ta ke

anonymous asked:

I love you friends to lovers series so much! They're so cute! Do you think you could do one for Ken? He is really killing me with this promotion...

ofc!! find leo (here) & hyuk (here

  • you and ken meet,,,,in a way most people would describe as,,,Special 
  • see you’re at your local supermarket,,,,and it’s summer so a friend of yours suggested a picnic and you’re in charge of finding the perfect watermelon
  • which you do,,,you put it in your cart and turn your back to check out some strawberries but,,,when u look back
  • you see,,,,,,,this tall,,,,boy carefully lifting the watermelon out,,,,,,,,,of your cart,,,,,,
  • and you’re like hEY and he’s like OP! I GOTTA GO! 
  • and you’re like NO COME BACK??? THATS MY MELON????
  • but the boys legs are long and he’s sprinted down the aisle as you’re trying to chase him 
  • and you manage somehow to catch him before he turn into the freezer section and you’re like HAND OVER THE MELON
  • and he’s like “what melon?????? idk what ur talking about???”
  • but you just blatantly stare at the big bulge from his shirt,,,,,that is not his stomach,,,,,,because whose stomach pokes out from their shirt and is GREEN
  • and you’re like “listen,,,,buddy,,,,,,give me the melon and u don’t have to get hurt,,,,” and he’s like HA as if you cou- oW o W OW DONT PinCH my NOSE OWWW FINE ta KE the MELON I SURRENDEr”
  • and he takes it out from under his shirt and you grab it back with a prideful smirk on your face and you’re like “don’t mess with me,,,,,,,whats your name??” and he’s rubbing his nose and is like “ken” and ur like “dont mess with me u filthy ROBBER KEN”
  • and he’s like HEY DONT BE MEAN and u stick ur tongue out
  • and u expect,,,,that’s the end of it,,,,,but it’s not because the next week there’s ken again and as soon as you see him you’re like “DONT THINK OF STEALING MY FROZEN PIZZA THIS TIME” and ken is like “fROZEN PIZZA ISNT EVEN GOOD KEEP IT”
  • and it’s through this childish supermarket feud that you realize you guys would be good friends LOL mostly because ravi and hongbin who r with ken are always like “what are you guys? a slapstick match made in heaven?”
  • and u and ken are like NO but tbh,,,,,you get to talking to him on the line for the cashier and like he’s not too bad and ken is like “lets call it a truce to our melon war” and ur like ok truce ,,,,,, bUT im watching you kenneth
  • and he’s like THAT ISNT My NAME 
  • but tbh the more you guys see of each other,,,,the more everyone around you can tell that it isn’t teasing and friendship,,,,,you guys are,,,,,,cute
  • in an endearingly embarrassing way
  • and when ravi and ken are walking down the street one day ravi spots you in a cafe,,,,,reading a book and just hanging out and he basically nudges ken to go over and talk to you
  • which ,,,, never happens like ken is the outgoing silly wingman,,,not shy big baby ravi but,,,,,
  • as he’s approaching you you grin and you’re like “here to steal my latte?” and he’s like pLEASE why are you offering to buy me one instead
  • and you’re like what is this a date
  • and ken sits down across from you and is like “it could,,,,be if you want,,,,,,” and you can tell this time it isn’t a joke,,,,,,,and,,,,your heart beats a bit faster and you’re like “o,,oh well then,,,,,,,”
  • and ken is like “look, ill even pay for my own latte and for anything else you want” and you’re like no no we can split the bill and ken is like “wow,,,,,i stole your melon but,,,,,,,you’re really stealing my heart ;)”
  • and you’re like fgkdjsnfg sTOp but also this dumb corny boy,,,,,is,,,,,your type,,,,,, 
youtube

Ayfer Vardar :Ölmeyince sakın yardan ayrılma 

Gelin gelin allı gelin has gelin
Ak elinde ben olayım tas gelin
Kalbindeki tasaları kes gelin
Ölmeyince sakın yardan ayrılma

Gelin güzel amma azıcık bönce
Gelinin beli zekirden ince
Dayanamazlar gelin seni görmeyince
Ölmeyince sakın yardan ayrılma

Ay ile gün doğdu ucadan
Şavkı vurdu pencereden bacadan
Uykusuz kaldın gelin geçen geceden
Ölmeyince sakın yardan ayrılma

Tulisan keren dari group wassap.

Renungan… Semoga bermanfaat…

Copas :

Dulu masa saya masih kecil, saya selalu dapat no 1 dalam kelas baik waktu sd, smp dan sma

Semua orang puji saya dan ibu saya pasti gembira dan peluk cium saya.

Dulu saya dapat nilai tertinggi kelulusan sma di kota saya

Semua orang puji saya dan ibu saya pun gembira dan peluk cium saya.

Dulu saya dapat tawaran masuk perguruan tinggi terkenal, bebas tanpa tes.

Semua orang puji saya dan ibu saya pun gembira dan peluk cium saya.

Dulu saya dapat nilai cumlaude di perguruan tinggi terkenal tsb.

Semua orang puji saya dan ibu saya pun gembira dan peluk cium saya.

Dulu saya dapat tawaran buat kerja di perusahaan terkenal.

Semua orang puji saya dan ibu saya pun gembira dan peluk cium saya.

Tapi bila saya buang semua keduniaan itu dan berikrar untuk turut berjuang menjadi kebanggaan Rasulullah, saya bawa tas dan merantau ke seluruh dunia, saya berhenti di Afrika untuk belajar ilmu agama, dan balik ke Negara saya dengan kesan-kesan Sunnah Rasulullah di badan saya.

Semua orang mencemoh dan memandang rendah kepada saya.

“Apa ada lulusan perguruan tinggi terkenal yang masuk pondok? masuk tahfiz? masuk tabligh? Dak takut dapat pekerjaan?, Nanti mau makan apa? Bodohnya. Memalukan orang tua, peluang besar jadi orang besar dilepaskan pulak…”

Kata mereka.

Tapi…

Pada suatu Subuh.

Saya pergi ke masjid bersama ibu saya di mana saya merupakan imam di masjid itu.

Saya bacakan surah Abasa.

Dan sy pun menangis ketika sampai ayat Abasa 80:34,

Yaumayafirrul mar'umin akhih…..

Wa ummihi…wa Abih….

Selesai solat, semasa perjalanan pulang.

Ibu bertanya kenapa saya menangis ketika sampai di ayat itu?

Saya jelaskan.

Ayat itu menceritakan tentang huru hara mahsyar sehinggakan seorang manusia itu akan lari daripada saudaranya.

Ibunya.

Ayahnya.

Isterinya.

Anak-anaknya.

Saya katakan,

Di dunia ini, bila kita jadi kaya, orang puji katanya kita berjaya.

Bila kita gunakan dunia untuk mengejar akhirat, orang akan kata kita gila.

Sedangkan di mahsyar nanti, semua “kata-kata orang” itu langsung tak bernilai. karena ibu, bapak, anak, isteri, saudara yang di dunia ini dulu sangat dekat dengan kita pun, kelak di mahsyar mereka akan saling melarikan diri daripada berjumpa kerana takut dituntut.

Maka saya menangis karena saya risaukan apa keadaan saya di mahsyar kelak.

Pujian orang ramai selama berbelas-belas tahun itu langsung tak memberikan manfaat pada saya.

Kajian selama bertahun-tahun karena mengorbankan dunia demi agama juga tak bagi mudarat pada saya.

Lalu kenapa manusia masih mengejar pujian orang ramai dan takut dengan celaan mereka?

Ibu sekali lagi memeluk saya, tersenyum sambil menangis dan berkata.

“Sangat enak perasaan mamak mempunyai anak macam kamu nak…”

Maka itulah kali pertama dalam hidupku saya terasa sangat gembira akan “pujian” ibuku.

Berbagai pencapaian demi pencapaian yang saya dapat DULU, saya tidak pernah merasa gembira seperti ini walaupun dulu juga saya dipeluk,dicium ibu dan dipuji.

Wahai hamba Allah.

Apa sebenarnya yang kalian kejar?

Apa pula sebenarnya yang kejar kalian?

Mengapa kalian masih mengejar pujian sia-sia manusia?

Sedangkan malaikat maut pula tidak pernah lelah siang malam mengejar kalian?

Wahai saudaraku.

Apakah kalian sadar nafas kalian hanya beberapa saat lagi?

Sebelum lubang kubur kalian akan digali?

Apa yang aku dan kalian ada untuk Allah dan Rasul banggakan?

Fikirkan….. 😭

KAU YANG JAGA

Kala itu, sore begitu tenang. Terdengar suara serangga begitu nyaring, terdengar hingga ke dalam sebuah masjid. Di dalamnya, seorang anak muda tengah mengobrol dengan gurunya, mereka sedang membereskan qur’annya ke dalam tas masing-masing, tanda menyudahi pertemuan hari itu.

“Ustadz, sebelum ditutup, aku mau curhat, boleh” sang murid bertanya

“Boleh, ada apa nak?” jawab ustadz sambil tersenyum

“Ustadz, saya sesungguhnya kesal dengan seorang wanita di kelas saya. Setiap hari dia menggunakan pakaian yang ketat. Bahkan, kadang kala, pakaiannya terbuka ketika dia bergerak, sehingga membuat saya melihat auratnya. Wanita kayak begini kan gak bener ya ustadz?” Anak itu menggerutu kesal.

Ustadz terdiam, dia tersenyum sejenak.

“Nak, kenapa kau bisa tahu kalau pakaiannya ketat dan bisa terbuka ketika bergerak?” tanya ustadz.

“Apakah kamu melihatnya auratnya?” ustadz melanjutkan.

“Iya ustadz, karena pakaiannya memang nampak sekali menampilkan aurat” jawab sang murid.

“Apakah kamu memalingkan pandanganmu?” ustadz kembali bertanya

“Tapi pakaiannya terbuka ustadz dan nampak” anak kembali menjawab.

“Nak, apakah kamu menundukkan pandanganmu ketika melihat auratnya?” Ustadz kembali bertanya

“tapi ustadz, wanita itu … “ Sang anak mencoba membela diri

“Sudah nak, cukup. Tak perlu dijelaskan lebih lanjut. Sesungguhnya, kamu tidak berhak kesal dengan wanita tersebut. Yang harus kamu kesali, adalah kesal pada dirimu sendiri, kenapa kamu tidak menundukkan pandanganmu ketika melihat hal tersebut?” jawab ustadz dengan tenang.

“Apakah kamu Ingat, apakah yang Allah katakan khuss untuk laki-laki?”

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Q.S. An-nur : 30

“Allah menyuruh kita untuk menjaga pandangan kita. Entah di depan kita ada wanita yang berpakaian terbuka bahkan tidak berpakaian sekalipun, maka jagalah pandangan kita. Bahkan, wanita yang menggunakan pakaian tertutup, jikalau kecantikannya bisa menimbulkan hasrat, maka jagalah pandangan kita.”

“Ingat nak, inilah tugas pria dari Allah, menjaga pandangan. Karena Allah tahu, laki-laki mudah tergoda hanya dengan pandangan.” ustadz berbicara dengan lebih serius, sang anak menatap dengan penuh decak kagum.

“Tapi ustadz, bagaimana dengan wanita tadi?” Anak itu kembali bertanya

“Biarkan saja, urusan dia yang tidak menjaga auratnya, itu adalah urusannya dengan Allah. Tatkala seorang laki-laki memandangnya dan tergoda, maka laki-laki itu mendapat dosa, dan otomatis wanita itu juga mendapat dosa yang sama. Maka, dengan kau memalingkan pandangan, maka kau pula sedang menyelamatkannya dari siksa neraka yang berlebih. Ingatkan saja, dan doakan agar dia segera mendapat hidayah. Itu jauh lebih baik daripada menghardiknya.” Jawab ustadz.

“Biarlah, urusan auratnya, dia yang jaga. Urusan pandanganmu, Kau yang jaga. Kau melihat, kau yang salah, kau yang jaga, kau juga yang dapat pahalanya.” Ustadz menambahkan.

“Terima kasih ustadz sudah mengingatkan. Maafkan tadi aku terlalu emosi” ucap sang murid.

“Tak apa, tenang. Sejujurnya, saya juga sering memandangi wanita kok” jawab ustadz

“Loh kok? Bukannya gak boleh?” sang murid penasaran dengan nada agak kesal

“Ya boleh lah, kan yang dipandangi itu istri sendiri. hehehe. Makannya, cepet kawin, jangan kebanyakan ngawang gara-gara kebanyakan nonton drama romantis korea.”

“Loh, kok ustadz tau? ustadz, suka nonton goblin yah?”

Ustadz dan sang anak tertawa, sambil berdiri dan meninggalkan masjid.

Ya, tentang pandangan kita, kita yang jaga. Jangan tergoda, bagaimanapun kondisinya.


KAU YANG JAGA
Bandung, 20 April 2017

anonymous asked:

2D with a s/o who loves talking pictures (from regular pictures to snapshots etc etc)

A/N: i take pictures of my feet a lot hmu if you got a foot kink im joke please dont never again please

 

  • He’s a bit confused a first when you stop in the middle of your stroll in the park together, leaving him a few yards in front of you, his hand still connected to yours but in an awkward walking position as his arm is extended behind him.
  • He turns to join you when your hand disconnects from his, pulling out your phone as you hold it up to the scene in front of you. His eyes follow yours and he looks down at the pavement in front of you, not knowing what you found so appealing about an empty park bench.
  • You show him the picture and he tells you its nice anyway, even though he has no idea why the hell you would take a picture of some garbage under a bench. i do this. i love garbage yum
  • This happens quite frequently, and it becomes a norm for you both. He finds himself starting to appreciate every picture you take now much more than he did before.
  • He encourages you to print them out and he asks for a few, pinning them on his wall and you tease him calling him “basic” when he streams fairy lights all around them.
  • You take pictures of him too of course, which he’s not as enthusiastic about, due to the fact that they’re taken almost as randomly as every other picture.
  • Your camera roll is filled with pictures of him with his eyes half open, blinking, in the middle of a sneeze and or yawn, there a few that you caught of him picking his nose and he hates those in particular SO MUCH, and a few adorable ones of him sleeping too.
  • The only pictures he likes of himself are ones where you’re there too. Especially the ones you take in the morning, where you’re fresh faced and a little bit sleepy. He teases you too as some of yours aren’t as flattering but in the nice way, holding up your phone as he says, “Who’s this cutie?”
  • You print the good ones out and share them with him. He pins most of them on his wall too, some above his bed and some above his desk, some even at his doorframe where it’s eyelevel with him. His reasoning being that he can think of you all the time. If he wasn’t living with three other people he’d totally pin them all over the house.
  • He pins all but one, keeping a single picture of yourself in his wallet at all times. So whenever you’re not around he can pull it out, that being his ABSOLUTE FAVORITE picture of you and look at it and think of you.
KISAH CERDIKNYA SEORANG PEMUDA YANG IKHLAS

👤 Dr. Firanda Andirja

Yang menyaksikan kisah ini berkata :

Suatu hari aku di Mekah di salah satu supermarket. Setelah aku selesai memilih barang-barang yang hendak aku beli dan aku masukkan ke kereta barang, maka akupun menuju tempat salah satu kasir untuk ngantri membayar.

Di depanku ada seorang wanita bersama dua putri kecilnya, dan sebelum mereka ada seorang pemuda yang persis di hadapanku di posisi antrian. Aku perhatikan ternyata setelah menghitung lalu sang kashir mengatakan, “Totalnya 145 real”.

Lalu sang wanitapun memasukkan tangannya ke tas kecilnya untuk mencari-cari uang, ternyata ia hanya mendapatkan pecahan 50 realan dan beberapa lembar pecahan sepuluhan realan. Aku juga melihat kedua putrinya juga sibuk mengumpulkan uang pecahan realan miliki mereka berdua hingga akhirnya terkumpullah uang mereka 125 real.

Maka nampaklah ibu mereka berdua kebingungan dan mulailah sang ibu mengembalikan sebagian barang-barang yang telah dibelinya. Salah seorang putrinya berkata, “Bu.., yang ini kami tidak jadi beli, tidak penting bu..”.

Tiba-tiba aku melihat sang pemuda yang berdiri persis di belakang mereka melemparkan selembar uang 50 realan di samping sang wanita dengan sembunyi-sembunyi dan cepat. Lalu sang pemuda tersebut segera berbicara kepada sang wanita dengan penuh kesopanan dan ketenangan seraya berkata, “Ukhti, perhatikan, mungkin uang 50 realan ini jatuh dari tas kecilmu…”.

Lalu sang pemuda menunduk dan mengambil uang 50 realan tersebut dari lantai lalu ia berikan kepada sang wanita. Sang wanitapun berterima kasih kepadanya lalu melanjutkan pembayaran barang ke kasir, kemudian wanita itupun pergi.

Setelah sang pemuda menyelesaikan pembayaran barang belanjaannya di kasir iapun segera pergi tanpa melirik ke belakang seakan-akan ia kabur melarikan diri. Akupun segera menyusulnya lalu aku berkata, “Akhi…sebentar dulu…!, aku ingin berbicara denganmu sebentar”. Lalu aku bertanya kepadanya, “Demi Allah, bagaimana kau punya ide yang cepat dan cemerlang seperti tadi?”

Tentunya pada mulanya sang pemuda berusaha mengingkari apa yang telah ia lakukan, akan tetapi setelah aku kabarkan kepadanya bahwa aku telah menyaksikan semuanya, dan aku menenangkannya dan menjelaskan bahwasanya aku bukanlah penduduk Mekah, aku hanya menunaikan ibadah umroh dan aku akan segera kembali ke negeriku, dan kemungkinan besar aku tidak akan melihatnya lagi.

Lalu iapun berkata, “Saudaraku, demi Allah aku tadi bingung juga, apa yang harus aku lakukan, selama dua menit tatkala sang wanita dan kedua putrinya berusaha mengumpulkan uang mereka untuk membayar kasir…,

akan tetapi Robmu Allah subhaanahu wa ta'aala mengilhamkan kepadaku apa yang telah aku lakukan tadi, agar aku tidak menjadikan sang wanita malu di hadapan kedua putrinya… Demi Allah, saya mohon agar engkau tidak bertanya-tanya lagi dan biarkan aku pergi”.

Aku berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, aku berharap engkau termasuk dari orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧)
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” (QS Al-Lail 5-7)

Lalu sang pemuda itupun menangis, lalu meminta izin kepadaku dan berjalan menuju mobilnya sambil menutup wajahnya.

tumblrs tagging system is such a catastrophe. people will complain about things being posted in the main tag or being posted in the su critical tag but 90% of the time its just because the words were mentioned in the post and so tumblr puts it in the search like a fool. the only way to discouse freely is to ta//k li//ke t//hi//s and its hell??

menanamkan visi

ditulis sebagai pengingat bahwa setiap takdir itu baik, hanya saja manusia kadang salah memilih sudut pandang.

tadi saya sempet cerita bahwa sampai saya TK, saya benar-benar tidak menyadari bahwa saya berbeda. Kok bisa? ya bisa. Karena sejak lahir, saya sudah seperti ini. Sudah biasa melihat hanya dengan satu mata. Sudah terbiasa kemana-mana dengan kaki kanan saya yang meskipun kalau dipakai jalan sering kesakitan, tapi saya tetep happy buat diajak jalan-jalan.

Saya baru bisa jalan umur dua tahun lebih. Dan konyolnya, saya bisa inget masa-masa saya belajar jalan. Pas ibuk bangunin saya subuh-subuh buat nyari embun. Ada yang bilang, embun bisa bermanfaat untuk membangunkan saraf kaki. Wallahu a’lam :D Entah ilmiah atau tidak, beliau waktu itu cuma berusaha ikhtiar. Siapa tahu lewat itu, Allah mentakdirkan saya bisa jalan.

Nyatanya, saya bisa jalan pas lihat mas Ari belajar kelompok sama temen-temennya. Pas ngelihat tas digeletakin, saya ngambil tas itu. Terus bilang ke ibuk:

“Mih, adek pengen sekolah“

dan ibuk saya bilang

“Iya ayok sekolah“

dan ternyata kejutan banget, saya tiba-tiba berdiri terus bisa jalan ._. Sampe temen-temennya mas Ari sorak-sorak gara-gara saya bisa jalan ~XD Tapi kaki kanan saya sampe sekarang emang agak bermasalah. Dulu sempet pincang-pincang jalannya. Sekarang udah nggak pincang. Tapi kalo dipake jalan jauh, bagian lutut masih nyeri.

Yang saya suka dari keluarga saya adalah, Bapak dan Ibu nggak ngasih exposure berlebihan pada kekurangan saya. Saya bisa sampe ga nyadar kalo beda, karena suasana di rumah menyenangkan sekali. Semua berjalan wajar. Kami saling menyayangi plus saling meng-usil-i satu sama lain.

Baru pas TK, saya nanya ke Ibu

“Mih, mata adek kenapa?“

“Emang adek ngerasa kenapa?“

“Kata temen-temen, mata adek beda. Yang kiri buthek gitu“

ibu saya cuma senyum.

“Nggak apa-apa. Mata kirinya adek cuma luka. Sama kayak kalo adek jatuh terus luka di lutut, dan lututnya benjol. Ini lukanya di mata. Nggak apa-apa kok“

saya lega mendengar penjelasan Ibu. Tapi dunia luar memang kejam dan nggak bisa kita kendalikan. Orang tua saya tidak mengantisipasi bullying karena tidak menyangka itu bakal terjadi.

Tidak ada satu hal yang terjadi kecuali atas izin Allah. Bullying itu memang berat, tapi di dalamnya ada begitu banyak proses pembelajaran.

Bapak saya itu orang yang tangguh dan selalu memaksa saya untuk tangguh. Pas belajar motor, saya dulu sempet nggak berani dan mewek nggak mau belajar. Terus ibu saya (yang namanya ibu, selalu takut anaknya kenapa-napa), sempet bilang ke bapak:

“Nggak apa-apa Pak, adek nggak perlu belajar. Nanti susah lihat spion. Kalo jatoh gimana?“

bapak saya malah marah

“Adek itu bisa Bu. Harus dipaksa mandiri. Nanti kalo nggak bisa motoran malah kasihan. Kemana-mana mau pake apa? Kita nggak hidup terus. Anak kita itu nggak boleh selamanya bergantung sama kita. Bapak bukan nggak ikhlas nganter adek kemana-mana. Tapi tanggung jawab bapak buat ngedidik adek biar mandiri“

then pas saya nangis nggak mau belajar, inget bapak ngomong:

“Kamu milih mana, sakit karena jatoh apa sakit karena dipukul bapak?“

sambil sesenggukan akhirnya saya belajar dan saya bersyukur bisa motoran :D

Sorry ceritanya agak panjang. Kadang manusia memang cenderung berfokus pada apa yang tidak ada sehingga dia lupa mengelola apa yang ada. Alhamdulillah orang tua saya nggak overexposure sama perbedaan yang saya punya. 

Bapak saya pernah bilang: 

“Kalau kita punya cita-cita yang besar, seketika kita akan lupa sama kekurangan-kekurangan kita. Kita akan fokus mencapai cita-cita itu gimanapun caranya“

beliau juga yang ngasih nasihat:

“Apa yang Allah berikan ke kita hari ini sejatinya sudah cukup bagi kita untuk dijadikan modal mengarungi hidup, nggak usah mencari yang tidak ada“

yang perlu kita punya hari ini adalah visi dan rasa cinta yang besar pada kebaikan. 

dulu, kakak saya suka bercanda.

“Aku nggak bilang kamu cakep sih Dek :p Tapi kalopun kamu nggak dikasih cakep sama Allah, itu artinya dengan muka kamu yang kucel kayak sekarang, kamu itu udah mempesona wkwkwk preet….preet…..“

Abaikan ~XD itu cuma intermezzo karena tujuan hidup kita bukan untuk tebar pesona. Tapi bercandaan kakak saya ada benarnya. Kita kadang terlalu percaya pada persepsi yang kita buat sendiri.

untuk bisa diterima orang lain, kita harus cakep dulu. untuk dihormati orang lain, kita harus kaya dulu. untuk dapat memberi manfaat, kita harus sempurna dulu. dan untuk menciptakan rasa takut, kita harus punya senjata dulu.

Padahal itu semua cuma persepsi. Bukan fakta.

syaikh Ahmad Yassin adalah cermin bagi kita. Beliau memberi banyak manfaat untuk ummat sekalipun seumur hidup berada di kursi roda. Beliau ditakuti zionis, meskipun tidak memegang senjata.

pada akhirnya semua terletak pada kekuatan visi dan kemauan kita untuk mewujudkan visi tersebut.

anonymous asked:

Can you explain who's who in this Parent Trap AU? I've never seen the movie and I just :^)))

sure !!

trucy and apollo are twins who were separated super young bc their dads suck - trucy is in cali and apollo is in germany (it’s england in the movie but w/e). they meet somehow (in the movie it’s at a summer camp), freak out, and decide to switch places because they really want to meet their other parent (this movie is jacked up i know u dont have to tell me)

phoenix and edgeworth are awful dads who got married ridiculously young, adopted the twins, and split soon afterwards - phoenix took trucy to california, edgeworth took apollo to germany

so basically trucy and apollo are like. wtf. we’re twins and we’re getting our terrible loser dads back together how dare they do this to us 

dahlia is just dahlia ((she’s seducin phoenix for soMe reaSon (in the movie the character nick is super rich so hey); she and phoenix get/are engaged while trucy is away, apollo (in trucy’s place) is WIGGING OUT so he has to get trucy + edgeworth back pronto because. who tf wants dahlia as their step mom not me)) 

CHESSY AND MARTIN ARE WHERE IT’S SPLIT HAHAHAHA they have a romantic subplot thing kinda going on which is why I tried to sneak in lana/mia bc wow bUt

basically mia(/maya) is phoenix’s maid (im sorry neither of u deserve that), lana(/gumshoe) is edgeworth’s butler (ditto), they help trucy&apollo w their dad matchmaking shenanigans and are Very Protective of the twins; they’re really super close to phoenix&edgeworth too so. yah.

thats it thats the parent trap au **jazz hands**

Ma ei ole meeldejääv inimene,
Ma olen lihtsalt suvaline,
Kes on alati olemas.
Kõik teavad kes ta on,
Aga ei tea teda päriselt.
Mind on vaja päriselt teada,
Et ma meelde jääks.
See võtab aega
Ja alles siis võid armuda,
Kogemata.
Aga sa oled vale,
Minu jaoks.
Ja siis saadki haiget.
Sest need kes mulle meelde jäävad,
Kes ei ole suvalised,
Ja kellesse armun,
Ei jäta mind meelde,
Ei tunne mind päriselt,
Ei armu minusse.
Kogemata armun neisse ise,
Nende jaoks olen vale,
Ja mina saan haiget.

vasiliissa  asked:

the young maiden head peered from out of the doorway, slowly retreating with her from tother's sight. Minutes had came to be, and erelong, Historia scrolled out, a pair of demitasse in each hand, both filled to the brim with tea. She offered up the cup to Mikasa, before she reside aside the raven. ' i figured you might like some company? or at least some tea. ' Few words populates her vocals, and fewer came with a reason for this action, but she wore a smile over her lips nonetheless.

she’s GRATEFUL for the warm beverage, accepting the
other’s offer without much RESISTANCE. her gratitude
is expressed through a quiet, ‘ thank you, followed by
a slow, MEASURED sip; she expects nothing less of
taste and she is NOT disappointed.

“i like it.”

knocks her shoulder EVER SO SLIGHTLY against
historia’s as she shifts more COMFORTABLY, leaning
back and crossing one leg over the other. numb 
fingers gain their feeling through the radiant heat and,
soon enough, her HEART begins to feel just as warm.

“did you make this?”

Puitis

Keumala turun dari kamarnya dan mendapati kenyataan bahwa di meja makan tidak ada roti untuk sarapan. Ia mencari ibunya untuk menanyakan hal tersebut seraya mengingat-ngingat apakah ada perlengkapan sekolahnya yang lupa dimasukan ke dalam tas.

Keumala tidak menemukan Ibunya di dapur, di ruang tengah, dan di kamar orangtuanya. Ia mendapati Ibu dan Ayahnya sedang berbincang di beranda dan ada sehelai roti di sebelah cangkir berisi kopi mengepul. Apakah orangtuanya melupakan dirinya?

Keumala tidak jadi sarapan dan tidak juga mengajukan satu pertanyaan pun perihal rasa laparnya tetapi tak ada sesuatu yang bisa dimakan. Ia masuk ke dalam mobil bersama Ayahnya yang rapi dan berkharisma.

Mereka melaju sambil mendengarkan berita pagi tentang penggusuran pedagang kaki lima di jalan kota. Keumala merasakan tiada nada sendu yang keluar dari cara bicara penyiar berita. Sementara Ayahnya bersenandung lagu lama sambil dua-tiga kali menanyakan kabar Ibu Cindy, guru baru di sekolah Keumala yang cukup manis. Keumala ragu meminta uang jajan tambahan untuk acara sosial di sekolah yang digagas oleh komunitas peduli anak jalanan.

Sesampai di sekolah, Keumala melihat Joko memakai masker dan jaket. Ketika ditanya, Joko menjawab, “Kemarin kehujanan, tadi malam badanku demam, tapi hari ini ada ulangan tengah semester, kan?”

Keumala mengandaikan bila dirinya adalah Joko, tentu dia tidak akan masuk sekolah, meskipun setiap pagi, guru-guru di sana mengulang jargon: nilai haruslah nomor satu.

Keumala mengikuti pelajaran dengan baik. Hingga pulang sekolah. Dia pulang ke rumah, lagi-lagi tak ada makanan. Ia merasakan dunia mulai berubah, dunia tak lagi seperti semula.