the reserves

Apa Sebab?

Apa sebab orang bisa menyukaimu, bahkan jatuh hati? Padahal engkau tidak cantik seperti yang lain, bukankah itu perasaanmu? Kamu merasa tidak juga lebih pintar, lebih baik, bahkan lebih salehah. Tapi mengapa ada yang bisa menyukaimu? Bahkan rela jauh-jauh datang ke rumahmu, rela bekerja lebih keras untuk mempersiapkan hari-hari baik kemudian hari denganmu.

Apa sebab orang bisa menyukaimu? Sekalipun menurutmu, dirimu begini dan begitu?

Apa hendak dikata. Bukankah berulang kali kamu dengar bahwa cantik itu relatif, berdasarkan perasaan. Bukan berdasarkan standar iklan di televisi. Bahkan, sejauh mana ukuran kebaikan seseorang itu juga relatif. Baginya, kamu itu baik, dan itu lebih dari cukup untuk mengalahkan pikiranmu tentang dirimu sendiri yang merasa kamu belum cukup baik.

Apa sebab orang bisa menyukaimu, bahkan jatuh hati? Barangkali itulah sisi yang tidak bisa kamu lihat. Ada orang yang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kamu lihat dari dirimu sendiri. Dan memang, kita tidak bisa menilai diri sendiri dengan baik.

Boleh jadi, masa lalumu amat buruk, tapi baginya itu tidak berarti. Boleh jadi, kulit wajahmu kusam dan gelap, tapi baginya itu tidak berarti. Boleh jadi kepandaianmu tidak seberapa, tapi baginya itu tidak berarti.

Lalu kira-kira apa yang berarti darimu baginya? Barangkali kamu akan menemukan jawaban itu nanti di tatapan matanya, juga bagaimana setiap kata-kata yang keluar darinya, juga bagaimana ia memperlakukanmu. Barangkali juga kamu tidak akan menemukan jawaban itu segera. Butuh bertahun-tahun untuk mengerti dan memahami, mengapa ada orang yang bisa menyukaimu, bahkan jatuh hati.

Yogyakarta, 5 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

Tidak Terlihat Dekat dengan Siapapun

Diskusi QuarterLifeCrisis beberapa hari yang lalu masih seputar dunia jodoh. Mungkin bagi teman-teman yang belum mengalami, atau sudah melewati, obrolan semacam ini bisa dianggap membosankan. Tapi bagi yang sedang mengalami, mendiskusikannya dan berusaha mencari jawaban yang menenangkan adalah sebuah proses penting untuk melewati fase tersebut. Salah satunya dengan curhat.

Salah satu teman kami berkesah, setiap kali pulang atau orang tuanya menelpon, sering ditanya sudah punya pacar atau belum (karena orang tuanya tidak tahu kalau anaknya tidak mau pacaran), atau dengan candaan guyonan dari teman-teman yang lain tentang seputar tersebut. Orang tuanya pun seringkali bertanya, kapan rencana menikah? Sudah ada calonnya belum? Atau dalam kalimat-kalimat tidak langsung seperti, “Wah ini undangan ke rumah banyak banget dari teman-teman SD mu, mereka sudah menikah ya, kayak masih kecil kok udah mau nikah aja.” dan lain-lain.

Sementara teman kami ini, ia sama sekali tidak terlihat dekat dengan siapapun. Sama sekali. Bahkan ketika kami tanya, “Emang nggak ada cowok yang lagi pdkt gitu?” Jawabnya, “Enggak ada”. Juga pertanyaan lain yang sejenis,”Nah, lagi deket sama siapa gitu? Meski dia nggak pdkt?” Jawabnya masih sama, “Enggak ada”.

Dan karena ketidak-adaan inilah yang mungkin juga membuat orangtuanya bertanya-tanya, kok anaknya nggak pernah cerita suka sama siapa, atau lagi dekat sama siapa, atau ada yang pdkt dan gimana? Sementara teman-teman sebaya lainnya bahkan sudah ada yang maju melamar, meski pada akhirnya belum juga menikah.

Usianya sudah cukup matang (dalam standar orang tuanya) untuk masuk ke fase berikutnya. Juga mungkin karena melihat anaknya yang santai-santai aja, cenderung biasa-biasa aja dalam menanggapi hal tsb. Semakin membuat orangtuanya cemas.

Terlepas dari semua itu, terlepas dari sikap cueknya dan kesan biasa-biasanya ini. Teman kami bercerita kepada kami, kalau pada akhirnya dia juga berpikir. Berpikir tentang kenapa dia tidak terlihat dekat dengan siapapun? Enggak ada yang pdkt sama dia, apa enggak ada yang tertarik? Menurut kami, aneh kalau tidak ada yang tertarik dengan perempuan semandiri dan semanis dia.

Sampai pada akhirnya, diskusi panjang tanpa solusi itu berakhir dengan sebuah konklusi, barangkali itu adalah cara Allah menjaganya (terutama setelah ia berhijrah dan memutuskan untuk enggak pacaran), barangkali itu adalah bentuk perlindungan, menyingkirkan laki-laki yang mau mendekatinya tapi tidak dalam levelnya. Dan tentu saja sudah bisa kami tebak, dengan salah satu sifat tegas yang dia miliki, laki-laki kalau cuma mau pdkt untuk pacaran pasti sudah ditendangnya jauh-jauh.

Dan akhirnya, hal terbaik yang bisa manusia lakukan atas apa yang terjadi dalam hidupnya adalah bersyukur. Bersyukur sebab ia tidak terlihat dekat dengan siapapun, bahkan tidak ada yang mencie-ciekan dirinya dengan siapapun. Seperti itulah caraNya menjaga kehormatannya, izzah-nya

Yogyakarta, 17 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

not to sound ungrateful about the andi mack news and disney’s “groundbreaking” move but they could’ve broken ground in 2014 by letting Riley Matthews realize she was in love with her best friend Maya Hart no i’m not ever getting over it

Cerpen : Reda

Kudengar, seseorang yang bernama Hujan itu ternyata menyimpan perasaan kepada seorang lelaki. Kudengar itu dari sudut matanya, dari bagaimana ia melihat matahari pagi, bagaimana ia memandang hujan, juga bagaimana ia melihat barisan awan yang konon katanya berbentuk bunga, seperti perasaannya yang tengah berbunga-bunga.

Hujan adalah seorang perempuan yang tidak pandai berbohong, tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Rona merah diwajahnya mudah terlihat saat ia malu, marah, atau hal-hal lain yang membuncahkan perasaannya. Juga, ia tidak pandai berpura-pura.

Perasaannya kepada lelaki itu seperti matahari, terang benderang. Siapapun yang mengenal Hujan, sudah pasti mereka bisa menerka bila Hujan sedang jatuh hati pada seorang laki-laki. Dan laki-laki yang itu, bukan yang lainnya.

Tulisan-tulisannya tidak menyembunyikan nama, aku juga sering membacanya. Hujan yang begitu polosnya tentang cinta, seperti melihat kisah cinta anak SMA. Penuh liku, lebih banyak lucunya. Namun, aku tahu. Perasaan Hujan tidak bercanda, ia memang seperti itu adanya. Perempuan yang tidak pandai menyembunyikan perasaan. Bukankah banyak yang seperti Hujan?

Dan lelaki itu, adalah lelaki yang sial. Ia terlambat menangkap hujan yang turun begitu deras. Ia terus menerus bersembunyi dari Hujan. Sampai suatu hari, hujan sudah reda dan ia baru mencari-cari kemana hujannya. Mengapa tak lagi turun?

Suatu hari, perasaan Hujan reda tak berbekas. Mengetahui jika perasaannya hanya turun tanpa arti ditempat yang salah, tempat yang tidak bisa menumbuhkan apapun. Ia sudah tumbuh menjadi perempuan yang berbeda, perempuan yang berhasil belajar dari kesalahan.

Aku bertemu dengan lelaki itu di sebuah kedai buku. Melihatnya melipat-lipat halaman buku, seperti menemukan paragraf yang mewakili perasaannya. Meminjam kata temanku, untuk menggambarkannya : Aku mendengarmu habis hujan berturut-turut, kemudian aku datang, kamu reda.

Hujan telah reda.

Yogyakarta, 30 November 2017 | ©kurniawangunadi

Medan Juangmu

Krisis yang dialami oleh pemuda saat ini sangat berbeda dengan zamannya orang tua kita. Akses informasi yang begitu mudah kita dapatkan, banyak diantara kita yang tertekan karena merasa tidak menjadi apa-apa di waktu yang bersamaan, teman kita sudah sibuk dengan start-up nya, perjalananya, karirnya, karyanya, dan segala hal yang kita lihat dari unggahan mereka di linimasa.

Kita merasa tertantang tapi kita tahu, kita tidak memiliki keahlian di bidang itu. Kesukaan kita bukan di sana, dan kita semakin tertekan setelah kita melihat diri sendiri. Menjalani apa yang disukai ternyata belum membuat kita menjadi siapa-siapa. Apakah kita akan tetap mengikuti kata hati, atau beranjak mengikuti hal-hal terkini?

Saya kembali mengingat masa-masa sekitar 4 tahun yang lalu. Sewaktu saya masih kuliah. Di kelas besar, saya bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan yang lain. Perkara menggambar, saya kalah jauh secara keahlian. Perkara ide, masih juga tidak bisa menandingi kawan yang lain. Dan itu membuat ku sangat terpuruk. Saya bersaing di hal yang sama, dalam mata kuliah, dalam karya, dsb. Dan bertahun-tahun saya bersaing di hal itu, saya tidak pernah bisa mengalahkan teman saya yang lain. Bahkan dengan usaha terbaik yang bisa lakukan sekalipun, belum bisa.

Akhirnya, saya keluar dari medan persaingan itu. Saya menulis banyak sekali hal. Lepas dari kampus, teman saya berhasil masuk dan bekerja di perusahaan dan bidang yang dulu sangat saya inginkan dan saya berhasil melahirkan satu buku. Itu adalah perasaan “menang” pertama kali yang saya rasakan. Saya memilih medan persaingan yang berbeda, yang saya merasa bisa melakukannya. Dan menang itu bukan tentang saya bisa mengalahkan teman saya, tapi saya bisa memenangkan perasaan saya yang selama ini merasa terpuruk, merasa tidak beguna, merasa tidak bisa menjadi apa-apa, tidak memiliki kebanggan terhadap diri sendiri, dan perasaan inferior lainnya yang itu sangat sering dialami oleh pemuda difase Quarter Life Crisis.

Kini, sudah bertahun masa itu terlewati. Saya merasa tenang dan tenteram melihat bagaimana teman-teman saya kini meraih pencapaiannya masing-masing. Start-up nya yang tumbuh semakin besar, penghargaan yang ia terima, semuanya saya lihat di linimasanya. Saya tahu, medan juang kami berbeda. Saya tidak ingin bersaing untuk membuat hal yang serupa, tempat saya di sini, ruang sunyi -yang semakin nyaman kala hujan-, menulis berbagai macam perasaan yang tumbuh di hati manusia, merangkai-rangkai kejadian, menjadi tulisan-tulisan yang mengalir seperti sungai.

Bersaing dan berjuanglah di medan yang kita kuasai. Di ilmu yang kita tahu. Di tempat yang hati kita bisa merasa tentram. Di hal yang kita merasa Tuhan memudahkan jalan kita untuk beribadah kepadaNya.

Yogyakarta, 22 November 2017 | ©kurniawangunadi