sungsang

kemudahan

saya punya kebiasaan baru sekarang: jalan-jalan sore keliling komplek. kata bidan dan dokter, sebaiknya saya berjalan satu jam per hari–supaya bersalinnya mudah dan lancar kelak.

hampir setiap sore, saya bertemu atau berpapasan dengan para tetangga. karena Ibu dan Ayah saya punya hobi mengundang tetangga ke rumah juga mengikuti kegiatan-kegiatan RT RW, saya ikut-ikutan kenal dan dikenal hampir semua tetangga kami. kalau bertemu tetangga, nggak cukup hanya senyum saja. pasti ada ngobrolnya.

ada komentar yang selalu sama dari para ibu itu. “mbak udah berapa bulan sih? kok langsing? kok perutnya kecil? oh kirain Tante masih 6 bulanan,” dan lain-lain. menurut mereka, sejak bertemu saya pada pengajian 4 bulanan hamil, saya hamilnya “cantik”.

“mbak uti hamil-hamil malah jadi cerah ya wajahnya, terus seger. Tante dulu mah waktu hamil jerawatan, jadi kusem banget.”
“ini nih kalau kata orang sunda, hamil cantik.”
“mbak uti mah pipinya nggak ikut gendut, hanya perutnya aja yang maju. naiknya berapa kilo mbak? pasti nggak sampai 10 kilo ya? Tante dulu naik sampai 22 kilo tapi bayinya keciiil banget. 2,5 kilo juga kurang.”
kenyataan: saya naik 14 kilo. menurut perhitungan dokter, bayi saya sudah hampir 3 kilo beratnya.

di dalam hati, saya sejujurnya semacam bahagia sekali disebut-sebut hamil cantik. setiap kali disebut cantik, saya mengamini sambil berdoa semoga jika bayi saya perempuan, dia pun berparas cantik, berakhlak cantik. Ibu saya bilang, saya memang mendapat banyak sekali kemudahan soal kehamilan. kemudahan-kemudahan itu yang harus saya syukuri.

dan benar sekali kata Ibu. walaupun saat trimester pertama saya mengalami morning sickness yang dahsyat, walaupun bayi saya sempat terlalu besar, walaupun beberapa kali saya jatuh sakit–demam, darah rendah, anemia, dan lain-lain–walaupun banyak walaupun lain, ada jauh lebih banyak kemudahan yang datang kepada saya, daripada kesusahannya.

Kakak selalu sehat di perut. kata dokter, gerakannya aktif sekali. sejak usia kandungan 7 bulan, Kakak sudah berada pada posisi akan lahir. tidak sungsang, tidak terlilit tali pusar. saat ini Kakak sudah masuk panggul dan siap lahir.

waktu saya pindahan ke Bogor karena mas yunus akan tugas luar negeri, saya sempat khawatir sebab saya akan sendirian. ternyata, saya malah dapat dokter kandungan yang adalah senior mas yunus di FK UI–yang akhirnya mengurusi saya seperti keluarga sendiri.

masih banyak lagi kemudahan lain yang tak akan habis jika disebut. awal kehamilan saya pun adalah kemudahan, sampai-sampai usia janin saya lebih tua 2 minggu daripada usia pernikahan.

saya bertanya pada Ibu apakah dulu saat hamil, Ibu juga selalu mudah seperti saya. kata Ibu, pertama kemudahan akan datang pada orang yang suka memudahkan orang lain. kedua, kemudahan datang pada orang yang pasrah–yang menyerahkan segala urusan pada Allah.

tulisan ini saya buat bukan dalam rangka menunjukkan bahwa saya suka memudahkan orang lain atau bahwa saya sudah cukup pasrah. tulisan ini adalah penyemangat untuk diri sendiri agar saya pasrah, sepasrah-pasrahnya. mulai minggu ini, usia kandungan saya sudah cukup untuk lahir. insyaAllah mulai minggu depan, saya sudah masuk waktu-waktunya melahirkan.

saya berdoa dan memohon doa dari teman-teman semua. semoga Allah memberikan kemudahan sekali lagi kepada saya. semoga Kakak bisa lahir dengan normal, dengan lancar dan sehat. semoga walaupun ada kemungkinan (besar kemungkinan) saya melahirkan tanpa ada mas yunus di samping saya, saya tetap punya kekuatan. semoga saya bersabar.

saya selalu menganggap bahwa momen melahirkan adalah momen paling indah yang bisa dialami seorang perempuan. lebih indah daripada momen menikah atau dilamar. itulah mengapa ending Teman Imaji saya tulis dengan adegan kica akan melahirkan. bagaimana tidak? momen melahirkan adalah momen yang nilai ibadahnya–jika meninggal–sama dengan syahid. meskipun, sakitnya setara dengan 22 tulang patah.

tentang kepasrahan: ternyata, segala jenis perasaan tak nyaman akan semakin tak nyaman hanya jika kita melawan. jangan dilawan, niscaya menjadi lebih ringan. jangan dilawan, niscaya Allah memberikan kemudahan.

JANGAN SUNGSANG, NELLA!

: Nella Kharisma

1

monitor USG menyuguhkan nuansa hitam-putih
namun geliatmu itu warna-warni di mataku
belum ada dosa berjatuhan; kerlap-kerlipnya
kusaksikan sendiri dari tribun paling jauh

panggung di rahimku tak boleh terlahir sungsang
supaya bukan hentak kaki keluar lebih dulu
aku inginkan merdu suaramu, Nella
menyapu selasar yang dipenuhi puntung rokok

2

puisi ini, Nella
tak tersusun dari sorak semarai kata
bukan juga dari sisa pesta pora bahasa
yang tak sempat dihabiskan adam dan hawa
di surga sana

puisi ini, Nella
hanya pecah ketuban dari rahim;
yang telah berabad-abad mengandung
gigil malam di sebuah konser dangdut
yang semaraknya tak pernah sampai ke kotaku

Solo, 2017

Perempuan

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu? Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar kepadaku.

Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu? Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.

Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu? Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata.

Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari perempuan seinspiratif dirimu? Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa.

Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu? Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari. Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe, cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling indah sepanjang pernikahan kita. Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi.

Kita bahagia. Sangat bahagia?.. Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang tingkah anak-anak tetangga? Kala itu kita begitu menginginkan hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya. Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey?

Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan kata-kata sebisaku, “tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak apa-apa.” Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan kepadamu, “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih muda.” Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu, lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya di depan rumah kita yang sepetak. “Yang dalam, Kang. Biar nggak digali anjing.”

Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu? Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. “Kang, Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.” Cincin yang mana lagi? Engkau sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing. Terutama ? untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang, dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu, tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang membawa uang. Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan lain seperti dirinya?

Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.

Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.

Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia. Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna, kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku? Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk perjuanganmu melahirkan anak kita? “Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa. Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi.” Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas. Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen. Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.

Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu. Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. “Terus kamu kenapa masih di sini? Pulang saja,” kata atasanku ketika itu. Engkau tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya “tentara kecil” kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi, tidak. Atasanku bilang, tidak. “Pulang saja,” katanya. Baru kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu. Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu. Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.

Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas, semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat. “Istri saya akan melahirkan,” kataku yakin.

Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan aku menolak untuk meninggalkanmu. “Dulu ada suami yang ngotot menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan,” kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu. Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku. Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan, sementara “tentara kecil” kita tak pula mau beranjak. “Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan. Tapi anak ini kakinya melintang,” kata dokter. Aku berusaha tenang. Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi wajah berpeluhmu,Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi. Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu.

Aku akan mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena ingin membuatku bahagia. “Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,” bisikmu persis di telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati, rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata bagi hidupku. Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di telingamu, “Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu selama 5 tahun. Hayu semangat!”

Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu, ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, “Kenapa saya, Tuhan! Kenapa kami?” Sebab, Tuhan akan menjawab, “Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kalian?” Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. “Semua akan baik-baik saja.” Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup. Seandainya aku boleh mendampingi operasimu?. Tapi tidak boleh. Aku menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha tersenyum, tetapi sendirian. Tidak ? tidak terlalu sendirian.

Ada seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, “Aku ada di situ, menemanimu.” Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali, ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. “Apa kepala bebalmu tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!” Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. “Ini anak Bapak?” Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang sangat senior. “Selamat, ya. Bayinya laki-laki.” Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya, Allah?.bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan oleh semua kata yang ada di dunia???

Makhluk itu terpejam tenang semacam malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat. Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan. Ingatanku kembali kepadamu.

Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari, dan saudara kembarku. “He is so cute,” kata SMS ku kepadanya. Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta. Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku, dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita. Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit getaran di bibir.

Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di dunia ini. Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari. Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya tangisnya tak meledak-ledak. “Terima kasih, Kang,” katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus, Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus sedunia? Lalu ke mana kata “terima kasih” yang seharusnya kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata “terima kasih” mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling kuat di kepalaku. Mengurusimu dan bayi kita.

Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan. Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada waktu bersamaan.

Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50 cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang, jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak ada duanya di dunia.

Ada bisik bangga, “Ini anakku? anak laki-lakiku. ” Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya kelak semembentang hatimu. Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah. Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad: YANG TERPUJI? dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian, pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji? mulia?dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey?

Ini menjadi awal yang indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu. (persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang samudra)

——
Cerpen by Tasaro GK

Jangan-jangan, kesimpulan sementara yang bisa diambil adalah kita memang takkan pernah merasa puas dengan apa yang kita dapatkan di dunia ini. Coba tengoklah sekeliling, pada apa saja yang kita miliki -segalanya mungkin terpenuhi, bahkan banyak barang-barang terbaru- yang tak menjadi garansi atas kebahagiaan dalam waktu yang lama. 

Juga atas mimpi kita yang mungkin sudah tercapai, target yang selalu kita kejar dan kini telah didapat, lalu apalagi? Bukankah itu bisa membuat kita berbahagia? Lalu, kenapa rasanya kita tetap resah? Betulkah kita tak pernah puas? Maka coba selami lebih dalam, apakah untuk berbahagia itu kita harus merasa puas -yang mana definisi puas itu begitu luas dan terlihat tak berbatas?

Ah. Ibaratnya, mungkin jiwa kita hanya seperti selang bocor. Meski debit airnya semakin banyak, tapi tetap saja di sela-selanya yang bolong itu limpahan air akan mengocor. Bahkan kalaupun airnya kencang, kebocoran itu tetap saja akan membuat aliran air menjadi sungsang. Selang yang bocor takkan pernah bekerja dengan baik, kita tahu itu. 

Seperti itukah jiwa kita ini? Barangkali. Bisa jadi. 

Karena sejatinya yang kita dapatkan sekarang harusnya membuat kita semakin mengerti, bahwa kita sebenarnya tak memerlukan seisi bumi untuk membuat kita bahagia sepenuh hati. Bisa jadi, kita hanya selalu lupa dan lupa untuk belajar mensyukuri, tidak bersegera menambal keroposnya sudut kalbu milik kita sendiri. 

Entahlah, setidaknya kita pernah coba, tak memiliki segalanya pun bukankah kita pernah berbahagia? Betapa adiluhung petunjuk yang diberikan Tuhan, yaitu cara untuk mensyukuri segala sesuatunya. Pun, tanpa perlu merasa membandingkan kepemilikan sesuatu apapun yang kita rasakan begitu melelahkan. 

Bisa jadi hati kita yang bocor. Maka, mari coba tambal dengan rasa syukur. 

“lo punya hak untuk bahagia, Ca. gue–gue punya tanggung jawab untuk bahagia,” Adit memainkan sendok di dalam cangkir.

Kica menerawangi langit-langit, tidak ada apa-apa di sana.

“menjadi bahagia itu urusan masing-masing orang. lo nggak perlu merasa bersalah apalagi berdosa kalau lo bahagia, sementara orang lain enggak. yang punya tanggung jawab menjadi bahagia dan membahagiakan diri, ya, adalah diri masing-masing orang, Ca.”

mata Kica mulai tergenang. Kak Adit ngaku.

“kalau kebahagiaan kita terletak pada bahagianya orang lain gimana, Kak?”

“sungsang. letak kebahagiaan harusnya di dalam, bukan di luar.”

“kalau orang lainnya ada di dalam gimana, Kak?”

Adit meneguk kopinya. sudah dingin.

“bisa jadi seseorang berada di dalam hati kita, Ca. tapi nggak berarti urusan dalam hatinya–urusan kebahagiaannya–menjadi tanggung jawab kita,” Adit menjeda lama, “jangan menggantungkan kebahagiaan diri sendiri sama orang lain, ya, Ca. sama siapapun, jangan. dan jangan pernah berharap lo menjadi sumber kebahagiaan orang lain, jangan.”

“supaya kita tetap bahagia apapun keadaannya?”

Adit menggeleng, “supaya kita inget bahwa menjadi bahagia adalah tanggung jawab kita.”

arta

“Money makes your life easier. If you’re lucky to have it, you’re lucky”

Buat sebagian orang, uang itu enggak penting. Sayangnya, hampir semua yang penting-penting butuh uang. Seenggaknya untuk tiga kebutuhan paling dasar: sandang, pangan, papan. Ada penganan untuk dimakan, pakaian untuk dikenakan dan bangunan untuk berkesibukan. Tapi, kebutuhan enggak berhenti di situ. Kita juga berencana untuk berpasangan, berketurunan dan bertualangan. Untuk ketiganya, diperlukan simpanan.

Pernahkah di satu waktu kamu cicipi dua kenyataan? Ibarat mata koin yang berdempetan tapi wajahnya berlainan. Legit juga pahit. Saya pernah, rasanya unik.

Di satu sisi, seorang sahabat baru aja menuntaskan rasa cemas di momen kelahiran anak perdana. Lega nan bahagia. Untuk biaya bersalin, pos khusus disisihkan secara berkala dari kantong pribadi. Saat proses menegangkannya usai, puluhan juta rupiah harus dibayarkan untuk ongkos persalinan dan pengobatan. Jumlahnya memang enggak kalah menegangkan. Namun, cuma bermodalkan ketegangan enggak serta merta melunaskan tagihan. Tetep. Harus ada duit.

Di sisi sebaliknya, seorang pekerja bangunan langganan keluarga mendadak mampir ke rumah untuk mengadu penuh sendu. Ia tengah dilanda kerepotan hebat selepas persalinan sang istri. Bayinya terlahir sungsang sehingga harus ada dana tambahan untuk memuluskan kepulangan istri dan anak tercinta ke rumah kontrakan. 

Di lubuk hatinya yang terdalam, ia bingung dan malu. Bingung harus mengupayakan pinjaman kemana dan malu karena akhirnya kepada kamilah ia memohon iba. Raut wajahnya nelangsa. Lisannya terbata-bata bercerita tentang ketidaksanggupannya membayar beban sebesar empat juta. Iya, empat juta. Harga yang enggak lebih mahal dari ponsel pintar yang kita semua punya. Jumlah yang cuma sepersekian saldo tabungan kita.

Dua orang di dua kenyataan sama-sama resmi jadi bapak, tapi urusan duit membedakan jalan cerita. Mereka yang mampu, dilimpahkan kelancaran. Mereka yang enggak mampu, dilimpahkan ketabahan. Biarpun, mutlak harus ada dana yang besarnya butuh bertaun-taun menabung untuk pengeluaran persalinan. Besaran angka yang mahalnya enggak terduga namun sepadan untuk keistimewaan menimang keturunan.

Dulu saya heran dengan alasan untuk jadi berkecukupan. Kenapa harus sejahtera? Kalau motifnya kebahagiaan, toh banyak yang kaya tapi enggak sentosa. Lagian kalau kebutuhan udah terpenuhi untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, keinginan kan harusnya selesai. Ada sebagian yang enggak mau numpuk harta banyak-banyak. Secukupnya, katanya. Tapi apadaya kalau keinginannya enggak pernah selesai. Jadinya, enggak pernah cukup karena keinginan selalu membalap kebutuhan.

“Pa, kenapa kita harus berkecukupan?” tanya saya penasaran di satu sore. “Enggak akan ada habisnya kalau kamu cuma ingin sejahtera sendirian. Alasan kenapa kita harus berkecukupan, biar bisa mencukupi orang lain” jawab papa.

Nyatanya, mementingkan diri sendiri enggak akan ada ujungnya sejak kita tercipta sebagai makhluk yang enggak pernah puas. Bukankah harta adalah titipan-Nya untuk bekal tinggal di dunia yang sementara? Kenapa harus menggilai sesuatu yang enggak dibawa mati? Berharta dengan bijak berarti melibatkan pikiran sehat untuk menjauhi keserakahan dan mau mengalokasikan pundi demi maksud berbagi.

“Never respect men merely for their riches, but rather for their kindness; we don’t value the sun for its height, but for its use”. Harta ialah benih penuh guna untuk disebar pada ladang kebermanfaatan yang bisa menghidupi orang lain. Dengan benih dan cara tanam yang baik, besar kemungkinan untuk kita bisa memanen hal baik. Investasi kebaikan. Juga sebaliknya. Berharta bukan karena ingin ditinggikan, tapi karena harus memberdayakan.

Betapa panjang jalur distribusi rejeki yang datang dari-Nya, betapa banyak manusia yang berpartisipasi jadi perantara dalam penambahan tiap sen uang kita. Andai kita lebih sering inget betapa ajaibnya kisah para dermawan yang semakin mapan, malah semakin rajin menyalurkan bantuan. Semakin rajin menyalurkan bantuan, malah terus tambah mapan. Mungkin kita cuma lupa, kalau urusan rejeki sepenuhnya enggak pernah masuk dengan itungan logika.

Kenapa harus takut pada kemiskinan saat kita menghamba pada Dzat Yang Maha Kaya. Percayalah, berupayalah.