surga mama

“Anak-anak kita tidak butuh ibu yang mengikuti trend kekinian, anak-anak lebih membutuhkan seorang ibu yang bahagia. Dan mentransfer energi kebahagiaan itu untuk anak-anaknya dalam bentuk interaksi dan kasih sayang yang tulus.

Anak-anak lebih membutuhkan seorang ibu yang mampu membuat mereka nyaman ketika pulang. Jadilah seorang ibu yang selalu dirindukan.. seorang ibu yang menjadi surga bagi mereka.”

- Mama

Seketika Teringat Mama

Tulisan ini dibuat saat sedang bersama dengan mama di kamar. Melihat mama tertidur, ah, pemandangan yang sudah lama sekali tidak aku lihat. Iya. Meskipun aku bukan mahasiswi rantau, tapi aku sering sekali pulang ke rumah ketika mama sudah tidur. Ah, sudahlah. Sudah berapa cerita mama yang aku lewatkan tentang hidupnya; setiap hari selasa pergi yoga, setiap siang memasak resep baru dan setiap sore menelfon teman-temannya sebagai pengalihan rindu berbincang dengan anaknya. 

Seketika teringat mama,

Hubunganku dengan mama tidak begitu akrab. Maksudku, aku bukan tipikal yang bertemu mamaku langsung cium. Mamaku juga bukan tipikal mau membalas pesanku dengan “I love you too.”. Mamaku dan aku, dua tipe yang sangat berbeda. Aku suka pink, mamaku suka orange. Aku suka makan, mamaku suka masak. Aku tidak peduli seberapa aku lulus dari kampus, mamaku dulu adalah graduate-girl dengan waktu lulus 3 tahun saja. Aku suka keluyuran, mama suka diem di rumah. Mamaku suka dengan si A, aku cinta mati sama si Z. Aku senang jika dibelikan handphone terbaru, mamaku lebih suka memakai handphone yang bisanya cuma telfon dan sms. 

Tapi, hubunganku dengan mama mulai membaik semenjak aku mengirimkan surat cintaku pada mama di hari ibu pada tahun 2012. Tahun dimana aku mulai ingin menentukan jalan hidupku sendiri. Ya, mulai menentukan jurusan dimana aku akan kuliah nanti. Mama pernah bilang saat aku kelas 1 SMA, aku harus masuk kelas IPA dan harus kerja di perminyakan. Sementara aku sejak SD suka sekali dengan bahasa asing dan membaca buku-buku. Lalu kuputuskan untuk mengambil jurusan Sastra yang notabenenya akan menimbulkan pertanyaan; “mau jadi apa nanti?” … Aku, mama dan papa berdebat hebat tentang pilihan jurusanku. Aku bukan tipikal orang yang berani menentang orangtua lewat omongan, takutnya aku malah membentak. Jadi aku buat saja sepucuk surat cinta untuk mamaku (pada akhirnya aku tau bahwa papaku juga membacanya). 

mama yang kusayangi, 

tiada doa luput kupanjatkan untuk mama, semoga mama panjang umur dan bisa menemaniku hingga akhir hayatku. 

Mama, nggak ada sama sekali keinginan aku untuk membantah mama apalagi jadi anak durhaka. Selama ini nggak berani aku tinggalkan perintah mama shalat, perintah mama mengaji, perintah mama membantu mencuci piring dsb. Semua itu aku lakukan ridho lillahi ta’ala demi mama. Dari SD sampai SMA, aku nggak pernah menentang pilihan mama menyekolahkanku. Bahkan, mana berani aku menolak pilihan tas sekolah yang mama belikan untukku. Mama belikan aku tas ransel bergambar barbie pun, aku pakai terus ke sekolah. Selama ini pula, aku nggak pernah memaksa mama untuk menaikkan uang saku sekolahku meski aku harus ngirit-ngirit dan memilah-milih mana untuk bensin motor, mana untuk makan siang dan mana untuk sedekah. 

Tapi mama, bolehkah aku sekali saja memilih jalan hidupku sendiri?

Aku ingin melanjutkan kuliah di jurusan dan universitas yang aku mau. Bukan, itu bukan ikut-ikutan. Ini murni dari keinginan aku sendiri. Mama, aku ingin berguna dengan jalanku sendiri. Aku mau berkembang dengan pilihanku sendiri. Salah satu caranya adalah dengan memilih jurusan itu sendiri, sesuai dengan minatku, sesuai dengan keinginanku. Jurusan ini sudah kupertimbangkan resikonya apa, jurusan ini sudah kucari-cari apa bagusnya, dan semua sesuai dengan kesiapanku menanggungnya. 

Mama, izinkan aku untuk berkuliah dengan kesenanganku sendiri. Izinkan aku untuk bisa berkuliah layaknya mama, layaknya papa. Izinkan aku untuk belajar mempertanggung jawabkan pilihanku. Izinkan aku untuk membuktikan pada mama bahwa aku juga bisa meraih apa yang aku mimpikan. Izinkan aku untuk menentukan masa depanku sendiri. Izinkan aku untuk mengerti bagaimana sulitnya mewujudkan keinginan. Aku juga ingin menjadi anak yang mandiri, bukan hanya bertopang pada kesuksesan orangtuaku semata. 

Aku harap, mama bisa mengerti perasaanku dan aku yakin mama akan mengerti. Kalaupun sekarang mama belum memberikanku restu untuk pilih jurusan itu, boleh tidak aku minta mama untuk mendoakanku agar seluruh pembelajaranku di sekolah dapat menghasilkan hasil baik agar bisa membanggakan mama nanti? Aku rela berjuang, berkeringat dan berdarah. Demi kedua orangtuaku. 

Dari teteh yang selalu sayang mama. Tunggu teteh ,teteh pasti bisa membanggakan mama dan papa suatu hari nanti. 

*ps: untuk teman-teman yg keinginannya ditentang, bisa coba gunakan surat cinta seperti punyaku loh. hehe. 

Berhari-hari kuingat mama dan papa mendiamkan aku. Aku paham, aku terima. Aku juga tetap berangkat sekolah seperti biasa. Sampai pada suatu hari, mama dan papa mengajakku mengobrol dan berdiskusi. 

Aku ingat mama sampai menangis mengatakan ini; 

mama hanya tidak percaya, anak kecil mama sekarang sudah tau mau jadi apa nantinya. mama hanya bisa membantumu dengan doa..” 

Aku juga nangis sih, drama banget emang aku anaknya. Lalu pada intinya, mama dan papa kasih aku alternatif bimbingan belajar dan sebagainya. 


Sekarang, jika kuingat sudah 21 tahun umurku. 21 tahun itupula mama dan papaku membanting tulang demi mencukupi kebutuhanku dan adik laki-lakiku (alhamdulillah adik laki-lakiku sekolah di sekolah islam internasional lewat seleksi ketat. kebetulan sekolah ini bukan sekolah biasa, karena lulusannya universitas terbaik di Indonesia). 

Sudah tua rupanya aku. Maka sudah lebih menua pula mamaku. Sudah letih pula mama menanggung semua beban hidup ini. Aku selalu menangis setiap aku punya rezeki hasilku bekerja sampingan tapi mama ketika ditanya “mau apa?” menjawab “udah. simpen aja uang teteh. beli apa yg teteh mau aja. mama mah ga butuh apa-apa dari teteh.” …. Itu rupanya bukti nyata kasih ibu sepanjang zaman …. 

Seketika teringat mama, 

Mama pernah bilang, tugas anak itu bukan cari uang. Tugas anak itu hanya belajar, supaya memiliki masa depan yang lebih baik dari orangtuanya. Kalau orangtuanya lulusan S1, anaknya harus lulusan S2. Kalau orangtuanya punya toko, anaknya harus punya mall. Begitu kata mamaku. Seorang anak yang bekerja dengan halal, mencari ilmu tanpa lelah dan dengan cara yang benar, itulah bekal membawa orangtuanya ke surga kelak.  

Mama pernah bilang, hidup anak zaman sekarang udah enak. Enggak usah harus jalan kaki puluhan kilometer ke sekolah, enggak usah ngirit-ngirit buku tulis karena dulu buku tulis mahal harganya, enggak usah takut ga tau ilmu karena ada internet. Justru anak zaman sekarang, seharusnya lebih sukses dari anak-anak zaman dahulu yang serba terbatas. Anak-anak zaman sekarang harusnya lebih mampu meraih mimpinya karena semua sudah dipermudah. Keterbatasan bukan alasan. 

Mamaku selalu bilang, kamu sebagai perempuan harus menuntut ilmu setinggi mungkin. Sampai S3 kalau perlu. Masalah biaya, biar mama yang urus. Mama bilang, mencari ilmu bukan perkara gelar, tapi perkara bermanfaat dan beradab. Seseorang yang tidak memiliki ilmu, tidak akan tau peradaban. Begitu kata beliau. Mama juga selalu tekankan, cari sekolah yang bagus, yang fasilitasnya menunjang. Tapi sebagai seorang anak, mana tega memaksa orangtua membayar kuliah mahal-mahal? Aku sih nggak tega. Sebisa mungkin, aku cari universitas yang paling bagus, berhasil lolos di sana adalah salah satu caraku membanggakan kedua orangtuaku. Bersaing dengan puluhan ribu orang, berhasil menjadi salah satu yang diterima adalah caraku membuat orangtuaku bangga. (tapi masih banyak cara lain,kok^^).

Seketika aku teringat mama, 

Mama adalah alasan mengapa aku sampai sekarang masih betah menjadi orang yang sibuk ikutan kepanitiaan ini itu, ikut organisasi di dalam dan luar kampus, karena mama bilang manusia yang paling mulia adalah manusia yang bermanfaat bagi oranglain. Mama bilang manusia yang paling bermanfaat adalah orang yang selalu mencari ilmu untuk diajarkan lagi pada oranglain. Mama bilang manusia yang paling beruntung adalah manusia yang menggunakan waktunya untuk mencari pengalaman hidup, karena pengalaman hidup itulah yang akan menjadi bekal bagi seseorang untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar. 

Mama nggak pernah minta cucu, mama juga nggak pernah minta pulsa. 

Mamaku cuma minta, seberapapun susah hidupmu, seberapapun sibuk aktivitasmu, jangan lupa shalat. Mama cuma minta, seberapapun suksesnya aku nanti, jangan pernah lupa doakan mama dalam shalat. Mama cuma minta, seberapa jauh aku sekolah nanti, jangan jadikan mama orang terakhir yg kamu kabari. Mamaku cuma minta, seberapa tinggi jabatan kerjamu, jangan sampai lupa caranya memasak telur dadar. 

Mama, dalam hatiku sungguh menjerit. Meminta Tuhan panjangkan umurmu, ma. Meminta Tuhan sehatkan selalu dirimu, semua organ di tubuhmu. Meminta Tuhan sabarkan hatimu akan kesalahan-kesalahan anak-anakmu. Meminta Tuhan tetap mengizinkan kau menemaniku sampai nanti, sampai ajal menjemput salah satu dari kita. Meminta Tuhan menyegerakan aku untuk sukses demi Mama. Meminta Tuhan menyempatkan hadir untuk melihat betapa aku menyayangi Mama. Meminta Tuhan menyayangi mama seperti mama menyayangiku. Meminta Tuhan menyediakan surga terindah untuk mama kelak, karena mamaku adalah malaikatku. Meminta mama untuk tetap bersama papa selamanya, karena kalian adalah sepasang sayapku dan alasanku untuk tetap berjuang. 

Mama, jika suatu hari nanti aku dipanggil Tuhan terlebih dahulu.. 

Aku ingin mama tau bahwa aku mencintai Mama lebih dari siapapun yang ada di sekitarku.

Aku ingin mama tau bahwa aku memperjuangkan kebahagiaan Mama lebih dari kebahagiaanku.

Aku ingin mama tau bahwa aku mengingat Mama lebih sering dari mengingat cinta pertamaku. 

Aku ingin mama tau bahwa doaku untuk Mama selalu kuletakkan dalam sujud terakhir dalam shalatku.


Mama, Aku mencintai Mama lebih dari apapun di dunia ini. Maaf aku masih sering mengecewakan mama daripada membanggakan mama. 

Aku mencintaimu,

Anakmu.