tardisi

9

MY TARDISES (tardisi?)

The smallest one is made from clay and is less then a inch tall. It’s on a necklace and you can just see “type 40” written on the bottom. The big one is a waterbottle. I made it with white out, sharpies and Modge Podge (with a lot of help with some quarter inch tape). It’s a little beaten up because I used it when I went to Dragon*Con last year and wore it with my Doctor cosplay. And the last one is a Tardis fractal.  (In the first picture you can see my sonic!)

Maestro! Maestro! #4

Kemarin baru saja saya melihat sebuah pertunjukan tari untuk kali pertamanya perfomance artist yang ditampilkannya yaitu sang maestro tari. Pada dasarnya saya menerima suatu pesan singkat dari salah satu guru saya bahwa Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan suatu pertunjukan seni yang didalamnya menampilkan Maestro handal dibidangnya. Pada kesempatan tersebut mereka mengambil tema unik mengenai tari. Mendengar kabar tersebut segera saja keesokan harinya setelah pulang kuliah langsung meluncur ke Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, acaranya dibuka mulai pukul 19.00 WIB beruntung saja saya belum terlambat menyaksikan pertunjukan tersebut. Acara resminya dimulai pukul 19.30 WIB namun sebelum itu saya sempat menikmati pameran foto yang ada di depan lobby utama, saya juga bertemu beberapa tokoh pelaku seni tari, beliau-beliau itulah sang pencipta tari kreasi tradisi yang berkembang di Jakarta yang telah diakui hak ciptanya. Beberapa guru tari saya juga menghadiri acara tersebut begitupun anak seni tari IKJ juga turut hadir dalam event langka tersebut.

Dalam acara ini menampilkan Maestro Tari Lengger oleh Ibu Dariah dari Banyumas, Maestro Tari Topeng Slawi oleh Ibu Sawitri dari Tegal, dan Maestro Tari Topeng Betawi oleh Ibu Onih dari Jakarta. Kepakaran mereka dibidang tari masing-masing tidak perlu diragukan lagi karena merupakan refleksi keindahan yang sangat impresif, mengandung nilai-nilai filosofis, dan masih kuat tertanam pada masyarakat didaerahnya. Maestro yang umurnya sudah tidak muda lagi namun tetap semangat dalam mengembangkan seni budaya negeri sangat luar biasa. Mereka bersedia berbagi pengalaman dengan generasi muda dalam pentas yang diadakan kemarin malam

Penampilan pertama dibuka dengan sangat memukau dengan penampilan Maestro Tari Topeng Betawi. Tarian dibawakan dengan sangat anggun dan semarak. Bagi masyarakat Jakarta asli atau masyarakat Betawi mereka menggunakan pendekatan yang berbeda mengenai istilah topeng. Banyak orang beranggapan bahwa topeng merupakan suatu kedok (penutup wajah). Namun tidak untuk masyarakat Betawi. Namun tidak untuk masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi menggunakan “topeng” sebagai suatu unsur seni dalam pertunjukan. Topeng merupakan suatu simbol yang mencerminkan nilai estetika dalam berkarya. Masyarakat betawi terbiasa dengan suatu yang meriah dalam tiap kali pertunjukannya. Setiap guratan ekspresi dalam Topeng Betawi memiliki arti yang berbeda-beda yang mencerminkan isi dari tarian atau pertunjukan yang ditampilkannya. Lenong merupakan suatu bentuk dari topeng namun bukan dalam arti sebenarnya. Eksperi yang dikeluarkan pemain dalam lenong merupakan Topeng karakter yang mensimbolkan karakter yang kita mainkan. Pada pertunjukan kali ini Ibu Onih juga menampilkan sedikit lenong dalam penampilannya sebagai bumbu Tari Topeng Betawi. Tari Topeng Betawi ini sangat cantik ditutup dengan tari Njot-Njotan yang sukses berduel dengan salah satu penari pria muda bimbingan Grup Tari Betawi Pak Rohim.

Penampilan selanjutnya yaitu penampilan dari Ibu Sawitri seorang maestro tari Topeng Slawi khas Tegal yang biasa (mengamen) berkeliling desa untuk memperkenalkan tarian Topeng Slawi tersebut. Tari Topeng Slawi khas Tegal ini tidak jelas kapan diciptakannya dan siapa penciptanya sehingga Ibu Sawitri hanya mewarisi 6 Jenis tari Topeng khas Tegal dari ibunya. Tari topeng yang tumbuh dan berkembang di Tegal yaitu Endel, Kresna, Panji, Panggawa/Patih, Lanyapan Alus, dan Klana. Melihat setiap gerakan yang digerakan Ibu Sawitri saya jadi terlena akan tarian yang dibawakannya begitu nyata, nyata bahwa seseorang yang sedang menari tersebut adalah sosok pria muda yang lembut berlenggak lenggok dengan topeng putihnya, sosok pria muda yang lincah bergerak kesana kemari dengan topeng merah mudanya, dan sosok pria dewasa yang dengan gagah serta tangguhnya berkeliling pentas dengan topeng merahnya. Pemandangan yang saya lihat tersebut sangat kontras dengan usia penari dalam topeng tersebut yang hanyalah seorang wanita tua berusia 70 tahun, namun dengan sangat enerjiknya menari dengan sangat luar biasa.

Penampilan terakhir merupakan penampilan Maestro Tari Lengger dari Banyumas oleh Ibu Dariah yang membawakan 3 sajian tarian yaitu Gambyongan, Gunungsari, dan Sapa Nyana. Sedikit cerita mengenai tari Lengger. Tari ini merupakan Jarwo Dhosok yang berarti leng sing gawe geger (lubang yang membuat geger). Disebut juga ronggeng yang juga darwo dhosok, berarti ronging ketunggeng (lubang tempat hunian ketonggeng). Istilah “leng” maupun “rong” sama-sama berarti lubang yang merupakan simbolisasi dari alat kelamin wanita. Hal demikian terkain dengan pertunjukan yang dilakukan oleh penari wanita muda usia yang lenggak lenggok mengolah gerak dan suara serta bahasa tubuh yang ditampilkan diatas pentas yang berpotensi mengundang birahi kaum pria.

Bagi masyarakat Banyumas, lengger atau ronggeng berlangsung searah dengan denyut nadi kehidupan masyarakatnya. Tarian rakyat ini adalah media ungkap ekspresi pengalaman estetis masyarakat pedesaan. Tetapi itu juga merupakan sarana upacara kesuburan, sarana tontonan, sarana hiburan, sarana integrasi sosial, dan sarana pernyataan jati diri. Semua itu berlangsung bersama dalam geliat kehidupan masyarakat pedesaan yang sederhana, lugu, terbuka, dan egaliter.

Sang Maestro Lengger ini juga telah mendapatkan penghargaan dari Presiden RI sebagai Maestro Seniman Tradisional. Penghargaan tersebut mengukuhkan totalitas pengabdian Ibu Dariah sebagai seniman yang menyerahkan diri sebagai tradisi leluhur hingga masa tuanya dia tidak pernah menikah.

Acara Maestro! Maestro! #4 di tutup dengan penampilan Ibu Dariah yang kemudian mengajak penonton menari keatas pentas untuk turut menari bersama.

Usia tua memang tidak dapat dihindari, namun pada usia mereka saat ini mereka tetap memiliki semangat karena tari merupakan nafas yang menyatu dalam jiwa dan gerak bathin mereka. Saya rasa sangat penting jika maestro-maestro menyadarkan kita kaum muda betapa dahsyatnya karya-karya yang lahir pada masa lalu dan betapa tingginya nilai kehidupan yang tercermin didalamnya.

Jayalah selalu seni tradisi di Indonesia,, 

4

Ever since I saw River Song in silence in the library, I have always wanted my own Tardis journal. So when I went into town, I bought an A5 journal, took some cardboard, cut out various tardisy shapes and stick them down. I then applied tissue paper and watered down glue to age the cover. Acrylic paint was the applied. I am very happy with the end result and finally have my own Tardis journal!!