the mati

Ada yang Menunggumu

Harusnya memang tidak ada yang istimewa dengan yang aku tuliskan kali ini. Semuanya sebab dari semula, ceracau, imajinasi, kenangan, dan asa yang kulahirkan dalam bentuk kata-kata di sini, adalah memang hasil dari persetubuhan dengan apa pun tentangmu, terutama sekali rindu.

Kita ada tidak untuk saling menjadi ganjalan, itu sebabnya Dia menakdirkan kita untuk bersinggungan. Tapi, rupanya ada rahasia lain yang ingin Dia kabarkan. Mengenai apa, sebaiknya mulai sekarang kita harus lebih pintar membaca tanda-tanda. Agar kita takperlu mencari jawaban dengan cara lebih dulu pergi lalu kembali lagi.

Tidak ada yang istimewa. Sudah seharusnya. Lebih dari seribu hari, kupikir, kamu yang mungkin diam-diam membaca tulisanku sudah khatam dengan bau-bau kegelisahan dan kerinduan, entah ketika kita masih bicara atau diam untuk ke sekian kalinya. Jika kamu bosan, sungguh akupun sesekali merasakan demikian.

Namun, ada yang takrela ditinggalkan. Mereka kehilangan nyawa saat untuk satu hari saja, kamu dikeluarkan dari dalam pikiran. Berita mati suri menyebar dari para calon puisi. Mereka kehilanganmu, sama seperti aku.

Baru kusadari, kamu, lebih dari bait-bait yang kutuliskan, lebih dari kegelisahan yang coba kukaburkan dan takingin aku pikirkan. Kamu adalah sesuatu yang kami tunggu, sekalipun luka kamu berikan sebagai cinderamata.

Belajar berkomunikasi pada orang tua

Sabtu, 25 Maret 2017

Sebenarnya ingin posting pagi tadi, karena masih harus ngajar karena depok sabtu masuk, dan sampai disekolah baru sadar kalau handphone mati total akhirnya ga jadi posting. Mungkin ini agak sedikit curhat tapi mudah-mudahan mampu memberi sedikit hikmah bagi yang baca.

Pagi tadi ibu memulai pembicaraan, dimulai dengan menanyakan seseorang pada saya.

“Na, keponakan guru agama gimana kabarnya? Udah mau nikah sekarang?”

Jadi beberapa waktu lalu, guru agama disekolah ingin mengenalkan ponakannya kepada saya meskipun kandas karena jalannya bersebrangan sama saya.

Saya jawab dengan santai,

“Gatau, kayanya si belum dan dia juga kayanya ga mau nikah cepet bu. Terakhir pasang foto WA aja lagi main billyar tapi itu foto lama si. Tapi keliatan masih mau main-main”

“Ouh gitu, trus guru agama ga ngomong-ngomong lagi?”

“Engga, mungkin ga yakin, dan ga sejalan sama ponakannya”

Saya mencoba memberanikan diri memulai menanyakan sesuatu yang terkadang mengganjal di hati saya sebagai anak pada ibu.

“Ibu, emang kalo misalnya aku beneran nikah ibu udah siap aku tinggal?”

“Udahlaaahhh (semangat banget)”

“Engga, maksudnya kan kalo aku nikah, resikonya aku harus ikut suami kemana pun itu. Dan akupun maunya gitu belajar mandiri. Ibu udah siap? Ga ada aku lagi dirumah?”

“In syaa Allah udah siap lah, makanya ibu semangat nyariin buat kamu”

“Oh gitu, soalnya kan ada yang orang tua yang belum siap ditinggal jauh sama anaknya karena ikut suami. Kaya temenku.”

“Kalo dulu ibunya ibu gitu emang, sampe baju-baju ibu di pendem di drum biar ga betah di jakarta biar pulang kampung. Tapi kan in syaa Allah ibu tau ilmunya. Jadi ibu sadar yaa memang begitu harusnya”

“Oh gitu”

“Justru orang tua itu tenang na, kalo anaknya udah nikah meskipun jauh. Paling ga udah tenang ternyata anaknya udah ada suami yang jagain. Justru kalo belum nikah orang tua itu khawatir”

Hmm

Akhir-akhir ini ibu memang sering sekali berusaha sekuat tenaga untuk mencarikan saya pasangan hidup, dari sekedar cerita sama temennya, sampe terang-terangan minta tolong cariin buat saya. Huft (Demi biar ibu seneng aja deh saya mah, apapun itu. Ibu ridho semoga Allah jadi ridho) #sokkuat
Nyatanya, siapa sih yang ingin bisa nyari sendiri? Saya pun demikian.

Efek dari upaya ibu itu, mulailah berdatangan biodata laki-laki dari teman ibu. Tapi nyatanya tak ada yang buat hati saya menjadi tergerak.

Entah, sebenarnya perasaan takut itu muncul ketika biodata laki-laki yang saya tau in syaa Allah sudah mantap siap untuk memulai berumah tangga berdatangan. Saya takut jikalau saya termasuk dari wanita-wanita yang rewel dan ga bersyukur. (Naudzubillah)

Sampai suatu ketika, ada sebuah biodata yang itu ibu banget! Semua yang ibu cita-citakan laki-laki itu memiliki semuanya.

Saya tau akan hal itu. Dan aku pun berusaha sebisa mungkin biar ibu seneng, yaitu mencoba untuk mengiyakannya, saya istikhoroh berkali-kali, tapi bukan hati senantiasa menerima tapi yang ada tiap suasana maunya nangis bombay dan susah berenti 😭😭

Disekolah pun maunya nyari tempat yang sepi buat baca Al-Quran dan tiba-tiba mata banjir ngucur.

Sampai akhirnya dirumah setelah maghrib, jawaban sholat istikhoroh saya terjawab, ibu mengajakku membantu melipat pakaian. Lalu ibu melayangkan pertanyaan.

“Ibu mau tau, kamu gimana sama laki-laki itu?”

Akhirnya saya menjawab pertanyaan ibu dengan sejujur-jujurnya. Dan ternyata ada satu hal yang ternyata juga mengganjal di hati ibu. Dan keluarlah kalimat seperti ini dari mulut ibu.

“Yaudah jadinya engga lanjut ya? Biar nanti ibu bilang sama temen ibu. Ibu ga mungkin maksa juga. Kan hati yang gerakin Allah”

Entah rasanyaaaaaaaa lega ga tau gimana ungkapinnya. Oh Allah saya selalu yakin Engkau itu lebih tau hamba-Nya. Maa syaa Allah 😂😂

Saat itu juga, untuk pertama kalinya bapak menasehati saya, dan itu membuat saya ingin berlinangan air mata.

Meskipun bapak menasehatiku tidak dengan kalimat bijak.

“Emang kamu udah puas main-mainnya?”

“Bapak ngeliatnya gimana? Aku sih in syaa Allah siap, tapi emang pembawaan aku begini. Nyantai cengengesan” (dalam hati mah bilangnya bukan cengengesan tapi sok tegar dan sok kuat 😂)

Bapak memulai nasehatnya.

“Nikah itu, harus udah siap. Siap apa? Siap mental, siap batin, siap ga bebas, siap hidup berdua, siap sama temen akan terbatas, siap meredam kamuan sendiri, siap melayani, siap semuanya dan harus benar benar siap”

Bapak itu adalah sosok laki-laki yang cuek, bapak tak pernah menasehati dalam keadaan serius. Dan untuk pertama kalinya bapak lakukan itu pada saya.

Padahal nyatanya, sudah 2 orang kaka saya lebih dulu menikah. Tak pernah aku tau, bahwa bapak lakukan itu pada mereka menjelang atau ketika niatan mereka untuk menikah.

Malam itu mampu membuat saya menangis tersedu-sedu dimata dan dalam hati.

Sejak malam itu saya selalu berusaha terbuka pada mereka, sejak saat itu pula saya belajar untuk mengkomunikasikannya pada mereka, apapun itu saya selalu minta pendapat mereka bahkan ketika ada teman yang ingin mengenalkan seseorang, sampai saat saya komunikasi dengan orang masa lalu pun saya komunikasikan pada mereka, bahkan cerita masa lalu pun saya ceritakan pada mereka.

Tak ada yang saya tutupi.

Saya yakin, bagaimanapun mereka, mereka orang tua saya, mereka yang lebih tau saya melebihi diri saya sendiri.

Hoy 24/03/2017 se cumple un hermoso año de nuestro primer encuentro.
Hoy, 365 días después, repetiría todas y cada una de las palabras hermosas que nos dijimos cara a cara, de las miradas que hablan solas, de los pasos que dimos a la par después de luchar tanto. Ese primer abrazo que nos dimos rompió todos nuestros esquemas, ese abrazo fue único, hermoso. Sus primeras palabras fuera de una pantalla. Estaba al lado mio, ya no teníamos una pc y un par de auriculares, nono, ahí estábamos juntos, en el mismo lugar, en su país. Agradezco a Dios y a mi familia por haber hecho mi sueño realizad, porque Matías es eso, un sueño, un amor perfecto, un chico con todas las letras. Te amo Mati y esperame un poco más que ya nos vamos a ver otra vez!

Tulisan : ikhlas

Kata temen saya, waktu saya tanya
“kang hijrah nya udah lama kah? ”

Dia malah jawab :
“ lama atau nggak lama, biar Allaah yang tau. Bisa aja saya mikir saya berubah jadi baik waktu itu ternyata kata Allaah itu beda.
Karena bisa aja yang semasa hidupnya melakukan hal baik, malah mati dalam keadaan yang tidak baik hanya karena dulu dia menjadi baik dengan cara tidak ikhlas ”

Jatuh cinta itu naluri, bukan kebutuhan. Dia gak sama kayak laparnya perut. Dituruti, atau tidak gak akan bikin kamu mati.
— 

Jadi, gak usah lebay sampek bilang, “aku terlalu sayang sama dia, aku gabisa hidup tanpa dia.”

Mblegedhes.

Toh, kamu gak mati kan even udah patah hati berkali-kali?
Tidak peduli siapa yang lebih dulu singgah di hati, yang sejati tetaplah yang sampai akhir mendampingi. Tidak peduli berapa lama yang lain mendahului, yang sejati tetaplah yang menjaga sampai mati.
—  Fasih Radiana (@fasihrdn)

JANGAN JADIKAN DUNIA DI ATAS…

Lihatlah alam sekitar yang natural.. dunia akan menjadi indah, jika engkau melihatnya dari atas… cobalah kepuncak gunung dan pandanglah dunia, sungguh sangat indah dan mengagumkan

Begitulah seharusnya kita memperlakukan dunia, dunia akan menjadi sangat indah bila kita memperlakukannya demikian

Allah telah menjadikan dunia di bawah kita sejak kita dilahirkan, maka jangan sampai kita menjadikannya di atas kepala kita… hingga kita sangat dipusingkan olehnya

Allah Rabb kita yang sangat penyayang tidak menginginkan kita terlalu pusing dengan dunia, oleh karenanya Dia menjelaskan kepada kita melalui lisan nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa rezeki telah dijamin, bahwa manusia tidak akan mati kecuali telah disempurnakan jatah rezekinya

Disisi lain, lihatlah langit… dia akan menjadi sangat indah jika kita melihatnya saat berada di atas puncak gunung pula, ketika dunia jauh dibawah kita… itulah langit, dan di sanalah surga yang dijanjikan untuk kita, sebagaimana Allah firmankan dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sabdakan

Maka begitulah seharusnya perlakuan kita terhadap dua perkara ini… perkara dunia harusnya kita posisikan di bawah, sedangkan perkara akhirat harusnya kita posisikan di atas… sebagaimana Allah menjadikannya demikian… sungguh jika kita memperlakukannya demikian, keduanya akan sangat indah…

Begitulah surga dunia dan surga akhirat.. keduanya hanya bisa diraih saat kita memposisikan dunia di bawah kita,
wollahu a'lam

Ust. Musyaffa 'Ad Dariny, حفظه الله تعالى

twitter @IslamDiaries
Instagram @DiariesImage
Telegram Channel IslamDiaries

Stetmen tentang orang di Jagakarsa gantung diri di efbe tempo hari???

1. KALAU MAU BUNUH DIRI R I S E T DULU
Mulai dari cara kerja tubuh dan organ vital, cara bunuh diri yang efektif, step by step, DO n DONT nya dipelajari. Untuk menemukan metode yang paling tepat.


2. Motif? Gak tau. Namanya manungsya banyak misterinya. Tapi kalau kita lagi patah hati sampai segitunya, hidup tu mentok isinya hal-hal berlebihan semua deh. Kalau dilihat dari cara mendiang-yang metodenya salah gitu, udah pasti beliau emosional bener. Pokoknya gantung diri aja deh, mati aja deh, pedih hati ini. Saking tanpa perhitungan, dan malah salah step by step sampai yang ngeliat pada gak percaya itu beneran kan?


3. GANTUNG DIRI itu sangat menyakitkan dengan proses kematian yang lamban. Resiko kalau gagal bisa cacat.


4. Cari cara lain.

Akan ada masanya dimana kau malas terikat dengan suatu hubungan yg bisa berakhir dengan satu kata. Maka katakanlah pada dirimu. Bahwa yg terpenting adalah menjadi orang yg TULUS. Cintai seseorang dengan tulus. Jangan harapkan imbalan dari tulusmu. Karena jika kau mencintai nya dengan tulus, dan berharap tulusmu terbayar, maka kau yg kau lakukan itu bukan cinta yg sebenarnya. Tapi kau sedang berbisnis dengan hatimu. Sebab cinta itu seperti bunga, jika kau mencintainya maka kau akan membiarkannya hidup tanpa harus memetiknya. Dan kau tidak ingin bunga yg kau tanam mati karena terlalu sering kau sirami. Maka biarkanlah bunga terbaik tumbuh dihatimu.. Pupuk ia dengan tulus.
Lalu bagaimana dengan pepatah “jangan sirami bunga yg sudah mati? ” jawabannya cuma satu, Tuluslah! Entah tulus menanamnya kembali atau menggantinya dengan yg baru. Sebab mawar yg sudah mati pun masih bisa tumbuh jika kau sungguh-sungguh merawatnya.
—  Aku mengatakan ini kepada diriku
Setiap hari.

Mati Klarwein, Annunciation, 1961.  

“You rise with the moon, I rise with the sun.” (Star Wars TFA/Avatar AU)

Happy birthday to my beloved @matereya!! ♥ ♥ I’m sorry for the lateness of this gift, but I hope you enjoy Zuko and Katara as lightsaber-wielding badasses in the final TFA duel (BECAUSE OF REASONS OK ;D)

Also a tribute/thank you for always inspiring me with your beautiful SW and ATLA art, and for being such an epic friend in the trash compactor across these two fandoms!! _(:з」∠)_

Bagaimana Langitmu di sana?

Kita hidup di bumi yang sama, tanah yang terhubung melalui udara-udara yang mengalir di atasnya. Menjadi angin yang membawa serta kabar-kabar tentangmu.

Bagaimana langitmu di sana? Di sini mendung hampir tiap sore, hujan setiap pukul tiga, dan selesai sebelum adzan isya. Hujan di waktu yang sama semasa kita dulu pernah menghabiskan waktu menunggu di selasar kampus, kita sama-sama lupa membawa payung di awal musim penghujan.

Dan kita menghabiskan waktu dengan berbicara.

Bagaimana langitmu di sana? Paling tidak, sudah hampir tiga musim kita tak pernah lagi saling menyapa. Selepas kita saling mengetahui tentang perasaan yang ternyata diam-diam tumbuh sejak awal musim penghujan kala itu. Dan saat kita tahu bahwa perasaan itu tidak boleh menjadi besar lantaran kita tidak bisa menemukan jalan untuk merawatnya di tempat yang layak, yang kita namai sebagai rumah tangga. Kita memutuskan untuk mendiamkan, agar ia mati perlahan seiring berjalannya waktu.

Bagaimana langitmu di sana?

Hidup kita telah berjalan di atas keputusan yang pernah kita ambil. Tidak boleh ada penyesalan, itu adalah kesepakatan kita. Sekalipun kita tidak akan pernah lagi berada di bawah langit dan musim yang serupa.

Tidak boleh ada penyesalan, itulah kesepatan yang akan selalu kita yakini.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 21 maret 2017