sungsang

“lo punya hak untuk bahagia, Ca. gue–gue punya tanggung jawab untuk bahagia,” Adit memainkan sendok di dalam cangkir.

Kica menerawangi langit-langit, tidak ada apa-apa di sana.

“menjadi bahagia itu urusan masing-masing orang. lo nggak perlu merasa bersalah apalagi berdosa kalau lo bahagia, sementara orang lain enggak. yang punya tanggung jawab menjadi bahagia dan membahagiakan diri, ya, adalah diri masing-masing orang, Ca.”

mata Kica mulai tergenang. Kak Adit ngaku.

“kalau kebahagiaan kita terletak pada bahagianya orang lain gimana, Kak?”

“sungsang. letak kebahagiaan harusnya di dalam, bukan di luar.”

“kalau orang lainnya ada di dalam gimana, Kak?”

Adit meneguk kopinya. sudah dingin.

“bisa jadi seseorang berada di dalam hati kita, Ca. tapi nggak berarti urusan dalam hatinya–urusan kebahagiaannya–menjadi tanggung jawab kita,” Adit menjeda lama, “jangan menggantungkan kebahagiaan diri sendiri sama orang lain, ya, Ca. sama siapapun, jangan. dan jangan pernah berharap lo menjadi sumber kebahagiaan orang lain, jangan.”

“supaya kita tetap bahagia apapun keadaannya?”

Adit menggeleng, “supaya kita inget bahwa menjadi bahagia adalah tanggung jawab kita.”

Jangan-jangan, kesimpulan sementara yang bisa diambil adalah kita memang takkan pernah merasa puas dengan apa yang kita dapatkan di dunia ini. Coba tengoklah sekeliling, pada apa saja yang kita miliki -segalanya mungkin terpenuhi, bahkan banyak barang-barang terbaru- yang tak menjadi garansi atas kebahagiaan dalam waktu yang lama. 

Juga atas mimpi kita yang mungkin sudah tercapai, target yang selalu kita kejar dan kini telah didapat, lalu apalagi? Bukankah itu bisa membuat kita berbahagia? Lalu, kenapa rasanya kita tetap resah? Betulkah kita tak pernah puas? Maka coba selami lebih dalam, apakah untuk berbahagia itu kita harus merasa puas -yang mana definisi puas itu begitu luas dan terlihat tak berbatas?

Ah. Ibaratnya, mungkin jiwa kita hanya seperti selang bocor. Meski debit airnya semakin banyak, tapi tetap saja di sela-selanya yang bolong itu limpahan air akan mengocor. Bahkan kalaupun airnya kencang, kebocoran itu tetap saja akan membuat aliran air menjadi sungsang. Selang yang bocor takkan pernah bekerja dengan baik, kita tahu itu. 

Seperti itukah jiwa kita ini? Barangkali. Bisa jadi. 

Karena sejatinya yang kita dapatkan sekarang harusnya membuat kita semakin mengerti, bahwa kita sebenarnya tak memerlukan seisi bumi untuk membuat kita bahagia sepenuh hati. Bisa jadi, kita hanya selalu lupa dan lupa untuk belajar mensyukuri, tidak bersegera menambal keroposnya sudut kalbu milik kita sendiri. 

Entahlah, setidaknya kita pernah coba, tak memiliki segalanya pun bukankah kita pernah berbahagia? Betapa adiluhung petunjuk yang diberikan Tuhan, yaitu cara untuk mensyukuri segala sesuatunya. Pun, tanpa perlu merasa membandingkan kepemilikan sesuatu apapun yang kita rasakan begitu melelahkan. 

Bisa jadi hati kita yang bocor. Maka, mari coba tambal dengan rasa syukur.