the reserves

A commission for @kitscaboodle of her wonderful wife’s WoW character and adorable lil’ good toothy boy for her birthday – Happy Birthday Gloria!!!! 🎉 🎉 🎉 and thank you so much, Crystal, for commissioning me!! 

Ultimate Archer x Hajime Hinata



“U-um.. Hello?” The sun’s light tickled at your closed eyelids as your nap was interrupted by a boy.

To be a bit more specific, a handsome boy with soft brown hair and olive colored eyes.

“Hm? Hello..” You snapped yourself out of your daze and answered him properly.

“Ah, the bell just went off. I noticed that you were sleeping early and when I saw that you were still sitting here I came over to wake you up. S-sorry” You found it fascinating how he could make a simple explanation take eons.

“It’s alright. Thank you..” You got up with a small ‘oof’ and brushed the dirt from your hands. You noticed you were a tad taller than the boy. 

“Um.. What’s your name? My name is Hajime Hinata.” He stuck out his hand for you to shake.

“__________” You grab his hand and give it a brisk shake. It was a bit clammy and it trembled violently. 

“It’s nice to meet you, _____” He sends you off with a tiny smile as he hurriedly wipes his hands on his pants.


“_____! Why can’t you shoot straight today? Do you want to take off early?” Your instructor rubs a concerned hand on your back. You missed the mark completely and you were only able to shoot a chunk off of the apple. 

“My apologies, I’m a bit distracted today. I’ll stop here.” It genuinely bothered you that you couldn’t get your head on straight today. That Hajime has been the one thing in your thoughts ever since you met him. Something about him was just so, mesmerizing. He reminded you of a pure, untainted forest. The type of forest where an arrow would get stuck in a split tree or two rocks.

“Oh, hey _____!” A voice called out to you. You heard rushing footsteps behind you before you turned yourself around to face the friendly voice. 

“Oh, it’s you again.” You felt the urge to smile like an idiot. Why

“Where were you headed?” He tried his best to match his pace with your own.

“I’m going home early from archery practice. I couldn’t really focus today, so I’ll be doing mental exercises when I get home.” You felt his eyes bore into your face as you two walked along the path.

“That’s pretty cool. Is that your ultimate talent or something?” There was a hint of sadness in his voice when he asked this.

“Yeah, that’s my title. The Ultimate Archer. But there’s more to a person than their title.” You disliked the whole ‘Ultimate’ title thing going on at the school. At your previous school, only a few people knew about your skills. After you were scouted, being the ‘Ultimate Archer’ was the only thing that people knew about you.

“I guess your right..” Hajime sighs, lightly kicking a loose pebble from the sidewalk.

Hajime ended up walking you home that day. And the day after next. And the day after that.


Walking home with Hajime became apart of your daily life, along with eating lunch with him. You two became very close friends,then on one faithful day he asked you out. Even though many terrible things were happening at the school, you found comfort in your boyfriend. You noticed that Hajime’s mood worsened every time you saw him. No matter how many times you pestered him about what he was thinking about, he would always fake a smile and say that everything was okay. Today was different, you were going to get to the bottom of what was bothering him.

“Hajime what’s wrong?” You asked him today, for the hundredth time this week. Today was only different because he had poorly bandaged bruises all over his face.

“Nothing’s wrong. I-”

“Bullshit, Hajime. You’ve been looking terrible all week.” You stopped walking on the path and made a detour to the bench near the fountain. You sat down first, then patted the spot next to you.

“I’m telling you, I’m o-”

“No you’re not. What’s on your mind?” You interrupt him quickly. He sighs, realizing that insisting would get him nowhere.

“It sucks. Not having a talent I mean. All of the kids in the main course, they have their lives set out for them. The Reserve Course is just where kids with money and no talent go so they can look cool.” He avoids looking you in the eye after he says this.

“Hajime. You said it yourself that you truly admire Hope’s Peak Academy, that’s why you came here. You can’t lump yourself with the others-”

“It doesn’t matter if I ‘admire Hope’s Peak.’ That doesn’t make me talented, does it? I don’t even know why you’re going out with me. Shouldn’t you be dating somebody from the main course?”

“I’m dating you because you asked. Whether you have a talent or not doesn’t matter. Stop beating yourself up Hajime. Talent isn’t everything.” You could feel yourself grow angry. How could he be so stupid?

“Then what makes this school so great? I’m pretty sure it’s not the Re-”

“Stop. Why not refocus your negative energy and develop a talent. Then by next year you can be scouted by the school. Okay?” You grab his hand and enclose it in your own. 

“Yeah. I should.” He pushes himself off of the fountain bench and plants a small peck on your forehead. His sweet touch lingers on your skin for a bit.


“I’ll see you later, _____.”

“Hajime, wait.” 

I’ll become someone who you can be proud to call your boyfriend



Khawatirnya perempuan itu seperti pepatah; mati satu tumbuh seribu. Seolah tidak ada habisnya. Sesuatu yang kalau ia perbincangkan dengan laki-laki mungkin akan ditanggapi; ah santai saja. Dan itu membuatnya semakin jengkel, juga bertambah khawatir.

Khawatirnya perempuan itu tumbuh seperti ombak, bergulung-gulung. Siang-malam tak pernah berhenti sepanjang angin terus mengalir. Dan kita tidak bisa melihat angin, hanya bisa merasakannya. Dan seperti itulah sebab-sebab khawatirnya. Tidak kelihatan, tapi dirasakan terus menerus.

Dari khawatir tentang fisiknya seperti kulit putih, rambut berbagai model, tinggi redahnya badan, cantik tidaknya, gigi yang rapi atau tidak, dan segala sesuatu yang seringkali diam-diam diresahkan tentang dirinya. Dari khawatir tentang pakaiannya, menarik atau tidak, luwes atau tidak, norak atau tidak. Sampai khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain tentangnya.

Ketika masih remaja, khawatir pada peer group, masuk ke dunia berikutnya khawatir tentang pekerjaan dan karir, juga khawatir tentang jodoh. Setelah menikah, khawatir pada perekonomian keluarga, godaan dari luar dsb. Khawatir pasangannya tidak setia, dan lain-lain. Ada saja yang memenuhi ruang-ruang dipikirannya. Ada saja hal-hal yang membuat resah khawatir.

Dan ketika ia menemukan seseorang yang mampu meniadakan kekhawatirnya, membuatnya percaya bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Ia akan dengan senang hati mencurahkan segala daya dan pikirannya untuk orang tersebut. Sekalipun mungkin itu menyakiti dirinya.

Kadang ini membuatku percaya bahwa kemampuannya melihat sesuatu dari sisi negatif (hal yang buruk) membuat perempuan jauh lebih jeli dan hati-hati daripada laki-laki, yang terburu-buru, grusah-grusuh, kurang terliti. Dan kekhawatiranya itu adalah kekuatan yang hebat kala berumah tangga. Saat ia sanggup berhitung atas situasi dan membuatnya selalu bersiap dalam kondisi terburuk. Dan kekuatan itulah yang sadar atau tidak, membuatnya menjadi kuat.

Yogyakarta, 14 Juli 2017 | @kurniawangunadi

With massive granite towers stretching skyward and building-sized boulders scattered in valleys, there’s no need to ask how City of Rocks National Reserve in Idaho got its name. Dramatic geological features make for excellent nature study and even better climbing. You can also learn about unique plants, wildlife, and the history of Native Americans and early settlers at this fascinating park. Photo by National Park Service.

exo as passive aggressive texts

yixing: … 

minseok: um hi? 

zitao: it’s cool whatever 

yifan: yeah what 

luhan: idk i think i have plans?? sorry 

jongdae: lmao 

baekhyun: gtg 

chanyeol: oh lol 

junmyeon: yes. 

kyungsoo: idgaf lmao 

jongin: sorry i just saw this 

sehun: k

Tulisan : Rezeki itu ada waktu dan tempatnya

Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin panjang waktu yang dijalani, semakin terasa bahwa apa-apa yang dulu tidak dipahami menjadi semakin dimengerti. Melihat bagaimana dunia berputar, bagaimana orang-orang bergerak ke sana ke mari, merasakan bagaimana siang dan malam terasa semakin cepat berganti.

Sebelum lulus dari kuliah, ingin ini dan itu. Banyak sekali. Melihat kepemilikan orang lain dan ingin memilikinya. Melihat teman yang sudah lulus dan bekerja, terasa bahwa apa yang dimiliki saat itu tidak terasa berharga.

Selepas kuliah. Melihat bagaimana teman-teman mulai memiliki perusahaan sendiri, ataupun mulai membeli dan mencicil rumah, juga kendaraan, dan kita masih tertatih-tatih kepanasan dengan sepeda motor dan kos-kosan yang sempit. Terasa bahwa apa yang dimiliki saat itu begitu sedikit.

Selepas itu, melihat teman satu per satu menemukan pasangan hidupnya. Kita pun mulai berpikir bagaimana mencari dan menemukannya, sementara di satu sisi kaki kita masih berpijak di dunia dimana kita masih mengukur seberapa banyak harta yang kita siapkan untuk membina rumah tangga. Dan kita juga menyadari usia yang semakin menua. Juga menyadari kalau menikah tidaklah tepat dengan alasan-alasan seperti itu, tapi tetap saja hati kita terasa kosong dan iri pada apa-apa yang didapati oleh teman-teman yang lain.

Setelah menikah, kita melihat orang lain memiliki bayi-bayi yang lucu. Bahkan beberapa dari mereka, menikah setelah kita dan memiliki bayi lebih dulu. Sementara kita belum juga diberikan. Rasanya kebahagiaan seperti dikurangi setiap hari dan setiap kali melihat foto-foto bayi yang membanjiri linimasa media sosial.

Rasanya, tidak akan pernah ada habisnya jika kita menghitung apa-apa yang tidak dan belum kita miliki. Dan itu membuat hari kita semakin sempit, kebahagiaan semakin sulit ditumbuhkan.

Dan saya menjadi paham bahwa rezeki itu memang ada waktu dan tempatnya. Apa yang saya miliki saat ini, adalah apa-apa yang begitu diinginkan oleh orang lain. Barangkali memang inilah rezeki yang paling tepat untuk saya saat ini. Dan saya pun menjadi paham bahwa mendoakan orang lain itu lebih baik daripada bertanya.

Bertanya tentang; kerja dimana, penghasilan berapa, sudah punya apa, kapan menikah, sudah hamil belum.

Kadang saya khilaf, jangan-jangan saya menjadi sebab hilangnya rasa syukur orang lain karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Pertanyaan yang seperti peduli tapi sebenarnya hanya penasaran karena ingin tahu. Keingintahuan tentang orang lain yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan saya pun belajar bahwa syukur itu hal yang paling bisa memenangkan dan menenangkan hati. Saya percaya bahwa rezeki itu akan datang di tempat dan waktu yang terbaik. Jangan khawatir.

Yogyakarta, 20 April 2017 | ©kurniawangunadi

When 1D blew up, nobody — not even people who liked them — figured they’d be anything more than 16 to 18 months of kicks. What the band and their fans have built over the past five years is unique. If the girls sound cocky and vindicated when they scream, they should. And 1D are brilliant because they know exactly who’s in charge.
—  Rob Sheffield, 16 Reasons One Direction Are on Top of the Stadium Rock Game
Mengenal Perempuan

Pernikahan akan membuatmu mengenal perempuan lebih dari yang kamu sangka selama ini. Kamu akan mengenal kekhawatirannya dan mengapa itu terjadi. Kamu akan berhenti menilainya lemah setelah melihat bagaimana ia bekerja setiap hari. Kamu akan semakin mencintai ibumu, seketika kamu melihat betapa berat perjuangannya ketika mengandung dan melahirkan anakmu.

Pernikahan akan mengajarkanmu tentang perempuan. Setelah selama ini kamu hanya mengenalnya dari mata, dari kata, dan dari buku-buku yang menurutmu paling mutakhir dan terpercaya. Perempuan lebih kompleks dari itu dan kamu akan mempelajarinya setiap hari. Kamu akan belajar tentang air mata yang tidak selalu bermakna sedih sebab mereka memang mudah menangis untuk hal-hal yang menyentuh hatinya. Baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan.

Pernikahan akan membuatmu mengerti bahwa keberadaannya mampu membuatmu memiliki energi yang berkali lipat lebih besar dari sebelumnya. Sesuatu yang tidak kamu dapatkan dari hubungan-hubungan dengan perempuan sebelum itu. Ini juga akan membuatmu mengerti bahwa cintamu kepadanya mungkin tidak akan pernah bisa sebesarnya cintanya kepadamu. Dengan segala kerendahan hati, kamu mungkin perlu mengakui itu. Dan untuknya, sudah seharusnya kamu bersyukur.

Yogyakarta, 5 Mei 2017 | ©kurniawangunadi