taati

Tentang Dia dan Aku

Jika aku miliki bahagia dia yang pertama kali kuingat, jika aku alami nikmat, dia yang pertama akan kubagi. Tak ada di dunia yang lebih tahu diriku dibanding dia

Dia diberi hak lebih dari orangtuaku, dan aku diberi hak lebih dari orangtuanya, tak ada rahasia antara berdua. Selalu aku jaga dirinya sebagaimana dia padaku

Tak terhitung rayu dan puji yang sudah kualamatkan padanya, tak pandang siang tak tahu malam, tak terpengaruh harta atau tahta, cinta selalu bisa aku berikan

Tapi

Jika ada orang yang paling banyak menerima amarahku, itu juga dia, mungkin aku tak pernah memarahi yang lain, tapi entah berapa kali dia menangis sebab murka diriku

Dia pula yang paling banyak menerima keluhanku, mengetahui aibku, malasku, dosaku, maksiatku, kelemahan diriku, sekaligus kebiasaan-kebiasaan buruk harianku

Pula sangat banyak bentakan, sindiran, nasihat yang menyakiti yang dia terima dariku, pengacuhan dan pengabaian dariku, pasti juga dia yang paling mengalaminya

Memang

Orang kira rumah tangga selalu bahagia, senantiasa berbunga, mereka tidak tahu bahwa pernikahan itu ibadah paling lama, yang tiap harinya adalah perjalanan

Tiap-tiap kelokannya memerlukan ilmu, tiap-tiap tanjakannya megharuskan petunjuk. Jika salah memilih, maka melenceng arah tujuan kita, menjauhi sakinah

Kita terus mengabaikan kesalahan-kesalahan kecil, hingga tiba-tiba tanpa kita sadari ia sudah menggunung, menghukum kita dengan hilangnya cinta dan asa

Seharusnya

Engkau tahu dia bukan hanya pendamping dirimu, tapi amanah yang harus engkau jaga. Dengan ilmu agama bukan hanya dengan harta dan kegagahan saja

Engkau tahu bahwa pernikahan itu ibadah paling lama, bila S1 saja engkau tempuh minimal 4 tahun, 144 SKS. Mengapa dalam ibadah terlama engkau trial and error

Engkau tahu bahwa bila engkau meminta sakinah bersamanya, maka sakinah itu hanya dari Allah bukan yang lain, bertanyalah mengapa belum mulai taati Allah?
—  Ustadz Felix Siauw

Bismillaah

Mungkin karena memang kita belum di level itu….

Kita heran saat melihat betapa sabarnya seorang istri terhadap suaminya, ga dinafkahi, direndahkan, tapi istrinya tetap bertahan.
Lantas kita samakan level sabarnya dengan level kita.
Memberi pendapat harusnya bercerai, harusnya jangan diem aja, harusnya melawan, dst.
Seolah sikap kita kepada suami kita yang tidak sejahat itupun sudah sedemikian taat.
Padahal dia serahkan semua urusannya pada Allah, dan dia tak putus-putusnya berdoa dengan tetap berprasangka baik pada Allah bahwa kelak suaminya akan Allah beri hidayah.

Kita heran saat melihat seorang wanita jarang sekali keluar rumah. Keperluannya sangat rendah jikapun ada menyetok sekalian untuk beberapa hari. Urusan anak sekolah ada orang yang mau membantu antar jemput dengan bayaran tidak terlalu mahal.
Jarang ingin pergi ke mall pasar maupun makan-makan untuk sekedar nongkrong dengan teman wanitanya.
Atau kita heran dengan wanita yang ga punya akun sosmed. Dibandingkan dengan kita yang ga bisa sehari tanpa bersentuhan dengan gadget.
Lantas kita samakan levelnya dengan level bosan kita.
Kita anggap dia pasti hidupnya membosankan, hidupnya ga asik ga mau bersosialisasi, harusnya dia melakukan ini itu seolah hidup kita lebih menyenangkan dari hidupnya.
Padahal di dalam rumahnya justru dia bahagia dengan banyak melakukan amalan sunnah, mendidik anak secara optimal dan tak pernah lalai khidmat pada suaminya dan tetap punya waktu khusus untuk mengunjungi tetangga dan kerabatnya.
Malah siapa justru yang sering bertengkar dengan suami karena kurang bersyukur dan banyak menuntut, banyak bermusuhan dengan tetangga dan kerabat karena sering tak bisa menjaga lisan.

Kita heran saat ada wanita yang memang tidak tertarik untuk upload foto, untuk selfie, atau untuk mendokumentasikan kesehariannya.
Lantas kita samakan dengan keadaan kita.
Yang masih senang selfie, masih senang upload foto-foto, atau sekedar menyimpan foto untuk dilihat pribadi.
Padahal dia memang begitu menikmati keadaan sehingga merasa biarlah semua momen itu terekam begitu saja dalam hatinya.

Kita heran saat ada wanita begitu ga tertarik pada keduniaan. Bajunya itu-itu aja, tas sepatu seadanya, tak paham brand-brand terkenal atau kekinian.
Lantas kita samakan level konsumtifnya dengan level kita.
Kita anggap dia ga mencintai keindahan, ga ngerti mode, islam itu harus tetap cantik dst dst.
Kita melihat dengan kacamata kita yang saat bepergian rela repot hanya untuk urusan pakaian, terkadang hanya demi apa pandangan manusia lain.
Padahal dia memang begitu takut dengan hari hisab kelak, dan diapun tetap merawat kebersihan pakaiannya secukupnya yang terpenting syarat tertutupnya aurat saat keluar rumah terpenuhi, dan dia tetap memiliki pakaian rumah yang menarik untuk dipakai hanya di hadapan suaminya.

Kita mungkin heran ada wanita-wanita yang begitu solehah.
Yang tawakalnya tingkat tinggi seolah memiliki ‘jalur khusus’ dengan Rabbnya, yang saat dia berdoa keduniaan niscaya akan Allah kabul tapi dia memilih berdoa untuk perkara akheratnya.
Yang terjaga amalan-amalannya seolah dia mempersiapkan kematiannya yang di depan mata.
Yang begitu menjaga akhlak dengan sesamanya, banyak menjaga lisan dan enggan berprasangka, memberi uzur dan memaafkan saat orang salah paham atau mendzaliminya.
Dia banyak mendoakan kebaikan untuk umat.
Pikirannya tidak sebatas keperluan dunia yang sementara ini, tidak hanya sebatas suami dan keluarga kecilnya, tapi dia banyak berdoa hidayah demi kebaikan umat.

Kita mungkin anggap itu hanya ada di zaman dulu.
Padahal di zaman inipun mereka ada, dan karena sedemikian tersembunyi sehingga nyaris tak terdeteksi.
Maka kita sangsi wanita tersebut 'eksis’ di zaman seperti sekarang.
Kita justru boleh iri pada wanita-wanita macam ini.

Jika menemukan wanita solehah seperti ini sedihlah saat belum bisa seperti mereka.
Jangan sampai menginginkan kesolehan yang samapun enggan, malah kita anggap merekalah orang yang terbelakang dan kita lebih baik dari mereka.
Na'udzubillaah.

Lewat ketaqwaannyalah justru Allah jadikan manusia-manusia yang bermanfaat dunia akhirat.
Suaminya dia dorong untuk perkara akherat.
Dihibur kala sedih dan jenuh, diingatkan kala lalai dalam ibadahnya.
Anak-anaknya dididik menjadi pejuang-pejuang agama Allah.
Bukan sekedar menjadi penghafal Quran tapi menjadi pengamal isi Quran.
Dia rela namanya tak dikenal.

Ada nasehat dari seorang istri ulama pemilik pondok, dia umpamakan wanita itu sebagai akar.
Akar itu semakin menghujam ke dalam tanah, maka pohon itu akan semakin kokoh.
Semakin wanita tersembunyi di dalam rumahnya, menyuburkan diri dengan aneka ilmu dan kepahaman agama, maka batang pohon semakin kokoh (suaminya) dan buahnya semakin manis dan bermanfaat bagi umat (anak-anaknya).
Namun jika akar tersebut memilih keluar dan menonjolkan diri, tunggulah kehancurannya.
Pohon akan tumbang berikut buahnya pun akan rusak.
Masyaallah.
Inilah yang banyak terjadi.
Bukan ga boleh berperan aktif dan berprestasi tapi wanita harus tau batasan dalam agama.
Wanita harus paham untuk apa Allah ciptakan.
Harus tau mana yang lebih wajib saat kita sudah menikah dan memiliki anak, juga mana yang Allah izinkan dan mana yang harus kita taati dengan ridha jika tak sesuai hawa nafsu kita.

Jika kita (saya) merasa masih sangat jauh dari wanita seperti itu, paling ga berjalanlah ke arah itu.
Meskipun kita harus merangkak atau terseok-seok.
Meskipun banyak hawa nafsu yang harus diselaraskan.
Tapi bukan artinya ga akan pernah bisa.
Bersabarlah dalam ketaatan.
Allah akan melihat usaha dan permohonan kita.

Jika kita masih merasa ga mungkin ada wanita seperti itu, merasa ga mungkin akan bisa seperti wanita macam itu, maka mungkin level kitalah yang belum sama dengan mereka 😔.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS 49:11).

Nasehat buat diri, dishare mungkin ada manfaatnya bagi yang lain.

Barakallaahu fiik
Bunda kaska

Aku, Tuhan, dan Mimpi

Aku tahu
Ada yang namanya kehadirat
Takdir kebenaran
Jalan hidup pemberian Tuhan
Ketika aku mulai lelah
Kupikir aku jauh dari Tuhan
Sebegitu sakitnya
dan lemahnya aku
Tak mudah bagiku cari sebuah kejayaan
Berada pada titik lemah sebuah pengasingan
Menanti datangnya sinar keabadiaan
Semoga bisa aku gapai
Nanti. @raiseyourdream 

Ini perihal asa yang tak bisa aku bubungkan
Ini perihal impian yang tak bisa aku wujudkan
Bukankah kita hanya diperbolehkan untuk berencana dan berusaha semampu kita?
Tahap pemutusan tetap Tuhan yang berkuasa
Jika bukan untuk kita, takkan dipermudah
Teori-teori penerimaan sudah kuhafal di luar nalar
Begitu benar
Dalam nyata, aku masih berusaha tegar
Jika bukan jalanku, akan kulepas dengan sabar
Aku percaya, Tuhan akan menggantikannya sama atau bahkan tak kalah besar @aksarannyta 

Mereka banyak menuntut ini itu. Padahal mereka tak tahu. Ada ragu akan apa yang sebenarnya aku mau. Mereka bilang berjuanglah meraih mimpi. Maka aku ingin profesi di kenegaraan untuk mengabdi. Tapi fikiran mereka selalu berganti. Jadilah kini aku orang yang selalu mengobati. Tak apa mungkin sekarang terasa setengah hati. Yang penting perintah orang tua aku taati. Mudahmudahan penjadi penolong ketika aku mati. @rifanakania 

“Mama..
Kau selalu tau apa yang terbaik
Bagiku, anak perempuanmu satu-satunya
Tapi, bolehkah aku meminta satu hal darimu?
Aku meminta izin dan restumu
Izinkan aku mengikuti panggilan hatiku
Izinkan aku mulai menata jalanku sendiri
Izinkan aku memilih apa yang baik untukku
Aku janji bisa membanggakanmu, Ma
Aku janji” @sukasukarizqa 

………………………

Mimpimu boleh melangit, namun sikap mu harus tetap membumi. Akan ada kerikil bahkan bongkahan batu yg akan kau temui dalam perjalan mu. Namun sebelum kau mengeluh, bersyukur lah. Karena Tuhan sedang mewarnai Nya agar mimpi mu terasa berharga. Berjalan lah walau tertatih, teruslah           melangkah hingga kau mengikuti irama. Tanamkan pada diri, bahwa KITA adalah pemenang. @gambarankata

Sesuatu yang diimpikan
Terlahir dari sebuah tujuan
Agar terwujud di masa depan

Tak mudah memang,
Sebelum hilang
Kita bisa berjuang
Sampai waktu yang tak terbilang

Nikmati hidup agar bisa dirasakan
Sampai mati yang menghentikan
Citacita kita di masa depan @hiperbolakata 

Sudah sejauh ini.
Sebelum kau memutuskan berhenti, coba ingat kenapa kau memulai dulu.
Lalu bertatih bersama setiap keringat yang tercucur,
dari doa-doa yang kau panjatkan selepas berserah diri .
Diteriaki pendapat-pendapat pesimis dari jiwa yang destruktif.
Alasan permisif hanya akan membunuhmu pelan-pelan.
Ketika kau jatuh, jangan harap ada orang yang akan membangunkanmu.
Karena, ketika kau berdoa agar bisa lebih bersabar, Tuhan tidak akan memberimu kesabaran, melainkan memberikan cobaan, bukan begitu ?
Antara kau dan mimpimu, hanya ada Tuhan, bukan keterbatasanmu.
Jadi jangan lupa, untuk mencapai mimpimu, kau tau harus kemana. @eleftheriawords 

……………..

Percaya.
Satu kata yang membuatku selalu mampu melalui segala keterbatasan.
Inginku tinggi, bahkan tampak tidak dapat aku capai. Awalnya.
Namun sebuah kata “percaya” dapat melampaui segala kemampuanku.
Kamu juga bisa, tidak hanya aku.
Jangan berkata tidak mampu.
Perlu kamu yakini, bahwa yang mudah menyerah itu bukanlah dirimu. @athaisatha 


Perkenalkan, ini kami, KITA JABAR.
Perkenalkan, ini aksara, dari berbagai rasa.

cc : @tumbloggerkita 

Mengirim Pesan kepada Hati

Ini topik sebenernya tidak pantas aku yang bahas. Tapi bermodal obrolan random pagi buta dengan @hujanmimpi gemes juga tidak mengangkatnya sebagai catatan untuk dibaca anak cucu. Aku tidak bisa dibilang berhasil dalam cinta, beberapa kali gagal bukanlah sebuah prestasi. Tapi anggap saja ini catatan pribadi bagi saya yang amatiran.

Berawal dari banyaknya curhatan juga sedikit berkaca pada pengalaman pribadi. Tentang hati memang tidak selalu mudah. Berbeda antara menyampaikan apa yang hatimu rasakan dengan membuatnya merasa dicintai olehmu. Bedanya seperti apa? Begini..

Menyampaikan apa yang hatimu mau fokusnya adalah pada diri kita, bukan dia. Yang penting adalah rasa tersampaikan, sekedar itu. Tapi sadarkah kita? Bahwa apa yang kita berikan belum tentu membuat nyaman orang yang kita tuju. Analoginya begini, kita ingin memberi sesuatu pada seseorang, tapi kita tidak tahu apakah sesuatu ini akan dia sukai atau tidak. Kita hanya ingin memberi saja. Terserah nanti akan terpakai atau justru terbuang.

Membuatnya merasa dicintai berfokus kepada dia, obyek perasaan kita. Tidak egois menurutku, karena sebelum memberi sesuatu, kita peduli apa yang disukai dan juga tidak disukai. Memang sama-sama memberi, tapi di bagian ini kita lebih berfokus pada si obyek. Coba bandingkan dengan kondisi yang pertama. Analoginya begini, kita ingin memberi sesuatu kepada seseorang, sebelum memberikannya kita terlebih dahulu meraba, mungkin juga bertanya apakah yang akan kita berikan akan dia sukai atau tidak. Bedanya apalagi? Apa yang kita berikan tidak sia-sia, karena kita tidak sekedar menyampaikan apa yang ingin kita berikan, tapi kita memberikan apa yang dia butuhkan.

Aku bukan trainer relationship atau sejenisnya, tentu bukan. Aku hanya sedang mengutarakan pendapatku tentang mengirim pesan kepada hati. Beberapa post sebelumnya aku pernah mengunggah foto tentang harapan dan hasil. Satu yang aku pahami, expect nothing seringkali menenangkan. Kita bertindak tanpa ada harapan. Mengikuti kata hati yang juga mempedulikan orang lain. Soal hati memang tidak pernah menjadi sederhana. Jangan ikutkan terlalu banyak logika dalam hal ini. Ada tugasnya sendiri-sendiri antara hati dan logika, mereka ada di sirkuit berbeda dengan tugas saling mengontrol agar tak saling berlebihan dosisnya.

Satu hal yang aku taati, tentang hati utarakanlah, selucu apapun itu, tidak akan pernah sia-sia. Mengusahakan dalam batas kita dengan mengacu kaidah di atas. Jika hati perlu diutarakan, begitu juga penolakan perlu ditunjukkan agar adil rasanya. Tentu berbeda antara bersikap kepada seseorang yang dianggap penting dengan seseorang yang dianggap sebatas kawan. Aku meyakini bahwa setiap manusia punya kepekaan yang tidak bisa dijelaskan bagaimana datangnya tentang orang lain yang memberikan atensi kepadanya atau juga sebaliknya. Hanya saja seringkali kita yang menolak tahu atau berpura-pura tidak menyadari.

Sebelum aku ditanya aku aliran yang mana, aku menciptakan definisiku sendiri tentang mengirim pesan kepada hati di usiaku yang sekarang dan berlatar banyak kegagalan. Aku menganut aliran religius romantis, dimana yang aku usahakan tidak hanya tindakan, tapi juga Dia yang aku libatkan dalam-dalam sejak pertama kali satu nama muncul dalam kehidupanku. Aku meyakini atas segala kehendak-Nya. Dia tahu di atas segala daya kita sebagai hamba. Bahwa apa yang baik menurut kita berbeda dengan yang terbaik menurut Dia. Kita meminta apa yang kita mau, sedangkan Dia memberikan apa yang kita butuh. Maka beginilah yang ingin aku bagi kepada kalian. Amatiran yang mencoba berguna juga belajar mengaplikasikan pelajaran dari setiap kegagalannya. Berusaha semaksimal yang manusia bisa, berdoa sebanyak kuota kita sebagai hamba. Berusaha dulu, jalani prosesnya, soal hasil biarkan Dia yang mengurus. Urusan hati, kembalikan kepada yang memberi, yaitu Dia.

Probolinggo, 8 Mei 2016

1. menjadi Muslim berbeda dengan menjadi orang Arab | maka Islamisasi jelas-jela...

1. menjadi Muslim berbeda dengan menjadi orang Arab | maka Islamisasi jelas-jelas berbeda dengan Arabisasi

2. Islam bukan ajaran Arab, walau Al-Qur'an berbahasa Arab, dan Nabi Muhammad dari kaum Arab | Islam itu jalan hidup, prinsip hidup

3. faktanya, turunnya Islam justru ditentang kaum Arab di masa itu | karena Islam datang mengubah tradisi, keyakinan, kebiasan jahil Arab

4. Islam datang kepada kaum Arab membawa tatanan samasekali baru | baik dalam hal tradisi, kebiasaan, akhlak, hukum, juga cara hidup

5. perlu dicatat, karena Al-Qur'an dan Nabi Muhammad berbahasa Arab | maka bahasa Arab juga tidak bisa dipisahkan dari agama Islam

6. juga kewajaran, bahwa agama Islam awalnya disebarkan oleh orang Arab | karena memang agama Allah yang pamungkas ini berasal dari sana

7. mengenai tokoh-tokoh besar agama Islam ini adalah orang Arab | itu pun wajar saja, karena merekalah kaum awal yang beragama Islam

8. jadi bisa dikatakan, Arab belum tentu Islam, dan Islam tidak harus Arab | yang jelas Islam itu pasti berdasar Al-Qur'an dan As-Sunnah

9. juga salah besar, bila dikatakan Islamisasi samadengan Arabisasi | lantas menolak Islamisasi dengan dalih, “Ini Indonesia, bukan Arab”

10. apa bedanya? jelas sekali beda, menjadi Arab atau bukan Arab itu takdir | sedangkan mengambil Islam atau mengabaikannya, itu pilihan

11. Islam itu Islam, tidak perlu ada pandangan “disana Islam Arab, disini Islam Nusantara” | ini pandangan yang justru memecah-belah Islam

12. Islam itu ya Islam, panduannya Kitabullah dan Sunnah, Khulafaurrasyidin | juga tabiin, tabiut tabiin, ulama salaf, apapun madzhabnya

13. adapun menjadi Muslim, tidak berarti meninggalkan budaya lokal | bila bertentang dengan Islam tinggalkan, bila tidak ya lanjutkan

14. apa standar meninggalkan dan melanjutkan budaya setelah jadi Muslim? | ya akidah, bila bertentang dengan aqidah, ya harus tinggalkan

15. misalnya seperti budaya membuka aurat, menyembah pohon, ya tinggalkan | beda dengan arsitektur, aneka makanan (halal), ya lanjutkan

16. Islam masuk ke Cina, arsitektur masjid mirip pagoda, boleh saja | tapi sembahyang leluhur dengan hio, ya ditinggalkan, itu contohnya

17. Islam masuk ke Indonesia, maka batik tetap lestari, bahkan menyerap nilai Islam, boleh saja | tapi menyembah batu dan patung, dihapus

18. dalam Islam mudah saja, selama tidak dilarang syariat, amalkan saja | namun bila sudah ada larangan syariat, Islam yang diutamakan

19. maka dalam Islam, semua produk (fisik atau non-fisik) selain aqidah, boleh saja diadopsi | teknologi juga termasuk “produk non-aqidah”

20. tapi produk aqidah, selamanya bukan bagian daripada Islam | kita mencukupkan diri pada Kitabullah dan Sunnah, itu yang terbaik

21. kesimpulannya, belajarlah Islam, kaji terus Islam, jangan berhenti | taati Allah dan Rasulullah semata, karena kita kembali pada-Nya :)

22. kesimpulannya, jadi Muslim kamu nggak harus surbanan, nggak harus jubah | yang jelas pikirmu, lisanmu, amalmu, harus berasas Islam

23. jangan sampai kebalik, kamu surbanan, sarungan, pecian, jubah | tapi pola pikirmu dan referensimu liberal, jauh dari Kitabullah Sunnah

24. lebih bagus kamu batikan, kemejaan, kaosan, celanaan | lalu setiap kamu mikir, lisan, amal, semua ada dalil Kitabullah dan Sunnah

25. lebih bagus lagi, kamu pecian, sarungan, surbanan, jubahan | dan semua pikir, lisan, amalmu , asasnya Kitabullah dan Sunnah, itu.. :)

Muslim Memilih Pemimpin

Terlepas pro/kontra atas isinya (walaupun seharusnya ayat Al-Qur'an gak perlu di-kontra lagi sih :p), saya suka logika berpikir Muslim yang seperti ini

Ya, kadang-kadang Muslim memang harus ngeluarin kecerdasannya untuk menghadapi yang sok pinter.

——

“Dialog antar Muslim ttg Bagaimana Memilih Pemimpin”

Muslim Pendukung Ahok (MPA): “Gua Muslim tapi gua dukung Ahok. Hidup Ahok!”

Muslim: “Kalo yang non muslim dukung Ahok, wajar karena faktor sentimen agama. Tapi kenapa anda yang muslim dukung Ahok?”

MPA: “Semua orang Islam maling, semua orang Islam korupsi, yang bersih cuma Ahok!”

Muslim: “Semua orang Islam maling? Semua orang Islam korupsi? Yang bersih cuma Ahok? Kata siapa?”

MPA: “Ya baca aja Kompas, Detik, Tempo dan Tribunnews cs, tiap hari kan dimuat berita betapa bagusnya Ahok, dan dimuat berita korupsi orang-orang Islam. Makanya gua dukung Ahok. Ya, semua orang Islam maling, semuanya korupsi!”

Muslim: “Ooh media-media itu, pantes saja :), kerjaan media sekuler dan anti Islam ya memang gitu, memberitakan yang buruk-buruk tentang umat Islam, tapi kejahatan-kejahatan korupsi skala dewa Eddi Tansil, Hendra Rahardja, Samadikun Hartono, Anggoro Widjaja, David Nusa Wijaya, Maria Pauline, Andrian Kiki Ariawan, Eko Adi Putranto, Sherny Konjongiang, Sanyoto Tanuwidjaja, Theo Toemion, Olly Dondokambey, Rusman Lumbatoruan, Willem Tutuarima, Poltak Sitorus, Aberson M Sihaloho, Jeffey Tongas Lumban Batu, Matheos Pormes, Engelina A Pattiasina, Sengman Tjahja, Basuki, Elizabeth Liman, Yudi Setiawan, Artalyta Suryani dan kaum non muslim lainnya ditutup-tutupi :). Hmm, oke menjawab statemen anda, barusan anda mengaku muslim… Bapak anda Islam, kakek anda Islam.. Kalau anda bilang semua orang Islam maling dan korupsi… Berarti bapak anda juga maling? Bapak anda koruptor? Kakek anda maling? Kakek anda koruptor? Seluruh leluhur anda maling dan koruptor semua???”

MPA: “?!=÷&£[!÷»,”!¥}±"

Muslim: “Lho kok diam?”

MPA: “Enak aja lu ngomong! Iya bapak gua muslim, kakek gua muslim, kakek-kakek buyut gua juga muslim, gua sudah berpuluh-puluh generasi turun-temurun keluarga muslim, tapi bapak dan kakek-kakek buyut gua bukan maling dan koruptor lah! Gua turunan keluarga baik-baik bukan turunan maling!”

Muslim: “Nah! Jadi yang bersih cuma ahok, dan diluar Ahok dari milyaran umat Islam cuma bapak dan kakek-kakek buyut anda saja yang tidak korupsi?”

MPA: “Bukan gitu… Selain bapak dan kakek-kakek gua pasti banyaklah orang Islam yang gak korupsi! Orang Islam yang baik masih banyaklah”

Muslim: “Nah! Kalo umat Islam yang baik, berakhlak, beradab, berprestasi, santun, jujur dan bersih dari korupsi masih banyak… Alasan apa lagi anda pilih Ahok? Kinerja Ahok buruk, skandal korupsi banyak (baca: Korupsi Ahok), tutur kata dan perilaku teramat kasar, alasan apa lagi mendukung Ahok?”

MPA: “Ya terserah gualah, pokoknya gua cuma mau dukung Ahok, gpp kan gua pilih Ahok? Hak gua ini!”

Muslim: “Anda muslim kan?”

MPA: “Iyalah! Muslim 100%!”

Muslim: “Umat Islam tidak hanya punya hak, TETAPI JUGA PUNYA KEWAJIBAN!”

MPA: “Iya gua tau. Tiap hari gua sholat, bulan Ramadhan gua berpuasa, gua tunaikan zakat, dll. Gua selalu berusaha mentaati segala perintah Allah, dan menjauhi segala laranganNya”

Muslim: “Anda makan daging babi?”

MPA: “Hahaha… Aneh pertanyaan ente. Ya kagaklah!”

Muslim: “Kenapa anda tidak makan babi?”

MPA: “Ya karena Allah SWT Tuhan gua mengharamkan umat Islam memakan daging babi. Agama gua melarang coy, ya gua kagak mau makan babi! Najis tralala babi!”

Muslim: “Anda tau dari mana Allah SWT mengharamkan daging babi?”

MPA: “Ya dari Al-Qur'anlah, pedoman umat Islam kan Al-Qur'an”

Muslim: “Walaupun kata Ahok dan non muslim lainnya… Daging babi itu enak, daging babi itu gurih, daging babi itu menyehatkan, anda tetap menolak makan babi?”

MPA: “Cuih! Mau enak kek, mau lezat kek, mau menyehatkan kek, bukan urusan gua! Urusan gua adalah Allah SWT Tuhan gua memerintahkan umat Islam TIDAK makan babi, dan sebagai hambanya tentu gua terikat dengan perintah Tuhan gua, ya sampe kiamat gak bakal gua sentuh tuh daging babi! Najis!”

Muslim: “Oke. Bagus. Istri anda berjilbab?”

MPA: “Ya iyalah! Istri gua berjilbab. Dari sebelum menikah sama gua dia udah berjilbab, alhamdulillah istri gua orang yang taat sama agamanya, seorang muslimah yang istiqomah, bukan muslimah Islam KTP yang menyepelekan perintah Allah. Emak gua berjilbab, udah naik haji pula, masa’ gak pake jilbab? Malu donk!”

Muslim: “Kenapa mereka berjilbab?”

MPA: “Lha pan Allah SWT yang suruh, menutup aurat itu perintah Allah SWT!”

Muslim: “Tau dari mana Allah SWT menyuruh muslimah menutup aurat?”

MPA: “Ya dari Al-Qur'anlah, pedoman umat Islam kan Al-Qur'an”

Muslim: “Tapi kata orang liberal kan berjilbab itu budaya Arab, dan banyak kalangan yang bilang ‘jilbabkanlah hatimu dulu sebelum jilbabkan auratmu’”

MPA: “Mereka mau teriak itu budaya Arab kek, mau dibilang budaya Cina kek masa bodho amat! Yang gua pegang, taati dan jalani adalah perintah Tuhan gua, bukan kata-kata mereka. Pedoman hidup gua Al-Qur'an bukan Koran! Itu lagi aneh logika jilbabkan hati dulu… Gimana hatimu yang gak bisa kita liat bisa elu jilbabin kalo auratmu yang bisa diliat mata orang kagak bisa elu jilbabin?”

Muslim: “oke.. Kesimpulannya, walaupun katanya babi itu enak, walaupun katanya berjilbab itu budaya Arab dan gak perlu diikuti… Anda tetap mengharamkan babi dan mendukung pemakaian jilbab”?

MPA: “Tepat sekali! Terserah orang lain mau ngomong ape kek! Kalo Allah SWT udah kasih perintah, ayat-ayatnya jelas ada di Al-Qur'an, ya orang Islam wajib menjalankannya! Kalau ngaku Islam tapi menyepelekan apalagi melanggar perintah-perintah Allah… mending sekalian aja keluar dari Islam!”

Muslim: “Kalau Allah SWT melarang umat Islam memilih pemimpin non muslim termasuk Ahok.. Bagaimana?”

MPA: “Ya akan gua taatilah! Masa’ perintah Allah untuk tunaikan sholat, perintah Allah untuk tunaikan zakat, perintah Allah untuk berpuasa di bulan Ramadhan, perintah Allah untuk haramkan babi, perintah Allah untuk kaum muslimah berjilbab, semuanya gua taati terus perintah Allah lainnya gua tabrak? Ya insya Allah tanpa gua pilah-pilah SELURUH perintah Allah SWT akan gua turuti!”

Muslim: “Sudah tau perintah Allah haramnya umat Islam memilih pemimpin non muslim?”

MPA: “Belum tau, emang ada?”

Muslim: “Ada, banyak perintah Allah tentang haramnya umat Islam memilih non muslim sebagai pemimpin antara lain di Al-Qur'an ayat: Ali Imran 28, Al Maidah 51, An Nisa 144, Al Maidah 57 dll, sangat banyak ayatnya. Sedikit pesan untuk anda, Jangan cari pembenaran yang kita pikir kita bisa lebih hebat dari apa yg telah Allah perintahkan ke kita. Jangan menyangkal ayat-ayat Allah dengan logika sendiri”

Muslim (Eks MPA): “Astaghfirullahaladzim… Ya Allah Ya Rabbi… ” (Mata berkaca-kaca menahan tangis)“

Muslim: "Kenapa saudaraku?”

Muslim (Eks MPA): “Banyak sekali ayat-ayat Allah melarang memilih pemimpin non muslim, Baru tau gua! Allah mengharamkan umat Islam makan daging babi aja gua taati sepenuhnya padahal ayat larangannya dalam Al-Qur'an cuma sedikit, lha ini larangan memilih pemimpin non muslim ayatnya seabreg gini udah gua injak-injak? Malu aku malu ya Allah!!!… Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah kekhilafanku, aku ingin mati dalam iman dan taat kepadamu SEPENUHNYA ya Allah… Maafkan aku ya Allah!!!…”

Muslim: “:) Aamiiin. Tidak ada kata terlambat wahai saudaraku. Allah Maha Pengampun, Allah Maha Pemurah. Yang penting setelah tau perintah Allah, ya kesalahannya jangan diulang lagi”

Muslim (Eks MPA): “Tentu! Terima kasih saudaraku! Sekarang gua akan memberitahukan kepada umat Islam lainnya keberadaan ayat-ayat Al-Qur'an tentang haramnya memilih pemimpin kafir”

Muslim: “Baguslah. Karena memang kewajiban sesama umat Islam untuk saling mengingatkan