tulisanhujansamudra2017

Jajan Satu Juta

Mama saya penjahit. Dari kecil rumah saya tidak pernah benar-benar rapi (saya memakai ukuran rapi umumnya), sebab ruang tamu kami adalah tempat mama bekerja. Tidak ada kursi-kursi empuk dan meja kaca bundar, tidak ada vas bunga dan paganan yang sedia di dalam toples warna-warni bergambar bunga.

Ketika kecil saya sering bereksperimen sendiri. Seperti membuat baju barbie dari potongan kain atau bahan bekas mama. Atau membuat kantung kecil tempat mama menaruh gulungan benang. Atau membuat sapu tangan sendiri.

Sayangnya saya beberapa tahun kemudian saya berpisah dengan mama, abang, dan adik. Maka otomatis berpisah dengan seperangkat alat jahit beserta ruang tamu yang berserak.

Bertahun kemudian saya pulang ke rumah. Ruang tamu sedikit melebar dan segala kain dan benang melebur. Mama kecewa mendapati saya yang tidak lagi menaruh minat pada bidang jahit menjahit. Saya seolah mantan yang sudah memutuskan hubungan dan tidak ingin kembali.

Saya kemudian kuliah di Fakultas keguruan, yang setiap tahun meluluskan beribu-ribu sarjana. Mau tidak mau saya harus menanggalkan jins ketat, kaos oblong, dan sepatu kets di beberapa mata kuliah.

Ketika itu, saya memutuskan untuk mencari sendiri dasar atau bahan baju batik untuk kuliah. Ternyata tautan saya dengan setumpuk dan barisan kain tidak pernah terlepas begitu saja. Saya mencocokkan batik ini dengan kain itu, kain itu dengan kain yang lain, begitu terus.

Mama yang mendapati kain-kain itu terlihat senang, saya membaca: “Kamu berbakat dalam urusan memilih kain.”

Setelah itu saya keranjingan ikut ke pasar. Beberapa kali juga saya bertengkar dengan mama di tengah pasar karena saya tidak suka dengan kain yang dipilihkan mama untuk saya. Tak jarang juga saya bahagia sekali tahu-tahu sudah ada rok baru atau blouse ciamik di kasur saya.

Kemudian saya mengangankan membeli kain sepuasnya, dengan uang satu juta. Satu juta saja. Saya akan sangat bahagia. Saya berulangkali membayangkan bagaimana rasanya menyisir kain-kain dengan jemari sendiri. Menyebut ukuran masing-masing kain, berdiskusi dengan penjual atau pelayan toko, kemudian mengitari toko mencari kain lain, membayar ke kasir, dannnnnn menenteng belanjaan ke luar toko.

Saya membayangkannya berkali-kali. Beberapa tahun sejak saya masuk ke kampus.

Uang datang dan hilang. Saya terus mengandaikan jari-jari yang menyentuh kain-kain. Tahun-tahun yang diisi percaya dan upaya menabung tapi terus terpakai untuk biaya-biaya kuliah.

Sampai akhirnya tahun ini angan-angan itu terwujud. Mimpi satu juta untuk kain.Satu juta cash untuk kain-kain yang saya suka jadi jilbab, syal, overal, dan lain-lain.

Saya makin percaya tuhan tidak pernah bilang tidak. Tapi tunggu. Tunggu tanggal mainnya. Ehe ehe.