tanya mays

anonymous asked:

Dear Aunt Tanya, this may sound similar to one of the previous asks but I drank too much the other night and cried and cried some more and then laughed manically. I then insisted on revealing details of my *ahem* intimate experiences to unassuming acquaintances who wanted to hear nothing of the sort. This happened over two weeks ago and I'm still mortified and deeply traumatized by the memory. How do you get over this kind of stuff? Please help. xoxox

Well I don’t have that problem because I have the perfect life and everyone wants to hear about it. Even the intimate details. Unless they’re horrible family secrets. Then all you do is deny. For example, if I, while drunk, were to HYPOTHETICALLY tell someone that my brother in law has an illegitimate child, the next day I would just tell Kathy that she was a lot drunker than me and she made up that gossip herself while she was drowning in Chardonnay. And no one can go against me because I have the power to ruin everyone’s lives.

Xoxo Aunt Tanya

your typical suburban power couple romantic date night w/ @aunttanya

The Way I Lose Her: Please, Don’t Tell Her.

Please don’t dare tell her what I’ve become.
Please don’t mention all the attention I have drawn.
Please don’t bother cause she’ll feel guilty when I’m gone.

.

                                                  ===

.

Mata gue masih kosong menatap ke arah kota Bandung malam-malam seperti ini. Gemerlapan lampu seakan tidak mengusik pemikiran gue yang dari tadi masih berkutat perihal hal yang sama. Gue nggak habis pikir dengan apa yang dilakukan Ipeh beberapa jam yang lalu di supermarket. Dengan mudahnya dia mencium pipi gue begitu saja sambil mengajukan pertayaanya yang luar biasa menyebalkan seperti itu.

Setelah insiden tadi, gue dan Ipeh tidak terlalu banyak bicara. Mungkin Ipeh juga sedikit terkejut mendengar apa reaksi gue ketika menjawab pertanyaan yang ia lontarkan di depan rak minuman malam tadi.

“Jadi, kalau jadi gue, lo mau pilih yang mana, Mbe?” Tanyanya polos dengan nada khasnya ketika memanggil nama panggilan untuk gue yang dia ciptakan seenak jidatnya sendiri itu.

Gue terdiam menatapnya sambil masih setia menggenggam dua teh kotak di tangan kiri dan kanan gue. Apa maksudnya nih anak nanya begituan sih? Apa ini mengartikan gue bisa menjadi seseorang yang lebih dari sekedar teman buat Ipeh lagi? Lha tapi kan sekarang dia punya pacar, lantas kalau semisal Ipeh memilih gue, terus pacarnya itu mau dia kemanain? Bah, gue jadi pelarian lagi dong? Lagi?! Sekali lagi?! Lama-lama gue muak kalau seperti ini terus.

Gue menghela napas lalu menaruh dua teh kotak yang sedang gue genggam itu ke atas kedua tangan Ipeh yang masih menyodorkan dua teh kotak ke depan gue dengan dalil menyuruh gue untuk memilih salah satunya.

“Apa untungnya buat gue kalau gue memilih Teh Kotak yang kecil? Terus apa untungnya buat gue kalau gue memilih Teh Kotak yang besar?” Tanya gue dingin.

“Loh kok elo malah bales nanya sih?!”

Gue raih semua Teh Kotak yang sedang Ipeh genggam itu lalu kembali menaruhnya di dalam rak minuman.

“Kalau gue jadi elo, Peh. Gue bakal milih yang kecil.”

Ipeh menyeritkan dahi, “Kenapa?” Tanyanya penasaran.

Gue membalikkan badan, mengambil satu buah Teh Kotak kecil yang lebih dingin lalu menempelkan Teh Kotak itu di pipinya. Sambil sedikit menunduk, gue berbisik.

“Soalnya, itu yang bakal gue lakukan ketika suatu saat ada orang yang cinta sama gue datang namun saat itu di sebelah gue ada elo, Peh. Gue pasti tetap memilih elo.”

Ipeh terdiam. Kemudian gue menarik diri lalu pergi menyusul kak Ai yang sudah lebih dulu berbaris di antrian kasir. Selama perjalanan pulang, gue dan Ipeh tidak lagi banyak bicara, kak Ai yang menyadari hal ini juga terdiam dan tak banyak tanya. Suasana di dalam mobil benar-benar sunyi. Beberapa kali dering HP Ipeh terdengar berbunyi namun tidak dihiraukannya sama sekali.

.

                                                    ====

.

Gue bukan tipe orang yang seperti itu, gue lebih menghargai kehadiran orang yang telah lama ada ketimbang orang baru yang datang begitu saja. Walaupun gue akui orang baru yang datang lebih menarik, tapi apa yang telah gue bangun selama ini dengan seseorang yang sudah dekat lama dengan gue juga bisa dibilang terlalu mahal untuk dilepaskan begitu saja.

Karena besok hari libur, gue memilih untuk terjaga lebih lama di balkon atas sambil sesekali memainkan gitar. Tak ada satu SMS pun masuk ke dalam HP gue malam ini. Ingin rasanya kalau lagi kaya gini tuh nge-sms si Matematika Buku Cetak, tapi karena sekarang gue sudah tahu siapa dia sebenarnya, gue jadi agak sungkan untuk meminta bantuannya mengingat setiap gue membayangkan Matematika Buku Cetak, yang terbayang-bayang di kepala hanyalah sosok Mai saja.

Hari-hari gue lalui seperti biasa, masih belum ada pergerakan signifikan yang gue lakukan untuk dekat dengan Mai lantaran pikiran gue mendadak terombang-ambing lagi gara-gara pertanyaan Ipeh kemarin malam. Pagi hari gue lebih sering menghabiskan diri nongkrong di warnet ketemu teman-teman lama. Mirza si wakil ketua warnet, Dodo si orang batak kelas 3 SMA dengan badan cukup besar, Gerald ‘Gigi’ yang jago banget main Dotanya, semuanya masih ada dan setia nongkrong di sana. Kayaknya setelah berpuluh-puluh cerita sakit hati yang gue lalui di masa SMA, hidup mereka di warnet ini nggak pernah berubah sama sekali. Gitu-gitu aja.

Tapi kalau boleh jujur, dibanding nongkrong sama temen SMA, gue sampai sekarang masih sreg nongkrong sama temen-temen warnet. Karena mereka tuh nggak pernah update masalah dunia luar, nggak pernah peduli masalah percintaan. Nggak akan jauh topik obrolan yang diomongin adalah perihal Boys Talk semua. Gue tahu di luar warnet, mereka pasti punya kehidupan juga, tapi entah kenapa mereka maupun gue ketika sudah masuk ke warnet dan ngobrol bersama, nggak pernah terbesit sedikitpun di benak kita untuk berbicara hal-hal yang rumit selain Bokep, Makanan, Game Online, dan Berantem dengan anak warnet RW sebelah.

Hari senin telah tiba. Seperti biasa dengan sigap gue langsung bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi. Sesampainya di sekolah, parkiran motor sudah cukup ramai dan terlihat lebih kacau dari biasanya. Ini udah sarapan sehari-hari kalau memasuki senin pagi, anak-anak bakal rusuh banget pergi ke kelas buat persiapan upacara. Ada yang sibuk beli topi, dasi, nempelin badge nama di seragam mereka, dan lain-lain.

Setelah menaruh tas dan mengambil topi dari laci meja, gue sedikit terkejut melihat bentuk topi gue setelah ditinggal lebih dari satu minggu di kolong meja ini. Bentuknya sudah nggak karuan, mirip muka Ikhsan. Ketika gue hentakkan topi itu ke atas meja, mendadak ada serpihan Mie Lidi jatuh dari dalam topi gue. Anjir bener-bener kurang ajar ini anak kelas yang menjadikan topi gue landasan Mie Lidi. Benar-benar tidak berpri-topi-upcara-an! Semoga yang mendzolimi topi gue seperti ini nanti di Neraka bakal dihukum dipecut tali puser doyok!

Anak-anak kelas tampak sudah banyak yang berbaris lebih dulu di lapangan basket. Ketika gue menghampiri mereka, gue melihat ada sosok Ipeh di sana, dia sempat melihat ke arah gue lalu kembali melihat lurus ke arah depan. Ah tai, kayaknya gue bakal dicuekin lagi hari ini. Yaudah sih, dengan begini gue bisa lebih fokus deketin Mai. Itulah yang ada di benak gue pagi ini.

Hari senin berjalan seperti biasa. Ada yang ketawa-ketawa di dalam kelas, ada juga yang asik gitar-gitaran di ujung kelas, ada juga yang asik main ayam-ayaman sambil ditontonin orang banyak. Siapa lagi kalau bukan gue dan Ikhsan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, beberapa anak ada yang pergi ke mushola untuk sholat, sedangkan gue dan Ikhsan masih tetep asik aja main ayam-ayaman di kelas. Ketika diajak temen untuk sholat pun kita berdua malah kompak berlasan yang sama.

“Gue lagi mens.”

Siang itu gue tidak melihat ada Ipeh di kelas, begitu juga dengan Mai dan geng cewek yang lainnya. Tumben-tumbenan banget kelas bisa sesepi ini ketika jam 12 siang. Karena bosan main ayam-ayaman, gue sekarang memilih untuk tidur-tiduran di atas meja beralaskan perut Bobby seperti biasa, sedangkan Ikhsan asik gitar-gitaran sambil duduk di jendela kelas berdua dengan Nurhadi. Udah mirip kaya Tukang Kupat sama grobaknya.

Lagi asik-asiknya mendengarkan kolaborasi musik antara Nurhadi dan Ikhsan, mendadak alunan gitar mereka terhenti. Mereka terdengar lagi bisik-bisik, gue nggak tahu apa yang mereka bicarakan soalnya gue sekarang lagi tiduran sambil ditutupi jaket.

“Oi Mai, rusuh amat. Kenapa? Bocor ya?” Tanya Ikhsan polos yang langsung dikeplak kepalanya sama Nurhadi.

Mendengar nama Mai disebut, gue langsung bangun. Guenya yang bangun! Bukan yang lain yang bangun! Hih..

“Eh kalian. Kalian nggak ke kantin?” Tanya Mai yang lalu menghampiri tempat duduk kita berempat.

“Nggak. Kenapa?” Nurhadi dan Ikhsan serentak menjawab.

“Ada kejadian loh tadi di kantin.” Balas Mai antusias.

Mendengar Mai berbicara antusias seperti itu, sontak kita berempat langsung duduk menghadap ke arah Mai sambil memasang wajah penasaran. Emang pada dasarnya cowok tukang gosip semua.

“Ada apaan tadi, Mai?” Tanya gue menggebu-gebu.

“Ngg..” Mai tampak memelankan suaranya, “Tentang Ipeh.” Tukasnya bisik-bisik.

Mendengar nama Ipeh disebut, sontak seluruh mata anak-anak langsung melihat ke arah gue.

“Ipeh?” Tanya gue heran mencoba menyembunyikan rasa penasaran.

“Iya. Masalah yang kemarin di Museum kayaknya belum beres deh, Dim.” Jawab Mai.

“Kenapa lagi tuh Rambo?” Tanya Ikhsan memotong.

“Aku nggak tahu garis besarnya kaya apa sih, tapi yang jelas Ipeh kayaknya dilabrak gitu sama cewek yang kemarin. Kebetulan saat itu aku sama Dilla and the geng lagi makan di kantin. Awalnya ya adu cek-cok lah antara sesama cewe. Kalau di antara cewek begitu, kalian pasti udah tahu siapa yang bakal menang kan?”

“Ipeh..” Jawab kita berempat serentak kompak sambil mengangguk-angguk dan mengelus janggut.

“Nah, tapi yang bikin runyam tuh ternyata di sana ada pacar si cewek yang lagi berantem sama Ipeh ini. Eh dia malah ikut-ikutan coba…”

Belum selesai Mai menjelaskan, gue, Ikhsan, Bobby, dan Nurhadi saling berpadang-pandangan dengan tatapan yang serius.

“Ipeh didorong gitu. Nggak terima karena dia main fisik, Ipeh tanpa pikir panjang langsung nampar tuh cowok. Wuih bunyinya keras banget. Semua orang di kantin langsung pada hening coba. Eh setelah ditampar bukannya si cowok tobat eh malah makin songong aja. Daripada makin runyam, Dila and the geng langsung misahin Ipeh dari sana dan Ipeh dibawa menjauh dari kantin ke lapangan basket.” Mai menjelaskan.

Kita semua terdiam.

“Lha terus elo sendiri ngapain ke sini?” Tanya Ikhsan kepada Mai.

“Ah iya lupa, tadinya aku ke sini cuma mau ngambil tempat minumnya Ipeh doang tapi kenapa malah jadi cerita panjang lebar ke kalian. Yaudah aku duluan yaaa. Nggak enak ditungguin Ipeh.” Jawab Mai yang langsung bergegas pergi lagi keluar kelas.

Keadaan kelas kini menjadi lebih hening setelah Mai tidak ada. Mata para anak monyet yang dari tadi duduk di atas meja dan jendela itu sekarang sedang melihat ke arah gue dengan tatapan kaya Mahasiswi semester 8 yang udah kebelet nikah, penuh teka-teki. Sedangkan gue sendiri setelah mendengar perkataan Mai menjadi lebih pendiam, tatapan gue kosong menghadap ke arah lantai tanpa memperhatikan ke arah sekitar lagi.

Ikhsan menyenggol tangan Nurhadi tanda menanyakan keadaan gue tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Nurhadi menggeleng-geleng tanda tidak mengerti. Kemudian Nurhadi melemparkan garpu popmie lemes yang diambilnya dari kolong meja lalu melemparkannya ke arah Bobby. Bobby langsung menengok ke arah mereka, Nurhadi memberikan kode menanyakan keadaan gue kepada Bobby, tapi Bobby juga malah menaikan pundak tanda tidak mengerti. Siang itu tidak ada yang berani menanyakan keadaan gue.

Bel sekolah telah berbunyi. Beberapa anak-anak kini masuk kembali ke dalam kelas. Gue menatap serius ke arah setiap anak-anak yang masuk mencari keberadaan Ipeh. Selang 5 menit, ada sosok Mai terlihat masuk ke dalam kelas, dia melirik ke arah gue sebentar lalu menggerakan kepalanya ke belakang seperti memberi tahu bahwa ada Ipeh di belakangnya. Mai benar-benar mengerti gue tampaknya.

Dan ternyata benar, Ipeh masuk ke dalam kelas dengan keadaan masih dipeluk oleh Dila and the geng. Melihat hal itu jantung gue berdetak cepat, tangan gue mengepal, pikiran gue kacau balau. Ada perang antara logika dan perasaan ketika melihat seorang yang gue sayang kini tengah lesu seperti itu tanpa gue bisa melakukan apa-apa untuk membantunya. Gue nggak tahu harus memilih pihak siapa? Logika gue yang mengatakan agar gue tetap diam di tempat, atau hati gue yang mengatakan untuk mendatangi Ipeh dan duduk di sampingnya? Saat ini gue begitu membenci diri sendiri lantaran tidak bisa menjadi seorang pria yang berani mengambil keputusan.

Ikhsan yang duduk di sebelah gue pelan-pelan menepuk pundak gue dan menyarankan agar gue lebih tenang sedikit melihat hal ini.  Hati gue seakan pecah dua kali. Yang pertama adalah karena tidak bisa ada di saat dia butuh seperti itu. Dan yang kedua adalah karena membiarkannya dalam keadaan seperti ini.

Secara pelan-pelan, Ipeh diantarkan duduk ke bangku kelasnya lagi oleh Dila. Setelah duduk, mereka tampak masih setia menenangkan Ipeh, sedangkan teman-teman cowok malah pada duduk di sekitar gue dan menenangkan gue.

Apaan nih?! Dikira gue lagi kesurupan apa pake acara ditenangin segala?!

“Lo mau ngapain habis ini?” Tiba-tiba Ikhsan yang duduk di sebelah gue membuyarkan segala lamunan gue ketika anak-anak yang lain masih sibuk ngerjain tugas Bahasa Indonesia.

Gue menatapnya sebentar, lalu geleng-geleng tanda tidak tahu.

“Seriusan? Gue jadi curiga.” Tukasnya lagi yang kini nyolok pipi gue pake pinsil yang baru diserut.

Gue masih geleng-geleng.

“Geleng-geleng mulu lo kaya orang dugem. Yaudah serah lo deh, tapi awas aja kalau lo sampe ngedatengin cowok yang tadi diceritain Mai tanpa bilang-bilang ke gue. Awas aja. Persahabatan kita putus kalau lo berantem sendirian. ”

“…”

“Kalau lo berantem sendirian tanpa bilang-bilang ke gue, gue sumpahin nanti kalau lo kawin terus punya anak, anak lo paracetamol.” Kata Ikhsan yang kini kembali serius mencontek tugas Bahasa Indonesia kepunyaan Bobby yang entah darimana datangnya dan tiba-tiba ada di meja kita itu.

Makin ke sini, gue makin ngerasa persahabatan gue sama Ikhsan ini kaga ada romantis-romantisnya sama sekali. Hampa. Kosong. Kaya pantat bolong. Isinya kalau nggak tentang berantem ya tentang disakitin cewek. Benar-benar pejuang cinta yang luar biasa.

.

                                                       ===

.

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Dari ujung sudut kelas, gue bisa melihat Ipeh dengan buru-buru merapihkan segala barang bawaanya dan pulang begitu saja tanpa melihat sedikitpun ke arah gue. Gue diam sebentar, berpikir, lalu secara perlahan bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendatangi Mai. Gue tidak sadar kalau saat itu mata Ikhsan dan Nurhadi masih terpaku ke arah gue.

“Mai.. Gue mau tanya.” Tanya gue mencoba menahan Mai  yang hendak bangkit dari duduknya.

“Kenapa, Dim?”

“Ngg.. tentang Ipeh tadi.”

“Ipeh? Kenapa?”

“Gue boleh tahu cowok yang ada urusan tadi sama Ipeh tuh anak kelas mana? Ciri-cirinya apa dan namanya siapa?” Tanya gue pelan mencoba agar tidak ada yang mendengar apapun yang gue bicarakan dengan Mai.

“Kamu mau apa?” Tanya Mai sedikit curiga.

Nggak kok, Mai. Setidaknya gue mau tahu aja.”

Akhirnya setelah gue yakinkan berkali-kali, Mai mau memberitahukan ciri-ciri cowok tersebut. Ketika cukup mengingat segala ciri-cirinya dengan baik, gue langsung berjalan menghampiri Nurhadi. Dan seperti yang telah gue duga sebelumnya, Nurhadi dan Ikhsan ternyata sedari tadi masih melihat ke arah gue.

“Di..” Kata gue.

“Oi?”

“Gue mau nanya.”

“Sorry, gue udah punya pacar.”

“…”

“Mau nanya apaan? Muka lo lecek amat kaya Tisu Basah.”

“Di, lo kenal sama yang namanya Bagas?”

“Bagas? Cowok? Ah elo bagian nanya ke gue aja kenapa mesti cowok coba.”

“Iya Bagas, denger-denger sih doi anak basket.”

“Oh si Anak guru? Kenal gue, dia anak basket juga. Se-tim sama gue. Kenapa?” Jawab Nurhadi.

“Mau nanya aja, dia sekarang biasanya latihan basket? Atau langsung pulang?” Tanya gue lagi.

Mendengar pertanyaan gue tadi, Nurhadi sedikit memicingkan mata, mencoba berpikir lalu melirik ke arah Ikhsan. Mereka tampak mencium sesuatu yang tidak beres.

“Itu anak hari ini latihan, tapi biasanya dateng terlambat. Nongkrong dulu di kantin. Maklum lah anak Guru, suka seenaknya aja. Mentang-mentang nyokapnya guru di sini dia jadi belagu. Di ekskul basket juga belagunya minta ampun. Padahal main basketnya aja jelek masa. Dibanding elo sih bagusan elo, Dim. Apalagi waktu dia jadi pow…”

“Oke cukup, kenapa ini elo malah jadi curhat?!” Gue memotong.

“Aelah curhat dikit aja pake lo potong segala. Pelit amat. Nggak balik lo, Dim?” Tanya Nurhadi dengan nada curiga.

“Enggak ah, mau di kelas dulu, nongkrong.”

“Oooh..” Ucap Nurhadi sambil melirik ke arah Ikhsan.

“San, cabut yuk ah basket.” Tiba-tiba Nurhadi berdiri dan berjalan ke arah Ikhsan.

“Yuk deh. Dim, kita duluan ya.” Balas Ikhsan.

“Oke-oke..”

Mereka berdua pun pada akhirnya pergi meninggalkan kelas. Sekarang di kelas hanya tinggal beberapa orang. Selain anak-anak yang dapat tugas piket, beberapa anak-anak yang lagi nunggu Les juga masih setia nongkrong di kelas.

Setelah sempat diam sejenak dan duduk melamun ke arah jendela. Gue menghela napas panjang. Mengepal-ngepalkan tangan mencoba agar sedikit lebih rileks. Mengeluarkan baju seragam dari dalam celana, dan sedikit mengendorkan sabuk. Gue lihat jam tangan gue sebentar, lalu kemudian gue berdiri dan pergi meninggalkan kelas.

Tapi ketika gue sedang berjalan di lorong kelas, tiba-tiba dari pintu WC Pria, muncul Ikhsan dan Nurhadi sambil melihat ke arah gue. Gue cukup terkejut, lah ngapa nih anak berdua keluar dari WC cowok berduaan gitu. Gue jadi curiga. Jangan-jangan… Astagfirullah…

“Mau kemana lo?” Tanya Ikhsan ketus.

Gue hanya diam saja menatap ke arah mereka.

“Wah parah, Di. Nih anak nggak ngajak-ngajak kita.”

“Iya, San. Egois banget jadi orang. Senang-senang kok nggak ngajakin temen.”

Tampaknya Nurhadi dan Ikhsan sudah tahu apa yang bakal gue lakukan sebentar lagi.

“Jadi, sendirian aja nih? Nggak mau ngajak gue nih? Yakin?” Tukas Ikhsan bete.

Gue menatap mereka lalu mendadak tertawa, “Hahahaha emang anjing yah kalian tuh. Yaudah, percuma juga sih gue larang, ujung-ujungnya kalian juga pada ngintilin gue di belakang. Ayo deh. Udah siap?” Tanya gue.

“Nggak usah lo tanya kita udah siap atau enggak deh. Dari pertama masuk basket sampai sekarang gue bener-bener benci tuh anak. Dari dulu kek elo punya rencana kaya gini. Udah lama gue nggak makan anak orang.” Jawab Nurhadi yang langsung membuka seluruh kancing seragamnya.

“Mau dibuat rame aja nih, Dim?” Tanya Ikhsan.

“Hahahaha gimana entar.”

Ikhsan menatap ke arah gue. “Yaudah gini deh, karena kita juga sahabat Ipeh, dan di antara kita bertiga itu elo yang paling deket sama Ipeh, maka kita ngalah deh. Kita nurut aja di belakang lo. Gimana, Di? Setuju?”

“Yaaaah, kok gitu sih?! Masa nggak jadi rusuh?!” Nurhadi terlihat protes.

“Ya tergantung si Dimas aja sih. Kalau dia rusuh, kita rusuh juga.”

“Dim.. Rusuh please…” Ucap Nurhadi memohon.

“Hahahahahah bangke, emak lo dulu waktu lahiran ngidam apa sih, Di? Ngidam gear motor ya? Yaudah ayo deh.” Kata gue yang lalu berjalan meninggalkan mereka dan kini mereka mengikuti gue dari belakang.

Satu yang nggak akan pernah gue biarkan terjadi di hidup gue, nggak boleh ada yang nyakitin perasaan temen-temen gue apalagi orang yang gue sayang tanpa sepersetujuan dari kedua-belah pihak. Dalam hal ini, cuma cowok pengecut yang berani nyakitin cewek dari segi fisik. Kalau siang tadi Ipeh tidak bertindak karena kalah jumlah, maka cowok Anjing itu bakal gue kasih pelajaran mengenai apa itu perkelahian kalah jumlah.

.

                                                         ===

.

Sepanjang perjalanan menuju kantin, terdengar dari belakang Ikhsan dan Nurhadi lagi pemanasan ala-ala preman mau berantem. Kancing bajunya dibuka, lengan digulung, peregangan jari dan leher, pokoknya udah mirip kaya tukang jagal. Setelah tidak lama berjalan dan pada akhirnya kita sampai di mulut kantin, ternyata benar kata Nurhadi. Cowok yang namanya Bagas itu sekarang lagi duduk-duduk di kantin sambil menaikkan kaki ke atas kursi, berlagak layaknya dia cowok yang disegani padahal anak-anak hanya menghormati Ibunya yang notabenenya guru kelas 10.

Saat itu Bagas tidak sendirian, di samping Bagas ada pacarnya, seorang cewek yang jadi alasan kenapa semua hal siang tadi terjadi. Beberapa anak buah Bagas—Sebut saja anak buah, sejenis kroco-kroco yang suka ngikutin orang yang dianggapnya hebat kemana-mana—juga ada di sana, beberapa dari mereka ada yang anak basket dan beberapa ada yang nggak Nurhadi kenal.

Posisi Bagas saat itu sedang membelakangi jalanan kantin sehingga tidak melihat adanya gue, Ikhsan, dan Nurhadi yang datang dengan tampang bajingan semua.  Gue berjalan perlahan diikuti kedua buah jenglot di belakang gue itu lalu pergi menghampiri Bagas. Bagas masih tidak menyadari kedatangan kita bertiga, yang menyadari ada hal yang janggal lebih dulu adalah anak buahnya Bagas. Mereka menatap ke arah gue dengan tatapan penuh tanya, sedangkan gue menatap ke arah mereka dengan tatapan andalan gue.

Sejak gue SMP, gue selalu menjadi biang masalah dengan senior di sekolah atau orang-orang di sekitar gue. Alasannya satu, yak benar! Tampang gue menyebalkan setengah mati, atau mungkin, sangat menyebalkan. Itu sebabnya setiap ospek, gue selalu jadi incaran kakak kelas, dan ketika gue kebagian ngospek, gue selalu ditunjuk menjadi panitia keamanan dan mendapatkan banyak sekali surat benci. Beberapa orang yang baru pertama mengenal gue pasti langsung ngejudge gue dengan berbagai macam statement. Dari sebutan yang namanya brengsek, bajingan, tukang berantem, urakan, preman, emosian, suka ngeremehin orang, tukang jagal, Leonardo DiCaprio, Adam Levine, John Mayer, semuanya pernah gue dapat.

Maka tak ayal ketika gue mengeluarkan tampang  seperti ini, para anak buah Bagas langsung terlihat agak sedikit gentar.

“Minggir. Gue mau duduk.” Kata gue dingin. Dengan sigap, semua anak-anak di sana langsung minggir tanpa protes sama sekali.

Gue tarik satu buah kursi plastik, lalu gue duduk di depan Bagas. Kita sekarang hanya dipisahkan oleh meja panjang dari kayu doang tempat bibi kantin biasanya menaruh jajanan. Ikhsan juga mengikuti jejak gue, dia ambil kursi plastik lalu duduk di samping gue. Sedangkan Nurhadi memilih berdiri di belakang gue dengan memamerkan badannya yang luar biasa besar sekaligus hitam pekat kaya spidol abon.

“Ada apaan nih?!” Tiba-tiba Bagas membentak ke arah kita bertiga ketika mulai menyadari ada hal yang tidak beres. Kita bertiga tak menjawab, hanya terus menatap ke arahnya sinis.

Melihat akan terjadi sesuatu hal yang buruk, pacar Bagas yang sedari tadi duduk di sampingnya itu kini mencoba berdiri dan pergi. Namun belum sempat dia melangkah, gue langsung ambil tindakan.

“DUDUK!” Bentak gue kasar sambil menunjuk ke arahnya.

Tidak terima pacarnya dibentak, Bagas langsung membentak balik.

“Woi!! Apan-apaan lo ngebentak pacar gue! Mau jadi jag..”

BYUR!!
Belum sempat merampungkan kalimatnya, gue langsung mengambil gelas berisi air yang ada di atas meja tadi dan membanjurkannya tepat ke arah muka bagas. Bagas terkejut, otomatis tuh anak kampret langsung emosi. Bagas langsung berdiri mau menghajar gue sebelum tiba-tiba.

“DUDUK LO ANJING!! MAU GUE BIKIN NGGAK BISA MAIN BASKET SEUMUR HIDUP LAGI LO HAH?!” Mendadak Nurhadi membentak keras sambil menggebrak meja sehingga kini seluruh anak-anak di kantin matanya menatap ke arah kita bertiga.

Nurhadi ini emang pada dasarnya sangat menyeramkan. Lahirnya bukan dari rahim, tapi dari turbin aer. Itu sebabnya kalau dia udah ngebentak kaya gitu, secara spontan Bagas yang tadi telah naik pitam mendadak ciut dan menuruti semua perintah Nurhadi. Gue juga kalau dibentak Nurhadi pasti langsung diem sih. Gue masih belum mau mati.

Keadaan makin panas, namun berkat kehadiran Nurhadi, semua musuh yang ada di sana tidak ada yang berani bertindak gegabah. Setelah keadaan sedikit cukup tenang, kini giliran gue yang buka suara. Dan btw, seharusnya adegan ini semuanya pake bahasa sunda kasar sih. Kasar banget malah. Tapi gue terjemahin pake bahasa lokal aja deh ya. Saat itu gue masih menatap ke arah Bagas dengan wajah menyebalkan.

“Heh, anak anjing. Lo masih belum sadar kedatangan gue ke sini untuk apa?! Emang dasar anak Anjing ya lo.” Ucap gue datar, tapi mematikan.

“Apaan lo anjing main banjur gue pake aer aja?! Nyari mati lo?! ” Bagas terlihat tidak terima.

Melihat hal itu, gue hanya tersenyum sinis. “Anak Anjing emang banyak bacot. Tadi siang, gue denger pacar lo ini ada masalah sama Ipeh, anak kelas 10-A. Terus tadi siang, kuping gue ini juga denger kabar kalau ternyata elo ini ikut campur masalah mereka? Ini lo mau bilang kuping gue yang budek, atau emang berita yang gue denger itu bener?”

“…” Bagas terdiam.

“Oh jadi bener.. Ternyata kuping gue nggak budek. Jadi berita yang gue denger tadi siang itu bener kan, ANJING?!” Nada gue mulai meninggi.

“…” Bagas masih terdiam.

“BANGSAT LO ANJING!!”

BRAK!!
Tiba-tiba Ikhsan yang sedari tadi duduk tenang di sebelah gue mendadak teriak keras sambil memukul meja. Otomatis semua orang yang ada di sana terkejut, termasuk gue dan juga Nurhadi. Apa-apaan nih anak tiba-tiba marah kaya orang kesurupan. Goblok emang, gue malah jadi pengin ketawa gara-gara gue sendiri kaget pas dia gebrak meja. Tai ayam, hampir aja gue ngakak. Gue spontan langsung menatap Ikhsan dengan tatapan anjing-jangan-ngelawak-dulu-goblok. Tapi Ikhsan melihat ke arah gue dengan muka menyebalkan. Bener-bener komedi nih orang.

Gue kembali menatap ke arah Bagas dengan tatapan serius sekali lagi. Mencoba menahan rasa kesal karena si monyet yang tiba-tiba kaya orang kesurupan tadi.

“Gue nggak masalah kalau pacar lo ini ada masalah sama Ipeh. Tapi yang jadi masalah buat gue adalah, kenapa anak Anjing kaya lo ikut campur urusan cewek? Kalau saat itu lo ikut campur masalah cewek lo, itu berarti sekarang gue juga berhak ikut campur masalah cewek gue. Jangan beraninya main fisik Setan! Sini lawan gue kalau lo berani, ANJING!” Gue mulai menaikkan nada bicara gue lebih tinggi.

Keadaan semakin mencekam. Nurhadi kini mengambil 2 kursi plastik, satu buat dia duduki di sebelah gue karena mungkin dia capek berdiri terus kaya lagi naik Kopaja, satu lagi dia angkat di belakang punggungnya tanda siap untuk ngehajar orang-orang di sana pakai kursi.

Terserah gue dong, Anjing. Gue belain pacar gue. Lha elo siapanya Ipeh tai?!” Tanya Bagas membalas perkataan gue.

Mendengar itu gue tertawa pelan.

“Lo liat di samping kanan gue? Dia ini sepupu jauhnya Ipeh. Dia asli orang Bangka Belitung. Dan gue kasih tahu sama lo yang otaknya kecil kaya bengkoang itu, orang-orang Bangka kalau sudah main fisik bisa bikin nyawa orang melayang tau nggak lo!” Jelas gue.

“Org kaya ni, kek adeku yang kelas due sd ge bise dibuet minta ampun.. Bajingan kayak ka jak bise dipatah leher e skrg ge..” Ucap Ikhsan yang tiba-tiba berbicara dengan logat Bangkanya sambil menaikan kaki di atas kursi.

Anjir!!
Gue dan Nurhadi mendadak jadi pengin ketawa ngakak luar biasa mendengar tuh anak yang tiba-tiba berbicara pake logat bahasa Bangka. Suaranya mirip kaya boneka Susan. Kaga ada serem-seremnya. Kaya tukang angkot lagi nyari muatan. Bangsat!! Gue langsung mencubit kaki gue sendiri agar tidak tertawa terbahak-bahak ketika sedang dalam suasana serius seperti ini.

Dan lo pasti tahu, orang di sebelah kiri gue ini siapa?! Bokapnya Nurhadi itu temen bokapnya Ipeh. Jadi otomatis Nurhadi masih dianggap keluarga sama Ipeh. Gue rasa, Nurhadi sendirian bisa ngabisin semua orang di sini tanpa ngeluarin keringat sama sekali.”

Setelah gue berbicara seperti itu, Nurhadi langsung berdiri sambil masih membawa kursi plastik di tangan kirinya. Sontak semua orang yang ada di samping Bagas langsung pada mundur ketakutan.

“Oi, Gas! Jangan mentang-mentang elo anak Guru jadi bisa seenaknya di sini. Elo nggak tahu? Hampir semua anak basket nggak ada yang suka sama lo. Dan kayaknya kalau gue ngehajar lo sekarang juga semua anak basket bakal ngedukung gue. Kalau udah kaya gitu, Ibu lo yang guru itu juga nggak akan bisa ngapa-ngapain. Ngerti lo!” Nurhadi menggebrak meja sekali, lalu kemudian duduk lagi.

“Dan gue sendiri. Gue pacarnya Ipeh. Kalau lo nyakitin Ipeh, itu berarti lo nyakitin gue sekaligus dua orang di samping gue ini.”

Bagas menatap ke arah kita bertiga.

“Hahahah pengecut lo anjing beraninya keroyokan. Sama pengecutnya kayak cewek tomboy murahan tadi siang!”

DEG!!
Mendengar ucapannya barusan, sontak emosi gue tersulut hingga ke akar-akarnya, gue naik pitam, emosi gue meledak langsung. Saat itu entah apa yang sedang merasuki gue, secara spontan gue menendang meja yang jadi penghalang antara gue dan Bagas ini dengan keras sehingga meja tersebut membentur tubuh Bagas sekaligus pacarnya yang duduk di sebelah Bagas sambil ketakutan. Bagas yang tidak siap akan serangan dadakan ini langsung terjungkir jatuh dari kursinya ke belakang. Begitu juga dengan pacarnya.  

Melihat tindakan gue tersebut, Nurhadi langsung berdiri dan melemparkan kursi plastiknya ke arah anak Buah bagas sambil terus berteriak menantang mereka semua untuk maju. Sedangkan Ikhsan langsung loncat dari kursi dan menendang jatuh orang yang hampir menghajar gue dengan balok kayu ketika melihat gue menjatuhkan Bagas tadi. Ikhsan merebut balok kayu tersebut lalu mengacungkannya ke arah semua orang yang mau ikut campur masalah kita di kantin sore ini.

Mengetahui Bagas telah tersungkur jatuh, gue langsung meloncati meja yang tergeletak berantakan di depan gue dan menghajar mukanya sekali tepat di bagian hidung. Bagas berteriak kesakitan. Nurhadi tanpa pikir panjang langsung mengambil tindakan untuk melindungi gue dari serangan anak buah Bagas yang lain. Sedangkan Ikhsan malah sok gentleman dengan cara membantu pacarnya Bagas yang masih terjatuh dan memapahnya untuk berdiri.

“Kamu nggak papa kan?” Ucapnya sok keren tanpa peduli saat itu gue lagi ngapain.

Gue mencengkram erat kerah seragam Bagas dan menariknya sehingga kini mukanya mendekat ke arah muka gue.

“HEH ANJING!! PUNYA MULUT DISEKOLAHIN ANJING! LO BOLEH NGEHINA GUE, ATAU NGEHINA TEMEN GUE YANG ORANG BANGKA ITU! TAPI SEKALI LAGI LO NGEHINA IPEH, GUE BIKIN LO NGGAK BISA BACA TULIS LAGI ANJING!!” Bentak gue dibarengi dengan pukulan telak di pipi kirinya.

Ikhsan yang mendengar ucapan gue barusan langsung melihat ke arah gue dengan tatapan bete.

“Kenapa gue lagi yang dibawa-bawa. Tai.” Ucapnya pelan, tapi gue tetap dengar.

“Lo harus minta maaf, anjing! Awas aja, kalau sampe besok atau lusa gue masih belum denger ada permintaan maaf dari lo. Gue kirim Nurhadi buat bikin muka lo remedial total!”

Sebagai penutupan, gue hajar muka Bagas sekali lagi hingga bibirnya sobek, lalu kemudian berdiri menatap anak-anak buahnya Bagas.

“Gue nggak mau bikin masalah ini lebih panjang. Tapi kalau lo lo pada mau ngebuat masalah ini lebih panjang. Kita bertiga siap.” Ucap gue tegas lalu kemudian pergi berjalan meninggalkan kantin diiringi dengan Nurhadi dan Ikhsan yang juga jalan mengikuti gue dari belakang.

Selama perjalanan menuju kelas, kita bertiga masih terdiam. Emosi gue masih terlihat menggebu-gebu, begitu juga dengan Ikhsan yang masih membawa balok kayu rampasannya dari kantin. Sedangkan Nurhadi terlihat biasa saja.

Dan tiba-tiba, Nurhadi yang berjalan di sebelah gue menengok ke arah Ikhsan yang ada di belakang.

“San, besok-besok kalau ada lomba baca puisi, lo ikut gih, tapi bacanya pake logat bahasa Bangka kaya tadi. Pasti langsung menang.”

Mendengar ledekan Nurhadi tadi, Ikhsan yang masih terlihat serius mendadak jadi kesal luar biasa.

“BANGSAT LO GORILA!!”

Nurhadi langsung tertawa ngakak, begitu juga dengan gue yang langsung ikut tertawa mengingat bagaimana logat Ikhsan yang dia keluarkan tadi sewaktu adegan marah-marah di kantin.

“Lagian ini juga salah lo oi Dimas anak Setan! Ngapain juga tadi lo harus ngejelasin kalau gue ini orang Bangka?! Rasis anjing! Gue jadi spontan ngomong pake logat bahasa Bangka pas lo ngomong kaya gitu!” Ikhsan memukul kepala gue pake botol Aqua.

“Hahahah gue juga tadinya bingung mau jelasin apa, njing. Yaudah itu aja. Lagian akting lu tadi juara. Suara lo kalau pake logat Bangka jernih kaya suara rerumputan pagi.”

“HAHAHAHAHAHAHA.” Nurhadi tertawa terpingkal-pingkal di sebelah gue.

“Bangsat lo pada.” Ikhsan terlihat Bete.

Kita semua masih tertawa-tawa sepanjang jalan menuju kelas.

Lagi asik-asik Ikhsan dan Nurhadi tertawa, gue menepuk pundak mereka satu persatu.“Btw bro. Makasih ya.” Tukas gue.

Mendengar ucapan gue barusan, Nurhadi yang masih terkekeh mendadak langsung diam. Begitu juga dengan Ikhsan.

“Anytime bro, lagian gue juga udah lama pengin ngehajar si Bagas sih. Tapi sayang tadi nggak kesampaian. Gue kira bakal ada adegan berantem, tapi ternyata anak buahnya cemen semua nggak ada yang berani maju.” Tukas Nurhadi.

“Wah, Ipeh seharusnya berterima kasih sama lo, Dim.” Tiba-tiba Ikhsan angkat bicara.

Gue terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran gue ketika mendengar apa yang Ikhsan ucapkan barusan.

“San, Di. Untuk yang satu ini, please janji sama gue, sebisa mungkin Ipeh jangan sampai tahu.” Kata gue pelan.

“Loh kok gitu?! Padahal ini juga bisa jadi pembuktian bahwa lo itu satu-satunya orang yang pantas buat mendampingi Ipeh ketimbang pacarnya kan?! ” Ikhsan terlihat protes.

Gue menatap kosong ke arah lorong-lorong kelas yang mulai tidak berpenghuni lagi di sore menjelang Maghrib ini.

“Ya nggak papa sih, tapi  please, anggap aja apa yang baru kita lakukan tadi itu dalam rangka kita bantu temen sekelas. Bukan buat bantu Ipeh doang. Jadi nggak usah dipamer-pamerin.” Jawab gue pelan.

Ikhsan kini menatap bingung ke arah Nurhadi.

Gue juga sebenarnya setuju sama si Dimas, San.” Jawab Nurhadi. “Cowok mah urusan berantem jangan dibicarain. Nggak etis. Cuma cowok cari sensasi doang yang kalau berantem terus diceritain ke orang-orang.” Tambah Nurhadi lagi.

Ikhsan menghela napas panjang seperti ada rasa tidak Ikhlas mendengar ucapan Nurhadi barusan.

“Yaudah deh, gue ngikut lo lo pada aja.” Jawab Ikhsan.

“Thanks, Bro. Lo emang sobat-sobat baik gue.” Gue menepuk pundak Ikhsan dan Nurhadi.

Sebelum balik ke kelas, Nurhadi izin pergi ke WC dulu untuk mencuci muka lantaran mukanya sudah penuh keringat kayak wajan. Lagi nunggu di luar WC, tiba-tiba Ikhsan menyenggol lengan gue.

“Kenapa lo nggak mau ngasih tahu Ipeh?” Tanya Ikhsan yang masih penasaran.

Gue menatapnya sebentar, lalu menunduk sambil bersandar di tembok WC pria.

“Gue nggak mau Ipeh tahu seberapa berartinya dia buat gue sekarang. Gue takut kalau Ipeh tahu hal ini, hubungan Ipeh sama pacarnya malah jadi runyam gara-gara Ipeh makin bimbang untuk memilih siapa di antara kita berdua yang lebih pantas buat dia. Kan elo juga tahu apa yang dia tanyain sama gue waktu di supermarket kemarin itu.” Jelas gue.

“Hmm, Ipeh emang begok nggak milih lo dan malah memilih orang lain, Dim.” Ikhsan terlihat kesal.

“Hahaha, please don’t tell her, San?” Gue melirik ke arah Ikhsan.

“Iya iya oke oke, gue janji.” Jawabnya dengan nada yang masih tidak rela.

“Thanks, sob.” Gue menepuk pundaknya sekali lagi.

Kini kita sama-sama terdiam. Gue masih berdiri bersandar menunggu Nurhadi keluar dari WC sedangkan Ikhsan masih berdiri di depan gue dengan tampang seperti orang yang memikirkan sesuatu.

“Btw, Dim. Emang nyokap si Bagas tuh Guru di SMA kita ya? Kok gue baru tahu sih?”

“Si anying..”

.

.

.

                                                    Bersambung

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: Something Blue

Aku ingin berubah menjadi lebih baik. Sehingga nanti ketika kau melihat aku, Tuhan tersenyum dan berbisik kepadamu bahwa doamu telah dikabulkanNya.  

                                                            ===

.

Jadwal perlombaan Vocal Grup hanya tinggal sisa 5 hari lagi. Itu berarti jadwal latihan gue, Ikhsan, dan Bobby akan lebih banyak ketimbang hari-hari sebelumnya. Dan yang anehnya, setiap gue latihan Band bersama anak-anak VG, entah kenapa Ipeh selalu tidak ada. Tapi ketika gue nggak latihan Band, Ipeh ada di sana kumpul bersama anak-anak VG.

Semakin kentara jelas bahwa Ipeh memang menjauhi gue, bahkan untuk sekedar berbicara pun gue tidak diberi kesempatan. Baru kali ini sudah jalan beberapa hari tapi gue belum sedikitpun bertemu sapa dengan Ipeh. Walaupun kita sekelas, rasa-rasanya sikap dia yang dingin itu secara tidak langsung menolak langkah kaki gue untuk melangkah menghampirinya.

Namun gue tidak mau hubungan gue dengan Ipeh harus berakhir dengan konflik seperti ini, sebisa mungkin gue harus bisa berbicara dengan Ipeh. Gue melakukan banyak cara untuk mencapainya, salah satu caranya adalah ketika saat itu pelajaran matematika sedang berlangsung. Pak Tatang– guru matematika– memberikan tugas kepada anak-anak untuk mengerjakan soal di buku cetak matematika ketika Beliau ada rapat dengan guru-guru yang lain.

Beberapa anak yang ada di barisan depan terlihat rajin mengerjakan, yang di barisan tengah terlihat asik mencontek, dan yang di barisan paling belakang malah duduk di lantai sambil main kartu, gitar-gitaran, berantem, atau asik mainan bola basket.

Mumpung teman yang lain sedang asik bercengkrama di belakang kelas, gue mencoba mendatangi Ipeh sembari membawa buku cetak matematika. Pelan-pelan gue mendatanginya yang tengah serius mengerjakan sambil mengkotret di kertas buram.

“Ipeh..” Gue menyapanya pelan.

Ipeh tidak menjawab, dia masih serius mengerjakan tugas.

“Peh, bantuin gue dong..” Gue mencoba membuat Ipeh melihat ke arah gue sekali lagi.

“Gue mentok nih Peh, nomer 3 udah belum?” Tanya gue.

“Belum.” Jawabnya dingin tanpa menengok sama sekali.

“…”

“Kalau begitu ajarin yang nomer 2 dong Peh, caranya gue nggak ngerti deh. Bingung gue kalau soal hitungan begini.” Kata gue lagi.

“Sama, gue juga nggak ngerti.” Jawab Ipeh dingin.

“…”

Senyum di mulut gue mendadak pudar mendengar perkataanya yang terakhir itu. Rasa-rasanya gue sangat dibenci oleh Ipeh sampai-sampai dia mengajari gue matematika saja tidak mau. Padahal gue tahu dia bisa, dia itu anak ajaib kalau tentang pelajaran, nilainya di setiap bidang IPA selalu di atas 90 semua. Maka nggak mungkin kalau Ipeh tidak bisa mengerjakan soal matematika nomer 2 yang padahal gue sendiri sebenarnya bisa mengerjakannya.

Sikap dingin Ipeh ini tidak berhenti begitu saja, bahkan ketika pada pelajaran bahasa Indonesia pun Ipeh masih terlihat mengacuhkan gue. Saat itu guru bahasa Indonesia menyarankan kita membentuk kelompok diskusi berisi 5 orang untuk membicarakan tentang naskah drama. Mengetahui hal ini gue langsung mencatat nama-nama orang yang akan dimasukan ke kelompok gue. Bobby, Nurhadi, Ikhsan, gue, dan Ipeh. Namun ketika gue bertanya ke arah Ipeh, ternyata Ipeh sudah ikut gabung dengan kelompok lain.

Dengan sangat berat hati akhirnya gue mencoret nama Ipeh dan terpaksa menggantinya dengan orang lain. Ikhsan dan Bobby hanya menepuk pundak gue tanda ikut berbela sungkawa atas meninggalnya persahabatan di antara gue dan Ipeh.

“Lo masih dingin-dinginan gini?” Tanya Bobby sambil mengelus pundak gue.

“Gue sih maunya nggak gini, Bob. Tapi dianya sendiri gitu.” Gue menghela napas panjang.

“Rasa-rasanya kelas sepi ya kalau tuh bocah kagak ngerecokin kita.” Tambah Bobby.

“Iya, gue kangen berantem sama tuh anak.” Jawab Ikhsan.

“Emang Ipeh dingin juga sama elo, Nyet?” Tanya gue kepada Ikhsan.

“Nggak sih, kemarin siang gue ngobrol sama doi di Kantin.” Jawabnya.

“Eh seriusan?! Lu kenapa kaga bilang ke gue?!”

“Lupa gue ahahahaha.”

“Ah tai. Emang dia ngomong apaan aja?”

“Nanya tentang Band kita sama VG.”

“Terus?”

“Udah gitu aja, dia nanya perkembangannya gimana.”

“Dia nggak nanya tentang gue?”

“Kaga.”

“Ah! bangke. Capek gue lama-lama kalau gini terus.” Gue mulai garuk-garuk kepala.

“Capek kenapa?”

Mendadak gue yang lagi senewen karena dicuekin Ipeh ini dikejutkan oleh kedatangan seorang cewek manis di meja kita. 

“Eh Mai.. Nggak kok Mai nggak papa.”

“Masa sih? Lagi ada masalah sama Ipeh ya?” Tanya Mai lagi.

“Iya Mai, biasalah, masalah suami istri.” Tukas Ikhsan.

“Eh, kalian udah jadian emang?” Tanya Mai.

“Belom kok belom. Noh si monyet aja tukang gosip.” Jawab gue.

“Oh kaget gue. Eh ngomong-ngomong kelompoknya masih kurang orang nggak? Gue belum dapet kelompok nih.” Tukas Mai merengek.

Saat itu sebenarnya kelompok kita ini sudah penuh, gue sudah mengganti nama Ipeh dengan nama teman gue yang lain. Namun tiba-tiba mendengar Mai masih belum ada kelompok, dengan bringas Ikhsan langsung merebut kertas tempat gue menulis daftar anggota kelompok.

“Belum kok Mai, masih kosong satu.” Kata Ikhsan yang langsung mencoret salah satu nama teman kita.

“…” 

Melihat itu, kita berempat cuma bisa diem aja. Temen gue yang Ikhsan coret itu sebenarnya teman baik kita berempat, cuma kebetulan sekarang doi lagi nggak masuk sekolah karena sakit. Doi kemarin sudah titip pesan kalau ada tugas kelompok, doi minta dimasukin ke kelomok gue. Lha tapi sekarang namanya malah dicoret sama si Ikhsan.

“Nyet, gimana sih. Itu masa lo coret gitu aja nama temen lo?” Tanya Bobby.

“Biarin ah, Bob. Nanti lo bilang aja kalau kelompoknya udah penuh.” Jawab Ikhsan enteng.

“…”

Karena sekarang Mai ada di kelompok kita, sontak anak-anak cowok yang lain kembali bersemangat. Berbeda dengan Ipeh, walaupun mereka sama-sama wanita, tetapi Mai lebih lembut, lebih ada jiwa wanitanya. Sebagaimana wanita biasanya, Mai senang jika diberi mandat untuk tulis menulis dan berlaku sebagai bendaraha. Mai pun terlihat lebih kalem dan setuju-setuju aja kalau semisal gue dan Ikhsan berpendapat mengenai naskah drama yang sedang kita kerjakan.

Berbeda dengan Ipeh, Ipeh pasti selalu menjadi ketua dadakan di kelompok kita. Dia nggak mau kalau pendapatnya dicela orang lain. Walaupun gue dan Ikhsan telah setuju dengan satu point, jika Ipeh tidak setuju, otomatis point itu tidak bisa kita masukan ke dalam naskah drama. Ipeh juga paling males kalau disuruh jadi bendaraha, alasannya simple, gue, ikhsan, dan Nurhadi emang paling males buat bayar iuran, nah Ipeh juga paling males kalau kebagian nombokin mulu.

Namun biar bagaimanapun, sosok urakan Ipeh rasa-rasanya lebih pas untuk mendampingi kita berempat ketimbang sosok manis seorang Mai. Mai membuat kita canggung untuk berpendapat, sedangkan Ipeh membuat kita bisa bebas berbicara tentang banyak hal tanpa harus takut ada yang tersinggung karena perbedaan gender.

.

                                                               ===

.

Sehabis pelajaran Bahasa Indonesia, pelajaran berikutnya adalah pelajaran olahraga. Setelah bel pergantian jam pelajaran berbunyi, anak laki-laki langsung pada buka baju seragam dan menggantinya dengan baju olahraga. Cowok emang paling doyan sama pelajaran olahraga, selepas berganti pakaian, mereka langsung pada cabut pergi ke lapangan basket dengan membawa bola basket atau bola sepak. 

Sedangkan yang cewek-cewek pada pergi ke WC untuk berdandan rapih dengan baju olahraga. Baju olahraga SMA itu kalau dikenakan oleh cewek membuat lekukan tubuhnya nambah 20% persen. Ini mengartikan stabilitas jakun gue naik turun lebih banyak siang hari ini. Melihat Dila yang semok atau Mai yang putih kaya tehel mushola membuat gue makin susah berkonsentrasi ketika lagi berada di kelas.

Di saat cowok-cowok yang lain pada berhamburan ke luar kelas dan langsung berlari menuju lapangan basket, gue lebih memilih lenjeh-lenjeh di perut Bobby yang empuk. Iya, gue, Ikhsan, dan Bobby kayaknya lagi males untuk pergi ke lapangan basket. Selain karena hari ini sudah menyentuh pukul 12 siang dengan matahari yang lagi percaya diri banget di atas langit, kelas yang kosong ditinggalkan oleh sebagian besar anak-anak cowok ini pun membuat angin yang masuk ke dalam kelas semakin terasa semriwing, benar-benar membuat malas untuk bergerak banget suasananya.

Ikhsan asik ngobrol dengan Tasya, Mai sedang ribut dengan gengnya sendiri, dan geng Dila yang paling modis di kelas sudah lebih dulu menclok di kantin. Ya cewek emang gitu, kalau pas pelajaran olahraga pasti bawaanya lebih memilih untuk nongkrong di kantin ketimbang di lapangan basket.

Sedangkan posisi Bobby sekarang sedang duduk di sebuah kursi yang mepet dengan tembok, dan kebetulan di temboknya itu ada jendela besar juga yang bisa dibuka. Alhasil tempat duduk Bobby itu tempat duduk paling asik buat dipake tiduran. Bobby bersandar di tembok sambil merem karena menikmati angin yang berhembus, udah mirip kaya bapak-bapak yang tiap pagi hari pake kaos dalem warna putih, pake sarung, baca koran, minum kopi, terus mandiin burung pake semprotan. Burung bapak. Burung perkututnya bapak. 

Dan gue? gue asik tiduran di perut Bobby sambil selonjoran di 2 kursi yang dijadikan satu. Gue benar-benar lagi malas olahraga banget hari ini, selain karena Mood gue yang masih nggak enak sama Ipeh, cuaca panas mencrang juga membuat gue malas pergi ke luar kelas.

“Nyet, gue duluan yak.” Tiba-tiba Ikhsan mengagetkan gue yang lagi bengong menatap langit-langit kelas.

“Kalau udah ada gurunya, sms gue ya.” Jawab gue.

“Sip.”

Setelah Ikhsan pergi, gue kembali bengong menatap ke arah langit-langit kelas. Bobby sang Balmut alias Bantal Selimut ini sudah tertidur pulas, dia sedikit mendengkur karena lemak di lehernya yang membuat kerongkongannya terhimpit seperti kodok habis nelen capung. Gue menggoyang-goyangkan kaki sambil bergumam sendirian.

Namun tiba-tiba, pandangan gue teralihkan kepada sosok yang sekarang sedang berjalan menuju ke luar kelas, Ipeh. Dia berjalan sendirian sebelum pada akhirnya sempat berhenti dan menatap ke arah gue yang lagi tiduran di kursi sambil senderan di bantal dengan berat 89 Kilogram ini. Ipeh memandang gue, dan gue memandangnya. Kita diam sebentar. Lalu kemudian Ipeh melepaskan pandangannya dan berjalan pergi meninggalkan kelas.

Pfftt
Dikira gue Majalah Bobo apa?!
Cuma diliat doang dah gitu ditinggal pergi.

Gue menghela napas panjang dan mencoba nggak mau mengambil pusing perkara Ipeh. Bagaimana tidak? beberapa hari ini otak gue selalu diberikan tugas yang begitu berat dengan memikirkan Ipeh terus-menerus. Tampaknya sudah saatnya gue istirahat sebentar, sekali-sekali boleh lah gue merasa acuh tak acuh dulu dengan sikapnya itu.

Gue melanjutkan menatap langit-langit kelas. Gue melihat jam, ternyata sudah lebih dari 30 menit berlalu. Gue bangkit dari tidur gue, meregangkan badan sebentar, lalu menepuk pipi Bobby dengan penggaris kelas yang terbuat dari kayu.

“Bob!”

Buk!
Gue pukul pipinya pake penggaris kayu.

“ANJING SAKIT SETAN!!” Mendadak Bobby langsung bangun sambil memegangi pipinya.

“Hahahaha bola voli pantai ngamuk. Ke lapang yuk Bob, kelas udah sepi nih.”

“Udah jam berapa emang?”

“Udah telat setengah jam nih. Makan yuk Bob di kantin.”

“Wah ide bagus tuh, kebetulan gue juga laper. Ayok deh.” Kata Bobby setuju.

Akhirnya kita berjalan menuju kantin. Sesampainya di kantin Bobby memesan makanan sedangkan gue melihat di lapangan basket anak-anak kelas lagi mengadakan pertandingan kecil-kecilan. Sudah tentu Ikhsan dan Nurhadi ada di sana. Ipeh juga ada, tapi Ipeh bermain basket bersama teman-teman ceweknya yang lain.

Gue berjalan menuju lapangan basket meninggalkan Bobby yang sekarang lagi asik berkecimpung dengan nasi katsunya di kantin. 

“Nyet, sini gabung sama kita-kita.” Ucap Ikhsan yang melihat gue jalan menuju lapangan basket.

“Kaga ah. Rematik.” Jawab gue polos.

“….”

Mood gue lagi nggak enak buat dipake olahraga, gue lebih memilih duduk selonjoran di pinggir lapangan sambil melihat dari jauh pantat Ipeh dan pantat cewek-cewek lainnya yang bergetar karena lagi serius bermain basket.

#CowokSyariah.
#JebolanPesantrenDivisUtama

Sambil masih asik melihat keagungan pantat cewek-cewek, sesekali gue juga melihat anak-anak cowok yang lagi main basket. Beberapa kali Ikhsan gagal ketika akan melakukan Lay-Up karena dihadang Nurhadi. Melihat mereka yang bermain sengit seperti itu, gue lama-lama jadi gregetan juga. Pengin rasanya ikut main.

Bete juga lama-lama kalau cuma diam di pinggir lapangan. Akhirnya setelah membulatkan tekad, gue berdiri dan mencoba menghampiri anak-anak cowok yang ada di sisi lapangan sebelah kiri. Namun ketika gue hendak pergi ke arah kiri, mendadak ada bola basket mentah terlempar menuju ke arah gue. Dengan reflek bak Neo di film Matrix, gue langsung menangkapnya dengan gesit.

Gue sedikit terkejut, gue lihat ke kanan ah ternyata ini bola tim cewek…

“Eh Mbe, nah gitu dong olahraga, jangan duduk-duduk aja di pinggir lapangan kaya kakek-kakek kopong. Ikut main sama kita sini yuk!” Mendadak Ipeh datang menghampiri gue dengan ceria seperti biasanya.

Gue terdiam, gue benar-benar terdiam melihat hal itu. Melihat Ipeh yang ceria tadi membuat gue langsung berhenti bergerak.

“Eh..” Mendadak Ipeh terdiam setelah melihat gue yang terdiam melihat ke arahnya.

“Makasih bolanya.” Kata Ipeh lagi yang mendatangi gue lalu mengambil bola basket yang tengah gue pegang dan kembali bermain bersama teman-temannya.

Gue yang melihat hal itu cukup terkejut juga. Tampaknya tadi Ipeh sempat lupa kalau dia lagi marah sama gue, lalu ketika dia melihat gue terdiam melihatnya, Ipeh langsung ingat lagi kalau kita memang lagi dalam fase marahan.

Hahaha lucu sih, gue sempat tersenyum sebentar setelah melihat Ipeh bermain lagi bersama teman-temannya. Ternyata, jauh di dalam hatinya, Ipeh masih menganggap gue ada, ternyata Ipeh nggak benar-benar benci gue. Kejadian tadi benar-benar membuat mood gue naik lagi, bahagia rasanya ketika sempat melihat keceriaan Ipeh seperti tadi walau hanya beberapa detik saja.

Gue masih berdiri sambil tersenyum menatap Ipeh dari belakang. Tiba-tiba Ipeh berbalik pelan-pelan dan mencoba melihat ke arah gue, namun karena saat itu gue masih melihat ke arahnya sambil tersenyum, Ipeh langsung membuang muka lagi dan berpura-pura bahwa tadi dia tidak melihat ke arah gue.

Hahaha she is so cute!

.

                                                                ===

.

Pertandingan basket dengan anak-anak cowok berlangsung sengit. Nurhadi benar-benar sulit dikalahkan kalau sedang berada di bawah ring. Gue yang satu tim dengan Ikhsan pun kewalahan untuk bisa mencuri poin dari tim Nurhadi yang hebat dalam posisi bertahannya.

Karena napas gue sudah sekarat, gue memilih untuk istirahat sebentar dan membeli Teh Kotak di kantin. Gue beli tiga buah lalu kembali berjalan menuju lapangan. Di lapangan basket, ada Ikhsan yang lagi bersandar di tiang ring basket karena kelelahan.

“Hoi anak setan!” Ucap gue yang langsung melemparkan satu buah Teh Kotak dingin kepadanya.

HUP!
Ikhsan menangkapnya dengan tepat.

“Wuih, tumben lo baik sama gue. Thanks sob.” Kata Ikhsan.

“Yow..”

Setelah memberikan satu Teh Kotak pada Ikhsan, gue kini berjalan di sisi lapangan menghampiri kumpulan anak-anak cewek yang lagi pada duduk beristirahat di bawah pohon karena kelelahan sehabis bermain basket. Di sana gue melihat Ipeh duduk sendiri sambil masih memainkan bola basket di kakinya.

Gue berjalan menghampirinya, lalu menyodorkan satu buah Teh Kotak di depannya.

“Ini..” Ucap gue sambil menyodorkan Teh Kotak dingin.

Ipeh terkejut, dia menatap gue heran, tampaknya ada perasaan senang karena ada gue di depannya, tapi tampak ada perasaan gengsi juga untuk mengucapkan terima kasih di mukanya.

“Ambil. Masa udah dibeliin nggak diambil.” Kata gue lagi.

Akhirnya Ipeh mengambil Teh Kotak itu dari tangan gue.

“Makasih.” Jawab Ipeh pelan sambil berusaha membuang muka.

Gue tidak menjawabnya ucapan terimakasih Ipeh itu, gue malah berlalu begitu saja meninggalkannya dan menghampiri Bobby yang lagi selonjoran bersandar di kursi batu yang ada di bawah pohon. 

Gue menghampiri Bobby, gue tepuk perutnya, lalu gue numpang tidur lagi di perutnya seperti apa yang gue lakukan tadi di kelas. Dari jauh, gue sempat melihat Ipeh melirik ke arah gue. 

Gue tersenyum melambaikan tangan ke arahnya, namun tiba-tiba Ipeh langsung memalingkan mukanya. Melihat hal itu, gue tertawa terkekeh karena menyadari bahwa Ipeh masih diam-diam memperhatikan gue. Jauh di dalam hati kita berdua, kita masih sama-sama peduli. Jauh di dalam hati kita berdua, kita masih sama-sama suka.

.

.

.

                                                                 Bersambung

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: Stranger By The Day

Bahkan ketika telah kehilanganmu, aku masih juga tetap takut kehilanganmu. - Irfan Hanif

                                                              ===

.

Berkali-kali gue mencoba mengepalkan tangan, berharap suasana ini cepat selesai dan gue bisa segera keluar dari tempat ini. Tangan gue basah penuh dengan keringat, baru pertama kali gue merasakan grogi yang luar biasa seperti ini. Rasa bersalah karena kesalah-pahaman antara gue dan Ipeh menjadi alasan mengapa gue lebih memilih banyak diam ketimbang ikut berbicara dengan kak Hana dan dua teman gue lainnya.

Kak Hana berkali-kali menanyakan tentang latar belakang Band kelas kita yang baru dibuat beberapa minggu ini kepada Ikhsan dan Bobby. Mereka berdua menjawab tanpa canggung, sedangkan gue yang lebih banyak diam ini kerap tidak menyadari kalau kak Hana sedari tadi menanyakan beberapa hal ke arah gue.

“Hei!” Sapa kak Hana.

Tiba-tiba ada sikut Ikhsan menyentuh badan gue sehingga gue sadar dari lamunan, “Nyet, dipanggil tuh.” Ucapnya.

“Eh iya ada apa?”

“Kok diem aja? kenapa?”

“Nggak. Nggak papa.” Jawab gue tanpa melihat ke arahnya.

“Kok kelihatan lesu gitu, lagi sakit kamu, Dim?” Tanya kak Hana yang kini meletakan telapak tangannya di dahi gue guna mengetahui apakah gue ini sakit atau tidak.

“Gue nggak papa.” Gue menggeleng-gelengkan kepala untuk menghindari tangannya.

“Kok pucat sih. Hmm.. yaudah bentar ya.”

Mendadak kak Hana berdiri, kita bertiga cukup terkejut dengan gerak tiba-tibanya ini. Kak Hana menengok ke belakangnya dan meminta perhatian kepada anak-anak Vocal Grup yang lain.

“Perhatian-perhatian.” Ucapnya.

“Hari ini latihan seperti biasa dulu ya, latihan suara satu sama dua kaya kemarin lagi. Karena di sini ada Band pengiring yang baru, nah biar mereka melihat kalian latihan dulu.” Tambahnya lagi.

Ikhsan yang mendengarkan ucapan kak Hana barusan langsung merengut keheranan.

“Bob, jadi kita nggak latihan hari ini?” Tanya Ikhsan.

“Lah mana gue tau.” Jawab Bobby.

“Nyet? Kita diem aja hari ini tuh?” Tanya Ikhsan ke arah gue.

“…” Gue hanya diam tak mengerti.

Setelah perintah kak Hana dimengerti oleh anggota Vocal Grup yang lain, kini mereka mulai pada latihan tarik suara. Kak Hana tersenyum melihat ke arah kita bertiga.

“Nah, kita ngobrol-ngobrol dulu aja ya. Aku banyak pertanyaan untuk kalian. Terutama untuk Dimas.” Katanya sambil tersenyum manis.

Ah ternyata ini toh maksud sebenarnya nih anak!
Masih aja sama dari dulu, egois, mentingin diri sendiri.

.

                                                      ===

.

Daripada terfokus kepada kak Hana, perhatian gue sekarang lebih terfokus kepada sesosok sahabat gue yang kini benar-benar terasa begitu hilang keceriaan di wajahnya. Dia duduk di meja guru, kaki kecilnya digoyang-goyangkan lucu sekali, namun ia tertunduk, matanya menatap ke arah layar ponselnya tanpa mempedulikan sekelilingnya lagi.

Ipeh tampak berbeda, biasanya kalau dalam suasana ramai seperti ini, Ipeh adalah tombak keributannya. Namun sekarang berbeda, ia sama seperti gue yang tengah terdiam tanpa banyak suara. Tak ada satupun gerakan matanya mengarah ke arah gue. Ketika ia berbicara dengan teman yang lainnya pun ia selalu menghindari pandangan yang mengarah ke arah tempat gue dan teman-teman yang lain berkumpul.

“Yaudah kalian latihan dulu, ini chord yang biasanya dipakai sama pemain keyboard kita. Kalian bisa bacanya kan?” Kata kak Hana sembari menyerahkan 2 lembar kertas berisi kunci-kunci nada.

“Hmm.. gue kurang ngerti kalau piano begini. Bob ngerti lo?” Tanya Ikhsan.

“Ngerti gue, sini.”

“Oke ngerti kan? Kalian kalau nggak tahu lagunya tinggal tunggu aja anak-anak Vocal Group pada nyanyi. Nah ketika mereka nyanyi, kalian diam-diam mengiringi aja ya.”

“Iya kak.” Jawab Ikhsan.

“Siap kak.” Jawab Bobby.

Kedua teman gue ini tampaknya baru tahu seberapa maut suara kak Hana yang begitu lembut ketika berbicara. Walaupun mereka tahu kak Hana adalah salah satu anggota tatib ketika mereka diospek dulu, namun kini mereka terlihat begitu sering dibuat salah tingkah oleh kak Hana. Gimana nggak? kak Hana memang pada dasarnya cantik, matanya sering hilang ketika tersenyum karena terdorong oleh pipinya itu adalah salah satu keagungan Tuhan yang sulit ditolak oleh pria manapun, lalu gigi gingsulnya yang lucu membuat senyumnya terasa sangat mematikan di kepala.

Ikhsan berkali-kali salah bermain chord gitar ketika permainannya dilihat oleh kak Hana, begitu juga Bobby. Baru kali ini gue melihat Ikhsan begitu canggung dalam bermain gitar. Memang kurang ajar kak Hana ini, kecantikannya sebagai seorang wanita mampu membuat semua orang yang dekat padanya siap untuk jatuh cinta. 

Sekarang tampaknya Ikhsan mengerti mengapa dulu gue sempat tergila-gila kepada kak Hana.

Ketika Bobby dan Ikhsan sedang serius latihan, gue cuma menghela napas panjang sambil terpejam dan bersender di tembok.

“Hei.”

Tiba-tiba ada yang menggoyangkan tangan gue. Gue langsung membuka mata.

“Kok jadi pendiam sih?” Tanya kak Hana tepat di depan muka gue ketika gue membuka mata.

“Eh.. ja.. jauhan dikit. Nggak en..enak kalau dilihat orang!” Gue mendorongnya pelan agar ia sedikit menjauh.

“Gimana bekas lukanya kemarin. Sudah enakan?” Tanyanya lagi.

“Sudah.” Jawab gue singkat.

“Dimas, aku mau minta maaf lagi.” Ucapnya pelan dengan wajah penuh sesal.

“Iya. Nggak papa, udah biasa.”

“Ih kok gitu.”

“Kenapa?”

“Tapi kan…”

“Tapi kan kita bukan siapa-siapa.” Gue memotong.

“…”

Setelah itu kita terdiam cukup lama. Gue nggak mau berlama-lama berbicara dengan kak Hana saat ini, walaupun Ipeh tidak melihat, gue bisa merasakan Ipeh sempat melirik diam-diam ke arah kita. Mungkin kalau sekarang tidak ada kak Hana, Ipeh pasti sedang ngerecokin kita bertiga yang lagi latihan Band. Kalau nggak gangguin Ikhsan yang lagi main gitar, ikut mukulin dram yang Bobby pegang, mungkin Ipeh sedang iseng muterin Stem Gitar Bass kepunyaan gue.

Harusnya itu yang terjadi sekarang. Ada sosok pengganggu yang sama sekali tidak pernah terasa mengganggu bagi kita bertiga. Sosok Ipeh yang ceria seperti itu pasti tidak akan membuat permainan gitar Ikhsan rusak seperti hari ini. Bagi kita bertiga, Ipeh sudah seperti adik sendiri, dan bagi gue, Ipeh sudah punya porsi yang besar di hati.

Dua jam berlalu.
Akhirnya ekstrakulikuler Vocal Grup selesai latihan dan anggota yang lain pada berpamitan pulang. Gue yang melihat Ipeh sedang beres-beres tasnya itu langsung buru-buru membereskan Bass dan berusaha menyusulnya. Namun ketika gue masih sibuk agar bisa membereskan segala peralatan musik ini dengan cepat, kak Hana malah datang dan mencoba membantu kita bertiga membereskannya. Karena pada dasarnya kak Hana wanita tulen, jadi pekerjaanya terkesan jauh lebih lambat. Dan yang lebih bangkenya lagi, Ikhsan dan Bobby malah seneng kalau berlama-lama dengan kak Hana.

DASAR RAYAP SAWAH!!
HORNY MULU KALAU LIAT CEWEK CANTIK!!

Dari jauh gue melihat Ipeh sudah mulai keluar kelas. Tanpa pikir panjang gue lemparkan koper gitar Bass ini kepada Ikhsan, dan langsung menyusulnya walau sempat terhalang oleh kak Hana yang menarik tangan gue dan menanyakan gue mau kemana.

Gue keluar kelas mencari ke arah sekitar. Tidak ada sosok Ipeh di sana. Tanpa pikir panjang gue berlari menuju kantin dan lapangan basket, berharap gue menemukan Ipeh di sana. Dan ya, setelah ngubek-ngubek kantin, dari kejauhan gue melihat sosok Ipeh sedang berjalan cepat di area lapangan basket menuju gerbang sekolah.

Sosok tubuh kecil dengan tas ransel kucel wana biru dongker yang menjuntai ke bawah layaknya tas anak laki-laki itu membuat gue dengan mudah menemukan sosoknya di tengah keramaian anak-anak cewek di pinggir lapangan yang sedang histeris sampe becek-becek menonton cowok-cowok kece lagi main basket.

Gue berlari menghampirinya dan langsung menggenggam tangannya. Ipeh terkejut, dan ia lebih terkejut ketika ternyata ada gue di belakangnya dengan napas yang masih terengah-engah.

“Mau apa?” Tanyanya dengan nada jutek minta ampun.

“Peh, gue mau ngomong.. hah.. ngomong bentar Peh..” Napas gue masih tidak beraturan.

Ipeh terdiam. Ia menghentakkan tangannya hingga genggaman tangan gue terlepas dan langsung berbalik lalu kembali berjalan cepat menuju gerbang.

“Peh!!” Gue mengejarnya.

“Semua yang lo denger tadi di kelas itu cuma salah paham, Peh! Please dengerin gue dulu. Gue sama dia bukan siapa-siapa, Peh.” Gue mencoba menjelaskan.

Ipeh langsung berhenti berjalan. Ia menengok ke arah gue yang ada di sebelahnya.

“Emangnya kita siapa-siapa? Sama aja kan?” Jawabnya dingin lalu kembali berjalan menuju gerbang.

“AAAAAAKKK IPEH!!” Gue berlari mengejarnya lagi.

“Peh! Gue bakal ngejelasin semuanya, tapi ini panjang dan butuh waktu. Oke Peh, gue bakal ngejelasin ini di jalan. Lo tunggu di sini, gue mau ngeluarin motor dulu dari parkiran. Kita pulang bareng. Lo tunggu di sini.” Ucap gue sembari menggenggam pundaknya dari depan.

“…”

Gue bergegas berlari menuju lapangan parkir berusaha agar tidak terlalu lama membuang waktu. Napas gue yang tidak beraturan membuat gue beberapa kali sempat kehilangan keseimbangan ketika sedang ingin mengeluarkan motor sehingga kaki gue terluka terkena step motor orang lain.

Gue pakai Helm gue, gue nyalakan motor butut ini lalu buru-buru membawanya menuju gerbang depan untuk menjemput Ipeh. Namun sesampainya di depan gerbang, gue sudah tidak melihat sosoknya lagi. Sosok bocah kecil petakilan yang gue sayang itu sudah tidak ada di gerbang. Aduh tuh anak udah mirip kaya anak ayam aja, ilang-ilangan

Gue berusaha mencari ke arah kiri dan kanan namun tetap tidak bisa menemukan sosoknya. Gue keluarkan ponsel gue dari saku celana dan langsung melakukan panggilan ke nomer Ipeh, tapi tetap tidak diangkat. Lagi kebingungan karena kehilangan sosok Ipeh, mendadak dari belakang ada yang menepuk pundak gue.

“Hoi!”

Gue terkejut. Sontak gue langsung menengok ke arah belakang.

“Loh, elo, Mai? Kok belum pulang?” Kata gue yang baru sadar kalau yang menyapa gue tadi ternyata Mai.

“Iya, aku nungguin les jam 5 nanti. Kamu sendiri?” Tanya Mai manis sambil membawa sebungkus jajanan penuh saos.

“Habis latihan Band dulu, eh Mai lo dari tadi ada di sini kan?” Tanya gue.

“Hooh.” Mai mengangguk.

“Lihat Ipeh nggak?”

“Ipeh?”

“Iya. Ipeh. Tadi tuh anak rasa-rasanya berdiri di sini sendirian kaya gapura. Lah sekarang kok ilang yah.” Tanya gue keheranan.

“Oh aku tahu kok.”

“EH SERIUSAN?! ALHAMDULILLAH!! TUHAN MEMANG BAIK SAMA UMATNYA YANG TERDZOLIMI. DI MANA DIA SEKARANG, MAI?! DI MANA?!” Gue bertanya dengan perasaan bahagia setengah mati.

“Nggak mau ngasih tahu.” Jawab Mai dingin.

“….”

“Hahaha dia bete langsung.”

“Ayolah, Mai. Penting ini! Please kasih tahu!!”

“Dih, sepenting apa sih sampe kamu nyariin Ipeh kaya nyariin pacar aja.” Sindirnya.

“…”

“Aku bakal ngasih tahu Ipeh ke mana asal jajanin aku Cilor dulu.”

“Cireng Telor?”

“Iyah. Jajanin dooong nggak boleh pelit kalau mau informasi.”

“Tapi Mai gue kan lagi buru-buru.”

“Tapi Cilornya enak loh..” Ucap Mai sembari mengambil satu batang Cilor dari plastik penuh saos yang ia genggam, lalu memakannya pelan-pelan dengan maksud menggoda gue.

“…”

“Slrup.. enak loh..” Ucapnya menggoda lagi.

“Kayaknya enak ya…” Pertahanan gue mulai goyah.

“Enak banget. Apalagi telornya kalau udah kering. Uuuhh..”

“Yaudah jajan dulu deh. Kayaknya masih ada waktu..” Dan pada akhirnya pertahanan gue luluh lantah.

“Asiiikkk… ayo-ayo traktir aku yaa!” Ucap Mai menarik tangan gue agar gue lekas turun dari motor dan mendatangi mamang cilor yang lagi indehoi ngocok-ngocok beberapa batang cilok di dalam adonan telor.

Sialan.
Keteguhan hati gue untuk mengejar Ipeh hari ini dinyatakan kalah total oleh sebatang cilor yang terlihat begitu menggoda. Pfftt..

.

                                                                ===

.

“Mang telornya banyakin lah, masa cuma dicelup sekali doang?! Dikira bikin teh panas apa?!” Gue protes 

“Beli cuma 2 ribu doang, tapi banyak protes.” Kata Mai.

Akhirnya sore itu pikiran gue sempat berganti tema. Yang tadinya sibuk ngurusin Ipeh, kini sibuk ngurusin pelitnya Mamang cilor dalam ngolesin adonan telor ke ciloknya. Ya mau gimana lagi, nikmat Cilor itu tidak bisa didustakan.

Sembari masih mengoleskan cilor ke dalam saos, gue kembali bertanya kepada Mai perihal Ipeh.

“Jadi, soal Ipeh gimana?” Tanya gue.

“Ah iya. Tadi tuh anak berdiri di situ. Terus naik angkot deh.”

“Angkot?”

“Iyap.”

“Yang warna apa?”

“Coklat.”

“Ah berarti tuh anak balik ke rumahnya. Oke deh. Thanks Mai, gue duluan yak.”

“Ada apa sih? kok kayaknya lengket banget kalian berdua tuh?” Tanya Mai.

“Dia ngebawa buku cetak matematika gue.” Kata gue berbohong.

“Buku Cetak Matematika?” Mai sedikit berpikir.

“Ngg? Kenapa?”

“Nggak, nggak papa. Gih sana, aku mau les ini juga,”

“Mau gue anter?”

“Nggak usah, hari ini gue bareng temen kok. Kapan-kapan deh, utang anterin gue les tapi ya.”

“Lhaa… kenapa gue jadi utang?!”

“Hahaha dah ah sono.”

“Oke deh, thanks ya Mai sekali lagi.” Jawab gue yang langsung buru-buru bergegas memacu kendaraan menuju rumah Ipeh. Berharap gue bisa sampai di sana lebih dulu ketimbang dia.

Perjalanan menuju rumah Ipeh cukup padat, karena saat itu sudah lebih dari jam 5 sore, maka jalanan Bandung sudah pasti bakal macet total dikarenakan jam pulang kantor. Tapi baguslah, dengan ini berarti Ipeh yang naik angkot bakal nyampe lebih lama ketimbang gue yang bawa motor.

Gue mencoba memacu motor ini secepat yang gue bisa. Gue gass poll tapi kecepatan motor gue mentok di 50Km/H. Bangke, ini motor atau sepeda roda tiga sih?! Kaga ada tenaganya sama sekali.

Selang 30 menit, gue kini telah sampai di depan komplek Ipeh, tanpa pikir panjang gue langsung masuk dan berjalan pelan-pelan menuju rumah Ipeh. Sesampainya di depan gerbang, gue lihat dari jauh di rak sepatu depan rumahnya belum ada sepatu converse belel yang biasa Ipeh pakai. Ini berarti tuh anak belum datang.

Gue nggak mau terlalu lama menahan penjelasan ini kepada Ipeh. Sebisa mungkin semua masalah ini harus clear hari ini, atau bahkan kalau memungkinkan gue bakal mengatakan bahwa gue sayang Ipeh; Sekaligus menjawab pertanyaan yang kemarin sempat ia tanyakan.

Sebenarnya janggal jika mengetahui mengapa Ipeh harus merasa marah ketika mengetahui gue punya masa lalu dengan kak Hana? Sama kejadiannya seperti dulu, kenapa kak Hana harus marah kalau gue jalan sama Wulan ketika saat itu kita masih ospek?

Sebenarnya apa yang sih yang perempuan rasakan? Mengapa sesuatu yang belum pasti bagi mereka selalu dianggap sebagai sesuatu yang miliknya? Apakah perempuan memang seperti itu? Mengapa perempuan tidak seperti laki-laki? mengapa perempuan takut sekali bersaing jika ada orang lain yang ingin merebut hati seseorang yang telah merebut hatinya?

Namun bukankah perempuan memang tercipta seperti itu? Mereka diciptakan untuk memiliki sesuatu dengan sepenuh hati, menjaganya dengan hati-hati, tak ingin kehilangan walau tahu itu akan kembali. Mereka sebenarnya tidak takut untuk bersaing, mereka hanya takut dirinya tak dianggap nyaman lagi, dirinya tidak dicari lagi.

Dianggap ada, adalah apa yang perempuan inginkan. Dan kehadiran sosok orang lain mungkin membuatnya takut tidak lagi dianggap ada. Tak lagi dicari. Tak lagi merasa dibutuhkan. Biar bagaimanapun, sekuat atau selemah apapun hati perempuan, mereka ingin merasa bahwa dirinya itu dibutuhkan, apalagi oleh sosok yang ia cintai sepenuh hati. Karena hanya dengan itulah mereka merasa ada.

Ipeh sebenarnya berhak marah. Karena ketika Ipeh sudah bertanya apa status kita dan ternyata muncul seseorang yang berkata bahwa dirinya punya kenangan khusus dengan gue, mungkin itulah yang membuat hatinya kecewa. Merasa dibohongi padahal itu sebenarnya bukan kebohongan. Itu hanya masa lalu. Karena biar bagaimanapun, Ipeh buat gue adalah masa depan.

Gue menunggu di depan gerbang sambil bersandar, sesekali jajan Teh Kotak di warung kelontong depan. Setelah menunggu lama, akhirnya gue melihat ada sosok Ipeh di ujung jalan. Dia berjalan lunglai tertunduk sambil memegangi tali ransel yang mengikat di kedua tangannya.

Matanya memerah, apakah Ipeh menangis sendirian tadi di dalam angkot? Pikiran gue benar-benar dihardik oleh belasan tanya yang menyalahkan diri sendiri. Kakinya berjalan sambil sesekali menendang batu kecil di pinggir jalan, sebelum pada akhirnya sempat terhenti sebentar ketika Ipeh mendapati ada gue berdiri menunggunya di depan gerbang rumah.

Dia menatap ke arah gue. Tatapan sendunya pudar. Kini tatapnya serasa begitu dingin dan mematikan. Mungkin kalau sekarang gue sedang membawa Teh Celup, gue bisa bikin es teh manis dengan mengambil bongkahan es dari tatapannya. Ipeh terlihat galak sekali. Gue takut. Takut ditonjok. Takut bonyok.

Dia berjalan ke arah gue, gue tersenyum sambil mengangkat tangan ingin menyapanya. Namun tiba-tiba, Ipeh berlalu begitu saja. Dia membuka gerbang, menutupnya, lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan gue sendirian yang masih tersenyum ala-ala senyum pepsodent.

Gila!
Gigi gue udah kering gini tapi tetap aja nggak dianggap ada?!

Gue tertunduk lesu di depan pagar. Menunggu walau langkah Ipeh semakin menjauh dan akhirnya hilang tertelan pintu rumah. Gue bakal tetap menunggu di sini, sampai malam nanti. Berkali-kali gue mencoba menghubungi Ipeh, tetap tidak diangkat juga, berkali-kali gue mencoba menjelaskan via SMS, tetap tak ada jawaban juga.

Rumah Ipeh begitu sepi, hingga Adzan Isya berkumandang gue tidak menemukan sama sekali sosoknya yang keluar dari pintu itu. Padahal waktu kita masih dekat dulu gue belum datang pun Ipeh sudah setia duduk di sofa halaman rumahnya menunggu kedatangan motor gue. Bersiap-siap membukakan pagar, dengan senyum yang ceria, seakan tunggunya tak berarti apa-apa, seakan kehadiran gue menghapus banyaknya tanya perihal gue sekarang lagi ada di mana.

Namun kini keadaannya terbalik, gue lah orang yang sedang menunggu Ipeh di sini. Berharap Ipeh datang setelah gue menunggu lama, sebagaimana dulu ia pernah melakukan hal yang sama. Gue menghela napas panjang, melihat kembali ke dalam rumah sebentar, lalu memutuskan untuk pulang.

Tak ada satu kata dari mulutnya.
Yang ada air mata. 
Satu tetesnya, mengartikan banyak kecewa. 
Begitulah perempuan. Ia diam-diam berbicara lantang lewat air mata.

.

                                                            ===

.

Keesokan harinya, gue sengaja datang ke kelas lebih pagi berharap Ipeh sudah ada di sana. Biasanya Ipeh selalu datang paling awal, namun sekarang entah kenapa gue belum melihat sosoknya sama sekali. Perlahan-lahan anak-anak yang lain mulai berdatangan mengisi bangku yang masih kosong. Tapi Ipeh tetap tidak ada.

Ikhsan datang dengan belek yang masih melekat di matanya. Belum sempat ia menaruh tas, ia sudah mendatangi Tasya–kecengan barunya– untuk meminjam PR yang belum ia kerjakan semalam. Benar-benar murid teladan. Namun gue tidak menghiraukannya, gue masih menunggu Ipeh. Hingga pada akhirnya bel pelajaran berbunyi, dan Ipeh belum juga datang.

Kemana tuh anak?!

Guru sudah masuk, pelajaran sudah berjalan 15 menit, lalu tiba-tiba pintu kelas diketuk. Ada Ipeh di sana, matanya merah, kantong matanya menjuntai ke bawah seperti pak SBY. Apakah Ipeh habis menangis semalam tadi? gue kembali khawatir.

Tidak biasanya Ipeh datang telat, dan tidak biasanya juga gue melihat Ipeh dimarahi oleh guru di depan kelas. Nampaknya hal ini bukan membuat terkejut gue doang, melainkan Bobby, Ikhsan, dan Nurhadi juga sama. Kita saling berpandang-pandangan heran melihat situasi ini.

Kondisi tempat duduk Ipeh yang ada di ujung kelas membuat gue belum bisa berkomunikasi dengannya sampai pada akhirnya waktu Istirahat tiba. Dengan sigap gue langsung berdiri dan berjalan menghampirinya.

Namun baru juga setengah jalan, Ipeh mendadak berdiri dari tempat duduknya. Ia keluar dari bangku dan berjalan menuju gue yang masih terdiam heran berdiri di depan kelas. Ipeh tidak menatap gue sedikitpun, dia berjalan menghampiri gue, lalu berlajalan menyamping melewati gue dan pergi keluar kelas.

FAK!!
GUE DICUEKIN LAGI!!

Gue cuma bisa melongo melihat hal ini. Anjir gue benar-benar sudah tidak dianggap ada. Gue dianggap kaya kentut, wanginya ada, tapi sosoknya tidak terlihat di mata. Dan dari jauh gue melihat Bobby tiba-tiba menyerahkan selembar uang 10ribuan kepada Ikhsan.

“Anjir, gue kalah.” Ucap Bobby sambil menggigit pensil.

BANGSAT!!
Ternyata selama ini mereka berdua taruhan tentang hari ini gue berhasil ngobrol sama Ipeh atau enggak. Sialan!
Temen gue brengsek semua! Sahabatnya lagi kesusahan bukannya dibantuin tapi malah dijadiin bahan taruhan.

Ini pasti ide si Monyet! Siapa lagi kalau bukan dia?!
Awas aja. 

.

.

.

                                                                 Bersambung

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: One Special Night

Kita adalah kumpulan dari kesalahan-kesalahan yang sudah terlanjur.
Terlanjur nyaman, terlanjur bahagia, dan terlanjur sulit untuk bisa saling meninggalkan.

                                                                 ===

.

Mati gue, kenapa semuanya harus barengan gini sih. Kenapa Wulan harus dibawa ke rumah juga sama si monyet?! Aduh salah gue juga sih nggak ngasih tau dulu kalau ada Ipeh di rumah ke Ikhsan. Gue masih bingung harus ngapain, sampai-sampai beberapa kali Ipeh mengajak gue ngobrol pun sempat tidak gue hiraukan.

“Mbe ih waro gue kek sekali-kali!” Ipeh memukul pundak gue.

“Eh apa-apa? lo ngomong paan barusan?”

“Tau ah.”

Gue nggak peduli Ipeh jadi bete atau kesal, satu-satunya yang sekarang masih gue pikirkan adalah gimana caranya biar komplotan Wulan tidak berpapasan dengan Ipeh nanti di rumah. Gue mencoba merogoh ke dalam saku celana, Ah! Puja kerang ajaib! Pucuk dicinta ulam pun tiba! Ternyata Hape gue ada di dalam saku. Yasudah, daripada keadaan makin nggak karuan, terpaksa gue harus pakai cara ini. Tanpa pikir panjang gue langsung menghubungi si centong nasi temen gue itu. 

“Hal..” Belum sempat Ikhsan mengucapkan salam, gue langsung memotong.

“911. Jangan. Bawa. Ke. Rumah.” Ucap gue tanpa basa basi lagi.

“…”

“Reporting Now!!”

“Roger that.” Jawab Ikhsan.

“Affirmative.” 

Gue pun langsung menutup pembicaraan gue barusan yang udah mirip kaya pembicaraan orang kalau lagi maen game Counter Strike Online. Di samping gue, Ipeh hanya melihat dengan wajah takut dan heran. Perlahan-lahan dia menjauh dari samping gue.

“Ngape lo liat-liat?” Tanya gue ketus.

“Kamu siapa?” Jawab Ipeh menjauh.

“…”

Akhirnya keadaan sekarang terkendali, Ipeh bisa gue bawa pulang ke rumah dengan aman dan Wulan tidak jadi ke rumah. Setelah yakin keadaan sudah cukup aman, gue langsung mengajak Ipeh untuk berjalan lebih cepat agar gue sendiri merasa lebih tenang. Kalau masih di jalan kaya gini besar kemungkinan bakal papasan sama Wulan atau Ikhsan di jalan. 

Gue masih belum mengerti apa maunya Ipeh yang sebenarnya hingga ia bermaksud untuk datang ke rumah gue ketimbang datang ke rumah temannya yang lain. Dan kenapa Ipeh harus muncul di saat gue mulai nyaman lagi sama Wulan? Mungkin ini adalah salah satu dari beberapa hal lucu yang sampai sekarang masih sering membuat gue senyum-senyum sendiri. Sehebat apapun gue dulu mencoba untuk jauh dari Ipeh, pasti saja ada kejadian  yang mengharuskan gue kembali jatuh pada tempat di mana gue memulai semuanya dari awal.

Hari sudah terlanjur sore, senja jingga mewarnai pekarangan rumah dan daerah sekitarnya. Lampu-lampu rumah dan juga banner besar warnet sebelah rumah gue itu sudah pada dinyalakan, adzan Magrhib pun kini tengah dikumandangkan. Ipeh izin untuk ikut Sholat sebentar sesampainya di rumah, sedangkan gue memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum melaksanakan ibadah.

Sehabis menunaikan ibadah Sholat, Ipeh duduk-duduk di ruang keluarga, sesekali bercengkrama bersama kakak gue, atau main bersama Amel– kucing janda kesayangan gue yang sekarang sudah hamil lagi. Hingga tiba-tiba ketika Ipeh lagi asik-asiknya nonton tv sambil nungguin gue mandi. Dia dikejutkan oleh satu sosok buruk rupa yang masuk ke ruang keluarga.

Ipeh terkejut dan cuma bisa diam menatapnya. Sosok itu pun cuma bisa terdiam dan berhenti berjalan ketika ditatap Ipeh.

“Lha ngapain nih mahluk ada di sini?!” Tanya Ikhsan kaget.

“Loh elo yang ngapain ada di sini?! Maen nyelonong aja ke rumah orang! Nggak sopan!” Balas Ipeh.

“Yeeeee mulut udah kaya timba sumur ya lo, naik turun nggak ada berhentinya. Gue kan emang nginep di sini dari kemarin, gara-gara elo!”

“Hah? gara-gara gue?” Ipeh heran.

“Eh nggak maaf-maaf, lupakan lupakan.” Ikhsan baru sadar sama apa yang baru saja ia ucapkan.

“Terus lo bakal nginep lagi hari ini?” Tanya Ipeh lagi.

“Kalau iya kenapa? kalau nggak kenapa?”

“Ngg.. nggak papa sih nanya aja sensi amat ih.”

“Hmm…” Ikhsan perlahan mendekatkan diri ke Ipeh sambil terus mengelus-elus janggut kaya orang yang lagi berpikir.

“Hmm.. kenapa Peh? lo terganggu sama kedatangan gue ya? Lo pengen berduaan aja sama Dimas di sini ya? Kenapa Peh? Kok grogi gitu?” Ikhsan terus mendekatkan mukanya ke muka Ipeh.

Hingga tiba-tiba.
PLAK!!

“Anying kenapa gue ditampar!!” Ikhsan terjungkal ke tanah.

“Muka lo menyebalkan, sama menyebalkannya kaya pertanyaan lo itu!”

“Wah bener nih keran aer ngajak ribut.” Ikhsan bangkit dari kubur dan langsung jalan cepat menghampiri Ipeh.

“Mau apa lo?!” Ipeh memasang kuda-kuda karatenya. “Mau gue bilangin sama Mai hah kalau lo suka?!”

DEG!!
Mendengar ucapan Ipeh, Ikhsan langsung berhenti tak bernyawa,

“….”

“HAHAHAHAH Gue udah tau kelemahan lo! Hayo, mendekat 3 meter lagi, gue langsung sms si Mai.” Ancam Ipeh lagi.

Namun tak disangka-sangka, Ikhsan malah terus mendekat ke arah Ipeh. Semakin lama semakin mendekat, hingga akhirnya Ipeh terpojok.

“Lo mau tau yang sebenarnya hah?” Ucap Ikhsan serem. “Lo mau ngancam ngasih tau Mai juga gue sudah nggak peduli. Karena lo tau apa? Lo mau tau kenyataan yang sebenarnya apa? Oke gue kasih tau. Denger ya, Kenyataan. Yang. Sebenarnya. Adalah. Bahwa. Mai. Itu. Naksir. Berat. Sama. Si. Dimas.” Ikhsan mempertegas setiap kata perkatanya.

Mendengar pernyataan Ikhsan itu, Ipeh langsung terdiam bengong tidak mengeluarkan kata-kata. Lagi asik-asiknya mereka mojok di dinding bak adegan film India, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

“Lha, ngapain lo berdua ada di sini?” Tanya gue sambil masih mengeringkan rambut.

“Hahahaha kaga ada apa-apa, btw, siniin anduk lo, gue mau numpang mandi.”

“Mau kemana lo?”

“Jalan-jalan lah sama yang barusan.” Jawabnya enteng.

“Ikut doooong.” Gue memelas.

“Dih enak aja, noh urusin pacar lo yang satu itu.” Ikhsan menunjuk ke arah Ipeh.

“Eh San tadi tadi maksudnya gimana tadi.” Ipeh yang baru tersadar langsung menghampiri Ikhsan.

“Ada apaan sih kalian berdua? tumben akrab kaya teletubies.” Tanya gue heran.

“Bhahahahahak dah ah gue mau mandi. Byeee~” Ikhsan melambai ke arah kita berdua lalu menutup pintu kamar mandi.

Gue yang saat itu nggak tau ada masalah apa cuma bisa terdiam melihat Ikhsan yang terlihat girang dan berkaraoke ria di dalam kamar mandi dan Ipeh yang cuma termenung dengan rona wajah kecewa.

“Ada apaan sih kalian berdua?” Tanya gue ke arah Ipeh.

Ipeh menatap gue, wajahnya terlihat kesal.

“Pikir aja sendiri!” Jawab Ipeh ketus lalu pergi ke lantai dua tanpa gue persilahkan terlebih dahulu.

“….”

Gue termenung. Gue cuma bisa cengo. Mulut gue nganga gara-gara nggak tau ada masalah apa dan tiba-tiba gue dimarahin sama Ipeh. Air liur gue menetes karena mulut gue masih aja belum menutup saking herannya kenapa gue yang masih suci sehabis mandi pake shampoo zwitsal ini tiba-tiba dimarahi Ipeh tanpa alasan yang jelas.

Mungkin seperti inilah ekspresi gue waktu dimarahin sama Ipeh.

.

                                                           ===

.

Sebelum pergi menyusul Ipeh yang sudah duluan menclok di Balkon, gue ganti baju dulu sebentar lalu pergi ke dapur untuk membuatkan sedikit makanan dan minuman buat Ipeh. Ketika hendak beranjak pergi menuju lantai dua sambil membawa nampan, Ikhsan yang baru beres mandi itu tiba-tiba memanggil gue.

“Nyet.” Sapa Ikhsan.

“Oit?”

“Gue pinjem kemeja sama celana lo ya. Besok gue kembaliin.”

“Ambil aja, tempatnya di tempat biasa.”

“Btw si cabe merah bakal nginep di sini?” Tanya Ikhsan lagi.

“Kagak kayaknya, gila aja ada cewek nginep di rumah gue. Apalagi lo tau perasaan gue sama tuh anak kaya gimana kan?”

“Nah itu dia, itu yang gue khawatirin.”

“Eh? Maksudnya?”

“Ah lo otaknya dangkal amat. Kebanyakan nonton bokep sih jadi aja nutrisi otaknya tekor.” Sindir Ikhsan.

“Ah tai bertele-tele, ngomong langsung aja kek!” Ucap gue ketus.

“Kapan-kapan gue jelasin deh, gue mau cabut dulu, nih Wulan udah ngesms gue dari tadi. Btw gue kayaknya bakal sekalian balik, nyet, jadi nggak akan ke sini lagi. Besok lo ke rumah gue aja gih, lagian jarang-jarang lo maen ke rumah gue kan?” Ajak Ikhsan.

“Hmm.. Oke deh, btw titip salam buat Wulan ya. Claudya juga.”

“Aduuuh nih garpu popmie masih aja ganjen, urusin noh mahluk astral yang lagi udah nungguin dari tadi di atas. Dah ah gue caw dulu ya.” Tambahnya lagi.

“Iye iye bawel ah. Thanks btw. Ati-ati di jalan.”

“Nggak cipika-cipiki dulu nih?”

“…”

Gue pergi meninggalkan Ikhsan tanpa menjawab kata-kata terakhirnya itu. Sesampainya di balkon, gue lihat Ipeh lagi terduduk di atas sofa. Gue taruh semua makanan dan minuman ini di meja depan lalu duduk di sebelahnya. Karena gue nggak tau gue salah apa, gue cuma diam, gue ambil air nutrisari jeruk yang baru saja gue buat itu dan perlahan meniupnya. Ipeh yang melihat hal ini langsung menegur gue.

“Otak lo isinya apaan sih? Itu kan air es, ngapain lo tiup! lo kira lagi nyeduh kopi apa? hahaha begok anjir.” Tukas Ipeh

“Nah gitu kek ketawa. Diem aja dari tadi.” Jawab gue yang langsung meminum air nutrisari tersebut.

Ipeh cuma cengengesan mendengar celotehan gue. Sebelum tiba-tiba Ipeh menengok ke arah gue dan mulai bertanya.

“Mbe..”

“Hmm?”

“Cewek paling cantik di kelas menurut lo siapa?” Tanya Ipeh lagi.

“Hah? dalam rangka apaan lo nanya begituan? lo naksir cewek juga?”

“Udah jawab aja!” 

“Hmm.. Dila sih yang pasti. Tika juga badannya kecil tapi wajahnya menarik. Irin juga lucu, rumahnya di jalan Katamso tuh. Hmm siapa lagi ya, Evi? boleh deh.”

“….” Ipeh masih terdiam mendengar penjelasan gue.

“Mai juga cantik sih, putihnya itu tuh yang ngebuat dia lucu.”

“Nah itu!” Tiba-tiba Ipeh memotong penjelasan gue.

“Apaan?”

“Cantikkan mana Dila sama Mai?” Tanya Ipeh lagi.

“Dila sih jelas. Tapi kalau masalah siapa yang paling manis, gue tetap pegang Mai.” Jelas gue.

“…” Ipeh terlihat terdiam dan tak lagi menjawab pembicaraan gue. 

“Ada satu lagi sih.” Tiba-tiba gue kembali membuka pembicaraan.

“Ngg?” Ipeh menengok ke arah gue lagi.

“Hanifah. Anaknya tomboy. Tapi biarpun tomboy, tuh anak termasuk cewek yang bersih kok. Pinter kalau masalah hitungan. Kalau udah nonjok orang, pusar aja bisa pindah ke jidad. Tangannya lebih berotot daripada tangan gue. Kalau tangannya kena silet, yang keluar bukan darah, tapi dawet ayu! Terus dia juga punya kaka yang cantik-cantik luar biasa. Dan sudah tentu adeknya juga cantik. Terus kalau dia udah pakai gaun, beeuh Dila sama Mai juga lewat daah.” Tukas gue.

“Hahaha apaan sih.” Ipeh cuma bisa tertawa sambil terus memeluk lututnya di atas kursi sofa.

“Mai anggun ya Mbe..” Tiba-tiba Ipeh berkata tanpa meilhat ke arah gue.

“Kenapa?”

“Nggak, rasa-rasanya mereka yang lo sebutin tadi itu cewek-cewek anggun semua, sedangkan gue sendiri malah kaya cewek yang urakan. Nggak jarang juga kalian bilang gue kaya cowok.” Tukas Ipeh pelan.

“Bukannya dengan kaya gitu lo malah jadi special ya? Nggak mainstream gitu.” Tanya gue.

“Tapi cowok yang deket sama gue juga ujung-uj…”

“Nggak usah dilanjutin.” Tiba-tiba gue mencubit bibir Ipeh sehingga dia mendadak terdiam.

“Kalau disuruh memilih pun, gue bakal memilih lo ketimbang memilih mereka. Mungkin Ikhsan, Nurhadi, Bobby juga bakal melakukan hal yang sama. Karena apa? Karena cuma lo cewek yang membuat kita para cowok merasa nyaman tanpa harus kaku karena perbedaan gender. Lo punya apa yang dicari dari setiap cowok, dan lo punya apa yang paling diinginkan dari setiap cewek. Stop being stupid lah Peh. Gue paling nggak suka kalau lo mulai membandingkan diri lo sama orang lain. Ipeh yang gue kenal rasa-rasanya nggak pernah selemah ini. Dia biasanya cuek. Bukan yang seperti ini.” Gue melepaskan cubitan gue dari bibirnya lalu kembali duduk bersandar.

Ipeh hanya terdiam setelah mendengar penjelasan gue. Perlahan, ia turunkan kakinya dari atas sofa, lalu Ipeh bersandar di pundak gue.

“Mbe…” Gumam Ipeh.

“Hmm?”

.

                                                              ===

.

Hari itu sudah terlanjur gelap. Senja sudah tak lagi jingga. Malam mulai mengizinkan bintang-bintang bersinar sehinnga bulan tak lagi kesepian. Mereka saling menerangi, tapi tak bisa saling mendekat. Ya mungkin itu juga yang sedang terjadi sama gue dan Ipeh, kita saling ada ketika salah satu dari kita membutuhkan seseorang untuk bersandar. Namun rasa-rasanya kita tak bisa lebih dari ini.

“Mbe..”

“Hmm?”

“Kenapa sih lo baik banget jadi cowok?” Tanya Ipeh.

“Tau. Kodrat Tuhan kali. Mungkin dulu bapak gue genjotannya kebanyakan waktu ngebuat gue. Jadi aja kaya gini.”

“Kayaknya enak ya punya cowok kaya lo.” Gumam Ipeh lagi.

“Apaan?! orang gue disakitin mulu. Cowok baik mah kaga pernah bakal dipilih.” Ucap gue kesal.

“Kok bisa kaya gitu?”

“Karena untuk orang yang hanya ingin pacaran, cowok baik itu membosankan.”

“Jadi, lo mau langsung nikah gitu?”

“Buset, mau beli Teh Kotak aja masih minta duit nyokap udah mau ngajak nikah anak orang.”

“Terus gimana?”

“Gue mau jadi cowok brengsek aja ah. Mau mainin hati cewek, ngebuat dia jatuh cinta, terus gue pergi gitu aja. Mau ngebuat dia nunggu, tapi gue nggak dateng. Mau ngebuat dia benci, tapi tiba-tiba gue dateng manjain dia, hingga ketika dia sudah tidak benci lagi, gue pergi lagi tanpa kabar.” Gue meletakan kembali gelas yang tengah gue pegang ke atas meja.

“Ih jahat lah!” Ipeh menatap gue sambil menyeritkan dahi.

“Bosen gue dijahatin mulu Peh. Kali-kali gue kek yang jadi peran antagonis dalam kisah gue sendiri.”

“Apaan sih?! Awas aja kalau lo maenin perasaan anak orang.” Ipeh menimpali dengan nada kesal.

“Kata siapa cowok baik nggak ada yang mau, gue mau kok punya cowok baik-baik. Pokoknya lo harus tetap jadi cowok baik, udah langka jaman sekarang cowok baik tuh. Lo sendiri yang bilang ke gue tadi, jangan jadi orang yang mainstream. Terus ngapain lo pengen jadi cowok mainstream kalau kaya gitu? Sini deh, cewek yang ngejahatin elo biar gue hajar aja sekalian!” Tambah Ipeh lagi.

“Hahahaha jangan Peh, bisa mati anak orang kalau lo hajar.”

“Biarin!”

“Tapi nggak papa deh, kalau ceweknya pingsan gara-gara dihajar sama elo, gue aja yang ngasih dia CPR biar hidup lagi.”

“Ih apaan sih cpr-cpr segala. Genit lo!” Ipeh menjauh dan duduk di ujung sofa.

“Kenapa Peh? Mau gue kasih CPR juga?” Gue perlahan mendekat ke arah Ipeh. “Gini-gini gue ahli dalam memberikan CPR loh, lo belum pernah ngerasain dari bibir ke bibir kan?” Gue semakin mendekat.

Ipeh yang saat itu telah terpojok di sofa, cuma bisa menutup mukanya dengan kedua tanganya tersebut namun masih menyisakan sedikit celah di jari-jemarinya agar matanya masih bisa melihat ke arah gue. Setelah muka gue ada di depan mukanya. Gue terdiam. Gue menatap sorot mata Ipeh dari sisi-sisi kecil jari-jemarinya. Kita terdiam. Gue mendekatkan muka gue lebih dekat lagi.

“Peh. Ipeh jadi pacar Dimas aja kalau kaya gitu. Mau ya?” Ucap gue serius di depan mukanya.

Ipeh cuma terdiam sambil masih menutup mukanya. Nafasnya mulai tak beraturan.

“Ngg.. ap-apaan sih.. Dim ih.. ngg..” Ipeh terlihat salah tingkah.

Melihat hal itu gue terdiam lalu tertawa ngakak dan menjauh dari Ipeh.

“Hahahahaha muka lo konyol amat. Gue bercanda kali Peh. Kenapa sampe salting gitu sih?” Sindir gue.

“IH MBE APAAN SIH NGGAK LUCU TAU NGGAK!!” Ipeh memukul gue habis-habisan dengan bantal kecil buat sandaran di sofa.

Sorry Peh. I lied again.

.

                                                                      ===

.

Setelah keadaan kembali tentram, kita berdua kini kembali duduk berdekat-dekatan di sofa balkon. 

“Udah malem Peh, lo nggak pulang?” Tanya gue memecah keheningan.

Ipeh menarik nafas panjang, “Iya sih aku juga tau, aku daritadi juga mikirin hal ini. Tapi Mbe, aku nggak ingin pulang…”

Ipeh menghela nafas panjang sekali lagi. Gue sempat melihat matanya kembali berair.

“Lo mau nginep aja?” Tanya gue.

“Eh? serius? boleh?” Ipeh langsung terbangun dari sandarannya di sofa dan melihat ke arah gue dengan wajah ceria.

“Ya mau gimana lagi, gue juga nggak suka maksa kalau lo gak suka. Terserah elo aja sih mau nginep atau nggak. Gue mah cuma memberi opsi.”

“Mau mau mau mau mau!” Jawab Ipeh tanpa pikir panjang.

“Serius?”

“Hu uh” Ipeh mengangguk tegas.

“Tapi Mbe, nanti lo tidur di mana?” Tanya Ipeh lagi.

“Lo tidur di kamar gue aja, gue tidur di ruang keluarga. Yaudah bentar deh kalau gitu, gue bawain baju ganti sekalian gue beres-beres kamar gue dulu.” Jawab gue sambil berdiri lalu meninggalkan Ipeh sendirian di balkon.

Gue mulai merapihkan kamar gue yang baru saja diobrak-abrik sama si Ikhsan. Gue rapihkan kasurnya, gue lipat kembali selimutnya, gue ambil kemeja gue yang sudah usang namun masih nyaman untuk bisa dipakai dan satu buah celana pendek untuk Ipeh.

Ketika gue hendak pergi ke lantai dua dan memberikan pakaian ganti kepada Ipeh, mendadak Hape gue berbunyi. Ada satu panggilan masuk dari nomer yang nggak gue kenal. Biasanya sih gue nggak pernah angkat kalau dari nomer yang nggak gue kenal, namun saat itu tanpa pikir panjang gue langsung mengangkatnya.

“Halo..” Ucap gue.

“Halo, ini Dimas?” Tanya seseorang di sana. Dari suaranya sih kayaknya perempuan.

“Iya saya sendiri, maaf ini siapa ya?”

“Ini Mba Afi, Dimas.”

“Ah Mba Afi, apa kabar mba, ada apa malam-malam begini telepon ke Dimas ya?” Tanya gue dengan nada yang sopan.

“Dimas, Mba Afi mau tanya, Ifa ada di sana? Ifa belum pulang dari tadi siang, mba Afi sama kak Ai khawatir.”  

“Ada kok Mba, Ifa dari tadi ada di rumah Dimas, Ifa juga udah cerita semuanya sama Dimas.” Jelas gue.

“Alhamdulillah baguslah kalau begitu, Mba khawatir banget, soalnya Ifa pergi tanpa bawa apa-apa, dompet aja ditinggal. Terus Ifa kapan mau pulang, Dim?” tanya mba Afi lagi.

“Anu Mba, tadinya Dimas mau ngajak Ifa pulang, tapi Ifa ngotot nggak mau pulang. Akhirnya Dimas izinin buat nginep di rumah Dimas. Nggak papa kan mba? Lagian Ifa tidur di kamar, terus Dimas tidur di ruang keluarga kok.” 

“Hmm, nggak papa deh kalau begitu. Tapi nggak merepotkan kan tuh anak?”

“Ngerepotin banget. Bawelnya minta ampun aahahahaha.” Tukas gue bercanda.

“Hahaha maaf ya kalau begitu. Nitip Ifa ya Dimas, jagain dia ya. Suruh cepet pulang gitu. Bilang mba Afi sama kak Ai sudah nggak marah lagi. Mba Afi sama kak Ai mau minta maaf sama Ifa.” Terdengar ada banyak nada khawatir dari ucapan mba Afi.

“Iya mba, nanti Dimas sampaikan.”

“Terimakasih ya Dimas, maaf mengganggu.”

“Nggak kok mba, nggak papa.”

Akhirnya percakapan itu ditutup ketika kita berdua telah mengucapkan salam. Gue memasukkan Hape gue kembali ke dalam saku lalu beranjak pergi menghampiri Ipeh yang masih sendirian di balkon atas.

“Nih, ganti baju sana sebelum tidur.” Gue melemparkan baju gue ke Ipeh.

“Asik, makasih ya Mbe. Gue ganti baju dulu deh kalau gitu.”

“Langsung tidur aja gih, lagian lo juga capek kelihatannya.” Tukas gue lagi. 

“Hehehe iya tau aja, gue capek nangis seharian nih. Makasih ya Mbe.. Btw lo sendiri nggak tidur?” Tanya Ipeh.

“Duluan aja, gue masih pengen duduk-duduk di sini Peh.”

“Hmm… oke deh, night Mbe.” Ucap Ipeh Manja.

“Night Nona.” Jawab gue tanpa menengok ke arah Ipeh yang pada akhirnya beranjak meninggalkan gue pergi ke bawah.

Gue menghela nafas panjang, memakan sedikit cemilan sambil duduk-duduk sebentar di atas balkon sebelum tiba-tiba gue mendengar ada suara langkah kaki Ipeh yang menghampiri gue lagi.

“Ada yang lupa.” Kata Ipeh.

“Apa?”

Ipeh mencium pipi gue, lalu langsung pergi lagi ke bawah dengan senyum.

“Selamat tidur, Mbe” kata Ipeh.

.

.

.

.

                                                             Bersambung

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: Transisi

Entah apa maksudnya. Tapi tak sadarkah kau bahwa sejauh apapun kita mencoba untuk jauh dan tidak akrab lagi, Tuhan selalu menempatkan kita pada satu kesempatan yang memaksa kita untuk terus bertemu sapa. Lantas, siapakah kita di mata Tuhan? 

                                                               ===

.

Gue melihat jam yang ada di tangan gue dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 09.00. Dengan buru-buru gue beresi segala formulir yang berserakan di atas meja dan bergegas masuk ke dalam kelas. Sekarang pelajaran Sejarah, salah satu pelajaran yang paling gue suka. Daripada diem di luar sendirian nggak jelas kaya gini, gue lebih baik ngikutin pelajaran Sejarah sama Geografi selama  1 hari penuh.

Kelas masih terlihat ramai lantaran belum ada guru yang masuk. Ketika gue hendak masuk dan duduk di sebelah Ikhsan, ternyata tempat duduk gue sudah dipake sama Nurhadi yang lagi ketawa-ketawa mesum sambil nyolokin earphone ke kupingnya. Pasti kalau nggak lagi nonton film DedekJanganTeriakYa.3gp, ya paling lagi dengerin lagu Lengser Wengi. Emang kalau turunan kuntilanak mah lagunya religi semua..

Gue celingak-celinguk sebentar mencari tempat duduk. Gue sempat melirik ke Ipeh dan ternyata tempat di sebelahnya kosong. Tapi ya masa gue duduk sama tuh anak. Pffft bikin emosi aja mikirinnya juga.

“Mai..” Ucap gue seraya menaruh kertas formulir pendaftaran OSIS di atas mejanya.

“Apa? bikin kaget aja.” Ucapnya sambil main hp.

“Gue duduk di sebelah lo ya.” Balas gue lagi.

“Lha tumben, ada angin apa? lagi marahan sama homoan kamu?” Tanya Mai.

“Iya tuh. Gue diselingkuhi sama Duren Nigeria..”

“Siapa? Nurhadi?”

“Iya.”

“HAHAHAHAHAHA DASAR!! TEMEN SENDIRI IH KAMU TEH!”

“Biar ah. Gue di sini ya.”

“Yaudah.” Mai mengambil tas yang ada di kursi sebelahnya dan mempersilakan gue untuk duduk.

Sambil nunggu pelajaran, gue ngobrol ke sana kemari dengan Mai. Dengan segala macam hal-hal yang nggak jelas tapi ya ngalir gitu aja. Dari yang namanya ngomongin baso karena Mai juga doyan sama yang namanya baso, sampai ngomongin gosip terbaru yang lagi marak di kalangan anak-anak cewek.

Mai ini nggak terlalu pinter orangnya, sama kaya gue, jadi kalau ngomongin pelajaran juga kita jarang nyambung.

“Mai, Fisika remed nggak?” Tanya gue mendadak.

“Iya anjir.”

“HAHAHAHAHA GUE KIRA LU LOLOS.”

“Kayak yang nggak remed aja kamu.”

“Wuih jangan tanya. Remedial banget dong gue..” Tukas gue bangga.

“Eh btw kan katanya kamu udah belajar bareng Ipeh, gimana sih?”

Mendengar Mai menyebut nama Ipeh, gue langsung terlihat sedikit bete.

“Kenapa? kok jadi bete pas aku nyebut Ipeh?”

“Lagi nggak akrab gue. Biasa lah.”

“Bukannya kalian tuh jadian ya?”

“Kata siapa. Ipeh doang kali yang jadian.” Jawab gue dingin sambil berpangku dagu menatap kosong ke arah papan tulis.

“Eh Ipeh udah jadian?!” Tanya Mai antusias.

“Hooh, nape? bahagia amat keliatannya lu.”

“Nggak papa sih.”

“Tapi denger-denger sih, Ipeh banyak yang nggak suka deh.” Ucap Mai bisik-bisik.

“Eh? Gimana maksudnya?” Mendengar perkataan Mai tadi, gue langsung duduk tegak dan fokus melihat ke arah Mai.

“Iya, gosipnya sih gitu. Jadi Ipeh kan anak karate tuh, nah dia juga kan tipe anak yang gampang akrab sama cowok alias supel gitu anaknya. Nah terus gue nggak tahu ada masalah apa, tapi anak-anak dari kelas sebelah sih kayaknya pada nggak suka aja sama dia.”

“Terus terus? Gara-gara masalah apa?”

“Iya, cowok yang disukain anak-anak cewek sebelah ternyata deket sama Ipeh gitu. Temen Ipeh karate.”

“Hooo..”

“Kamu tahu kan kalau anak cewek mau ngegencet anak cewek yang lain kaya gimana?” Mai semakin mendekat ke arah gue.

“Ditindih-tindih gitu? Mau dong ditindih sama anak cewek..”

“SERIUS DIMAS!!”

“LHA YA IYA GUE SERIUS. MAU GUE KALAU DITINDIH CEWEK MAH LAH!! REJEKI JANGAN DITOLAK!”

PLAK!!
Kepala gue dipukul pake tupperware.

“Maksudnya tuh, dibully gitu. Tapi nggak fisik sih, mental.”

“Kagak ngerti gue, maksudnya gimana?”

“Ah begok ah. Ngeselin!”

Lagi kebingungan gara-gara dimarahin Mai, tiba-tiba dari belakang ada orang yang ikutan nimbrung.

“Cieee ada yang lagi PDKT kilat nih setelah ditinggal Ipeh..” Ucap Ikhsan sambil nusuk-nusuk pipi gue pake pensil inul.

“APAAN SIH LO!! MULUT EMBER AMAT KAYA CEWEK!!” Gue keplak kepalanya pake botol Aqua kosong.

“Lagi ngomongin apaan sih. Kayaknya serius banget.” Tanya Ikhsan.

“Ini.. masalah Ipeh, San.. Jadi Ipeh itu..”

“Kertas apaan tuh, Dim?”

“ANJIR GUE NGGAK DIWARO!! OKE FIX!!” Mai terlihat bete ketika ucapannya dipotong sama Ikhsan.

“Hahahaha baru dateng udah pada berantem aje lu kayak kalajengking.”

“Nyet itu kertas paan?”

“Formulir pendaftaran OSIS.”

“Lu mau masuk OSIS?” Tanya Ikhsan penasaran.

“Iya, daripada bete sendirian di sekolah. Lagian elo juga lagi apet banget sama Tasya. Ikut gabung yok di OSIS, temenin gue bro..” Gue memohon-mohon.

“Hmm.. kayaknya asik ya ikut organisasi..” Ikhsan mulai berpikir.

“Nah, bareng gue aja, kita daftar sore ini.”

“Gue mau ikut Organisasi ah, tapi nggak mau OSIS.” Tukasnya.

“Lha, apa dong? Futsal? Basket?”

“DKM..”

“…”

“…”

Mendengar ucapannya, Mai yang tadi lagi memperhatikan kita mendadak memalingkan muka dengan wajah mual. Gue yang mendengarkannya pun langsung terdiam tak bersuara lagi.

“Lagak lo, Nyet, ikut DKM. Baca Iqro aja belum khatam. Sunat dulu sana baru boleh ikut DKM.”

“EH ANJIR MENGHINA!! Gini-gini gue sholeh yee! Mayat aja gue sholatin langsung bangun lagi gara-gara kagum!”

“Lo kira lo pawang Vampir Cina. Udah OSIS aja, kebetulan kita lagi butuh Fotografer.” Kata gue asal ngomong.

“Iya nanti gue pikirin deh. Tapi gue dari pertama masuk sekolah emang udah pengin ikut DKM sih, Dim.”

“Eh? Ini tuh serius? gue kira lo bercanda lah..”

“Serius gue. Akhlak gue itu kalau dibandingkan sama elo mungkin jauhnya kaya Bumi dan Langit. Jauh banget.”

“…”

“Mai, elo sendiri ikut organisasi apa?” Tanya Ikhsan kepada Mai.

Akhirnya kita bertiga larut dalam pembicaraan sambil menunggu guru sejarah masuk ke kelas. Gue sesekali nimbrung, sesekali juga ikut ngelawak sama Ikhsan bareng. Kita bercengkrama akrab sekali. Sambil berpangku dagu, mata gue sempat beberapa kali mencuri-curi pandang ke arah Ipeh. Suara tawa Ikhsan dan Gue yang menggelegar ini tak ayal sering membuat Ipeh melirik diam-diam ke arah kita bertiga. Dan sering kali juga gue melihat Ipeh sedang melihat ke arah kita bertiga dengan tatapan sinis.

Gue yang lagi tertawa pelan karena guyonan Ikhsan, mendadak sedikit terhenti ketika Ipeh berdiri dari bangkunya dan berjalan menghampiri kita. Dia berjalan dengan wajah yang terlihat kesal dan berdiri di depan meja gue. Dia sama sekali tidak menatap gue. Dia hanya menatap ke arah Mai.

“Mai.” Ucap Ipeh Singkat.

“Eh Ipeh, kenapa Peh.” Jawab Mai.

“Gue mau bayar uang kas sama Uang Renang.” Kata Ipeh lagi dingin.

“Sebentar..” Mai langsung membuka kembali catatannya. “Kalau uang Kas sih kamu udah kumplit, Peh. Uang renang juga.” Ucap Mai menjelaskan.

“Gue mau bayar renang untuk 2 bulan ke depan.” Jawabnya sinis sambil memberikan uang 50 ribu.

Buset, orang kaya mah beda ya. Gue aja bayar paling banter cuma sepuluh ribu, itu juga dicicil 12 bulan. Lha ini Ipeh langsung bayar 2 bulan ke depan, mana uangnya 50 ribuan pula.

Setelah menyerahkan uang renang, Ipeh kembali pergi dan duduk di tempatnya lagi. Hal ini membuat gue dan Ikhsan saling berpandang-pandangan dengan tatapan yang penuh tanya.

“Tuh kan, kalian liat kan? elo sih Dim..” Tiba-tiba Mai memukul tangan gue pelan.

“Hah?! Gue?! Kenapa? gue salah apa?!” Gue kaget.

“Masa nggak ngerti juga sih? Peka dong. Tuh Ipeh liat tuh jadi kaya gitu.”

“Hah?! Elo ngomongin apa sih?! Ngomong yang jelas jangan kaya orang lagi kumur-kumur gitu ah!”

“Peka dikit makanya jadi cowok tuh!”

Gue yang nggak tau apa-apa ini langsung menengok ke arah Ikhsan.

“Lha. Nyet, emang lo ngerti apa yang Mai omongin?” Tanya gue.

“Kaga. Gue juga kaga ngarti.” Ikhsan menggaruk-garuk kepala.

“Ah cowok di mana-mana sama aja. Nggak peka. Hih!” Tukas Mai ketus.

“…”

Pagi itu gue benar-benar nggak mengerti apa yang Mai maksudkan. Berulang kali gue bertanya tentang hal ini, Mai malah terus saja menyuruh gue untuk peka dan mencari tahu apa artinya sendiri. Bahkan hingga pulang sekolah pun gue melihat dari jauh Ipeh terlihat sinis sekali melihat ke arah kita berdua.

.

                                                               ===

.

Sepulang sekolah, gue langsung bergegas pergi ke depan kelas Cloudy untuk menyerahkan beberapa formulir pendaftaran OSIS yang sudah banyak Tip-X nya. Gimana tidak, gue akui gue orangnya emang ceroboh, maka dari itu ada beberapa kali salah mengisi pernyataan di lembar formulir ini.

Salah satunya adalah pernyataan di kolom Jenis Kelamin. Waktu gue lagi asik mengisi data diri berupa alamat lengkap. Ikhsan yang sedari tadi memperhatikan gue yang tengah serius ini mendadak bertanya ke arah gue. Katanya sih dia mau bantu gue buat ngisi ini formulir ini karena waktunya senggang. Alhasil daripada ngedengerin tuh anak ngomong nggak jelas, gue izinin aja dia buat bantu gue ngisi formulir.

Tapi emang pada dasarnya dia itu anak Anjing, ya pada akhirnya gue harus menelan penyesalan karena pernah mengizinkan dia untuk membantu gue melakukan hal-hal yang serius dan critical kaya ngisi formulir ini. Ketika orang-orang normal pada umumnya akan mengisi dengan isian “Pria” atau “Wanita” pada kolom Jenis Kelamin, Ikhsan mah beda. Bukannya mengisi dengan isian yang seharusnya, eh dia malah menggambar jenis kelamin pria di sana.

Dan yang lebih gobloknya lagi, dia menggambar pakai pulpen, plus gambaran Kelamin yang dia gambar itu lengkap dengan urat-urat beserta tetek bengek lainnya.

Anjir gue kaget banget ketika melihat di formulir gue ada gambar terong balado kaya gitu! Diawali dengan nyolok lubang hidung Ikhsan terlebih dahulu pake garpu popmie karena kesal, gue langsung buru-buru menghapusnya dengan Tip-X. Mana gambaran yang dia buat gede banget lagi ukurannya, ini sih bukan terong lagi, tapi Timun Suri! Alhasil lembar formulir gue becek penuh sama Tip-X. Setan!

Setelah setidaknya itu Timun Suri tidak terlalu terlihat jelas lagi di formulir OSIS, gue langsung bergegas lari menuju ke depan kelas Cloudy sesuai janji gue tadi siang. Gue menunggunya dengan sabar sembari duduk di tembok depan kelas. Beberapa anak-anak kelasnya tampak sudah pada bubar sekolah, hingga lambat laun kelasnya kini mulai sepi. 

Sudah hampir 45 menit gue menunggu sendirian di sini, sebelum pada akhirnya gue menjumpai sosoknya berjalan terburu-buru ke luar kelas sambil sibuk memasukan buku ke dalam tas kecilnya.

“Eh, Cloud. Ini Formulir gue..” Ucap gue yang langsung memberhentikan gerak langkah cepatnya.

Cloudy sedikit terkejut, ia melihat ke arah gue sebentar dan langsung mengambil kertas formulir yang gue suguhkan tanpa melihatnya lebih dahulu. Tanpa basa-basi, Cloudy langsung pergi begitu saja dengan langkah yang terburu-buru. Namun selang 30 detik, dia berbalik dan menggenggam lengan gue lalu menariknya.

“Ikut gue. Ada rapat sekarang.” Ucapnya tanpa menengok.

“Loh, gue kan baru ikut OSIS, masa udah ikut rapat lagi. Kagak enak ah, Cloud.” Kata gue sambil menahan langkahnya.

“IH BAWEL!! Lo itu cewek atau cowok sih, mulutnya nyerocos aja kaya petasan jangwe! Udah pokoknya ikut aja, rapatnya udah dimulai daritadi.” Tukas Cloudy marah-marah di depan muka gue.

“…” 

Buset nih cewek, dia tau juga tentang Petasan Jangwe toh? Hahahaha canggih juga.

Selama perjalanan menuju ruang OSIS, tangan gue masih dia genggam erat seakan gue sama sekali nggak tahu di mana arah ruang OSIS tersebut.

“Eh, Dee. Emang OSIS lagi buat acara apa sih?” Tanya gue.

“…”

“Acara besar ya? Kok gue belum lihat ada pengumumannya di mading sih?”

“…”

“Buset gue dicuekin. Elo sendiri di acara ini kebagian jadi apa, Dee?”

“…”

“…”

“…”

“Jam dinding pun tertawa~ karena ku hanya diam dan membisu, ingin kumaki, diriku sendiri, karena tak berkutik di depa….”

“BERISIK!!!” Tiba-tiba Cloudy menghentakkan tangan gue sehingga pegangannya lepas.

“Salah lagi. Salah lagi.” Kata gue sambil terus ngedumel. Nih cewek kayaknya emang terlahir untuk benci banget sama gue ye.

Setelah menaiki anak tangga, akhirnya kita berdua sampai di depan pintu ruang OSIS. Sebelum masuk, Cloudy mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya dan merapihkan pakaiannya sebentar. Sedangkan gue yang nggak tahu apa-apa malah asik mainan Tamagochi yang dijadikan gantungan kunci di sleting tasnya Cloudy.

Tok.. Tok.. Tok..

Pintu diketuk oleh Cloudy lalu ia menarik tangan gue untuk mengikutinya masuk ke dalam. Karena ruangan OSIS ini tidak terlalu besar, walaupun anggotanya tidak banyak, ruangan ini tampak sesak sekali. Banyak dari mereka yang duduk di lantai, ada beberapa yang pangku-pangkuan di sofa, ada juga yang sampai duduk di meja komputer. Buset udah kaya rumah Yatim Piatu aja nih organisasi.

Cloudy menarik tangan gue agar duduk di belakang, sedangkan ia langsung beranjak pergi ke depan, berdiri di sebelah seseorang yang lagi duduk di meja komputer. Cloudy berbisik sebentar kepadanya lalu kembali diam.

“Oke, kita lanjutkan lagi ya. Sebelumnya kita perkenalkan dulu anggota OSIS kita yang baru, kebetulan dia temannya Cloudy. Siapa namanya?” Tanya dia ke arah gue yang masih duduk dengan wajah cengo ini.

“Ngg.. Dim.. Dimas, Kak.” Jawab gue.

“Oke Dimas, perkenalannya dilanjut nanti dulu ya. Sekarang kita mau lanjutin rapatnya.”

“Iya, Kak.” Ucap gue nurut.

Selama hampir satu sampai dua jam, anak-anak OSIS yang ada di ruangan ini pada ribut dan berdiskusi tentang acara yang akan mereka buat dalam waktu dekat ini. Selama mereka berbicara, gue mencoba berbaur seakrab yang gue bisa, gue mencoba mendengarkan dan mengerti apa yang sedang mereka bicarakan dari tadi. Setelah cukup lama mendengarkan, gue menyimpulkan bahwa acara mereka selanjutnya adalah acara sejenis Study Tour kecil-kecilan untuk anak kelas satu ke Museum-Museum di Bandung.

Sebenarnya ini acaranya anak kelas satu sih, tapi entah kenapa para kakak-kakak kelas yang jadi ketua sekbid pada terlihat bersemangat sekali. Karena penasaran, akhirnya gue mencoba bertanya..

“Kak permisi mau nanya..” Tanya gue kepada seorang cowok di depan gue yang sedari gue masuk tadi, doi masih aja fokus nulis. Entah nulis apa, lirik proklamasi mungkin.

Setelah gue sentuh-sentuh bahunya, dia langsung berbalik. 

Namun nggak gue sangka-sangka, begitu dia berbalik, kita berdua langsung sama-sama terkejut karena merasa sudah saling kenal sebelumnya. Bahkan mungkin bukan kenal aja, tapi akrab!

“LOH DIMAS?!?!” Ucapnya keras sekali.

“LHA, KAKAK?!” Gue ikut terkejut.

Astaga!! Ternyata yang ada di depan gue ini adalah kakak pembimbing ospek gue yang dulu. Yang terkenal ngondek seantero jagat sekolahan. Pantesan aja waktu gue colek pundaknya tadi, dia langsung bergelinjang sambil mendesah. Dasar!

“Kamu anak OSIS juga sekarang?” Tanya dia antusias sambil langsung berbalik dan mencubit pipi gue.

“Aduuuuh.. duh.. Iya kak. Baru masuk 2 jam yang lalu.”

“Kok aku nggak liat sih?!” Ucapnya sambil nyubit pinggang gue.

“Kakak nulis terus sih daritadi..”

“Oh iya, Ikhsan mana Ikhsan? Ikut OSIS juga nggak dia?”

“Enggak, dia ikut DKM, kak.”

“BAH!! Jin Ifrit salah masuk organisasi tampaknya. Hahahaha.”

“Eh kakak juga anak OSIS toh? kok aku baru tahu ya..” 

“Iya, kebanyakan dari mereka yang kemarin menjabat di salah satu posisi waktu OSPEK itu ya anak-anak OSIS juga.”

“Oh gitu…”

EH?!?
Kebanyakan yang menjabat di salah satu posisi waktu ospek itu ternyata anak OSIS juga?! Bentar-bentar.. Jangan bilang.. Jangan bilang kalau kakak keamanan cewek yang dulu pernah marahin gue dari pertama gue masuk sampai di hari akhir itu ternyata anak OSIS juga?!

Anjir!
Kenapa gue harus selalu hidup dalam satu lingkungan bareng dia sih?!

.

.

.

                                                              Bersambung

Previous Story: Here