surat al imran

The Prophet (ﷺ) said, “Whoever suppresses his rage while he is capable of unleashing it, then Allah will fill him with faith and assurance.” And the Prophet (ﷺ) recited the verse, “They are those who suppress their rage and forgive people, for Allah loves the doers of good.” (3:134)
—  [(Tafsīr al-Ṭabarī 3:134) (Narrator: Abu Huraira (رضي الله عنه)]
Hati.

Konsep berbagi luas konteksnya, kali ini Lika mau berbagi catatan dari apa yang Lika dapat dari salah salah satu kajian ICMN (Indonesian Creative Moslem Network). Semoga bukan sekedar catatan, tapi ilmu yang didapat bisa mewujud menjadi amal. #notetomyself

Kenapa sih harus berbagi?

“Apa yang kamu miliki sendiri saat ini, tidak akan ada artinya jika tidak berbagi.” salah satu kalimat dari cuplikan film Kartini yang diperankan mba cantik Dian Sastro. Terlepas dari film yang masih pro kontra, kutipan itu jadi pesan yang rasanya perlu diresapi. Itu alasan kenapa tulisan ini hadir.

Terkadang kita (saya) seringkali tertipu dengan berbagai distraksi yang sering hadir di tengah-tengah kita. Distraksi macem apa? banyak dan macem-macem hal yang bikin saya salah fokus, yang paling mudah dicontohkan misalnya social media. Efek sampingnya beragam, tapi yang paling mudah diidentifikasi jadi lebih sering khawatir dengan sesuatu yang bahkan belum terjadi dan bingung dengan kondisi real yang sedang dihadapi.

Darimana datangnya khawatir dan bingung ini?

Ternyata datangnya dari hati. Sebelum jauh membahas hati, kita kenali dulu apa sih definisi hati ini?. Jika di cek KBBI hati artinya organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu. Jika diterjemahkan dalam bahasa inggris hati itu heart : the organ in your chest that sends the blood around your body (dictionary.cambridge.org) biasa kita sebut jantung. Sedangkan dalam bahasa Al-Quran hati disebut dengan “qalb” qaf,lam,ba sesuatu yang sifatnya mudah terbolak-balik, mudah terombang-ambing. Ibarat sebuah kepingan ringan di atas laut dengan ombak mudah terombang-ambing. Sedangkan makna dari “Qalb” itu sendiri adalah membalikan.

Jadi kita akan bahas “Hati” dengan pengertian yang mana?

Merujuk pada Hadist Rasulullah Saw. “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu””:Hadis Riwayat Bukhori. Dari hadist tersebut betapa pentingnya yang disebut “qolbu” ini. Malam itu kang Lutfi membahas hati dengan pengertian “qolbu”. Hati yang galau, gelisah, gundah, gulana artinya hati tersebut sedang ditunggangi Nafsu. Nafsu sendiri ada tiga jenis : Nafsu Ammarah Bissu’, Nafsu Lawwamah, Nafsu Mutmainnah.

Nafsu Ammarah Bissu’ merupakan nafsu dorongan untuk survive, seperti hewan. Nafsu ini berbahaya apabila melekat pada hati manusia sebab mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang bertentangan dengan nilai islam itu sendiri.Firman Allah S.W.T. dalam surat Yusuf.53 : “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena  sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Nafsu yang paling jahat dan paling zalim. Nafsu amarah tidak dapat dikawal dengan sempurna oleh hati. Jika hati tidak meminta bantuan ilmu, hikmah kebijaksanaan dan akal, hati akan binasa.

Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk, nafsu yang hadir setelah proses berpikir. Dari sumber lain Nafsu ini mengarahkan pemiliknya untuk menentang kejahatan, tetapi suatu saat jika ia lalai beribadah kepada Allah S.W.T, maka ia akan terjerumus kepada dosa. Orang yang memiliki nafsu lawwamah dapat menyesali perbuatan salah dan berinisiatif untuk kembali ke jalan yang benar.Nafsu lawwamah juga sering memikirkan baik buruk, halal haram, benar salah, berdosa ataupun tidak dalam segala tindakan. Jelas nafsu Lawwamah ini lebih baik dari nafsu amarah bissu’.

Nafsu Mutmainnah adalah  nafsu yang membuat pemiliknya tenang dalam ketaatan. Nafsu ini mendapat rahmat Allah S.W.T. dan manusia yang mendapatkan nafsu ini akan mendapat ridho Allah. Dalam surat Al-Fajr,27-30 : “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,  dan masuklah ke dalam surga-Ku". Orang yang memiliki nafsu mutmainnah dapat mengawal nafsu syahwat dengan baik dan sentiasa cenderung melakukan kebaikan. Dari sumber lain nafsu ini membuat pemiliknya mudah bersyukur dan qanaah di mana segala kesenangan hidup tidak membuat dia lupa diri, menerima anugerah Ilahi seadanya dan kesusahan yang dialami pula tidak menjadikan dirinya gelisah. Ini disebabkan hatinya ada ikatan yang kuat kepada Allah. Imam Al-Ghazali meletakkan nafsu ini di tahap yang tertinggi dalam kehidupan manusia.

Yang dapat mengontrol atau mengikat hawa nafsu ini hanyalah Aqal. Konsep aqal dalam Al-Qur’an  berasal dari kata al-‘aql. Dengan kekuatan aqal orang mendapatkan ilmu. Selain itu aqal adalah al-hijr, menawan atau mengikat. Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti; tali pengikat, penghalang. Al-Qur’an menggunakannya bagi sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Orang yang beraqal adalah orang yang mampu mengikat atau mengendalikan hawa nafsunya. Kemampuan seseorang untuk mengikat hawa nafsu, akan menempatkan hawa nafsu pada posisi yang serendah-rendahnya, sehingga hawa nafsu tidak dapat menguasai dirinya. Orang yang tidak mampu menawan hawa nafsunya tidak akan mampu mengendalikan dirinya.

Pada praktiknya nafsu yang bersemayam di hati dengan sifat yang mudah terombang-ambing butuh sesuatu yang sifatnya lebih stabil untuk bersandar, untuk bergantung, jadi ciri khas manusia punya ketergantungan. Jika bukan bergantung pada Allah, maka dipastikan akan bergantung pada selain Allah. Lalu apa bukti kita bergantung pada Allah? misalnya saat dihadapi dengan masalah yang pelik, mencari jalan keluar dari berbagai persoalan hidup, apa yang kita lakukan sebagai wujud kita bergantung hanya pada Allah?

Bukti bergantungnya kita pada Allah dengan meminta, memohon, berdoa pada Allah. Karena pada hakikatnya memang cuma Allah yang Maha kuasa atas segalanya. Tapi jangan sampai berpikiran sempit, kita mintaa terus kemudian hanya berdiam diri di kamar, tidak melakukan upaya apapun, itu pemahaman yang amat keliru. Begitupun memelihara dan menjaga hati kita, Kang Lutfi bahas salah satu doa favorit Lika di Al-Quran surat Ali-Imran ayat 8 : Rabbana la tuzigh quloobana ba'da ith hadaytana wahab lana min ladunka rahma innaka anta al-Wahhab “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. Jika ayat ini dibedah, maknanya sungguh luar biasa, short lecture ust.Nouman  pada link ini –> https://www.youtube.com/watch?v=fki-7REDXeY : Ayah of Hope.

Ayat ini salah satu wujud cinta kasih Allah yang melimpah. Rabbana la tuzigh quloobana ba'da ith hadaytana, kata tuzigh dari akar kata zaygh yang artinya bengkok secara tidak sadar, kecenderungan hati manusia yang mudah bengkok, manusia kadang tidak sadar sedang menjauh dari jalan Allah slowly but sure, padahal Allah sudah memberi memberi petunjuk pada hati kita, maka doa ini ada untuk meminta perlindungan pada Allah. Wahab lana min ladunka rahma, Hiba dalam bahasa arab artinya hadiah, Wahab adalah kata kerja yang artinya memberi hadiah yang sangat besar (to give a BIG Gift) the great grant, Ladun artinya sesuatu kepemilikan yang berharga seperti harta karun saking specialnya (some secret mercy from Allah). Innaka anta al-Wahhab , sesungguhnya Allah yang Maha Pemberi, Maha Pemberi ini bukan cuma sekali, dua kali, tapi terus-menerus memberi tidak akan pernah berhenti, maka penting untuk kita pun terus meminta.

Tapi ingat sekali lagi berusaha, berikhtiar itu penting sebagai wujud ibadah kita sama Allah. Karena kita pernah bersaksi buktinya pada Al-Quran surat Al-Araf, 172 : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi(tulang belakang) anak-anak Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Kita pernah membenarkan bahwa hanya Allah lah Rabb Illah yang patut disembah, maka Allah melengkapi kita dengan modal 4 perkara dalam Hadist Arba'in no.4 : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Maka dari itu kita wajib mengimani hal tersebut karena termasuk iman kepada qada dan qadar. Qadar merupakan ketetapan Allah yang sudah di kukuhkan, termasuk Ajal. Sedangkan Qada merupakan ketetapan Allah yang dikukuhkan berdasarkan ikhtiar makhluk termasuk rezeki, amal, dan bahagia/celaka.

Jadi Lika semakin yakin di Al-Quran itu gak mungkin ada sesuatu yang bertentangan, kan Allah bilang di surat Ar-Rad, 11 : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Setiap individu punya jalannya masing-masing, mintalah hanya pada Allah, rezeki mah moal patuker, bisa hadir dari arah yang tidak di sangka-sangka syaratnya cuma IMAN dan TAQWA! ga cuma sih itu, long life strungling pastinya, akan di Uji terus sama Allah karena Allah sayang. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Q.S. Al-Araf:96). Apalagi sih yang manusia butuhkan selain keberkahan? karena berkah itu sesuatu yang membuat kita semakin mendekatkan diri pada Allah, apalagi yang dibutuhkan oleh makhluk selain dekat dengan Khaliknya. Cuma kita sering ga sadar aja, balik lagi seperti prolog di awal banyak distraksi yang bikin kita (saya) sering salah fokus.

Semoga setelah kenalan sama Hati dan kecenderungan kita sama Allah, semakin membuat kita sadar kalau kita butuh banget Allah. “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.

Jadi hati kamu bergantung ke siapa?

jangan lupa Allah Maha mengetahui segala isi hati, yuk jujur, minimal sama diri sendiri, tahap awal untuk mulai aware dan menerima petunjuk, petunjuk Allah.


Dago, 10.4.2017
dari catatan kajian ICMN Pusdai ditambahin sedikit dari beberapa sumber yang masih terkait. :)

next pembelajaran yang menarik tentang “Hati” di 2 link lecturenya ust.Nouman reccomended!

https://www.youtube.com/watch?v=US71OPrUoio –> hati kita bergantug ke siapa?

https://www.youtube.com/watch?v=07eqk8ioRLo&t=329s  Battle of 'Heart’ & 'Mind’ | Nouman Ali Khan |

2

Never will you attain the good [reward] until you spend [in the way of Allah] from that which you love. And whatever you spend - indeed, Allah is Knowing of it.

~ Noble Qur’an, Surat Ali Imran [3:92]

Surat Al-An’am [Bag.4/22]

Surat ke-36 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 3.30am WIB (khusus di bulan Ramadhan). Surat lainnya bisa disimak di sini.


4. Korelasi dengan Surat-surat Sebelumnya

Sebelum memaparkan ayat-ayat yang terdapat dalam surat Al-An'am, harus diperhatikan keterkaitan surat-surat Al-Qur'an yang berkenaan tentang hiwar (percakapan) bersama orang-orang non muslim.

Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, dan Al-Maidah banyak membicarakan tentang Ahli Kitab,. Adapun surat Al-An'am secara khusus membicarakan tentang kaum musyrikin, terutama musyrikin Mekah, karena itu surat ini diturunkan di sana.

Di samping itu, ada catatan penting tentang hubungan antara surat Al-An'am dengan surat Al-Maidah yang diakhiri dengan firman Allah.

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya..” - Al-Maidah: 120

Ayat tersebut seakan-akan memberikan pengantar terhadap permulaan surat Al-An'am yang dimulai dengan firman Allah.

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi” - Al-An'am: 1

>> Index pembahasan surat Al-An’am <<


Serial lainnya:

pratiwigee  asked:

kang, saya mau tanya, gimana caranya melapangkan hati dan inget terus, kalau dibalik apa-apa yang terjadi, Allah pasti berencana baik?

Kalau saya mungkin sesederhana inget lagi sama sifat-Nya yang Maha Lembut di surat An-Nisa ayat 4 yang bunyi terjemahannya, “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”

Dari nukilan kalam di atas, kita bisa liat betapa kasih sayang-Nya luar biasa melimpah. Dengan jelas kita bisa simak kalau enggak pernah mungkin hadir perilaku aniaya dari-Nya, kalaupun ada pastilah itu bersumber dari perilaku kita sendiri. Bunyi ayat 182 di surat Al-Imran kembali menegaskan, “(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.”

Apapun kejadiannya, saya pun masih belajar mengasah keyakinan bahwa enggak ada satu perilaku zalim pun berasal dari-Nya. Sementara kalau kita berbuat baik, balasan-Nya datang berlipat-lipat. Keterlaluan rasanya kalau kita masih berburuk sangka dengan Ia yang menunjukkan cinta sebesar itu.

Ditambah dengan kenyataan kalau pengetahuan-Nya Maha Luas meliputi seluruh isi alam semesta termasuk takdir bagi setiap makhluk-Nya. Tinggal kitanya yang harus terus menerus belajar menguatkan keyakinan sekaligus berbaik sangka sama ketentuan-Nya. Akhir kata, Rasulullah juga pernah bersabda tentang firman-Nya, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku”. Selebihnya, persering ketemu dengan orang-orang yang kondisinya enggak seberuntung kita. Wallahu’alam bishawab.

135. And those who, when they have committed Fahishah (illegal sexual intercourse etc.) or wronged themselves with evil, remember Allâh and ask forgiveness for their sins; - and none can forgive sins but Allâh - And do not persist in what (wrong) they have done, while they know. 

And those who, when they have committed Fahishah (illegal sexual intercourse etc.) or wronged themselves with evil, remember Allah and ask forgiveness for their sins; - and none can forgive sins but Allah - And do not persist in what (wrong) they have done, while they know.
—  [Al-Quran, Surat Ale’-Imran 3, Verse 135]