syars

Menikah tanpa pacaran (taaruf saja), berarti mulai dari nol. Sedangkan menikah melalui pacaran, mulai dari minus 1.
— 

Kata Mas Jiwo.

Tentu saja, penjelasannya panjang, syarat dan ketentuan berlaku. Syaratnya, tanpa pacarannya benar, melalui mekanisme yang syar’i; tidak bermaksiat ketika sendiri; dan kelengkapannya. 

Pacaran, minus 1 pun kalau pacarannya ga ngapa - ngapain, ga gandengan tangan; ga zina hati; ga berkhalwat; dan kelengkapannya. Kalau semua itu dilakukan, ya palingan minusnya ditambah.

Mas Jiwo nih, kalo bikin statement bikin ngeri. Ga yakin ini statemennya sendiri, haha.

#ISTIDRAJ DALAM ISLAM

Bismillah…
Istidraj adalah suatu jebakan berupa kenikmatan kelapangan rezeki padahal penerimanya dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.

Jadi, ketika Alloh membiarkan kita :
✅ 1. Sengaja meninggalkan shalat.
✅ 2. Sengaja meninggalkan puasa.
✅ 3. Tidak ada perasaan berdosa ketika bermaksiat dan membuka aurat.
✅ 4. Berat untuk bershadaqah.
✅ 5. Merasa bangga dengan apa yang dimiliki.
✅ 6. Mengabaikan semua atau mungkin sebagian perintah Allah.
✅ 7. Menganggap enteng perintah- perintah Allah.
✅ 8. Merasa umurnya panjang dan menunda-nunda taubat.
✅ 9. Tidak mau menuntut ilmu syar'I.
✅ 10. Lupa akan kematian.

Tetapi Allah tetap memberikan kita :
1. Harta yang berlimpah.
2. Kesenangan terus menerus.
3. Dikagumi dan dipuja puji banyak orang.
4. Tidak pernah diberikan sakit.
5. Tidak pernah diberikan musibah.
6. Hidupnya aman-aman saja.

Hati-hati karena semuanya itu adalah ISTIDRAJ.
Ini merupakan bentuk kesengajaan dan pembiaran yang dilakukan Allah pada hambaNya yang sengaja berpaling dari perintah-perintah Allah, Allah menunda segala bentuk azabNya.

Allah membiarkan hamba tersebut semakin lalai dan semakin diperbudak dunia, Allah membuatnya lupa pada kematian.

Jangan dulu merasa aman, nyaman, tentram dengan hidup kita saat ini, seolah hidup kita penuh berkah dari Allah, lihat diri kita.

Bila semua kesenangan yang Alloh titipkan tapi justru membuat kita semakin jauh dari Alloh dan melupakan segala perintah-perintahNya bersiaplah utk menantikan konsekuensinya, karena janji Allah itu Maha Benar.

Wallahu a'lam bishowab…

Dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah swt,
“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)
(HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913).

anonymous asked:

Bismillah... Ka, mahu tanya. Bagaimana pandangan Kaka dengan akhwat bercadar tapi fotonya masih ada di Medsos?, hmm... semacam IG mungkin?

Saya pernah menjawab pertanyaan yang agak mirip  di sini

1. http://quraners.tumblr.com/post/141422544733/assalamualaykum-mas-quraners-minta-tausiyah-dong

2. http://quraners.tumblr.com/post/144092506473/assalamualaikum-minta-pendapat-aja-sih-kalo



Hendaknya setiap muslimah yang sedang belajar berhijab dan bercadar menata kembali niatnya setiap hendak melakukan sesuatu, apalagi terkait foto.

Apakah ia memiliki udzur syar’i untuk menguploadnya secara publik?
Apakah tidak ada cara lain untuknya selain dengan mengupload foto pribadinya jika ia beralasan menggunakannya untuk kepentingan syi’ar dan dakwah?
Tidakkah ia berhati-hati dan khawatir jika fotonya digunakan untuk hal yang tidak semestinya oleh orang lain? Oleh laki-laki yang pikiran dan hatinya berpenyakit misalnya?

Apalagi jika foto selfi atau yang sifatnya pribadi.

Sungguh kalau saya pribadi, mengagumi mereka yang bisa menyimpan rapat fotonya.  

Saya pun sudah berencana saat atau sesudah menikah, berusaha untuk tidak mengopload foto-foto nikah atau foto-foto mesra berdua pasca pernikahan, mungkin hanya foto yang sifatnya tanda atau semacam pengumuman atau simbol bahwa saya telah menikah.

Jika memang harus diupload atau untuk digunakan sebagai arsip, saya berusaha pastikan hanya keluarga dan yang berhak saja yang bisa melihatnya, insyaAllah. Sebab saya memandang bahwa perempuan itu seperti permata, semakin ia terjaga dan pandai menjaga, ia akan semakin mulia.

©Quraners

Jika kekuranganku di matamu seperti belum bisa memasak, masih sesekali bangun tidak pagi, dan juga belum syar'i adalah sesuatu yang tidak bisa kau terima, silakan mencari yang lain saja. Aku tidak apa-apa.

….Sebab segala sesuatu yang mengalami perubahan pasti butuh proses. Jika kau tidak bersedia menemaniku berproses, semoga kelak ada orang lain yang akan bersedia dengan lapang dada menemani satu demi satu proses hidup yang kulalui untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Menimba ilmu syar'i secara proper (duduk di majelis ilmu, menghafal, mencatat, muraja'ah, dsb) itu berat. Banyak orang berguguran satu demi satu. Jika Allah memudahkan kita untuk istiqomah diatasnya, maka janganlah sia-siakan perjuangan keras itu dengan hasad dan riya’. Eman-eman letih dan lelah kita belajar di dunia ini kalau ternyata di akhirat nanti malah tidak bermanfaat.
— 

Andy Octavian Latief

Dalam pembahasan taman-taman surga || STAI Ali Bin Abi Thalib || 18.53

anonymous asked:

assalamualaikum saya mau minta saran, saya berniat memakai jilbab syar'i seperti yg diperintahkan Allah kpd muslimah. tapi, niat saya terbentur di Mama saya, beliau kurang mengizinkan keputusan saya untuk mengenakan pakaian syari tsb. saya berusaha pelan-pelan menjelaskan kpd beliau dalil-dalilnya, Mama saya sebenernya tau akan hal tsb tp beliau bilang 'yg kamu pakai kan jilbab juga namanya, yauda gapapa itu' saya jelaskan bahwa yg saya pakai slama ini hanya penutup kulit saja. mohon sarannya:(

Walaikumsalam, semoga bisa membantu

SAYA MAU BERUBAH, TAPI ORANGTUA TAK MENGIZINKAN

Setiap hari, tentu kita bertambah ilmu yang baru. Dan ketika ilmu bertambah, maka bertambah pula keimanan kita. Dan ketika iman kita bertambah, maka akan terjadi perubahan dalam hidup kita. Entah itu mulai dari perubahan perilaku, perubahan berpakaian, perubahan bersosial, dan lain sebagainya.

Namun, terkadang, yang namanya perubahan itu tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk pihak luar. Kadang kala, ada yang setuju dengan perubahan kita, adapula yang tidak setuju dengan perubahan kita. Pertanyaannya, bagaimana jika orangtua kita yang tidak setuju dengan perubahan kita?

Dari yang saya pahami, sesungguhnya dalam melakukan ibadah atau kebaikan, kita tidak perlu meminta izin pada siapapun, bahkan pada orangtua kita sekalipun.

Pada dasarnya, ibadah itu adalah tanggung jawab pribadi. Kita solat atau tidak, berhijab atau tidak, sodaqoh atau tidak, itu semua akan ditanggung oleh diri sendiri. Bahkan, ketika kita tidak melakukan ibadah karena orang lain, maka kedua pihak menanggung dosa tersebut, karena di satu sisi yang satu menyarankan untuk tidak melakukan ibadah, dan yang satu tidak melaksanakan ibadah tersebut.

Karena di hari akhir kelak, setiap orang akan berlari dan sibuk dengan urusan masing-masing. Seorang ibu meninggalkan anaknya. Seorang suami akan meninggalkan istrinya. Seorang istri akan meninggalkan keluarganya. Seorang anak akan meninggalkan orangtuanya. Semua tidak ada yang peduli dengan orang lain, karena semua hanya peduli dengan amalan dirinya masing-masing.

Cerita sedikit, saat saya pertama kali belajar keutamaan shalat di masjid, saya mulai mencoba mengubah kebiasaan shalat di rumah saya. Tentu hal ini juga menjadi aneh, karena tidak seperti biasanya ketika adzan, anaknya pergi keluar, biasanya di rumah. Bahkan, pada awalnya orangtua bilang “Udahlah, shalat di rumah saja, kan sama saja”. Karena saya meyakini apa yang saya jalani ini benar, maka saya tetap berkomitmen menjalankan prinsip saya, sambil menjelaskan kepada orangtua, alasan ini diambil karena banyak keutamaannya. Dan sekarang, justru terbalik, jika adzan berkumandang dan saya masih di rumah, orangtua saya menyuruh saya dan adik saya untuk segera pergi ke masjid.

Saya hanya menjelaskan kenapa prinsip saya begitu, tapi saya tidak meminta izin harus ke masjid atau tidak, karena melakukan ibadah itu kewajiban masing-masing, tidak terikat oleh siapapun.

Maka saran saya untuk anon, jika berencana untuk menggunakan jilbab syar’i (karena memang perintah yang benarnya itu seperti ini), langsung saja mengenakan jilbab syar’i tersebut. Yang harus dibicarakan kepada orangtua bukanlah masalah izin, tapi berikan pernyataan pada orangtua, bahwa sejak saat ini, insyaallah saya mau berubah lebih baik lagi, dan keputusan ini sudah dipertimbangkan dengan matang. Semoga setelah melihat hal  tersebut, orangtua menjadi terinspirasi dengan perilaku anon.

Saya jadi ingat pepatah tua

Mau kemanapun arahnya, baik atau buruk, yang namanya perubahan itu tidak mudah.

semoga bisa membantu ya anon. Dan semoga orangtuanya juga segera bisa satu frekuensi dengan anon.

Kau tahu alasan kenapa kita harus menuntut ilmu agama?
— 

Agar kita bisa terhindar dari fitnah akhir zaman.
Agar kita bisa membedakan dengan sangat baik, mana yang sesuai sunnah Rasul, mana yang dibuat-buat.
Agar kita bisa tahu, hobi apa yang harus dijaga hanya untuk diri pribadi dan mana yang harus ditunjukkan di depan orang-orang.

Ilmu agama atau ilmu syar’i bisa menjaga kita dari perbuatan-perbuatan yang buruk namun diperlihatkan syeitan menjadi perbuatan yang baik. Dengan ilmu syar’i kita bisa memfilter setiap tingkah kita dan ucapan kita agar sesuai dengan sikap dan tutur kata Rasulullah.

Karena sekarang kita hidup diambang batas punah, jika hanya mengandalkan rasional tanpa mengikutsertakan ilmu syar’i kita bisa saja tersesat.

senjasorethings  asked:

Assalamualaikum kang. Saya mau tanya kiat menjadi anak yg berbakti kepada orang tua seperti apa? Dan gimana cara menahan emosi kalau kita ada masalah?

Wa'alaykumussalaam wr wb,

1. Pahami apa saja adab-adab terhadap orang tua
2. Pikirkan jasa-jasa dan kebaikan orang tua selama ini, betapa besar pengorbanan ayah ibu merawat dan membesarkan anak-anaknya
3. Pikirkan apa yang hendak kita lakukan dan berikan untuk orang tua selama masih ada

Sebelum marah, tanya dulu pada hati,

Ini marah karena Allah atau karena nafsu?
Marah karena alasan syar'i atau hanya karena hal sepele?
Apakah dengan melampiaskan amarah bisa menyelesaikan masalah atau ada cara lain?

©Quraners

“Syar'i sih tapi kok masih suka dandan dan jeprat jepret ya?”
“Udah aktif kajian tapi kok bajunya ga syar'i?” “Suaminya Udah shalih tapi kok istrinya masih gaul??”
“Istrinya shalihah kok suaminya amburadul??”

Mungkin saudari kita masih hobi selfie
Mungkin saudari kita masih hobi ngadu di facebook
Mungkin saudari kita masih berpakaian yang tidak syar'i dan warna warni
Mungkin menurut kita, saudari kita masih banyak cela dan kekurangannya
Atau bahkan mungkin, saudari kita masih banyak melakukan kemaksiatan

Tetapi…

Kita yang telah diberi kenikmatan berupa hidayah ini…
Tidak selayaknya menasehati dengan cara menyindir mereka didepan umum
Tidak pantas mengumumkan keburukan saudari kita di status facebook dan sosmed lainnya
Apalagi dengan bahasa yang keras lagi kasar
Dengan nyinyir dan penuh kata merendahkan

Saudariku…
Mungkin kita telah merasa bertabur iman, kebenaran dan kebaikan
Mungkin kita telah merasa ittiba’ Rasul
Mungkin saat ini kita diatas ketaqwaan
Atau bahkan kita telah merasa paling salafiy dan paling nyunnah

Akan tetapi…
Tak selayaknya kita menasehati dengan jalan menyakiti hati
Tak sepantasnya menasehati dengan cara membulliy dan buru-buru hujat sana dan tahdzir sini
Apalagi dengan jalan tercela : Membungkus Ghibah Dengan Dakwah

Karena…
Hidayah adalah milik ALLAH.

Maka…
Jangan kita sombong wahai saudaraku
Jangan kita angkuh…
Jangan kita maghrur…

Bisa jadi saudara kita yang bebal dengan nasihat menurut kita…
Diakhir hidupnya menjadi hamba yang dirahmati dan mulia disisiNya
Namun kita ???
Tidak ada yang menjamin bahwa akhir hidup kita dalam kebenaran yang saat ini kita berada diatasnya
Jangan sampai kesombongan dan keangkuhan kita menggelincirkan kita dari jalanNya.

Bicaralah dengan saudarimu secara sendirian tatkala engkau ingin menasehati
Bersikaplah penuh adab, penuh lembut, penuh kasih
Jauhi sikap terburu-buru apalagi menggurui dan bahasa menyakiti
Terus rangkul dia, doakan dia, jangan tinggalkan dia, jangan singkirkan dia

Semoga ALLAH Merohmati kita
Allaahu yubaariku fiikunna

Oleh #Dokter_Ferihana #DgSedikitEditan ^^

Investasi paling menguntungkan, paling pasti kembalinya, dan paling aman adalah sedekah.
— 

Jawaban saya setelah diskusi panjang di grup, tentang investasi apa yang paling aman bagi kita yang duitnya belum banyak. Di tengah ketidakpastian moneter.

Ya gimana? Investasi yang aman ya pada Yang Maha Menjaga. Investasi yang pasti kembali ya ke Yang Maha Menepati Janji. Investasi yang kembalinya tidak terkira jumlahnya ya kepada Yang Maha Kaya. Aman, syar'i, hati tenang, dan pasti kembali. :)

*yes, sebaiknya sedekah memang dilakukan ikhlas tanpa meminta pamrih. Tapi bagi kita yang belum sanggup seikhlas itu, saya rasa ga masalah, toh meminta kembalinya dari Allah kan; toh minta perlindungan dari bencana setelah bersedekah juga pada Allah. Barangkali setelah itu hati kita lebih dikuatkan untuk memberi hingga bahkan ga memikirkan apakah nantinya akan dibalas oleh Allah atau gak. Yang penting, biar Allah sayang. :)

Becandain Ukhti Kecil

“Dek, tau nggak?”

“Apa mas?”

“Ternyata bidadari itu gak selalu bersayap lho…”

“Wek, terus?”

“Tapi berjilbab lebar atau bercadar…”

“Uwuwuwu…”, *kesenengan

“Tau nggak kenapa mas membiasakan sampean untuk berjilbab lebar sejak kecil?”

“Biar syar'i kan mas, biar betul cara nutup auratnya?”

“Hmmm nggak juga sih…”

“Lha terus???”

“Biar klo lagi panas-panasnya matahari, mas bisa mumpet disitu kaya orang main barongsai~”

“Huuu…”, *nyubit pipi masnya


.:Nyemangatin ukhti yang masih belajar

©Quraners

Kamu Ikhlas?

Ada pria yang perbaiki diri, mulai shalat berjamaah di masjid, belajar ngaji, dan pantaskan diri untuk seorang akhwat yang dikagumi, akhwat yang jadi jalan hidayah baginya. Tapi sayang, diakhir cerita sang akhwat lebih dulu dilamar pria lain dan remuklah hatinya.

Juga, ada wanita yang tingkatkan kualitas diri, mulai belajar berhijab syar’i, belajar ngaji, dan pantaskan diri untuk seorang ikhwan yang telah mencuri hati, ikhwan yang jadi jalan hidayah baginya. Tapi sayang, diakhir cerita sang ikhwan memilih melamar wanita lain dan teriris-irislah hatinya.

Kawan, memantaskan diri itu baik, tapi jangan sampai tersalah niat. Apa yang tidak dilakukan untuk Allah akan jadi SIA-SIA, SEBAIK apapun AMAL itu.

Menjadi Ikhlas itu berat, tapi jika tak ikhlas pasti lebih berat dan sakit. Maka ikhlaskan hati dalam beramal, berhijrahlah karena Allah, bukan kerena cinta pada makhluk-Nya.

Semoga Allah bantu setiap hati untuk ikhlas, dalam senang atau susah, berat dan ringan, dan dalam sepi maupun ramai. Aamiin

Jakarta, 19 Dzul Hijjah 1436 H || Sen @SenyumSyukur

anonymous asked:

Assalamu alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh... bbrp waktu lalu di mesjid lingkungan saya melaksanakan shalat ghaib atas alm. H Hasyim Muzadi, saat itu saya tidak ikut melaksanakannya dgn alasan saya menganggap beliau telah melakukan hal2 pembatal keislaman. Bagaimana penjelasan menurut syar'i... demikian, wassalamu alaikum warrahmatullahi wabarrakatuhu..

Wa’alaikumussalām warahmatullāh wabārakatuh

Engkau benar. Jika terhadap munāfiqun Muslim dilarang menshalatkannya, terlebih terhadap murtaddun. Sama ketika dulu aku menolak ajakan shalat ghaib untuk si Dur.

Semoga ALLAH Ta’āla meneguhkan imānmu. Aamiin

Tak Kenal Maka Ta'aruf (3)

“Mas, terus, sama mbak-mbak yang kemarin-kemarin dak jadi, masih suka chat gitu ga?”
“Engga.”
“Udah? Engga aja gitu?”
“He'eh. Kamu mau aku kenalkan ke seseorang?”
“Weh…mas mau jodohin aku sama siapa?”
“Hahaha bukan, ini cewek. Namanya Mbak Feni. Beliau ini punya olshop baju dan hijab syar'i. Siapa tahu kamu bisa bantu.”
“Oo…ya boleh.”

Dan ternyata, mbak Feni ini adalah cewek terakhir yang taarufan sm si Mas. Tapi gagal. Singkat cerita, aku dan mbak Feni beberapa kali ngobrol via WA. Beberapa kali mbak Feni menanyakan si Mas ini. Kayak kayaknya mereka ini udah saling suka, tapi ternyata terhalang restu orang tua karena kakak pertama mbak Feni belum menikah. Duh, jiwa gosip banget yak. Nah ternyata mereka berdua ini masih suka kontak-kontakan. Bukan yang “dah makan lom beb?” Tapi karena beberapa kali Mas ini beli buku di Mbak Feni. Dan Mbak Feni sempet punya usaha jualan coklat dan ditawarkan ke Mas ini.

Setelah beberapa bulan hilang kontak dengan mbak Feni, aku berniat menghubungi kembali, mau cari buku. Nah, karena hpku rusak, jadi semua kontak hilang, aku nanya nomernya mbak Feni ke Mas ini. Tapi ternyata si Mas sudah gak punya nomernya, “Aku udah gak punya kontaknya Feni. Coba kamu DM aja di IG.”

Waw. Ada apakah iniwwwhh? Napa masnya memutuskan menghapus kontak mbak Feneeh??? Jeng jeng jeng jeeeeng…

Tapi aku ga tanya jadi aku ga tau kenapa.

Mungkin si Mas merasa sudah saatnya move on, dan punya kontak mbak Feni membuatnya “tidak sehat”, mencari-cari alasan untuk tetap berhubungan via chat, mencari-cari alasan ngobrol. Mungkin.

Tapi mbuh.

Apa rasanya sempat hampir menikah kemudian gagal, kemudian hilang kontak?
Aku sempat tanya sama Mbak Rere, kata Mbak Rere, “Beberapa kali memang sempat kepikiran, tapi saya doakan saja supaya beliau mendapat calon istri yang baik, dan saya yakin beliau juga mendoakan saya.”

Bagus juga keputusan Mas ini menghilang dari kehidupan Mbak Feni. Mas kayaknya sadar dengan munculnya ia walaupun sekedar tanya buku, bisa memupuk harapan di hati mbak Feni. Makanya Mas memutuskan untuk mundur saja.

Mungkin.

Yaa…lebih baiklah ya daripada ngasih-ngasih harapan tapi pancingan di sungai lain tetap jalan. Cih. Kayak siapa itu? Kayak kamu bukan? Wakaka