terpaku

Sejak Rindu Bercabang Api


yang berkelindan sepi itu bibirmu. terkatup sejak jarak terpaku pada waktu. sejak rindu bercabang api. membakar sisa ingatan-ingatan. pada kata-kata yang ingin pulang. untuk mata-mata yang entah bersembunyi di mana. dan telinga-telinga yang hampa.

September, 2013

Terkena Sindrom Terpaku

Saya sedang ingin menulis banyak. 
Banyak sekali.
Sedihnya, saya sedang terkena sindrom terpaku.
Terpaku saja di depan background putih yang siap menerima banjiran huruf.
Entah kenapa, tetapi saya sedang bahagia.
:)

undangan...

sepucuk undangan itu tiba-tiba mampir ke hadapanku…

bertuliskan nama kedua mempelai yang saling berdampingan..

seperti sungai dan alirannya..

merah muda…

begitu lembut, manyiratkan arti cinta dari dua insan yang ingin memadu kasih..

dan menggenapkan setengah agamanya..

ketika ku telisik,

wanita yang akan mengadakan ritual suci itu tak lebih tua dariku..

dan tak lebih muda, sepadan denganku..

aku terpaku, ia yang aku lihat hanya sebagai wanita biasa yang tidak terlalu fanatik akan agama, mampu menggenapkan agama di usia yang semuda itu..

sedangkan aku??

yang di gembar-gemborkan oleh mereka memiliki pengetahuan agama yang cukup lumayan..

namun, belum bisa menggenapkan setengah agamaku..

haaaahhhhhh…

hembusan nafas yang begitu dalam mengalir begitu saja…

beriringan dengan doaku yang mengalir begitu saja..

“Ya Rabb, izinkan aku mempercepat penggenapan setengah agamaku!!”

6februari

Terima kasih bunga kertasnya, bunga pertama darimu itu akan aku simpan baik-baik, bunga kertas yang memilki banyak arti. Hari ini tak akan terlupakan, caramu berbicara saat berbicara membuat aku terpaku, bahkan tak mampu berkata-kata. Terima kasih sebanyak-banyaknya, kamu cukup berhasil membuat aku berbahagia

Thanks, New York!

Saat membuka halaman facebook, saya menemukan foto ini dari fanpage Humans Of New York.

Humans of New York adalah photo blog seorang fotografer bernama Brandon Stanton, yang sejak 2010 mengumpulkan portrait penduduk New York dan membagikan cerita-cerita unik mereka.

Saya mengikuti instagram Humans of New York sejak lama, namun ketika melihat postingan foto ini di Facebook, saya terdiam sejenak dan terpaku membaca captionnya yang hanya empat kata.

“Seen in Central Park”

Tapi saya tertegun bukan hanya karena fotonya, tetapi juga komentar-komentar di bawahnya. Bukan komentar yang menyudutkan, tetapi justru kalimat-kalimat yang menyejukkan hati.

Dari seorang Ateis:

“As an atheist who lives in Scotland’s largest Muslim community, this is not offensive. People praying is not offensive. Intolerance is offensive. Racism is offensive. Unkindness is offensive”

Dari seorang Christian:

“Never be ashamed of your faith. We know that Islam is religion of tolerance, and that the terrorists are extremists who are not real Muslims. Peace and love from a Christian”

Dari seorang Yahudi:

“I’m Jewish but everytime I see a person pray no matter the religion it makes me so calm and peaceful. like those Muslims in the photo, with all the day rush ,work, noises..they stop everything for a while and connect to god.

Dan komentar lainnya yang membuat saya malu sendiri:

"I admire how Muslim people can reserve time to be calm, pray, reconnect, be grateful, be mindful… five times a day! I want that for myself”

Karena seringkali masih menyepelekan sholat, sok sibuk dengan urusan dunia dan menempatkan sholat di prioritas terakhir.

“I think it’s so wonderful that people take time out of their day to realize that there is something so much more important than whatever they are doing right at that moment. Prayer is a powerful thing”

Yang bukannya semangat, malah suka malas kalau dengar adzan. Padahal mereka bilang adzan bisa menjadi indah, bahkan di telinga mereka yang bisa jadi tidak memahami maknanya seperti kita

“When traveling in Muslim countries, one of my favorite sounds is the call to prayer. I remember sleeping on a rooftop in Mali and being awakened by the morning call under a still dark, star-studded sky- so beautiful!”

Terima kasih untuk tamparan yang mengingatkan, kejujuran yang membahagiakan, dan kata-kata yang menyejukkan. Terima kasih untuk penghormatan yang diberikan kepada kami umat muslim. Semoga kita semua bisa selalu menjaga kerukunan dalam perbedaan, di mana pun kita berada.

Thanks, New York!

Cinta Tak Menanti

Memikirkanmu telah menyita banyak waktu

Padahal kau belum tentu jodohku

Atau, lebih baik kita menikah saja?

Aku sih tak masalah..

Hanya, apakah kau siap melangkah?


Lima menit aku tunggu jawaban,

Jika tidak, jangan salahkan aku melangkah bukan denganmu

Karena cinta tak pernah minta untuk menanti

Jika siap, melamar pergi

Jika belum, belajar berbesar hati


Ya, karena cinta tak pernah meminta untuk menanti

Maju tanda besarnya keberanian

Mempersilakan tanda dalamnya pengorbanan


Ah, jangan terpaku begitu kawan..

Ini hanya catatan biasa, Motivasi untuk mereka yang siap melangkah

Hiburan bagi mereka yang sedang “mengalah”

Ingat, kalau jodoh tak kemana.. :D


Rumah, 16 Rajab 1436 || Sen @SenyumSyukur ^^

Catatan terkait :

- Cinta Tanpa Kabar
- Jangan Mau di Gantung

tertanda, padamu.

Pertama-tama, tak akan kupastikan ini cinta untuk kemudian meninggalkanmu dalam luka melebihi yang sudah kau punya. Tak pula bisa kujanjikan akan kusembuhkan atau pula kuhapuskan, tidak dengan atau tanpa kepastian kita akan kembali jumpa bersama rasa yang sama syahdunya dengan yang kini kita simpan.

Aku tidak akan memintamu untuk tinggal. Iya titik, tanpa walau. Karena di dalam kepala ini sedang gundah-gundahnya mencoba menendang ego ingin melangkah pada kenangan tentang keberduaan kita, meninggalkan tanpa apa yang senyata-nyatanya di depan mata.

Kamu, pula jangan katakan melebihi rindu, rasa yang kini membuatmu… bolehkah kusebut terpaku padaku? tidak, jangan katakan. Jangan biarkan aku lupa, melarikan diri dari apa yang harus dan sedang aku hadapi kini. Aku tahu yang akan kamu katakan bukan rayuan, mungkin keinginan dan kejujuran. Tapi di atas semua, tidakkah kita tau kita tengah berandai?

maka kalau ini menyakitkan, pergilah perlahan, tak perlu ucapkan perpisahan atau sekedar permisi untuk hati. Melangkahlah ke depan pada jalan panjang yang membentang. Pada tiap perempuan yang akan kau limpahkan pelukan kelak, iya mungkin aku akan terluka, tapi biarlah. Nikmatilah.

Dan maaf sayang, maaf aku tahu kamu membenci segala ungkapan ini, sungguh maaf. Aku telah membawamu masuk ke dalam pekarangan rumah yang belum juga setengah jadi. Menyajikan teh pada petang kenangan, bersama tawa yang mungkin mengundangmu untuk memandang.

Dan untuk kini, sampai jumpa.

Dan Aku Luruhkan Semua Tentangmu, Kini

Selamat menempuh hidup baru, ucapmu seraya tersenyum. Kamu, lelaki bertubuh jangkung, dengan potongan rambut rapi, mengenakan jas hitam melekat yang terlihat pas dengan tubuhmu.

Aku terpaku tiba-tiba melihatmu tidak dikejauhan,tapi di sini. DI sini benar-benar di depanku. “Terimakasih” ucapku seraya tersenyum. Entah aku harus berbicara apalagi. Ternyata hari ini kamu datang, pada hari yang menurut semua orang menjadi hari berharga bagiku.


Satu minggu yang lalu aku masih menghubungimu, masih berbincang dalam kata-kata denganmu, masih mendengar suaramu. Tapi hari ini aku menemukanmu, dalam senyum yang entah maknanya seperti apa. Adakah luka di sana? Namun mengapa senyum itu begitu tulus, begitu bebas dan tanpa beban. Secepat itukah kamu melupakan luka sayang?

Karna bahkan aku masih tersenyum sendu. Aku harus tersenyum hari ini, bahkan berhari-hari sejak aku menerima pinangan dia yang saat ini berdiri disampingku. Entah bagaimana sampai akhirnya aku menerima semuanya. Ini adalah salah satu permintaan ayahku. Ayah mengenalkan aku pada seorang koleganya, dan melihat usiaku yang sudah cukup maka ayah ingin aku segera mendapat pendamping. Kau tahu? Aku sudah berusaha memastikan kamu yang berada di sisiku saat ini, ageng. Tapi ayahku tetap berkata tidak, setelah hubungan kita yang sudah satu tahun dan tidak ada tanda-tanda kamu akan melamarku. Kali ini aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya bisa mengiyakan keinginan ayahku. Karna dengan berbagai penjelasan, ayah tetap bersikeras dengan keputusannya.


“Selamat berbahagia” ucapmu kemudian.
Lalu aku harus berkata apa, hatiku teriris disini. Aku memang terlalu, hingga aku memberikanmu undangan tanpa ada penjelasan. Tapi entah bagaimana aku menjelaskan semuanya geng. Aku bahkan masih sayang kamu geng.

Tapi kali ini harapku luntur. Aku tak bisa menggenggam tanganmu di depan semua orang dalam pernikahanku. Karna ternyata pernikahanku adalah pernikahan yang berbeda dengan pernikahamu. Kita ternyata tidak ditakdirkan berdiri berdampingan pada hari berbahagaia itu.

Aku tidak lagi bisa berbuat banyak sayang. Aku kini hanya bisa merelakan hal yang belum ingin ku relakan. Aku membiarkanmu berjalan melewatiku dan suamiku saat ini. Aku tak lagi bisa menitikan air mata kali ini. Entah karna sudah terlamu lama aku menangis, atau terlalu lelah menangis. Hanya saja mataku sendu.


Aku masih melihatmu dikejauhan. Berjalan begitu terburu seolah kamu mengejar sesuatu. Kamu sempatkan menengok ke arahk untuk terakhir kali. Dan kamu meninggalkan gedung yang kini berbalut warna emas kemerahan.

Itu saat terakhirku melihatmu, seminggu yang lalu di pesta pernikahanku. Pada hati yang sendu, aku hanya bisa meredam rasa. Meninggalkan cinta, mengubur luka. Kamu juga kan?

Kali ini aku tidak berusaha menghubungimu, tidak berusaha melihatmu di kejauhan, ku pikir itu hanya akan melukaiku saja kali ini. Jadi ku putuskan aku merelakan. Meski tidak mudah, meski hati kini tersayat, terus menerut tersayat. Bukankah kita tak bisa menjawab siapa jodoh kita sebelumnya geng? Dan pada akhirnya waktu menjawab tanya kita. Apakah kita berjodoh? Dan waktu tegas menjawab tidak. Dalam sekejap dan tiba-tiba. Semua berubah.


Maka kala itu hatiku tidak  juga menjadi baik. Pelaminan itu, bukan mencipta lengkung senyum suka citaku. Ada luka yang aku sembunyikan. Ada tangisan dalam diam yang aku tahan, demi senyuman orang-orang yang aku cintai. Dan aku luruhkan semua harapku tenang cinta kita saat itu. Aku menyerahkanmu pada semesta, aku menyerahkan cinta kita dan aku mengakhiri pengharapan. Pengharapan tentang kita.


Gambar diambil dari google

Suasana PESTA gowithepict
Purworejo,  25 April 2015 10.26 WIB


This is yours pinkypinky10
Dari sini nih~

Aku ndak mau terprovokasi oleh hati. Hanya kadang ku rasa berat ‘tuk meninggalkan mata terpejam sementara degup jantungku berpacu kala teringat dia diantara do'a. Aku akan mengurangi kata-kata, ingin kugapai restu semesta yang tak hanya terpaku pada cinta.

Melihat para lansia yang sakit, terpaku merenungi diri sendiri: seperti apakah aku nanti. Ada yang usianya sudah begitu renta, tetapi omelan dan sumpah serapahnya tak putus-putus. Membentak-bentak melempar makian.

Ada yang sakit, usia juga sudah renta, tetapi sikapnya tenang. Tak banyak mengeluh, tapi banyak menceracau, baik di saat terjaga maupun tidur.

Alangkah bahagianya mereka yang di saat sakit di hari tuanya dipenuhi mengingat Allah Ta'ala yang ditandai dengan banyak menyebut asma Allah, mengucap kalimat-kalimat thayibah.

Pertanyaannya, apa yang dapat mengantarkan kita ke arah sana?
—  Mohammad Fauzil Adhim
Dan aku luruhkan semua tentangmu, kini

Selamat menempuh hidup baru, ucapmu seraya tersenyum. Kamu, lelaki bertubuh jangkung, dengan potongan rambut rapi, mengenakan jas hitam melekat yang terlihat pas dengan tubuhmu.

Aku terpaku tiba-tiba melihatmu tidak dikejauhan,tapi di sini. DI sini benar-benar di depanku. “Terimakasih” ucapku seraya tersenyum. Entah aku harus berbicara apalagi. Ternyata hari ini kamu datang, pada hari yang menurut semua orang menjadi hari berharga bagiku.


Satu minggu yang lalu aku masih menghubungimu, masih berbincang dalam kata-kata denganmu, masih mendengar suaramu. Tapi hari ini aku menemukanmu, dalam senyum yang entah maknanya seperti apa. Adakah luka di sana? Namun mengapa senyum itu begitu tulus, begitu bebas dan tanpa beban. Secepat itukah kamu melupakan luka sayang? 

Karna bahkan aku masih tersenyum sendu. Aku harus tersenyum hari ini, bahkan berhari-hari sejak aku menerima pinangan dia yang saat ini berdiri disampingku. Entah bagaimana sampai akhirnya aku menerima semuanya. Ini adalah salah satu permintaan ayahku. Ayah mengenalkan aku pada seorang koleganya, dan melihat usiaku yang sudah cukup maka ayah ingin aku segera mendapat pendamping. Kau tahu? Aku sudah berusaha memastikan kamu yang berada di sisiku saat ini, ageng. Tapi ayahku tetap berkata tidak, setelah hubungan kita yang sudah satu tahun dan tidak ada tanda-tanda kamu akan melamarku. Kali ini aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya bisa mengiyakan keinginan ayahku. Karna dengan berbagai penjelasan, ayah tetap bersikeras dengan keputusannya.


“Selamat berbahagia” ucapmu kemudian.
Lalu aku harus berkata apa, hatiku teriris disini. Aku memang terlalu, hingga aku memberikanmu undangan tanpa ada penjelasan. Tapi entah bagaimana aku menjelaskan semuanya geng. Aku bahkan masih sayang kamu geng.

Tapi kali ini harapku luntur. Aku tak bisa menggenggam tanganmu di depan semua orang dalam pernikahanku. Karna ternyata pernikahanku adalah pernikahan yang berbeda dengan pernikahamu. Kita ternyata tidak ditakdirkan berdiri berdampingan pada hari berbahagaia itu.

Aku tidak lagi bisa berbuat banyak sayang. Aku kini hanya bisa merelakan hal yang belum ingin ku relakan. Aku membiarkanmu berjalan melewatiku dan suamiku saat ini. Aku tak lagi bisa menitikan air mata kali ini. Entah karna sudah terlamu lama aku menangis, atau terlalu lelah menangis. Hanya saja mataku sendu. 


Aku masih melihatmu dikejauhan. Berjalan begitu terburu seolah kamu mengejar sesuatu. Kamu sempatkan menengok ke arahk untuk terakhir kali. Dan kamu meninggalkan gedung yang kini berbalut warna emas kemerahan.

Itu saat terakhirku melihatmu, seminggu yang lalu di pesta pernikahanku. Pada hati yang sendu, aku hanya bisa meredam rasa. Meninggalkan cinta, mengubur luka. Kamu juga kan?

Kali ini aku tidak berusaha menghubungimu, tidak berusaha melihatmu di kejauhan, ku pikir itu hanya akan melukaiku saja kali ini. Jadi ku putuskan aku merelakan. Meski tidak mudah, meski hati kini tersayat, terus menerut tersayat. Bukankah kita tak bisa menjawab siapa jodoh kita sebelumnya geng? Dan pada akhirnya waktu menjawab tanya kita. Apakah kita berjodoh? Dan waktu tegas menjawab tidak. Dalam sekejap dan tiba-tiba. Semua berubah.


Maka kala itu hatiku tidak  juga menjadi baik. Pelaminan itu, bukan mencipta lengkung senyum suka citaku. Ada luka yang aku sembunyikan. Ada tangisan dalam diam yang aku tahan, demi senyuman orang-orang yang aku cintai. Dan aku luruhkan semua harapku tenang cinta kita saat itu. Aku menyerahkanmu pada semesta, aku menyerahkan cinta kita dan aku mengakhiri pengharapan. Pengharapan tentang kita.


Gambar diambil dari google

Suasana PESTA gowithepict 
Purworejo,  25 April 2015 10.26 WIB

ENVIRONMENT

Lingkungan! Salah satu hal yang terkadang tak terlalu kita perhatikan, tapi sebenernya  memiliki peranan yang cukup penting di dalam hidup kita. Kita masih terpaku dengan kalimat, “Carilah teman sebanyak-banyaknya”,atau “Berteman itu jangan pilih-pilih”. Menurut gue, itu kalimat yang ga selalu bener, temen itu harus dipilih, temen itu harus lebih memperhatikan kualitas dibanding kuantitas. Percuma dong temen lo banyak, tapi kelakuan nusuk lo dari belakang semua? Ya meskipun sebenernya ada temen yang posisinya bisa ada di kehidupan sehari-hari kita, dan ada temen yang sekedar cukup kita kenal saja. Ada temen yang bisa diajakin berkembang, ada pula temen yang cuma bisa diajak senang-senang. 

Lingkungan! Mungkin ini salah satu alasan gue lebih suka memakai akun palsu macem begini, bukan pake identitas gue yang asli. Yaaap, bisa dibilang gue ada di lingkungan yang gue anggep ga mendukung gue buat doing thing like this. Bukannya mau underestimated sama lingkungan pergaulan gue, cuma ya gimana lagi, gue ada di pergaulan yang lebih suka ngebahas dan menuhin kebutuhan slangkangan. Tiap kali kumpul, selalu tentang wanita, wanita, payudara, hotel, dan semacamnya. Makin lama ngumpul, kok rasanya gue stuck disitu-situ aja, ga ada perkembangan, tiap hari cuma ngedenger tentang bersenggama! Dan juga sepertinya mereka agak susah untuk menerima perkembangan, mungkin kalo gue ini pake identitas asli, dan mereka ngerti gue bikin akun macem beginian, gue bakal  jadi bahan bully-an untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, diketawain tiap malem, dan bisa dikatakan sok-sokan. 

MEDSOS. Media Sosial. Gue beruntung sekarang kita hidup di jaman dimana internet gampang diakses dan digunakan. Karena dengan internet, kita bisa bertemu di media sosial, ya mesti tanpa pertemuan langsung, namun setidaknya gue bisa mendapatkan ide-ide pemikiran yang beberapa langkah lebih maju daripada gue. Menurut gue, Media Sosial adalah lingkungan pergaulan yang bisa kita pilih sendiri dimana di dalamnya kita bisa menyeleksi orang-orang dengan pemikiran hebat yang ingin kita jadikan inspirasi. Banyak akun-akun kreatif di tumblr, twitter, instagram, youtube, dan lainnya. Perbanyaklah menjelajah disitu, lo bakal nemuin inspirasi-inspirasi untuk berkreatifitas. Dan tentunya akan ada hal-hal yang sebelumnya lo belum ngerti, dan lo jadi ngerti. 

Environment! Lingkungan adalah salah satu aspek untuk kemajuan kita. Percayalah, meskipun memang sebenernya kemajuan kita itu sangat bergantung pada diri kita sendiri, pada keinginan dari dalam untuk berkembang, namun juga perlu didukung oleh lingkungan yang bisa mengakomodasi pemikiran lo. Jadi, kita perlu pinter-pinter memilih pergaulan, pinter-pinter milih temen. Temen itu bukan mereka yang cuma ngajakin lo seneng-seneng doang, tapi juga ngajakin lo berkembang, ngajakin maju bareng. Dan berdasarkan pengalaman gue, ketika lo ga nemuin orang-orang yang punya pemikiran yang sejalan dengan keinginan berkembang lo, inget! masih ada media sosial, dimana lo bisa nemuin berjuta orang-orang kreatif dengan karya-karyanya disana, yang bisa menginspirasi dan keinginan berkembang lo bakal makin naik! inget! berkumpul dengan penjual minyak wangi, lo bakal ketularan wangi minyak wanginya. 

Embun selalu menyambut daun kala pagi
Kala sinar mentari mengintip dari dedaunan
Kau berada disana
Memandangi embun yang memeluk dedaunan

Gadis kecil dengan senyum indah,
Bermain bersama embun
Terpaku aku melihat gadis itu,
Hati bertanya pada diri

Siapa gerangan?

Tertarik ku melihatmu
Kau lah keindahan saat pagi
Ya, kau lah
Gadis kecil sang embun

—  Arsa nugraha

ketidakpatutan yang kutunjukkan selama ini telah melemahkanku. aku lupa bahwa di luar sana masih banyak orang yang mendoakan bahagiaku. terpaku pada dirinya yang bahkan tidak menyapaku saat aku ada disebelahnya benar-benar telah membutakanku.

tulisan ini kubuat untukmu sayang, suatu saat kelak ketika kau secara tidak sengaja menemukan tulisan kecil ini, bacalah dengan hatimu. aku yang kau kenal saat ini telah mati.

tidak ada lagi yang bisa kulakukan untukmu. mengaharapkanmu untuk berkata ‘kita’ tidaklah lagi mungkin. na, saat aku tidak lagi berucap selamat malam padamu, ingatlah doa-doaku tak pernah lepas dari namamu. saat aku tidak ada menemanimu ketika kau merasa jatuh, ingatlah janjiku untuk selalu ada untukmu, doaku yang akan menyertaimu.

berharap memperbaiki hubungan kita, ah sudahlah. hanya doa tanpa jeda yang kini tersisa untukmu.

selamat malam, sayang.

Akhirnya aku memilih untuk jalan sendiri. Menikmati berteman dengan siapa saja. Tak terpaku pada 1 geng saja, tapi bisa dekat dengan siapa pun. Dan perasaan seperti ini lebih terlihat manusiawi.
116/365 KEHADIRANMU

Kehadiran adalah sesuatu yang sering dinanti. Ia nya menandakan datangnya sesuatu yang ya, manusia selalu menginginkan “pertambahan” meski dibalik setiap pertambahan pasti akan ada sesuatu yang berkurang.

Seperti kehadirannya kali ini. Seorang manusia halus, kecil. Yang kedatangannya ditunggu-tunggu dan akan disambut banyak keluarga. Yang detik-detik kedatangannya memberikan ketegangan dan titik kedatangannya berhasil membentuk lengkung senyum orang-orang sekitarnya. Yang kedatangannya mampu menghapus rasa sakit seseorang yang akan ia panggil ibu. Yang kedatangannya juga bisa melepas kekhawatiran seorang ayah kepada dua orang yang dikasihinya. Ibu dan dirinya sendiri.

Kemudian kedatangannya ini akan mempengaruhi pola hidup orang-orang disekitarnya. Kebutuhannya akan segera dipenuhi meski jam tidur terganggu bahkan berkurang. Meski harus mondar-mandir kesana kemari. Meski harus berkali-kali melakukan hal yang sama demi memenuhi keinginannya. Kehadirannya dinantikan.

Menatap ia yang baru saja hadir ke tengah-tengah keluarga membuat mata terpaku dan hati berdegup. Benar-benar Kuasa Allah saja yang bisa membuat semua ini terjadi. Mendatangkan sesuatu, menciptakan sesuatu dari yang asalnya tiada menjadi ada. Menjadikannya tumbuh berkembang didalam rahim ibunya dalam proses yang diluar nalar. Awalnya hanya sesuatu yang melekat dalam rahim, kemudian menjadi segumpal daging yang lalu berkembang menjadi tulang belulang. Lalu tulang belulang itu dibungkus dengan daging dan jadilah manusia baru. Bahkan didalam tubuh kecil itu pun ada organ-organ yang lebih kecil yang sudah berfungsi dengan baik. Sungguh proses penciptaan manusia yang luar biasa dan tak terbayangkan. Melihat tubuh kecilnya, melihat kuasa Illahi.

YouTube

Selain hari buku, hari ini YouTube pertama kali meng-upload video. Jadi ingat, betapa senangnya aku dengan situs web berbagi video ini. Aku dapat berjam-jam terpaku di depan layar ponsel atau komputer hanya untuk YouTube. Mulai dari nonton video yang bener, sampai yang nggak bener. Kadang buka yang iya-iya, kadang buka yang nggak-nggak juga. Hahaha.

Mulai dari klip lagu, trailer film, film, video lucu macam prank, video orang lagi main games, video orang nge-cover lagu, video orang ngomongin orang lain (gosip, red), video orang masak, video orang makan, video orang bereaksi atas video orang lain atau hal-hal lain, video diet dan workout (yah ketahuan), sampai yang paling bener seperti video orang ceramah, dan masih banyak lagi.

Entahlah, antara senang dan sedih dengan kecanduanku ini.