tualang

Selintas, aku ingin menjadi penjamah tanah miring yang mempunyai keindahan di puncaknya. Merasakan alam, menghayati kondisi bumi yang rentan dibuat lebam.

Selintas, aku ingin menjadi petualang yang merasakan indahnya ciptaan Tuhan. Agar aku belajar, agar aku terolah menjadi pribadi yang lebih tegar.

— Arief Aumar Purwanto

Aku mengerti bahwa hidup adalah perkara menikmati perjalanan. Seperti beberapa temanku yang akhirnya sampai di jalur masing-masing. Beberapa orang memilih menikah lebih awal –mungkin memang sudah waktunya– kemudian punya anak dan hidup dalam sebuah keluarga baru. Beberapa lagi memilih bekerja dengan rajin, menaiki tangga karir, dan terlihat bahagia dengan pilihan itu. Ada pula yang melanjutkan pendidikan, memburu beasiswa hingga ke luar negeri –mereka menemukan tualang yang baru dan bertemu hal-hal yang dulu mungkin asing– yang mungkin tidak ditemukan oleh yang lain. Aku memilih fokus berkarya –menulis buku, bagiku inilah petulanganku, inilah perjalananku saat ini. Petualangan yang membawaku pada banyak hal yang mungkin tidak didapatkan orang lain. Seperti halnya aku juga tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Pada titik ini aku mengerti, semua hanya perlu disyukuri agar kita bisa tetap merasa kita punya waktunya sendiri-sendiri.

–boycandra

Saat orang bertanya, “Kamu lagi galau ya?” mungkin hanya kamu, kamu yang bakal tahu persis aku lagi galau atau tidak. Pun saat mereka mengira aku sedih, senang, bahagia, jatuh cinta, patah hati, mungkin cuma kamu. Kamu yang bakal tahu persis keadaan aku yang sebenarnya. Di hadapmu aku tak ingin kamu sekadar tahu bagian terbaikku, namun juga sisi paling buruk sekali.

Aku senang sekali bermain-main dengan takdir. Menemui orang baru lalu meninggalkannya dengan apa yang mereka sebut kenangan. Jika hari ini kamu dengar di A bahwa aku orangnya pendiam, lalu besok kamu mendengar si B bilang aku orangnya periang. Kamu tidak perlu ragu mana yang benar. Karena masing-masing orang aku berikan kesan yang berbeda. Hingga untuk bisa mendeskripsikanku secara utuh mereka tidak punya cara selain saling menemukan untuk menyatukannya. Aku misterius? Tidak. Aku hanya unik.

Dan orang-orang yang berhasil menemuiku mereka laksana mengundi nasibnya. Beberapa beruntung bisa terus bersamaku sisanya terpaksa kutinggal saat lagi kagum-kagumnya. Kamu tidak perlu takut aku akan melakukan hal yang sama. Bagaimana bisa aku sekejam itu sementara matamu memaksaku untuk tetap menetap. Genggammu terlalu sempurna dalam memberiku kekuatan. Bersamamu aku selalu merasa tercukupi. Kamu yang bahkan tahu, aku tidak akan pernah terbang sekalipun bisa dengan mudah melakukannya.

Aku hanya ingin mengajakmu tualang dalam semestaku. Would you? Sesudahnya biarlah aku menjadi sosok yang tidak mau lagi peduli apa kata orang selagi itu tak membuatmu salah paham. Bahkan saat dunia mulai menuntutku untuk jadi sempurna. Kumohonkan kamu; jangan.

Dulu kemana saat aku ingin kamu ada. Padahal aku menjaga semuanya dengan sepenuh hati, tapi kamu malah betah pergi-pergi.

Dulu kemana saat aku tidak ingin kita usai. Berhari-hari aku bertahan sendiri. Bersikeras agar kau tidak pergi. Tapi kau masih ingin mencari tualang lain.

Kini, saat aku sudah biasa saja, kenapa malah ingin mengulang semuanya. Kenapa malah berharap kita masih seperti yang dulu kupinta.

Hatiku tak lagi biasa. Kamu tak lagi ada di sana. Kamu hanya masa lalu. Seseorang yang dulu kurindu tapi selalu mengabaikanku.

–boycandra

MALAYSIA, Kampung Tualang : A Malaysian Muslim man sits near a pit during the re-burial of remains believed to be those of ethnic Rohingya found at human-trafficking camps in the country’s north, at Kampung Tualang some 16kms east of Alor Setar on June 22, 2015. Malaysian authorities on June 22 held a sombre mass funeral for 21 suspected ethnic Rohingya found in human-trafficking graves last month, with fellow Muslims praying for the unidentified victims to find a place in heaven.  AFP PHOTO / MANAN VATSYAYANA

Selamat tidur; yang lelah di tualang hidup. Esok akan datang lagi. Kau butuh tenaga menghadapi semua hari. Tidak ada waktu untuk menyerah. Jalan yang kau pilih, harus kau tempuh sampai tujuan. Hidup memang butuh perlawanan. Sebab, menyerah sama saja dengan kalah. Tertinggal dan dilupakan. Terbuang dan diabaikan. Jalan panjangmu selama ini, tak lagi bisa kau jejaki. Maka, lelapkanlah diri. Kumpulkan tenaga lagi. Perjalanan itu masih harus kau lanjutkan esok pagi.

–boycandra

Dulu, dia hanya orang asing. Harusnya semua bisa biasa saja ketika  dia memilih kembali menjadi asing.

Dulu, dia hanya teman biasa. Harusnya semua bisa biasa saja ketika dia memilih kembali menjadi teman biasa.

Kadang setelah berurusan dengan perasaan, Semuanya bisa menjadi begitu rumit.

Tapi serumit apa pun itu, tetap saja yang menentukan pilihanmu tetaplah kamu. Mau berlarut tenggelam, atau berenang menepi dan berjalan menempuh tualang baru lagi.

Pertualangan tanpa dia kembali.

–boycandra

Wajar saja, jika kamu bersedih setelah kebiasaan-kebiasaan itu terasa asing. Setelah seseorang yang diajak berjuang. Tak lagi ingin menempuh tualang yang sama. Namun, ada atau tidak dia, hidupmu tetap harus berjalan seperti sedia kala.

Kalimat ini memang terkesan seolah mudah sekali melakukannya. Meski pada kenyataannya –melakukan– tidak semudah membacanya. Namun, setidaknya hal-hal mudah di dunia ini harus dimulai dari pikiran lebih dulu. Kalau dalam pikiran saja, kamu selalu mempersulit diri. Maka yang lahir adalah kesulitan demi kesulitan yang berganti.

–boycandra