:
kasih setiaku adalah tumbal
untuk hati dan kepalamu
yang kadung keras
dan membatu
seakan-akan iblismu
akan halal dan kekal di aliran darahku

“Mari bicara cinta”

Ini tentang cinta,
yang setiap orang punya definisi menurut pemikirannya. Ini tentang cinta,
yang punya makna luas dengan berbagai arti yang menggambarkannya. Ini tentang cinta,
yang bisa di jadikan rusak oleh nafsu dan begitu berharga oleh mereka yang tak keliru.
Cinta dibuat menjadi salah dengan ikatan yang sama sekali tak berharga.
Cinta dibuat menjadi buruk akibat kelakuan manusia yang menodainya dengan status abal-abal pastinya.
Hey,
Cinta tak semurahan itu.
Cinta adalah rasa indah yang pantas untuk ditujukan pada ikatan pasti.
rasa yang baik dengan kebaikan-kebaikan kasih sayang yang seutuhnya.
Cinta itu indah, bukan malah jadi murah
Cinta itu bermakna, bukan malah jadi tumbal untuk dosa si manusia.

– mari kita perbaiki, yang pacaran boleh deh diputusin dulu, atau boleh deh nikah langsung pacarannya habis nikah aja (ini cuma saran ya).

Cukuplah kenangan dijadikan kenangan. Jangan bangkitkan lagi ia dengan sesuka hati. Kenangan yang sudah dikremasi, semestinya tak bisa dihidupkan lagi. Kecuali, kau menginginkan tumbal yang akan mengalami dalamnya sakit hati.
Tempias pada Kaca

Di dalam hujan yang tipis-tipis, rinduku menempias pada sepasang kaca. Ia ikut mudah pecah. Karenanya, agar takada jari yang terluka, ia kubiarkan saja.

Kusawang dari dekat dan kejauhan. Kukidungkan lagu sayang, hingga kutimang ia dalam gumam. Semata, agar ia taksedih terus-terusan menjadi tumbal untuk kata dan perasaan yang taktersampaikan.

Tahukah kamu, dalam gagu dan malu, ia mengisyaratkan melalui bulirnya bahwa menjadi saksi bisu untuk hati yang takberhenti, merupakan kelelahan yang butuh dimengerti.

Tapi, sayangku, takada petunjuk dari butir-butir air itu, kekuatan apa yang bisa kupakai agar rindu ini usai? Agar ia selesai?!

Selalu berujung pada abai, sepasang kaca tempat rinduku berbulir seperti percikan air pun kubiarkan mengering. Sayangnya, takbisa aku berkata janji, kapan ia berubah jadi tempias yang berwarna-warni.

Menyikapi Isu LGBT yang Belakangan Marak

Belakangan lagi rame ya tentang isu LGBT. Masing-masing punya sudut pandangnya sendiri menyikapi isu ini. Ada yang berpendapat dari sudut pandang agama, ada yang berpendapat dari sudut pandang kemanusiaan, ada juga yang memandang dari sudut biru (wah ini mah petinju, maap). 

Ada yang berpendapat, bahwa LGBT adalah suatu penyakit. Hmm… Menebar kebencian pada kaum LGBT, itu mungkin penyakit. Sebab membenci sesama itu menggerogoti diri kita dari dalam. Ada yang bilang lagi, LGBT itu menular. Well.. di dalam hidup ini manusia memang saling menularkan. Ada yang menularkan kebaikan, ada yang menularkan ketidakbaikan. Namanya hidup di dunia, dunia itu kan tempat yang baik dan yang buruk berkumpul. Kalo tempat yang isinya baik-baik semua, itu surga, ya. Hidup di dunia, kita masing-masing memiliki kesempatan untuk berjatidiri dan memiliki iman sebagai dasar dari segala sesuatu..

Indonesia adalah negara yang memang dipenuhi umat beragama, yang mana nilai-nilai agama masih dianggap penting di kehidupan sosialnya. Indonesia tentu tidak bisa disamakan dengan betapa bebasnya Amerika, yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Tapi Indonesia juga nggak harus menjadi radikal yang menentang LGBT dengan cara-cara yang kasar, seperti dengan mem-bully, mengucilkan, menghina dan atau lebih parah dari itu. Siapapun kita, seharusnya memiliki hak yang sama sebagai warga negara.

Beberapa dari kalian mungkin beranggapan bahwa gue adalah orang yang mendukung LGBT. Hmm.. menurut gue, ada perbedaan di antara mendukung dan menerima. Gue sebagai seorang Kristen tidak mendukung LGBT, tapi sebagai mahluk sosial, gue menerima keberadaan mereka. Gue nggak jijik dengan orang yang memiliki orientasi seks yang berbeda, melainkan gue mengasihi mereka layaknya sesama manusia. 

Melihat hiruk-pikuk perbincangan tentang isu LGBT ini, gue menyayangkan orang-orang yang menebar kebencian kepada kaum LGBT. Namun juga di sisi lain, gue menyayangkan para pendukung LGBT yang membodoh-bodohkan orang yang bilang LGBT dosa. 

Jika ada yang menasehati bahwa LGBT itu dosa, ya kan boleh didengar, boleh juga tidak. Namanya juga nasehat. Menasehati kan juga bentuk kepedulian. Kadang, nasib di dalam menyayangi sesama adalah dibilang “sok suci.” Dan jika ada yang membela LGBT, ya kan boleh didengar, boleh juga tidak. Namanya orang membela. Membela kan juga bentuk kepedulian. Kadang, nasib di dalam menyayangi sesama adalah dibilang “sok care.” Ya, sama-samalah ya.. :D

Pertanyaan gue.. apakah kaum LGBT semuanya merasa nyaman dengan orientasi seks-nya? Gue rasa nggak semua. Gue teringat ada seorang teman gue yang menjadi lesbian (katanya karena pergaulan), dan dia menceritakan bahwa dia ingin kembali seperti dia yang dulu, yaitu menyukai lawan jenis. Di situ dia cerita dengan meneteskan air mata tentang betapa susahnya dia merasakan kembali birahi dengan laki-laki, padahal dulu bisa. Entah bagaimana orientasinya sekarang, tapi gue doakan yang terbaik untuknya. Gue terpukau dengan kejujuran itu, lebih dari pada itu, gue merasa dihargai oleh curahan hatinya.

Ya, LGBT itu dosa. Tapi sudahlah, berhentilah menjadi orang yang meneriaki kaum LGBT seperti LGBT adalah dosa satu-satunya yang bisa dicatat. Mencuripun dosa, menghinapun dosa, ya sama-sama dosa. Tapi mencuri itu merugikan orang lain, menghina itu menyakiti orang lain. Menjadi LGBT itu tidak merugikan orang lain, selama tidak melakukan sesuatu yang melanggar asusila. Jangan kita menghakimi sesama manusia cuma karena dosa orang lain berbeda dengan dosa kita. (HAHAHA, SOTOY YA MAAP)

Dari kacamata gue (orang biasa yang bisa saja salah), bahwa LGBT adalah belenggu. Jika LGBT itu dikatakan dosa, maka sifat dosa ya itu, membelenggu. Orang yang hidup dalam dosa adalah orang yang terbelenggu. Ketika seseorang terbelenggu, maka tidak melulu ia merasakan penderitaan. Bahkan belenggu dosa itu kebanyakan bersifat menyenangkan, membahagiakan. Apa yang dibutuhkan untuk bisa lepas dari belenggu? Ya tidak lain tidak bukan, pertobatan. Dari apa yang gue percaya, cinta yang dari Tuhan itu penuh kuasa untuk memerdekakan kita. Apapun bentuk belenggu yang sedang kita alami, apapun itu, percayalah, rencana Tuhan selalu lebih indah dari belenggu itu.

Ada teman lagi, dia gay. Dia bilang, dia bahagia jadi gay. Dari dia lahir sampe sekarang, kayaknya orientasinya ya nggak berubah; suka sesama cowok. Apa gue mendukung? Nggak. Gue bilang dengan sotoy penuh canda… “dih, padahal cewek kan tulang rusuk lo. Kalo cowok lo, tulang apa?” Dan dia ketawa geli seraya menjawab, “tulang ekor!”. Canda tawa seperti ini tentu nggak bisa gue praktekan ke orang yang nggak akrab ya. Karena gue bisa dituduh menghakimi. Tapi ujungnya gue bilang, “well, apapun lo, gue menerima lo sebagai teman. Kalo lo perlu apa, lo bisa bilang gue. Tapi kayaknya gue nih yang ada perlu. Traktir gue dong!” Hahaha ya kira-kira gitulah keakraban gue sama temen gue yang gay itu. :))

Menurut gue, semua manusia itu emang berdosa. Kenapa berdosa? Dari yang gue yakini, ya karena pada awalnya Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Sebelum jatuh ke dalam dosa, bukankah Adam dan Hawa adalah mahluk yang bersih? Namun oleh karena bujuk rayu uler sialan itu haha, jatuhlah mereka ke dalam dosa. Karena tidak taat. Dan kita, ya kita-kita keturunan Adam dan Hawa juga ikut berdosa. Dosa keturunan. Begitu kira-kira dikisahkan.

Di Kristen ada tuh namanya dosa keturunan. Yaitu dosa yang dilakukan orang terdahulu, salah satu bentuk hukumannya adalah yang menimpa keturunan. Ada juga, kutuk. Ini biasanya perjanjian antara manusia dengan roh jahat, yang mana manusia memohon kekayaan/kekuasaan sama si jahat, lalu kemudian si jahat mencuri berkat dari keturunan orang itu untuk diganti jadi kekayaan/kejayaan itu (semacam tumbal). Alhasil, orang itu mendapat kekayaan yang semu, tapi kemudian keturunannya pasti ada aja masalah… entah itu kena penyakit keras, entah itu gila, entah itu sulit jodoh (wadawww sulit jodoh), ya macem-macemlah ya.. Dan bagaimana cara melepaskan manusia dari belenggu dosa? Tidak lain tidak bukan, memohon pengampunan-Nya. Here is something you should know… Tuhan mengasihi lo lebih dari lo mengasihi diri lo sendiri. :)

Menurut yang gue percaya, Tuhan nggak pernah menciptakan manusia agar menjadi kaum LGBT, melainkan seseorang menjadi LGBT ya karena dosa. Dan sekali lagi, LGBT bukan satu-satunya dosa. Sama halnya ada seseorang yang terlahir dengan kecenderungan melakukan kekerasan, dan atau dosa-dosa lainnya, sebagaimana hidup menurut daging, dan bukan menurut roh.

Bicara dosa lain, dulu gue pernah terbelenggu sama yang namanya nonton bokep. Nonton bokep kan kalo di Kristen dosa juga ya (di agama lain kayaknya juga ya), sama. Di Kristen, berimajinasi mesum aja itu bisa dikatakan berzinah. Itu ya susah, Bro! Dibelenggu bayang-bayang “Miyabi” itu menyenangkan rasanya. Lepasnya gampang? Kagak. Susah. Berdoa, bertobat, seminggu kemudian nonton lagi. Bertobat lagi, berdoa lagi, apus-apus folder bokep, 2 minggu kemudian, buka pornhub. Ya intinya perjuanganlah lepas dari nonton bokep itu. :)) tapi gini, menurut gue, setiap orang pasti memiliki perjuangan yang berat di dalam memerdekakan dirinya dari belenggu-belenggu yang ada di hidupnya. Kalo gara-gara nonton bokep gue dibilang, “yaelah, Zar, lo nonton bokep? Hina banget lu! Lu nggak layak jadi temen gue! Kafir lu!” Itu kan aneh.

Well, itu aja yang mau gue bagi. Kita bisa saja berbeda pendapat, ya namanya beda pendapat itu biasa. Gue menulis ini dari sudut pandang gue, yang mana bisa aja itu bertentangan dengan logika teman-teman. Maksud dari tulisan ini hanyalah sebagai bukti bahwa gue mengasihi sesama. Salam damai, God bless you all!

ZH


“Dunia adalah dunia, baik dan buruk ada di sini. Dunia bukanlah surga, mana mungkin manusia dapat menyurgakan dunia, apalagi dengan cara membenci.” 

Como um fantasma que se refugia na solidão da natureza morta, por trás dos ermos túmulos, um dia, eu fui refugiar-me à tua porta! Fazia frio, e o frio que fazia não era esse que a carne nos conforta… Cortava, assim como em carniçaria o aço das facas incisivas corta! Mas tu não vieste ver minha desgraça! E eu saí, como quem tudo repele, velho caixão a carregar destroços, levando apenas na tumbal carcaça, o pergaminho singular da pele e o chocalho fatídico dos ossos!
—  Augusto dos Anjos

senja-sangpena  asked:

Bias, aku lagi bimbang nih. Temen seperti apa yaa yang benar-benar memang baik? Bagaimana caranya agar kita tau kalau kita gak temenan sama orang yang salah?

Yang tidur bersamamu, mandi berdua denganmu, memahami kegilaanmu, mau gila bersamamu, memelukmu, menciummu, bertukar baju denganmu, yang rela kau jadikan tumbal atas kesalahanmu, yang selalu memaafkanmu tanpa ucapan maafmu, mengeluh tentang sikapmu tapi tetap ada untukmu, bersedia selalu menemanimu meski kau ajak tidur dijalanan, mau menepikan lelahnya demi mendengarkan ocehanmu, menangis denganmu, tidak sungkan padamu, yang meminjam meminta dan membajak uangmu, berbeda paham tapi tetap disisimu, yang bertengkar denganmu tapi setelah itu kembali tertawa, menertawakan apa saja denganmu, tidak setiap waktu selalu memberi kabar tapi kamu tau dia masih tetap teman terbaikmu, sahabat terbaikmu.

Ah aku rindu kamu 😚

@namaitunamamu