syetan

Syetan itu pinternya kebangetan. Manusia-manusia yang malas ibadah, diajak nikmatin dunia. Manusia-manusia yang rajin ibadah, dikasih rasa riya. Kesibukan ibadahnya beda, tapi hilang pahalanya sama.
— 

Kalau kita gak bisa lebih pinter dari syetan, 

bahasa anak sekarang mah, “Kelar idup lo”

RUQYAH MANDIRI
Latihan terapi Ruqyah Mandiri

1⃣ ada 6 surat yg dibacakan utk ruqyah mandiri :
1. AlFatihah (3x) tiup 3x
2. Ayat Kursi (3x) tiup 3x
3. AlKaafirun (3x) tiup 3x
4. An Nass (3x) tiup 3x
5. Al Falaq (3x) tiup 3x
6. Al Ikhlas (3x) tiup 3x

*) setiap selese bacaan lgs ditiup ke telapak tangan, atau ke air putih, minuman, makanan, atau sesuatu yg mau diruqyah

2⃣ stlh itu diusap2kan ke seluruh tubuh dr ujung kepala ke ujung kaki, semua bahkan ke kemaluan jg, tanda terdeteksi ada syaitonnya, biasanya merasakan :
1. sakit di bag.tubuh tertentu
2. mual dan muntah
3. batuk
4. ingin BAB, ingin BAK
5. sendawa
6. Merinding
7. Kesemutan
8. Panas, dingin ato panas dingin panas dingin

3⃣ usap2 terus bagian tsb (tanda2 terdeteksi syaitonnya) dgn terus membaca ayat kursi sampai keluhannya hilang

4⃣ cara ruqyah tempat (rmh, tmpt usaha, dll) /benda spt mobil motor ato barang kepunyaan qta bs dgn cara poin 1⃣ ditiup smbl agak sedikit meludah ke air dlm wadah ember ato baskom, lalu airnya di taro dlm alat semprot dan disemprot2 sekeliling objek yg mau diruqyah

🔸Syarat ruqyah :
1. diniatkan utk meruqyah, ikhlas krn Allah (tawakal ilallah) utk membebaskan+membentengi diri dr segala bentuk sihir dan mata jahat/panas (Ain)
2. bebaskan dari buhul (media sihir yg ada) spt : jimat, keris, jarum,dll
3. lepas atau buang semua posko2 yg bs dihuni syetan dirumah, spt patung makhluk bernyawa, gambar, dll
4. jauhkan diri dr perbuatan maksiat, misalnya merokok, musik, video porno, dll…, ( bahkan musik di ringtone hp saja bisa membuat syetan itu spt segar kembali

🔸sgt dianjurkan utk tdk memajang foto diri ato keluarga kita di socmed krn bisa jd media org yg hasad utk mengirim sihir ato ain ke kita, krn media ‘para abnormal’ / 'org tdk pintar’ / dukun adalah gbr ato foto

🔸ruqyahnya bs dibantu dgn merutinkan konsumsi kurma ajwa, air yg di diruqyah di rendemin daun bidara

Bisa juga mengkonsumsi bidara

🔸bener2 tawakal/yakin kpd Allah dgn terapi ruqyah yg qta lakukan…apalagi bila yg sdh merasa terkena sihir/ain (naudzubillahi min dzalik) lakukan rutin, jgn takut sm syaiton, krn klu qta tdk takut maka syaiton akan 'mengecil’ dan sebaliknya…syaiton itu kecil dan Allah Maha Besar.

Silahkan di share jika bermanfaat
=========================

#Munakahat - keempat

“Kamu yakin nis, kalau nanti menikah gak mau pacaran” seorang senior cantik bertanya dan memecah keheningan..

“Iya, mbak. Pacarannya setelah nikah aja” jawabku singkat..

Tiba-tiba manyun..

“Nggak pacaran nikah gak harmonis lho nis, iya kalo kamu dapetnya cowok yang baik-baik. Kalo kamu dapetnya cowok yang jahat gimana? Data-data yang mereka berikan bisa jadi palsu. Aku tahu tentang khitbah dan Islam memang mewajibkan khitbah. Tapi gimana caranya biar kamu bener-bener yakin kalau cowok yang khitbah kamu itu memang bener-bener cowok baik-baik??”

“Duh, pertanyaannya mbak, dalem banget haha”

“Jawab atuh nis, jawab”

“Nisa jawab sebisa nisa ya mbak, (hehe). Begini mbak, menikah tanpa pacaran bukan berarti menikah tanpa referensi. Dalam proses ta'aruf kan ada proses yang namanya nadhor tuh (melihat si calon), ada juga mediator dari kedua belah pihak. Nah disinilah pentingnya mediator, mbak. Jadi bukan hanya berdasar data-data tertulis yang dibuat kedua orang yang akan menikah saja, tapi perlu ada orang ketiga yaitu mediator (bukan syetan loh ya mbak) yang benar-benar mengawal proses dari ta'aruf sampai khitbah.

Mediator tersebut boleh diajukan kedua pihak. Tugasnya ‘menyelidiki’ masing-masing, memberi data yang jujur tentang kedua orang yang akan menikah, bagaimana keluarganya, karakternya, kebiasaannya. Khitbah dilakukan setelah proses ta'aruf yang didampingi mediator. Pada proses ta'aruf inilah keduanya boleh bertemu (inilah yang tadi nisa sebut sebagai nadhor), saling bertanya tentang hal-hal yang bisa memperjelas data tertulis.

Yang terpenting, menikah tanpa pacaran tidak menjamin tidak harmonis, seperti juga yang menikah setelah berpacaran bertahun-tahun pun bisa gagal bahkan sebelum sampai menikah. Menikah adalah proses mengenal yang terus-menerus. Keharmonisan pernikahan, kesiapan keduanya. Yang aku pelajari dan aku amati seperti itu dari bapak dan ibu dirumah mbak. Bapak-Ibu tidak pernah kenal atau bertemu sebelumnya. Mereka berdua sama-sama bersangka baik saja, mempercayai pihak-pihak yang jujur dalam menjembatani hubungan bapak-ibu, yah meski saat itu perantara diantara keduanya adalah orang tua mereka. Dan hingga 28 tahun berumah tangga bapak-ibu tetap harmonis-harmonis saja. Apakah harmonis itu tanpa konflik? Tanpa perbedaan? (Jangan tanya deh kalau itu hehe) justru pemahaman harmonis yang demikian tidak sehat. Mereka berdua berbeda pendapat bahkan karakter, tapi bapak-ibu terbuka, berkomunikasi dengan sehat, tidak pura-pura, tanpa syarat apapun, tanpa rahasia, karna status mereka berdua pasti; sebagai ISTRI dan SUAMI dalam hubungan yang bertanggung jawab serta berusaha mempertahankannya.

Jadi pacaran sama sekali tidak menjamin juga seseorang dapat ‘mengenal’ pacarnya denga benar-bear sebab boleh jadi justru pada saat pacaran banyak yang tertutupi dengan romantisme-romantisme semu dan komitmen untuk menerima kekurangan pasangan tidak begitu kuat. Buktinya, banyak sekali pasangan yang berpacaran bertahun-tahun juga tidak segera menikah karna belum siap ini-itu. Kalau udah seperti yang didapat adalah marah dan patah hati (katanya mereka). Kalau kata ustadz salim, pacaran gak pacaran tetap akan dapat jodoh. Namun, cara mendapatkan dan rasa berkahnya itu yang ngebedain mbak. Udah ah, capek nisa hihi.”

“Hahaha, iya deh nis. Betewe, sadar gak sih kamu sering melakukan pengulangan kata hahaa.”

“Kenapa yang diperhatikan pengulangan katanya sih mbak (mulai kzl)”

“Abis kalau kamu ngomong langsung nyess deh nis, haaha”

Dia tertawa, aku tertawa, dan kami larut dalam tawa. Obrolan kami selalu berakhir dengan tidak pernah serius, tapi aku suka meski itu artinya harus perlahan kepadanya. Mojang bandung tapi tak pernah mau dipanggil 'teteh’.

*percakapan ini terjadi setahun lalu..

18 Ramadhan 1438 || 13.06.17 || ©andromeda nisa

Meet and Greet Ramadhan

Oleh: Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
_________

Materi Tematik :
Meet and Greet Ramadhan
(Bagian 1 - 5)

_________

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Tidak ada kata yang pantas untuk kita ucapkan kecuali kata demi kata yang kita bingkai dalam rangka bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla atas segala nikmat dan karunia yang Allāh limpahkan kepada kita.

Berikutnya shalawat dan salam, semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam beserta keluarga beliau, para sahabat beliau dan orang–orang yang istiqamah berjalan di bawah naungan sunnah beliau sampai hari kiamat kelak.


Insya Allah, tamu itu akan datang. Ramadhan sudah bersiap untuk mengetuk pintu kehidupan kita dan menemani derap langkah kita.

Apa yang harus kita persiapkan? Tahukah kita?

Pengalaman kita bertemu Ramadhan bertahun-tahun itu bisa menjadi bumerang.

Ada sebuah kaedah yang dijelaskan oleh para ulama kita:

“Seringnya berinteraksi itu bisa mematikan sensitifitas.”

Seringnya berinteraksi itu membuat kita tidak sensitif lagi, biasa-biasa saja.

Misalnya kita pindah rumah ke dekat atau di samping pembuangan sampah. Mungkin begitu keluar pintu mobil, mual mungkin muntah, itu hari pertama. Hari kedua paling pusing-pusing, hari ketiga pusing udah enakan, hari ketujuh udah bisa jogging di keliling tong sampah.

Lalu kita balik lagi ke rumah kita yang lama, begitu buka pintu mobil menghirup hawa rumah kita yang lama, itu mungkin ada yang hilang dalam hidup kita, aroma terapi itu yang tidak kita cium lagi.

Yang menjadi masalah ini jika terjadi dalam hal ibadah.

Saya pengalaman jika mengantar jama’ah umrah, itu khususnya yang baru pertama kali umroh.

Sampai masjidil Haram dan melihat ka’bah pertama kali, nangis, luar biasa. Tapi kita bisa paham, karena untuk pertama kali. Dan kadang-kadang, ada yang hari pertama tidak mau pulang ke hotel, i’tikaf, tidak mau pulang, doa, dzikir, shalat-shalat sunnah.

Hari kedua sudah mau diajak pulang ke hotel, hari ketiga keempat mulai berimbang antara hotel dan masjid, hari ketujuh, tawafnya sudah pindah di Zam-zam Tower.

Kenapa beda antara hari pertama dan hari ketujuh?

Karena sudah merasa biasa. Seringnya berinteraksi bisa membunuh sensitivitas dan bahayanya kalau itu terjadi dengan Ramadhan.

Karena merasa sudah sering ketemu Ramadhan, maka jadi biasa, seperti fenomena tahunan saja.

Inilah yang bahaya.

Dan yang lebih bahaya lagi, banyak diantara umat Islam yang melihat Ramadhan dari satu sisi saja.

Jika kita dengar Ramadhan yang terbersit di benak kita apa sih?

Bulan ampunan, bulan penuh rahmat, bulan penuh berkah.

Tapi tahukah kita, bahwa Ramadhan, jika tidak kita sikapi dengan benar, maka bisa menjadi mimpi buruk bagi kita pada hari kiamat. Ramadhan bisa menjadi kuburan bagi kita pada hari kiamat.

Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ

“Celaka seseorang.“

Allāhu akbar, manusia sebaik Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam, semulia akhlak beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam, sampai mengatakan, “Celaka seseorang.”

Beliau, ketika dizhalimi beliau mendoakan:

اللٰهُمَّ اغْفْرْ لِقَوْمٍيْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ((متفق عليه))

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kaumku, bisa jadi mereka tidak tahu.”

Itu ketika terluka.

Coba kita bandingkan dengan hadits ini, “Celaka seseorang.”

Ini menimbulkan tanda tanya besar di benak kita, ini orang salah apasih? Kok bisa Nabi terpaksa memvonis.

Mari kita simak lanjutan hadits tersebut:

دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Yaitu seseorang yang memasuki Ramadhan, lalu dia lalui hari-harinya di bulan Ramadhan, sampai Ramadhan berpisah dengannya dan dosanya belum diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.“

(HR Tirmidzi nomor 3468, versi Maktabatu al Maarif nomor 3545)

~~> Celaka dia, celaka dia, celaka dia.

Allāhu Akbar.

Ramadhan, bulan dimana kata Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam, pintu surga dibuka selebar-lebarnya, sebagai simbol seluruh akses dan sarana beribadah dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Lalu anda tidak shalat, tidak puasa, tidak terawih, tidak membaca Qurān, tidak tahajud, tidak infak/sedekah? Keterlaluan orang tersebut.

Semua akses dimudahkan, atsmofir, lingkungan, rumah, kantor atmosfirnya ibadah jika Ramadhan. Semua lingkungan mendukung. Jika anda tidak shalat, tidak punya waktu untuk terawih, anda ngobrol-ngobrol sama teman-teman ?

Ramadhan, di mana pintu neraka ditutup rapat-rapat sebagaimana hadits yang shahih, dan gembong-gembong syetan dibelenggu oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Lalu anda bermaksiat? Anda masih clubbing? Anda hang-out pulang jam 2 malam? Keterlaluan.

“Celaka dia, celaka dia, celaka dia,” kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam

Nabi tidak pernah mengatakan, “Barangsiapa yang berpisah dengan Sya’ban dan dosa-dosanya belum diampuni, maka celaka.” Tidak ada.

Hanya Ramadhan, “Barangsiapa, yang masuk Ramadhan, lalu keluar dari Ramadhan dan dosa-dosanya belum diampuni oleh Allah, celaka dia, celaka dia, celaka dia.”

Ini yang kadang-kadang dilupakan oleh banyak umat Islam

Banyak dari kita berfikir bahwa Ramadhan itu nothing to lose, artinya ya sudah dijalani saja, kalaupun tidak ibadah kan kosong-kosong.

Tidak demikian, jika kita tidak memanfaatkan tamu ini, maka habis kita pada hari kiamat, Nabi mengatakan kita celaka.

Beberapa hari lagi tamu itu akan datang dan hadir, tamu itu akan mengetuk setiap pintu kehidupan kita, apa yang kita persiapkan dalam tujuh hari ini, menentukan.

Kita bisa memanfaatkan beberapa
hari ini, maka insya Allāh Ramadhan kita akan bermakna.

Tetapi jika kita blunder, maka dikhawatirkan kita termasuk ke dalam sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, "Celaka dia, celaka dia, celaka dia.”
____________________________


Apa yang harus kita lakukan, agar kita bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita?

PR kita yang pertama dituju hari ini adalah:

*(1) Yang Pertama*

Lakukan pemanasan.

Di beberapa ayat di dalam Al Qurānul karīm, Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyatakan bahwa ibadah itu adalah perlombaan:

‎فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam melakukan kebaikan.”

(QS Al Baqarah: 148).

Jika ibadah satuannya perlombaan, maka bagaimana dengan musim ibadah yang bernama Ramadhan? Bagaimana dengan sebuah bulan yang isinya adalah ibadah ? Dan berbagai macam varian ibadah ada di sana?

Maka tidak heran jika sebagian orang mengatakan bahwa Ramadhan itu ibarat olimpiadenya ahli taqwa, olimpiadenya orang-orang yang beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, karena Allāh yang mengqiyaskan, Allāh yang menganalogikan.

Simple saja, apakah ada seorang atlit mengikuti olimpiade tanpa TC (training center), tanpa pemanasan, tanpa stretching, tanpa warming up, lalu dia mendapatkan medali emas ?

Tidak ada.

Misalnya cabang olah raga, dia akan dipertandingkan atau diperlombakan tanggal 16 atau 17 Juni, jadi dari hari ini kerjanya makan-tidur makan-tidur, lalu tanggal 16 Juni datang ke stadion untuk berlomba, juara?

Tidak ada ceritanya. Kalah…

Padahal kita tahu bersama, bahwa olimpiade itu hanya bisa diikuti oleh atlit-atlit papan atas dunia, jika misalnya besok kita datang ke komite olimpiade, daftar ikut tenis, kira-kira diterima tidak ?

Tidak diterima, karena ini hanya khusus pemain-pemain papan atas.

Sekarang kita tanya diri kita, Ramadhan ada di depan mata kita, kira-kira:

√ kita ahli tahajud papan atas bukan?
√ kita ahli Qurān papan atas bukan?
√ kita ahli puasa papan atas bukan?
√ kita ahli infak dan sedekah papan atas bukan?

Kalau bukan, lalu kita masuk Ramadhan begitu saja tanpa ada pemanasan?

Jangan bermimpi bisa mendapatkan medali taqwa dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Harus pemanasan. Dan hari-hari ini penentuannya, karena Ramadhan ibarat lari marathon, Ramadhan kita diminta berada di level atas bukan 1 atau 2 hari, tapi 30 hari, sebulan. Tidak mudah…

Dan grafik diminta naik dari hari pertama ke hari terakhir kita tidak boleh menurunkan tempo, bahkan harus naik, naik, naik, dan klimaksnya adalah 10 hari terakhir.

Itu berat, makanya kesebelasan sebelum memasuki piala dunia, mereka selalu ujicoba, fungsi ujicoba itu apa ?

Untuk memainkan grafik dan ritme, agar ketika masuk piala dunia mereka sudah main di level paling atas.

Begitu juga Allāh mengqiyaskan bahwa ibadah adalah perlombaan, lalu kita tidak ada persiapan sama sekali? Tidak ada pemanasan? Masuk begitu saja?

Atau kita qiyaskan ke tempat yang lain. Kita punya mobil canggih, x class, 3 bulan tidak pernah dipanasin. Apalagi dipakai, tiba-tiba hari ini starter dan injak gas. Kira-kira jalan tidak?

Tidak jalan.

Begitu juga, jika kita sudah lama tidak membaca Al Qurān, jangankan baca, mushafnya lupa ada di mana. Lalu 1 Ramadhan membacanya tiga juz?

Tidak mungkin bisa, harus ada pemanasan.

Dan hari-hari ini, tidak bisa ditunda lagi, tinggal satu minggu waktu kita.

Jika dibandingkan dengan ulama sudah terlambat. Para ulama dari Sya’ban. Al Imam Al Mula-i, salah satu ulama besar, begitu masuk 1 Sya’ban libur, tokonya ditutup selama dua bulan. Buka lagi Syawwal. Sibuk apa?

Sibuk pemanasan, masuk TC, baca Qurān, tingkatkan tempo qiamul lail, perbanyak puasa Sya’ban. Oleh karena itu, tidak heranpara ulama terdahulu setiap tiga hari khatam. ‘Utsman setiap satu hari khatam.

Harus ada pemanasan, minimal kita dalam tujuh hari ini:

√ Yang sudah terbiasa dari awal Sya’ban menjaga puasa sunnah, pertahankan dan tingkatkan tempo.

√ Yang sudah terbiasa qiyamul lail atau membaca !Al Qurān, tambah lagi.

√ Yang belum pernah atau sudah postponed agak lama, maka mulai lagi, nanti malam bangun lagi.

Harus, dalam tujuh hari ini, minimal kita tidak kaget ketika tanggal 1 Ramadhan.

Tantangan Ramadhan itu besar, dan semakin kepuncak semakin besar tantangannya. Karena bukan hanya Allāh saja yang memberi promo, mall memberi promo, barang-barang banded memberi promo, semua memberikan promonya.

Pecah konsentrasi kita.

Belum lagi acara Ramadhan itu padat, belum lagi bukber (buka bersama), bukber angkatan 85, bukber angkatan 90, bukber angkatan 95, bukber angkatan 2000, bukber teman-teman SMP ketemu di Ramadhan, teman SMA di Ramadhan. Lalu kampus di Ramadhan, lalu teman-teman BEM di Ramadhan. Lalu teman-teman kantor Ramadhan lagi.

Jadi isinya bukber semua tuh. Ketemu sana, ketemu sini. Dan jika kita bertemu teman SMP kan tidak bisa 10 menit, akhirnya tarawih lewat, isya di rumah, dan terkadang banyak yang tidak shalat maghrib, na'udzubillāh.

Itu halus, hati-hati !!!!

Ramadhan berat, tidak semudah yang kita bayangkan, kita harus persiapan, kita harus pemanasan. Dan terbukti fenomena tahunan di mayoritas masjid malam demi malam, setiap melewati malam mengalami kemajuan terus, shafnya yang maju, maju dan maju.

Nanti anti klimaksnya shalat shubuh pas lebaran tinggal imam sama muadzin saja. Sedangkan yang lainnya sibuk mudik, ada yang fitting baju lebaran dan seterusnya.

Lupa, tidak konsentrasi.

Pemanasan ini penting, semua pasti harus pemanasan, tidak ada yang tidak pemanasan. Jika semangat ibadah 1 Ramadhan terlambat, harusnya anda semangat ibadah dari sekarang.

Tidak ada waktu lagi, tinggal tujuh hari lagi kita masuk Ramadhan.

Jika memang “MEET AND GREET” kita dengan Ramadhan berjalan sukses, kita harus pemanasan dari sekarang. Ini yang pertama.

____________________________


Apa yang harus kita lakukan agar bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

*(2) Yang Kedua*

Pastikan sebelum 1 Ramadhan, ilmu kita tentang puasa telah komplit, ilmu kita tentang Ramadhan telah komplit.

Ilmu tentang fiqih puasa, bagaimana sahur? Bagaimana buka? Apa doanya? Lalu tawarih seperti apa? Lalu i’tikaf? Lalu apa beda tarawih dengan tahajud? Lalu bagaimana jika kita sedang safar?

Itu komponen yang harus komplit, karena dalam shahih Bukhari, kaidah kita mengatakan:

‎العلم قبل القول والعمل

“Ilmu dulu sebelum berbicara dan beramal.”

Ilmu dulu, agama kita adalah agama ilmu. Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam surat Al Isrā’ ayat 36:

‎وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah anda mengikuti berbicara, melakukan sesuatu yang anda tidak tahu ilmunya.”

Jangan lakukan sesuatu, Allāh marah jika mengatakan.

‎إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Sesungguhnya pendengaran anda, penglihatan anda dan hati anda, semuanya akan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.“

(QS Al Isrā’: 36)

Jadi pastikan ilmu kita komplit, jangan tanggal 15 Ramadhan baru mulai membuka buku, ini terlambat.

Tanggal 20 Ramadhan baru membuat kajian pembatal-pembatal puasa. Kemana saja? Ini sudah tinggal 10 hari lagi.

Ini analogi sederhana saja, kita akan travelling, naik pesawat, begitu masuk ke pintu pesawat kita lihat pilotnya lagi buka-buka buku panduan bagaimana menerbangkan pesawat.

Kira-kira kita akan duduk di pesawat itu tidak?

Tidak, pilotnya saja baru belajar. Bagaimana bisa sukses?

Begitu juga dengan Ramadhan, bagaimana kita bisa sukses, jika kita tidak tahu panduannya, jika kita ikut-ikutan? Tidak bisa.

Dalam hadits Imam Ahmad, ini statement Nabi, bukan statement saya. Nabi kita mengatakan:

‎رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa ganjarannya hanya lapar dan dahaga.”

(HR Ath Thabraniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi –yaitu shahih dilihat dari jalur lainnya)

Tidak mendapatkan apa-apa.

Dan hadits ini menariknya menggunakan kata-kata rubba. Rubba dalam bahasa Arab adalah sebuah kata untuk mengungkapkan sesuatu dengan kuantitas (jumlah) yang banyak.

Jika kuantitasnya hanya 1, 2, 3, maka tidak memakai kata “rubba” dalam bahas arab. Nabi menggunakan kata “rubba”, artinya banyak orang gagal puasa Ramadhan. Itu sabda Nabi.

Ini harus kita pikirkan, sudah komplit atau belum ilmu kita, komponen kita itu ? Baca! Ikuti kajian! Browsing! Goggling! Lalu crosschecked dengan ustadz yang mempunyai kapasitas di bidang ilmu fiqih, tanya. Sekarang waktunya.

Begitu masuk 1 Ramadhan, kita sudah tahu apa yang harus diperbuat. Apa yang harus kita prioritaskan. Amal-amal apa saja yang pahalanya luar biasa di sisi Allah. Ini harus kita maksimalkan.

Itu kiat yang kedua atau PR kita yang kedua sebelum kita bertemu dengan tamu yang begitu istimewa tersebut (Ramadhan).


*Apa sebetulnya yang membuat kita tidak bisa ngerem (menahan)?*

Ketika ada harta haram tetap injak gas, ada cewek (perempuan) yang tidak boleh didekatin tetap injak gas, kira-kira apa tuh yang membuat kita tidak atau susah mengontrol?

*Diantaranya, karena kita lebih banyak bermain dengan logika kita, bukan dengan dalil. Kita terlalu bermain dengan matematika kita.*

Contoh:

~~> Ada teman kita mengambil uang haram, kita katakan: "Bro, kok ngambil uang haram? Itu kan tidak boleh.”

“Iya sih, tapi anakku tiga-tiganya besok tahun ajaran baru, uang gedung mahal, sudah hitung tuh, anak-anak tidak akan bisa sekolah jika aku tidak ngambil duit itu.”

Nah, itu matematika kita yang dipakai, lupa kepada janji Allāh.

~~> “Mbak, kenapa tidak memakai jilbab?”

“Pengen sih, aku tahu jilbab itu wajib, tapi kalau aku pakai jilbab, jobku (pekerjaanku) hilang. Padahal aku masih singel parent, siapa yang memberi makan anak-anakku?”

Ini matematika kita lagi yang dipakai. Hitung-hitungan.

Saya kasih analogi, misalnya kita duduk dibangku sekolah. Kita mendapat soal matematika, soalnya begini:

Akh Fani berangkat dari Al Azhar ke Tanjung Priuk dengan kecepatan konstan 140 km/jam. Sedangkan akh Amor berangkat dari Al Azhar ke Tanjung Priuk dengan kecepatan yang tidak konstan, karena sering ngerem.

Pertanyaan, siapa diantara mereka yang paling cepat sampai Tanjung Priuk?

Jika kita sebagai siswa dan mengerjakan soal matematika, kira-kira yang sampai dulu ke Tanjung Priuk siapa? Fani atau Amor?

Tentu saja Fani.

Permasalahannya, jika saja matematika yang teori ini, kita terapkan dalam kehidupan yang nyata, siapa yang pertama kali sampai ke Tanjung Priuk? Fani atau Amor?

Maka, Amor.

Matematika itu bagus, tetapi bukan pondasi kita. Tidak semua rumus matematika bisa diterapkan, jangan memakai ini hitungan kita, Allāh mempunyai banyak rumus yang bisa membalikan teori kita.

Jika semuanya sejalan dengan matematika kita, maka tidak ada Ath Thalaq ayat 2-3:

‎…. وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ …..(٣)

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allāh, Allāh akan berikan jalan keluar dan Allāh akan memberikan rizki dari arah yang tidak ia duga-duga.”

Jadi, jangan main-main. Dengan itu kita akan injak rem, semua orang jika memakai logika maka 140 km/jam akan lebih cepat sampai, tapi realitanya tidak demikian.

Harus injak rem!

Begitu juga dalam hidup, dan ini kita lupakan, sehingga begitu keluar Ramadhan, kembali lagi ke habitat kita. Kembali lagi ke komunitas kita, kembali lagi dengan habits kita, atau behavior kita.

Ramadhan, mengajarkan kita untuk selalu menginjak rem. Dan ini harus kita resapi selama sebulan penuh kita digembleng, ditraining oleh Allāh, di madrasah yang bernama Ramadhan.
____________________________

Apa yang harus kita lakukan agar bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

*(4) Yang keempat*

Sebelum 1 Ramadhan, perbanyak istighfar dan taubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kemana-mana:

‎استغفر الله وآتوب إليه

Resapi dan ingat dosa-dosa kita.

Ustdadz, kok begitu, korelasinya apa ya? Kan kita mau ketemu Ramadhan, bukan mau dugem, bukan mau clubing.

Ulama mengatakan, yang membuat kita malas ibadah, yang membuat kita capek baru ibadah sebentar saja, itu karena beban dosa di pundak kita terlalu banyak.

Allāh berfirman dalam surat Al Muthaffin ayat 14:

‎كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali kali tidak, dosa-dosa mereka itulah yang menutup hati mereka.”

Sehingga mereka malas ibadah, mereka tidak beriman kepada Allāh, mereka meninggalkan amal shalih.

Jadi, semakin banyak beban dosa kita, semakin susah beribadah. Dan dosa itu akan mengundang teman-temannya.

Kata para ulama:

‎إِنَّ المَعْصَيَةَ تنادي أخته

“Sesungguhnya maksiat itu akan mengundang teman-temannya.”

Dan celakanya, itu terjadi di Ramadhan. Harus diputus mata rantai itu dengan istighfar, dengan taubat. Banyak istghfar, banyak taubat kalau kita ingin semangat dan bisa nyaman, bisa ringan di tubuh untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Istighfar dan istighfar dan taubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini kunci dan ini nasehat para ulama kita agar “meet and Greet” kita dengan Ramadhan begitu bermakna.


*(5) Yang kelima*

Masuk Ramadhan, syiar kita adalah “lā haula walā quwata illā billāh”, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jangan mengandalkan kemampuan kita semata, jangan mengandalkan ilmu kita saja, jangan mengandalkan pengalaman.

Nggak bisa.

Ibadah itu taufiq dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Dan inilah, sekali lagi, bumerang bagi orang yang merasa dirinya pengalaman. Dia cenderung mengandalkan pengalamannya, “Insya Allāh, tahun lalu juga bisa gua.”

Nggak bisa.

Bertumpulah kepada Allāh.

‎إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.”

Apa korelasinya?

Bapaknya ilmu tafsir, Al Imam Thabary rahimahullāh mengatakan:

“Iyya kana’ budu, adalah tujuan. Hanya kepada Allāh kami beribadah. Dan, iyya kanas ta'in, adalah sarana (jembatanya, jalannya).”

Artinya, anda tidak akan bisa beribadah kepada Allāh kalau anda tidak ditolong oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Nggak bisa, nggak bisa, hanya sekedar teori nggak bisa.

Masih ingat apa yang terjadi di perang Hunain, ketika fase pertama, kita kalah oleh musuh?

Dan Allāh berfirman dalam surat At Taubah ayat 25:

‎لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ

“Allāh telah menolong kalian di berbagai macam peperangan (Allāh yang tolong kalian, kata Allāh). Dan ingatlah, apa yang terjadi di perang Hunain, ketika sebagan kalian (segelintir kalian) ujub, mengandalkan banyaknya pasukan kalian (mengandalkan kekuatan militer kalian lupa bahwa selama ini anda ditolong oleh Allāh).”

K a l a h.

Padahal di dalam pasukan itu pakar-pakar perang semua, di dalam pasukan tersebut ada Rasullullāh shallallāhu 'alaihi wasallam, panglima perang nomer satu di dunia.

Ada Abu Bakar Ash Shdidiq, 'Umar bin Khatbab, 'Ustman bin Affan dan ada 'Ali bin Abi Thalib, namun gara-gara segelintir yang ujub, bukan Nabi yang ujub, maka satu pasukan kalah, padahal mereka adalah pakar.

Kita sudah sepakat, testimoni tentang kita:

√ kita bukan pakar puasa,
√ kita bukan pakar tahajjud,
√ kita bukan pakar baca Al Qur'an.

Lalu kita masuk Ramadhan hanya mengandalkan pengalaman kita?

Kalah, nggak bisa.

Minta kepada Allāh, berdoa agar Allāh mudahkan, agar Allāh lancarkan, agar Allāh kuatkan mata kita untuk begadang membaca Al Qur'anul karim.

Kalau nggak?

Nggak bisa, susah, jangan mengandalkan kemampuan kita. Andalkan kemampuan Allāh Subhānahu wa Ta'āla

Nabi mendidik kita, disetiap hari 2 kali kita diminta membaca doa:

‎يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Allāh yang maha hidup dan mengatur kehidupan seluruh alam semesta ini, dengan rahmat-Mu aku meminta keselamatan, perbaiki segala urusanku (shalatku, dzikirku, puasaku dan seterusnya) dan jangan biarkan aku bertumpu pada diriku walaupun sekejap mata.”

Ini Nabi lho yang membaca pertama kali. Nabi nggak mau bertumpu dengan dirinya.

Lalu kita masuk Ramadhan dengan bertumpu dengan kedua kaki kita yang keropos ini?

Nggak bisa.

Nabi, yang apabila shalat tahajjud sampai kaki Beliau bengkak, saking lamanya shalat, nggak bisa dan minta pertolongan pada Allāh.

Jangan masuk Ramadahan hanya mengandalkan ilmu kita, pengalaman kita, nggak bisa.

Walaupun pengalaman kita puluhan tahun, (hendaknya) seakan akan kita baru pertama kali. Kita membutuhkan bimbingan dari Al 'Alim, Al Khabir, Arrahman, Arrahim.

____________________________


Apa yang harus kita lakukan, agar kita bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

*(6) Yang keenam*

Sebelum 1 Ramadhan buat target.

Buat target lalu buat schedule untuk Ramadhan dan berani meng-cancel dan mengorbankan sebagian aktivitas dunia kita.

Target penting, kalau kita tidak punya target repot kita. Kita akan menunda dan menunda.

Misalnya membaca Al Qurānul karīm, kita harus buat target.

“Saya harus khatam Al Qurānul karīm. Kalau bisa lebih baik dari tahun lalu, minimal satu kali khatam. Harus satu kali khatam.”

‎وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca 1 huruf dalam Al Qur'an maka Allāh akan berikan pahala. Dan satu pahala Allāh kalikan 10. Aku tidak pernah mengatakan الم itu satu huruf. Namun alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.”

(HR Tirmidzi nomor 2835, versi Maktabatu al Ma'arif Riyadh nomor 2910)

Masa kita tidak tertarik?

Ini promo dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, الم itu 30 pahala lho.
Harus sekali khatam.

Nah, setelah kita pastikan satu kali khatam, maka berikutnya buat schedule (jadwal).

Satu kali khatam berarti satu hari satu juz. Satu juz itu ada 10 lembar, maka antum bagi.

Misalnya, ini contoh saja:

√ sebelum sahur 1 lembar,
√ ba'da subuh 2 lembar, jadi 3,
√ nanti dhuha misalnya 2 lembar, jadi 5,
√ ba'da dzuhur biasanya kita makan siang 2 lembar lagi, jadi 7,
√ lalu ashar bikin 1 lembar, jadi 8,
√ magrib, isya, selesai.

Jika tidak maka akan kita tunda terus. Harus ada schedule, tidak bisa tidak.

Para ulama mengatakan:

‎التَّزْوِيْزُ مِنْ جُنُوْدِ إِبْلِيْس

“Menunda-nunda itu adalah bala tentara iblis.”

Jadi harus pakai schedule.

Infaq, sedekah misalnya, antum harus punya target.

Misalnya, “Sehari, 50.000 harus hilang dari dompet saya.”

Harus begitu. Tidak mau tahu caranya, 50.000 harus hilang.

Jadi, jika maghrib, 50.000 masih utuh, antum sudah panik, antum galau.

Jika tidak ada target, kita akan nunda lagi, “Besok aja, pasti in syā Allāh ketemu faqir miskin.”

Tapi kalau sudah target 50.000 harus hilang, kita akan cari.

Ada tukang ketoprak, “Nih bang 50.000.” Tukang ketoprak tidak ada, ada satpam komplek kasih 50.000. Tidak ada semuanya, tetangga lagi nyiram bunga, kasih 50.000. Pokoknya siapa aja kasihlah.

Atau ada pembantu, kasih 50.000. Istri kita ada itu, kasih 50.000, atau istri kasih suaminya 50.000. Pokoknya 50.000 harus hilang.

Nah itu baru Ramadhan, harus ada target. Tanpa target, tidak bisa. 30 hari itu sebentar.

Harus berani memperioritaskan akhirat dan mengorbankan sebagian aktivitas dunia kita.

Ini Ramadhan, bukan bulan yang lain. Cancel yang bisa di cancel.

Para ulama itu liburnya 2 bulan, satu bulan TC (training center) Sya'ban, satu bulan Ramadhan, total 2 bulan. Itu toko tutup, usaha berhenti dan masuk lagi Syawal.

Ini luar biasa. Belum tentu kita ketemu lagi. Maksimalkan 1 bulan ini. Yang bisa di cancel, di cancel. Selama kita tidak melalaikan kewajiban kita dan tanggung jawab kita.

Berkah Ramadhan pas kita benar-benar berusaha beribadah kepada Allāh.


Saya punya kenalan, dia pingin 'itikaf. Tapi di ultimatum oleh kampungnya, disuruh pulang, dusuruh mudik. Orangnya pas-pasan, biasa-biasa saja. Galau sekali, karena dia ingin malam-malam terakhir, prime timenya (puncaknya) Ramadhan, dia bisa beribadah, tapi dia disuruh mudik.

Akhirnya dia putuskan saya mudik dengan jalur udara, padahal dia tidak punya uang.

Terus saya bilang, “Kan mahal Pak?”

“Daripada saya naik mobil, malam 27 saya di pantura Pak, macet segala macam dan seterusnya, mendingan saya naik pesawat saja.”

Eh, ketika dia beli tiket pesawat, ekonomi class habis, dia beli bisnis, dia, istrinya, anak-anaknya bisnis semua. Padahal saya tau kemampuannya tuh biasa-biasa aja, tidak nutuplah.

Tapi itu Ramadhan, para ulama, para sahabat rādiallahuta'ala anhum, mereka bisa sehari khatam.

Jika Ustman sibuk dengan tokonya bagaimana sehari khatam? Tidak mungkinlah.

Itu menurut para ulama. Itu Ramadhan. Kalau cuma kongkow, cuman ngumpul, cuman curhat, itu bukan Ramadhan.

Ramadhan, fastabiqul khairāt.

Ini yang perlu kita camkan hadirin hadirat yang dirahmati oleh Allāh Subhanahu wa Ta'ala. *Berani.*

Ada sebagian ibu-ibu kalau Ramadhan katering, tidak mau masak.

“Habis waktu saya.”

Katering dan suaminya ridhā. Saur dibawa, buka puasa dan makan malam katering. Jadi dia bisa baca Qurān. Itu yang harus kita pikirkan.

Kenapa ahli dunia berani mengorbankan uang untuk dunia mereka, kita tidak berani mengorbankan uang untuk akhirat kita?

Allāh akan ganti, tidak mungkin Allāh tidak ganti.

Jika kita korbankan dunia, di Sya'ban, di Rājab Allāh akan ganti. Tidak mungkin di Ramadhan tidak diganti.

Ingat sekali lagi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat:

‎إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah 'Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.”

(HR Ahmad)


Source : bimbinganIslam.com

ALLAH saja

Bismillah…
Saya biasanya ga mau menulis sesuatu yg buruk, yg malah berpotensi menyebarkan keburukan itu sendiri.

Berhari-hari saya menahan diri, saat rame org membahas Awkarin beberapa waktu lalu.

Remaja pinter berjilbab dari kota kecil, yg kemudian pindah sekolah ke Jakarta, dan menjadi liar dan murahan kemudian.

Anehnya, keLIARan gadis ini, digemari di kalangan remaja dunia maya,

dan bahkan gadis ini bisa dapat uang banyak dari potensi para followernya.

Disebut-sebut, dari popularitasnya, Awkarin bisa dpt bayaran sampai 25juta perbulan, untuk jasa endorse produk-produk yg segmen-nya adalah remaja.

Wow!
Saya tahan untuk tdk menulis ttg Awkarin saat itu,

krn saya yakin, apa yg akan saya tulis, akan sama saja dgn komentar dan ‘omelan’ emak-emak yg menghiasi Vlog dan akun Sosmed Awkarin.

Tentang moral,
dan tentang agama.

Tapi ternyata..
Beberapa bulan kemudian, Muncul another Awkarin,…Anya Geraldine, alias Nur Amalina Hayati, nama aslinya.

Sama seperti Awkarin, gadis remaja belasan tahun ini jg gemar sekali membagikan video kisah cintanya yg lebih liar dari gaya pacaran Awkarin.

Pertama kali melihat video Anya, saya langsung marah..
Kok bisa!

Kok bisa, saya yg udh menikah 10 tahun.. Belum pernah bulan madu di hotel mewah yg lsg berhadapan dgn kolam renang yg jg ada jacuzzinya

Ini kok anak ingusan belasan tahun, nikah enggak,
pacaran baru hitungan bulan..

Kok sudah bulan madu mewah.. Kok bisa?! Mengapa! :D

Hush!
Salah!
Maksutnya.. Kok bisa.. Remaja begituuuuuuu..

Ini Indonesia kan?
Masih negara dgn muslim terbanyak kan?

Well
Mundur sejenak kebelakang, tahun 2000-an.

Setiap kita, punya zaman.
Waktu Jaman sekolah saya dulu.. Jg ada tokoh sekaliber Awkarin dan Anya,

Jadi FIX, awkarin bukan ‘simbol seks remaja’ pertama..

Hanya saja,
Ada ‘tokoh’
Di jamannya masing-masing,

Dan dengan level perosotan moral yg sama-sama makin menurun.

Saya dulu tumbuh dilingkungan paling berpotensi untuk rusak.

Sejak SD, saya dah biasa ngeliat narkoba.

Temen-temen saya yg nikah karena hamil duluan, sdh ada sejak kelas 4 SD. Bukan sesuatu yg baru melihat anak SD yg centil, hamil dan brenti sekolah.

Orang Balikpapan pasti tau kampung baru.

Di situ saya lahir dan dibesarkan. Di 'Texas'nya Balikpapan.

Sebagai remaja ,
saya jg melewati masa-masa rentan bentrok dengan mamak saya.
Dididik dengan keras.
Kolot.
Saklek.

Alasan kuat untuk menjadi rusak, krn 'bosan’ di rumah, bisa saja.

Terlebih saat SMA, kawan-kawan sekolah saya, Yg rusak moralnya, ga sedikit.

Yg menjual diri demi bisa beli softlense, ada!

Yang rela jadi peliharaan om-om gendut tua, demi bisa bayar biaya nongkrong di kafe, jg ga sedikit. Saya ber-kawan dgn remaja-remaja rusak itu.

Lulus sekolah, dan langsung kerja diperusahaan Australia..

Jg makin meningkatkan potensi saya untuk bisa rusak.

Gadis muda,
Dari kampung miskin, mendadak bergaul dengan org-orang kaya yg ber-pacar dan ber-suami-kan bule-bule berduit.

Peluang bandel..
Agar kehidupan ekonomi membaik, bisa saja..
Karena ditawarkan Didepan mata saya.

Saat itu, saya jg ga jelek-jelek banget, berat badan masih dibawah 50 kilo :D
Masih bisa lah, bikin satu dua bule melirik..

Tapi ternyata tidak !

Pertolongan ALLAH ,
Saya tetap bisa jadi Yana yg apa adanya.

Tidak pernah merokok.
Tidak pernah minum minuman keras.
Tidak pernah mencoba narkoba
Tidak kenal seks bebas.
Padahal saya dikelilingi kehidupan itu.

Bahkan sebaliknya,
Bukannya Rusak, takdir ALLAH , saya malah memBAIK..

1 September 2003, saat akhirnya memutuskan berjilbab..

Saya dan kawan-kawan saya, baru saja pulang dari salah satu tempat hiburan malam paling populer di Balikpapan. Pulang pagi…!!!

Bayang-kan!
Habis pulang pagi..
Langsung berjilbab.

Ya!
Saya berjilbab begitu saja setelahnya.. Dan alhamduliLLAH istiqomah sampai sekarang, dgn terus belajar memperbaiki diri.

Saya memutuskan berjilbab dan mendekat pada ALLAH , karena merasa bosan dengan kehidupan hura-hura saya, yg ternyata.. Ga jadi apa-apa..

Senang..
Nongkrong..
Pulang!

Begitu terus!
Betapa membosankannya..
Apa mau sampai mati?

Begitu saja, cara ALLAH yg Maha Baik memberikan hidayahNya. Menyelamatkan saya dari kerusakan..

Padahal saya berada didalam lingkungan yg rusak dari beragam penjuru..

Mengapa saya bisa seberuntung itu??
Merasakan hidup penuh hura-hura.. Tanpa tersentuh kerusakan??

Apa saya dr keluarga religius? Tidak..!!!!

Apa saya punya amalan banyak?…..Gak!!!!

Jawabannya,
Adalah doa-doa yg dilantunkan mamak saya, hampir di setiap sujud beliau,……
agar ALLAH menjaga saya,
Menjaga semua anak beliau, dari buruknya godaan syetan.

Juga,
Insha ALLAH , karena kerasnya usaha bapak saya yg berkomitmen hanya membawa uang halal masuk kerumah.

Bapak saya,
Yg tetap miskin,
meski bekerja di kapal (tug boat) penarik tongkang minyak selama puluhan tahun.

Bapak saya,
Yg tetap miskin,
meski kawan-kawan dan junior beliau dikapal,
Sudah kaya mendadak satu persatu.. karena memper-jual-belikan 'kencingan’ minyak-minyak curian yg pasti tdk akan ter-deteksi perusahaan.

Bapak saya,
Yg tetap miskin,
Karena takut anak-anaknya makan barang haram..

Ya!
Itulah yg insha ALLAH telah menyelamatkan saya dan saudara-saudara saya lainnya..!

Bukan karena saya hebat..
Tapi karena beliau-lah orangtua yg hebat!

Sahabats..
Jaman makin rusak..
Sekeras apapun kita memproteksi internet, agar menjadi internet sehat bagi anak-anak kita..

Sekuat apapun, kita lindungi tontonan anak-anak kita, agar jauh dari tontonan kemaksiatan..

Dunia luar tetap waspada untuk memangsa mereka..

Dunia luar tetap memaksa anak kita mendengar dan melihat hal-hal yg kita tutup-tutupi dan sembunyikan dirumah..

Sehingga..
Belajar dari almarhum Mamak dan almarhum Bapak saya..

Saya benar-benar hanya akan mengandalkan pertolongan ALLAH saja..

Agar anak-anak saya kelak,
Mengigit erat sunnah RasuluLLAH dengan gigi gerahamnya,

Erat-se-erat-erat-nya! Agar tak terlepas!

Meski semua orang akan menyebutnya pengecut karena tak mau berbaur dengan kemaksiatan.

Belajar dari almarhum Mamak dan almarhum Bapak saya..

Saya akan meminta suami saya, Ayah dari anak-anak saya..

Agar Berusaha keras membawa pulang harta halal saja….. meski sampai mati kelak, kami tetap hanya tinggal dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya, karena keterbatasan..
Tak apa!

Semuanya, hanya Agar kelak ALLAH berkenan menguatkan anak-anak kami,

Agar kuat menggenggam panasnya bara api Istiqomah ber-agama.
Ditengah dunia yg semakin tua dan semakin gila.
Ya!

Sungguh,
Sebagai orang tua..

Pertolongan ALLAH saja yg bisa kita andalkan..

Hanya ALLAH saja..
Sungguh hanya ALLAH saja..

Yana Nurliana
(menulis adalah menasehati diri sendiri, saat melihat remaja di negeri ini, sudah mulai kehilangan jati diri)

sumber : dr Lela di grup FIM dejapu

MATIKANKU DI SAAT TEPAT

“Ya Allah, matikanlah aku di saat yang tepat”

Seringkali kita berdoa untuk kehidupan kita, entah minta dipanjangkan, minta agar penuh kesuksesan, minta agar bahagia, tapi pernahkah kita berdoa tentang kematian kita?

Jika kita diberikan kebebasan untuk memilih cara kita untuk mati, maka pertanyaannya, cara mana yang kita minta pada Allah SWT? Apakah mati dengan sakit? Apakah mati dengan musibah? Apakah mati dengan kelalaian mengendarai kendaraan? Apakah mati ketika kita sedang beribadah? Sesungguhnya, ini tidaklah penting, bagaimanapun caranya, semua rasa sakit yang dialaminya sama, yakni rasa sakaratul maut.

Jika kita diberikan kebebasan untuk memilih waktu untuk mati, pertanyaan inilah yang justru lebih penting kita pikirkan, “kapan?”.

Kita, adalah manusia biasa, bukan Nabi yang keimanannya terus menaik setiap hari, pun bukan malaikat yang keimanannya terus stabil, pun bukan syetan yang keimanannya terus menurun, kita hanyalah manusia biasa yang keimanannya naik turun kapanpun kita mau.

Bisa jadi, hari ini iman kita naik, kita rajin ibadah, solat sunat, ngaji, puasa. Eh, tiba-tiba, besok iman kita turun, jadi males, jadi suka maksiat, zina, tidak menutup aurat, dsb.

Yah, keimanan manusia itu, naik turun, bisa turun terus, lalu tiba-tiba naik, atau naik terus, tiba-tiba turun. Pertanyaannya, jika kita diberikan kebebasan untuk memilih waktu, kapankah kita akan memilih? Ketika iman kita turun, atau ketika iman naik?

Saya selalu berdoa, agar saya dimatikan di saat yang tepat. Yang ketika dosa menumpuk, lantas saya mati setelah bertaubat, bukan ketika rajin ibadah, lantas saya khilaf dan lalu dicabut nyawanya.

Ya, waktu yang tepat, yang ketika iman sedang naik, yang ketika iman dijaga naik, yang walaupun turun, bukan karena disengaja, tapi karena kekhilafan kita yang segera kita perbaiki pula.

Ya, mati di waktu yang tepat, yang saya sedang berusaha menjadi baik di hadapan Allah, bukan sedang berusaha asyik di depan manusia sampai meninggalkan perintah-Nya.

Makanya, beberapa sahabat nabi, justru senang menyambut kematian ketika imannya sedang naik, hingga mereka menyebut “Marhaban ya maut”, selamat datang kematian, sambil tersenyum, karena tahu, setelah mati, orang-orang beriman tinggal menantikan syurga dan bertemu dengan para Nabi dan Rasul.

Sedang orang-orang yang imannya kurang, mereka takut sekali jika membahas kematian, mereka berpaling sambil berkata “kalem aja kali, masih lama”, sesungguhnya mereka berpaling karena mereka takut, takut tidak punya cukup tabungan untuk keluarga, mereka takut bisnisnya hancur, mereka takut meninggalkan dunia, takut urusan duniawi mereka tidak sempat diselesaikan.

Hati-hati, takut akan kematian, adalah tanda bahwa kita terlalu mencintai dunia, dan memang tidak siap menghadapi akhirat, dan kita memang tidak mempersiapkan bekal apa-apa untuk kesana.

“Ya Allah, matikanlah aku di saat yang tepat”

Tulisan ini bukan ditujukan untuk menakut-nakuti, namun hanya mengingatkan, bahwa mengharapkan kita mati dalam kondisi keimanan seperti apa, itu bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap dan menjalani hari-hari kita.

 

MATIKANKU DI SAAT TEPAT
Bandung, 4 Maret 2017

🍃🌷Gigihnya Gangguan Syetan Kepada Orang Yang Shalat🌷🍃

💢💢💢💢💢💢

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا نُودِيَ بِالْأَذَانِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ الْأَذَانَ فَإِذَا قُضِيَ الْأَذَانُ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِيَ التَّثْوِيبُ أَقْبَلَ يَخْطُرُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ إِنْ يَدْرِي كَمْ صَلَّى فَإِذَا لَمْ يَدْرِ أَحَدُكُمْ كَمْ صَلَّى فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

“Apabila adzan dikumandangkan, maka syetan berpaling, dia memiliki kentut hingga dia tidak mendengar adzan tersebut.

Dan apabila adzan tersebut selesai, maka dia maju lagi menghadap. Apabila diiqamatkan shalat, maka dia berpaling lagi.

Dan apabila iqamah selesai dikumandangkan maka dia menghadang lagi, melintas di antara seseorang dan nafsunya.

Di berkata, 'Ingatlah demikian dan ingatlah demikian’ untuk sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya, hingga laki-laki tersebut senantiasa tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat. Maka apabila salah seorang dari kalian tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, hendaklah dia bersujud dua kali dan dia duduk (sekali) ’.”

📚 Shahih Muslim No. 884

🌴🌱🌷🌾🌵🌹🍃🍄

✍ Farid Nu'man Hasan
🔊 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC

Tergesa-gesa Itu Dari Syetan

Berkata Hatim Al ‘Asham:
Terburu buru itu dari Syetan kecuali dalam lima hal yang mana itu adalah sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

1. Terburu buru dalam pelayanan Tamu.
2. Mensegerahkan pengurusan mayit.
3. Segera Menikahkan Gadis/Perawan.
4. Segera Membayar Utang.
5. Segera bertaubat dari dosa.

Nikmatnya bermesraan dengan Alqur'an

Berikut ini adalah delapan hal yang insyaaAllah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an. Tips ini kami dapatkan dari ust. Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan. Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.

Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau…

“Ustadz, menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa khatam?”

“SEUMUR HIDUP”, jawab ust. Dede santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi, “Targetnya, Ustadz?”

“Targetnya HUSNUL KHOTIMAH, MATI DALAM KEADAAN PUNYA HAFALAN.”

“Mmm…kalo pencapaiannya, Ustadz?”, Ibu itu terus bertanya.

“Pencapaiannya adalah DEKAT DENGAN ALLAH”, kata ust. Deden tegas.

Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau : CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari SYETAN.

Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi satu jam.

Mau tahu lebih lanjut, yuk kita pelajari delapan prinsip dari beliau beserta sedikit penjelasan dari saya.

1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL
Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs -yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya- yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.

2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA
Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah WAKTU KHUSUS untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah. satu jam lho. Masak untuk urusan duniawi delapan jam betah, hehe. Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan?
So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara ‘PAS’.

3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.
Kondisi HATI yang tepat dalam menghafal adalah BERSYUKUR bukan BERSABAR. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan BUKAN SEBAGAI BEBAN. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.

4. SENANG DIRINDUKAN AYAT
Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.

5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP
Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafal-pun demikian. Jika “’amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “’amma” diulang-ulang. Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “’anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN
“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.😎

7. MENGUTAMAKAN DURASI
Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan satu jam kita pada Allah.. syukur-syukur bisa lebih dari satu jam. Satu jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari loh! Lima persen untuk Al-Quran, harus bisa dong ah…

8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID
Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

NB:
Setiap point dari 1 – 8 saling terkait.

Kami yakin ada yang tidak setuju dengan uraian di atas. Pro-kontra hal yang wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan. Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama-lama berkutat dalam mencari metode menghafal yang cocok dan pas. Dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yang marketable. Percayalah, satu metode itu untuk satu orang. Si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y. Yakini saja sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu PENELADANAN PADA SUNNAH NABI BUKAN PENERAPAN PADA SUATU METODE.

Satu lagi seringkali teman kita menakut-nakuti, “Jangan ngafal. Awas lho, kalo lupa dosa besar”. Hey, yang dosa itu MELUPAKAN, bukan LUPA. Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar?

Oke ya. Semoga kita masuk syurga dengan jalan menghafal Qur’an. Amiin.
Selamat menghafal.

[Catatan dari Kajian Indahnya hidup dengan Menghafal dan Mentadabburi Al Quran bersama Ustadz Bachtiar Nashir dan Ustadz Deden Mukhyaruddin di Masjid Al Falah; 7/6/’15] – bersama Ustadzuna Alfan Syulukh, S.Psi., Al Hafidz]

Sumber : alquranikrar.blogspot.com

PENGHAPUSAN TERBURUK

“Wahai malaikat, kenapa aku dimasukkan ke neraka? Bukankah pahala ku banyak?”

“Tapi, di buku catatan amalmu, amalmu sangatlah sedikit”

“Dulu semasa hidup, aku senang bersedekah, shalat ke masjid, mengaji, ikut kajian, berbagi ilmu dengan orang lain, aku sering melakukan ibadah. Apakah tidak tercatat wahai malaikat?”

“Apakah selama hidup, kamu sering menyebar-nyebarkan info tentang ibadah yang kamu lakukan agar orang lain mengetahuinya?”

Pernahkah kita merasa senang dan tenang karena kita ini sering beribadah? Entah itu rajin salat hingga salat sunatnya, tahajud dan subuh di masjid, mengaji lebih dari 1 juz perhari, menghapal quran, bersedekah, berbagi ilmu dengan orang lain? Tentu, pasti kita senang, karena kita bisa mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Namun, kadang, para ahli ibadah ini lupa, saking banyaknya ilmu yang dia dapat dan merasa lebih baik dari orang lain, akhirnya dia melakukan sesuatu yang disenangi oleh syetan, yakni riya atau sombong karena merasa ibadahnya lebih baik.

Di zaman super canggih dan keren ini, mungkin seringkali kita melihat teman-teman kita  yang akhlaknya baik dan rajin ibadah, dengan sengaja memosting atau memamerkan ibadah serta kebaikan yang telah dilakukan.

“Aduh ngantuk banget siang ini, maklum tadi pagi abis subuh berjamaah nasional di masjid komplek” *pake foto mata merem unyu-unyu

“Ternyata, baca 1 juz 1 hari itu, cukup melelahkan yah. Tapi untuk ibadah, tetep semangat!” *pake foto muka ditutup setengah pake qur’an

“Ibadah harus terus maju” *foto lagi tiduran di masjid

Atau kadang yang membuat saya suka habis pikir, terkadang agar tidak terkesan riya, maka postingan itu dibuat dengan nada yang lebih islami.

“Alhamdulillah ya Allah, hari ini, lagi-lagi saya bisa sharing ilmu saya di hadapan banyak orang. Berkat-Mu lah saya bisa berbagi inspirasi kepada banyak orang.” *pake foto yang lagi ngisi seminar

“Alhamdulillah, sungguh karena kuasa Allah, saya bisa ngasih sumbangan kepada anak yatim. Ya walaupun sedikit, tapi saya bisa ngasih juga. Makasih Ya Allah, karena kau bisa sedekah.” *foto dengan anak-anak yatim

Ya, ini sering terjadi di sekitar kita, mungkin kita juga pernah melakukan ini. Hati-hati, tatkala kita melakukan hal ini, bisa jadi kita terjerumus dalam perilaku riya

“Tapi, bukankah banyak yang juga suka posting seperti itu? Biasa aja kali? Lebay lu ah” banyak yang akhirnya membalas seperti ini ketika diingatkan. Lantas, pertanyaannya kita kembalikan, apakah karena postingan seperti ini banyak yang melakukan, apakah itu jadi diperbolehkan?

Pertanyaan terbesarnya? Memang kalau tidak diposting, kenapa? Bukankah terkadang kita ini posting karena kita ingin orang-orang tau? Dan bukankah kita senang, ketika kita mendapat likes, comment, ataupun follower baru karena postingan kita?  Yups, kita baru saja kena jebakan syetan.

Riya adalah jebakan terbaik dari syetan, guna menjatuhkan orang-orang yang rajin ibadah, karena setan sadar, orang yang rajin ibadah itu gak mungkin diajak males ibadah, tapi akhirnya syetan membuat hati manusia itu merubah niatnya, dari niat ibadah untuk Allah, menjadi niat untuk mendapatkan pujian karena ibadahnya. 

Kita ngelakuin kebaikan ini biar bisa dipost di sosmed, biar keliatan orang, biar dipuji, biar dilikes, biar dicomment, biar nambah follower, biar di reblog. Dan akhirnya, ketika sedikit bahkan tidak ada yang likes, comment, reblog, atau penambahan follower, kita hapus postingan itu dan akhirnya males ngelakuin ibadah tersebut lagi.

Jika kita ini posting agar Allah tahu apa yang kita lakukan, sesungguhnya tak perlu repot-repot posting, toh Allah kan ngecek amalan kita bukan dari postingan IG, FB atau Twitter. Allah SWT hanya perlu ngecek buku amalan kita, dari malaikat raqib atid yang setiap saat nemenin kita.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8)

Hati-hati, Ketika di dalam hati manusia ada perasaan ingin dipuji oleh orang-orang karena ibadahnya, maka kita sudah termasuk golongan orang riya. Sekalipun kita berkelit “ini untuk mengajak kebaikan”, “ini menyebarkan semangat”, kita tidak pernah bisa membohongi Allah SWT, karena Allah maha tahu isi hati manusia.,

Dan kerugian terbesar bagi ahli ibadah yang akhirnya riya, yakni Allah akan menghapus segala pahala yang telah mereka dapat dari perbuatan baik tersebut, tanpa tersisa sedikitpun untuk dibawa ke akhirat. Maka, riya adalah bentuk penghapusan pahala terburuk yang bisa dilakukan oleh seorang yang senang beribadah. 

Maka, jagalah diri kita dan teman-teman kita dari riya, ini sangatlah bahaya, karena telah menjadi lumrah yang berjamaah. Semoga kita menjadi orang yang senantiasa bersabar untuk tidak mengharapkan pujian dari manusia, termasuk penulis, karena sadar bahwa saya pun masih suka khilaf.

PENGHAPUSAN TERBURUK
Bandung, 6 Maret 2017

8 Hal Agar Menghafal Al- Qur’an Terasa Nikmat

Berikut ini adalah 8 hal yang insyAllah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an. Tips ini kami dapatkan dari Ust. Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan. Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.

Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau.

“Ustadz, menghafal di tempat antum tuh berapa lama untuk bisa hatam?”

“Sumur hidup” Jawab Ust. Deden dengan santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi “Targetnya ustadz?”

“Targetnya Husnul Khotimah, mati dalam keadaan punya hafalan” Jawab ust. Deden.

“Mmm.. kalo pencapaiannya ustadz?” Ibu itu terus bertanya.

“Pencapaiannya adalah dekat dengan Allah” Kata Ust. Deden.

Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau: “CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari SYETAN”

(Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk Qur’an. Kapanpun itu, yg penting durasi satu jam)

Mau tahu lebih lanjut? Yuk, kita pelajari 8 prinsip dari beliau beserta sedikit penjelasan dari saya.

1. Menghafal tidak harus hafal. Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yg berbeda2 pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs -yg mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya- yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yg sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.

2. Menghafal Al-Qur’an bukan untuk diburu-buru. Juga bukan untuk ditunda-tunda. Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampai jam 7 adalah waktu untuk menghafal misalnya. Maka, berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat-saat dimana kita bercengkrama dengan Allah. Satu jam lho! Untuk urusan duniawi aja 8 jam betah, hehe. Toh 1 huruf 10 pahala bukan? So, jangan buru-buru. Tapi, ingat! Juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara ‘pas’.

3. Menghafal bukan untuk khatam. Tapi, untuk setia bersama Al-Qur’an. Kondisi hati yang tepat dalam menghafal adalah bersyukur, bukan bersabar. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”. Iya kan? Sebenarnya nggak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan Bukan sebagai beban? Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.

4. Senang dirindukan ayat. Ayat-ayat yg sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, tuh ayat sebenarnya lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…”  hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa jadi tuh ayat adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal, senanglah jadi orang yg dirindukan ayat.

5. Memnghafal sesuap-sesuap. Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake sendok nasi (entong) bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafalpun demikian. Jika “amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “amma” diulang-ulang, jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “anin nabail adzim”. Kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

6. Fokus pada perbedaan. Abaikan persamaan. “Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

7. Mengutamakan durasi. Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada durasi. Bukan pada jumlah ayat yg akan dihafal. Ibarat argo taksi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan 1 jam kita pada Allah. Syukur-syukur bisa lebih dari 1 jam. 1 jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari. 5 persen untuk Qur’an!

8. Pastikan ayatnya bertajwid. Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yg ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak untuk Al-Qur’an. Dalam hal apapun yg berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.

NB: setiap point dari 1 – 8 saling terkait. Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi. Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal. Kami yakin ada yg tidak setuju dengan uraian di atas, pro-kontra hal yg wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan. Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama-lama berkutat dalam mencari-cari metode menghafal yang cocok dan pas, dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yg marketable. Percayalah, satu metode itu untuk satu orang, si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B. Karena si B cocok dengan metode Y. dan yakini sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu PENELADANAN PADA SUNNAH NABI BUKAN PENERAPAN PADA SUATU METODE. Satu lagi, seringkali teman kita menakut-nakuti.

“Jangan ngafal, awas lho, kalo lupa dosa besar”

Hey! Yang dosa itu MELUPAKAN, bukan LUPA.

Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar? Oke ya, semoga kita masuk syurga dengan jalan menghafal Qur’an. Aamiin. Selamat menghafal!

(Catatan dari Kajian Indahnya hidup dengan Menghafal dan Mentadabburi Al Quran bersama Ustadz Bachtiar Nashir dan Ustadz Deden Mukhyaruddin di Masjid Al Falah; 7/6/‘15) - bersama Ustadzuna Alfan Syulukh, S.Psi., Al H [disingkat oleh WhatsApp]

Jubah Kemuliaan untuk Abi dan Ummi

Napoleon Bonaparte pernah mengatakan “The Qur’an wich alone can lead men to happiness.” Hanyalah Al Qur’an satu-satunya kebenaran yang mampu memimpin manusia kepada kebahagiaan.

Kita sebagai umat muslim tentu tahu betapa Al Qur’an sangat hebat, sangat ajaib, dan sangat luar biasa. Al Qur’an sebagai pedoman hidup umat muslim yang Allah berikan melalui manusia pilihan-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebagai mukjizat, tentu Al Qur’an memiliki banyak keistimewaan.

Jika seorang Napoleon Bonaparte yang lahir tidak sebagai muslim saja sangat meyakini betapa Al Qur’an satu-satunya kebenaran, sudah semestinya kita sebagai umat muslim lebih mengagumi dan meyakini dengan kemuliaan Al Qur’an.

Rumah yang didalamnya dibacakan ayat-ayat Al Qur’an akan terang dengan cahaya Illahi. Bukan oleh cahaya lampu-lampu hiasan rumah, tapi oleh cahaya yang dipancarkan huruf demi huruf dari Al Qur’an yang dibaca. Menjadikan rumah terasa longgar, menjadikan dada terasa lapang, dan menjadikan jiwa terasa tentram.

Bahkan ada banyak penelitian kedokteran yang telah menyimpulkan bahwa ketika tubuh manusia yang 2/3 berisi air ketika dibacakan Al Qur’an betapa ajaibnya bahwa air itu akan menjadi kristal sehingga memberikan efek positif pada tubuh dan dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.

Abu Hurairah Rhadiyallahu Anhu berkata, “Rumah yang didalamnya dibacakan Al Qur’an akan dilimpahi kebaikan, dihadiri para malaikat dan akan dijauhi oleh syetan. Dan rumah yang tidak pernah dibacakan Al Qur’an akan terasa sempit, tidak ada kebaikan, didatangi oleh syetan dan dijauhi oleh malaikat.”

Betapa tidak, Al Qur’an memiliki keutamaan yang begitu dahsyat. Ia akan datang sebagai penolong kelak di hari akhir bagi orang yang selalu membacanya. “Bacalah Al Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti membawa syafa’at (penolong) bagi orang yang membacanya dan mentaatinya.” (HR Muslim).

Selain itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Pada hari kiamat nanti, Al Qur’an akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Qur’an akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: “Apakah kamu mengenalku?”

Penghafal tadi menjawab: “Saya tidak mengenal kamu. Siapa kamu?”

Al Qur’an berkata: “Saya adalah sahabatmu, Al Qur’an yang menbuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapatkan keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan.”

Maka penghafal Al Qur’an tadi diberi kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan di tangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa, mahkota yang sangat indah yang terbuat dari mahkota cahaya. Sedangkan kedua orang tuanaya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat dibayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: “Kenapa kami diberi dengan pakaian begini?” Kemudian dijawab, “Karena anakmu hafal Al Qur’an.”

Kemudian kepada penghafal Al Qur’an tadi diperintahkan, “Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat surge dan kamar-kamarnya.” Makaia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan.

Sungguh pemandangan yang sangat indah sekali ketika kita bisa mempersembahkan hafalan Al Qur’an kita dihadapan Allah kelak. Betapa sangat menyenangkan ketika kita bisa memberikan jubah kemuliaan untuk kedua orang tua kita.

“…Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya…” (QS. Asy-Syura : 52)

Seorang muslim seharusnya bersyukur ketika bisa dikenalkan dengan Al Qur’an. Pada prinsipnya Al Qur’an adalah kitab suci yang mudah dipelajari. Bahkan Allah berfirman pada QS Al-Qamar : 17 “Dan sungguh telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

Dalam ayat itu, Allah bersumpah bahwa Dia mudahkan Al Qur’an untuk dipelajari. Al Qur’an adalah tadzkirotan limayyahsya, peringatan agar manusia selalu ingat, takut kepada Allah, tahu bahwa dia makhluk yang lemah, agar senantiasa tunduk kepada Allah, dan senantiasa bertaqarrub, taqarrub Illallah.

Seorang muslim seharusnya meyakini bahwa Al Qur’an mudah untuk dipelajari. Tidak ada alas an untuk tidak mempelajari Al Qur’an. Sesibuk apapun kita, pasti Allah mudahkan kita untuk menghafalnya. Mungkin kita bisa melihat betapa anak-anak Palestina dengan kondisi yang darurat bahkan bisa mempelajari Al Qur’an, ada juga Presiden yang hafal Al Qur’an, Mohammed Mursi Issa Ayat yaitu Presiden Mesir ke-5, padahal kita tahu betapa sibuknya seorang presiden, tapi beliau masih tetap istiqomah dengan menjaga hafalannya. Ada juga sosok Perdana Menteri yang hafal Al Qur’an yaitu Ismail Haniya, beliau adalah perdana menteri di dunia yang menyandang predikat penghafal Al Qur’an. Sebenarnya ada begitu banyak sosok penghafal Al Qur’an yang sangat menginspirasi, dari berbagai profesi, ada seorang dokter yang hafal Al Qur’an, seorang guru yang hafal Al Qur’an, seorang tunanetra yang hafal Al Qur’an, bahkan di kampus saya ada seorang satpam yang hafal Al Qur’an, mereka sama seperti kita banyak yang memiliki kesibukan bahkan mungkin lebih sibuk dari kita, tapi betapa hebatnya keistiqomahan azzam mereka dalam berjuang menghafalkan Al Qur’an dan slalu menjaga hafalannya.

Subhanallah, betapa kerennya mengenal sosok hebat yang sangat menginspirasi. Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan mempersembahkan predikat cumlaude di akhirat nanti dan memberikan jubah kemuliaan untuk Abi dan Ummi kita? Bagaimana perjuanganmu? Sudah sejauh mana kita menjaga hafalan Al Qur’an? Jika belum hafal mari memulainya, karena belum terlambat. Dan jika sudah hafal, mari menjaga hafalan kita. Maukah kita menjadi salah satu keluarga Allah? Para ahli Al Qur’an adalah keluarga Allah. “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

© Maulaa Khalid, 22 November 2014

youtube

AL-BAQARAH 255 - 259 | USt. Hanan Attaki

Ayat ini (255-257), adalah ayat yang pertama kali mentor agama saya perintahkan untuk dihapal. Kenapa? Karena dari ayat 3 ayat ini, ada pesan yang sangat luar biasa bagi saya.

Ayat 255,  menunjukkan bagaimana baiknya Allah SWT dalam mengatur kehidupan manusia, 24 jam nonstop, memberi kita nikmat yang luar biasa.

Pada ayat 256, menjelaskan, bahwa manusia itu tidak dipaksa untuk beragama islam, menjadi seorang muslim, seorang yang percaya pada Allah, itu adalah pilihan, dengan konsekuensi pada pilihannya masing-masing

Pada ayat 257, menjelaskan, jika kita memilih beriman pada Allah, maka Allah akan mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya, seperti Umar Bin Khattab, seperti Khalid Bin Walid, seperti Abu Sofyan yang dulu membenci islam tapi akhirnya masuk islam. Namun jika kita tidak percaya Allah, maka syetan akan mengeluarkan kita dari cahaya menuju kegelapan, seperti Abu Jahal, Firaun, Raja Namrud, yang tidak mau beriman walau sedikit.

Saya share video ini, karena waktu mau ngapalin, akhirnya nemu ini di youtube, dan suara ustad Hanan nya menyentuh pisan. Semoga teman-teman juga bisa tersentuh, bukan karena suaranya, tapi karena isi dari ayatnya.

Ada seorang Atheis yg memasuki sebuah masjid, dia mengajukan 3 pertanyaan yg hanya boleh dijawab dengan akal. Artinya tidak boleh dijawab dengan dalil, karena dalil itu hanya dipercaya oleh pengikutnya, jika menggunakan dalil (naqli) maka justru diskusi ini tidak akan menghasilkan apa-apa…

Pertanyaan atheis itu adalah:

1. Siapa yg menciptakan Allah?? Bukankah semua yg ada di dunia ada karena ada penciptanya?? Bagaimana mungkin Allah ada jika tidak ada penciptanya??

2. Bagaimana caranya manusia bisa makan dan minum tanpa buang air?? Bukankah itu janji Allah di Syurga?? Jangan pakai dalil, tapi pakai akal….

3. Ini pertanyaan ketiga, kalau iblis itu terbuat dari Api, lalu bagaimana bisa Allah menyiksanya di dalam neraka?? Bukankah neraka juga dari api??
Tidak ada satupun jamaah yg bisa menjawab, kecuali seorang pemuda.

Pemuda itu menjawab satu per satu pertanyaan sang atheis :

1. Apakah engkau tahu, dari angka berapakah angka 1 itu berasal?? Sebagaimana angka 2 adalah 1+1 atau 4 adalah 2+2?? Atheis itu diam membisu..

“Jika kamu tahu bahwa 1 itu adalah bilangan tunggal. Dia bisa mencipta angka lain, tapi dia tidak tercipta dari angka apapun, lalu apa kesulitanmu memahami bahwa Allah itu Zat Maha Tunggal yg Maha mencipta tapi tidak bisa diciptakan??”

2. Saya ingin bertanya kepadamu, apakah kita ketika dalam perut ibu kita semua makan? Apakah kita juga minum? Kalau memang kita makan dan minum, lalu bagaimana kita buang air ketika dalam perut ibu kita dulu?? Jika anda dulu percaya bahwa kita dulu makan dan minum di perut ibu kita dan kita tidak buang air didalamnya, lalu apa kesulitanmu mempercayai bahwa di Syurga kita akan makan dan minum juga tanpa buang air??

3. Pemuda itu menampar sang atheis dengan keras. Sampai sang atheis marah dan kesakitan. Sambil memegang pipinya, sang atheis-pun marah-marah kepada pemuda itu, tapi pemuda itu menjawab : “Tanganku ini terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah..dan pipi anda juga terbuat dari kulit dari tanah juga..lalu jika keduanya dari kulit dan tanah, bagaimana anda bisa kesakitan ketika saya tampar?? Bukankah keduanya juga tercipta dari bahan yg sama, sebagaimana Syetan dan Api neraka??

Sang athies itu ketiga kalinya terdiam…

Sahabat, pemuda tadi memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak semua pertanyaan yg terkesan mencela/merendahkan agama kita harus kita hadapi dengan kekerasan. Dia menjawab pertanyaan sang atheis dengan cerdas dan bernas, sehingga sang atheis tidak mampu berkata-kata lagi atas pertanyaannya..

Itulah pemuda yg Islami, pemuda yg berbudi tinggi, berpengtahuan luas, berfikiran bebas…tapi tidak liberal… tetap terbingkai manis dalam indahnya Aqidah…

Ada yg berkata bahwa pemuda itu adalah Imam Abu Hanifah muda. Rahimahullahu Ta'ala…

anonymous asked:

Assalamu'alaikum..Kak saya merasa diri ini sudah tidak istiqomah dalam kebaikan. Terutama sejak masuk ke lingkungan baru dimana sekeliling saya senang sekali membicarakan orang yg menurut mereka aneh. Jadinya ghibah. Saya bingung, pernah saya membela dan mengingatkan mereka tapi jadinya di cie-ciein, akhirnya saya diam aja. Kadang saya jadi ikut-ikutan juga. Astaghfirullah.. Ini saya sekelas dengan mereka, jadi mau gak mau setiap hari ketemu mereka. Bagaimana kak sebaiknya saya harus bersikap?

Walaikumsalam anon

Iah, saya juga kadang sering bertemu dengan kelompok seperti ini. akhirnya saya mencari cara untuk menghindar dari obrolan ini.

HOW TO NYETOP GHIBAH

1. Canda

Kalau memang orang-orangnya bisa diajak bercanda, maka kadang saya bercandain pula, 

“Waduh, parah, gibah euy. Syaiton mendekat dengan kita semua. Istighfar guys”

Tentunya, karena pakai bercanda dan orang-orangnya senang bercanda, maka semua juga cuman haha-hihi doang.

2. Menolak langsung

Kadang ada orang yang nanya

“Gimana choq, pendapatmu tentang si A?”

Maka kadang saya menolak saja langsung

“Wah, sorry, no comment. Takut gibah.” Atau penolakan lainnya yang senada.

3. Mengajak berhenti

Kadang ada juga kondisi, dimana orang-orang ngobrolin hal yang sebenarnya hoax atau masih belum jelas kevalidannya, biasanya saya menghentikan dengan cara “wah, infonya juga belum fix sih. Mening gausah diobrolin, daripada jadi fitnah” atau ajakan lainnya yang senada

4. Dibelokkan

Kadang saya juga sering membelokkan obrolan. Misalnya, ada yang tiba-tiba opening, “Eh, si x itu kemaren bla-bla-bla, menurut lu gimana sih?”

biasanya saya belokin ke obrolan ringan lain kayak “Btw, siang ntar pada makan apaan? Katanya ada tempat makan enak yang baru yah?” atau bisa juga “eh, kok meja kakinya empat yah? pernah gak sih kita mikirin ini?”

5. Tinggalkan

Kalau ternyata orang-orang udah pake 4 cara ini masih gak ngefek, kadang saya meninggalkan obrolan tersebut. Gak harus selalu meninggalkan lokasi, tapi kadang saya melakukan aktivitas lainnya. Kadang masang headset, atau pun kegiatan lainnya yang saya gak ikut berkontribusi di obrolan berikut. Selama saya sudah mengingatkan.

 —

Sebenarnya, gak ada yang salah dalam membicarakan orang. Dengan catatan, bahwa kita fokus terhadap “pelajaran apa yang mau diambil” dan sebisa mungkin menghindari ada nama orang yang masuk, karena gibah itu terjadi karena ada nama seseorang dalam obrolan tersebut

ketika kita fokus pada pelajaran, maka kita akan menekankan pada kasus serta ilmu yang harus diambil, semisal

“Kemarin ada seseorang yang saya lihat, karena terlalu asik dengan urusan dunianya, dia gak solat, padahal solat itu wajib kan yah.”

“iyah, bener. Kadang, dunia bikin kegoda sih, kita harus lebih kuat, godaan syetan tuh”

 Beda ketika akhirnya obrolan itu malah menyebut nama orang, bisa jadi kita malah fokus pada keburukan orang

“kemarin gue liat si doni, keasyikan main game, ampe gak sholat dong, padahal solat itu wajib kan yah.”

“Wah? Asli? Iyah, emang si doni orangnya begitu, itu game bikin rusak hidupnya. Dulu juga pernah ya, waktu kita kegiatan dulu, bla bla bla bla bla bla bla” (kalau diketik, bisa sampai 2 hari obrolannya)

 Padahal, dua obrolan di atas, isi beritanya sama, tapi bagaimana dampak obrolan tersebut bisa berakhir dengan majelis ilmu atau majelis gibah. 

Maka, saran saya, bagi tukang ngobrol, sebisa mungkin hindari nama seseorang dalam obrolan kita, agar tidak terjerat dalam gibah dan obrolan yang tidak bermanfaat. Biasakan untuk mencari inti serta ilmu dari kisah atau cerita yang kita obrolkan bersama dengan orang lain.

Rasulullah SAW itu orangnya selalu husnudzon loh meskipun di depannya orang yang melakukan keburukan. Karena bilau tau, Suudzon adalah pintu masuk syetan, dan suudzon adalah pintu pembuka dari obrolan gibah.

Jadi, kita mau ngikut kayak Rasul, apa kayak syetan?

 —

Hatur nuhun anon,

Semoga bisa menghindar atau memperbaiki forum obrolan yang kurang berfaedah. hhehe

Keep istiqomah!

silhouettesunset  asked:

Assalammualaikum mas choqi, boleh tanya? Biasanya apa yang mas lakukan kalau merasa iman lagi turun dan kualitas ibadah juga lagi turun? Pastinya iman seseorang itukan naik turun ya karna roda kehidupan ini selalu berputar. Maturnuwun

Walaikumsalam @nurrulfajri


IMAN YANG DIAM, AKAN TERUS MENURUN

Perlu dipahami, bahwa ada beberapa macam iman.

Ada iman yang terus menaik, ini adalah iman para Nabi dan Rasul.

Ada iman yang terus stabil, ini adalah iman para malaikat.

Ada iman yang terus menurun, ini adalah iman para syetan.

Ada iman yang naik turun, yakni keimanan manusia biasa, dan juga jin.

Maka, tatkala kita mendiamkan iman, mengurangi ibadah, maka dengan sendirinya, sebetulnya kita sedang mengikuti perilaku syetan, maka wajar, iman akan terus menurun dengan sendiri.

CARA MENINGKATKAN IMAN

Sama, saya sendiri kadang naik turun, itu sudah fitrahnya. Kadang kala kita bisa menangis hanya karena mendengar alunan 1-2 ayat qur’an, tapi kadang kala kita bahkan tidak tersentuh tatkala mendengarkan alunan hingga puluhan ayat qur’an. Kadang kala kita ingin menghabiskan harta untuk sedekah, kadang kala kita menyimpan uang hanya untuk makan mewah. Iman kita pasti naik turun.

Kalau saya pribadi, biasanya iman turun dikarenakan kurangnya motivasi, sehingga membuat kualitas ibadah menurun. Salah satu hal yang bisa membuat kita termotivasi, adalah dengan mengetahui janji Allah jika kita melakukan sebuah ibadah (Al Wa’du), juga dengan mengetahui ancaman Allah jika kita melakukan sebuah larangannya (Al Wa’iid).

Salah satu cara yang saya lakukan biasanya adalah berkumpul dengan teman-teman satu grup mentoring. Ketika bertemu, kadang kala kita sering sharing tentang kejadian kita, kelemahan kita, tantangan kita, dan rekan-rekan kita akan saling mendukung, sehingga kembali bersemangat.

Selain itu, saya kadang hadir ke sebuah kajian, untuk bisa menambah ilmu, karena di usia saya sekarang ini, sebenarnya masih banyak hal yang tidak saya pahami. Kadang saya juga mendengarkan kajian ketika berkendaraan, atau membaca buku di kala senggang. Begitulah cara saya pribadi meningkatkan keimanan.

Semakin ilmu kita bertambah, maka semakin paham kita tentang agama kita. Dan semakin paham kita tentang agama kita, maka semakin bertambah pula keimanan kita. Maka kalau mau meningkatkan iman, perbanyak ilmu.

Dipastikan, tatkala ilmunya sedikit, maka sedikit pula keimanannya.

Terima kasih @nurrulfajri

Semoga bisa menjawab pertanyaannya, dan semoga bermanfaat juga bagi seluruh pembaca.

izin follow tumblr mu ya

Alhamdulillah, saya bisa ibadah hari ini
— 

Kalimat diatas, bisa menjadi penyebab Riya, tatkala kita posting di sosmed, sebarkan ke teman-teman kita, berharap semua orang tahu, hingga akhirnya kita senang ketika ada orang yang memuji kita karena ibadah kita.

Tapi, kalimat diatas juga bisa menjadi kalimat Syukur terbaik, tatkala kita posting secara private kepada Allah, tanpa ada yang tahu bahwa kita telah melakukan ibadah tersebut, tanpa ada yang tahu bahwa kita telah melakukan kebaikan, tanpa ada orang yang memuji kita akan ibadah kita.

Kalimat diatas adalah kalimat Syukur terbaik, tatkala kita ucap dalam bentuk doa setelah shalat, walau dalam bisik yang sangat pelan bahkan hingga orang di sebelah kita pun tak bisa mendengarnya.

Maka antara Riya dan Syukur , perbedaannya sangatlah tipis, bukan di ucapan atau kalimatnya, tapi di niatan hati kita masing-masing.

Ya Allah, jadikanlah hati kami yang selalu berniat kepada-Mu, sekalipun godaan syetan begitu indah dan juga nyaman.

anonymous asked:

Assalamu'alaykum kak, sy mau bertanya apakah kenyamanan itu bagian penting dari suatu hubungan? Ada ikhwan yg berniat serius. Tp sy belum menemukan kenyamanan selama kita bertaaruf. Sy sudah mencoba untk mencoba nyaman berulang kali, tp tetep ga bisa

PENTINGNYA NYAMAN DALAM HUBUNGAN

tentu, kenyamanan adalah hal yang sangat penting dalam berhubungan, terutama dalam menikah. Bagaimana mungkin kita menjalani sebuah ibadah yang berusia seumur hidup tapi kita menjalaninya dengan tidak nyaman. Bisa jadi, pernikahan itu bisa menjadi sebuah penyesalan.

Dan kenyamanan bukan masalah seberapa kaya pasangan, seberapa tampan pasangan, seberapa pandai pasangan dalam urusan rumah tangga, tapi nyaman adalah masalah seberapa kita memahami kekurangan masing-masing dan saling mengusahakan kenyamanan itu sendiri terhadap pasangan.

KENYAMANAN TIDAK DATANG PUN TIDAK INSTAN

Tapi juga perlu disadari, kenyamanan itu bukan hal yang ditunggu, kenyamanan dalam hubungan itu diusahakan. Seperti ketika kita duduk dalam mobil, jika kursinya terlalu tegak, kita miringkan, jika terlalu miring, kursinya kita tegakkan. Seperti menggunakan sepatu, jika terlalu ketat, maka talinya kita longgarkan, jika terlalu longgar, maka talinya kita kencangkan. Kita yang mengatur kenyamanan tersebut. Termasuk dalam berpasangan, ketika pasangan ada kekurangan, diskusikan, dan upayakan solusinya, wajar kalau pada akhirnya akan ada 1 orang yang berkorban lebih atau istilahnya mengalah. Tak jadi masalah, demi mendapatkan kenyamanan.

Kalau dalam taaruf belum ada kenyamanan, tenang saja, itu kan wajar. Karena kenyamanan juga tidak datang secara instan. Ada sahabat kita yang hari ini menjadi orang yang begitu nyaman untuk diajak cerita, nyaman untuk diajak bekerja sama, nyaman ketika bersama-sama, awalnya adalah orang yang sama-sama saling menjaga jarak, awalnya adalah orang yang sama-sama asing dan berkata dalam hatinya “orang ini tuh siapa sih?”. Dan saya juga mengalami hal itu. Yang dulu nyaman, kini bisa jadi tidak. Yang dulu tidak, kini bisa jadi nyaman.

Ada orang-orang yang dulu kita ragukan, menjadi orang yang sungguh kita yakini. Bisa jadi, orang itu kita dapatkan, atau kita lewatkan.

Kalau laki-laki yang datang padamu itu agamanya baik, akhlaknya baik, tapi entah kenapa kamu tanpa sebab tak ingin bersamanya, psst, ingat, kadang syetan hadir dalam bentuk keraguan, karena dia tidak ingin orang-orang baik bersatu, karena bisa menjadi malapetaka besar bagi mereka.

Semangat anon. Bersyukurlah sudah ada orang yang serius padamu. Dia sudah memikirkanmu, jauh sebelum kamu memikirkannya.

Jangan lupa, minta pada Allah SWT, Istikharah.

anonymous asked:

Bang choqi walaupun misalnya kita sdh memutuskan untuk tidak pacaran, tidak ada kontak lagi, namun masih saja teringat , dan di hati kita masih sulit untuk melepaskan , apa yang harus di lakukan bang ? saya butuh nasehat :) - terima kasih


Kenapa kamu tidak bisa lupa? simple, karena kamu masih jatuh cinta sama dia.

Orang yang jatuh cinta pada ibunya, tentu akan terus mengingat ibunya dimanapun dia berada.

Orang yang jatuh cinta pada sahabatnya, tentu akan terus mengingat sahabatnya dimanapun dia berada.

Bahkan, orang yang jatuh cinta dengan tokoh kartun sekalipun, akan terus mengingat tokoh kartun itu dimanapun dia berada.

Maka, jelas bahwa kamu masih menyimpan rasa pada dia. Kamu masih jatuh cinta padanya.

Namun berhati-hatilah, kau sedang mengingat sesuatu yang tidak halal bagimu, kau sedang mengingat sesuatu yang bisa menjadi kerugian bagimu, kau sedang mengingat sesuatu yang kau pikir itu baik namun tiba-tiba syetan belokkan pikiranmu hingga menjadi hal yang buruk.

Lalu bagaimana agar kita melupakan dia yang aku cintai?

Jatuh cintalah lagi. Jatuh cintalah lagi kepada sesuatu yang bisa membawamu ke arah lebih baik.

Dulu, selepas saya meninggalkan pacar saya, itu tidaklah mudah. Kenapa? Karena rasa cinta tidak hilang secepat perubahan status “pacaran” di facebook. Dan bahkan, beberapa kali selalu teringat kembali.

Dan yang saya lakukan, saya mencoba mencari kesibukan baru, saya mencoba mencari aktivitas baru. Dan sedikit demi sedikit, saya bisa mulai mencintai hal yang baru. TIdak mudah, tapi bertahap. Tidak cepat, tapi stabil. Hingga akhirnya, kini saya bisa mencintai hal yang lain.

Cobalah untuk jatuh cinta pada hal lain yang lebih baik bagimu.

Bisa keluargamu, hidupmu, atau mungkin tuhanmu, nampaknya itu adalah jatuh cinta yang lebih romantis dan lebih indah dari kisah cintamu sebelumnya.

Otak manusia itu bisa digunakan untuk mengingat ratusan bahasa, mengingat ribuan nama, mengingat jutaan momen, mengingat milyaran hal, tapi kenapa kita malah menggunakan otak kita hanya untuk mengingat dia? Bukankah itu kerugian besar?

Terima kasih anon, semoga bisa jatuh cinta pada hal yang lain ya.

Pasti bisa, asal mencoba.