terpuji

Al-Quran, semakin saya baca, tentu saja dengan horison pemahaman dhaif dan ala kadarnya (untuk tidak dibilang abal-abal), semakin saya menemukan semangat bahwa Allah tidak sedang mengarahkan perilaku kita, manusia, sekadar “tepat”, “boleh”, atau “benar”. Lebih jauh, Al Quran di banyak tempat menganjurkan agar memilih perilaku yang “terpuji”. 

Salah satu bentuk perilaku yang terpuji itu adalah memberi maaf. Secara umum, Al Quran memang membolehkan membalas perlakuan zalim dengan sepatutnya, tetapi memaafkan bahkan berbuat baik kepada orang yang pernah melakukan kezaliman itu dianggap lebih utama. 

Tak hanya membahas secara umum, Al Quran juga memberikan beberapa kasus-kasus dalam perihal ini. Mulai dari perkara betapa utamanya melonggarkan tempo jatuh pembayaran hutang seseorang, bahkan menggugurkan hutang itu sama sekali bagi orang-orang yang benar-benar kesulitan untuk membayarnya disebut lebih baik. Ada pula anjuran kepada ahli waris untuk memaafkan pembunuhan yang terjadi sehingga qishas tak perlu dilakukan. 

Semangat Al-Quran ini, saya kira memiliki tujuan yang sangat indah: agar manusia mendekat dan berusaha meniru nama Allah yang begitu indah, mahapengasih, mahapenyayang, sekaligus maha-pemberi-ampunan. 

Terkait hal ini, saya jadi teringat dengan pesan yang disampaikan salah seorang syaikhuna, bahwa sesungguhnya jikalau Allah melihat amalan-amalan kita dengan keadilan-Nya, tak akan mungkin kita menuju surga-Nya, karena betapa sedikitnya kebaikan yang kita lakukan dan betapa menumpuknya keburukan yang kita lakukan. Kita mungkin berada di surga-Nya hanya karena ia menilai kita dengan rahmat-Nya.

Pada akhirnya, memaafkan adalah bentuk pengakuan bahwa jika Allah yang begitu perkasa saja terus-menerus, tak-putus-putus, memaafkan, mengapa pula kita yang penuh dengan kedaifan malah petantang-petenteng tak mudah melakukan hal yang sama?

Kak Muhammad Akhyar :)

Jangan remehkan satu kebaikan sedikit pun walau itu sepele. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan,
ﻳَﺎ ﻧِﺴَﺎﺀَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕِ ﻻَ ﺗَﺤْﻘِﺮَﻥَّ ﺟَﺎﺭَﺓٌ
ﻟِﺠَﺎﺭَﺗِﻬَﺎ ، ﻭَﻟَﻮْ ﻓِﺮْﺳِﻦَ ﺷَﺎﺓٍ
“Wahai para wanita muslimah! Janganlah salah seorang di antara kalian meremehkan pemberian tetangganya walau pemberiannya hanyalah kaki kambing. ” (HR. Bukhari no. 2566 dan Muslim no. 1030, dari Abu Hurairah). Walau itu sesuatu yang sedikit jangan dianggap remeh.
Bentuk kebaikan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Jabir bin Sulaim adalah berbicara dengan saudaramu dalam keadaan wajah yang tersenyum. Seperti itu adalah bagian dari kebaikan. Jadi ketika bertemu saudara kita hendaklah dengan wajah yang tersenyum, bukan cemberut. Karena sikap seperti termasuk pula dalam memberikan kebahagiaan pada orang lain. Membuat orang lain bahagia adalah bagian dari kebaikan dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang lain. Allah pun menyukai orang yang demikian.
Catatan, tidak setiap waktu kita mesti bermurah senyum pada orang lain. Kadang seseorang melakukan sesuatu yang tidak terpuji, maka saat itu tentu saja kita tidak berwajah senyum di hadapannya dalam rangka untuk mengingatkan kesalahannya. Tujuannya, agar orang tersebut lebih baik dan lebih beradab. Ingatlah, li kulli maqom maqool, setiap tempat punya penyikapan yang berbeda.” rumaysho.com

.
.
Kontribusi oleh @annisa_haq

#duniajilbab
#selfreminder #AllahSWT #rememberAllah #Islam #muslim #ayojadilebihbaik #dakwah #tausiyah #vectorart #vector #bestvector #illustration #illustrator #graphic #design #graphicdesign #flatdesign #instaart #artoftheday #niis2016

Made with Instagram

Untukmu sahabatku yang sedang berhijrah. Istiqomahlah, walaupun banyak yang menghujat karena ukuran jilbab mu yang besar itu bagi seorang muslimah, celana cingkrang yang engkau gunakan bagi seorang muslim ataukah perkataan mu yang hanya membahas tentang agama. percayalah karena Allah sedang mengujimu sebagai bukti kasih sayangNya terhadap hambaNya. Maka kuatlah!

Iqromilah perkataan mereka dengan akhlak yang terpuji meskipun kita adalah manusia yang tempatnya salah, lupa dan jauh dari kata sempurna.

Untukmu yang sedang belajar melupakan dan mengikhlaskan masa lalu, hapuslah dari ingatanmu. Masa lalu mu tetaplah masa lalu masih ada masa depan yang menantimu. Jika orang yang suci memiliki masa lalu, maka seorang pendosa sekalipun berhak atas masa depan bukan? Maka, jadikanlah masa lalu itu sebuah pembelajaran agar tak terjatuh pada kisah yang sama.

Untukmu yang sedang gemar menyampaikan kepada sahabat-sahabat yang lainnya dan mengajaknya untuk kebaikan, bersabarlah. Tidak semua orang akan bisa menerimanya karena persepsi setiap orang pasti berbeda.

Apapun itu, jangan pernah khawatir. Jangan pernah takut karena penilaian dari manusia, tapi cukuplah Allah yang menilai kita sebagai hambaNya yang ingin taat dan meraih jannahNya.

Mari memperbaiki diri sahabatku, Allah telah menyiapkan masa depan yang indah untuk hambaNya yang bersungguh-sungguh. Semangat! Semangat karena Allah Ta'ala agar menjadi pahala disisiNya. Sebelum terlambat, kalau bukan sekarang kapan lagi? Allah is good, relax! Kita masih sama-sama belajar.
.
.
Kontribusi oleh @amaliahrh

Made with Instagram