terpaku

“I’m yours. But I’m not yours.”

-

Sejenak gue terpaku di depan kalimat barusan. Kalimat yang benar-benar singkat, menggunakan kata yang sama dan hanya dibubuhi dua penambahan kata yang berbeda. Tapi entah kenapa makna keseluruhannya begitu luar biasa.

“Aku milikmu. Tapi aku bukan milikmu.”

Kalimat itu seakan mengacu pada suatu keadaan di mana hubungan sudah memasuki tahap terlanjur. Terlanjur basah, terlanjur cinta, terlanjur lama. Ketika melepas tidak mungkin, tapi bertahan hanya berujung bosan.

Atau juga kalimat itu hinggap pada suatu hubungan di mana pihak yang pertama hanya bisa memeluk raga, sedangkan pihak yang kedua hatinya entah sedang terbang ke mana. 

Orang-orang di sekitarmu tahu dia milikmu. Tapi jauh di dalam alam bawah sadarmu, kau merasa bahwa kau bukan miliknya. Seakan kau tak tahu di balik topengnya itu apakah ia benar-benar mencintaimu atau tidak.

Kau mencium bibirnya, tapi tidak nafsunya. 
Kau memeluk raganya, tapi tidak debarnya. 
Kau menggenggam tangannya, tapi tidak hangatnya. 
Kau memiliki tawanya, tapi tidak senyumnya.

Dan sedihnya, tidak sedikit orang yang sedang berada di dalam fase hubungan seperti ini. Hubungan yang sudah terlanjur.

Yang satu tak ingin melepas karena cinta, yang satu tak ingin melepas karena merasa kasihan. Membiarkan pihak yang satunya terus bertanya-tanya, apakah raga yang kupeluk barusan adalah raga yang mencintaiku sepenuh jiwa?

But sadly, you’re mine and I’m not yours. 

Br
21116

“Kawan memecut motosikal dengan cermat. Balik dari hospital.

Meredah jalanraya di malam hari. Gelap betul. Lampu jalan pun jarang-jarang kelihatan.

Aku membonceng di belakang. 

Tiba-tiba di hadapan ada sekatan jalanraya. Ada polis.

Oh. Bukan. Ada kemalangan di hadapan. Sebab itu ada polis.

Kami sampai di tempat kejadian. Kawasan tu agak sunyi. Kenderaan pun jarang lalu situ.

Mungkin kami antara yang terawal tiba. Nasib baik ada abang polis trafik lalu.

Kawanku memberhentikan motosikal. Aku gigil sikit lutut. Tengok darah mengalir di atas jalan. 

Penunggang motosikal ni. Macam kes langgar lari saja. Sebab tiada kenderaan lain di situ kelihatan. Motosikal je berderai. Penunggang dah nyawa-nyawa ikan. Kaki sebelah entah ke mana. Patah tulang.

Aku gagal menapak menghampiri mangsa. Gerun. Takut. Tak biasa. Tiada siapa nak tolong mangsa. Polis pun tengah sibuk hubungi ambulans dan kawal lalu lintas.

Kawanku meluru ke arah mangsa. Aku terpaku melihat dia memangku kepala mangsa dan meribanya. Perlahan-perlahan diajarnya mengucap syahadah. Mangsa tercungap-cungap mengucapkan sesuatu pada kawanku.

Tak lama kemudian, mangsa diam. Innalillahi wainna ilaihi raaji'un.

Kawanku mengambil sesuatu dari poket seluar mangsa. Henfon dan dompet. Ku lihat dia menekan-nekan fon tersebut. Dari dompet, dilihatnya IC. Kemudian, dia serahkan pada polis dan bercakap-cakap sesuatu dengan polis. 

Datang ke arahku. 

”“Dia cakap apa dekat kau?”“ Tergesa-gesa aku bertanya.

”“Dia suruh aku balas mesej mak dia. Tadi, tengah dia bawa motor. Mak dia mesej. Baru saja nak reply, jadi macam tu.

Dia suruh aku balas pada mak dia, dia minta maaf atas segalanya. Dia dah belikan mee goreng untuk adik-adik yang kelaparan dekat rumah.”“

Aku ke motosikalnya. Masih elok bungkusan mee goreng dalam raga motosikal.

”“Kita tolong hantarkan. Jom.”“ Kawanku menarik tanganku cepat-cepat.

Start motor. Ikut alamat yang dia tengok di IC mangsa tadi. 

Sampai di rumah mangsa. Kami serahkan mee goreng tadi kepada ibu mangsa. Ada empat budak kecil. Mungkin adik mangsa. Aku dapat rasakan mangsa betul-betul abang yang sangat baik.

Kawanku khabarkan berita duka pada ibu mangsa. Hampir nak pitam. Disambut deraian air mata.

**

Dalam perjalanan pulang, kami banyak berdiam diri. Aku lihat air mata mengalir di pipi kawanku. Aku pun sama.

Kawanku bersuara sayup-sayup kedengaran,

”“Bila kali terakhir kau mohon maaf pada orang tua kau?”“

”“Bila kali terakhir kita mohon ampun pada Allah? 

Sampai bila kita nak dingin pada Allah?”“

Bagai tertusuk duri.

Esok belum pasti. 
Mati itu pasti. 

Kesudahan aku? 

Kesudahan kita?

Siapa tahu. 

Aku pun tak tahu.”

(14247, 2014)

Mungkin Sementara, tapi Semoga Selamanya

Pada suatu masa, kurasa aku mati rasa. Hilang peka, serta segala hal bertemakan suka, cinta, dan apa apa yang kerap melengkapinya. Memilih untuk sendiri, -sebab bersama dengan seseorang dianggap terlalu riskan untuk kelak terluka lagi

Pada suatu masa, ku dapati aku mencumbui sepi hampir setiap hari. Kesepian menjadi teman. Hangatnya kebersamaan menjelma hanya sebatas impian. Imaji dan ilusi berlafadzkan kesendirian menyeruak tak dapat dikendalikan

Lalu aku menemukan kamu. Yang paras, rupa, tingkah laku, aroma, dan segala tentangmu hanya dapat membuatku terpaku. Lupa pernah terluka. Bergegas menjemput bahagia, berkemas dengan segera

Mau kemana?” - hampir seluruh panca indra dan logika bertanya. Mantap aku menjawab. “Pindah, kini aku sudah menemukan rumah”

“Hendak berapa lama disana?” - giliran ragu dan ketakutan menguji segenap rasaku. Tak gentar aku menanggapi lagi “Tidak sebentar, bukan hanya singgah. Mungkin sementara, tapi semoga selamanya”

Kepada kamu,

Aku menyukai semua segalamu. Mencintai setiap ganjil kurangmu yang melengkapi segenap aku. Berpisah mungkin kita akan, tapi rasanya tiada salah jika kita memanfaatkan setiap kebersamaan.

Kepada kamu,

Aku menjatuhkan semua harapku. Rasaku. Peduliku. Semua yang tidak aku lakukan pada orang orang sebelummu. Semua yang aku tutup rapat pada lubang silam paling kelam. Semua yang mulanya tiada niatan untuk kembali aku buka. Padamu, kuciptakan semesta bahagia yang baru

Kepada kamu,

Aku melantunkan sembah serapah agar saling melepaskan, -kita jangan. Kehilangan menjadi ketakutan yang mengganggu penglihatan. Berburuk sangka menjadi jalan, atas nama kesetiaan yang mungkin tercoreng ikrar hitam pekat penghianatan. O, sayang tak bisa kah kamu bersamaku saja hingga berkali-kali masa yang akan datang?

Kepada kamu,

Aku tanamkan kunci segala hubungan berupa kepercayaan. Mari berjalan beriringan. Mencipta tawa, meniadakan nestapa. Selaksa bahagia akan ada bila kita bersama

“Kalau hidup dengan kamu lebih menyenangkan, kenapa harus hidup tanpa kamu?”

Berapa Banyak

Andai dalam hidup ini kita bisa memilih cepat atau lambatnya jawaban dari do'a-do'a, tentu tiap-tiap dari kita pasti memilih cepat. Tak heran jika terkadang membuat kita hilang kesabaran saat do'a begitu lama tidak terkabul.

Setiap orang menginginkan do'a mereka dikabulkan tepat waktu. Namun, berapa banyak dari mereka yang berdo'a tepat waktu?

Yang masih terpaku dengan pekerjaan ketika adzan begitu merdu terdengar tepat di sebelah mereka berada, yang masih saja belum beranjak ketika jama'ah sudah merapatkan barisannya, dan yang masih belum sadar rentang waktu sholat sudah begitu jauh hingga akan berganti waktu sholat berikutnya.

Jadi, berapa banyak dari kita yang berdo'a tepat waktu? Sedang kita selalu memohon tanpa malu agar segala permintaan dikabulkan dengan cepat.

Berapa banyak?

Bogor, 25 Juli 2016 | Seto Wibowo

Seakan dirinya terpaku di hati. Menghilangkannya berarti meninggalkan lubang menganga di dalam hati.
 
Seakan kenangan indah bersamanya terukir di dinding hati. Menghapusnya sama saja menyakiti diri sendiri.
 
Seakan untuk benar-benar membunuhnya, aku harus menggali begitu dalam lalu menguburkannya agar ia tidak kembali ke permukaan. Walau pada akhirnya tetap aku yang mati karena tertimbun oleh tanah yang aku gali sendiri.
1. semua yang didapat dengan mudah, juga akan hilang dengan mudah | katanya easy...

1. semua yang didapat dengan mudah, juga akan hilang dengan mudah | katanya easy come,easy go, there’s no such things as ujug-ujug

2. begitu juga apa yang menakjubkan mata belum tentu sampai ke hati | yang sampai ke hati juga belum tentu merasuk menyatu dalam jiwa

3. bahkan kisah kaum Yahudi ajarkan kita, takjubnya mereka akan mukjizat | tidak menahan mereka dari ingkari Nabi dan menyekutukan Allah

4. tidak ada kaum yang melihat mukjizat lebih banyak dari Yahudi | tapi begitu ditinggal Musa, mereka langsung menyembah selain Allah

5. bedanya dengan kaum Muslim, mukjizatnya tidak berhenti pada mata | tapi Al-Qur'an mengajak berpikir, menggunakan akal dan rasio

6. sampai datang keimanan itu dengan keyakinan berdasar bukti | yang tak bisa dibantah dan takkan goyah, dibangun kokoh lewat berpikir

7. mukjizat Nabi Muhammad adalah Al-Qur'an yang turun berangsur 23 tahun | meresap, menyatu dengan jiwa kaum Muslim, bagian tak terpisah

8. semakin berinteraksi dengan Al-Qur'an maka kaum Muslim semakin cinta | semakin terpaku dengan pesonanya, bertambah kuat imannya

9. karena yang dilihat mata itu mudah lunturnya, mudah hilangnya | tapi yang didapat melalui berpikir, berasas, punya bukti, itu bertahan

10. karenanya ratusan kali Al-Qur'an menyeru manusia berpikir | agar bisa menemukan tanda-tanda eksistensi Allah, dan kebenaran Islam

11. berpkirlah, itu jalan kebenaran Islam, dan keyakinan iman | setelah beriman, pakailah akalmu untuk taat syariat “sami'na wa atha'na” :)

Menurutku fokus itu bukan hanya tentang terpaku berupaya terbaik pada satu. Namun fokus adalah tentang menyelesaikan satu-satu setiap hal dengan upaya terbaik
—  Masih pengen jadi seperti Elon Musk yang bisa jago di banyak bidang
Malam Menuju Minggu

Aku tak tahu kenapa tulisanku semakin hari semakin sunyi. Aku telah terbiasa melewati ini hampir 3 tahun. Merasakan sepi dan seorang diri adalah dua hal yang sangat dekat denganku. Bahkan ketika hampir seluruh dari setiap hariku kuberikan untuk bertukar kabar dengan seseorang yang jauh, aku masih mengenal kekosongan.

Aku tidak ingin memaknai hal itu sebagai suatu yang sulit digapai. Seolah jarak tak akan pernah bersikap baik pada kami berdua. Hal yang paling tak kumengerti dari semua itu adalah alasan Tuhan mempertemukan kami. Di ruang yang terkotak-kotak, Tuhan menarik benang merah yang membawaku padanya. Aku telah terhubung, tak mau lepas.

Dia barangkali sama bertanya-tanyanya denganku. Tapi mungkin hanya aku yang terlalu perasa, menganggap semua ini suatu yang berat dan rumit. Sesekali, aku ingin kami bertukar jiwa untuk mengetahui hal yang sangat membikinku penasaran selama ini. Betapa cara dia memandang hidup dan menjalaninya dengan tenang membuatku terpukau, terpaku.

Sudah sejak lama aku merasa baik-baik saja hanya dengan memikirkannya seperti ini. Tapi aku juga tidak baik-baik saja. Dia menarikku keluar dari kebisuan, tapi dia juga membuatku teramat merasakan kesepian. Aku tak suka kalimat itu. Karenanya, aku juga terlihat seperti minta dikasihani. Sama seperti ketika aku menangis dan yang tertangkap hanyalah kesedihan. Aku tak suka terlihat sendiri dan terlampau cengeng.

Malang, 29 Oktober 2016

Hanya Perlu Itu

Aku menyadari satu hal, kini. Bahwa expect nothing itu perlu.

Bukan karena apa-apa. Hanya saja pengharapan tak selalu harus hadir ketika ada pertemuan yang tercipta. Pengharapan tak harus selalu hadir ketika sedang berusaha menggapai apa yang disebut mimpi atau apa yang diidamkan dengan teramat sangat.

Aku hanya perlu menerima. Hanya perlu bersyukur tiada henti. Atas apa-apa yang telah dimiliki, sedang dimiliki dan pernah dimiliki. Bukankah segalanya hanya titipan? Yang mana aku akan tetap merasa kehilangan. Entah karena dimiliki oleh orang lain, entah memang masanya sudah berakhir, atau mungkin harus kembali kepada-Nya. Aku hanya perlu memahami bahwa segalanya terjadi dengan alasan yang teramat baik. Apapun yang sedang terjadi hanya perlu diterima lengkap dengan segala rasa yang turut menemani.

Berhenti untuk memiliki prasangka atau praduga terhadap hal-hal imaji yang tak kuketahui nantinya akan seperti apa. Memang, semuanya masih saja misteri. Masih saja seperti teka-teki yang tak pernah kuketahui awal dan akhirnya seperti apa. Tapi setidaknya aku haruslah cukup bijak untuk memaknai hari ini. Bukan terus terpaku dengan hari kemarin yang mungkin penuh penyesalan. Atau terus menebak-nebak tentang hari esok, yang aku sendiri masih tak cukup tahu apakah esok masih ada kesempatan untuk kembali menghirup udara.

Aku menyadari itu dan hanya perlu itu untuk saat ini. Ya, expect nothing sebagai penerimaan dan rasa syukurku untuk hari ini.

Hujan Mimpi
Tangerang, 13 April 2016

cc : @kitasulawesi

Tidak Ada; yang Aku Perlakukan, -Sebaik Aku Memperlakukanmu

Kamu istimewa, untuk melihatmu biasa saja, -aku tak bisa. Melihatmu dengan sederhana, aku tak mampu. Bagaimana bisa sesederhana senyummu yang merekah, membahagiakan aku dengan mewah?

Aku menyukai segalamu. Lantas bingung bagaimana membedakan mana suka, mana cinta. Apakah aku menyukai segalamu karena mencintaimu. Atau mungkin, -mencintaimu karena menyukai segalamu? Entah, mencari jawabannya aku lelah. Hemat kata; bersamamu, aku suka

Kamu mungkin nggak sadar. Perhatianku terhadapmu terlampau besar. Kamu kenapa, aku khawatir. Kamu berulah, aku merasa ada sesuatu yang salah. Kamu begini kamu begitu, aku gak bisa sekedar iya iya aja lalu diam terpaku. Yang ada, khawatirku malah terpacu. Bahkan, gak jarang moodmu mempengaruhi moodku. Padahal kalau dipikir-pikir, memangnya, siapa kamu?

Aku senang menghabiskan waktu denganmu, sayang. Berbicara ini itu. Sesi terbuka umbar rahasia. Meracau tanpa aturan, bertukar pikiran. Mendengarkan cerita masa lalu, melihat visimu. Mimik, intonasi, raut muka, cara bicara, emosi, gestur, semua aku perhatikan dengan saksama. Kalau kamu tanya siapa pendongeng favoritku, sudah pasti kamu jawabannya

Kamu mungkin tidak memperhatikan caraku menatapmu. Hingga pada suatu masa, -saat aku sedang menikmati indah parasmu, tak sengaja kita bertabrakan mata. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga berkali-kali. Akhirnya kamu sadar, ada seseorang yang menggilai menatapmu dalam lekat, -aku

Aku menyentuhmu dengan segenap rasaku. Membenarkan anak anak rambutmu yang berserakan. Mengusap manja; mata, pipi, telinga, lalu menyusuri jenjang hidungmu yang bernafas perlahan. Melumat keluh dari bibirmu yang aduh. Mengecup setiap inci dirimu agar ego kian menguncup. Adalah aku, yang menyayangimu seperkasa rindu

Kamu menelanjangi separuh aku yang tercipta dari rasa rasa mati yang sepi. Melucuti sunyi lantas menjanjikan pelangi. Aku berbusana mimpi, menunggangi naluri. Melewati ruang ruang maya yang hampa, menjemput nyata. Jika padamu, -sebutlah aku cinta. Apakah untukku kamu akan begitu juga?

Tidak ada yang aku perlakukan, sebaik aku memperlakukanmu. Tidak ada istimewa jika bukan kamu orangnya. Aku menyukaimu, atau mencintaimu, atau mungkin keduanya. Entah. Aku padamu saja, -singkatnya begitu

Leona (Part 5)

Jam 9 malam lewat, kampus sudah sepi. Setelah tadi sempat main capsa susun pake duit, aku berjalan ke tiang bendera, tempat yang biasanya kutongkrongi bareng teman-teman. Akan tetapi mereka semua tidak ada. Kududuk, tidak peduli kalau nanti celana jeans-ku kotor. Aku duduk, kuselonjorkan kakiku. Sementara punggungku bersandar pada tiang bendera. Di tempat aku duduk, lalu aku terpaku merenungkan hidup.

Kadang-kadang aku bingung, apa ya tujuan hidupku? Seharusnya bingungku itu sering, bukan kadang-kadang. Ini kadang-kadang aja. Jarang bahkan. Pada suatu kesempatan tertentu aku baru berpikir, “mau ke mana sebenarnya diriku ini? Akan jadi apa diriku kelak? Apa sebenarnya tujuan hidupku?”

Aku tidak tahu apa tujuan hidupku. Karena kalau ditanya, jawabnya pasti lain-lain. Aku pernah menjawab, tujuan hidupku adalah untuk membahagiakan mamaku. Aku pernah menjawab bahwa tujuan hidupku adalah untuk memuliakan nama Tuhan. Aku pernah menjawab bahwa tujuan hidupku adalah untuk membantu sesama. Aku pernah menjawab bahwa tujuan hidupku adalah untuk mati yang wajar. Dan lain-lain.

Hidup itu harus bertujuan, bukan? Lalu lihatlah diriku ini. Apa yang sedang aku lakukan, alami, hadapi. Sekarang aku ingin berkata bahwa tujuan hidupku adalah untuk melewati hari demi hari. Itu tujuan hidupku. Itulah. Seperti hari ini. Aku ingin melewati hari ini. Segera. Aku tidak ingin berlama-lama berada di hari ini. Aku bokek, duitku tadi ada 18 ribu, sekarang habis karena judi. Tumben loh, aku kalah judi. Tahu gitu aku bayar saja untuk makan. Kesal.

Bagaimana aku bisa melewati hari ini dengan cepat, bagaimana?  Itu pertanyaanku. Tanda tanya yang besar, menancap di dalam kepalaku. Tidak bisa kujawab. Kuharap tanda tanya itu akan roboh sendiri, mengingat aku orang yang mudah melupakan hal-hal yang besar.

Sebenarnya aku ini diciptakan untuk apa, ya? Muncul lagi satu tanda tanya di kepalaku. Aku ini manusia. Untuk apa manusia diciptakan? Jika menengok manusia seperti aku, barangkali jawabannya untuk merasakan lapar. Lalu untuk apa manusia harus merasa lapar? Supaya makan. Untuk apa manusia makan? Supaya bisa hidup. Untuk apa manusia hidup? Untuk merasakan lapar. Loh kok balik lagi? Ahelah! Ya beginilah orang yang lagi kalah judi. Mulai sok-sok filsuf padahal pikiran kusut.

Begini sih. Dalam hati, aku sedih juga. Betapa tololnya aku. Ini aku tak bisa pulang, tak ada ongkos. Sepertinya aku harus menginap di kampus.

Tidur di mana ya, enaknya? Aku mulai berpikir, spot mana yang sekiranya enak buat rebahan. Yang nggak banyak nyamuk, dan dibolehin sama satpam. Di mana, ya? Tanyaku pada diri sendiri. Aku bangkit dari dudukku, lalu aku menghampiri satpam kampus.

“Bang…” Sapaku ke satpam.
“Eh, Bos…” Satpam sapa balik. “Belum balik, Bos?” Sambungnya.
“Gue mau nginep di kampus. Tidur di mana ya, enaknya?” Tanyaku.
“Nginep?” Bang Satpam agak kaget dengar aku mau nginep.
“Iya. Gue nggak ada ongkos balik.” Kataku.
“SERIUS, BOS?” Satpam tambah kaget.
“Iye. Lo nggak liat muka gue kusut gini? Abis kalah judi.” Kataku.
“Emang rumahnya di mana, Bos?” Tanya lagi satpam.
“Bekasi. Pondok Gede.” Jawabku.
“Lah saya Bekasi juga. Jatiwaringin. Mau bareng?” Tawar Bang Satpam.
“Emang lo mau balik juga? Udah selesai jaga? Bawa helm dua? Yakin lo?” Tanyaku, agak nggak percaya sama kebetulan yang indah ini. Haha..
“Iyeeee… Udah…. Helm satu aja, nggak ada polisi.” Kata Bang Satpam.
“Oke kalo lo maksa. Berangkat!” Kataku.
“Tungguin, saya siap-siap.” Kata Bang Satpam.
“Lama, nggak?” Tanyaku.
“Setengah jam, lah.” Jawab Bang Satpam.
“Kalo lama juga nggak apa, namanya gue nebeng. Hahahaha…”
“Hahahaha bisa aja bos.” Tanggap Bang Satpam. Masih aja manggil aku bos. Harusnya kali ini aku yang manggil di abos.

Hoki banget. Pas lagi nggak ada ongkos, pas ada tebengan. Aku tidak menyangka, satpam kampusku bisa berubah jadi malaikat.

Aku duduk di suatu kursi kayu di pos satpam, sambil menunggu Bang Satpam siap-siap, kucek HP. Tumben Leona nggak nelpon atau SMS. Biasanya malam gini rusuh. Oh mungkin dia lagi sama Nicky. Ciye. Nicky.

Kubuka Inbox, kulihat sejarah percakapanku dengan Karin. Iseng, ku-SMS. Kuketik:

Josh:
Mau tanya, deh.

Sekitar 4 menit kemudian, Karin balas. Terus jadi SMS’an.

Karin:
Hi, Josh. Mau tanya apa? Kamu lagi di mana?

Josh:
Aku dulu dong yang nanya. Kok jadi kamu yang nanya.

Karin:
Maksudnya?

Josh:
Gini. Kan tadi aku bilang kamu, aku mau tanya. Eh malah kamu yang nanya. Gantian dong, Rin. Aku dulu nanya, baru kamu.

Karin:
O MY GOODNESS JOSH YOU’RE SO CONFUSING!!! =))) Jahil banget sih jadi cowok!!

Josh:
Aku mau nanya nih..

Karin:
Silakan, Josh… =)))

Josh:
Why?

Karin:
Duh. Kenapa apa?

Josh:
Kenapa situ bisa cantik banget gitu?

Karin:
Hahaha dasar gombal. Sekarang gantian nih aku yang mau tanya.

Josh:
*deg-degan*

Karin:
Kamu temennya Indra? Soalnya tadi aku sempet nanyain kamu ke dia, eh dia malah lupa kamu siapa. Hahahaha…

Josh:
Ceritanya panjang. Mau dengar?

Karin:
=)))) mau

Josh:
Enaknya diceritain langsung

Karin:
Nice try. Kapan?

Josh:
Jangan sekarang

Karin:
Ya nggak sekarang juga, Josh. Kamu kenapa nyebelin, ya?

Josh:
Nyebelin?

Karin:
Iya. Banget. Padahal baru kenal.

Josh:
Yaudah nggak usah SMS’an lagi. Daaa

Karin:
???

Josh:
=))) you’re cute

Karin:
Astagaaaaaaaaaaaa

Josh:
Goodnight, Karin. Ttyl. Aku mau balik kampus dulu.

Karin:
Jam segini baru balik ngampus? Kamu kuliah malem?

Josh:
Panjang ceritanya

Karin:
=))) ok take care, hati-hati nyetirnya ya

Keep reading

Cerpen: Semua Tak Sama

Canggung.

Dalam benakku lama tertanam sejuta bayangan dirimu.
Aku terdiam terpaku. Mengenyahkan detak jantung yang berdebar kencang ketika mendapati dirimu di depan sana. Aku menggenggam erat-erat tanganku, menghilangkan gemetar yang dari tadi merasuk jemariku.

Redup terasa cahaya hati mengingat apa yang tlah kau berikan.
Entah sudah berapa lama aku terdiam. Tepatnya karena tidak ada yang bisa kulakukan, padahal benakku sudah terbelah. Di satu sisi ingin segera menghamburkan diri ke hadapanmu. Di sisi lain ingin mengundurkan diri dan pergi sejauh-jauhnya karena ketidakrelaan ini. Terlalu banyak yang kau berikan, terlalu banyak yang harus kulupakan.

Waktu berjalan lamban mengiring dalam titian takdir hidupku.
Berkali-kali helaan nafas panjang kubutuhkan sebelum kukerahkan segala tenagaku untuk melangkah. Kutemukan senyum yang selalu melambungkan hatiku di wajahmu. Selalu begitu. Can’t you stop that sweet smile, baby?

Cukup sudah aku tertahan dalam persimpangan masa silamku.
Di waktu lalu, aku ingat sikapmu yang cuek atau aku yang sering mengomel panjang lebar, atau kadang-kadang pun kau keras kepala dan aku tak mau mengalah. Tapi kini semua berubah, waktu mendewasakanmu… dan aku juga. Kusadari kemudian, kali ini aku harus bangkit.

Kucoba tuk melawan getir yang terus kukecam, meresap ke dalam relung sukmaku.
Tersadarlah aku, tidak boleh kutawarkan sesuatu yang sudah kau miliki. Betapa aku menginginkanmu, betapa menyenangkannya bersamamu, dan betapa menyakitkannya memikirkanmu. Nyaris aku kehilangan logika, ketika matamu tak lagi menatapku.

Kucoba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu mengalir mengisi laju darahku.
Maka aku memilih cara paling aman; menyingkirkan segala tentangmu yang dulu kumiliki di saat-saat kejayaanku. Aku punya semuanya, tanpa kuminta. Tapi kini, sungguhkah aku tak lagi berhak memintanya? Ternyata iya.

Semua tak sama tak pernah sama, apa yang kusentuh apa yang kukecup.
Kalau bukan kamu, semuanya terasa beda.

Sehangat pelukmu selembut belaimu, tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu.
Jadi dimana harus kutemukan penggantimu?

Apalah arti hidupku ini memapahku dalam ketiadaan.
Lalu sesuatu itu menghampiriku, kehampaan. Saat seseorang yang kau anggap separuh jiwamu pergi, maka yang kau dapatkan hanyalah kekosongan, yang entah kapan akan terisi lagi.

Segalanya luruh lemah tak bertumpu, hanya bersandar pada dirimu.
Dengan kehampaan itu, aku terus membawa diriku kemana-mana. Tujuanku satu, mencari sesuatu atau seseorang yang mampu menawarkan kepedihanku, tapi entah kenapa hal itu selalu berhenti di kamu?

Kutak bisa, sungguh tak bisa mengganti dirimu dengan dirinya.
Aku tak ingin mengakuinya, tapi aku tak pernah benar-benar bisa menempatkan orang lain di sudut hati yang pernah kau huni dulu. Hatiku terasa sakit ketika aku tidak berdaya untuk mengendalikan perasaanku sendiri.

Sampai kapan kau terus bertahan? Sampai kapan kau tetap tenggelam? Sampai kapan kau mesti terlepas? Buka mata dan hatimu.
Kecuali kali ini, aku bangkit sesudah terdiam entah sejak kapan. Kedatanganku kali ini memang menegaskan sebuah penyelesaian, walaupun dalam hatiku nyaris hancur mempertanyakan sungguhkah kisah kita akan selesai?


Aku berhenti. Kita bersilang tatap di jarak sedekat itu. Lurus matamu yang tanpa perasaan itu—tidak ada kebencian, juga tidak ada rasa sayang—melunturkan gemetar yang sedari tadi kusembunyikan. Tapi aku segera meraih tangannya, melingkarkan lenganku di bahunya—perempuanmu. Pada saat yang sama, banyak rasa yang bermain di hatiku, tapi tak lagi ingin kusia-siakan kesempatan ini.

“Selamat ya. Berbahagialah.” Ucapku.
“Dan kamu juga.” Balasmu menyalamiku.

Samar-samar suaramu, tapi cukup keras dalam ruang pendengaranku, cukup kuat menancap dalam benakku. Dan kuyakinkan pada diriku sendiri, setelah ini aku harus bisa…
Relakan semua.

#memutar: Padi – Semua Tak Sama

Selamat pagi, perempuan. 💋

“Jangan jadi perempuan yang sulit dimengerti dan hanya ingin keinginannya dituruti. Jangan. Sebesar apapun egomu sebenarnya ingin demikian.

Karena… untuk menjadi mudah dimengerti bisa dilakukan dengan mencoba menjelaskan, meski pada banyak hal tidak ditanyakan.

Dan seringkali kita terpaku pada gender. Merasa mencintai hanya tugas salah satu lalu abai pada yang lain. Hubungan langgeng tak begitu.”

#tiasetiawati
#instastory
#pesanuntukperempuan
#karenapuisiituindah

Made with Instagram
Kesalahan terbesar seorang atasan yang menghilangkan rasa hormat bawahan; terpaku pada hasil, tidak menghargai proses, tidak ingin tahu kesulitan apa yang dirasakan bawahan hanya mengerti memecut hingga nyeri.
— 

Semoga kelak jika diberi kesempatan untuk menjalankan amanah serupa bisa lebih menghargai sesama.

Jika tidak bisa membantu, setidaknya menghargai. Karena penghargaan paling berarti bukan yang dilayangkan karena melihat hasil, namun menghargai mereka yang sudah berproses.

●○
[A-tel-o-pho-bia]
The fear of imperfection. The fear of never being good enough.

Kita sebagai manusia seringkali merasa tidak pernah puas atas apa yang telah tercapai. Seringkali merasa kurang ini dan itu. Seringkali merasa segala sesuatu berjalan tidak sesuai dengan harapan. Salahkah? Tidak, hanya saja kadarnya yang tidak perlu berlebihan. Hasil adalah apa yang didapat oleh perilaku dan ikhtiar kita sebagai manusia. Bila hasil yang diinginkan adalah sempurna, mengapa tidak melakukan yang terbaik dalam prosesnya tanpa harus jauh memikirkan kemungkinan untuk menjadi tidak sempurna? Mengapa harus selalu terpaku hanya pada pemikiran hasil yang sempurna sedang kerap melupakan proses yang sedang dijalani? Bila sudah merasa melakukan yang terbaik tapi kerap merasa tak sempurna, mungkin syukur yang masih kurang dihaturkan.

Jadi, sudahkah rasa dan ucap syukur kita lebih banyak daripada rasa dan ucap ketidakpuasan?

Made with Instagram
Aku tak peduli kamu mau menganggapku masih cinta atau tidak, tapi yg jelas, sendiri itu tak selalu mengartikan bahwa aku pemilih dan sedang menunggumu. Mungkin bisa saja aku lagi menikmati kebebasan bisa terbang tanpa harus terpaku pulang.
Pintu Kebahagiaan

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan.

Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak dapat melihat pintu lain yang dibukakan untuk kita.

Dalam hidup, terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. 

Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia.

Karena bahagia tidak melulu soal apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan.


c) 2012

Diamku

Dalam diamku, aku terusik. Waktu berjalan seolah semakin cepat, aku tidak sanggup berlari, aku hanya berdiri bergetar di tempatku, dan aku merasa lorong-lorong di bangunan ini semakin mengecil menghimpitku.

Aku terhimpit, terhimpit antara rasa kecewa yang kubendung sendiri. Ingin rasanya tidak peduli, tapi dayaku tidak mampu. Gadis itu menoleh padaku. Memberikan isyarat.

Rasanya aku ingin menikam waktu, tapi tanganku tidak dapat bergerak. Aku diam, aku terpaku, rasanya aku sudah jatuh beberapa saat yang lalu.

Hatiku seperti terhantam, melihatmu perlahan menjauh, jauh, semakin jauh dan tidak menoleh sedikitpun. Hingga punggungmu semakin hilang dari pandanganku.

Aku masih terdiam di tempatku.

Asal kau tahu, dalam diamku, aku tidak pernah sungguh-sungguh diam.

Batinku terus memancarkan do'a-do'a agar kau kembali.

Meski berat, meski harus merintih, dan meski jejakmu tidak lagi bisa kuraba.

Sungguh, aku akan terus berdo'a.

Bogor, 6 Mei 2016 | Seto Wibowo