surat ar rum

Nasehat Pernikahan

Nasehat pernikahan:
- Rosidi Rizkiandi bin Hasri Rosyad (Odi, sastra sejarah 2008, kaffers)
- Indri Khairiti Pratiwi binti Mansyur Ismail


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
(Ar Rum: 21)

1. ‘Sakinah’ bukan cuma ‘tenang’. Ia berasal dari kata ‘sakan’ yang artinya 'diam/tetap/stabil’. Maka ia menjadikan tenang karena stabil, bukan tenang yang melalaikan

Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komprehensif.

Sakinah adalah perasaan tenang yang lahir dari kemantapan hati.
Dan kemantapan hati itu bermula dari kecenderungan.
Kecenderungan itu tumbuh dari apa yg dilihat dan didengar.
Itulah salah satu yg membuat sakinah tumbuh di tahap awalnya (sebelum hingga menikah).

2. Namun sakinah juga tumbuh dari apa yang diraba dan dirasa, dan itulah yang menumbuhkan sakinah ditahap kelanjutannya.

Dan apa yang dirasa itu bisa sangat emosional atau sangat ideologis.
Keduanya tak apa. Karena itulah yang akan menjadi asbab tumbuhnya sakinah di tahap selanjutnya.

3. Tapi yg menjadi kunci dari sakinah itu adalah iman.
Iman menyebabkan hanya ada Allah dan rasul di hatinya. Sehingga hanya ada kebaikan di hatinya. Itulah kunci dari dianugerahkannya sakinah oleh Allah SWT kepada hambaNya.
Mari lihat QS: Al Fath 18

……ِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ ….

….. maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka…..

4. Berikutnya, mari kita perhatikan surat ar rum: 21.
Ketika Allah katakan:
“Wamin aayaatihi 'an kholaqolakum min anfusiku azawajaa. Litaskunuu ilaiha, waja'ala bainakum mawaddah wa rohmah….”

Sakinah mendahului mawaddah dan rohmah. Sakinah menjadi asbab tumbuhnya mawaddah dan rohmah.
Sakinah membentuk mawaddah dan rohmah.

Sakinah itu tentram, nyaman, tenang.
Tenang matanya…
Tenang telinganya…
Tenang hatinya….
Tenang syahwatnya…

Maka tumbuhlah mawaddah (rasa cinta) dan rohmah (kasih sayang) oleh sebabnya. Mawaddah adalah cinta dengan sebab yg sangat inderawi, rohmah adalah kasih sayang dengan sebab sangat emosional.

Jadi mencintalah dengan 2 hal:
1. Dengan emosi
2. Dengan ideologi

Mencinta dengan emosi (cantik/tampan, cerdas, enak diajak bicara, nyaman bersamanya, dll), membuat sakinah/tenang indera dan syahwat kita.

Mencinta dengan ideologi membuat sakinah/tenang agama, dunia dan akhirat kita.

5. Menikah adalah ladang peribadatan untuk menjadi manusia yang lebih baik, di hadapan manusia, terlebih lagi di hadapan Allah SWT.

Karenanya pernikahan adalah sayap kehidupan, yang akan membawa terbang tinggi bagi si pelaku dalam kehidupan itu.

Bukan sebaliknya….

Mungkin itulah sebabnya Islam mengarahkan menikah muda agar rasa penasaran itu cepat terjawab.

Agar setelah 'rasa penasaran’ itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas.

Dan intelektualitas-spiritualitas itulah yg akan membawanya pada ketinggian. Ketinggian dunia dan ketinggian akhirat.

Wallahu a'lam…
Akhukum fillah…
Arsal al Kaff 😊

Sumber : scientiafifah di grup MA2

Barakallah kak indrikhairatip maaf belum bisa hadir tadi, baru balik hari ini ke Jakarta :)