syaithon

Nasehat Liburan Ramadhan Santri
Ust. Cholid An Nadhif

Ternyata manusia itu cukup mampu menjerumuskan dirinya ke neraka, tanpa ada bantuan dari syaithon

Kalo di luar Ramadhan kita masih bisa menyalahkan syaiton ketika kita lalai dan tergelincir. Gak tilawah karna syaiton, gak murojaah karna syaiton, gak sholat karna syaiton dan lain sebagainya.

Namun, ketika bulan Ramadhan, ketika semua syaitan dibelenggu, kita masih malas sholat, malas tilawah, maka itu sebenarnya kita sendiri yang malas dan lalai.

Maka ketika kita ingin mengetahui diri kita sudah baik atau tidak, maka kita nilai dari bulan Ramadhan. Kalo ketika bulan Ramadhan diri kita tidak baik, maka jangan salahkan siapa-siapa kecuali diri kita sendiri, karena ternyata diri kita sendiri sudah cukup untuk menggelincirkan diri kita ke neraka.

Dan ini berlaku ketika kalian semua pulang (tidak di pondok), ketika di pondok semuanya masih terikat dengan peraturan, terikat dengan peringatan ustadz. Sehingga mungkin, kebaikan2 yang dilakukan karna aturan. Karna takut di hukum, karena tidak mau, namun ketika di rumah nanti antum bisa ukur diri kalian. Kalau ternyata, antum masih rajin ke mesjid, masih rajin tilawahnya, maka berarti tarbiyah dan tazkiah antum pada diri sendiri berhasil. Namun, jika hasilnya di rumah ternyata malas-malasan, tidak ke masjid, berarti ternyata semua kebaikan antum selama ini di dasarkan oleh peraturan bukan karena ALLAH SWT. Karena kalo karna Allah, dimanapun tempat nya, kapan pun waktunya, sama. Terus menerus taat pada Allah. Jika di luar pondok kita bisa sama atau lebih baik, maka berarti tarbiyah diri kita terhadap diri sendiri berhasil.

Mohon di perhatikan dirinya masing masing, karena​ kita ketika di hisab nanti sendiri2. Tidak bawa bawa pondok, orang tua, ustadz, tidak membawa siapapun. Yang akan di tanya, yang akan bertanggung jawab, yang akan masuk syurga atau neraka itu diri kita masing-masing.

@ammartsqb
17 Juni 2017

Takjil #1 : Sebuah Awalan

Akhirnya, kita tiba pada masa dimana sekeliling begitu tampak adem, menenangkan dan syahdu. Ya, bukan perkara rindanganya lingkungan kita, melainkan lebih pada kondisi yang sangat mendukung dalam beribadah. Kita tiba di bulan yang begitu menyenangkan, bulan ramadhan.

Perlu disyukuri bahwasanya Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk sampai dan menikmati bulan suci ini. Bulan dimana, seperti yang sejak kecil kita diajarkan, bahwa para syaithon dibelenggu. Ini tidak sebatas bermakna bahwa para syetan tidak bekerja. Tapi lebih pada aura melakukan hal-hal yang dilarang itu drastis menurun. Kita dipompa untuk senantiasa melakukan hal-hal baik, pun bermanfaat bagi sekitar.

Bulan ramadhan mengajarkan tentang arti bagaimana kita pandai bersikap. Di saat kita beribadah, kita tidak melalaikan hak-hak dalam interaksi kepada sesama manusia. Gampangnya gini, dengan berpuasa tidak serta-merta kita tidak mengakses makanan. Justru di bulan ini, akses berinteraksi dengan sesama lebih terbuka. Hidangan buka puasa menjadi ladang rejeki bagi sebagian orang. Bahkan, bisa menjadi ladang pahala dengan menggratiskannya.

Maka, mumpung masih di awal, di hari perdana, patut rasanya untuk kemudian meluruskan niatan kita. Tentang bagaimana menjalani aktivitas di bulan suci. Karena melalui niat yang baik, aktivitas-aktivitas kita bisa bermuara pada ibadah.

Selain meluruskan niat, menaikkan standarisasi ibadah kita juga penting. Jika dalam bulan-bulan biasa kita shalat lima waktu, maka di bulan ini shalat lima waktu berjamaah di masjid atau musholla. Tilawah Al Quran, ibadah shalat dhuha, memperbanyak dzikir dan shalawat hingga bersedekah menjadi ibadah yang bisa menaikkan standarisasi ibadah kita. Tentu selepasnya, berharap dapat istiqomah adalah benar adanya.

Semoga, bulan ramadhan kali ini menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya. Dan tentunya, gelar taqwa menjadi yang kita idamkan bersama. Aammiin.

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”

Godaan

“Godaan syaithon yaAllah gini gini amaat”

Sering banget deh kalo lagi futur kata-kata itu keluar dari mulut, ya sekedar bumbu curhat minta dikasih semangat dari lawan bicara. Iya, asik banget nyalahin syaithon. Lol.

But

Those arent words that should be spoken when Ramadan come. Syaithon2nya kan diikat, literally diikat. Terus, itu kalo futurnya gitu amat, syaithon cabang belahan planet mana yang ngegodain ?
Sifat syaithon yg udah terinstall successfully di diri ? Huaaaa naudzubillahimindzalik :(((

Note bgt, ketika para penggoda itu diikat, ya lawannya siapa ? Ya tinggal diri kita sendiri. Diri sendiri. Nafsu sendiri. :(((((

Uninstall those bad habits.
Install good habits.
Hap hap.

SayangiRamadhanmu~
#sayangRamadhannyaKaloFutur
#aduhbuatakhwatayawaeeeehuhu
#ehgabolehngeluh
#ehsemangat
#ehatuhlahsemangateuy
#ohiyaokesemangat #semangatinlah #semangkA
#bismillah

>>* HARGA SEORANG MENANTU *<<

Beberapa waktu lalu saya dan suami mampir ke rumah seorang kawan saya yg baru menikah beberapa bulan.. pas disana juga ada ibu mertua kawan saya ini..
si suami kawan saya ini berkata, “alhamdulillaah saya memiliki seorang istri yg baik, yg membantu saya dalam segala hal..”


tetapi kemudian ibunya yg juga ibu mertua kawan saya menyahut,“ya iyalah buat apa punya istri kalo kamu masih cuci baju sendiri, ngepel, nyapu? itu kan guna kamu punya istri.”


kami semua lantas terdiam dan hanya tersenyum menanggapi ucapan sang ibu.. tampak jelas dari wajah kawan saya terlihat sedih dan wajah suaminya terlihat tidak enak pada kami..

~~~~~~~~~~

Saya waktu itu berkunjung ke rumah salah seorang teman baik saya.. sudah cukup lama dia menikah dan belum diberi momongan.. kedatangan saya kesana ingin menghiburnya agar dia tidak terus dalam kesedihannya..


namun baru saja saya sampai dan duduk di ruang tamu bersama teman saya, sang ibu mertua muncul seraya berkata, “dia ini lho mba sudah saya ijinkan menikah dg anak saya, anak saya itu ganteng, pinter, banyak yg suka sama anak saya, kaya² lagi.. tapi saya ijinkan nikah sama dia ini mba.. lha kok sampai sekarang saya juga belum dikasih cucu..”


saya saja yg bukan menantunya ikut nelongso hati ini.. saya menoleh ke arah teman saya.. kesedihan nampak di raut wajahnya.. dan saya tahu dia tengah menahan air mata sekuat tenaga agar tak mengalir di pipinya..

“Insyaa Allaah ibu nanti akan punya cucu.. hanya saja kan Allaah yg lebih tahu bu.. tiap orang kan ndak sama ya bu Allaah ngasihnya..” kata saya berusaha selembut mungkin..

“Tapi saya dulu cepet kok, nikah langsug hamil. Ndak pakai nunggu lama.” jawab ibu mertua teman saya..

“iya bu yg sabar.. insyaa Allaah teman saya ini akan memberikan cucu buat ibu.. kan teman saya ini orangnya juga baik bu..”

tanpa menjawab si ibu mertua langsung masuk ke ruang tengah dengan wajah jengkel..

~~~~~~~~~~

Harga Seorang Menantu..


dia rela meninggalkan kedua orangtuanya untuk berbakti sepenuhnya pada suaminya..
tak sama pula dengan pembantu..
karena dia melaksanakan tiap pekerjaannya dengan penuh ketulusan tanpa imbalan gaji..
rela bersakit sakit hamil dan melahirkan demi menyenangkan suami dan mertuanya..

Kelak bila Allaah ijinkan kita menjadi seorang mertua.. smg Allaah menjadikan kita mertua yg bijak..

Syukuri menantu kita, karena dia mau menemani anak kita dikala susah dan senang..
bahagiakan menantu kita karena dia rela menjaga dan merawat anak kita ketika sakit..
dukung menantu kita.. rumah tangga anak kita.. agar mereka tidak terlalu berduka ketika buah hati belum hadir menghiasi hari² mereka..
Dan jaga menantu serta anak kita.. agar tiang rumahtangga mereka senantiasa kokoh dan tidak mudah patah karena terjangan badai ujian..

Jangan biarkan syaithon merasuki jiwa jiwa kita sehingga kita sendirilah yg justru menjadi api perpecahan dalam rumah tangga anak² kita..

Baarakallaahufiikum

Catatan :
Baik tidaknya menantu bukan diukur dari dia kaya atau miskin.. sarjana atau bukan.. sudah memberikan cucu atau belum..
namun dari kerelaan hatinya berbakti pada suami dan mertua.. serta tulus merawat mertua di usia senjanya… ^^

Penulis : Ummu Irhabiy**