tertuju

Karena doa tidak akan tertuju pada sesuatu yang salah, lebih tepatnya doa akan tertuju pada sesuatu yang terbaik untuk kita
—  Karena Allah lebih tau bagaimana yang terbaik untuk tiap-tiap hambaNya❤

anonymous asked:

Bang, kenapa ya, akhir-akhir ini seperti ada yang hilang dari Saya. Saya futur. Saya solat, tp hny sekadar menghitung rakaat. Saya dzikir, tp hati saya fakir. Saya tidak ingin seperti ini terus. Mohon saran :'

(Self Reminder)

Mari kita selidiki lebih dalam.

Tentang shalat, bagaimana kita akan rasakan manis dan indahnya khalwat dalam shalat, jika menjawab seruan adzanNya kita sering telat. Abang tidak berkata takbir dan rekaatnya telat, akan tetapi saat adzan telah dikumandangkan, namun kita belum siap di tempat kita shalat. Tentu akan berbeda rasanya di hati saat kita datang sebelum adzan, dengan sebelum iqamah.

Tentang dzikir, barangkali sebab kenapa dzikir tidak terasa, sebab dzikir kita baru sampai di lisan, belum sampai pada azam untuk benar-benar mengamalkan dan merasakan.

Benar bahwa kita mengucap kalimat istighfar, tapi hati kita tidak benar-benar berazam untuk meninggalkan kesalahan.

Benar bahwa kita mengucap kalimat tahlil nan agung, tapi hati kita tidak benar-benar berazam untuk merasakan bahwa Allah itu Ahad (satu), hanya Allah yang kepadanya kita peruntukkan segala ibadah, hanya Allah tempat kita bersandar dan meminta.

Kita memiliki Allah, tapi menjalani hidup seakan-akan tidak punya Allah.
Kita percaya Allah, tapi bertingkah seperti orang yang tidak percaya Allah.
Beribadah semaunya, bekerja semaunya, semuanya semaunya.


Benar bahwa kita mengucap shalawat, tapi kita luput dari menghayati dan mengamalkan apa yang terabadikan dalam Al-Qur’an, serta  yang baginda Nabi teladankan dan pesankan dalam hidupnya. Kita terlalu menganggapnya ringan, daripada bersemangat mengejar sunnah-sunnah yang sejatinya memiliki keutamaan.

Semoga yang sedikit ini, mampu menjawab.

Apa yang tertulis disini, tertuju untuk penulisnya terlebih dahulu.
©Quraners
Kamu dan hujan; sama

Kamu dan hujan selalu menjadi perbincangan asyik. Kamu dan hujan selalu menjadi butir kata-kata paling menarik. Kamu dan hujan selalu menjadi kisah paling periodik. Kamu dan hujan selalu menjadi hal yang paling.
Iya, paling dari segala hal di dunia ini.

Kamu…

Serupa hujan yang kerap dirindukan. Dinginnya menyejukkan. Gemuruhnya menggemaskan.

Lalu ternyata…

Kamu dan hujan itu memang sama. Sama-sama yang aku suka meski hanya sementara adanya.

Ya, benar saja….

Kamu dan hujan itu memang sama. Sama-sama kucintai tanpa bisa kuhentikan.

Lalu bagaimana dengan rinai yang kian membulir? Adakah ia menyakitimu atau justru mendatangkan bulir doa pada setiap hela napasmu?

Meski begitu, ada beberapa hal yang kubenci dari kamu dan hujan. Aku benci menjadi selaiknya musim kemarau yang menunggu hujan tanpa kepastian.

Akan tetapi, ketika hujan tak ada lagi dibumi, masihkah kamu hadir menemani? Atau bahkan ikut pergi, membiarkanku terkapar bersama gersangnya taman mimpi.

Kamu dan hujan memanglah sama. Sama-sama mencandui penggilanya. Diriku misalnya.

Maka ketika hujan tak lagi ada. Kamu dan hujan akan tetap sama dan paling.
Sama-sama kurindukan, pun paling kutunggu kembali hadirnya.

Meski kutahu sejuk rinaimu tak hanya tertuju padaku. Layaknya senyum itu, yang selalu menjadi alasan betapa mudahnya kau tuk dikagumi, termasuk aku.

Rumpun Aksara, 9 April 2017

Kolaborasi prosa oleh  @ibnufir @duatigadesember @hujankopisenja @rizadwi @gelangkaret @jendelamerahjambu @fauzihawi5 @risnasanbe @biashujan @Evelina

Lettering oleh @rumpunaksara

(4) Komunikasi Benar, Baik, dan Menyenangkan

Tulisan ini adalah resume dari Seminar 7 Pilar Pengasuhan Pengasuhan oleh Ibu Elly Risman yang diselenggarakan di Bandung, 11 Maret 2017. Padatnya materi membuat resume ini perlu disajikan dalam beberapa bagian. Untuk membaca bagian-bagian selanjutnya, klik disini.

Memperbaiki komunikasi adalah pilar ke-empat dari 7 Pilar Pengasuhan. Perbaikan komunikasi yang dimaksud adalah berkomunikasi dengan benar, baik, dan menyenangkan (KBBM). Apakah itu? Berkomunikasi dengan benar berarti sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah. Berkomunikasi dengan baik berarti sesuai dengan kinerja otak. Sedangkan, berkomunikasi dengan menyenangkan berarti dapat diterima oleh perasaan karena otak pusat perasaan pada anak berkembang lebih dulu daripada bagian otak yang lainnya.

Apa sih yang membuat ini penting untuk dibahas? Sebab, (1) kekeliruan bicara kepada anak, meskipun seringkali dilakukan tanpa sengaja, akan berdampak buruk bagi perkembangan kepribadian anak; (2) berkomunikasi dengan anak bukan hanya bertujuan untuk membuat anak patuh, tetapi juga harus membuat hubungan anak dan orangtua menjadi baik, berkelanjutan, saling percaya, dan mampu bekerjasama; (3) berkomunikasi bukan hanya tentang tersampaikannya pesan, tapi harus membuat anak memiliki kemampuan berpikir, memilih, dan memutuskan.

Hmm, apa sajakah kekeliruan berkomunikasi yang mungkin tanpa sadar kita lakukan terhadap anak (dan atau orang lain)?

BICARA TERGESA-GESA

Seringkali, ketika berkomunikasi dengan anak (atau siapapun yang menjadi lawan bicara) kita bicara dengan tergesa-gesa, cepaaaaat sekali seolah tanpa titik dan koma. Padahal, untuk bisa membuat lawan bicara mengerti apa yang kita sampaikan, kita perlu bicara perlahan, menurunkan frekuensi, membaca bahasa tubuh, mendengarkan perasaan, dan tak lupa untuk memperhatikan intonasi dan gesture.

TIDAK MENGENAL DIRI SENDIRI

Permasalahan yang seringkali timbul antara anak dan orangtua adalah orangtua merasa anak tidak memahami dirinya dan sebaliknya, anak juga merasa orangtua tidak memahaminya. Sebagai orangtua dan calon orangtua, hal ini bisa kita hindari dengan mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Kenali sebenarnya kita adalah orang yang seperti apa, apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi kita, apa yang kita butuhkan dan inginkan, dan masih banyak lagi.

LUPA BAHWA SETIAP INDIVIDU ITU UNIK

Sikap membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lainnya atau individu yang satu dengan yang lainnya berasal dari lupanya kita untuk menyadari bahwa setiap individu sejatinya unik dan tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya. So, yuk sadari bahwa kita, anak-anak kita, dan orang-orang di sekeliling kita adalah individu yang unik.

TIDAK MENDENGARKAN PERASAAN

Bayangkan kejadian ini: anak pulang sekolah dengan muka ditekuk lalu masuk kamar sambil membanting pintu. Terkadang, Ibu akan langsung marah-marah ketika melihat kondisi ini, “Kamu itu ya, engga sopan banting pintu di depan orangtua!” tanpa menanyakan terlebih dahulu tentang apa yang sebenarnya sedang dirasakan oleh anak.

KURANG MENDENGAR AKTIF

Mendengarkan aktif tentu berbeda dengan ‘hanya mendengarkan’. Menganai hal ini, berikut beberapa hal yang saya ingat dari ilmu konseling yang saya dapat saat kuliah, yaitu bahwa mendengarkan aktif berarti mendengarkan untuk memahami, dengan cara (1) berhenti bicara dan menahan diri untuk menanggapi sebelum lawan bicara selesai berbicara; (2) mempersiapkan diri untuk mendengarkan, fokus, dan benar-benar tertuju pada pembicaraan; (3) membuat lawan bicara merasa bebas dan nyaman untuk berbicara; (4) berupaya untuk meminimalisir segala distraksi yang membuat percakapan jadi terganggu; (5) menunjukkan empati; (6) sabar untuk tidak menginterupsi sebelum waktunya; (7) menghindari berprasangka tanpa alasan logis; (8) mendengarkan tekanan-tekanan suara dan intonasi; (9) mendengarkan secara keseluruhan dan mencoba menangkap apa yang menjadi ide dasar; dan (10) memperhatikan gestur, ekspresi wajah, ekspresi emosi, dan pergerakan mata dari lawan bicara.

MENGGUNAKAN 12 GAYA POPULER

Secara tidak sadar, 12 gaya komunikasi inilah yang sering kita lakukan terhadap anak (dan atau orang lain) ketika sedang berbicara. Apa saja? Yuk kita cek!

1. Memerintah

Contohnya, ketika pagi-pagi sedang bersiap-siap untuk sekolah, orangtua mengatakan, “Adek, Bunda bilang mandi sekarang, terus langsung sarapan. Sebentar lagi jemputannya datang, ayo cepet jangan lelet!”

2. Menyalahkan

Contohnya, ketika anak sedang bermain dan terjatuh, orangtua mengatakan, “Tuh kan, Ayah bilang juga apa, kamu sih engga hati-hati, jadi jatuh kan!”

3. Meremehkan

Contohnya, ketika anak berhasil melakukan sesuatu, orangtua mengatakan, “Ya elaaah, gitu doang sih gampang, dek! Ayah juga bisa!”

4. Membandingkan

Contohnya, ketika anak sudah mendapatkan nilai yang bagus, orangtua tetap membandingkannya dengan orang lain, “Kamu tau engga dek, anak tante di rumah sebelah itu nilai Matematikanya 10 lho, kamu kok 9 sih?”

5. Mencap atau Melebel

Contohnya, seringkali orangtua melebeli anak dengan kata-kata, “Aduuuuh, kamu itu cengeng, nakal, lelet lagi!”

6. Mengancam

Contohnya, demi supaya anak makan dengan lahap, orangtua mengancam dengan mengatakan, “Awas kamu ya, kalau makanannya engga habis, nanti Bunda cubit!”

7. Menasehati

Contohnya, ketika anak sedang asyik bermain, orangtua ribut mengatakan, “Adek, dengerin Bunda! Bunda bilang jangan lompat, jangan lompat. Ini baru urusan lompat. Nurut! Kata Rasulullah juga kamu itu harus nurut sama Ibu. Ibu … Ibu … Ibu … blablabla!”

8. Membohongi

Contohnya, ketika anak ingin membeli sesuatu yang tidak diperbolehkan, orangtua berbohong dengan mengatakan, “Eeeeh jangan beli itu, itu abangnya suka menculik anak.”

9. Menghibur

Contohnya, ketika anak baru saja terjatuh dan kakinya berdarah, lalu orangtua mengatakan, “Cup … cup … cup! Ini engga sakit kok, Duuuuh, jalannya nakal ya dek? Mejanya nakal juga ya bikin kamu sakit? Sini sini, lihat deh, itu ada kupu-kupu. Cantik, ya?”

10. Mengeritik

Contohnya, ada saja kesalahan anak yang dikritik dari sejak pagi hingga malam, “Lihat itu tali sepatu, diikatnya kok engga pernah bener. Itu baju masukin, kamu tuh ya engga bisa rapi. Kalau mau pergi itu pagarnya dikunci, main langsung pergi-pergi aja. Lihat lihat, ya ampuuun bukunya keriting. Kamu itu gimana sih?”

11. Menyindir

Contohnya, ketika anak berusaha untuk melakukan kebaikan, orangtua mengatakan, “Ya ampuuuun, hari ini cerah banget! Pantesan aja, anak Bunda cuci piring.”

12. Menganalisa

Contohnya, ketika pulang sekolah anak menangis karena bertengkar dengan temannya, orangtua sibuk menganalisa mengapa itu terjadi, “Kamu berantem ya sama temanmu itu? Apa, dia bilang apa tadi? Bilang kamu nakal? Tapi hmm, kayaknya dia sirik sama kamu karena nilai kamu bagus. Ataaau, mungkin dia ingin seperti kamu yang selalu juara kelas. Atau karena kamu lebih cantik daripada temanmu itu?”

Hmm, bagaimana, apakah gaya komunikasi kita sebelumnya sudah efektif? Atau, apakah ternyata kita sering melakukan kekeliruan-kekeliruan di atas? Jawab di dalam hati saja, ya! ;)

__________

Bersambung ke tulisan selanjutnya

Sampai Padamu

Seperti cahaya yang masih saja dapat ditemui di ujung mataku, pagi tanpa cahaya ini aku selalu ingin menghabiskannya dengan memasukanmu dalam lamunanku, hingga seolah aku dapat berbicara berdua denganmu. Dan aku semakin jelas melihatmu, bagai cahaya pertama, yang kemudian bergeser pada beningnya embun yang menggantung manja.

Seperti matahari yang menusuk kulit tepat di atas tempatku berdiri, siang dengan peluh ini tidak akan pernah menghentikan suara-suara yang ingin aku sampaikan untukmu. Hingga aku tidak pernah hentinya menghentikan suara ketukan kakiku, hanya agar sisa-sisa suaramu tidak menciptakan rindu yang menghantam dadaku keras-keras. Dan sampai pada waktu ini, ingatanku selalu tertuju padamu.

Seperti ilalang yang beradu dengan angin menuju senja ini, tidak ada yang ingin kulakukan selain mengingatmu ke dalam tulisanku. Dan akan selalu membuktikan bahwa aku sungguh-sungguh mencintamu, hingga mungkin kamu tidak akan mempercayainya. Maka, jika nantinya cinta masih menjadi sebuah pertanyaan besar untukmu, maka jawaban itu sederhana saat aku yang sanggup merawat cintamu.

Seperti hujan yang beradu dengan suara adzan, merdunya tidak akan kalah dengan percikan tampias rumah. Rinduku tak pernah ada tandingannya, tidak apa jika kamu mau membandingkannya dengan yang lain di luar sana. Toh, itu hanya akan semakin membuktikan bahwa cintaku yang paling tepat untukmu. Maka, kupeluk saja tiap air yang nantinya dijatuhkan oleh matamu. Dan biarkan aku mendekap seluruh resah dalam do'amu yang acapkali malu-malu untuk diadukan.

Seperti sisa-sisa hujan yang menciptakan irama tepat di atas langit-langitku, malam adalah waktu terakhir aku bisa memikirkanmu. Sisanya, aku ingin bersenandung lirih, dan menangis hingga lelah lalu tertidur. Pada jeda mimpi, aku selalu menciptakanmu di sana. Sebab, rinduku tidak pernah habis padamu, hingga aku ingin selamanya berada di dekatmu.

Kiranya suara kita dapat tersampaikan hingga ke ujung dunia tanpa ada sedikit yang menghilang, mungkin saja do'a-do'a yang kutitahkan telah sampai padamu. Kiranya ketulusan itu dapat kutuliskan padamu, maka tinta seisi lautan tidak akan pernah cukup untuk kuceritakan padamu. Kiranya hati bisa di dengar, yang tidak tahu tempat berbicara dan mengadu, mungkin akan bising juga telingamu olehku.

Tidak pernah habis kubisikkan pada kesempatan tiap malamnya saat namamu bergema sepanjang lorong malam sampai tak bisa kupalingkan dari ingatanku. Allah begitu baik, tidak habisnya kesabaranku ditenun, termasuk dititipkanku seseorang yang begitu tabah sepertimu.

Kini hanya tinggal tersisa keyakinan dan do'a-do'aku yang tak pernah patah pada lima waktuku. Maka aku selalu mengucapkannya penuh dengan rasa khawatir. Agar kemanapun nantinya langkahmu berlari kencang, biarkan kaki-kaki mungil itu berbalik padaku.

Apakah sampai padamu?

Pada sisa-sisa waktuku, ingin kuhabiskan untuk membuktikan segalanya untukmu. Sebab, ia sebegitu hangat sampai ke hatiku, begitu lembut menyentuh rasaku. Sampai-sampai hatiku sedetikpun tak ingin berpaling dari indahnya cintamu.

Apakah sampai padamu?

Maka, aku akan sangat bersyukur, sebab orang itu adalah kamu.

Sangat beryukur.

Menjemput Kolokium, 28 Februari 2017 | Seto Wibowo

Jupri (1)

Seorang teman kuliah yang sekarang sudah di Jakarta tiba-tiba menyapa.

“Han, temennya temenku ada yang mau kenalan. Wakakaka.”
“Eh serius? Wkwk. Anak manah?”
“Satu Univ sama kita dulu. Sekarang satu kantor sama temenku.”
“Namanya?”
“Jupri.”

Telat.

Mungkin kenalan lewat temennya temen Jupri kelamaan, atau itu plan B nya Jupri kalau DMnya gak kebales.

Biasa. Wanita. Mulai mengira-ira dan sok merumuskan apa yang sedang terjadi.

Link di bio-nya tadi adalah satu-satunya jalan untuk “kenal” dengan Jupri.
Blog Jupri agak banyak tulisannya. Gak bisa dibaca selese dalam satu hari.

Tiba-tiba ada DM dari Jupri lagi.
Foto.
Grafik gitu. Aku kira tentang kerjaannya.
Ternyata bukan.
Katanya, “Hebat loh, pembaca blog ku sampe luar negri.”
“Ohya?”
“Iya, itu, grafiknya, 10 kali dibaca di Oman katanya.”

Aku dak paham kalau ternyata blog punya begituan.

Dan aku gak sadar udah buka blog Jupri 10 kali.

Singkat cerita, komunikasi jalan lewat DM IG. Ini agak….gimana ya hahaha.
Mulai dari komunikasi malu-malu, pancing memancing lewat igstory. Wuuttt…ini sumpah ciki abizzzzz…tapi gapapa, sudah tinggal cerita.

Sampai suatu saat Jupri menghilang.

Oh, Jupri bikin tumblr, baru, tulisannya sedikit. Dari tulisan yang sedikit itu, ada satu penjelasan kenapa akhirnya Jupri memilih menghilang.

Di akhir tulisannya, Jupri tulis satu pesan, suatu pesan untuk aku lakukan.

Tapi, aku perempuan Jup. Tulisan itu terbuka, terbaca siapa saja. Walaupun tampaknya tertuju padaku, tetap saja, alamat tulisannya tersirat.

Perempuan itu menunggu, Jup.

Menunggu dan sesekali mengintip…

Kepo maksudnya wkwk

Meski sengaja aku lamurkan, hatiku tahu pada siapa ia tertuju. Penyangkalan ini hanya membuat semakin luka hati. Penantian pada yang lain, masih belum mampu pula menyiasatiku.
Barangkali rinduku tak sampai menyentuh hatimu
Lalu rinduku kemana?
Kau kemanakan rindu itu?
Rinduku tak menyentuh hatimu atau rinduku kau tak persilahkan untuk masuk?
Jika memang jawaban dari pertanyaanku itu tertuju pada penolakan
Bolehkah aku meminta?
Tolong pulangkan rinduku
Biarkan ia berkelana dan pulang pada pemilik yang menginginkannya
Jangan biarkan ia tersesat dalam dirimu yang penuh tanda tanya
Tanpa kau sadari ada yang diam-diam mencuri pandang ke arah mu.
Ada yang diam-diam memandang fotomu di gelap malam.
Ada yang diam-diam menyisihkan waktu hanya untuk sekedar mencari tahu kabarmu.
Ada yang diam-diam mengatur nafas dan detak jantung hanya untuk sekedar menyapa mu lewat pesan singkat.
Di kumpulkan nya kekuatan hanya untuk sekedar menenangkan rindu yang terus tertuju padamu.
Apa hatimu sama sekali tidak bisa merasakan nya?
Saat kau merasa ada yang mengusik tenang mu.
Itu aku yang sedang benar-benar merindukan sapamu.
Salahkah Aku

Beberapa orang sepakat bahwa sebuah perasaan akan hilang dengan sendirinya seiring waktu dan kerelaan hati kita untuk melepaskan. Aku pernah dalam situasi ini. Aku tak habis pikir mengapa jatuh cinta itu selalu salah. Setelah kusadari, ternyata seseorang itu hanya mempermainkan perasaan saja - lalu dalam diam aku terpukul menerima luka. Entah sudah berapa kali. Hingga pergi dan melupakan menjadi pilihan terbaik. Meski berat tetapi aku harus bertanya pada diriku, “Apakah aku akan tetap mempertahankan dia yang tak benar-benar mengenal dirinya seperti apa? Apakah aku akan tetap bertahan padanya yang tak sungguh-sungguh setulus dan seyakin ingin menggenapiku? Tidak”

Sedangkan situasi sekarang, aku terbilang kalah oleh renjana; rasa yang begitu terlalu. Ketika pertemuan denganmu bukanlah takdir yang kusesali. Maka, salahkah jika aku egois karena rasa percayaku, bahwa kau satu-satunya? Salahkah jika aku egois karena tak ingin bila suatu hari nanti hatimu memilih yang lain? Salahkah jika aku egois karena tetap mempertahankan perasaan yang entah akan berbalik jawaban apa nanti? Salahkah jika aku egois karena doa-doaku tertuju padamu saja? Salahkah jika aku egois karena tak menginginkan yang lain karena kau yang kuyakini? Dan salahkah jika sampai kapan pun perasaanku tidak berubah meski waktu terus berjalan?

Aku akan salah jika mengharapkanmu. Tetapi aku tidak akan pernah salah jika mengharapkan-Nya agar segala inginku menjadi nyata. Karena keegoisanku ini aku terus-menerus bercermin, bukan mematutkan penampilan tetapi hati dan perilaku.

Ah, perempuan selalu begitu.

Semoga saya tidak pernah mengatas namakan ukhuwah hanya untuk tertuju pada satu kelompok saja..
Semoga saya (juga) tidak pernah ber ramah tamah dan memasangkan senyuman menawan hanya untuk seseorang yang mau berada dalam satu jalan bersama saya. Semoga saya selalu Allah karuniai sikap adil dalam berteman dan berukhuwah,
Dan terakhir, semoga saya tak pernah memilih-milih dalam rangka menebarkan cintaNya. Semoga tidak yaAllah..
—  Atikahsh
Jarak (Dan Kamu)

Punggungmu terlalu jauh untuk tatapku. Oleh sebab itu, aku merutuki jarak dengan sebegitunya. Karena jarak dengan teganya membuat dinding di antara orang-orang. Padahal (bisa jadi) orang-orang itu saling mencintai.
.
Pada jarak, aku pernah memaki dengan sejadi-jadinya. Hingga butir-butir air mata tumpah begitu saja. Tanpa kupinta apalagi kurencanakan.
.
Itu dulu.
.
Sebelum aku paham, untuk apa jarak diciptakan. Sebelum aku tahu, tujuan baik dari penciptaan jarak. Dan yang pasti, sebelum kamu yang kini berjarak hadir lantas menghiasi hariku.
.
Katamu, jarak adalah sesuatu yang indah. Tidak perlu dibenci sebab hadirnya untuk menguatkan, menguji kesetian cinta dan juga untuk menghargai sebuah pertemuan.
.
Awalnya, aku anggap itu omongan belaka, namun seiring berjalannya waktu aku paham bahwa itu adalah kebenaran yang nyata.
.
Aku paham, setelah sesuatu yang bernama ‘cinta’ itu hadir dan tertuju padamu.
.
Depok, 11 Juni 2017

Di Penghujung Bulan Oktober

Demi rindu yang tidak pernah sanggup aku sampaikan, yang hanya bisa menyimpannya seorang diri, yang begitu sungkan dikeluhkan, yang aku perjuangkan sendirian, yang tidak pernah luput kutitahkan pada tiap do'a, serta yang kuharap kelak akan berbalas.

Aku masih dengan perasaan yang sama, bahkan bisa kukatakan lebih. Perasaan yang kuletakkan pada sisi tertentu di hatiku, bahkan yang terkadang rasa sakitnya harus kusisipkan pada senyumku. Pada raga yang tampak ceria ini, mungkin tawaku bisa menggelak, dengan senyumku yang tak pernah henti mengembang dan candaku yang bisa menghibur siapa saja. Sayangnya, hatiku tidak sedang sebahagia itu.

Demi rinduku yang pandai menepuk angin, yang tidak pernah tahan oleh sakitnya pengabaian, dan yang meski berjatuh-jatuh kali tertimpa tetap tegar berdiri di sana.

Aku masih dengan posisiku sebelumnya, aku masih berada di depan pintu yang sama, dan aku masih mengetuk dengan cara yang sama. Inginnya, aku bercerita banyak setelah pintu itu terbuka olehmu. Sayangnya, pintu tidak pernah terbuka, bahkan cerita yang ingin kusampaikan selalu terhenti pada percakapan sederhana. Aku tahu, cinta memang sehebat itu membuatku kelu. Aku masih bersyukur cinta tidak sanggup membuat lidahku kaku mengucap namamu dalam do'a.

Demi rindu yang setia tertulis dalam ingatanku, yang tidak pernah kubiarkan berbalik arah, yang aku teguh menyebutnya sebagai tempatku menuju, dan yang meski pintunya selalu tertutup untukku, aku masih kokoh berdiri di sana.

Kamu mungkin sungguh tidak beruntung, dicintai oleh laki-laki sepertiku. Kamu bisa melihat bagaimana aku meletakkan yakinku padamu, tidak dari segala yang aku tulis dan aku ucap. Seluruhnya bisa kamu lihat kemana langkahku tetap tertuju. Dan pada saat yang sama, do'aku menyampaikan pintaku pada langit, agar langkah kita dapat berjalan beriringan nantinya.

Maaf jika ini semakin saja membuatmu lelah, aku mungkin tidak akan pernah pantas untuk ada di sisimu. Namun, jika kamu membutuhkan alasan, kamu tidak akan menemukan alasan apapun untuk mencintaiku sebanding laki-laki di luar sana.

Maka benar, akulah laki-laki yang tidak pernah menyerah.

Mungkin seperti itu takdir yang ada, yang meminta belum tentu akan menerima, tetapi yang memberi kelak pasti akan menerima.

Jika suatu hari nanti kamu merindukanku juga, biarkan aku mengetahuinya. Sebab aku tahu, bagaimana perihnya menahan sebuah rindu.

Besok, bulan Oktober sudah habis, hujan yang datang akan lebih deras dari yang kemarin-kemarin. Andai kamu tahu, mungkin kamu satu-satunya hal yang membuatku ingin bangun sebelum sepertiga malam.

Besok-besok, kalau lengan bajunya lebar jangan lupa pakai manset. Jangan lupa bulan depan masih musim hujan.

Jangan lupa, jangan lupa bawa kaos kaki cadangan.

Bogor, 31 Oktober 2016 | Seto Wibowo

Perempuan Lain yang Dicintai Lelakimu


Jika kelak muncul perempuan lain di hidupnya selain kamu, apa yang akan kamu lakukan? 

Bagaimana rasanya ketika dia menyebut-nyebut nama perempuan itu di hadapanmu? Ketika yang ada dibenaknya bukan lagi melulu kamu. Tapi ada perempuan itu.

Dia masih tetap mencintaimu. Selalu mencintaimu. Namun kelak, saat hadir perempuan itu perasaannya padamu mungkin tak sama persis seperti dulu. Mungkin sekarang kamu masih bisa meminta sisa-sisa waktunya untuk bermanja, untuk memupuk rasa. Tapi jika sudah ada perempuan itu,… 
semuanya pasti akan terasa berbeda.

Ketika masa itu tiba, waktumu dengannya akan berkurang. Drastis? Mungkin. Tergantung kadar ketergantungan perempuan itu terhadap lelakimu. Dapat dipastikan kamu tidak bisa protes. Prioritas lelakimu sudah tak tertuju lagi padamu.

Dia masih tetap mencintaimu. Selalu mencintaimu. Di sela-sela ‘hidup’ barunya, akan selalu tersisipkan hadirmu. Seterusnya akan selalu begitu. Sampai perempuan tersebut, mendapat pengganti lelakimu.

Saat lelakimu lebih mencintai perempuan tersebut melebihi cintanya kepadamu, apa yang kamu rasakan?

Sedari awal dia berjanji, dia sudah mengisyaratkan keinginan untuk menghadirkan perempuan selain dirimu. Perempuan yang kelak akan diperlakukannya seperti seorang putri, menggantikan posisimu .

Dia masih tetap mencintaimu. Selalu mencintaimu. Akan tetapi, kelak ada perempuan itu. Perempuan yang bola matanya indah sepertimu. Dengan rentetan giginya yang putih, yang senyumnya membuat lelakimu bahagia, persis senyumanmu. 

Perempuan yang dalam darahnya mengalir darahmu. Perempuan yang budi pekertinya adalah hasil didikanmu.

Kelak, lelakimu akan sangat mencintai perempuan itu. Perempuan yang namanya diberikan olehmu. Perempuan yang jika melihatnya, dia akan selalu teringat kepadamu.

Perempuan itu yang menjadi bukti atas rasa cinta dan setia yang dia tujukan hanya padamu.

Kala itu senja sangat indah, membawa serpihan kenangan yang sungguh menambah kecantikan warna jingga matahari yang hampir terbenam.
Aku terjebak dalam ingatan yang masih ku jaga.
Seorang yang aku fikirkan dalam hayalku tiba-tiba nyata di penggelihatanku,
ia sedang duduk di sebuah kafe yang biasa kami kunjungi dulu, di meja yang sama dan menikmati secangkir late yang selalu kami pesan, senyumannya masih sama, masih sangat indah masih sangat mempesona namun kenyataannya bukan aku lagi yang duduk menemaninya, mendengar setiap celotehannya tentang pekerjaan dan hari yang ia lewati, senyuman itupun bukan lagi padaku tertuju.
Pedih memang, namun aku yang hanya menjadi yang pernah tidaklah lagi memiliki hak sebagai yang di memiliki.
—  dan kini tugasku memperhatikanmu,menyaksikan betapa berhasilnya kamu bahagia tanpaku setelah itu menyadarkan diriku bahwa akupun pantas bahagia
Kamu,dengan segala ke(kagum)anku

Sejatinya memang kita tidak pernah bisa memilih kepada siapa kita harus jatuh hati. Kita tidak bisa mengelak jika segumpal daging itu telah menentukan lalu menemukan sosok yang membuatnya nyaman.

Kemudian, aku mengalaminya setelah bertemu denganmu. Aku tidak bisa kemana-mana setelah itu. Mataku tak dapat melihat keindahan yang lain selain keindahan yang terpancar dari rona wajahmu. Lalu aku merasa ada racun yang kau tebar melalui senyum itu, yang akan melumpuhkanku jika tidak sesegera mungkin mengalihkan pandangan darimu. Sungguh ini sangat berbahaya. Posisiku terancam. Terancam jatuh cinta.

Kali pertama aku melihatmu di sebuah ruko dekat kampus kita. Sibuk dengan beberapa tumpukan kertas. Aku belum jatuh waktu itu. Tapi bisa kukatakan bahwa hadirmu mengambil alih seluruh perhatianku.
Diam-diam aku mulai mengamati seluruhmu.

Kali kedua, aku melihatmu di ruangan sedang sibuk mengajar mahasiswa yang lain. Sesekali matamu tertuju padaku yang tengah fokus memerhatikanmu dibalik jendela kelas.

Kali ketiga, aku benar-benar telah jatuh. Kecerdasan, kebaikan hati terlebih pesonamu adalah alasan terbesarku.

Kau adalah sosok mengagumkan yang akan selalu kutatap dengan segala pujian. Dan aku adalah seorang perempuan yang betah berdiam menatap dari kejauhan. Mengawasi dari arah yang tak pernah kau lihat.

Biarlah aku menyimpan gejolak ini walau sesekali menyesakkan. Ada baiknya kau tidak perlu tahu perihal rasaku. .
.
Karena ada sesuatu yang memang hanya pantas untuk disimpan dan dirahasiakan.

HADIR DIAM-DIAM

Terkadang aku ingin kau bisa membaca tulisan-tulisanku. Walaupun tidak semuanya tentangmu, tapi setidaknya kau tahu bahwa dalam sebagian besar tulisan kusertakan kau dalam setiap bait kalimatnya.

Kau tahu, diam bukan berarti tak melakukan apapun. Kakiku memang tidak bergerak berjalan ke arahmu setiap saat, tanganku memang tidak menjabat tanganmu hangat setiap hari, mataku tak bertemu matamu setiap waktu, senyumku bukan tertuju hanya padamu seorang. 

Tapi jemariku bergerak menulis tentangmu. Di benakku ada seribu pertanyaan untukmu, di telingaku terngiang-ngiang terus tawamu, di pikiranku terbayang-bayang senyum dan tatapan matamu, mulutku merapal doa untukmu setiap hari.

Aku ibarat seorang penonton gelap yang duduk di sudut ruangan sendirian, terpesona menatapmu yang berlagak penuh pesona di atas panggung. Diam-diam tersenyum ketika kau bahagia, diam-diam murung ketika kau bersedih, diam-diam marah ketika kau kesal. 

Aku hadir diam-diam.

Setiap perjalanan dimulai dari langkah yang begitu kecil, bahkan langkah yang begitu rahasia. Tidak perlu diketahui oleh banyak orang, walau perlahan yang penting pasti. Diam bukan berarti tak ada, hanya saja aku terbiasa hadir dalam bentuk yang tidak kau sadari. Hingga nanti sampai waktunya untukku untuk keluar dari sudut yang gelap dan berdiri tegak dihadapanmu.

Sekarang biarkan aku untuk merindukanmu dalam senyap.
Untuk menatapmu dalam gelap.
Mengangumimu dalam rahasia.

Karena bagiku untuk terang-terangan butuh keberanian yang begitu besar
Maka saat ini aku hanya sanggup untuk hadir diam-diam.

00.36

00.36

Matahari sudah dari tadi terbenam

Mata belum juga mau terpejam


00.37

Entah kemana pikiranku tertuju

Hari sudah berganti baju

Menjadi minggu


00.38

~

00.39

~

00.40

Aku

Dan isi kepala yang kebanyakan isu

Dan kabar dari rumah yang sendu

Dan hati yang tak berhenti mengeluh


00.41

Kantuk memang jarang datang tepat waktu

Dan perjalanan pikiranku sejak 00.37 menemui jalan buntu

Nanti kalau aku ketiduran, mohon dibantu


Karena aku tidak ingin termimpi dalam sesat

Dan menjadi tidak ingin terpulang kepada yang nyata

Kisah seorang Ukasyah

Dikisahkan, mendekati detik-detik kematiannya, Rasulullah sakit parah. Cukup parah hingga mesti dibopong dari rumahnya menuju mesjid. Meskipun dinobatkan sebagai orang yang terbebas dari dosa, yang telah dijaga dari berbagai kesalahan, Rasulullah tetap low profile.

Suatu ketika, Rasullulah berada diantara para sahabatnya, lalu bersabda.

“Sesungguhnya aku tidak ingin membawa beban ketika aku bertemu Rabb-ku. Jika diantara kalian ada yang pernah kusakiti maka berdirilah, Qisaslah aku disini”

Serentak para sahabat bergemuruh, sesegukan,.. terharu oleh ucapan Kekasih Allah tersebut.

“Bagaimana lah kami meng-Qisas anda ya Rasulullah, anda telah membebaskan kami dari kegelapan dan mengorbankan segalanya untuk kami ya Rasulullah,..” jawab para sahabatnya,

Rasulullah mungkin belum sreg, beliau bertanya sekali lagi. Dan diulangi untuk yang ketiga kalinya, hingga akhirnya berdirilah seorang sahabatnya. Ukasyah Radhiyallahu anhu, berdiri sambil gemetar, mengangkat tangannya seraya gemetar pula. Sontak semua mata tertuju padanya,
‘apa pula mau si Ukasyah’ benak para sahabat yang lain.

“Aku ya Rasulullah, dulu ketika perang, ketika anda hendak memacu unta anda agar berlari lebih cepat, anda memecut unta anda lalu tidak sengaja mengenai punggung saya…” ucap Ukasyah sambil gemetar.

“Majulah engkau, wahai Ukasyah”, jawab Rasulullah, sambil menyiapkan sebuah tongkat yang nantinya akan diberikan pada Ukasyah.

Ukasyah berdiri menahan malu dan takut, bergerak perlahan sambil gemetaran menuju baginda Rasul. Belum genap beberapa langkah, diiringi pandangan benci dari para sahabat, Abu Bakar berdiri menghadang Ukasyah.

“Apa mau mu, wahai Ukasyah? Jika kau ingin pembalasan inilah punggungku,. Jangan kau berani sentuh Rasulullah!!” hardik Khalifah pertama.

Ukasyah tidak bergeming, terus bergerak perlahan.

“Wahai Abu Bakar, turunlah. Ini urusanku dengan Ukasyah, biarkan dia menyelesaikan hajatnya” ujar Rasulullah sambil tersenyum. (writer note: kebayang dong senyumnya Rasul macem apa????)

Belum lama, setelah Abu Bakar kembali duduk, bangunlah Al-Faruq, Umar bin Khaththab yang setan aja takut kalo liar umar. Keras menggema mengancam Ukasyah.

“Munafik kau, Ukasyah!! Jangan salahkan aku jika setelah kau menyentuh Rasul aku membunuhmu!!”

Namun Rasul kembali menyuruh sahabatnya itu duduk, begitu pun dengan dua sahabatnya yang lain yang menghardik Ukasyah.

“Wahai Ukasyah, ini aku dengan hartaku sebagai tebusan Rasul! Gunakan sesukamu” pinta Utsman si pemilik dua bidadari.

“Aku adalah anak dari Paman rasul sekaligus istri dari putri beliau. Tidak ada yang lebih pantas dari aku dalam menggantikan beliau terhadap Qisasnya”kata Ali,

Kebayang, seberapa besar keberanian yang harus dikumpulkan Ukasyah demi maju menghadap Rasul. Ukasyah sempat dihadang oleh empat orang yang nantinya jadi Khalifah sebagai pengganti Rasul. (aink sih ga kebayang). Terlampau besar lagi keberanian seorang Ukasyah saat dia sampai dihadapan Rasulullah, mengambil tongkat dari beliau lalu berkata..

“Yaa Rasulullah, sesungguhnya ketika engkau tidak sengaja mencambukku, aku dalam keadaan bertelanjang dada. Maka bukalah bajumu ya  Rasulullah,.” Ucap Ukasyah yang sedang tegang.

Rasulullah tersenyum dan perlahan membuka baju atasnya. Para sahabat sudah naik pitam, siap-siap mengamuk jika Ukasyah benar-benar mengqisas Rasul. Setelah tampak oleh Ukasyah kulit bersih Rasulullah, diangkatlah tongkat yang tadi diterimanya. Sambil gemetaran tongkat tersebut diangkat tinggi-tinggi dan sejurus kemudian,..

Tongkatnya dibuang jauh-jauh,..

Mungkin ini adalah awal mula dari munculnya olah raga lempar lembing dengan Ukasyah sebagai atlit pertama yang melempar tongkat dengan disaksikan orang banyak.

Seketika Ukasyah memeluk Rasulullah sambil sesegukan. Ukasyah memeluk erat tubuh orang yang lebih dicintainya dari apa pun tersebut. Demi mengetahui bahwa kekasihnya akan segera pergi, Ukasyah memberanikan diri menyusun rencana kecil agar bisa memeluk kekasihnya. Hardikan Abu bakar, Usman, Ali dan ancaman Umar tidak menggoyahkan hatinya. Semua sahabat yang melihat ikut menangis, terharu melihat betapa besar rasa cinta seorang Ukasyah.

“Ya Rasul, sesungguhnya aku ingin kita bisa jadi sedekat ini ketika di surga kelak,…” ucap Ukasyah sambil menangis meraung,.

Rasul tersenyum, mengiyakan Ukasyah dan berkata bahwa mereka berdua akan berada sangat dekat di surga kelak.



“Beruntunglah engkau, wahai Ukasyah!!!!!!” koor para sahabat yang ada disana


                                                   ***

Dulu, ketika Rasulullah masih sehat, beliau menyampaikan sebuah hadis yang mebahagiakan para sahabatnya.


“Sesungguhnya akan ada 70.000 orang diantara umatku yang akan masuk surga tanpa hisab”

Semua bertakbir, menyambut senang kecuali Ukasyah. Mendengar hadis tersebut ia berdiri dan berucap dengan sedikit tebal muka.

“Ya Rasulullah, doakan aku agar aku termasuk salah satu diantara mereka” pinta Ukasyah.


Rasul tersenyum, dan mengiyakan permintaan Ukasyah. Lalu, para sahabat yang lain mupeng dan meminta hal yang sama pada Rasul. Rasul tersenyum dan menjawab,.

“Sesungguhnya kalian telah didahului oleh Ukasyah”
.
.
.

.

.

.

“Beruntunglah engkau, wahai Ukasyah!!!!!!”