tardisi

2

Lafayette/Jefferson played by a woman, french braid in the first act(I can’t draw braids very well, still need to practice sorry), crazy curls in the second, all of the sass (same uniform, still a male character)

ALSO SHORT. WITH GIANT IMPOSING MADISON BEHIND HER AT RAP BATTLES.

by @tardisy-wardisy

I got carried away and did hercules/madison too. oops

Actually, I shouldn’t be drawing anything because I’m busy af but when I get the time (and finish all the other requestes) I’ll probably make something better than just doodles BECAUSE I REALLY LOVED THEM , THANK YOU FOR THE SUGGESTION

Interlude

For Chris; thank you. 

(AO3)

…. Say hallelujah, say goodnight, say it over

the canned music and your feet won’t stumble,

his face getting larger, the rest blurring

on every side. And angels, about twelve angels,

angels knocking on your head right now, hello

hello, a flash in the sky, would you like to

meet him there, in Heaven? Imagine a room,

a sudden glow. Here is my hand, my heart,

my throat, my wrist. Here are the illuminated

cities at the center of me, and here is the center

of me, which is a well that we

can drink from, but I can’t go through with it.

I just don’t want to die anymore.

                      - Saying Your Names, Richard Siken

You remember the first time you kissed a boy. You were fifteen. It was during a game of Truth or Dare, and his mouth was sticky and sweet and tasted like Coca-Cola as it pressed against yours. His hand was a heavy pressure pushed to your cheek.

The kiss itself only lasted a few moments before he pulled away, but you were left wide-eyed and breathless with mussed hair and the biggest hard-on you’d ever had.

His name was Karl.

But of course he laughed it off, running a hand through his own straw coloured hair, not at all affected. You wanted to cry, then and there, but instead you shuffled back to your place in the circle, surreptitiously adjusted your pants, and pretended to laugh along with them.

“How gross,” he’d commented, wiping his mouth on the back of his hand.

That night, you thought of narrow hips and broad shoulders and a firm grip with your hand wrapped around your cock. The worst part was that you enjoyed it.

Keep reading

So I just watched The Witch’s Familiar

oh doctor, my doctor

Originally posted by nojudgementtoyou

“my daughter?” “my daughter?”

Originally posted by je-suis-une-fangirl

MISSY YES

Originally posted by allyourgifrelatedneeds

MISSY NO

Originally posted by morboosa

sonic sunglasses

Originally posted by geekylaugifs

the doctor…and clara oswald…in the TARDIS

Originally posted by orlaala

I enjoyed The Witch’s Familiar…

sucker-for-contrast  asked:

For the anon who was looking for must-read canon fics - this is what I've found when I quickly checked my bookmarks on AO3: "A Need for Breathing" by Phyona", When Charlie Met Cas" by riseofthefallenone, "Dean Doesn't Listen to Eurythmics" by Annie D (scaramouche), "What Has Eight Tentacles and Isn't Allowed to Eat Pie?" by Annie D (scaramouche), "the inexhaustible silence of houses" by Askance, "Professional Couple Only" by saltyfeathers

And, anonymous said: 

Also for anon: Fledgeling by tardisy and Après by imogenbynight

So passing it all on to the anon. ;) 

Okay so I'm going to make TARDISing a thing.

So go take a picture in front of a TARDIS or something TARDISy and tag it with #TARDISing. 

Because 

I'm 

Making this 

A thing

9

MY TARDISES (tardisi?)

The smallest one is made from clay and is less then a inch tall. It’s on a necklace and you can just see “type 40” written on the bottom. The big one is a waterbottle. I made it with white out, sharpies and Modge Podge (with a lot of help with some quarter inch tape). It’s a little beaten up because I used it when I went to Dragon*Con last year and wore it with my Doctor cosplay. And the last one is a Tardis fractal.  (In the first picture you can see my sonic!)

so Chris has been talking about his new shark!dean AU and I’m in love with it and this post happened and so, this happened.

Maestro! Maestro! #4

Kemarin baru saja saya melihat sebuah pertunjukan tari untuk kali pertamanya perfomance artist yang ditampilkannya yaitu sang maestro tari. Pada dasarnya saya menerima suatu pesan singkat dari salah satu guru saya bahwa Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan suatu pertunjukan seni yang didalamnya menampilkan Maestro handal dibidangnya. Pada kesempatan tersebut mereka mengambil tema unik mengenai tari. Mendengar kabar tersebut segera saja keesokan harinya setelah pulang kuliah langsung meluncur ke Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, acaranya dibuka mulai pukul 19.00 WIB beruntung saja saya belum terlambat menyaksikan pertunjukan tersebut. Acara resminya dimulai pukul 19.30 WIB namun sebelum itu saya sempat menikmati pameran foto yang ada di depan lobby utama, saya juga bertemu beberapa tokoh pelaku seni tari, beliau-beliau itulah sang pencipta tari kreasi tradisi yang berkembang di Jakarta yang telah diakui hak ciptanya. Beberapa guru tari saya juga menghadiri acara tersebut begitupun anak seni tari IKJ juga turut hadir dalam event langka tersebut.

Dalam acara ini menampilkan Maestro Tari Lengger oleh Ibu Dariah dari Banyumas, Maestro Tari Topeng Slawi oleh Ibu Sawitri dari Tegal, dan Maestro Tari Topeng Betawi oleh Ibu Onih dari Jakarta. Kepakaran mereka dibidang tari masing-masing tidak perlu diragukan lagi karena merupakan refleksi keindahan yang sangat impresif, mengandung nilai-nilai filosofis, dan masih kuat tertanam pada masyarakat didaerahnya. Maestro yang umurnya sudah tidak muda lagi namun tetap semangat dalam mengembangkan seni budaya negeri sangat luar biasa. Mereka bersedia berbagi pengalaman dengan generasi muda dalam pentas yang diadakan kemarin malam

Penampilan pertama dibuka dengan sangat memukau dengan penampilan Maestro Tari Topeng Betawi. Tarian dibawakan dengan sangat anggun dan semarak. Bagi masyarakat Jakarta asli atau masyarakat Betawi mereka menggunakan pendekatan yang berbeda mengenai istilah topeng. Banyak orang beranggapan bahwa topeng merupakan suatu kedok (penutup wajah). Namun tidak untuk masyarakat Betawi. Namun tidak untuk masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi menggunakan “topeng” sebagai suatu unsur seni dalam pertunjukan. Topeng merupakan suatu simbol yang mencerminkan nilai estetika dalam berkarya. Masyarakat betawi terbiasa dengan suatu yang meriah dalam tiap kali pertunjukannya. Setiap guratan ekspresi dalam Topeng Betawi memiliki arti yang berbeda-beda yang mencerminkan isi dari tarian atau pertunjukan yang ditampilkannya. Lenong merupakan suatu bentuk dari topeng namun bukan dalam arti sebenarnya. Eksperi yang dikeluarkan pemain dalam lenong merupakan Topeng karakter yang mensimbolkan karakter yang kita mainkan. Pada pertunjukan kali ini Ibu Onih juga menampilkan sedikit lenong dalam penampilannya sebagai bumbu Tari Topeng Betawi. Tari Topeng Betawi ini sangat cantik ditutup dengan tari Njot-Njotan yang sukses berduel dengan salah satu penari pria muda bimbingan Grup Tari Betawi Pak Rohim.

Penampilan selanjutnya yaitu penampilan dari Ibu Sawitri seorang maestro tari Topeng Slawi khas Tegal yang biasa (mengamen) berkeliling desa untuk memperkenalkan tarian Topeng Slawi tersebut. Tari Topeng Slawi khas Tegal ini tidak jelas kapan diciptakannya dan siapa penciptanya sehingga Ibu Sawitri hanya mewarisi 6 Jenis tari Topeng khas Tegal dari ibunya. Tari topeng yang tumbuh dan berkembang di Tegal yaitu Endel, Kresna, Panji, Panggawa/Patih, Lanyapan Alus, dan Klana. Melihat setiap gerakan yang digerakan Ibu Sawitri saya jadi terlena akan tarian yang dibawakannya begitu nyata, nyata bahwa seseorang yang sedang menari tersebut adalah sosok pria muda yang lembut berlenggak lenggok dengan topeng putihnya, sosok pria muda yang lincah bergerak kesana kemari dengan topeng merah mudanya, dan sosok pria dewasa yang dengan gagah serta tangguhnya berkeliling pentas dengan topeng merahnya. Pemandangan yang saya lihat tersebut sangat kontras dengan usia penari dalam topeng tersebut yang hanyalah seorang wanita tua berusia 70 tahun, namun dengan sangat enerjiknya menari dengan sangat luar biasa.

Penampilan terakhir merupakan penampilan Maestro Tari Lengger dari Banyumas oleh Ibu Dariah yang membawakan 3 sajian tarian yaitu Gambyongan, Gunungsari, dan Sapa Nyana. Sedikit cerita mengenai tari Lengger. Tari ini merupakan Jarwo Dhosok yang berarti leng sing gawe geger (lubang yang membuat geger). Disebut juga ronggeng yang juga darwo dhosok, berarti ronging ketunggeng (lubang tempat hunian ketonggeng). Istilah “leng” maupun “rong” sama-sama berarti lubang yang merupakan simbolisasi dari alat kelamin wanita. Hal demikian terkain dengan pertunjukan yang dilakukan oleh penari wanita muda usia yang lenggak lenggok mengolah gerak dan suara serta bahasa tubuh yang ditampilkan diatas pentas yang berpotensi mengundang birahi kaum pria.

Bagi masyarakat Banyumas, lengger atau ronggeng berlangsung searah dengan denyut nadi kehidupan masyarakatnya. Tarian rakyat ini adalah media ungkap ekspresi pengalaman estetis masyarakat pedesaan. Tetapi itu juga merupakan sarana upacara kesuburan, sarana tontonan, sarana hiburan, sarana integrasi sosial, dan sarana pernyataan jati diri. Semua itu berlangsung bersama dalam geliat kehidupan masyarakat pedesaan yang sederhana, lugu, terbuka, dan egaliter.

Sang Maestro Lengger ini juga telah mendapatkan penghargaan dari Presiden RI sebagai Maestro Seniman Tradisional. Penghargaan tersebut mengukuhkan totalitas pengabdian Ibu Dariah sebagai seniman yang menyerahkan diri sebagai tradisi leluhur hingga masa tuanya dia tidak pernah menikah.

Acara Maestro! Maestro! #4 di tutup dengan penampilan Ibu Dariah yang kemudian mengajak penonton menari keatas pentas untuk turut menari bersama.

Usia tua memang tidak dapat dihindari, namun pada usia mereka saat ini mereka tetap memiliki semangat karena tari merupakan nafas yang menyatu dalam jiwa dan gerak bathin mereka. Saya rasa sangat penting jika maestro-maestro menyadarkan kita kaum muda betapa dahsyatnya karya-karya yang lahir pada masa lalu dan betapa tingginya nilai kehidupan yang tercermin didalamnya.

Jayalah selalu seni tradisi di Indonesia,, 

shadysquid  asked:

My doggy is getting put down tomorrow and I've had him since I can't remember when, can you link me to a happy ficlet or post some cute pictures to get me out of this funk please?

Oh, I’m so sorry, sweetie. I know how rough that is. I’ve had two cats and a dog pass away and it’s really like losing a family member. *hugs you tight*

So here’s what I have for you!

First of all, I’m going to shamelessly rec a couple of my own fic because I’m a dirty rotten cheater like that:

And here are some really fluffy fics not by me, but that I absolutely adore:

Here are two phenomenal fics about Dean, Cas, and animals (I know there are more, these are just two of my faves.)

And then I’d also like you to check out these writer’s fluff because they’re amazing and always make me feel happy:

I also have a fluff tag, and a tag for fluffy fics, and a happy tag which is a bunch of pictures of animals, and pretty flowers, and wonderful nature shots. (But if you just want the animals, I have a tag for that too.) I also have a Cas and animals tag.

There’s also this fluff list, and this fluff list, and this fluff fics tag, and this fluff fics tag.

My last recommendation is, if you haven’t seen the film Milo and Otis or Homeward bound, please go watch both of them because they are wonderful animal movies and I just love them a lot okay? (Both quite old and very cheesy, but absolutely wonderful.)

I hope you find something the helps, bb! It’s okay to be sad though. It’s hard losing someone you love. Sending you my love, okay? *muwah*