terpaku

                                                       Sepuluh


Lima menit lalu. Rasa ini belum lah ada, namun mulai terasa. Rasa ini, cinta…


Malam kembali tiba. Kembali sepi, hanya terdengar detak detik ritme bernada. Terdiam ku, namun hanya ku rasa nyaman tanpa terjaga. Ada sebuah ruang yang sedang ingin di sentuh bersama asa. Dengan sebuah pintu tanpa terkunci dan sedikit terbuka. Ruang hatimu, yang mulai rambatkan getaran rasa. Haruskah ku sambut? Dengan cinta? Aku belum terjatuh, terjatuh bersama cinta yang nyata.


Lalu sayup-sayup angin berbisik. Mengeja namamu dan menyandingkannya bersama hati yang masih menunggu. Menunggu untuk terisi kembali. Dengan cinta, laksana dahaga dalam gurun asmara. Namun aku membisu, terpaku menunggu detik yang berlalu. Terdiam dalam belenggu prahara. Menunggu detik menyediakan spasi untuk ku bisa rengkuh hati dan utarakan cinta. Padamu, sayang.


Sisi ruang batinku yang hampa rindukan kasih. Bersimbah akan rasa yang ingin terucapkan, namun kelu. Mencoba mengetuk pintu hatimu, memasukinya dan mulai menulis kisah tentang kita dengan aksara bernyawa. Aku mencintaimu. Kukira kamu juga begitu. Karena harapku adalah mengharapkan sebuah ruang dan waktu, dimana kita dapat menikmati keduanya, berbalut indah imajiku dan imajimu, kasih. Dengarkanlah permintaan hati ini.


Namun, seketika ada yang mengusik pikirku. Bagaimana jika kau tak merasa yang sama? Bagaimana jika aku satu-satu nya tokoh dalam cerita ini yang merasakan gelombang aneh yang kemudian ku namai cinta? Bagaimana jika kau, jauh dilubuk hatimu memiliki sosok lain yang kau agungkan? Bagaimana jika kau rasa semua ini terlalu cepat? Bagaimana bila semua bagaimana ini benar adanya?


Namun nyatanya cinta ini memilihmu. Cinta ini seperti hidup kala getarannya sudah merambat dengan cepat dalam hati ini. Nyatanya, meski ada sedikit keraguan untuk menyampaikan, namun imajinasi ini sudah sanggup membentuk siluet kebersamaan bahagia kita, kelak. Rasa ini memberikan mimpi-mimpi yang tak lagi sendiri, namun berdua mimpi bersamamu. Rasa ini memberikan kata-kata yang tak lagi bermonolog, namun berdialog bersamamu. Jika masih tetap ragu mengusik pikiranmu, genggamlah tanganku, rengkuhlah pikirku, sambutlah cintaku dan dengarkan harapku. Bila cintamu buat hatiku melayang seringan awan, sayang.


Rasa ini terlalu kuat untuk ku diamkan begitu saja, ia bahkan sudah berani menolak saat ku pinta ia untuk duduk manis di sudut hatiku. Maka, sayang, maafkan jika aku terlampau lancang untuk mengutarakan apa yang ku punya padamu. tenang, kau tak punya kewajiban untuk membalasku dengan rasa yang sama, kau hanya perlu menyisihkan waktumu sebentar untuk ku. Biar ku ungkap rahasia ini, biar kujadikan lega hati yang penuh dengan pertanyaan bagaimana ini.


“Aku mencintaimu”, desahmu.

“Maukah kamu habiskan sisa hidupmu bersamaku, sayang?”, desahku.


Telah ku ungkap rasa yang ku miliki kepadamu. Seketika, ada lega yang merajai sanubari, pun dengan cemas yang menjadi ratunya. Ku genggam erat tanganku, terlampau takut untuk memandang raut wajahmu. Detik yang tak satupun kulewatkan, sudah enampuluh tujuh hitunganku saat ini, namun kau tak jua berucap apapun. Bola matamu masih membulat seolah tak percaya. Kurasa, saat itu aku mulai mendengar hatiku retak, sedikit demi sedikit dan kemudian disanalah ia, seutas senyum yang kutunggu, senyum manis yang diiringi anggukan kecil yang membuat duniaku seakan berhenti berputar. Benarkah? Tak sedang bermimpikah aku?


Seketika nama mu mulai terbesit dalam pikirku. Tentangmu mulai terbayang angan dalam khayal dan imajinasiku. Kamu adalah imaji yang nyata. Aura mu yang bersinar kala gelap mendominasi. Kamu lah pelangi yang penuh warna untuk ku bubuhi kata-kata kisah tentang kita dalam kanvas hitam malam. Kamu lah ketenangan saat senja menyambut memberi kehangatan berbalut keindahan. Kamu adalah alasan, mengapa detik ini menjadi berharga setiap aku menggenggam tanganmu, kelak. Sayang, cinta ini menggenapkan dua hati kita masing-masing.


Lalu dengan mantap langkah ini kini beriringan. Langkah berdua yang kelak akan menjadi langkah besar yang ber irama syahdu. Hari hari yang selalu ada yang aku lamunkan dan aku pikirkan. Tak lagi sedu, hanya haru senyum yang selalu terbayang. Genggam lah tangan ini, kasih. Bersama kita jelajahi ruang kosong lalu kita isi dengan nada, warna dan aksara. Agar terasa indah layaknya kidung termanis, terlihat indah layaknya pelangi termegah, terbaca indah layaknya puisi terhebat. Aku, kamu, kita, lewati detik yang kini terasa berharga. Sayang, ku kira kamu pasti pun pasti ingin terus begini, sampai nanti.


Saat ini, kasih, satu-satu nya kata yang ingin kuucap adalah terima kasih. Terima kasih karena dengan ini, maka kau telah bersedia mendai objek dari segala mimpi indahku. Objek dari segala rencana yang aku rancang untuk masa depanku, objek untuk ku jadikan tumpuan saat kaki telah terlampau lelah melangkah seorang diri di sepinya kehidupan.


Lima menit setelahnya. Rasa ini kini benar-benar ada dan nyata. Indah dan bergetar bahagia hebat rasanya. Cinta, ijinkan aku mencintainya.


September Ceria, 2016

cc @menatapmu @aporsiapsika @sketsarindu @jambangcosmic @vindurse @ranauliya @nurulfadhilahkdr @vinotm @narasibulanmerah @bebraveyou @meeeong @katakakiku @tersesatrasa @ihrdn @krisanyuanita @cowokjalang @pemudabiasa

“I’m yours. But I’m not yours.”

-

Sejenak gue terpaku di depan kalimat barusan. Kalimat yang benar-benar singkat, menggunakan kata yang sama dan hanya dibubuhi dua penambahan kata yang berbeda. Tapi entah kenapa makna keseluruhannya begitu luar biasa.

“Aku milikmu. Tapi aku bukan milikmu.”

Kalimat itu seakan mengacu pada suatu keadaan di mana hubungan sudah memasuki tahap terlanjur. Terlanjur basah, terlanjur cinta, terlanjur lama. Ketika melepas tidak mungkin, tapi bertahan hanya berujung bosan.

Atau juga kalimat itu hinggap pada suatu hubungan di mana pihak yang pertama hanya bisa memeluk raga, sedangkan pihak yang kedua hatinya entah sedang terbang ke mana. 

Orang-orang di sekitarmu tahu dia milikmu. Tapi jauh di dalam alam bawah sadarmu, kau merasa bahwa kau bukan miliknya. Seakan kau tak tahu di balik topengnya itu apakah ia benar-benar mencintaimu atau tidak.

Kau mencium bibirnya, tapi tidak nafsunya. 
Kau memeluk raganya, tapi tidak debarnya. 
Kau menggenggam tangannya, tapi tidak hangatnya. 
Kau memiliki tawanya, tapi tidak senyumnya.

Dan sedihnya, tidak sedikit orang yang sedang berada di dalam fase hubungan seperti ini. Hubungan yang sudah terlanjur.

Yang satu tak ingin melepas karena cinta, yang satu tak ingin melepas karena merasa kasihan. Membiarkan pihak yang satunya terus bertanya-tanya, apakah raga yang kupeluk barusan adalah raga yang mencintaiku sepenuh jiwa?

But sadly, you’re mine and I’m not yours. 

Br
21116

“Kawan memecut motosikal dengan cermat. Balik dari hospital.

Meredah jalanraya di malam hari. Gelap betul. Lampu jalan pun jarang-jarang kelihatan.

Aku membonceng di belakang. 

Tiba-tiba di hadapan ada sekatan jalanraya. Ada polis.

Oh. Bukan. Ada kemalangan di hadapan. Sebab itu ada polis.

Kami sampai di tempat kejadian. Kawasan tu agak sunyi. Kenderaan pun jarang lalu situ.

Mungkin kami antara yang terawal tiba. Nasib baik ada abang polis trafik lalu.

Kawanku memberhentikan motosikal. Aku gigil sikit lutut. Tengok darah mengalir di atas jalan. 

Penunggang motosikal ni. Macam kes langgar lari saja. Sebab tiada kenderaan lain di situ kelihatan. Motosikal je berderai. Penunggang dah nyawa-nyawa ikan. Kaki sebelah entah ke mana. Patah tulang.

Aku gagal menapak menghampiri mangsa. Gerun. Takut. Tak biasa. Tiada siapa nak tolong mangsa. Polis pun tengah sibuk hubungi ambulans dan kawal lalu lintas.

Kawanku meluru ke arah mangsa. Aku terpaku melihat dia memangku kepala mangsa dan meribanya. Perlahan-perlahan diajarnya mengucap syahadah. Mangsa tercungap-cungap mengucapkan sesuatu pada kawanku.

Tak lama kemudian, mangsa diam. Innalillahi wainna ilaihi raaji'un.

Kawanku mengambil sesuatu dari poket seluar mangsa. Henfon dan dompet. Ku lihat dia menekan-nekan fon tersebut. Dari dompet, dilihatnya IC. Kemudian, dia serahkan pada polis dan bercakap-cakap sesuatu dengan polis. 

Datang ke arahku. 

”“Dia cakap apa dekat kau?”“ Tergesa-gesa aku bertanya.

”“Dia suruh aku balas mesej mak dia. Tadi, tengah dia bawa motor. Mak dia mesej. Baru saja nak reply, jadi macam tu.

Dia suruh aku balas pada mak dia, dia minta maaf atas segalanya. Dia dah belikan mee goreng untuk adik-adik yang kelaparan dekat rumah.”“

Aku ke motosikalnya. Masih elok bungkusan mee goreng dalam raga motosikal.

”“Kita tolong hantarkan. Jom.”“ Kawanku menarik tanganku cepat-cepat.

Start motor. Ikut alamat yang dia tengok di IC mangsa tadi. 

Sampai di rumah mangsa. Kami serahkan mee goreng tadi kepada ibu mangsa. Ada empat budak kecil. Mungkin adik mangsa. Aku dapat rasakan mangsa betul-betul abang yang sangat baik.

Kawanku khabarkan berita duka pada ibu mangsa. Hampir nak pitam. Disambut deraian air mata.

**

Dalam perjalanan pulang, kami banyak berdiam diri. Aku lihat air mata mengalir di pipi kawanku. Aku pun sama.

Kawanku bersuara sayup-sayup kedengaran,

”“Bila kali terakhir kau mohon maaf pada orang tua kau?”“

”“Bila kali terakhir kita mohon ampun pada Allah? 

Sampai bila kita nak dingin pada Allah?”“

Bagai tertusuk duri.

Esok belum pasti. 
Mati itu pasti. 

Kesudahan aku? 

Kesudahan kita?

Siapa tahu. 

Aku pun tak tahu.”

(14247, 2014)

Berapa Banyak

Andai dalam hidup ini kita bisa memilih cepat atau lambatnya jawaban dari do'a-do'a, tentu tiap-tiap dari kita pasti memilih cepat. Tak heran jika terkadang membuat kita hilang kesabaran saat do'a begitu lama tidak terkabul.

Setiap orang menginginkan do'a mereka dikabulkan tepat waktu. Namun, berapa banyak dari mereka yang berdo'a tepat waktu?

Yang masih terpaku dengan pekerjaan ketika adzan begitu merdu terdengar tepat di sebelah mereka berada, yang masih saja belum beranjak ketika jama'ah sudah merapatkan barisannya, dan yang masih belum sadar rentang waktu sholat sudah begitu jauh hingga akan berganti waktu sholat berikutnya.

Jadi, berapa banyak dari kita yang berdo'a tepat waktu? Sedang kita selalu memohon tanpa malu agar segala permintaan dikabulkan dengan cepat.

Berapa banyak?

Bogor, 25 Juli 2016 | Seto Wibowo

1. semua yang didapat dengan mudah, juga akan hilang dengan mudah | katanya easy...

1. semua yang didapat dengan mudah, juga akan hilang dengan mudah | katanya easy come,easy go, there’s no such things as ujug-ujug

2. begitu juga apa yang menakjubkan mata belum tentu sampai ke hati | yang sampai ke hati juga belum tentu merasuk menyatu dalam jiwa

3. bahkan kisah kaum Yahudi ajarkan kita, takjubnya mereka akan mukjizat | tidak menahan mereka dari ingkari Nabi dan menyekutukan Allah

4. tidak ada kaum yang melihat mukjizat lebih banyak dari Yahudi | tapi begitu ditinggal Musa, mereka langsung menyembah selain Allah

5. bedanya dengan kaum Muslim, mukjizatnya tidak berhenti pada mata | tapi Al-Qur'an mengajak berpikir, menggunakan akal dan rasio

6. sampai datang keimanan itu dengan keyakinan berdasar bukti | yang tak bisa dibantah dan takkan goyah, dibangun kokoh lewat berpikir

7. mukjizat Nabi Muhammad adalah Al-Qur'an yang turun berangsur 23 tahun | meresap, menyatu dengan jiwa kaum Muslim, bagian tak terpisah

8. semakin berinteraksi dengan Al-Qur'an maka kaum Muslim semakin cinta | semakin terpaku dengan pesonanya, bertambah kuat imannya

9. karena yang dilihat mata itu mudah lunturnya, mudah hilangnya | tapi yang didapat melalui berpikir, berasas, punya bukti, itu bertahan

10. karenanya ratusan kali Al-Qur'an menyeru manusia berpikir | agar bisa menemukan tanda-tanda eksistensi Allah, dan kebenaran Islam

11. berpkirlah, itu jalan kebenaran Islam, dan keyakinan iman | setelah beriman, pakailah akalmu untuk taat syariat “sami'na wa atha'na” :)

Seakan dirinya terpaku di hati. Menghilangkannya berarti meninggalkan lubang menganga di dalam hati.
 
Seakan kenangan indah bersamanya terukir di dinding hati. Menghapusnya sama saja menyakiti diri sendiri.
 
Seakan untuk benar-benar membunuhnya, aku harus menggali begitu dalam lalu menguburkannya agar ia tidak kembali ke permukaan. Walau pada akhirnya tetap aku yang mati karena tertimbun oleh tanah yang aku gali sendiri.
Kita

Kita
Kita berbicara.
Kita berpisah.
Kita berubah jarak.
Kita mulai hidup berbeda.
Kita menjalani kisah yg tak sama.
Kita dewasa.
Kita bekerja.
Kita tak saling mengingat lagi.
Kita tak saling mendoakan lagi.
Kita tak saling merindu lagi.

Hingga pada suatu hari,
Kita bertemu.
Kita terpaku.
Kita berjabat tangan.
Kita saling menanyakan kabar.
Kita duduk di meja yg sama.
Kita tertawa.
Kita bercerita.
Kita saling bernostalgia.
Kita tersenyum.
Kita saling bertukar tatap.
Kita mulai saling membuka rasa.
Kita mulai saling mengingat asa.
Kita terdiam.
Kita menunggu.
Kita berucap hal yg sama.
Kita mulai jatuh cinta.
Kita berjanji dimeja yg sama.
Kita bergandengan tangan.

dan kita menemukan jalan kita yg dulu sempat terpisah jarak.
Kita dimasa depan, dengan rasa kita yg sama dimasa lalu..

Hanya Perlu Itu

Aku menyadari satu hal, kini. Bahwa expect nothing itu perlu.

Bukan karena apa-apa. Hanya saja pengharapan tak selalu harus hadir ketika ada pertemuan yang tercipta. Pengharapan tak harus selalu hadir ketika sedang berusaha menggapai apa yang disebut mimpi atau apa yang diidamkan dengan teramat sangat.

Aku hanya perlu menerima. Hanya perlu bersyukur tiada henti. Atas apa-apa yang telah dimiliki, sedang dimiliki dan pernah dimiliki. Bukankah segalanya hanya titipan? Yang mana aku akan tetap merasa kehilangan. Entah karena dimiliki oleh orang lain, entah memang masanya sudah berakhir, atau mungkin harus kembali kepada-Nya. Aku hanya perlu memahami bahwa segalanya terjadi dengan alasan yang teramat baik. Apapun yang sedang terjadi hanya perlu diterima lengkap dengan segala rasa yang turut menemani.

Berhenti untuk memiliki prasangka atau praduga terhadap hal-hal imaji yang tak kuketahui nantinya akan seperti apa. Memang, semuanya masih saja misteri. Masih saja seperti teka-teki yang tak pernah kuketahui awal dan akhirnya seperti apa. Tapi setidaknya aku haruslah cukup bijak untuk memaknai hari ini. Bukan terus terpaku dengan hari kemarin yang mungkin penuh penyesalan. Atau terus menebak-nebak tentang hari esok, yang aku sendiri masih tak cukup tahu apakah esok masih ada kesempatan untuk kembali menghirup udara.

Aku menyadari itu dan hanya perlu itu untuk saat ini. Ya, expect nothing sebagai penerimaan dan rasa syukurku untuk hari ini.

Hujan Mimpi
Tangerang, 13 April 2016

cc : @kitasulawesi

Tidak Ada; yang Aku Perlakukan, -Sebaik Aku Memperlakukanmu

Kamu istimewa, untuk melihatmu biasa saja, -aku tak bisa. Melihatmu dengan sederhana, aku tak mampu. Bagaimana bisa sesederhana senyummu yang merekah, membahagiakan aku dengan mewah?

Aku menyukai segalamu. Lantas bingung bagaimana membedakan mana suka, mana cinta. Apakah aku menyukai segalamu karena mencintaimu. Atau mungkin, -mencintaimu karena menyukai segalamu? Entah, mencari jawabannya aku lelah. Hemat kata; bersamamu, aku suka

Kamu mungkin nggak sadar. Perhatianku terhadapmu terlampau besar. Kamu kenapa, aku khawatir. Kamu berulah, aku merasa ada sesuatu yang salah. Kamu begini kamu begitu, aku gak bisa sekedar iya iya aja lalu diam terpaku. Yang ada, khawatirku malah terpacu. Bahkan, gak jarang moodmu mempengaruhi moodku. Padahal kalau dipikir-pikir, memangnya, siapa kamu?

Aku senang menghabiskan waktu denganmu, sayang. Berbicara ini itu. Sesi terbuka umbar rahasia. Meracau tanpa aturan, bertukar pikiran. Mendengarkan cerita masa lalu, melihat visimu. Mimik, intonasi, raut muka, cara bicara, emosi, gestur, semua aku perhatikan dengan saksama. Kalau kamu tanya siapa pendongeng favoritku, sudah pasti kamu jawabannya

Kamu mungkin tidak memperhatikan caraku menatapmu. Hingga pada suatu masa, -saat aku sedang menikmati indah parasmu, tak sengaja kita bertabrakan mata. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga berkali-kali. Akhirnya kamu sadar, ada seseorang yang menggilai menatapmu dalam lekat, -aku

Aku menyentuhmu dengan segenap rasaku. Membenarkan anak anak rambutmu yang berserakan. Mengusap manja; mata, pipi, telinga, lalu menyusuri jenjang hidungmu yang bernafas perlahan. Melumat keluh dari bibirmu yang aduh. Mengecup setiap inci dirimu agar ego kian menguncup. Adalah aku, yang menyayangimu seperkasa rindu

Kamu menelanjangi separuh aku yang tercipta dari rasa rasa mati yang sepi. Melucuti sunyi lantas menjanjikan pelangi. Aku berbusana mimpi, menunggangi naluri. Melewati ruang ruang maya yang hampa, menjemput nyata. Jika padamu, -sebutlah aku cinta. Apakah untukku kamu akan begitu juga?

Tidak ada yang aku perlakukan, sebaik aku memperlakukanmu. Tidak ada istimewa jika bukan kamu orangnya. Aku menyukaimu, atau mencintaimu, atau mungkin keduanya. Entah. Aku padamu saja, -singkatnya begitu

Terdiam. 
Terpaku.
Di depan Mejikjer. 
 
Ternyata dari semalem colokannya belum dicolokin.
 
Seketika itu juga gue merasa gagal menjadi calon pendamping yang baik; lengkap dengan telor ceplok di piring yang nggak tahu harus gue apain.
Cerpen: Semua Tak Sama

Canggung.

Dalam benakku lama tertanam sejuta bayangan dirimu.
Aku terdiam terpaku. Mengenyahkan detak jantung yang berdebar kencang ketika mendapati dirimu di depan sana. Aku menggenggam erat-erat tanganku, menghilangkan gemetar yang dari tadi merasuk jemariku.

Redup terasa cahaya hati mengingat apa yang tlah kau berikan.
Entah sudah berapa lama aku terdiam. Tepatnya karena tidak ada yang bisa kulakukan, padahal benakku sudah terbelah. Di satu sisi ingin segera menghamburkan diri ke hadapanmu. Di sisi lain ingin mengundurkan diri dan pergi sejauh-jauhnya karena ketidakrelaan ini. Terlalu banyak yang kau berikan, terlalu banyak yang harus kulupakan.

Waktu berjalan lamban mengiring dalam titian takdir hidupku.
Berkali-kali helaan nafas panjang kubutuhkan sebelum kukerahkan segala tenagaku untuk melangkah. Kutemukan senyum yang selalu melambungkan hatiku di wajahmu. Selalu begitu. Can’t you stop that sweet smile, baby?

Cukup sudah aku tertahan dalam persimpangan masa silamku.
Di waktu lalu, aku ingat sikapmu yang cuek atau aku yang sering mengomel panjang lebar, atau kadang-kadang pun kau keras kepala dan aku tak mau mengalah. Tapi kini semua berubah, waktu mendewasakanmu… dan aku juga. Kusadari kemudian, kali ini aku harus bangkit.

Kucoba tuk melawan getir yang terus kukecam, meresap ke dalam relung sukmaku.
Tersadarlah aku, tidak boleh kutawarkan sesuatu yang sudah kau miliki. Betapa aku menginginkanmu, betapa menyenangkannya bersamamu, dan betapa menyakitkannya memikirkanmu. Nyaris aku kehilangan logika, ketika matamu tak lagi menatapku.

Kucoba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu mengalir mengisi laju darahku.
Maka aku memilih cara paling aman; menyingkirkan segala tentangmu yang dulu kumiliki di saat-saat kejayaanku. Aku punya semuanya, tanpa kuminta. Tapi kini, sungguhkah aku tak lagi berhak memintanya? Ternyata iya.

Semua tak sama tak pernah sama, apa yang kusentuh apa yang kukecup.
Kalau bukan kamu, semuanya terasa beda.

Sehangat pelukmu selembut belaimu, tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu.
Jadi dimana harus kutemukan penggantimu?

Apalah arti hidupku ini memapahku dalam ketiadaan.
Lalu sesuatu itu menghampiriku, kehampaan. Saat seseorang yang kau anggap separuh jiwamu pergi, maka yang kau dapatkan hanyalah kekosongan, yang entah kapan akan terisi lagi.

Segalanya luruh lemah tak bertumpu, hanya bersandar pada dirimu.
Dengan kehampaan itu, aku terus membawa diriku kemana-mana. Tujuanku satu, mencari sesuatu atau seseorang yang mampu menawarkan kepedihanku, tapi entah kenapa hal itu selalu berhenti di kamu?

Kutak bisa, sungguh tak bisa mengganti dirimu dengan dirinya.
Aku tak ingin mengakuinya, tapi aku tak pernah benar-benar bisa menempatkan orang lain di sudut hati yang pernah kau huni dulu. Hatiku terasa sakit ketika aku tidak berdaya untuk mengendalikan perasaanku sendiri.

Sampai kapan kau terus bertahan? Sampai kapan kau tetap tenggelam? Sampai kapan kau mesti terlepas? Buka mata dan hatimu.
Kecuali kali ini, aku bangkit sesudah terdiam entah sejak kapan. Kedatanganku kali ini memang menegaskan sebuah penyelesaian, walaupun dalam hatiku nyaris hancur mempertanyakan sungguhkah kisah kita akan selesai?


Aku berhenti. Kita bersilang tatap di jarak sedekat itu. Lurus matamu yang tanpa perasaan itu—tidak ada kebencian, juga tidak ada rasa sayang—melunturkan gemetar yang sedari tadi kusembunyikan. Tapi aku segera meraih tangannya, melingkarkan lenganku di bahunya—perempuanmu. Pada saat yang sama, banyak rasa yang bermain di hatiku, tapi tak lagi ingin kusia-siakan kesempatan ini.

“Selamat ya. Berbahagialah.” Ucapku.
“Dan kamu juga.” Balasmu menyalamiku.

Samar-samar suaramu, tapi cukup keras dalam ruang pendengaranku, cukup kuat menancap dalam benakku. Dan kuyakinkan pada diriku sendiri, setelah ini aku harus bisa…
Relakan semua.

#memutar: Padi – Semua Tak Sama

●○
[A-tel-o-pho-bia]
The fear of imperfection. The fear of never being good enough.

Kita sebagai manusia seringkali merasa tidak pernah puas atas apa yang telah tercapai. Seringkali merasa kurang ini dan itu. Seringkali merasa segala sesuatu berjalan tidak sesuai dengan harapan. Salahkah? Tidak, hanya saja kadarnya yang tidak perlu berlebihan. Hasil adalah apa yang didapat oleh perilaku dan ikhtiar kita sebagai manusia. Bila hasil yang diinginkan adalah sempurna, mengapa tidak melakukan yang terbaik dalam prosesnya tanpa harus jauh memikirkan kemungkinan untuk menjadi tidak sempurna? Mengapa harus selalu terpaku hanya pada pemikiran hasil yang sempurna sedang kerap melupakan proses yang sedang dijalani? Bila sudah merasa melakukan yang terbaik tapi kerap merasa tak sempurna, mungkin syukur yang masih kurang dihaturkan.

Jadi, sudahkah rasa dan ucap syukur kita lebih banyak daripada rasa dan ucap ketidakpuasan?

Made with Instagram
Kesalahan terbesar seorang atasan yang menghilangkan rasa hormat bawahan; terpaku pada hasil, tidak menghargai proses, tidak ingin tahu kesulitan apa yang dirasakan bawahan hanya mengerti memecut hingga nyeri.
— 

Semoga kelak jika diberi kesempatan untuk menjalankan amanah serupa bisa lebih menghargai sesama.

Jika tidak bisa membantu, setidaknya menghargai. Karena penghargaan paling berarti bukan yang dilayangkan karena melihat hasil, namun menghargai mereka yang sudah berproses.

FreeDay : Nyamanku Itu Kamu

Jumat pukul 11.30

Siang itu, kita berdua terdiam saling menatap. Tak ada satupun dari kita yang membuka topik pembicaraan. Kita saling terpaku kelu memahat lidah diri kita masing-masing.

Tampaknya dia tahu apa yang akan gue utarakan sebentar lagi. Sesekali gue menangkap ada gelagat grogi setiap dia tertangkap basah sedang mentap ke arah gue.

Gue menghela napas pelan, mencoba berfikir jernih tentang apa yang sedang terjadi, dan tentang apa yang akan terjadi. Dari jauh toa-toa masjid sudah mulai terdengar mengumandangkan debur-debur ayat Al-Quran yang dibaca dengan nada-nada indah.

Angin dan nada-nada ini, secara otomatis menerbangkan gue jauh kepada masa-masa indah yang telah dilewati dalam kurun waktu beberapa tahun kebelakang ini.

.

                                                                  ===

.

Jumat pukul 11.30,
Dua tahun yang lalu.

Itu adalah hari di mana gue pertama kali kenal dia. Gue yang siang itu lagi iseng jalan-jalan menelusuri pertokoan yang digelar tepat sebelum adzan Jumat berkumandang, mendadak teralihkan pandangannya.

Mata gue terpaku pada sebuah stand bazar kecil-kecilan yang dirangkai oleh sebuah mobil box terbuka. Dengan pancang tiang di setiap sisinya, tenda terpal pun didirkan di atasnya. Gue melihat jam, ah ternyata masih cukup ada waktu buat melihat-lihat sebentar. Akhirnya tanpa pikir panjang gue menclok pada salah satu stand bazzar yang belum cukup ramai itu.

Iseng punya iseng, ketika gue lagi asik-asiknya milih barang, mendadak gue terhentak kaget. Gue menemukan sosok yang indah, sosok yang mungkin paling indah dari sosok-sosok yang ada di sekitar gue siang itu.

Memang, terkadang cinta memang datang secara tiba-tiba. Kita tak peduli apa yang menghiasinya, apa yang ia kenakan. Jika Tuhan mengizinkan, dia akan menjadi satu-satunya yang ternyaman di mata kita diantara semua pilihan yang ada.

Nggak mau kehilangan kesempatan, dalam waktu yang sempit ini, gue putuskan untuk mencoba berkenalan lebih jauh. Awalnya selalu sesederhana itu.

Dan nggak perlu waktu yang lama, gue sudah bisa merasa nyaman dari pertama kali mengenal dia. Rasa-rasanya ada yang tertutupi ketika dia hadir di sini, sesuatu yang dari dulu kosong dan tak pernah terisi.

Dan semenjak hari itu, dia mengisi hari-hari gue. Dia menemani kemanapun gue pergi. Dia memang tidak terlalu sempurna jika dibandingkan dengan yang lainnya, tapi bagi gue, nyaman ketika bersamanya adalah kesempurnaan yang gue gak bisa temukan pada pihak yang lainnya.

Manusia memang seperti itu, kadang kita juga sering dibuat heran, ada cewe cantik, tapi pacarnya mirip petasan banting. Atau ada cowok ganteng banget, tapi pacarnya mirip kaos oblong di obral 50% dapet dua.

Tuhan itu sangat adil bagi mereka yang mensyukuri. Mungkin kita melihat pacar mereka itu seperti satwa yang sedang dilindungi, tapi bagi mereka sendiri, pacarnya tuh seperti keunikan yang nggak dimilikin orang lain.

Hari-hari gue sekarang terlengkapi, dia selalu ada disaat gue butuh, dia seakan menjelma menjadi diri gue sendiri dan menemani setiap langkah yang akan gue hentakkan.

Tapi layaknya sepatu, semakin sering kita pakai dan semakin sering kita gunakan, lambat laun sepatu juga akan rusak dan solnya mungkin semakin tipis.

Tapi gaes, jangan berfikir negatif dulu ya, itu di atas cuma perumpaan. Sejujurnya gue nggak pernah pakai dia sampe dia rusak kaya perumpamaan di atas kok! please percaya sama gue!

Tapi mau gimana lagi, karena faktor NYAMAN itu sendiri, biarpun sudah usang, sepatu itu selalu menjadi pilihan kita untuk menjalani hari. Begitupun dengan orang yang tengah berpacaran. Tak peduli seberapa banyak orang cantik di luar sana, jika nyamannya sudah kamu miliki, kamulah tempat pulang yang paling yang selalu dia cari.

Ada beberapa perbedaan mendasar antara keinginan dan kebutuhan. Dan nyaman itu sendiri adalah termasuk sebuah kebutuhan.

Cowok kamu itu, dia bisa saja menginginkan cewek bahenol, cewek sosialita, cewek dengan celana gemes, badan kaya gitar ukulele, dada mirip ketipung, atau pantat yang belah pinggir.

Ya, laki-laki itu kadang emang seperti kucing. Di rumah sudah dikasih makan enak, tapi pas di luar, tempat sampah pun masih tetep diobok-obok. Udah punya pacar cakep, tapi ada cewe singset lewat langsung pada tegangan tinggi semua.

Kalian sebagai wanita memang sulit untuk menghentikan naluri laki-laki yang satu itu. Biar bagaimanapun, kalau mereka udah ngumpul sama temen-temennya, cewe cantik lewat sudah pasti menjadi santapan mata mereka. Tak ayal laki-laki selalu mendapat gelar mata keranjang.

Nah itulah yang dinamakan dengan KEINGINAN. Mereka selalu tidak merasa puas, selalu di mata mereka wanita cantik itu pasti ada, dan yang pasti bukan pacar mereka.

Tapi..
Nah ada tapinya nih, gaes.

Kalau misal keadaan udah sepi dan hening, dalam malam yang gelap dinaungi dengan bintang-bintang, laki-laki akan kembali pada pacarnya masing-masing.

Dan itulah yang dinamakan dengan KEBUTUHAN.

.

                                                               ===

.

Layaknya burung di angkasa. Mereka bebas terbang siang hari, mengepakkan sayapnya gagah bermain ke sana ke mari. Tapi setiap malam menjelang, mereka pulang kepada sarang ternyamannya masing-masing.

Teori ini hanya berlaku pada cowo baek-baek ya. Bukan cowok yang suka leor ke mana-mana walaupun dia sudah punya pacar. Hal ini pun bisa menjadi jawaban dari banyaknya Ask Question dengan pertanyaan serupa yang masuk ke tab inbox tumblr gue. Perihal Bagaimana caranya membuat laki-laki jatuh cinta?

Selain membuat laki-laki itu kagum, membuat laki-laki itu merasa butuh kamu adalah salah satu cara lain yang paling ampuh. Senakal-nakalnya mereka, segenit-genitnya mereka, mereka nggak akan pernah mau melangkah lebih jauh jika langkah pulangnya adalah kamu.

Karena cantik bisa terganti, sedangkan nyaman selalu punya porsinya tersendiri di dalam hati.

Hal ini juga terjadi pada gue, gue sudah terlanjur nyaman sama doi, walaupun banyak hal yang bisa ngebuat gue berpaling, entah kenapa gue selalu nggak bisa lepas dari doi.

Hingga pada akhirnya, dua tahun kemudian gue dihadapkan pada problema pekik.

“Kita udah gak bisa jalan bareng lagi, aku udah terlalu banyak nyakitin kamu. Kamu udah sering menangkap basah aku sedang bersama yang lain. Maaf” Gue menatapnya sendu

“Tapi kamu tahu, kamu adalah nyamanku. Berkali-kali mereka banyak yang datang, berkali-kali juga mereka gagal untuk bisa menjadi kamu. Mereka cemburu sama kamu. Mereka merasa mampu melebihi kamu, tapi mereka tidak mampu melebihi kamu di hatiku.” Lanjut gue.

“Hari ini, tepat 2 tahun yang lalu, kita bertemu. Menjalani banyak hari bersama dan ceria selalu. Walaupun aku tahu banyak yang lebih dari kamu di luar sana, tapi aku selalu memilih kamu. Aku mau menemani kamu sampai kamu benar-benar tak mampu lagi menemani aku.

Aku tak mau meninggalkan kamu. Kecuali jika Tuhan memang punya takdir untuk memisahkan kamu dari aku. Aku nggak akan pernah pergi lagi dari kamu. Jikapun harus berhenti, aku mau kamu yang memberhentikan.

Karena buat aku, selama kamu mampu menemani aku, bosan dan jenuh tak pernah terlintas dalam pikiranku.

Karena buat aku, nyamanku itu kamu.

Kamu..
Temani aku sekali lagi yaa.. ” Gue mengelus lembut dirinya

.

.

.

.

.

.

Jumat, pukul 11.45
Adzan Jumat berkumandang.

Siang itu,
Pada akhirnya gue nggak jadi pergi menggunakan sendal yang baru dibelikan ibu. Gue tetap pergi Sholat Jumat dengan sendal yang sudah setia menemani gue lebih dari 2 tahun yang lalu ini…

Happy Anniversary, Beb..

Diamku

Dalam diamku, aku terusik. Waktu berjalan seolah semakin cepat, aku tidak sanggup berlari, aku hanya berdiri bergetar di tempatku, dan aku merasa lorong-lorong di bangunan ini semakin mengecil menghimpitku.

Aku terhimpit, terhimpit antara rasa kecewa yang kubendung sendiri. Ingin rasanya tidak peduli, tapi dayaku tidak mampu. Gadis itu menoleh padaku. Memberikan isyarat.

Rasanya aku ingin menikam waktu, tapi tanganku tidak dapat bergerak. Aku diam, aku terpaku, rasanya aku sudah jatuh beberapa saat yang lalu.

Hatiku seperti terhantam, melihatmu perlahan menjauh, jauh, semakin jauh dan tidak menoleh sedikitpun. Hingga punggungmu semakin hilang dari pandanganku.

Aku masih terdiam di tempatku.

Asal kau tahu, dalam diamku, aku tidak pernah sungguh-sungguh diam.

Batinku terus memancarkan do'a-do'a agar kau kembali.

Meski berat, meski harus merintih, dan meski jejakmu tidak lagi bisa kuraba.

Sungguh, aku akan terus berdo'a.

Bogor, 6 Mei 2016 | Seto Wibowo

Karena Kita Pantas Bersyukur

Suatu hari, tanggal 6 Agustus 2015, seorang perempuan terbangun dari tidurnya seperti biasa. Dia terbangun pukul lima, sebelum alarm dari beberapa ponsel dalam rumahnya berdering. Kebiasaan itu disyukurinya. karena pernah suatu waktu, ponsel-ponsel itu justru mati dan alarm tak nerdering sama sekali. Kebiasaan baiknya, menyelamatkannya. Ah bukan, menyelamatkan seisi rumah itu. Menyelamatkan ia, yang harus melaksanakan sholat subuh, menyelamatkan suaminya, yang harus berangkat kerja dan tentu sarapan pagi sebelumnya, dan juga menyelamatkan buah hati mereka, dari kebiasaan buruk untuk bangun siang.

Memang, akan ada energi lebih saat kita sadar bahwa memulai segala hal memang lebih baik sejak pagi hari. Bukan menjelang siang. Ya kan?

Setelah melaksanakan rutinitas paginya seperti biasa, perempuan itu selalu menyempatkan diri menyalakan televisi dan menonton siaran berita pagi. Perhatiannya terpaku pada sebuah berita mengenaskan.

“Seorang pria tega membunuh anak dan istrinya, lalu ia mencoba bunuh diri. Alasannya, karena stress tak memiliki pekerjaan.”

Lalu, perempuan itu tertegun selama beberapa saat. Beberapa pertanyaan dan pernyataan berkecamuk dalam benaknya.

Apa manusia masih terus mau mengeluhkan pekerjaannya? Pekerjaan yang sudah halal, pekerjaan yang sudah baik.

Mencari pekerjaan memang susah. Bersyukur saat sudah diberi perkerjaan, juga tak mudah. Tapi mungkin memang lebih susah, bersabar atas derita.

Mungkin itulah gunanya untuk fokus dan bersyukur atas pencapaian saat ini. Agar manusia belajar atas masa lalu, dan bersiap untuk masa depan. masa depan yang baik.

Banyak manusia yang pekerjaannya sudah enak, sudah baik, namun tetap saja mengeluh terus. mereka tetap ingin mencari yang lain. Mereka tidak sadar, saat mereka sibuk mengeluh mereka akan senantiasa lupa bersyukur, dan jadi tak bahagia.

Akhir yang mengedihkan ya? Lupa bersyukur akan membuat manusia lupa untuk berbahagia.

Diceritakan kembali setelah sebelumnya sempat dibahas sedikit di linimasa Twitter @TiaSetiawati, 6 Agustus 2015

- Tia Setiawati

Tak Mudah Menjadi Aku

Semua kenangan yang telah kumakamkan ternyata tak lantas meninggalkanku sendirian. Pernah kukira, penguburan adalah satu-satunya cara untuk meniadakanmu dari ingatan juga rasa. Tapi, ada yang luput dari perkiraanku, bahwa apa yang kusesap darimu nyatanya lebih dari segala yang mampu dilakukan oleh kelima indera. Ini percuma. Jiwamu tak meninggalkan dunia yang semestinya aku punya.

Perihal kebersamaan, kita pernah menganggapnya sebagai momen berbagi. Untuk selanjutnya, aku tahu, ternyata tak ada yang mampu kubagi denganmu. Aku terlampau tak berisi, hingga mudah saja untuk dirasuki. Seketika jasadku digerakkan oleh napasmu, dan kamu tetap begitu - meski tanpa aku. Sempat kupikir, bahwa ini semua tak adil. Karenamu aku tak baik-baik saja, tapi kamu masih tampak seperti biasanya. Sempat pula, ingin kutumpahkan semua amarah tepat di depan lembut hangatnya tatapanmu, tapi tentu aku tak mampu. Soal itu, aku hanya terpaku di belakang punggungmu.

Kamu paham benar tentang ini. Tentang aku yang tahu segala hal yang tak seharusnya aku tahu. Tentang motif orang-orang asing - namun dekat denganmu - yang terserap ke dalam dadaku. Tentang apa-apa yang akan menimpa perasaan dan pikiranmu. Tentang aku yang selalu lebih dulu terluka sebelum berjumpa dengan sebab dan pelakunya. Sialnya, semua perasaanku adalah tentang kamu. Hingga aku tak lagi tahu di mana letak perasaanku yang sebenarnya.

Du siehst mich, hörst mich, und fühlst mich. Aku masih ingat benar kalimat yang kamu ucapkan sesaat setelah kamu tiba di negeri orang. Itukah yang kamu mau? Sebab terkadang, aku tak mau. Tidakkah kamu sejenak berpikir, manusia mana yang rela merasa asing di dalam raganya sendiri? Sebenar-benarnya, adakala aku ingin sekuasa dan seegois kamu, lalu berkata, sungguh tak mudah menjadi aku saat aku mencintaimu. Tapi, apakah kukatakan hal itu? Tidak, bukan? Sebab, barangkali memang aku yang salah. Barangkali aku memang lupa mencintai aku, terlebih setelah aku mencintaimu.

Ada satu masa di mana aku merasa sangat beruntung. Kamu tak pernah memutuskan untuk berhenti ada demi aku. Kamu mengisi lubang-lubang kecil di dalam hati, sebelum mereka membesar dan menguasai. Kamu kerap mendengar segala hal yang kubahasakan melalui jiwa. Hingga akhirnya, saat itu tiba. Saat kamu meminta maaf atas semua pertanda yang menikamku sebegitu hebatnya. Tapi, ternyata itu tak lantas membuatku lebih baik. Apalagi setelah kamu perlahan pergi, semata-mata agar mereka mengikuti.

Demi seluruh perasaan tentangmu yang tinggal di dalam tubuhku, sekuat tenaga aku pun mencoba. Aku putuskan untuk tak lagi peduli, lalu mulai untuk mencintai seseorang yang lain lagi. Tapi, lara membuat kita tak lagi sama, bukan? Perasaan ini sudah terlanjur kamu tanam, maka kepergianmu bukanlah alasan untuk menjadikan segalanya hilang. Ada perkara yang mesti diusaikan hingga akarnya. Dan sedihnya, itu berarti, aku harus lebih terluka.


November, 2014
Elsa Syefira Qhoirunnisa

Beberapa orang memiliki ketabahan tingkat tinggi dalam menanti; bagaikan tiang-tiang dermaga tua ditinggalkan kapal yang pernah singgah. Menantikan kapal pertama berkunjung kembali, sampai-sampai menutup jalan untuk kapal lainnya – yang ingin menetap maupun hanya singgah melepas lelah. Ditutupnya segala sisi. Dengan angkuhnya ia berkata ‘dermagaku hanya untuk kapal pertama’. Padahal di dalam lubuk hatinya – di sudut entah mana ia mengiyakan bahwa kapal pertama bukan padanya lah ia diciptakan.
.
Jangan menjadi dermaga yang jemawa; menutup kesempatan kapal yang lebih baik untuk menetap, hanya karena terpaku pada kapal yang memilih pergi. Ketahuilah, jika ia inginkan kamu, tak akan ia melaju menjauh. Bukankah hidup perihal kedatangan dan kepergian? Maka, seimbangkan.
.
.
.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbchari4 #aksarannyta

Made with Instagram
Aku tak peduli kamu mau menganggapku masih cinta atau tidak, tapi yg jelas, sendiri itu tak selalu mengartikan bahwa aku pemilih dan sedang menunggumu. Mungkin bisa saja aku lagi menikmati kebebasan bisa terbang tanpa harus terpaku pulang.