temene

Curhat : Kehormatan Diri di Zona Instagram

Akhir-akhir ini saya jadi resah sendiri sama judul di atas wkwkwkwkwk. Mungkin yang baca bakal menggumam: ih whyyyyyyy so serious? Ya namanya juga Apik. Tapi saya mending serius daripada terlena dalam beragama :D


Rasanya diingatkan berkali-kali baik dari buku, quran, maupun kajian. Tentang pentingnya seorang perempuan menjaga kehormatannya, pun kehormatan suaminya, kehormatan keluarganya. Perempuan bisa punya kunci surga kalau menjaga itu. Dan bisa ekspress punya kunci ke neraka kalau sudah hilang rasa malunya, sudah hilang upaya penjagaan kehormatannya.


Apalagi di era-era seperti ini. Yang tingal post atau share bisa cepat sekali informasi/konten itu menyebar. Wussssss. Sangat visual, dan banyak orang yang justru pengen ‘terlihat’. Terlihat sebenernya nggak papa ya, asal koridornya positif. Kalau nyerempet menggadaikan kehormatan? Kita harus hati-hati :)


Fenomena beli followers juga bisa berkaitan kalau ditelaah lebih lanjut. Ada motif biar terlihat, jadi selebgram, dipuji dan dapat endorse. Ladang bisnis baru untuk cari uang. Karena hari gini tarif endorse juga lumayan XD. Fenomena beli followers untuk personal juga bisa jadi investasi buat balik modal kalo udah diendorse dan paidpromote. Plusnya, jadi hits juga. Sesuatu yang cukup penting jaman now 😄😄😄😄.


Padahal hadistnya jelas : “Peliharalah untuk menjaga diri kamu dengan harta kamu.” (HR Ad Dailami). Kehormatan diri jauuuh lebih berharga daripada harta. Kalo bisa pake harta buat jaga diri, lakukan. Bukan sebaliknya, kehormatan diri dikurangi buat harta :D. Eh kok malah bahas itu hihi, berhubung nggak lagi menyoroti tentang itu. Skip dikit dulu :D


Menjaga kehormatan yang dimaksud yang seperti apa? Dalam Islam kita mengenal kata Iffah. Iffah disini adalah upaya penjagaan diri dari hal-hal yang tercela. Memelihara rasa malu termasuk salah satunya :)


Di negri bebas berekspresi alias sosial media, khususnya di Instagram yang sangat visual, penjagaan kehormatan nggak bisa serta merta menjadi bawaan kita darisononya. Penjagaan kehormatan perlu dipupuk dengan bijak dan selalu diupdate, diasah kembali pemahamannya.


Lucunya, instagram sekarang cenderung mentrigger penggunanya untuk makin membuka tabir kehormatan supaya makin asyik. Apalagi sejak kelahiran IGstory. Filter makin sip, makin unyu dan banyak pilihan. Makanya mungkin sering ya berseliweran di timeline stories kita; posenya sebagai muslimah nggak semestinya–yang manyun manyunlah, gaya duck face, gaya fish gape yang mulutnya agak mbuka biar menggodah, kedip-kediplah, cerita manjah, dsb dsb wkwkwkwkwk. Kadang juga upload tentang kelucuan plus keromantisan dia sama pasangan halalnya, tapi kadang salah kamar, yg terlalu romatis ikutan kesebar juga haha, malah kadang ada juga yang merendahkan suaminya, bisa yang suaminya didandani sedemikian rupa, yang diisengin, kadang juga upload aib-aib kecil (yang kadang lucu sih, tapi itu aibnya suaminya gitu. Tapi ini subjektif sekali ya. Kembali ke kebijakan privasi masing-masing. Heu.) Karena ya memang fiturnya menggoda bangettt, bisa banget bikin lucu, bikin kita cantik, bikin lebih menarik. Bikin kita juga diapresiasi temen-temen. Bikin keasyikan dapet respon komentar-komentar yang masuk.


Tentu, kalau kita bijak, gimanapun asyiknya filter-filter–kita nggak akan tergoda.


Tapi saya ini labilnya tumpeh-tumpeh…kadang masih banyak tergodanya. Kadang juga pengen euy lucu lucuan begituuu. Perlu banyak diingatkan hahaaaaa.


Jadi seringkali, saya berusaha mati-matian untuk nggak mempublish foto selfie kekinian penuh filter genit atau pose-pose lucu suami saya yang pengen saya abadikan (padahal IG story nggak abadi. Cuma 24 jam. Catatan amal kita abadi. Pft). Seberusaha itu :“”“”) Sampe kadang melobi, “mas boleh nggak aku upload ini? Lucu banget.”


Dulu saya bete, masa gini-gitu aja enggak boleh. Tapi ternyata, beban kewajiban suami gede juga ya buat mendidik dan menjaga istri. Dulu juga pernah disidang sama ayah ibu pas pasang pose melet jaman facebookan. Hahaha. Ternyataaaa kewajiban menjaga anak perempuan itu lumayan berat. Pelan-pelan saya ngerti…


Ternyata, selektif mengupload juga upaya saya beribadah. Menjaga kehormatan saya dan menjaga kehormatan suami, kehormatan keluarga. Bagi yang belum nikah ini juga upaya penjagaan diri yaaa dari laki-laki. Hehe kita kan gabisa tuh memisahkan diri secara utuh dengan laki-laki dalam bergaul, tapi kita bisa membatasinya 😄.


Selepas nikah saya jadi lebih sadar soal ini, mungkin dulu pas single belum kerasa ya. Masih pose macem-macem. Pecicilan. Suara mendayu-dayu. Foto cantik biar menarik. Tapi sekarang, saya jadi lebih hati-hati. Jadii yang belum nikah dan udah berupaya sedemikian rupa menjaga kehormatan, masyaAllaaaahhhhhhh huhu. Karena saya nggak bisa ngulang jaman gadis, jadi ikhtiarnya nanti disalurkan ke mendidik anak-anak gadis kelak. Pemahamannya dipupuk dari sekarang wkwkwk.


Jadi sekarang saya ngewanti-wanti diri saya sendiri: kalau saya malu-maluin, kalau saya nggak menjaga diri saya sendiri, suami saya, ayah saya, dan adik laki-laki saya juga kena hisab. Kami semua kena. Cuma karena postingan-postingan saya. Oh. Ya Rabb. Mahalnya harga menjaga kehormatan. Semoga, kita senantiasa dimampukan yaaaa.


Hahaaa curhatnya panjang sekalii. Semoga jadi manfaat. Kalau ada salah persepsi, bolehlah di kolom komen. Semoga bisa saling belajar :D


*Disclaimer : sekali lagi, ini subjektif sekali. Kembali ke kebijakan privasi dan standar temen-temen sendiri. Semoga tulisan ini dihitung upaya untuk mengingatkan sesama muslimah, kan kita bersaudaraaaaa :)

3

Alhamdulillah, berawal dari iseng-iseng dan penasaran, akhirnya kalender puasa versi wallpaper handphone dengan desain ala ala Tumblr kelar juga~

Setidaknya sekarang memudahkan buat ngecek jadwal puasa sunnah berdasarkan bulan masehi tanpa harus capek-capek ngeliat kalender cetak yang digantungin di rumah maupun jadwal puasa di Google Calendar hehe.

InsyaAllah, yang versi wallpaper desktop (PC maupun laptop) lagi on progress dan pengerjaannya kolaborasi bareng beberapa temen juga. :D

Oiya, ada yang pengen wallpaper kalender puasa kayak di atas juga kah? Bisa langsung reply atau reblog aja ya, it’s free! :p (Nanti akan saya kasih file desain yang hi-resolution. Tapi sebenernya kamu bisa langsung juga kok save image di atas, cuma mungkin kurang bagus aja resolusinya hehe.)

Semoga bisa bermanfaat. :)

@sinisterspooks Uhhh I don’t know if I’m gonna McFinish the 5K words this ficc needs to be so take what I have written of this percussion boys AU bc im a Fan



Jeremy’s going to come in and march and play along with a pretty little bruise right on his stupid pretty neck, and MIchael is looking forward to watching him squirm. 

“Well you look happy.” Says Rich, suspicious. “You put that kid in the hospital or something?”

“You’ll see.”

Michael keeps an eye out as the other kids filter in. Jeremy walks in eventually with the short girl he hangs around with, looking unruffled.

Oh yeah.

The DLC uniforms have high collars.

Fuck.

X*X*X*X*X

Keep reading

Belajar Dari Pensiunnya Bapak

Tiga bulan lagi Bapak saya akan pensiun. Selama ini,saya cukup terharu (sedih sebenarnya) karena Bapak tidak pernah menjadi pejabat mentereng seperti orang lain. Bukan karena saya ingin bangga, bukan. Tapi lebih kepada saya ingin Bapak bangga karena memiliki karir yang tinggi (tinggi seperti ekspektasi saya).

Seminggu lalu Bapak mengirim SMS, isinya sederhana, memberi tahu bahwa beliau telah dilantik menjadi perwira. O ya, Bapak saya seorang anggota POLRI, bertugas sebagai staff keuangan, satu tingkat di bawah kepala bagian. Bapak saya tidak pernah bisa menjadi kepala bagian, karena bukan perwira. Ketika dia menjadi perwira, masa pensiunnya segera datang beberapa bulan lagi. Tapi syukur juga, karena Bapak pangkatnya rendah, saya jadi bisa kuliah murah di ITB dulu. 

Candaan saya dengan Bapak begini, “halah Pak, gak akan ada yang tanya Bapak berapa lama jadi perwira, yang penting Bapak pensiun sebagai perwira.” 

Ketika saya bermasalah di tempat kerja beberapa tahun lalu dan akhirnya resign, Bapak menelepon saya. Beliau berpesan, “meski tinggal sebulan, apapun yang terjadi di sana, kamu harus tetap mengerjakan pekerjaanmu dengan maksimal, jangan terpengaruh. Kerjakan sebaik mungkin, tinggalkanlah kesan baik, tuntaskan.” 

Sebenarnya, tanpa Bapak berpesan itupun, saya sudah melakukan itu. Bahkan pernah di tempat sebelumnya, hari terakhir bekerja saya masih lembur di pabrik dan menemani tamu hingga pukul 12 malam. 

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan adik. Saya baru sadar, bahwa sikap saya terhadap pekerjaan adalah hasil dari contoh Bapak dan Ibu. Bapak memang sekali saja berpesan pada saya untuk bekerja sebaik mungkin, namun sedari kecil kami selalu disuguhi pemandangan tentang betapa bertanggungjawabnya Bapak dan Ibu terhadap pekerjaan.

Dulu komputer belum populer, Bapak selalu bawa buku akutansi yang super besar selebar meja, dan menulisinya dengan data - data gaji polisi. Tulisan Bapak sangat rapi, dan beliau selalu lembur setiap akhir bulan hingga tengah malam di rumah. Ibu sering membantu juga. Kata Ibu, setiap akhir bulan penyakit maag Bapak selalu kumat karena stres deadline.

Lucu ceritanya ketika Ibu memberi usul agar Bapak menggunakan komputer. Komentar Bapak waktu itu, “mana bisa, data sebanyak itu dimasukkin ke komputer yang kecil begitu? Buku akutansinya aja super besar gitu.”

Bapak dan Ibu tidak pernah mengurangi kualitas pekerjaan mereka karena kecilnya gaji. Sebelum pemerintahan SBY, gaji guru teramat kecil lah. Gaji polisi masih kecil, haha. Tapi Bapak dan Ibu tidak menjadi kendor dalam bekerja. Barangkali itulah yang membuat saya dan adik punya prinsip yang sama. 

Ada satu hal yang membuat saya akhirnya menyadari bahwa kesedihan saya karena Bapak tidak pernah punya jabatan mentereng itu bodoh. Yaitu ketika adik saya berkata, “Bapak menutup karirnya dengan kesan yang (teramat) baik. Di apel pagi Bapak dipuji - puji karena tidak mengurangi kualitas bekerjanya padahal menjelang pensiun. Di akhir pelantikan perwiranya, Wakapolreslah yang minta berfoto dengan Bapak.”

Suatu hari, atasan Bapak menyekolahkan anaknya dengan biaya yang sangat besar, ratusan juta. Saya berkelakar, “Pak, kok Bapak ga punya duit segitu sih Pak?” Kata Bapak, “Bapak cuma mau hidup tenang. Bapak emang ga punya duit segitu, tapi anak - anak Bapak gak pernah butuh duit segitu untuk masuk kuliah. Kamu dapat beasiswa, adikmu kuliah ya murah. Kalian bisa cari kuliah sendiri, bisa cari kerja sendiri, Bapak ga perlu cariin. Temen - temen Bapak itu, ya repot cariin kuliah anaknya, cariin kerjaan buat anaknya, Bapak gak perlu.”

Di akhir obrolan saya dengan adik, saya menyadari rasa syukur saya bahwa Bapak mengakhiri karirnya dengan cemerlang walaupun tidak berkalang jabatan dan uang. Saya meyakini bahwa integritas Bapak adalah keperwiraan yang sesungguhnya, lepas dari kesalahan - kesalahannya dalam bekerja.

Bapak hanya polisi biasa hingga akhir masa kerjanya. Tapi sebagai laki - laki, dia berhasil membesarkan kami. Alhamdulillah keluarga dalam keadaan diberkahi dalam segala kondisi. Anak dan mantu rukun, rejeki selalu ada entah bagaimana Allah menyampaikannya. Cucu pertama segera lahir. Bapak hanya lulusan SMEA, tapi kedua anaknya minimal sudah sarjana, yang alhamdulillah selalu berada di jalan yang gak melenceng - melenceng amat.

Semoga rezeki yang kami makan melalui Bapak selama ini halalan toyyiban, agar di akhirat tak jadi beban. 


Bandung, 15 September 2017
Untuk Bapak yang sering saya sebelin

Tres cosas no estereotípicas sobre los signos

Aries: son secretamente románticos, grandes oyentes y no son tan seguros como pueden parecer.

Tauro: establecen altos estándares para sí mismos, son más racionales que emocionales y se organizan.

Géminis: son bastante sensibles, incapaces de decir “no” a sus amigos y les encanta quedarse en el interior a veces.

Cáncer: son muy resistentes, extremadamente complejos y tienen algunos de los más diversos sentido del humor.

Leo: ponen las necesidades de los demás antes que las suyas, son increíblemente pegajosas y son personas realmente inteligentes.

Virgo: están listos para cualquier aventura, tienen problemas de confianza intensa y nunca perdonan.

Libra: son muy educados / informados, notan los detalles más pequeños y no siempre son optimistas.

Escorpio: son muy tímidos y vergonzosos cuando conocen gente, son hilarantes y todo lo que quieren es amor verdadero y comenzar su propia familia.

Sagitario: son innegablemente poéticos, se comprometen cuando encuentran a la persona adecuada y se cuidan.

Capricornio: saben soltarse y divertirse, tienen risas contagiosas y son compasivos

Acuario: están en sintonía con sus sentimientos en el interior, son carismáticos y se olvidan fácilmente

Piscis: temen a la soledad, son duros / fuertes y tienen enormes ambiciones.

Originally posted by sevmedin

Post original en ingles de @frenchzodiacgirl

En este mundo hay personas de todo tipo, desde las que tienen corazones tan puros que nunca deberían ser todos hasta quienes merecen que les rompan no solo el corazón sino la cara, personas adictas a lo que no los llena, millones de seres humanos que viven vidas que no les pertenecen, que viven por complacer, por estar “a la moda”, una gran cantidad de soñadores en silencio, miles de pensadores que no han sido descubiertos, estrellas que se ocultan por miedo, amantes que temen a amar, personas que satanizan sus vidas, pero sobre todo esa cantidad de formas, de cualidades, sobre todo eso, cada una sigue siendo un ser humano, como tú y como yo.

LØUIS BLUE

RTM : Fase-fase dalam Pernikahan

Pagi ini saya menghadiri sebuah kajian Ustadz Cahyadi Takariawan di Jogja, mungkin bagi yang mengikuti buku-bukunya, beliau memang concern dalam topik-topik terkait pernikahan. Di kajian ini hampir seluruh pesertanya adalah ibu-ibu, utamanya yang memang lebih tua daripada saya, karena memang ini pengajian keluarga. Tapi rasanya, saya juga banyak mendapat ilmu dari kajian ini dan masih harus banyak belajar. 

Supaya temen-temen juga bisa dapat ilmunya, ini saya resume kan isi kajian tadi hehe. Semoga bermanfaat yaa, tentu sudah saya edit dikit-dikit dengan bahasa saya, semoga nggak merubah maknanya. 

Ustadz Cahyadi menyampaikan bahwa ada beberapa fase dalam pernikahan.

  • Romantic Love : fase ini adalah  tahun-tahun pertama pernikahan (3-5 th) biasanya. Di fase ini masih terasa sekali manis-manisnya pasangan. Yaaa, bisa dibilang anget-angetnya lah ya :D
  • Disappointment/Distract :setelah fase romantis, akan ada berbagai penurunan dalam kualitas hubungan karena adanya beberapa missed. Nah fase ini bisa menjadi lama bisa juga menjadi singkat, tergantung bagaimana usaha pasangan untuk meredam konflik. Karena di fase-fase ini yang tadinya berbagai kesalahan bisa ditolerir, bisa berada di titik jenuh dan menjadi gampang tersulut. 
  • Knowledge & awareness : di fase ini, pasangan yang dengan cermat dan ingin segera lepas dari fase sebelumnya, akan mencoba untuk meredam konflik-konflik yang ada dengan niteni, mengamati, dan mengenali lebih detail kondisi pasangan dan hubungan mereka. Di fase ini, kedua belah pihak baiknya sama-sama berjuang dengan semangat positif agar lebih memahami lapis-lapis kepribadian dan bahasa cinta pasangannya
  • Transformation : Fase ini adalah fase yang penuh dengan penerimaan, penerimaan yang jauh lebih luas dibanding di awal pernikahan. Di fase ini tiap-tiap pasangan mulai bisa berdamai dengan keadaan bahkan mensyukuri kekurangan yang ada dalam diri pasangannya. 
  • Real Love : ini adalah fase puncak, fase paling dewasa dari mencintai. Pasangan bukan hanya sekedar suami istri, tapi juga sudah sejiwa. Cinta dalam fase ini tidak lagi menggebu-gebu seperti anak muda, justru sangat mendalam. Memang eskpresi fisik makin berkurang, tetapi ikatan emosional satu dengan yang lainnya makin bertambah. 

Saya mengamati sekaligus belajar, bahwa apa yang terjadi pada hubungan saya dan suami masih sangat-sangat awal dan perjalanannya masih membutuhkan nafas panjang. Masih jauuuuuuhhhh syekaliiiiii. Mungkin kami masih berada di tahap romantic love, pun teman-teman yang ada di sosial media. Rata-rata yang mengunggah manisnya kisah mereka, mungkin adalah mereka-mereka yang sedang di fase yang sama seperti saya. Nggak papa, semoga menjadi catatan perjalanan dan pengingat bahwa kita pernah ada di fase ini dan segera bertumbuh ke fase-fase selanjutnya. 

Saya jadi disentil, betapa masih banyak sekali yang harus saya pelajari dan pelan-pelan saya lakukan untuk menyeimbangkan hubungan saya dan suami. Masih banyak bahasa-bahasa cinta #tsah, yang perlu saya mengerti. 

Dan di luar sana, mungkin banyak yang perlu dipahamkan, bahwa pernikahan bukan hanya soal bahagia-bahagia aja. Karena kalau itu yang dicari, nihil, pernikahan model apapun nggak ada yang lepas dari masalah dan konflik. Tapi, menurut saya pribadi, kalaulah yang kita cari itu ketaatan dan ketakwaan kepadaNya dalam pernikahan, kita bisa membuat hubungan ini jauhhhh lebih manis dari apa yang kita pikirkan. Asheeeqqqq wkwkk. 

Semoga ini menjadi catatan buat saya pribadi untuk lebih semangat lagi belajar. Karena dalam hidup berumahtangga, tiap harinya kita mendapat hal baru yang harus kita pelajari. 

Es insegura, la mayoría de cosas de la sociedad le afectan, es depresiva, y también llora por casi todo…pero tiene algo que la hace especial, no para el resto pero para mi si que lo es, ella es de esas chicas que las encuentras con miedos por dentro, y es por eso que temen entregarse por completo a alguien, pero tiene algo en la mirada que solo yo puedo entender, aunque tiene un rostro HERMOSO no es por su físico lo que me atrajo a ella, fue su manera de ver las cosas de la vida aunque todo eso sea difícil en su día a día, fue su ternura y la forma de hacer las cosas para poder sacarme una sonrisa…
( aunque sea en hojas de papel) tiene muchas metas por cumplir y lo va a lograr por que me tiene a mi, que hasta ahora he podido ser su pilar fundamental, su novio, su amigo, su amante…¿Saben? Quiero estar en primera fila, observandola triunfar y recordarle que todo lo que alguna vez creyó imposible ahora es realidad, su realidad
(ella es fantástica)
Somos muy diferentes lo se y me quiere demasiado que hasta a veces llego a pensar que no es posible que una persona quiera y se entrege por completo y más aún de esa manera, a alguien, y aunque no me lo crean estoy tan feliz de que ella exista, con momentos malos, con momentos de tristeza, con todo eso que la caracteriza siendo mujer, ella al mirarse a un espejo quizás se odie la verdad no lo se, pero lo que si se, es que ¿si ella se odia así mismo que puede esperar de la sociedad? Ama, sonríe, perdona y olvídate de los problemas y continúa que la vida es una, no es una modelo de Victoria Secret y ¿qué? Si! tiene unas libras de más y ¿qué? Así es HERMOSA. PERFECTA. PRECIOSA EN TODO EL SENTIDO DE LA PALABRA…Y saben ¿porque? Porque la amo…esto es para ella, si, la de los ojos color cafés, sonrisa tímida…y alma pervertida.
—  Poema: Para Ella por Gabriel Yunga.
Quiero

Quiero ser la clase de chica que pisa fuerte, pero con sus tacones altos.

Que llora, y a pesar de eso no deja que se le arruine el rímel.

Que se hace oír, por más bajo que hable.

Que respira y exhala fuego.

Que sabe, a comparación de lo que crea el resto, que puede y lo hace.

Que sale a correr con los lobos, brillando con sus labios rojos.

Quiero, llevando una corona de flores, ser a quien le temen los monstruos.

Honey, tell the wolves I’m home.

Memetik Buah dari Ladang Orang Lain

Enak engga sih gausah capek-capek nanem buah, gausah capek-capek nyiapin seluruh kebutuhan untuk bikin tanah subur, bahkan engga perlu nyiapin bibit, tapi buahnya bisa diambil gitu aja tanpa ijin dan abis itu dijual? Kalo engga mikirin dosa mah jawabannya pasti enak, yekan? Secara, dapet duit tanpa modal apa-apa. Tapi kalo dijualnya dengan ijin si empunya ladang mah halal-halal aja. Yang engga halal tuh ketika dijual tanpa ada ijin sama sekali dengan si empunya, haram tjuy~ That’s the main point!

Yang tadi tuh cuma analogi aja kok, jadi sebetulnya hari ini mau blabbering dikit (ujung-ujungnya sih pasti panjang)

Lemme say, perkembangan social media sekarang tuh cepet banget dan bawa banyak hal menguntungkan terutama untuk personal branding. Admit it! Gini deh, lo mau jadi apa? Desainer atau fotografer? Kalo dulu ribet harus bikin portofolio dengan nyetak ini itu dan menyiapkan beragam hal lain yang lumayan menguras isi kocek, kalo sekarang beda, sekarang mah gampang, hiasi aja blog atau instagram lo dengan hasil karya lo, trus publish dan jadiin itu sebagai portofolio. Modalnya apa? Kuota internet dan smartphone.

Atau mau jadi penulis? Cara termudahnya adalah tulis aja kepsyen panjang-panjang, rajin aja updet blog, nanti pembaca dengan sendirinya akan menemukan karya lo. As we know, penerbit-penerbit besar di Indonesia juga sudah mulai mencari tulisan-tulisan populer. Tulisan-tulisan yang berasal dari blogger yang punya pembaca, yang tulisannya disukai oleh orang lain, yang tulisannya mendapat respon dari orang lain, yang konsisten untuk nulis walaupun dunia nyepelein, ya semacem itulah pokoknya.

Kalo dulu mau jadi penulis tuh susah, bikin draft, print sampe berlembar-lembar, kirim ke penerbit, nunggu 1-3 bulan yang belum tentu langsung diterima (even sampe sekarang juga untuk mengirim naskah tulisan masih harus seperti itu). Tapi ya kalo gamau ribet untuk melakukan hal itu, kalian tinggal lakukan hal tadi—memanfaatkan social media untuk “menjual” karya lo, mengenalkan pada dunia siapa lo dan gimana karya lo.

Itu keuntungannya ada social media saat ini. Namanya hidup, ada plus ada minus, ada yang nyemangatin ada yang ngejatuhin, selalu ada yang bertolak belakang buat ngasih warna. Trus kekurangannya socmed apa? Karya lo dicopas, diplagiasi, dicuri, diakui, bahkan yang lebih nyesek lagi adalah DIKOMERSIALKAN.

Prolognya aja udah panjang kan tuh:(

Jadi gini, dua hari yang lalu ada yang nge-direct message di instagram janpi bilang bahwa,

“kak quote-nya diaku-akuin tuh”

Lalu doi ngasih screenshot quotenya. Reaksi pertama mah sans aja, da udah biasa dicomot gitu (sombong pisan anaknya teh:() Trus nanya dong,

“Ohya? Akunnya apa?”

dan dijawablah,

“@statusmantan kak, tadi aku mention kak Janpi sih, tapi abis itu komenku diapus”

Karena emang lagi gabut, langsung aja dong mau stalk akun itu, cuma pengen kepo niat awalnya mah, trus pas ngebuka dengan ig janpi, kampret moment happens, engga ketemu dong akunnya, WOW EYKE SUDAH DI BLOCK TJUY. Ku dm lah followersku tadi dengan bilang “aku diblock deh kayaknya dek, gabisa liat akunnya da” then she said, “pake akun kakak yang satunya lagi aja”

Ah, what a good idea! Ku buka dengan akun stfbl (sekalian promo gapapa lah ya ehehe), eh ketemu! Fix udah diblock ternyata akun janpi wk. Iseng lah, stalk dengan asoy, sambil mengumpat dalam hati, “uw kwotku banyak sekali yang diakuin, gapapa gapapa, ikhlas~”

Iya bener awalnya ikhlas, sampe kemudian ngeh kalo ternyata doi sudah menerbitkan buku! Karena ada say no to piracy, di salah satu postingannya. Eh emosi dong, abis itu komenlah dengan bilang,

“tidak mendukung pembajakan, tapi ambil quote orang trus diaku-akuin? Dan yang punya quote asli diblock? Duh si @hujan_mimpi kasian dong kakak”

Engga lama setelah itu, mau load more postingannya eh udah gabisa, akun stfbl ternyata diblock juga. WOW! Keren pisan da. Iseng mau buka lagi, pake akun orang lain, eh ignya yang tadi public langsung diprivate. Unch, ada yang disembunyikan dan secara tidak langsung si @statusmantan ini tau dong kalo doi salah.

Setelah itu minta bantuan temen-temen untuk kemudian nge-add akun itu, tapi emang orangnya udah takut mungkin, engga ada yang di-accept sampe sekarang, duh salah banget bersikap gini, asli. Penasaran dong, akhirnya aku dan temen-temen lain ngekepo line@-nya, dan mari ucapkanlah syukur Alhamdulillah, karena ternyata lagi-lagi quote janpi dan sederet nama tumblr lainnya juga banyak yang dicomot dan diakuin. Hahaha. Emang dasar udah panas, mas @menjalin ngekomen di postingan line@ itu dengan mencantumkan link tulisan asli, eh engga lama komennya diapus dan disable komen. Udah ini mah engga bener ini orang, bersalah wes!

Trus karena emang kepo, balik lagi liatin akun ig si kang copas ini, di bionya ada judul bukunya, trus search dong di google, kemudian ingin berkata kasar tapi masih nahan-nahan supaya engga kesulut emosi, karena tau kenapa? Judulnya hampir mirip dengan tulisanku di instagram dan yang lebih kesel adalah TAGLINE, fix dari tulisanku yang judulnya seperti itu. Mau ngoceh rasanya tapi buat apa, dan dengan membulatkan tekad, kebetulan emang hari itu mau ke toko buku, sekalian aja nyari buku itu.

Singkat cerita, buku tersebut kutemukan, dan ada yang kebuka dari wrapping-nya, jadilah dibaca memindai aja, berulang-ulang di dalam hati udah kesel karena ternyata ada beberapa yang tulisannya familiar banget. Akhirnya dengan berat hati, yaiyalah berat, kalo beli berarti nyumbangin royalti ke dia, tapi karena terpaksa dan mau membuktikan sesuatu, berangkatlah ke kasir dan beli buku itu.

BTW, KALIAN GAUSAH IKUT-IKUT BELI BUKUNYA GUYS, SAYANG UANG JUGA, DIA SIH ENAK DAPET ROYALTI. MENDING SEKALIAN AJA REPORT AKUNNYA EH :)))

Sampe rumah, dimulailah penyelidikan. Judul buku dan tagline-nya terlalu familiar, udah gitu judul buku sama tagline-nya teh jadi yang begitu dijual, jadi kemungkinan besar tulisan itulah yang menjadi main point di buku itu. Kucarilah tulisan itu, pas dibuka HAHAHAHA, bener dong tulisannya copas secopas-copasnya ummat dari tulisanku.

Mulai nyari lagi, satu dua tiga ketemu tulisanku yang dicomot, dan kemudian menemukan tulisan dari akun-akun lain yang juga diambil, contohnya nih tulisannya kak cindy aka @kunamaibintangitunamamu. Mennn, mau gimana juga engga ada credit-nya, si penulis asli mah bakal tau itu tulisannya. Inget banget di surat kontrak penerbitan buku ada tulisan bahwa, karya adalah karya orisinil penulis, bukan plagiasi. Berarti ada unsur pertanggungjawaban seharusnya kan? Bisa diusut dong ya?

Akhirnya di tengah malem, aku nge-pm editor kesayangan, nanya apakah bisa tulisan seseorang yang sudah dibukukan untuk diperkarain kalo ternyata tulisan itu adalah hasil copy paste, tentunya dengan menyertakan bukti. Dan jawaban editorku adalah, “bisa dong~ kenapa bella?”

Mungkin janpi lagi kebanyakan amarah jadinya cuma senyum jahat sambil bales chat dengan bilang, “gapapa kak, kucari buktinya dulu ya hehe.” Dan pencarian pun dimulai, nandain halaman per halaman yang aku tahu itu tulisanku dan aku familiar dengan tulisan itu. Mulailah buka archive tumblr, mulailah dengan mengetik satu kalimat di halaman yang udah kutandain di google, thennnnnn…terbukalah semua tulisan aslinya.

Aku menemukan tulisanku yang kutulis di tanggal 12 Juni 2016, judulnya Merindukanmu, sudah mendapatkan notes 255 kali, yang mana bahkan tulisan ini sudah dimusikalisasi sama mas @mangatapurnama, juga dicopas di buku ini (terima kasih untuk system archive tumblr yang membantu), padahal buku ini terbit di April 2017, plis, siapa yang lebih dulu coba ya? Belum lagi tulisanku yang jadi main point di buku ini adalah tulisanku di caption instagram tanggal 11 Januari 2017, yang bener-bener plek sama. Warbiayasak memang!

Dengan sedikit gerah melihat kelakuannya yang dengan begitu beraninya mengkomersialkan tulisan orang lain, ku pm lah bukti-bukti itu ke editorku. Dan hari ini, di tanggal 22 Mei 2017, kuserahkan masalah ini ke tangan penerbit.

Biar apa diperkarain sih? Biar ada efek jera, percayalah, kegiatan ini kalo engga dikasih ketegasan, akan menjangkit. Udah kayak penyakit menular, copas meng-copas begitu didiemin bisa menular juga soalnya. Kedengeran lebay? Bodo amat! Toh yang dirugikan memang eug, bukan lau hehe. Kalo dicomot di akun doang lo bisa bilang ikhlasin aja, tapi ketika lo udah tau karya lo dikomersialkan tanpa ijin, lo negur halus lalu diblock, apa iya masih mau untuk engga peduli?

Rejeki udah ada yang ngatur, yelah, anak sekolah juga tau itu, tapi masalahnya bukan direjeki siapa-siapanya, tapi ini tuh perbuatan salah. Lo tau salah tapi lo diem aja, itu malah lebih salah!

Aku tidak bilang ini sepenuhnya salah penerbit apalagi editor dari buku tersebut kenapa sampe bisa kecolongan, toh mereka sudah memperingatkan hal itu kepada penulis sedari awal, bahkan sebelum penulis tanda tangan kontrak ada point penulis harus bertanggung jawab penuh bahwa tulisan itu adalah hasil karyanya sendiri. Jadi ya ini mah salah penulisnya, tapi merugikan banyak pihak tentunya, penerbit dan editornya juga mau gamau jadi malu, merasa dirugikan dan jadi ngerasa punya tanggung jawab dong ya~

Kemarin malam, di saat abis pulang talkshow, masih dengan ditemani editor dan beberapa penulis lainnya yang masih juga bahas masalah ini, si admin statusmantan ngepm dong. CIAK, AKUH DI PM! Isinya adalah ucapan permintaan maaf bahwa sudah memasukkan tulisanku ke buku mereka, dan berkata bahwa itu adalah ketidaksengajaan karena admin statusmantan ada banyak. Bentar, correct me if i’m wrong, ketidaksengajaan kalo se-kalimat dua kalimat mah yaudah gapapa, tapi kalo satu tulisan penuh? Kalo engga hanya satu tulisan? Itu masih bisa disebut sengaja? Alibinya admin ada banyak? Di akhir chat doi yang masuknya langsung banyak itu, doi bilang kalo menunggu responku, eh sampe skrg chatku ga di-read dong wkwk. Hmm, mari menghela napas saja~

Ah ya, begitu masalah ini kuceritain di igstories banyak yang bilang, “sabar, pahalamu banyak”. Mennn, bukan perkara pahala, dan engga semua hal harus dihadapi dengan cara mendiamkan aja, sabar engga selamanya diam, kan? Ini lebih kepada harus ada yang menghentikan kegiatan seperti ini, biar plagiasi engga semakin merajalela. Yang dirugiin engga cuma yang karyanya dicopas soalnya. Sekarang gini deh, yang karyanya dicopas engga semuanya punya keberanian untuk nyari bukti dan ngasih bukti-bukti itu dan menuntut. Engga kehilangan apa-apa emang, tidak sampai merugikan dalam hal materil kalo diliat, tapi dari moril, ada yang bisa menjamin kalo orang ini akan tetep mau berkarya? Kalo abis dicopas dan tau karyanya dijadikan buku, siapa yang bisa menjamin orang ini akan tetep pede nge-share tulisannya di socmed kepunyaannya? Sedangkan doi juga engga sepede itu untuk ngirim naskahnya ke penerbit. Materil engga dirugiin? Masa iya? Si tukang copas yang membukukan tulisannya ini dapet royalty loh, dapet DP loh, coba kalo si yang dicopas nerbitin buku sendiri atas karyanya, royalty dan DP itu masuk ke koceknya~

Nih ya, ini edukasi sebenernya, untuk siapapun yang merasa karyanya dicopas bahkan sampe dikomersialkan dan lo punya bukti kalo itu karya lo, jangan diem aja, jangan takut, Indonesia punya hukum kok atas hal itu. Lo dirugikan dan lo punya peran besar untuk menghentikan plagiasi.

Janpi pribadi, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pembaca, followers dan siapa pun itu yang peduli pada karyaku dan karya orang lain serta bersedia untuk memberitahukan akun-akun yang hobi ngecopas tanpa mencantumkan sumber asli kepada pemilik asli tulisan. Sekali lagi, peran serta pembaca buatku adalah segalanya. Next, aku akan cerita seputar buku “Sebatas Mimpi” yang membuatku semakin peduli dengan dunia kepenulisan~

Salam hangat tapi bukan karena amarah,
Hujan Mimpi

*nb: janpi engga pernah minta tolong untuk reblog postingan, tapi kali ini, mau minta tolong share tulisan ini–entah dengan reblog atau share linknya, terserah, bebas. biar orang lain di luar sana tau, kalo menghargai karya orang lain itu perlu. dan kegiatan copas mencopas apalagi untuk tujuan komersial sangat bisa diperkarakan. makasih banyak kelean :)

What is 'Work'?

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat melakukan interview kepada salah seorang calon karyawan yang melamar kerja di perusahaan yang saat ini sedang saya bangun, sebutlah namanya Shinta. Di awal interview Shinta memperkenalkan dirinya dengan baik, dan sepanjang berjalannya interview juga menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan singkat, padat, lugas, it’s obvious she was being well-prepared.

Hingga sampailah pada satu pertanyaan terakhir, pertanyaannya sederhana:

“Menurut kamu, kerja itu apa sih? What is ‘work’?”

She look surprised.

Kali ini, dari ekspresinya kita tahu, bahwa Shinta tak menduga akan mendapatkan pertanyaan demikian. Sambil coba menjawab, Shinta terlihat lebih gugup, jawabannya tidak relevan, susunan kalimatnya berantakan, tanda otak dan mulutnya sedang bekerja bersamaan, namun terpisah satu sama lain.

Well, it’s not about Shinta. I never blame her. It’s all about the question, and what should be the answer. Right?

But, why does it matter?
Menurut saya, penting banget. Bayangin aja, kalau dipikir-pikir, dari 24 jam yang kita lewatin dalam sehari, let say kurang lebih 8 jam kita pakai buat tidur, dan 8-9 jam kita gunakan untuk bekerja (asumsi kita kerja 8 to 5). Itu kalau kerjanya ‘teng-go’ alias pulang tepat waktu, kalau lembur? bisa 10-11 jam kita bekerja. Itu belum sama waktu yang kita habiskan untuk transport berangkatnya ke kantor. Let say di Jakarta, yaa standard-nya kira-kira 1-2 jam lah sekali berangkat, pulangnya sama segitu juga, dengan kondisi harus menguras hati karena harus dempet-dempetan di KRL, atau macet-macetan di jalan. Berapa tuh totalnya? Minimal 12 jam! Bahkan kalau lembur bisa sampai 14 jam dari 24 jam yang kita punya dalam sehari. Gila ya?

Nah tapi faktanya, banyak banget orang-orang di dunia ini yang mengalami stress, bahkan depresi, karena kerja. Sampai ada yang sampai males banget ke kantor, menunggu-nunggu weekend datang dan terbeban ketika Senin tiba, sengaja berlama-lama di waktu istirahat, banyak yang menantikan hari libur, dan banyak lain hal. Buat yang sudah menikah, bahkan gak jarang karena kerjaan, gara-gara ada masalah di kantor, masalahnya hingga dibawa-bawa ke rumah tangga, komunikasi jadi gak berkualitas.

Bayangin tuh, the reason we woke up in the morning adalah untuk melakukan repeatable-action kayak yang saya sebutin di atas. Beberapa bahkan benar-benar ngelakuin itu berulang-ulang dari lulus kuliah sampai pensiun setelah puluhan tahun bekerja. Nah, pertanyaan besarnya adalah: Is that all worth it? Do we really spend our life, or waste our life? If it’s not worth it, so why do we do it?

For some reason, emang gak bisa munafik, “Ya kalau lo gak kerja ya lo gak hidup, there’s no free lunch!”. Sadly, it’s true. Nah, ini sebenarnya ya pilihan hidup masing-masing, kalau mau tetap begitu ya nggak apa juga. Tapi ya coba ditanya aja ke dalam diri sendiri: “Is that worth it?”. Jika jawabannya tidak, so there must be something wrong with you.

Trus apa tuh yang salah? Well, in my opinion, yang salah adalah cara kita memandang ‘kerja’ itu sendiri. Bagi kebanyakan orang, kerja itu ya bertahan hidup, kita kerja hanya untuk makan. Waktu yang banyak kita habiskan itu, ya sekedar untuk survive. Apa implikasinya? Buat sebagian orang, jadinya meaningless. Gak ada purpose-nya, hilang arah, sehingga yang dirasakan ya hanya berlelah-lelahnya saja, berangkat ke kantor jadi beban. Kalaupun dapat gaji, ya toh gaji akan selalu habis juga tiap bulannya, gak peduli seberapa besar gaji yang didapat (btw ini bener lho).

Menurut saya, definisi 'kerja’ yang seharusnya, adalah #berkarya. Gimana tuh maksudnya? Coba sekarang bayangin, kalau seandainya di dunia ini semua orang dapat gaji yang memadai, tiap orang sudah bisa menghidupi dirinya masing-masing, urusan survive nya sudah selesai. Lalu? Apa yang akan kita lakukan? What would you do? Jalan-jalan sepuasnya? Shopping? hang out sama temen dan keluarga sepuasnya. Oke, tapi saya jamin gak akan lama. Paling sebulan dua bulan. Or let say setahun lah. Then what?

Kerja yang membuat kita bahagia, adalah kerja yang merupakan panggilan hidup kita, based on apa yang ingin kita tuju, kerja yang sesuai dengan life mission kita. Saya jamin, berapapun gajinya, kita akan lebih bahagia. At the other side, kalau kita bekerja sesuai dengan life mission kita, maka orientasi kita pun otomatis akan berubah, yang tadinya salary-oriented menjadi accomplishment-oriented. Hidup yang kita habiskan, jadi berharga. Meaningful.
Qué flojera que seamos la generación del "o sea somos novios pero no somos novios." Es súper feo ver cómo pareciera que a todo el mundo le aterrara la idea de formalizar y tener algo increíble con una sola persona. Pero por qué, a qué le temen...¿a qué les rompan el corazón?, ¿a qué los quieran súper bonito?, es súper feo estar en medio de ese "no sé qué somos" porque ya llevan rato saliendo pero ni son novios ni son amigos, pero sí son novios, ¿me entienden? Y la verdad es que la cosa es así, "Es que no estoy listo", "Es que no puedo", "Es que no quiero hacerte daño", "Es que sí pero no", y otros mil "Es que" que al final se resumen en esto; ES QUE...ES QUE...¡ES QUE NO QUIERE!, vivimos pobreciteando y siguiendo el jueguito de las excusas de alguien para no estar al cien por ciento con nosotros y nos repetimos mil veces en la cabeza "pobrecita, si me quiere pero yo la entiendo". Cuando la realidad es que si alguien de verdad quiere estar con nosotros, está. Y no hay más. Así de fácil, sin tantos enredos, sin tantas mentiras, sin tantas excusas. Y ahora sé lo que quiero, quiero y merezco, alguien que sepa lo que tiene de la mano, que me valore y se esfuerce todos los días por mí. Quiero algo súper real, una relación que me llene de dopamina, donde pueda hablar con libertad de todo y sin miedos ser yo. Ya me cansé de amores a medias y a ratitos, de ligues eternos y amores pobres, ya no quiero más "No sé qué somos", sé perfecto lo que valgo y lo que puedo dar por alguien que me interesa, así que no pienso aceptar menos de la mitad de lo que doy. Quiero ir al cine, a cenar, a caminar, hasta de antro y que no sólo sea yo quien le grite al mundo que estoy enamorado, alguien que se gane mis besos, mis letras y hasta mi cuerpo si quiere, y no porque me cotice muchísimo ni nada de eso, pero si le voy a entregar mi vida, mi corazón y mi cuerpo tiene que ser porque lo vale. Algo en lo que los dos nos esforcemos muchísimo por lo que estemos construyendo. Porque de verdad que es lindo encontrar a alguien que complemente tu sonrisa, que aprenda a quererte tal cual eres. Con defectos, imperfecciones y siendo la única versión de ti.