terpaku

Bagaimana Nantinya

Bagaimana nantinya, mungkin kita tidak pernah saling tahu, saling memendam cinta di hati kita masing-masing, menyemainya cerita-cerita menyenangkan, lalu menyulamnya penuh kehangatan. Padahal, kita sama-sama paham, salah satu dari kita sedang memegang kendali takdir, agar kalau saja nantinya takdir salah berlabuh, lukanya tidak akan begitu menyakiti.

Sayangnya, cinta yang tidak bersama akan selalu menyakitkan. Entah hanya aku, kamu, atau bahkan kita berdua yang akan sama-sama terluka. Kita tidak pernah saling tahu. Bahkan, kita terlihat seperti tidak ingin tahu.

Bagaimana nantinya, mungkin benar kita akan tetap mendo'akan tanpa saling tahu. Berpura-pura tidak saling melihat kita berpapasan di jalan, meski terlanjur bersemu merah saat kita berdua telah jauh berjalan. Sebab barangkali, mungkin hanya ini cara yang bisa kita lakukan sembari menunggu takdir bekerja.

Bagaimana nantinya, mungkin kita terlalu terpaku pada takdir yang kita ciptakan pada ruang kita sendiri. Hingga suatu hari, kita lambat tersadar dan lupa berjalan untuk saling menuju. Meski do'a-do'a telah kita langitkan sepanjang kita saling berpura-pura tidak mengenal, lagi-lagi ikhtiar kita menjadi percuma dengan keraguan yang masih belum terganti.

Bagaimana nantinya, hanya demi untuk tidak saling kehilangan, kita memilih untuk berdiam dalam cinta yang penuh saling memperhatikan.

Maka, kita hanya tetap menunggu, entah nantinya cinta itu akhirnya memilih untuk jatuh padamu terlebih dulu, kuharap ia segera melangkah padaku, agar kisah ini bukanlah cinta yang tak saling tahu.

Sebab jika tidak, tetaplah diam di sana, jangan beranjak, agar kupastikan bahagiamu dari tempatku berdiri.

Bogor, 19 Januari 2017 | Seto Wibowo

Malam Menuju Minggu

Aku tak tahu kenapa tulisanku semakin hari semakin sunyi. Aku telah terbiasa melewati ini hampir 3 tahun. Merasakan sepi dan seorang diri adalah dua hal yang sangat dekat denganku. Bahkan ketika hampir seluruh dari setiap hariku kuberikan untuk bertukar kabar dengan seseorang yang jauh, aku masih mengenal kekosongan.

Aku tidak ingin memaknai hal itu sebagai suatu yang sulit digapai. Seolah jarak tak akan pernah bersikap baik pada kami berdua. Hal yang paling tak kumengerti dari semua itu adalah alasan Tuhan mempertemukan kami. Di ruang yang terkotak-kotak, Tuhan menarik benang merah yang membawaku padanya. Aku telah terhubung, tak mau lepas.

Dia barangkali sama bertanya-tanyanya denganku. Tapi mungkin hanya aku yang terlalu perasa, menganggap semua ini suatu yang berat dan rumit. Sesekali, aku ingin kami bertukar jiwa untuk mengetahui hal yang sangat membikinku penasaran selama ini. Betapa cara dia memandang hidup dan menjalaninya dengan tenang membuatku terpukau, terpaku.

Sudah sejak lama aku merasa baik-baik saja hanya dengan memikirkannya seperti ini. Tapi aku juga tidak baik-baik saja. Dia menarikku keluar dari kebisuan, tapi dia juga membuatku teramat merasakan kesepian. Aku tak suka kalimat itu. Karenanya, aku juga terlihat seperti minta dikasihani. Sama seperti ketika aku menangis dan yang tertangkap hanyalah kesedihan. Aku tak suka terlihat sendiri dan terlampau cengeng.

Malang, 29 Oktober 2016

Kecoa Terbang

Kecoa terbang itu gak sehat. Karena dapat membangunkan kembali sisi gelap diri yang sudah kita paksa untuk mati.

Contohnya, tadi aku main ke tempat sepupuku. Seorang perempuan berusia 26 tahun, sedang mengandung anak laki-laki, 6 bulan, jalan sudah mulai susah, tapi tetap lemah dan lembut seperti biasanya. Kulitnya putih bersih, karena emang ada darah Palembang. Jarinya lentik, parasnya cantik.

Tiba-tiba…

Ada kecoa terbang dan hinggap di belakang kotak di meja. Kecoanya udah gak keliatan. Tapi antenanya yang panjang menungul (eh, apa ya…keliatan gitu lah. Nongol gitu.)

Kita berteriak histeris.

Sepupuku lari keluar ruangan. Aku diam terpaku. Sepupuku masuk lagi dengan semprotan serangga di tangan. Tapi, di dekat kotak itu ada makanan. “Mbak! Jangan! Ada makanan! Tahan mbak! Jangan! Hentikan!” Aku bergegas ambil sapu lidi kecil yang biasanya buat ngebut kasur (eh, kok kesannya kasurnya lari gitu ya. Maksudnya tu buat mukul-mukul, bersihin kasur gitu.)

“Aku aja mbak. Serahkan padaku!” Aku arahkan sapu lidi kecil kearah sang kecoa. Tapi ternyata dia lebih sigap dari yang kita kira. Dia terbang!!!!! Oh my God!!!! Terbang dia!!!!!!!!!! Ke bawah lemari “Fak!” Teriakku. “Eh, maaf mbak…” takut anak di dalam kandungannya denger. Sepupuku masih sibuk ternyata, kayaknya dia gak denger aku bilang apa. Sepupuku langsung nyemprot bawah lemari. “Die you b*tch!!!!! Die!!!!! B*tch!!!”

………

Emmm…

Aku kembali terpaku.

Barusan…itu…siapa? Mbak? Kamu…siapa?

Akhirnya aku pamit pulang. Membawa tanda tanya besar sepanjang perjalanan.

Nb: bukan untuk ditiru.
Kutemukan Kamu

Suatu hari nanti, aku ingin singgah di kedua matamu. Mencari tahu, kira-kira apa saja yang kautatap dari balik bingkai hitam yang kaukenakan itu? Penasaran yang menghantuiku terus-terusan mempertanyakan. Pertemuan kita yang sangat lucu—aku menemukanmu di antara rinai hujan dan kamu sedang berteduh di tempatku berdiri—dengan aku yang begitu saja terpaku.

Perasaan memang sungguh menarik. Saat aku, tanpa henti, didera kenangan demi kenangan yang menempatkanku dalam sebuah jejalanan bernama penantian. Saat aku menunggu seseorang yang enam tahun taklagi mengenaliku (mungkin) dan seseorang yang kutautkan perasaan diam-diam selama dua tahun belakangan. Jujur, rasa lelah begitu semangat menerjang tubuhku bertubi-tubi.

Aku menyerah.

Untuk saat ini, aku mengibarkan bendera putih untuk keduanya dan kemudian mencoba untuk menikmati udara segarku sendiri. Berjaga-jaga, barangkali, suatu waktu nanti, takdir kembali mempertemukanku dengan keduanya. Setidaknya, detik ini, aku memutuskan untuk melalui jalan yang berbeda.
Dan di jalan itu kutemukan kamu.


Bogor,
1 Januari 2017

Gue lagi sendirian. Di salah satu tempat makan cukup besar di jalanan kota Bandung. Dago, iya, de a ge o. Thankyou buat yang udah ngeja

Hendak berpenampilan keren, apa daya kapasitas dompet compang camping. Gue datang dengan celana jins lusuh beserta jaket pinjaman yang sudah beberapa kali tergerus air hujan hingga kering sendiri

Rambut berantakan, kantung mata menghitam, lengkap dengan tas ransel besar entah berisi apa. Gue fix kasat mata terlihat miskin dan menderita

Lalu gue duduk. Di salah satu tepian kolam renang. Emang ada kolam renang. Entah iseng, salah fungsi, atau emang sengaja di design demikian. Mungkin biar makan sambil seolah-olah ada nuansa renang dengan bau kaporit yang agak menyengat

Disodori kertas menu, gue diam terpaku. Gue kesini bukan karena lapar. Gak haus juga. Ya…..kalian taulah. Numpang wifi. Agar tidak terseret pergaulan globalisasi. Gapapa lapar haus keroncongan, yang penting tetep update instagram

Kiwi yakult. Akhirnya gue memilih. Seriously bukan karena murah. Emang gue pengen. Tampang boleh miskin, tapi gini gini gue pewaris tunggal perusahaan nike inc. Kalian boleh ga percaya

Melengkapi kegabutan, gue nonton drama koreya. Hampir satu episode, lalu lapar. Gue pun memesan. Lagi lagi makanan yang memang ingin. Nggak kepatok harga meskipun akhir bulan

Makanan dateng. Minuman ludes. Perut kenyang. Piring kosong. Pelayan menghampiri. Piring gue diangkat. Beserta gelasnya. Gue ngga. Mungkin keliatan berat

Gue masih duduk. Emang belom pengen pergi. Niatnya mau nyelesaiin drama korea satu sesi. Sampe tamat. Tapi bill tiba tiba dateng tanpa diminta

Gue senyum

Etika tempat ini ga ada. Itu sama aja kayak ngusir perlahan, –kalo menurut pelajaran bisnis customer relationship management yang pernah gue pelajari

Gue senyum. Gapapa. Gue diemin aja billnya. Gue belom pengen pergi

Hela nafas sedepa, pelayan nyamperin lagi. Nanya billnya udah apa belom

Gue senyum

Tempat ini bener bener gak tau tatakrama. Untung gue lagi gak badmood. Sampe sampenya lagi badmood. Kelar udah. Ga akan gue bayar. Gue panggil managernya khas sinetron sinetron di tipi

Gue senyum. Gapapa. Gue ambil dompet. Gue keluarin uang 50rb an baru. Kebetulan gue punya. Dan sengaja aja. Biar pada amaze

Samar dari kejauhan. Uang gue di trawang. Muka gue memang muka muka kriminal meragukan, mungkin

Menatap air kolam, gue kembali meratapi kehidupan. Sang pelayan menghampiri kembali

Gue emosi. Tapi ngga jadi. Karena dia kasih kembalian

Sekarang, di hadapan gue ada dompet buat bill bekas kembalian. Belum diambil. Mungkin pelayannya takut. Gue udah pasang muka sangar

Gue gak yakin kenapa gue diperlakukan gini. Apa mungkin karena sendirian dan berkutat sama maya media meanwhile rang orang pada cekikikan sama teman nyata di hadapan, atau bisa jadi emang standarisasi pelayanannya demikian

Wait. Gue masih punya satu opsi..

….mungkin karena gue pesennya kedikitan

WELL, OKE MAS ES TEH MANISNYA SATU 😭😭😭😭😭

Lucky me, dalam gue yang gabut nulis tulisan ini, ada kalian yang lebih gabut baca tulisan orang gabut ’-’)/

“I’m yours. But I’m not yours.”

-

Sejenak gue terpaku di depan kalimat barusan. Kalimat yang benar-benar singkat, menggunakan kata yang sama dan hanya dibubuhi dua penambahan kata yang berbeda. Tapi entah kenapa makna keseluruhannya begitu luar biasa.

“Aku milikmu. Tapi aku bukan milikmu.”

Kalimat itu seakan mengacu pada suatu keadaan di mana hubungan sudah memasuki tahap terlanjur. Terlanjur basah, terlanjur cinta, terlanjur lama. Ketika melepas tidak mungkin, tapi bertahan hanya berujung bosan.

Atau juga kalimat itu hinggap pada suatu hubungan di mana pihak yang pertama hanya bisa memeluk raga, sedangkan pihak yang kedua hatinya entah sedang terbang ke mana. 

Orang-orang di sekitarmu tahu dia milikmu. Tapi jauh di dalam alam bawah sadarmu, kau merasa bahwa kau bukan miliknya. Seakan kau tak tahu di balik topengnya itu apakah ia benar-benar mencintaimu atau tidak.

Kau mencium bibirnya, tapi tidak nafsunya. 
Kau memeluk raganya, tapi tidak debarnya. 
Kau menggenggam tangannya, tapi tidak hangatnya. 
Kau memiliki tawanya, tapi tidak senyumnya.

Dan sedihnya, tidak sedikit orang yang sedang berada di dalam fase hubungan seperti ini. Hubungan yang sudah terlanjur.

Yang satu tak ingin melepas karena cinta, yang satu tak ingin melepas karena merasa kasihan. Membiarkan pihak yang satunya terus bertanya-tanya, apakah raga yang kupeluk barusan adalah raga yang mencintaiku sepenuh jiwa?

But sadly, you’re mine and I’m not yours. 

Br
21116

Leona (Part 5)

Jam 9 malam lewat, kampus sudah sepi. Setelah tadi sempat main capsa susun pake duit, aku berjalan ke tiang bendera, tempat yang biasanya kutongkrongi bareng teman-teman. Akan tetapi mereka semua tidak ada. Kududuk, tidak peduli kalau nanti celana jeans-ku kotor. Aku duduk, kuselonjorkan kakiku. Sementara punggungku bersandar pada tiang bendera. Di tempat aku duduk, lalu aku terpaku merenungkan hidup.

Kadang-kadang aku bingung, apa ya tujuan hidupku? Seharusnya bingungku itu sering, bukan kadang-kadang. Ini kadang-kadang aja. Jarang bahkan. Pada suatu kesempatan tertentu aku baru berpikir, “mau ke mana sebenarnya diriku ini? Akan jadi apa diriku kelak? Apa sebenarnya tujuan hidupku?”

Aku tidak tahu apa tujuan hidupku. Karena kalau ditanya, jawabnya pasti lain-lain. Aku pernah menjawab, tujuan hidupku adalah untuk membahagiakan mamaku. Aku pernah menjawab bahwa tujuan hidupku adalah untuk memuliakan nama Tuhan. Aku pernah menjawab bahwa tujuan hidupku adalah untuk membantu sesama. Aku pernah menjawab bahwa tujuan hidupku adalah untuk mati yang wajar. Dan lain-lain.

Hidup itu harus bertujuan, bukan? Lalu lihatlah diriku ini. Apa yang sedang aku lakukan, alami, hadapi. Sekarang aku ingin berkata bahwa tujuan hidupku adalah untuk melewati hari demi hari. Itu tujuan hidupku. Itulah. Seperti hari ini. Aku ingin melewati hari ini. Segera. Aku tidak ingin berlama-lama berada di hari ini. Aku bokek, duitku tadi ada 18 ribu, sekarang habis karena judi. Tumben loh, aku kalah judi. Tahu gitu aku bayar saja untuk makan. Kesal.

Bagaimana aku bisa melewati hari ini dengan cepat, bagaimana?  Itu pertanyaanku. Tanda tanya yang besar, menancap di dalam kepalaku. Tidak bisa kujawab. Kuharap tanda tanya itu akan roboh sendiri, mengingat aku orang yang mudah melupakan hal-hal yang besar.

Sebenarnya aku ini diciptakan untuk apa, ya? Muncul lagi satu tanda tanya di kepalaku. Aku ini manusia. Untuk apa manusia diciptakan? Jika menengok manusia seperti aku, barangkali jawabannya untuk merasakan lapar. Lalu untuk apa manusia harus merasa lapar? Supaya makan. Untuk apa manusia makan? Supaya bisa hidup. Untuk apa manusia hidup? Untuk merasakan lapar. Loh kok balik lagi? Ahelah! Ya beginilah orang yang lagi kalah judi. Mulai sok-sok filsuf padahal pikiran kusut.

Begini sih. Dalam hati, aku sedih juga. Betapa tololnya aku. Ini aku tak bisa pulang, tak ada ongkos. Sepertinya aku harus menginap di kampus.

Tidur di mana ya, enaknya? Aku mulai berpikir, spot mana yang sekiranya enak buat rebahan. Yang nggak banyak nyamuk, dan dibolehin sama satpam. Di mana, ya? Tanyaku pada diri sendiri. Aku bangkit dari dudukku, lalu aku menghampiri satpam kampus.

“Bang…” Sapaku ke satpam.
“Eh, Bos…” Satpam sapa balik. “Belum balik, Bos?” Sambungnya.
“Gue mau nginep di kampus. Tidur di mana ya, enaknya?” Tanyaku.
“Nginep?” Bang Satpam agak kaget dengar aku mau nginep.
“Iya. Gue nggak ada ongkos balik.” Kataku.
“SERIUS, BOS?” Satpam tambah kaget.
“Iye. Lo nggak liat muka gue kusut gini? Abis kalah judi.” Kataku.
“Emang rumahnya di mana, Bos?” Tanya lagi satpam.
“Bekasi. Pondok Gede.” Jawabku.
“Lah saya Bekasi juga. Jatiwaringin. Mau bareng?” Tawar Bang Satpam.
“Emang lo mau balik juga? Udah selesai jaga? Bawa helm dua? Yakin lo?” Tanyaku, agak nggak percaya sama kebetulan yang indah ini. Haha..
“Iyeeee… Udah…. Helm satu aja, nggak ada polisi.” Kata Bang Satpam.
“Oke kalo lo maksa. Berangkat!” Kataku.
“Tungguin, saya siap-siap.” Kata Bang Satpam.
“Lama, nggak?” Tanyaku.
“Setengah jam, lah.” Jawab Bang Satpam.
“Kalo lama juga nggak apa, namanya gue nebeng. Hahahaha…”
“Hahahaha bisa aja bos.” Tanggap Bang Satpam. Masih aja manggil aku bos. Harusnya kali ini aku yang manggil di abos.

Hoki banget. Pas lagi nggak ada ongkos, pas ada tebengan. Aku tidak menyangka, satpam kampusku bisa berubah jadi malaikat.

Aku duduk di suatu kursi kayu di pos satpam, sambil menunggu Bang Satpam siap-siap, kucek HP. Tumben Leona nggak nelpon atau SMS. Biasanya malam gini rusuh. Oh mungkin dia lagi sama Nicky. Ciye. Nicky.

Kubuka Inbox, kulihat sejarah percakapanku dengan Karin. Iseng, ku-SMS. Kuketik:

Josh:
Mau tanya, deh.

Sekitar 4 menit kemudian, Karin balas. Terus jadi SMS’an.

Karin:
Hi, Josh. Mau tanya apa? Kamu lagi di mana?

Josh:
Aku dulu dong yang nanya. Kok jadi kamu yang nanya.

Karin:
Maksudnya?

Josh:
Gini. Kan tadi aku bilang kamu, aku mau tanya. Eh malah kamu yang nanya. Gantian dong, Rin. Aku dulu nanya, baru kamu.

Karin:
O MY GOODNESS JOSH YOU’RE SO CONFUSING!!! =))) Jahil banget sih jadi cowok!!

Josh:
Aku mau nanya nih..

Karin:
Silakan, Josh… =)))

Josh:
Why?

Karin:
Duh. Kenapa apa?

Josh:
Kenapa situ bisa cantik banget gitu?

Karin:
Hahaha dasar gombal. Sekarang gantian nih aku yang mau tanya.

Josh:
*deg-degan*

Karin:
Kamu temennya Indra? Soalnya tadi aku sempet nanyain kamu ke dia, eh dia malah lupa kamu siapa. Hahahaha…

Josh:
Ceritanya panjang. Mau dengar?

Karin:
=)))) mau

Josh:
Enaknya diceritain langsung

Karin:
Nice try. Kapan?

Josh:
Jangan sekarang

Karin:
Ya nggak sekarang juga, Josh. Kamu kenapa nyebelin, ya?

Josh:
Nyebelin?

Karin:
Iya. Banget. Padahal baru kenal.

Josh:
Yaudah nggak usah SMS’an lagi. Daaa

Karin:
???

Josh:
=))) you’re cute

Karin:
Astagaaaaaaaaaaaa

Josh:
Goodnight, Karin. Ttyl. Aku mau balik kampus dulu.

Karin:
Jam segini baru balik ngampus? Kamu kuliah malem?

Josh:
Panjang ceritanya

Karin:
=))) ok take care, hati-hati nyetirnya ya

Keep reading

Karena Kita Pantas Bersyukur

Suatu hari, tanggal 6 Agustus 2015, seorang perempuan terbangun dari tidurnya seperti biasa. Dia terbangun pukul lima, sebelum alarm dari beberapa ponsel dalam rumahnya berdering. Kebiasaan itu disyukurinya. karena pernah suatu waktu, ponsel-ponsel itu justru mati dan alarm tak nerdering sama sekali. Kebiasaan baiknya, menyelamatkannya. Ah bukan, menyelamatkan seisi rumah itu. Menyelamatkan ia, yang harus melaksanakan sholat subuh, menyelamatkan suaminya, yang harus berangkat kerja dan tentu sarapan pagi sebelumnya, dan juga menyelamatkan buah hati mereka, dari kebiasaan buruk untuk bangun siang.

Memang, akan ada energi lebih saat kita sadar bahwa memulai segala hal memang lebih baik sejak pagi hari. Bukan menjelang siang. Ya kan?

Setelah melaksanakan rutinitas paginya seperti biasa, perempuan itu selalu menyempatkan diri menyalakan televisi dan menonton siaran berita pagi. Perhatiannya terpaku pada sebuah berita mengenaskan.

“Seorang pria tega membunuh anak dan istrinya, lalu ia mencoba bunuh diri. Alasannya, karena stress tak memiliki pekerjaan.”

Lalu, perempuan itu tertegun selama beberapa saat. Beberapa pertanyaan dan pernyataan berkecamuk dalam benaknya.

Apa manusia masih terus mau mengeluhkan pekerjaannya? Pekerjaan yang sudah halal, pekerjaan yang sudah baik.

Mencari pekerjaan memang susah. Bersyukur saat sudah diberi perkerjaan, juga tak mudah. Tapi mungkin memang lebih susah, bersabar atas derita.

Mungkin itulah gunanya untuk fokus dan bersyukur atas pencapaian saat ini. Agar manusia belajar atas masa lalu, dan bersiap untuk masa depan. masa depan yang baik.

Banyak manusia yang pekerjaannya sudah enak, sudah baik, namun tetap saja mengeluh terus. mereka tetap ingin mencari yang lain. Mereka tidak sadar, saat mereka sibuk mengeluh mereka akan senantiasa lupa bersyukur, dan jadi tak bahagia.

Akhir yang mengedihkan ya? Lupa bersyukur akan membuat manusia lupa untuk berbahagia.

Diceritakan kembali setelah sebelumnya sempat dibahas sedikit di linimasa Twitter @TiaSetiawati, 6 Agustus 2015

- Tia Setiawati

Menurutku fokus itu bukan hanya tentang terpaku berupaya terbaik pada satu. Namun fokus adalah tentang menyelesaikan satu-satu setiap hal dengan upaya terbaik
—  Masih pengen jadi seperti Elon Musk yang bisa jago di banyak bidang

Ketika tidak sedang bersamamu banyak sekali yang ingin ku ceritakan. Tapi, setelah bertemu dan duduk didepanmu, aku hanya terpaku. Tak ada satu katapun yang bisa terucap, entah rentetan cerita itu tercecer dimana.

Mungkin Sementara, tapi Semoga Selamanya

Pada suatu masa, kurasa aku mati rasa. Hilang peka, serta segala hal bertemakan suka, cinta, dan apa apa yang kerap melengkapinya. Memilih untuk sendiri, -sebab bersama dengan seseorang dianggap terlalu riskan untuk kelak terluka lagi

Pada suatu masa, ku dapati aku mencumbui sepi hampir setiap hari. Kesepian menjadi teman. Hangatnya kebersamaan menjelma hanya sebatas impian. Imaji dan ilusi berlafadzkan kesendirian menyeruak tak dapat dikendalikan

Lalu aku menemukan kamu. Yang paras, rupa, tingkah laku, aroma, dan segala tentangmu hanya dapat membuatku terpaku. Lupa pernah terluka. Bergegas menjemput bahagia, berkemas dengan segera

Mau kemana?” - hampir seluruh panca indra dan logika bertanya. Mantap aku menjawab. “Pindah, kini aku sudah menemukan rumah”

“Hendak berapa lama disana?” - giliran ragu dan ketakutan menguji segenap rasaku. Tak gentar aku menanggapi lagi “Tidak sebentar, bukan hanya singgah. Mungkin sementara, tapi semoga selamanya”

Kepada kamu,

Aku menyukai semua segalamu. Mencintai setiap ganjil kurangmu yang melengkapi segenap aku. Berpisah mungkin kita akan, tapi rasanya tiada salah jika kita memanfaatkan setiap kebersamaan.

Kepada kamu,

Aku menjatuhkan semua harapku. Rasaku. Peduliku. Semua yang tidak aku lakukan pada orang orang sebelummu. Semua yang aku tutup rapat pada lubang silam paling kelam. Semua yang mulanya tiada niatan untuk kembali aku buka. Padamu, kuciptakan semesta bahagia yang baru

Kepada kamu,

Aku melantunkan sembah serapah agar saling melepaskan, -kita jangan. Kehilangan menjadi ketakutan yang mengganggu penglihatan. Berburuk sangka menjadi jalan, atas nama kesetiaan yang mungkin tercoreng ikrar hitam pekat penghianatan. O, sayang tak bisa kah kamu bersamaku saja hingga berkali-kali masa yang akan datang?

Kepada kamu,

Aku tanamkan kunci segala hubungan berupa kepercayaan. Mari berjalan beriringan. Mencipta tawa, meniadakan nestapa. Selaksa bahagia akan ada bila kita bersama

“Kalau hidup dengan kamu lebih menyenangkan, kenapa harus hidup tanpa kamu?”

1. semua yang didapat dengan mudah, juga akan hilang dengan mudah | katanya easy...

1. semua yang didapat dengan mudah, juga akan hilang dengan mudah | katanya easy come,easy go, there’s no such things as ujug-ujug

2. begitu juga apa yang menakjubkan mata belum tentu sampai ke hati | yang sampai ke hati juga belum tentu merasuk menyatu dalam jiwa

3. bahkan kisah kaum Yahudi ajarkan kita, takjubnya mereka akan mukjizat | tidak menahan mereka dari ingkari Nabi dan menyekutukan Allah

4. tidak ada kaum yang melihat mukjizat lebih banyak dari Yahudi | tapi begitu ditinggal Musa, mereka langsung menyembah selain Allah

5. bedanya dengan kaum Muslim, mukjizatnya tidak berhenti pada mata | tapi Al-Qur'an mengajak berpikir, menggunakan akal dan rasio

6. sampai datang keimanan itu dengan keyakinan berdasar bukti | yang tak bisa dibantah dan takkan goyah, dibangun kokoh lewat berpikir

7. mukjizat Nabi Muhammad adalah Al-Qur'an yang turun berangsur 23 tahun | meresap, menyatu dengan jiwa kaum Muslim, bagian tak terpisah

8. semakin berinteraksi dengan Al-Qur'an maka kaum Muslim semakin cinta | semakin terpaku dengan pesonanya, bertambah kuat imannya

9. karena yang dilihat mata itu mudah lunturnya, mudah hilangnya | tapi yang didapat melalui berpikir, berasas, punya bukti, itu bertahan

10. karenanya ratusan kali Al-Qur'an menyeru manusia berpikir | agar bisa menemukan tanda-tanda eksistensi Allah, dan kebenaran Islam

11. berpkirlah, itu jalan kebenaran Islam, dan keyakinan iman | setelah beriman, pakailah akalmu untuk taat syariat “sami'na wa atha'na” :)

Cerpen: Semua Tak Sama

Canggung.

Dalam benakku lama tertanam sejuta bayangan dirimu.
Aku terdiam terpaku. Mengenyahkan detak jantung yang berdebar kencang ketika mendapati dirimu di depan sana. Aku menggenggam erat-erat tanganku, menghilangkan gemetar yang dari tadi merasuk jemariku.

Redup terasa cahaya hati mengingat apa yang tlah kau berikan.
Entah sudah berapa lama aku terdiam. Tepatnya karena tidak ada yang bisa kulakukan, padahal benakku sudah terbelah. Di satu sisi ingin segera menghamburkan diri ke hadapanmu. Di sisi lain ingin mengundurkan diri dan pergi sejauh-jauhnya karena ketidakrelaan ini. Terlalu banyak yang kau berikan, terlalu banyak yang harus kulupakan.

Waktu berjalan lamban mengiring dalam titian takdir hidupku.
Berkali-kali helaan nafas panjang kubutuhkan sebelum kukerahkan segala tenagaku untuk melangkah. Kutemukan senyum yang selalu melambungkan hatiku di wajahmu. Selalu begitu. Can’t you stop that sweet smile, baby?

Cukup sudah aku tertahan dalam persimpangan masa silamku.
Di waktu lalu, aku ingat sikapmu yang cuek atau aku yang sering mengomel panjang lebar, atau kadang-kadang pun kau keras kepala dan aku tak mau mengalah. Tapi kini semua berubah, waktu mendewasakanmu… dan aku juga. Kusadari kemudian, kali ini aku harus bangkit.

Kucoba tuk melawan getir yang terus kukecam, meresap ke dalam relung sukmaku.
Tersadarlah aku, tidak boleh kutawarkan sesuatu yang sudah kau miliki. Betapa aku menginginkanmu, betapa menyenangkannya bersamamu, dan betapa menyakitkannya memikirkanmu. Nyaris aku kehilangan logika, ketika matamu tak lagi menatapku.

Kucoba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu mengalir mengisi laju darahku.
Maka aku memilih cara paling aman; menyingkirkan segala tentangmu yang dulu kumiliki di saat-saat kejayaanku. Aku punya semuanya, tanpa kuminta. Tapi kini, sungguhkah aku tak lagi berhak memintanya? Ternyata iya.

Semua tak sama tak pernah sama, apa yang kusentuh apa yang kukecup.
Kalau bukan kamu, semuanya terasa beda.

Sehangat pelukmu selembut belaimu, tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu.
Jadi dimana harus kutemukan penggantimu?

Apalah arti hidupku ini memapahku dalam ketiadaan.
Lalu sesuatu itu menghampiriku, kehampaan. Saat seseorang yang kau anggap separuh jiwamu pergi, maka yang kau dapatkan hanyalah kekosongan, yang entah kapan akan terisi lagi.

Segalanya luruh lemah tak bertumpu, hanya bersandar pada dirimu.
Dengan kehampaan itu, aku terus membawa diriku kemana-mana. Tujuanku satu, mencari sesuatu atau seseorang yang mampu menawarkan kepedihanku, tapi entah kenapa hal itu selalu berhenti di kamu?

Kutak bisa, sungguh tak bisa mengganti dirimu dengan dirinya.
Aku tak ingin mengakuinya, tapi aku tak pernah benar-benar bisa menempatkan orang lain di sudut hati yang pernah kau huni dulu. Hatiku terasa sakit ketika aku tidak berdaya untuk mengendalikan perasaanku sendiri.

Sampai kapan kau terus bertahan? Sampai kapan kau tetap tenggelam? Sampai kapan kau mesti terlepas? Buka mata dan hatimu.
Kecuali kali ini, aku bangkit sesudah terdiam entah sejak kapan. Kedatanganku kali ini memang menegaskan sebuah penyelesaian, walaupun dalam hatiku nyaris hancur mempertanyakan sungguhkah kisah kita akan selesai?


Aku berhenti. Kita bersilang tatap di jarak sedekat itu. Lurus matamu yang tanpa perasaan itu—tidak ada kebencian, juga tidak ada rasa sayang—melunturkan gemetar yang sedari tadi kusembunyikan. Tapi aku segera meraih tangannya, melingkarkan lenganku di bahunya—perempuanmu. Pada saat yang sama, banyak rasa yang bermain di hatiku, tapi tak lagi ingin kusia-siakan kesempatan ini.

“Selamat ya. Berbahagialah.” Ucapku.
“Dan kamu juga.” Balasmu menyalamiku.

Samar-samar suaramu, tapi cukup keras dalam ruang pendengaranku, cukup kuat menancap dalam benakku. Dan kuyakinkan pada diriku sendiri, setelah ini aku harus bisa…
Relakan semua.

#memutar: Padi – Semua Tak Sama

Hilang Jejak

Hilang Jejak

Malam berdentang searah jarum jam
Gulita ditengah desiran dari pohon
Bayang itu telah lenyap
Aku tidak tahu dia kemana…?

Tanpa memberikan pesan
Kandas dalam langkahku
Mengikuti arah tujuannya
Membuatku tersesat ditengah rimba

Hilang jejak aku disini
Terpaku hanya mematung
Larut semakin tak beriku petunjuk
Dan arah mata angin semakin
Buatku tidak tahu jalan.

Hitam membutakan cahaya
Terang tertutup oleh langit
Aku hilang jejak dengan bimbang
Karena mengikuti bayangan itu.

Ayu Tyasti poetry 2017
18 Maret 2017

Entah sudah sekian kalinya, ketika saya sedang mencari solusi teknis dari aplikasi yang saya kembangkan di stackoverflow, mata saya terpaku lama. Saya sudah menemukan jawaban persoalan teknis, tapi ada hal yang lain yang lebih menarik. Iklan lowongan bagian samping halaman. Biasanya startup-startup besar dan software house terkemuka yang memasang iklan di stackoverflow.

Saya tertarik, membuka detail halaman, membaca selayang pandang perusahaan, kultur kerja dan kualifikasi yang diperlukan.  

We develop software in an Agile way, using Extreme Programming methodologies.

That means we embrace change, but it doesn’t mean we work crazy hours.

We maintain a sustainable pace (8 hour days, no overtime, no nights or weekends) because everyone needs a life.

Ini terjadi berulang kali, selama beberapa bulan terakhir. Sudah cukup saya membohongi diri sendiri, InsyaAllah tahun ini saya tidak perlu ragu melangkah. 

Pesan Ayah

Kepada: diriku sendiri entah tahun berapa nanti.

Bersabarlah. Untuk seluruh ketidakmengertian dan pengetahuan yang mengecewakan bahkan menyakitkan. Seorang itu adalah jembatan dan pintumu menuju surga. Tetaplah taat. Tetaplah hormat. Tetaplah percaya. Meskipun sulit sekali hingga harus banyak berurai air mata.

Ingatlah. Ada perjalanan panjang yang mampu meringkus cemas dan takut. Pada hari ini ketika pemberian-Nya tidak berkesesuaian dengan harapan. Menjadikan diri lebih banyak meminta dan berdoa untuk disembuhkan dan dilapangkan. Dimampukan lagi untuk membuka hati dan menerima. Diikhlaskan selalu sehingga dapat mengerti apa pun hikmah-Nya. 

Percayalah. Tatapan penuh cinta itu benar-benar ada. Meskipun terkadang memang tak tampak muka. Hanya, orang lain mungkin saja yang lebih mampu melihatnya. Sepertimu yang mengharu biru melihat seorang suami menggendong anaknya dengan tatapan terpaku penuh perhatian mendengarkan sang istri yang dengan seru sekali bercerita entah apa, di serambi Masjidil Haram kala itu. Nyatanya masih terbayang begitu jelas dan sangat menginspirasimu, meskipun kamu sama sekali tidak mengenal dan tidak pernah tahu kejadian sebenarnya dari keluarga kecil itu.

Jangan pernah menyerah. Ingat pesan ayah.

Mungkin, nasihat-nasihat ini belum kamu mengerti sekarang. Namun, pada waktunya kamu akan pahami. Bahtera rumah tangga adalah perjalanan penuh coba. Luruskan niatmu saat ini agar senantiasa mendapat petunjuk nanti. Akan banyak guncangan yang membuatmu mempertanyakan banyak hal. Maka sungguh, kecenderungan cinta bukanlah pegangan yang kuat. Ia rapuh sekali. Kecil sekali kemampuannya untuk membuatmu mampu bertahan. Sejatinya, tanggung jawab adalah satu-satunya yang mampu menyelamatkan. Tanggung jawab sebagai seorang hamba yang melakukan ibadah pernikahan semata untuk-Nya. 

Nantinya, akan ada keadaan ketika satu hal kecil dapat membuatmu memilih untuk menetap meski sembilan puluh sembilan alasan lain menarikmu pergi. Jelas akan banyak kesakitan dan perasaan berat, tetapi menjadi begitu nikmat dan dapat dirasa ringan. Semua karena kebersamaan yang penuh keyakinan kebenaran. Persis seperti seorang ibu yang sangat kepayahan, tetapi berseri bahagia sekali ketika mengandung si buah hati. Kamu jelas belum mengerti. Membayangkan pun masih tak sampai. Maka, ingatlah saja. Semoga mampu membuatmu lebih lega ketika waktu-waktu itu tiba.

Aku lebih cemas pada orang yang memilihku tanpa kecemasan apapun. Tentang apakah ia dapat mengimami dengan lurus, apakah ia mampu menafkahiku secara penuh, apakah aku sungguh perempuan yang baik sebagai istri maupun ibu.

Sebab kepercayaan diri terkadang amat licin, kerap menggelincirkan siapa yang tidak hati-hati.

Meski begitu, kepercayaanku tegak pada tangan yang gagah menggengamku walau hatinya was-was, yang memantapkan langkah walau melihat bahaya, sebab matanya menuju pada apa yang mataku tuju, tidak terpaku kepada wajah satu sama lain, tetapi pada siapa yang berdiri di ujung jalan yang hendak kami tempuhi; Allah. Dan selama kami setujuan, apakah lagi artinya cemas?

Hujan Pertama di Bulan April

Diluar hujan. Aku kembali berjibaku dengan rindu yang menggerogoti hatiku.

Aku meringkuk bersama kenangan kita (lagi)

Hujan selalu saja memantik rinduku padamu

Hujan selalu saja membuka lembaran kenangan indah itu

Apa kabar kamu hari ini ?

Bagaimana keindahan hubunganmu dengannya ?

Lagi-lagi potret kemesraan kalian tergambar jelas di benakku

Mengusik ketenanganku menikmati hujan siang ini

Bagaimana mungkin aku terus berharap ?

Sedang bahagiamu saja sudah kau reguk bersamanya

Hanya dia yang mampu memberikan senyum seikhlas itu di wajahmu

Hanya dia yang mampu melebur bersama keluarga keduamu itu

Lagi-lagi bukan aku …


Hujan turun semakin ganas saja

Disertai gemuruh yang menyentak lamunanku yang tengah terpaku pada kamu dan wanitamu itu

Aku tersadar, sesegera mungkin aku sisipkan do’a pada rinai hujan ini

Tak lupa aku titipkan peluk rindu melalui hujan ini

Semoga ia beringas mengetuk-ngetuk jendela kantormu

Agar kamu tahu, disini aku begitu merindukanmu

Keluarlah, sentuh rinai hujan itu, agar rinduku sampai padamu :)


Ditulis pada

1 April 2015, 11:40 AM

By Hujan Mimpi

Tidak Ada; yang Aku Perlakukan, -Sebaik Aku Memperlakukanmu

Kamu istimewa, untuk melihatmu biasa saja, -aku tak bisa. Melihatmu dengan sederhana, aku tak mampu. Bagaimana bisa sesederhana senyummu yang merekah, membahagiakan aku dengan mewah?

Aku menyukai segalamu. Lantas bingung bagaimana membedakan mana suka, mana cinta. Apakah aku menyukai segalamu karena mencintaimu. Atau mungkin, -mencintaimu karena menyukai segalamu? Entah, mencari jawabannya aku lelah. Hemat kata; bersamamu, aku suka

Kamu mungkin nggak sadar. Perhatianku terhadapmu terlampau besar. Kamu kenapa, aku khawatir. Kamu berulah, aku merasa ada sesuatu yang salah. Kamu begini kamu begitu, aku gak bisa sekedar iya iya aja lalu diam terpaku. Yang ada, khawatirku malah terpacu. Bahkan, gak jarang moodmu mempengaruhi moodku. Padahal kalau dipikir-pikir, memangnya, siapa kamu?

Aku senang menghabiskan waktu denganmu, sayang. Berbicara ini itu. Sesi terbuka umbar rahasia. Meracau tanpa aturan, bertukar pikiran. Mendengarkan cerita masa lalu, melihat visimu. Mimik, intonasi, raut muka, cara bicara, emosi, gestur, semua aku perhatikan dengan saksama. Kalau kamu tanya siapa pendongeng favoritku, sudah pasti kamu jawabannya

Kamu mungkin tidak memperhatikan caraku menatapmu. Hingga pada suatu masa, -saat aku sedang menikmati indah parasmu, tak sengaja kita bertabrakan mata. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga berkali-kali. Akhirnya kamu sadar, ada seseorang yang menggilai menatapmu dalam lekat, -aku

Aku menyentuhmu dengan segenap rasaku. Membenarkan anak anak rambutmu yang berserakan. Mengusap manja; mata, pipi, telinga, lalu menyusuri jenjang hidungmu yang bernafas perlahan. Melumat keluh dari bibirmu yang aduh. Mengecup setiap inci dirimu agar ego kian menguncup. Adalah aku, yang menyayangimu seperkasa rindu

Kamu menelanjangi separuh aku yang tercipta dari rasa rasa mati yang sepi. Melucuti sunyi lantas menjanjikan pelangi. Aku berbusana mimpi, menunggangi naluri. Melewati ruang ruang maya yang hampa, menjemput nyata. Jika padamu, -sebutlah aku cinta. Apakah untukku kamu akan begitu juga?

Tidak ada yang aku perlakukan, sebaik aku memperlakukanmu. Tidak ada istimewa jika bukan kamu orangnya. Aku menyukaimu, atau mencintaimu, atau mungkin keduanya. Entah. Aku padamu saja, -singkatnya begitu

#renunganku

Sihir Si Kotak Ajaib.

Ada kotak “ajaib”
Dia bisa menyihir orang..
Banyak yang terpana memandang..
Saat ia berbicara..
Semua mata terpaku ke sana..
Itulah televisi si kotak “ajaib”

Mampu menyita sebagian besar waktu keluarga..
Jasad memang kumpul bersama..
Tapi tiada saling tegur sapa dan canda ria..
Kering.. Garing..

Saking asyik menonton, kepala sampai miring-miring..
Semua mata terpaku ke sana..
Itulah TV, si kotak “ajaib”

Oia..
Ada lagi satu kotak “ajaib”
Dia lebih kecil dari yang pertama..
Digenggam tak dilepas..
Disayang.. Dibalut penutup layaknya barang kenangan..

Selalu di kantong, sigap di timang bila ia berbunyi..
Sihirnya mampu menjadikan tangis mengerang..
Sihirnya bisa pula membuat seseorang tersenyum sendirian..

Aneh kan..
Itulah HP, si kotak kecil “ajaib”
Selalu siap di tangan..
Terkadang masukan kantong celana letakkan di saku, kadang juga di baju..

Saking sayang..
Mau tidur pun masih di timang..
Jari jemari lincah memijit sang kotak kecil “ajaib”
Sambil sesekali tersenyum ringan..

Entah..
Semoga saja si pemilik tak lupa berwudhu sebelum menuju pembaringan..
Mudah-mudahan si pemilik sempat berdzikir sebelum tertidur, yang ia tak pernah tahu..
Apakah besok pagi masih berkesempatan menatap dan menimang si kotak kecil “ajaib”

Aaah…
Aku berharap terlepas dari sihir dua kotak “ajaib”

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Abu Hazim RohimahullooH berkata,

“Setiap ni'mat yang tidak mendekatkan pemiliknya kepada ALLOOH SubhaanaHu wa Ta'ala hanyalah petaka…” (Hilyatul Auliyaa’ 3/266)

@sahabatilmu