tebar pesona

Pada akhirnya nanti kita akan sadar bahwa kita lebih membutuhkan seseorang yang bisa menerima dan memahami segala ke-random-an dan ke-cranky-an kita; yang tau caranya memperlakukan kita kalau lagi ‘rewel’ dan emosian.
— 

Percumalah itu segala ganteng/cantik dan dipuja-puja banyak orang kalau ndak bisa bersyukur dan menghargai yang ada.

Percuma juga ganteng/cantik kalo tebar pesona dan ngerasa ‘WAH’ banget sampe banyak gaya. Yaelah, ganteng/cantik mah fana. Mau sombong? Kurang-kurangin.

*Jodoh itu…. (baca sampai habis, biar paham)

1. Jangan menikah karena kesepian, menikah karena orang lain sudah menikah semua, tinggal kita seorang yang belum, aduhai, pernikahan itu bukan trend, yang semua orang bisa ikut-ikutan, apalagi karena nggak enak terlihat aneh sendiri. Dan terlepas dari itu, catat baik-baik, banyak orang yang setelah menikah, dia tetap merasa sepi, sendirian.

2. Jangan menikah karena alasan orang lain. Itu betul, dalam peristiwa dramatis, kita bisa segera menikah agar orang tua sempat menyaksikan sebelum meninggal, agar mereka bahagia. Tapi menikahlah karena alasan kita sendiri, jadikan itu patokan terbesar. Karena yang menjalani kehidupan berumah-tangga itu adalah kita, bukan orang lain. Dan karena, jika besok lusa pernikahan itu gagal, kita tidak menyalahkan orang lain–itu sungguh tiada manfaatnya.

3. Semua pernikahan itu punya masalah. Bohong jika ada yang bilang keluarga mereka baik-baik saja sepanjang masa. Lantas kenapa sebuah pernikahan bisa awet? Karena ada yang sabar dan mengalah. Satu-satunya bekal pernikahan yang tiada pernah kurang adalah: sabar. Punya sabar segunung, tetap kurang banyak. Punya sabar selangit, pun tetap kurang banyak. Jadi bekalnya tidak harus mobil, rumah, peralatan dapur, dsbgnya. Sekelas orang sabar saja masih membutuhkan rasa sabar ekstra.

4. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh terbaik kita. Tidak ada alatnya, tidak ada aplikasinya, dan tidak akan ditemukan. Kita baru tahu setelah kita menjalani pernikahan tersebut. Dan rumitnya, itu juga belum cukup. Banyak yang berpisah jalan setelah sekian lama menikah. Lantas kapan dong kita baru tahu persis? Tidak ada jawabannya. Nah, dengan situasi seperti itu, jangan habiskan waktu dengan cemas apakah ini jodoh terbaik atau bukan. Jika kalian muslim, tegakkanlah shalat istikharah, dapatkan keyakinan, kemudian bismillah, jalani dengan mantap.

5. Well, tidak ada jodoh yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti punya kekurangan. Ada yang ganteng/cantik pol, ternyata kalau tidur ngoroknya seperti sirene. Ada yang bertanggung-jawab nan setia, ternyata pelupa, dia lupa harus menjemput istrinya di manalah. Tapi kita selalu bisa membuat yang tidak sempurna itu menjadi indah, keren, seperti pelangi, sepanjang kita bersedia menerima kekurangannya. Orang2 yang sibuk memasang kriteria sempurna bagi calon jodohnya, akan hidup sendiri hingga alien menyerang bumi.

6. Tidak ada yang tahu kapan persisnya kita akan menikah. Eh, yang masih kecentilan, manja-manja, ternyata besok sudah menikah, atau malah punya anak dua. Yang terlihat dewasa sekali, sudah siap sekali, bahkan bijak nian bicara soal menikah, ternyata bertahun-tahun tetap sendiri. Maka, saat kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang, fokuslah memperbaiki diri sendiri. Saat kesempatannya datang, ingatlah nasehat lama, kesempatan baik tidak datang dua kali. Tapi ketika kesempatannya lolos, gagal, juga ingatlah petuah orang tua, akan selalu ada kesempatan2 berikutnya bagi orang yang sabar.

7. Pekerjaan tetap, mapan, dan lain-lain itu jangan dijadikan syarat mutlak mencari jodoh. Itu betul, sungguh menyenangkan jika jodoh kita ternyata sudah mapan, berkecukupan. Tapi boleh jadi akan lebih spesial lagi, jika kita bersama-sama menjalani hidup sederhana, untuk kemudian menjadi lebih baik setiap harinya. Lebih baik pastikan saja, semua pihak memahami tanggungjawabnya. Misal, adalah tanggungjawab suami mencari nafkah. Boleh istri bekerja? Ikut membantu nafkah keluarga? Dikembalikan ke masing2 pasangan mau seperti apa. Tapi jelas sekali, jika istri bekerja, penghasilannya adalah milik dia–soal dia mau memberikannya ke keluarga atau tidak, itu urusan dia. Tanggungjawab mutlak tetap ada di suami. Pemahaman2 seperti ini penting loh, agar kalian laki-laki yang sekarang sibuk galau, apalagi sibuk tebar pesona, tahu persis saat menikah nanti.

8. Mencari jodoh itu tidak rumit. Ini beneran loh. Mencari jodoh itu sederhana. Kalian bisa meminta orang tua mencarikan (karena itu juga salah-satu kewajiban mereka). Juga bisa minta sahabat menjadi intel perjodohan. Jodoh itu ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di angkutan umum saat berangkat beraktivitas, di mesjid, di komplek rumah, dll, dll. Tapi kenapa kadang terasa rumit sekali? Karena kitalah yang membuatnya rumit. Catat baik-baik, di dunia ini sudah milyaran orang pernah menikah. Milyaran pasangan. Nah, di mana rumitnya jika orang lain toh milyaran telah menikah.

9. Terakhir, kalau kalian mau belajar banyak hal tentang jodoh, maka jangan belajar dari novel2 (apalagi novel Tere Liye), dari film fiksi, dari sinetron, serial. Aduh, itu fiksi loh. Dikarang2 saja sama penulis ceritanya. Melainkan belajarlah dari orang tua di sekitar kalian. Kakek-nenek, opa-oma, mbah buyut, yang sudah menikah puluhan tahun, tapi tetap langgeng dan bahagia. Amati, pelajari, dengarkan nasehat mereka, itu penting sekali, kehidupan mereka bisa jadi contoh. Maka besok lusa saat kita menikah, mendadak muncul masalah serius, kita bisa meneladani mereka, bagaimana cara mereka mengatasi masalah. Itu selalu bisa jadi pelajaran kehidupan yang tiada ternilai.

*Tere Liye

Ada yang rela berlelah-lelah untuk membuatmu bahagia. Kamu malah sibuk mencari seseorang yang terlihat sebatas tebar pesona. Ada yang ingin membangun harapan baik denganmu. Kamu malah sibuk mengejar seseorang yang tidak peka padamu. Lalu, haruskah aku menunggu lebih lama? Untuk terus memahami kamu yang tidak mengerti cara memahami arti saling menerima.

–boycandra

menanamkan visi

ditulis sebagai pengingat bahwa setiap takdir itu baik, hanya saja manusia kadang salah memilih sudut pandang.

tadi saya sempet cerita bahwa sampai saya TK, saya benar-benar tidak menyadari bahwa saya berbeda. Kok bisa? ya bisa. Karena sejak lahir, saya sudah seperti ini. Sudah biasa melihat hanya dengan satu mata. Sudah terbiasa kemana-mana dengan kaki kanan saya yang meskipun kalau dipakai jalan sering kesakitan, tapi saya tetep happy buat diajak jalan-jalan.

Saya baru bisa jalan umur dua tahun lebih. Dan konyolnya, saya bisa inget masa-masa saya belajar jalan. Pas ibuk bangunin saya subuh-subuh buat nyari embun. Ada yang bilang, embun bisa bermanfaat untuk membangunkan saraf kaki. Wallahu a’lam :D Entah ilmiah atau tidak, beliau waktu itu cuma berusaha ikhtiar. Siapa tahu lewat itu, Allah mentakdirkan saya bisa jalan.

Nyatanya, saya bisa jalan pas lihat mas Ari belajar kelompok sama temen-temennya. Pas ngelihat tas digeletakin, saya ngambil tas itu. Terus bilang ke ibuk:

“Mih, adek pengen sekolah“

dan ibuk saya bilang

“Iya ayok sekolah“

dan ternyata kejutan banget, saya tiba-tiba berdiri terus bisa jalan ._. Sampe temen-temennya mas Ari sorak-sorak gara-gara saya bisa jalan ~XD Tapi kaki kanan saya sampe sekarang emang agak bermasalah. Dulu sempet pincang-pincang jalannya. Sekarang udah nggak pincang. Tapi kalo dipake jalan jauh, bagian lutut masih nyeri.

Yang saya suka dari keluarga saya adalah, Bapak dan Ibu nggak ngasih exposure berlebihan pada kekurangan saya. Saya bisa sampe ga nyadar kalo beda, karena suasana di rumah menyenangkan sekali. Semua berjalan wajar. Kami saling menyayangi plus saling meng-usil-i satu sama lain.

Baru pas TK, saya nanya ke Ibu

“Mih, mata adek kenapa?“

“Emang adek ngerasa kenapa?“

“Kata temen-temen, mata adek beda. Yang kiri buthek gitu“

ibu saya cuma senyum.

“Nggak apa-apa. Mata kirinya adek cuma luka. Sama kayak kalo adek jatuh terus luka di lutut, dan lututnya benjol. Ini lukanya di mata. Nggak apa-apa kok“

saya lega mendengar penjelasan Ibu. Tapi dunia luar memang kejam dan nggak bisa kita kendalikan. Orang tua saya tidak mengantisipasi bullying karena tidak menyangka itu bakal terjadi.

Tidak ada satu hal yang terjadi kecuali atas izin Allah. Bullying itu memang berat, tapi di dalamnya ada begitu banyak proses pembelajaran.

Bapak saya itu orang yang tangguh dan selalu memaksa saya untuk tangguh. Pas belajar motor, saya dulu sempet nggak berani dan mewek nggak mau belajar. Terus ibu saya (yang namanya ibu, selalu takut anaknya kenapa-napa), sempet bilang ke bapak:

“Nggak apa-apa Pak, adek nggak perlu belajar. Nanti susah lihat spion. Kalo jatoh gimana?“

bapak saya malah marah

“Adek itu bisa Bu. Harus dipaksa mandiri. Nanti kalo nggak bisa motoran malah kasihan. Kemana-mana mau pake apa? Kita nggak hidup terus. Anak kita itu nggak boleh selamanya bergantung sama kita. Bapak bukan nggak ikhlas nganter adek kemana-mana. Tapi tanggung jawab bapak buat ngedidik adek biar mandiri“

then pas saya nangis nggak mau belajar, inget bapak ngomong:

“Kamu milih mana, sakit karena jatoh apa sakit karena dipukul bapak?“

sambil sesenggukan akhirnya saya belajar dan saya bersyukur bisa motoran :D

Sorry ceritanya agak panjang. Kadang manusia memang cenderung berfokus pada apa yang tidak ada sehingga dia lupa mengelola apa yang ada. Alhamdulillah orang tua saya nggak overexposure sama perbedaan yang saya punya. 

Bapak saya pernah bilang: 

“Kalau kita punya cita-cita yang besar, seketika kita akan lupa sama kekurangan-kekurangan kita. Kita akan fokus mencapai cita-cita itu gimanapun caranya“

beliau juga yang ngasih nasihat:

“Apa yang Allah berikan ke kita hari ini sejatinya sudah cukup bagi kita untuk dijadikan modal mengarungi hidup, nggak usah mencari yang tidak ada“

yang perlu kita punya hari ini adalah visi dan rasa cinta yang besar pada kebaikan. 

dulu, kakak saya suka bercanda.

“Aku nggak bilang kamu cakep sih Dek :p Tapi kalopun kamu nggak dikasih cakep sama Allah, itu artinya dengan muka kamu yang kucel kayak sekarang, kamu itu udah mempesona wkwkwk preet….preet…..“

Abaikan ~XD itu cuma intermezzo karena tujuan hidup kita bukan untuk tebar pesona. Tapi bercandaan kakak saya ada benarnya. Kita kadang terlalu percaya pada persepsi yang kita buat sendiri.

untuk bisa diterima orang lain, kita harus cakep dulu. untuk dihormati orang lain, kita harus kaya dulu. untuk dapat memberi manfaat, kita harus sempurna dulu. dan untuk menciptakan rasa takut, kita harus punya senjata dulu.

Padahal itu semua cuma persepsi. Bukan fakta.

syaikh Ahmad Yassin adalah cermin bagi kita. Beliau memberi banyak manfaat untuk ummat sekalipun seumur hidup berada di kursi roda. Beliau ditakuti zionis, meskipun tidak memegang senjata.

pada akhirnya semua terletak pada kekuatan visi dan kemauan kita untuk mewujudkan visi tersebut.

Prasangka

Berasumsi dengan sebuah praduga. Membuat segalanya seolah terjadi dengan imaji dan tebakan kita.

Saat kita jatuh cinta, kita menebak-nebak. Apakah orang yang kita suka, orang yang kita perhatikan diam-diam, orang yang selalu mencuri perhatian kita ternyata juga memendam perasaan yang sama?

Saat berpapasan, ia tersenyum dan menyapa kita. Hati pun berbunga-bunga. Mengira, senyumnya sedikit berbeda dari biasanya, sapaannya sedikit lebih ramah dari sebelumnya. Hingga timbulah, pemikiran-pemikiran yang dipupuk sendiri oleh harapan kita.

Ternyata,
Seseorang itu menanam bunga dimana-mana, menebar ibadah dengan senyum kepada siapa saja. Bukan maksud tebar pesona, melainkan mengamalkan ajaran keyakinan yang diterimanya.

Saat menelan kenyataan;
Sakitlah kita,
Kecewalah kita,
Dan terlukalah kita.

Lebih menakutkan lagi, ketika kita menyalahkan ia yang tidak tahu apa-apa karena kita tuduh ia mempermalukan dan menjadikan kita korban perasaan.

Padahal, salah kita.
Saat menyetir dan mengendalikan perkiraan, tidak lihat kiri-kanan. Jadilah ke-baper-an.

Mari hati-hati membawa perkiraan, karena kekuatannya dapat memutihkan titik yang hitam dan membanjiri tanah yang kerontang. Sebuah pemutarbalikan, imaji dan kenyataan.

一Avilia Armiani

*Jodoh itu…

1. Jangan menikah karena kesepian, menikah karena orang lain sudah menikah semua, tinggal kita seorang yang belum, aduhai, pernikahan itu bukan trend, yang semua orang bisa ikut-ikutan, apalagi karena nggak enak terlihat aneh sendiri. Dan terlepas dari itu, catat baik-baik, banyak orang yang setelah menikah, dia tetap merasa sepi, sendirian.

2. Jangan menikah karena alasan orang lain. Itu betul, dalam peristiwa dramatis, kita bisa segera menikah agar orang tua sempat menyaksikan sebelum meninggal, agar mereka bahagia. Tapi menikahlah karena alasan kita sendiri, jadikan itu patokan terbesar. Karena yang menjalani kehidupan berumah-tangga itu adalah kita, bukan orang lain. Dan karena, jika besok lusa pernikahan itu gagal, kita tidak menyalahkan orang lain–itu sungguh tiada manfaatnya.

3. Semua pernikahan itu punya masalah. Bohong jika ada yang bilang keluarga mereka baik-baik saja sepanjang masa. Lantas kenapa sebuah pernikahan bisa awet? Karena ada yang sabar dan mengalah.
Satu-satunya bekal pernikahan yang tiada pernah kurang adalah: sabar. Punya sabar segunung, tetap kurang banyak. Punya sabar selangit, pun tetap kurang banyak. Jadi bekalnya tidak harus mobil, rumah, peralatan dapur, dsb. Sekelas Umar Bin Khattab saja masih membutuhkan rasa sabar ekstra.

4. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh terbaik kita. Tidak ada alatnya, tidak ada aplikasinya, dan tidak akan ditemukan. Kita baru tahu setelah kita menjalani pernikahan tersebut. Dan rumitnya, itu juga belum cukup. Banyak yang berpisah jalan setelah sekian lama menikah. Lantas kapan dong kita baru tahu persis? Tidak ada jawabannya.
Nah, dengan situasi seperti itu, jangan habiskan waktu dengan cemas apakah ini jodoh terbaik atau bukan. Jika kalian muslim, tegakkanlah shalat istikharah, dapatkan keyakinan, kemudian bismillah, jalani dengan mantap.

5. Well, tidak ada jodoh yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti punya kekurangan. Ada yang ganteng/cantik pol, ternyata kalau tidur ngoroknya seperti sirene. Ada yang bertanggung-jawab nan setia, ternyata pelupa, dia lupa harus menjemput istrinya di manalah.
Tapi kita selalu bisa membuat yang tidak sempurna itu menjadi indah, keren, seperti pelangi, sepanjang kita bersedia menerima kekurangannya. Orang2 yang sibuk memasang kriteria sempurna bagi calon jodohnya, akan hidup sendiri hingga alien menyerang bumi.

6. Tidak ada yang tahu kapan persisnya kita akan menikah. Eh, yang masih kecentilan, manja-manja, ternyata besok sudah menikah, atau malah punya anak dua. Yang terlihat dewasa sekali, sudah siap sekali, bahkan bijak nian bicara soal menikah, ternyata bertahun-tahun tetap sendiri.
Maka, saat kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang, fokuslah memperbaiki diri sendiri. Saat kesempatannya datang, ingatlah nasehat lama, kesempatan baik tidak datang dua kali. Tapi ketika kesempatannya lolos, gagal, juga ingatlah petuah orang tua, akan selalu ada kesempatan-kesempatan berikutnya bagi orang yang sabar.

7. Pekerjaan tetap, mapan, dan lain-lain itu jangan dijadikan syarat mutlak mencari jodoh. Itu betul, sungguh menyenangkan jika jodoh kita ternyata sudah mapan, berkecukupan. Tapi boleh jadi akan lebih spesial lagi, jika kita bersama-sama menjalani hidup sederhana, untuk kemudian menjadi lebih baik setiap harinya.
Lebih baik pastikan saja, semua pihak memahami tanggungjawabnya. Misal, adalah tanggungjawab suami mencari nafkah. Boleh istri bekerja? Ikut membantu nafkah keluarga?
Dikembalikan ke masing-masing pasangan mau seperti apa. Tapi jelas sekali, jika istri bekerja, penghasilannya adalah milik dia–soal dia mau memberikannya ke keluarga atau tidak, itu urusan dia. Tanggungjawab mutlak tetap ada di suami.
Pemahaman-pemahaman seperti ini penting loh, agar kalian laki-laki yang sekarang sibuk galau, apalagi sibuk tebar pesona, tahu persis saat menikah nanti.

8. Mencari jodoh itu tidak rumit. Ini beneran loh. Mencari jodoh itu sederhana. Kalian bisa meminta orang tua mencarikan (karena itu juga salah-satu kewajiban mereka). Juga bisa minta sahabat menjadi intel perjodohan.
Jodoh itu ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di angkutan umum saat berangkat beraktivitas, di mesjid, di komplek rumah, dll, dll. Tapi kenapa kadang terasa rumit sekali? Karena kitalah yang membuatnya rumit.
Catat baik-baik, di dunia ini sudah milyaran orang pernah menikah. Milyaran pasangan. Nah, di mana rumitnya jika orang lain toh milyaran telah menikah.

9. Terakhir, kalau kalian mau belajar banyak hal tentang jodoh, maka jangan belajar dari novel-novel (apalagi novel Tere Liye), dari film fiksi, dari sinetron, serial. Aduh, itu fiksi loh. Dikarang-karang saja sama penulis ceritanya. Melainkan belajarlah dari orang tua di sekitar kalian. Kakek-nenek, opa-oma, mbah buyut, yang sudah menikah puluhan tahun, tapi tetap langgeng dan bahagia.

Amati, pelajari, dengarkan nasehat mereka, itu penting sekali, kehidupan mereka bisa jadi contoh. Maka besok lusa saat kita menikah, mendadak muncul masalah serius, kita bisa meneladani mereka, bagaimana cara mereka mengatasi masalah. Itu selalu bisa jadi pelajaran kehidupan yang tiada ternilai.

Tere Liye

Tidak suka sekali sama pria yang modus tebar pesona caper sana sini, seolah tak punya kharisma sama sekali. Lebih suka sama pria yang jaga jarak, jaga mata, dan jaga pembicaraan karena pria seperti itu memiliki kharisma yang tidak dimiliki oleh pria mana pun dan itu indah sekali jarang pria memiliki hal ini, meskipun dibandingkan dengan pria tampan sekalipun pria yang menjaga dirinya tanpa ada hubungan dengan akhwat itu adalah pria idaman.
—  Ya itu ada pada kamu……
Yang membuat aku suka 😳
Rahasia-rahasia Terbaik..

Akan saya tuliskan rahasia2 terbaik yang pernah dinasehatkan orang tua, saya kompilasi dari banyak nasehat, ditulis ulang dgn gaya bahasa lebih simpel:

1. Rahasia kemampuan ‘bicara efektif’ adalah justeru 'mendengarkan’.

2. Rahasia belajar paling cepat adalah dengan melakukannya.

3. Rahasia bagaimana memahami dengan baik adalah memperhatikan.

4. Rahasia bagaimana melupakan sesuatu adalah justeru dengan mengingatnya

5. Rahasia hidup sehat adalah banyak2 berpuasa, mengurangi makan; bukan sebaliknya banyak makan

6. Rahasia bagaimana mencari perhatian adalah justeru tidak tampil mencolok

7. Biarkan orang lain bicara, maka mereka akan membuka aib diri sendiri

8. Lakukan yang terbaik, maka hal-hal baik akan datang dengan sendirinya

9. Rahasia menjadi kaya bukan mencari harta sebanyak2nya, melainkan merasa cukup

10. Rahasia pembalasan terbaik atas orang yang jahat atau menjelek2kan kita adalah kita justeru terus berbuat baik dan dermawan padanya.

11. Terakhir, bagaimana mengundang jodoh terbaik dalam hidup kita? Sama sekali tidak dengan berdandan, tebar pesona, apalagi berpakaian menggoda. Justeru dengan terus sibuk memperbaiki diri.

Demikian. Tapi ini rahasia, jadi nggak usah bilang siapa2.

*Jodoh itu…. (baca sampai habis, biar paham)

1. Jangan menikah karena kesepian, menikah karena orang lain sudah menikah semua, tinggal kita seorang yang belum, aduhai, pernikahan itu bukan trend, yang semua orang bisa ikut-ikutan, apalagi karena nggak enak terlihat aneh sendiri. Dan terlepas dari itu, catat baik-baik, banyak orang yang setelah menikah, dia tetap merasa sepi, sendirian.

2. Jangan menikah karena alasan orang lain. Itu betul, dalam peristiwa dramatis, kita bisa segera menikah agar orang tua sempat menyaksikan sebelum meninggal, agar mereka bahagia. Tapi menikahlah karena alasan kita sendiri, jadikan itu patokan terbesar. Karena yang menjalani kehidupan berumah-tangga itu adalah kita, bukan orang lain. Dan karena, jika besok lusa pernikahan itu gagal, kita tidak menyalahkan orang lain–itu sungguh tiada manfaatnya.

3. Semua pernikahan itu punya masalah. Bohong jika ada yang bilang keluarga mereka baik-baik saja sepanjang masa. Lantas kenapa sebuah pernikahan bisa awet? Karena ada yang sabar dan mengalah. Satu-satunya bekal pernikahan yang tiada pernah kurang adalah: sabar. Punya sabar segunung, tetap kurang banyak. Punya sabar selangit, pun tetap kurang banyak. Jadi bekalnya tidak harus mobil, rumah, peralatan dapur, dsbgnya. Sekelas Umar Bin Khattab saja masih membutuhkan rasa sabar ekstra.

4. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh terbaik kita. Tidak ada alatnya, tidak ada aplikasinya, dan tidak akan ditemukan. Kita baru tahu setelah kita menjalani pernikahan tersebut. Dan rumitnya, itu juga belum cukup. Banyak yang berpisah jalan setelah sekian lama menikah. Lantas kapan dong kita baru tahu persis? Tidak ada jawabannya. Nah, dengan situasi seperti itu, jangan habiskan waktu dengan cemas apakah ini jodoh terbaik atau bukan. Jika kalian muslim, tegakkanlah shalat istikharah, dapatkan keyakinan, kemudian bismillah, jalani dengan mantap.

5. Well, tidak ada jodoh yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti punya kekurangan. Ada yang ganteng/cantik pol, ternyata kalau tidur ngoroknya seperti sirene. Ada yang bertanggung-jawab nan setia, ternyata pelupa, dia lupa harus menjemput istrinya di manalah. Tapi kita selalu bisa membuat yang tidak sempurna itu menjadi indah, keren, seperti pelangi, sepanjang kita bersedia menerima kekurangannya. Orang2 yang sibuk memasang kriteria sempurna bagi calon jodohnya, akan hidup sendiri hingga alien menyerang bumi.

6. Tidak ada yang tahu kapan persisnya kita akan menikah. Eh, yang masih kecentilan, manja-manja, ternyata besok sudah menikah, atau malah punya anak dua. Yang terlihat dewasa sekali, sudah siap sekali, bahkan bijak nian bicara soal menikah, ternyata bertahun-tahun tetap sendiri. Maka, saat kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang, fokuslah memperbaiki diri sendiri. Saat kesempatannya datang, ingatlah nasehat lama, kesempatan baik tidak datang dua kali. Tapi ketika kesempatannya lolos, gagal, juga ingatlah petuah orang tua, akan selalu ada kesempatan2 berikutnya bagi orang yang sabar.

7. Pekerjaan tetap, mapan, dan lain-lain itu jangan dijadikan syarat mutlak mencari jodoh. Itu betul, sungguh menyenangkan jika jodoh kita ternyata sudah mapan, berkecukupan. Tapi boleh jadi akan lebih spesial lagi, jika kita bersama-sama menjalani hidup sederhana, untuk kemudian menjadi lebih baik setiap harinya. Lebih baik pastikan saja, semua pihak memahami tanggungjawabnya. Misal, adalah tanggungjawab suami mencari nafkah. Boleh istri bekerja? Ikut membantu nafkah keluarga? Dikembalikan ke masing2 pasangan mau seperti apa. Tapi jelas sekali, jika istri bekerja, penghasilannya adalah milik dia–soal dia mau memberikannya ke keluarga atau tidak, itu urusan dia. Tanggungjawab mutlak tetap ada di suami. Pemahaman2 seperti ini penting loh, agar kalian laki-laki yang sekarang sibuk galau, apalagi sibuk tebar pesona, tahu persis saat menikah nanti.

8. Mencari jodoh itu tidak rumit. Ini beneran loh. Mencari jodoh itu sederhana. Kalian bisa meminta orang tua mencarikan (karena itu juga salah-satu kewajiban mereka). Juga bisa minta sahabat menjadi intel perjodohan. Jodoh itu ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di angkutan umum saat berangkat beraktivitas, di mesjid, di komplek rumah, dll, dll. Tapi kenapa kadang terasa rumit sekali? Karena kitalah yang membuatnya rumit. Catat baik-baik, di dunia ini sudah milyaran orang pernah menikah. Milyaran pasangan. Nah, di mana rumitnya jika orang lain toh milyaran telah menikah.

9. Terakhir, kalau kalian mau belajar banyak hal tentang jodoh, maka jangan belajar dari novel2 (apalagi novel Tere Liye), dari film fiksi, dari sinetron, serial. Aduh, itu fiksi loh. Dikarang2 saja sama penulis ceritanya. Melainkan belajarlah dari orang tua di sekitar kalian. Kakek-nenek, opa-oma, mbah buyut, yang sudah menikah puluhan tahun, tapi tetap langgeng dan bahagia. Amati, pelajari, dengarkan nasehat mereka, itu penting sekali, kehidupan mereka bisa jadi contoh. Maka besok lusa saat kita menikah, mendadak muncul masalah serius, kita bisa meneladani mereka, bagaimana cara mereka mengatasi masalah. Itu selalu bisa jadi pelajaran kehidupan yang tiada ternilai.

—  Tere Liye
Kalau sejak awal tidak berani bersikap layaknya laki-laki dewasa yang sesungguhnya; berani memberi kepastian, sebaiknya jangan tebar pesona ke mana-mana. Apalagi sengaja memberi harapan padahal enggan memberi kepastian.
lelaki yang tebar pesona & hobi selfie itu gak banget sis :(
— 

emangnya yang bikin fitnah perempuan doang .. ?

laki laki yang tau diri, harusnya gak suka upload foto selfie di medsos. apalagi cuma demi pamer ke-eksiasan & ke-cool-an nya.

berharapnya dapet istri solihah yang jaga aurat, tapi do’i pamer pesona ke seluruh dunia. 

bukan ngelarang 100% sih. cuma jangan jadiin hoby lah.

kata Tere Liye tentang Jodoh ~~

*Jodoh itu….

1. Jangan menikah karena kesepian, menikah karena orang lain sudah menikah semua, tinggal kita seorang yang belum, aduhai, pernikahan itu bukan trend, yang semua orang bisa ikut-ikutan, apalagi karena nggak enak terlihat aneh sendiri. Dan terlepas dari itu, catat baik-baik, banyak orang yang setelah menikah, dia tetap merasa sepi, sendirian.


2. Jangan menikah karena alasan orang lain. Itu betul, dalam peristiwa dramatis, kita bisa segera menikah agar orang tua sempat menyaksikan sebelum meninggal, agar mereka bahagia. Tapi menikahlah karena alasan kita sendiri, jadikan itu patokan terbesar. Karena yang menjalani kehidupan berumah-tangga itu adalah kita, bukan orang lain. Dan karena, jika besok lusa pernikahan itu gagal, kita tidak menyalahkan orang lain–itu sungguh tiada manfaatnya.


3. Semua pernikahan itu punya masalah. Bohong jika ada yang bilang keluarga mereka baik-baik saja sepanjang masa. Lantas kenapa sebuah pernikahan bisa awet? Karena ada yang sabar dan mengalah. Satu-satunya bekal pernikahan yang tiada pernah kurang adalah: sabar. Punya sabar segunung, tetap kurang banyak. Punya sabar selangit, pun tetap kurang banyak. Jadi bekalnya tidak harus mobil, rumah, peralatan dapur, dsbgnya. Sekelas Umar Bin Khattab saja masih membutuhkan rasa sabar ekstra.


4. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh terbaik kita. Tidak ada alatnya, tidak ada aplikasinya, dan tidak akan ditemukan. Kita baru tahu setelah kita menjalani pernikahan tersebut. Dan rumitnya, itu juga belum cukup. Banyak yang berpisah jalan setelah sekian lama menikah. Lantas kapan dong kita baru tahu persis? Tidak ada jawabannya. Nah, dengan situasi seperti itu, jangan habiskan waktu dengan cemas apakah ini jodoh terbaik atau bukan. Jika kalian muslim, tegakkanlah shalat istikharah, dapatkan keyakinan, kemudian bismillah, jalani dengan mantap.


5. Well, tidak ada jodoh yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti punya kekurangan. Ada yang ganteng/cantik pol, ternyata kalau tidur ngoroknya seperti sirene. Ada yang bertanggung-jawab nan setia, ternyata pelupa, dia lupa harus menjemput istrinya di manalah. Tapi kita selalu bisa membuat yang tidak sempurna itu menjadi indah, keren, seperti pelangi, sepanjang kita bersedia menerima kekurangannya. Orang2 yang sibuk memasang kriteria sempurna bagi calon jodohnya, akan hidup sendiri hingga alien menyerang bumi.


6. Tidak ada yang tahu kapan persisnya kita akan menikah. Eh, yang masih kecentilan, manja-manja, ternyata besok sudah menikah, atau malah punya anak dua. Yang terlihat dewasa sekali, sudah siap sekali, bahkan bijak nian bicara soal menikah, ternyata bertahun-tahun tetap sendiri. Maka, saat kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang, fokuslah memperbaiki diri sendiri. Saat kesempatannya datang, ingatlah nasehat lama, kesempatan baik tidak datang dua kali. Tapi ketika kesempatannya lolos, gagal, juga ingatlah petuah orang tua, akan selalu ada kesempatan2 berikutnya bagi orang yang sabar.


7. Pekerjaan tetap, mapan, dan lain-lain itu jangan dijadikan syarat mutlak mencari jodoh. Itu betul, sungguh menyenangkan jika jodoh kita ternyata sudah mapan, berkecukupan. Tapi boleh jadi akan lebih spesial lagi, jika kita bersama-sama menjalani hidup sederhana, untuk kemudian menjadi lebih baik setiap harinya. Lebih baik pastikan saja, semua pihak memahami tanggungjawabnya. Misal, adalah tanggungjawab suami mencari nafkah. Boleh istri bekerja? Ikut membantu nafkah keluarga? Dikembalikan ke masing2 pasangan mau seperti apa. Tapi jelas sekali, jika istri bekerja, penghasilannya adalah milik dia–soal dia mau memberikannya ke keluarga atau tidak, itu urusan dia. Tanggungjawab mutlak tetap ada di suami. Pemahaman2 seperti ini penting loh, agar kalian laki-laki yang sekarang sibuk galau, apalagi sibuk tebar pesona, tahu persis saat menikah nanti.


8. Mencari jodoh itu tidak rumit. Ini beneran loh. Mencari jodoh itu sederhana. Kalian bisa meminta orang tua mencarikan (karena itu juga salah-satu kewajiban mereka). Juga bisa minta sahabat menjadi intel perjodohan. Jodoh itu ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di angkutan umum saat berangkat beraktivitas, di mesjid, di komplek rumah, dll, dll. Tapi kenapa kadang terasa rumit sekali? Karena kitalah yang membuatnya rumit. Catat baik-baik, di dunia ini sudah milyaran orang pernah menikah. Milyaran pasangan. Nah, di mana rumitnya jika orang lain toh milyaran telah menikah.


9. Terakhir, kalau kalian mau belajar banyak hal tentang jodoh, maka jangan belajar dari novel2 (apalagi novel Tere Liye), dari film fiksi, dari sinetron, serial. Aduh, itu fiksi loh. Dikarang2 saja sama penulis ceritanya. Melainkan belajarlah dari orang tua di sekitar kalian. Kakek-nenek, opa-oma, mbah buyut, yang sudah menikah puluhan tahun, tapi tetap langgeng dan bahagia. Amati, pelajari, dengarkan nasehat mereka, itu penting sekali, kehidupan mereka bisa jadi contoh. Maka besok lusa saat kita menikah, mendadak muncul masalah serius, kita bisa meneladani mereka, bagaimana cara mereka mengatasi masalah. Itu selalu bisa jadi pelajaran kehidupan yang tiada ternilai.


*Tere Liye

Ketegasan akan mempersingkat waktu.
—  Ketika kamu wanita, merasa ada seorang lawan jenis yang sedang tebar pesona padamu. Tegaskan apa maksud dan tujuannya. Hentikan bila memang kamu merasa terganggu. Siapa yang bertanggung jawab jika kamu mulai terbawa harapan sedang dia tak pernah merasa memberi harapan.
Note

“Jatuh cinta adalah hal yang wajar. sangat wajar, manusiawi. Mengendalikan rasa cinta agar tetap pada koridornyalah yang rumit, yang sulit.”

saya suka nonton sinetron D’Hijabers. suka aja sama dialog-dialognya, yang menginspirasi dan suka jleb gitu rasanya. Ada satu dialog yang saya ingat betul sampe sekarang di awal-awal episode sinetron tersebut, yaitu ketika Kantini sedang menegur Tio yang suka tebar pesona sama resepsionisnya, Fitri.

Kantini : “ Tio, kamu muslim?”

Tio : “Alhamdulillah, Bu.”

Kantini : “Alhamdulillah kalau kamu muslim. Dengar ya Tio, kami para wanita muslim, siapa lagi yang akan menjaga kehormatan kami kalau bukan kalian para pria-pria muslim?”

Tio :”…………..”

waktu mendengar dialognya Kantini itu ya, kepala saya manggut-manggut sendiri tanpa perintah. Maknanya begitu jelas dan dalam bagi saya. nyess gitu dengarnya.